• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V - Konstruksi Jalan

5.4 Pemadatan dan meratakan permukaan

Semakin bertambah perusahaan HPH yang menyadari keuntungan yang didapatkan dari pemadatan segera setelah pembentukan dari badan jalan. yang telah dipadatkan, mengurangi terjadinya erosi / pengikisan pada waktu hujan dan mengurangi genangan air hujan pada permukaan jalan yang memperpanjang masa waktu kering.

Badan jalan yang stabil dan padat, memerlukan lebih sedikit material untuk balast hingga mengurangi biaya pembuatan jalan.

Sebelum pemadatan, badan jalan harus diratakan lebih dahulu dan membuat garis parit / selokan.

Pemadatan adalah cara yang sangat efektif dari pembuatan

BAB V

Survei dan Disain

Foto 13 : Jalan yang di balast dan dipadatkan dengan baik. Perhatikan puing kayu yang diletakan di pinggir jalan untuk mengurangi erosi.

permukaan jalan setelah bahan balast telah dilapisi diatas badan jalan. Ini terutama sekali bila bahan untuk balast tidak berbeda dari bahan badan jalan. Pemadatan akan memastikan bahan tanah dengan ukuran berbeda telah dibentuk terikat dan dihaluskan permukaan jalannya.

5.5 Struktur saluran air (drainase)

Saluran air dibangun khusus untuk mengalihkan air hujan dari atas dan bawah jalan.

Sebelum membahas jenis-jenis drainase yang berbeda, ada beberapa hal utama yang harus diikuti dimana dimungkinkan untuk memperkecil ganguan penyaluran air alamiah dan mengurangi resiko pengendapan aliran sungai.

• Sebisa mungkin, mempertahankan pola saluran air yang sudah ada.

• Buatlah gorong-gorong pada waktu pembangunan jalan dan sedapat mungkin dekat dengan tanah. Hindari pembuatan gorong-gorong pada tanggul yang telah ditinggikan. Bila ini tidak dimungkinkan, pastikan lapisan tanah pada saluran keluar dilapisi dengan bahan batu-batuan. Dalam keadaan tertentu sebaiknya dibangun pintu air dengan mengunakan batu dan semen atau beton.

• Jangan lupa untuk membangun saluran persilangan pada bagian yang panjang dan miring dari jalan, di tempat dimana pengalihan

BAB V

Survei dan Disain

Gambar 13 : Perencanaan drainase berdasarkan survei lokasi jalan.

air hujan atau rembasan air susah dialihkan dari jalan.

• Jangan menggunakan kayu berlubang atau tumpukan kayu untuk mengisi gorong-gorong. Saluran persilangan jenis ini sangat gampang tersumbat dan berakibat terbentuknya kolam dan pada akhirnya membanjiri badan jalan.

• Pembangunan gorong-gorong paling baik dilakukan dengan meng-gunakan excavator. Ini adalah salah satu segi di mana keefektifan pembangunan jalan bisa diperbaiki dengan mengabungkan kelebihan dari bulldozer dan excavator.

Ada tiga tipe dasar struktur saluran air.

Saluran air persilangan terbuka

Saluran air persilangan terbuka adalah parit yang dibuat pada jalan dengan tujuan untuk memungkinkan air untuk menyeberangi jalan.

Ini bisa dilakukan untuk aliran air musiman atau aliran air tetap.

Material pada saluran ini harus tahan erosi / pengikisan, seperti batuan kerikil atau lapisan tanah yang keras.

Penyeberangan air adalah saluran air terbuka pada aliran sungai yang lebih besar, dan biasanya memiliki aliran air tetap.

Saluran air terbuka atau penyeberangan air, adalah solusi yang tepat guna untuk penyeberangan aliran air hanya bila terbuat dari material yang tahan terhadap erosi atau bila saluran air dilapisi dengan batu krikil untuk membentuk dasar yang stabil.

