• Tidak ada hasil yang ditemukan

F. Restrukturisasi Utang

4. Debt for Education Swap IV

Debt for Education Swap IV senilai EUR20,0 juta dimaksudkan untuk merehabilitasi

bangunan SD dan SLTP yang rusak akibat gempa bumi di Yogyakarta dan Jawa Tengah, dengan

periode kegiatan dilaksanakan pada tahun 2006–2013.

5 . Debt Swap V through Global Fund to Fight AIDS, Tubercolusis, and Malaria

(GFATM)

Pemerintah Jerman memberikan fasilitas debt swap atas utang Pemerintah Indonesia sebesar

EUR50,0 juta melalui GFATM dengan syarat Pemerintah Indonesia mentransfer dana sebesar

EUR25,0 juta kepada Global Fund. Adapun mekanisme pelaksanaannya adalah sebagai berikut.

a. Penyaluran dana kepada Global Fund dianggap sebagai pembayaran cicilan utang kepada

KfW atas utang yang diatur dalam reschedulling (Consolidation Agreement tanggal 22 November 2000). Pembayaran dana ditujukan kepada IBRD selaku Trustee untuk Global

Fund sebesar EUR25,0 juta dengan cara membayar EUR5,0 juta per tahun selama lima

tahun dari tahun 2008 sampai dengan tahun 2012.

b. Selanjutnya, dana tersebut disalurkan kembali oleh Global Fund melalui hibah kepada

Pemerintah Indonesia untuk membiayai kegiatan dalam rangka pemberantasan AIDS,

tuberculosis, dan malaria di Indonesia.

c. Schedule pembayaran yang baru merupakan pengurangan jumlah cicilan yang dilakukan

terhadap jadwal cicilan terdekat (bukan mengurangi cicilan secara prorata).

Selain program-program di atas, saat ini Pemerintah sedang mempersiapkan proses debt

swap melalui program Tropical Forest Conservation Act (TFCA) dengan Pemerintah Amerika

Serikat. Indonesia telah dinyatakan eligible untuk menukarkan utangnya sebesar USD19,6 juta dengan kewajiban untuk membiayai kegiatan konservasi dan perlindungan hutan tropis di Indonesia. Melalui program ini, Pemerintah mengharapkan bahwa dalam jangka panjang lebih banyak lagi pihak-pihak lain yang mempunyai kepedulian terhadap lingkungan hidup dan ikut serta berpartisipasi, sehingga dapat memberikan manfaat yang seluas-luasnya melalui pelestarian lingkungan.

Restrukturisasi utang dalam bentuk pinjaman pada tahap awal dilakukan dengan memanfaatkan tawaran konversi terhadap perubahan tingkat suku bunga dan mata uang pinjaman, khususnya dari lembaga keuangan multilateral seperti Bank Dunia dan ADB. Sedangkan pada tahap selanjutnya akan dikaji kemungkinan konversi terhadap metode pembayaran kembali pinjaman dan bentuk-bentuk konversi lainnya.

Konversi tingkat suku bunga dan mata uang pinjaman, dari lembaga keuangan multilateral seperti Bank Dunia dan ADB akan menyelaraskan persyaratan pinjaman dengan kondisi pasar, sehingga diperoleh pinjaman dengan terms and condition yang market based. Hal ini akan mempermudah Pemerintah dalam pengelolaan portofolio pinjaman, melalui pemanfaatan instrumen-instrumen keuangan yang semakin berkembang di pasar.

Sementara itu, restrukturisasi utang dalam bentuk SUN dapat dilakukan dengan metode pertukaran dan pembelian kembali obligasi sebelum jatuh tempo. Pertukaran obligasi atau

debt switching umumnya dilakukan dengan dua alasan utama, yaitu.

1. memperbaiki struktur jatuh tempo pokok SBN, oleh karena itu sering juga disebut sebagai

debt reprofiling/maturity profile smoothening.