Untuk jalan utama yang permanen, saluran air bisa dibuat dari semen atau batu dan berbentuk pipa gorong-gorong untuk memungkinkan aliran air melewati bawah saluran air terbuka pada saat volume aliran air rendah dan bila air meluap dapat melewati di atas saluran

BAB V

Survei dan Disain

Gambar 14 : Hindari mengunakan tumpukan kayu gelondongan atau puing kayu untuk membuat gorong-gorong. hutan, adalah gorong. Tetapi gorong-gorong ini adalah aspek yang paling sering diabaikan pada jalan dalam hutan.

Hanya sedikit perusahan HPH telah mengembang-kan pedoman pembuatan jalan yang menguraikan

cara pembuatan gorong. Akibatnya pembuatan gorong-gorong telah diserahkan kepada kebijaksanaan operator traktor yang sering kali dibayar per meter jalan yang sudah selesai dibangun.

Kegagalan dalam menangani pengelolaan aliran air yang baik pada pembangunan jalan, seringkali menghasilkan keadaan sebagai berikut :

• Tidak cukupnya saluran penyeberangan air, khususnya pada jalan yang panjang di pengir tebing.

AKIBATNYA : Terbentuknya selokan erosi yang dalam, sepanjang parit; Pengendapan pada aliran sungai.

• Saluran air / gorong-gorong yang berbentuk tumpukan kayu log dan puing. Kadang bila tesedia kayu log berlubang digunakan sebagai penganti gorong-gorong.

AKIBATNYA : Gorong-gorong tersumbat yang menyebabkan banjir di hulu. Banjirnya sebagian areal hutan. Melemahnya daya tahan dari badan jalan, karena keadaan yang basah.

• Dimana tanggul jalan melintasi selokan, kayu berlubang seringkali dipasang, setelah penyelesaian tanggul dan ditempatkan pada bagian atas dari tanggul.

AKIBATNYA : Banjir di hulu, banjir pada sebagian areal hutan, melemahnya daya tahan tanggul karena keadaan yang basah.

Gorong-gorong yang terbuat dari kayu gelondongan, mudah dibuat

BAB V

Survei dan Disain diletakan diatas kayu pembendung lumpur, yang mendistribusikan berat dari kayu log diatas. Pada bagian atas dari

gorong-gorong telah dipasang batang-batang kayu bersebelahan yang melintang.

Gorong-gorong sederhana ini, bisa dipasang dengan menggunakan bulldozer atau menggunakan tenaga manual, walaupun bisa dilakukan lebih baik dengan menggunakan excavator.

Gorong-gorong kotak sebaiknya dipasang pada ketinggian yang sama dengan ketinggian permukaan tanah yang asli di atas material yang dapat menopang bobot dari gorong-gorong dan material di atasnya.

Bila gorong-gorong dipasang lebih tinggi dari permukaan tanah yang asli, saluran keluar harus diperkuat dengan bahan berbatu untuk mencegah erosi tanggul.

Jembatan

Jembatan bisa dibangun dengan berbagai ukuran dan bentuk sehingga sesuai dengan keadaan di tempat itu. Pada jalan di hutan material yang paling sering ditemukan adalah kayu berbentuk log / gelondongan.

Jembatan terdiri dari struktur penyangga /abutment pada kedua sisi yang bisa dibangun dengan menggunakan tumpukan kayu gelondongan atau pondasi dari beton. Rentang jembatan terdiri dari kayu balok yang ditutupi dengan batu krikil atau papan kayu gergajian. Berbagai bagian lain yang bisa ditambahkan pada suatu jembatan termasuk pagar jembatan, kayu balok (shear) untuk menjaga memasuki jembatan. Pada rentang yang panjang dan diperlukan pembagian pada rentang yang lebih pendek struktur penyangga tambahan di tengah rentang diperlukan dan dapat dibangun dari tumpukan kayu balok atau tiang beton.

BAB V

Survei dan Disain

Gambar 16 : Komponen pada jembatan kayu log.

Pertimbangan Dasar

• Pilih tempat yang mempunyai dasar yang kuat, lebih baik berbatu untuk menjamin penjajaran (allignment) yang baik dengan jembatan penyebarangan.

• Posisi struktur penyangga kayu balok sederhana dengan dasar yang padat dan ketinggian melewati tingkat air tertinggi, bila memungkinkan.

• Struktur jangkar yang kompleks dan tanah, krikil pengisi tanggul, bahan batu.

• Merencanakan pembangunan dari jembatan sebelum kegiatan mesin mulai di lapangan.

• Memilih jenis kayu yang tahan lama untuk semua bagian dari jembatan. Mencari keterangan dari data penelitian bila dimungkinkan mengenai sifat kekuatan dan ketahanan dari material yang digunakan.

• Gunakanlah mesin-mesin yang tepat. Pembangunan jembatan bisa dipermudah dengan mengunkan excavator.

• Mengatur pembangunan jembatan untuk dilakukan pada musim panas dimana tingkat air berada pada tingkat terendah.

• Mencari keterangan di buku pedoman yang tepat, untuk petunjuk mengenai perencanaan dan pembangunan jembatan1).

BAB V 1) Salah satu buku pedoman mengenai perencanaan dan pembangunan jembatan dari kayu adalah “Log Bridge Handbook 1980” oleh Nagy, Trebett, Wellburn ad Gower (terbitan kedua 1989) dibuat dan diterbitkan oleh Forest Engineering Research Institute of Canada at 201-2112 West Broadway, Vancouver, B.C., Canada, H9R 4Z7.Buku bisa didapatkan dengan menghubungi [email protected].

Survei dan Disain

Foto 14 : Contoh jembatan dengan structur penyangga kayu di pinggir dan tengah.

Foto 15 : Sifat kuat dan tahan lama sering tidak ditemukan pada jenis kayu tropis, akibatnya penggunaan balok Jembatan kayu sangat sesuai untuk jalan di hutan karena bisa dipasang dan dibuat di tempat dengan bahan-bahan yang tersedia dari hutan sekitarnya.

Gambar berikut ini memberikan pengenalan mengenai beberapa pendekatan yang dilakukan pada pembangunan bagian-bagian utama dari jembatan kayu balok.

Bentuk yang paling umum dari jembatan kayu balok, biasanya membutuhkan struktur penyangga yang sederhana (Gambar 17).

Bila dasar dari struktur penyangga adalah batu, satu atau lebih kayu balok pondasi sudah cukup untuk penyangga kayu balok / stringer.

Bila diperlukan celah tambahan atau bila tanah di bawah penyangga labil, akan diperlukan kombinasi dari pondasi kayu log dan bendungan lumpur (mud sill).

Semua bagian dari penyangga harus terkunci, terpaku atau terikat dengan aman untuk menjamin kestabilan.

BAB V

Survei dan Disain

Gambar 17 : Penyangga kayu sederhana dengan fondasi kayu dibawah bendungan lumpur.

Gambar 18 : Penyangga kayu yang rumit.

Bahan timbunan harus terdiri dari tanah berbatu. Jangan mengunakan tanah yang mudah tererosi pada waktu musim banjir dan tidak mendukung lalu-lintas truk.

Struktur tumpukan bisa bermacam-macam, tergantung dari ketinggian yang diperlukan dan kondisi tanah di tempat penyangga.

Gambar 19 dan 20 memberikan suatu contoh dari kedua jenis struktur tumpukan sederhana dan struktur yang lebih rumit dari tumpukan dengan ujung terbuka.

Penting sekali, bahan timbunan kembali dari tanggul terdiri dari material berbatu yang tahan erosi, karena struktur tumpukan yang compleks sering sekali dilanda banjir musiman. Bahan timbunan yang mudah erosi akan mengakibatkan memperlemahnya struktur dan pada akhirnya kerusakan pada struktur.