Dalam kondisi tertentu, misalnya kondisi pasar yang tidak mendukung, program penerbitan SBN dimungkinkan untuk menyesuaikan dengan kehendak pelaku pasar misalnya menerbitkan ON berbunga tetap jangka pendek atau ON berbunga mengambang. Kondisi ini membuat durasi portofolio utang menjadi lebih pendek sehingga meningkatkan risiko refinancing. Oleh karena itu, untuk mengurangi risiko tersebut, saat kondisi pasar sudah membaik, dapat dilakukan program debt switching untuk menukar ON jangka pendek dengan ON jangka panjang.

2. meningkatkan likuiditas pasar sekunder SBN.

Debt switching juga diperlukan dalam rangka menarik ON yang kurang likuid dan

menggantinya dengan menerbitkan ON yang lebih likuid. ON dapat menjadi kurang likuid jika terjadi antara lain (1) kuponnya tinggi sehingga investor lebih senang menahannya dalam portofolionya, (2) size-nya relatif kecil, sehingga kurang supply untuk diperdagangkan, (3) struktur kepemilikan seri tersebut terkonsentrasi pada sedikit investor, atau investor yang tipenya hold-to-maturity, dan (4) ON yang sudah lama diterbitkan, dan tidak direncanakan untuk dilakukan reopening (sudah tidak lagi menjadi

benchmark).

Transaksi penukaran/debt switching dilakukan secara one-to-one (jumlah unit yang ditarik sama dengan yang diterbitkan), sehingga tidak ada dampak langsung terhadap

net additional debt, sedangkan selisih harga diselesaikan secara tunai.

Untuk mekanisme restrukturisasi utang melalui pembelian kembali (cash buyback), pelaksanaannya di lapangan dilakukan secara terbatas, mengingat terbatasnya kondisi keuangan pemerintah. Dalam beberapa kasus, sumber dana untuk cash buyback dapat berasal dari penerbitan SBN pada tahun berjalan. Namun sesuai konsep SBN neto, hal ini berarti meningkatkan jumlah penerbitan SBN untuk menjaga agar SBN neto tetap. Dalam kondisi pasar SBN yang masih belum berkembang, pembelian kembali SBN secara tunai dengan sumber dana dari penerbitan SBN, dilakukan secara terbatas.

Bab VI

VI-56 NK APBN 2009

Pembiayaan Defisit Anggaran, Pengelolaan Utang, dan Risiko Fiskal

6.4 Risiko Fiskal

Dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), minyak bumi mempunyai peranan yang cukup besar. Dari sisi penerimaan negara, khususnya untuk penerimaan negara bukan pajak, minyak bumi masih memberikan sumbangan penerimaan paling besar. Namun dari sisi belanja, minyak bumi juga merupakan sumber pengeluaran yang paling besar terutama dalam rangka subsidi energi. Sebagaimana dimaklumi bahwa dewasa ini Indonesia telah menjadi net importir sehingga perubahan harga minyak mentah di pasar internasional memiliki sensitivitas yang sangat tinggi terhadap APBN.

Harga minyak mentah dunia dewasa ini cenderung mengalami fluktuasi. Perkembangan harga minyak mentah dunia dipengaruhi oleh tingginya demand atas energi dari negara-negara dengan pertumbuhan ekonomi yang tinggi seperti China dan India, sementara pertumbuhan supply relatif rendah. Pertumbuhan supply minyak mentah dewasa ini hanya berkisar satu persen per tahun, sehingga tidak mampu memenuhi kebutuhan energi untuk pertumbuhan ekonomi dunia yang berkisar antara 3–4 persen, akibatnya harga minyak mentah dunia meningkat.