BAB V

Survei dan Disain

Gambar 19 : Struktur crib sederhana, yang terdiri dari kayu log depan dan belakang yang terkunci dalam bahan isian kerikil dan batu.

Gambar 20 : Penyangga jembatan yang kompleks Perhatikan bagian ujung yang terbuka dengan beberapa kayu log yang terikat satu sama lain, dan dipendam dibawah material penimbun jalan untuk menstabilkan seluruh struktur jembatan.

BAB V

Survei dan Disain

Gambar 21 : Balok pembatas bisa menjadi bagian dari struktur jembatan (diatas) atau menjalani fungsi melindungi (dibawah).

Ada alternatif yang lebih mahal selain jembatan kayu bulat, yaitu jembatan dari baja yang dibuat di tempat lain sebelum dipasang dan mempunyai beberapa keunggulan.

Jembatan baja dirancang untuk beban muatan sesuai panjang rentang jembatan. Jembatan tersebut bisa secara mudah diangkut dan dipasang pada tempat dan penyangga kayu atau semen yang sudah dibuat lebih dahulu. Salah satu keunggulan utama dari jembatan baja adalah tahan lama dan bisa digunakan kembali pada lokasi lain bila diperlukan.

BAB V

Survei dan Disain

Foto 16 : Jembatan baja di hutan, Wilayah Bagian Perak, Malaysia.

Perhatikan penyangga berada pada posisi jauh di atas titik air tertinggi, memberikan ruangan yang cukup di atas sungai. Pada contoh ini deck dan pagar dari baja adalah bagian dari struktur jembatan.

5.6 Stabilisasi sisi jalan

Jalan yang baru dibangun akan menyebabkan erosi dan pengendapan (sedimentation) untuk waktu yang panjang. Pembangunan jalan berdampak rendah harus mencoba meminimalkan erosi tersebut melalui bermacam-macam tindakan.

Saluran samping dan lintasan saluran dapat menyalurkan air hujan keluar jalan. Pemadatan dan pengerasan akan mengurangi erosi dari permukaan jalan. Tetapi khususnya pada daerah berbukit-bukit, gusuran dan timbunan adalah sumber utama erosi dan sedimentasi.

Tergantung dari kondisi lapangan, lereng timbunan pada area dengan curah hujan tropis yang tinggi ditumbuhi tanaman secara alami dalam satu-dua tahun, untuk lereng gusuran akan diperlukan waktu lebih lama. Khususnya pada tanah yang sangat labil, tindakan stabilisasi lereng di sisi jalan harus dilaksanakan, secepat mungkin

BAB V

Survei dan Disain

setelah pembangunan jalan untuk mengurangi erosi dan masuknya sedimentasi ke sungai terdekat.

Manfaat lingkungan dari upaya menstabilkan sisi pinggir jalan pada lereng gusuran dan lereng timbunan, bukanlah merupakan satu-satunya faktor pendorong. Kerusakan pada lereng gusuran dan lereng timbunan menimbulkan biaya perbaikan yang mahal dan pengendapan pada hilir sungai bisa menimbulkan konfl ik dengan penduduk lokal yang tergantung pada air sungai untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga mereka dan salah satu sumber pangan yang penting.

Untuk menstabilkan lereng gusuran, sebaiknya dilakukan pada waktu pelaksanaan pembangunan jalan. Tindakan lain bisa juga dilakukan sesudah pembangunan selesai. Semua tindakan harus didahului oleh inspeksi lapangan dan penafsiran resiko dengan tujuan untuk menjamin gusuran dan timbunan lereng tetap stabil dan tidak menjadi sumber endapan untuk tata air (hydrology) lokal dan tidak menambah biaya perawatan jalan.

Dalam perencanaan dan pembangunan jalan hutan tabel berikut ini dapat dijadikan sebagai petunjuk untuk stabilitas dari lereng gusuran dan lereng timbunan dengan berbagai macam bahan / material yang mungkin ditemui pada pembangunan jalan hutan. Nilai dalam tabel ini didapatkan atas pengalaman sendiri. Tiap perusahaan HPH bisa merubah nilai pada tabel, berdasarkan situasi operasional dan pengalaman mereka.