Pada waktu yang bersamaan, di Amerika Serikat (AS) terjadi krisis perumahan (subprime

mortgage) yang membawa dampak pada pelemahan nilai tukar mata uang dolar AS terhadap

beberapa mata uang internasional. Krisis subprime mortgage juga membawa dampak lebih jauh terhadap perekonomian sehingga menyebabkan timbulnya gejolak di pasar keuangan AS dan diperkirakan akan memperlambat laju pertumbuhan ekonomi AS di tahun 2008. Dalam era globalisasi saat ini dan melihat signifikannya pengaruh perekonomian AS pada perekonomian dunia, adanya gejolak perekonomian di AS tersebut akan berimbas pada pasar keuangan negara-negara di dunia. Hal ini ditandai antara lain dengan terjadinya perubahan kepemilikan institusi keuangan dunia paska subprime morgage. Menurunnya perekonomian AS juga berdampak pada perlambatan pertumbuhan ekonomi dunia. Pelemahan nilai tukar mata uang dolar AS diduga juga berdampak pada peta investasi. Investor di bursa cenderung mengalihkan investasinya dan memilih minyak sebagai lahan menciptakan yield sehingga menaikkan harga minyak. Kondisi lainnya yang terjadi di pasar dunia adalah tren meningkatnya harga komoditas primer, terutama pangan, seperti crude palm oil (CPO), beras, dan kedele yang akhirnya menimbulkan tekanan inflasi pada negara-negara pengimpor komoditas primer tersebut.

Pada tahun 2009 fluktuasi harga minyak mentah dunia diperkirakan masih akan berlangsung. Sementara itu dampak negatif perubahan ekonomi global terhadap perkembangan perekonomian di dalam negeri juga masih akan terjadi, baik di pasar keuangan, ekonomi makro, maupun besaran APBN Tahun 2009.

6.4.1 Sensitivitas Asumsi Ekonomi Makro

Dalam penyusunan APBN, indikator-indikator ekonomi makro yang digunakan sebagai dasar penyusunan adalah pertumbuhan ekonomi, tingkat inflasi, suku bunga Sertifikat Bank Indonesia (SBI) 3 bulan, nilai tukar rupiah, harga minyak mentah Indonesia (Indonesia Crude Oil Price/ ICP), dan lifting minyak. Indikator-indikator tersebut merupakan asumsi dasar yang menjadi acuan bagi penghitungan besaran-besaran pendapatan, belanja, dan pembiayaan dalam APBN.

Bab VI

VI-58 NK APBN 2009

Pembiayaan Defisit Anggaran, Pengelolaan Utang, dan Risiko Fiskal

dilakukan dalam mata uang asing. Untuk APBN Tahun 2009, apabila nilai tukar rupiah rata-rata per tahun terdepresiasi sebesar Rp100 dari angka yang diasumsikan, maka tambahan defisit APBN diperkirakan akan berada pada kisaran Rp0,6 triliun sampai dengan Rp0,8 triliun.

Tingkat suku bunga yang dijadikan asumsi penyusunan APBN adalah tingkat suku bunga SBI 3 bulan. Perubahan tingkat suku bunga SBI 3 bulan diperkirakan hanya akan berdampak pada sisi belanja. Dalam hal ini, peningkatan tingkat suku bunga SBI 3 bulan berakibat pada peningkatan pembayaran bunga utang domestik. Untuk APBN Tahun 2009, apabila tingkat suku bunga SBI 3 bulan lebih tinggi 0,25 persen dari angka yang diasumsikan, maka tambahan defisit APBN diperkirakan akan berada pada kisaran Rp0,3 triliun sampai dengan Rp0,5 triliun. Harga minyak mentah Indonesia (ICP) memengaruhi APBN pada sisi pendapatan dan belanja negara. Pada sisi pendapatan negara, kenaikan ICP antara lain akan mengakibatkan kenaikan pendapatan dari kontrak production sharing (KPS) minyak dan gas melalui PNBP. Peningkatan harga minyak mentah dunia juga akan meningkatkan pendapatan dari PPh migas dan penerimaan migas lainnya. Pada sisi belanja negara, peningkatan ICP antara lain akan meningkatkan belanja subsidi BBM dan dana bagi hasil ke daerah. Untuk APBN Tahun 2009, apabila rata-rata ICP lebih tinggi USD1,0 per barel dari angka yang diasumsikan, maka tambahan defisit APBN diperkirakan akan berada pada kisaran Rp0,4 triliun sampai dengan Rp0,6 triliun.

Boks VI.5