BAB V

Rasio perbandingan yang dianjurkan untuk stabilitas lereng dengan bahan tanah yang berbeda-beda Kondisi dari Tanah / Batu Rasio Lereng (Horizontal:Vertical) Batu Keras (jarang ditemui di Indonesia) 0.25:1 - 0.5:1

Batu pecah-pecah, batu lunak 0.5:1 - 1:1

Tanah yang mengikat dengan baik 0.25:1 - 0.5:1

Normal tanah (gusuran lereng) 0.75 - 1:1

Tanah yang sangat liat 2:1 - 3:1

Daerah lembab atau tanah lempung yang subur 2:1 - 3:1

Timbunan pada kebanyakan tanah 1.4:1 - 2:1

Timbunan dari matrial batu yang mudah lepas 1.3:1

Tabel 2 : Rasio perbandingan stabilitas lereng yang dianjurkan

Survei dan Disain

Kondisi Umum

Perhatikan pertimbangan berikut ini, ketika mengembangkan kebijaksanaan dan praktek baru yang dirancang untuk mengurangi erosi lereng gusuran dan lereng timbunan dari jalan hutan.

1. Gusuran lereng utama harus dibangun menggunakan teras bangku yang masuk kedalam. Teras-teras tersebut akan mengarahkan air hujan sepanjang lereng dan dialihkan ke areal hutan yang berdekatan dengan demikian mengurangi volume dan kekuatan pengikisan dari air sepanjang parit.

2. Menggusur lereng pada sudut yang cocok dengan bahan / material dari tanah yang digunakan untuk membangun jalan (lihat Tabel 2). Memancangkan tongkat (staking) pada lereng adalah teknik yang berguna untuk memastikan sudut yang tepat telah tercapai selama pembangunan jalan.

3. Lereng yang digusur bisa distabilkan dengan menanam rumput atau tanaman lain yang cepat tumbuh. Menanam pohon pada lereng mempunyai pengaruh yang kecil atau sama sekali tidak berpngaruh pada erosi.

4. Pastikan sekitar tempat gorong-gorong telah terlindungi dengan tanah berbatu, krikil.

5. Menanam tanaman pada lereng timbunan segera setelah pembangunan jalan. Rumput atau tanaman lain yang tumbuh cepat harus digunakan. Menanam pohon akan mempunyai pengaruh menstabilkan lereng dalam jangka panjang, tapi jangan mengharapkan untuk mengurangi erosi pada lereng dalam tahun pertama setelah pembangunan dengan menanam pohon.

6. Dimana dimungkinkan, tempatkanlah dahan, ranting pohon pada lereng timbunan jalan untuk mengurangi erosi permukaan tanah dan memperbaiki kondisi pertumbuhan dari rumput.

7. Gunakan pagar hidup dari semak-semak dimana dimungkinkan pada lereng timbunan dan lereng gusuran jalan. Ada banyak jenis tanaman tropis yang cocok untuk penggunaaan seperti itu. Pagar hidup (tanaman) sangat cocok untuk resiko erosi sangat tinggi dan dimana areal rembesan air akan memilihara

BAB V

Survei dan Disain

kelembaban tanah.

8. Menstabilkan tanah secara mekanis (dengan mesin) harus dilaksanakan pada keadaan khusus dimana resiko erosi atau kerusakan yang serius pada lereng tersebut. Pada lereng gusuran, struktur dengan keranjang terisi batu ternyata dapat berguna untuk mencegah pergerakan tanah yang disebabkan rembesan air. Solusi lain yang bisa digunakan adalah dengan memperkuat tempat perembesan air, walaupun ini memerlukan pengunaan excavator.

9. Pada lereng timbunan, area di bawah gorong-gorong saluran keluar mungkin membutuhkan perlindungan yang bisa diberikan melalui penempatan reruntuhan kayu atau krikil untuk mencegah erosi skala besar dan runtuhnya lereng timbunan.

BAB V

Pemeliharaan & Deaktivasi

BAB VI

Foto 17 : Meratakan jalan menghilangkan lekuk pada permukaan / meratakan jalan yang memungkinkan pengeringan permukaan jalan dengan cepat dan memperbaiki kegunaan jalan secara keseluruhan.

Ini berlaku juga untuk jalan sekunder yang lebih kecil.

6.1 Pemeliharaan

Pemeliharaan jalan secara rutin adalah kegiatan yang sangat penting untuk memelihara sistem jalan dalam kondisi yang baik dan memelihara sistem saluran airnya bekerja sebagaiman mestinya.

Jalan yang dipelihara dengan baik akan mengurangi endapan, mencegah kerusakan jalan dengan cepat, dan mengurangi biaya transportasi.

Perusahaan HPH dengan jaringan jalan yang baik telah belajar dari pengalaman dimana dengan mengikuti praktek-praktek tersebut bahwa penting sekali untuk memelihara jaringan jalan dengan baik dimana akan mengurangi biaya transportasi kayu.

1. Melaksanakan pemeliharaan jalan sesegera mungkin sangat diperlukan. Keterlambatan dalam pemeliharaan jalan, akan menyebabkan kerusakan lebih parah pada jalan dan akan meningkatkan biaya pemeliharaan.

BAB VI

Pemeliharaan dan Deaktivasi

Pemeliharaan & Deaktivasi

2. Pembersihan dan perataan permukaan jalan secara berkala untuk menimbun lubang-lubang dan pembentukan kembali permukaan jalan dan system pengeringan yang baik. Pembersihan dan perataan sebaiknya dilakukan pada waktu permukaan jalan sedikit basah. Dianjurkan dilakukan pemadatan jalan, setelah perataan selesai.

3. Membersihkan selokan / parit dan gorong-gorong dari sampah yang menyumbat.

4. Membiarkan rumput atau tanaman lain sepanjang pinggir jalan untuk mengurangi erosi permukaan jalan.

5. Bila jalan tidak mempunyai permukaan yang cocok untuk segala cuaca, tutuplah jalan tersebut pada waktu musim hujan, untuk menghindari gangguan pada permukaan jalan, seperti terjadinya lubang-lubang.

6. Membersihkan pinggir jalan dari tumbuhan dibutuhkan untuk memelihara jarak penglihatan yang maksimal untuk keselamatan lalu-lintas.

7. Memasang tanda-tanda peringatan jalan.

6.2 Deaktivasi

Deaktivasi / pemberhentian kegiatan operasional pada jalan yang sudah tidak dibutuhkan, adalah praktek yang sangat jarang dilakukan di Indonesia, padahal pengabaian deaktivasi sering sekali menimbulkan dampak negatif yang besar. Hanya sebagian orang akan membantah bahwa pengabaian deaktivasi jalan bisa menimbulkan :

• Erosi tak terkendalikan pada jalan yang sudah tidak digunakan karena selokan dan parit tersumbat,

• Menyebarnya penebangan liar ’illegal logging’, karena jalan yang tidak digunakan di biarkan terbuka.

• Menyebarnya pemukiman penduduk dan terbukanya hutan karena kegiatan perladangan yang berpindah-pindah dan tidak cukup memperhatikan pada apa yang mereka tinggalkan,

• Berkurangnya satwa liar, karena perburuan yang tidak terkontrol dan pengambilan satwa langka.

Tingkat keunikan dari masalah ini, akan berbeda dari tempat satu dengan tempat yang lain, karena itu dibutuhkan pendekatan

BAB VI

Pemeliharaan & Deaktivasi

terkoordinasi.

Garda ‘garis depan’ pertahanan dimulai dengan pengelolaan HPH yang proaktif dan sampai melewati siklus penebangan pertama. Walaupun pernyataan maaf mengutip kegagalan Departemen Kehutanan atau pemerintah daerah untuk menegakkan hukum, kerapkali mempunyai dasar kesimpulan yang logis. Ada langkah-langkah yang nyata dan praktis yang dapat diambil oleh perusahaan HPH untuk memastikan masa depan areal hutan yang mereka kelola, dan memastikan fungsi ekologi telah terlindungi sesudah kepentingan mereka dari hutan tersebut terpenuhi.

Tindakan yang dianjurkan :

1. Membuat dan menjalankan panduan dan kebijaksanaan yang jelas untuk memastikan kegiatan deaktivasi dan pemberhentian yang tepat telah dilaksanakan.

2. Tempatkan rintangan yang efektif pada jalan yang sudah tidak digunakan, untuk mencegah masuknya orang yang tidak berkepentingan. Rintangan harus ditempatkan pada bagian jalan dimana tidak dimungkinkan untuk mengitari rintangan.

Rintangan harus cukup besar untuk mencegah penerobosan.

3. Pemasangan rambu-rambu yang menunjukkan penutupan dari jalan tersebut, dilarang berburu, dll.

4. Membersihkan puing sisa dari logging yang dapat menambah polusi lingkungan.

5. Memberitahukan pada masyarakat lokal, tentang tujuan penutupan jalan, untuk menjamin tidak ada yang berkeberatan dari pihak masyarakat lokal, dan kebutuhan masyarakat telah terpenuhi dengan cara bekerjasama dan tertib.

6. Membongkar bangunan seperti jembatan dan gorong-gorong. Ini tidak saja akan memastikan pembentukan kembali dari saluran air secara alami, dan mengurangi resiko erosi pada jalan yang sudah tidak dipakai, tapi juga akan menjadi rintangan yang efektif, terhadap masuknya penebang liar.

BAB VI

Pemeliharaan & Deaktivasi

Foto 18 : Erosi hebat pada selokan dari jalan sekunder yang tidak dipakai yang disebabkan oleh selokan yang diblokir.

BAB VI

Jawaban dari Latihan Kontur

LAMPIRAN I

(Bekenaan dengan bagian 2.3)

Jawaban Pertanyaan 1 :

Ruas garis (D-E) adalah 5 centimeter pada peta. Dengan skala 1:5,000 sama dengan 250 meter.

Garis tersebut memotong 8 interval kontour atau 80 meter.

Kemiringan rata-ratanya adalah :

80 x 100 = +32%

250 Jawaban Pertanyaan 2:

Jarak peta dari (A) ke (B) adalah 9 centimeter atau 450 meter. Lokasi jalan pada bagian ini harus mendaki 70 meter untuk mencapai saddel pada titik (B).

Dengan mengunakan konstanta ketinggian adalah : 70 x 100 = +15.5%

450 Jawaban pertanyaan 3:

Dari titik (B) pada punggung, lokasi jalan akan diturunkan sejauh 30 meter dari elevasi pada peta dengan jarak 7,5 centimeter ke titik (C) dari mana dapat dilanjutkan untuk dapat melewati lereng yang mudah.

Turunan pada bagian dijalan yang dimaksud akan menjadi : 30 x 100 = -8%

375

Lampiran I

Jawaban dari Latihan Kontur

Daftar Pustaka

LAMPIRAN II

Berikut ini daftar pustaka yang telah digunakan dalam persiapan buku pedoman ini.

Applegate, Grahame, 1998, “Code of Practice for Forest Harvesting in Indonesia”, NRM2, Bappenas, Dept. of Forestry and Estate Crops

Departemen Kehutanan, 1993, “Pedoman Tebang Pilih Tanam Indonesia”, Ministry of Forests.

Holmes, D.C., 1978, “Manual for Roads and Transportation”, British

Holmes, D.C., 1978, “Manual for Roads and Transportation”, British

Dokumen terkait