• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perum Jaminan Kredit Indonesia (Perum Jamkrindo)

Sejak tanggal 1 Juli 2008 nama Perum Sarana Pengembangan Usaha (Perum SPU) berubah menjadi Perum Jaminan Kredit Indonesia (Perum Jamkrindo) berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 1 Tahun 2008 tanggal 19 Mei 2008. Perum Jamkrindo bertugas menyelenggarakan kegiatan usaha di bidang penjaminan kredit bagi usaha mikro, usaha kecil, dan usaha

menengah, serta koperasi (UMKMK), termasuk kegiatan penjaminan kredit perorangan, jasa konsultasi dan jasa manajemen kepada UMKMK.

(Miliar Rp) Keterangan Total Aktiva 402,0 442,0 1.126,0 Total Ekuitas 271,0 295,0 945,6 Laba Bersih 27,0 34,0 58,6 Return on Asset 6,72% 7,69% 5,2% Return on Equity 9,96% 11,53% 6,2% Sumber: Perum Jamkrindo

6.4.5 Sektor Keuangan

Risiko fiskal yang terkait dengan sektor keuangan diantaranya bersumber dari Bank Indonesia dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS).

6.4.5.1 Bank Indonesia

Sesuai dengan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2004 diatur bahwa modal Bank Indonesia paling sedikit Rp2,0 triliun. Dalam hal terjadi risiko atas pelaksanaan tugas dan wewenang Bank Indonesia yang mengakibatkan modal tersebut menjadi kurang dari Rp2,0 triliun, maka Pemerintah wajib menutup kekurangan dimaksud yang dilaksanakan setelah mendapat persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat.

Berdasarkan kesepakatan bersama antara Pemerintah dan Bank Indonesia mengenai penyelesaian bantuan likuiditas Bank Indonesia (BLBI) serta hubungan keuangan Pemerintah dan Bank Indonesia, disepakati bahwa Pemerintah membayar charge kepada Bank Indonesia apabila rasio modal terhadap kewajiban moneter Bank Indonesia kurang dari 3 persen. Sebaliknya, apabila rasio modal terhadap kewajiban moneter Bank Indonesia mencapai di atas 10 persen, maka kelebihan di atas 10 persen tersebut menjadi bagian Pemerintah. Data historis rasio modal Bank Indonesia dari tahun 2005 sampai dengan 2007 serta proyeksi untuk 2008 dan 2009 dapat dilihat pada Grafik VI.14

 

Keterangan 2005 2006 2007

Outstanding Penjaminan (Rp miliar) 14.249,0 22.157,0 33.985,9

Klaim (Rp miliar) 54,0 76,0 73,7 Jumlah KUKM (unit) 209.080 255.089 313.151

Sumber: Perum Jamkrindo

Secara umum kinerja keuangan dari Perum Jamkrindo adalah sebagai berikut.

Perum Jamkrindo merupakan salah satu perusahaan yang diminta oleh DPR untuk lebih berperan dalam pengembangan usaha

mikro, kecil dan menengah (UMKM), khususnya dalam penjaminan kredit UMKM. Untuk meningkatkan kapasitas penjaminan, dalam tahun 2007, Perum Jamkrindo menerima dana penyertaan modal negara (PMN) sebesar Rp600,0 miliar.

Kontribusi Bersih BUMN terhadap APBN

No Variabel PerubahanSatuan Dampak

1 Nilai tukar (Rp/USD1) 20% -1.350,9 s.d. -1.375,7 miliar 2 Harga minyak internasional USD20 per barel -1.355,9 s.d. -1.370,7 miliar 3 Tingkat bunga 3% -1.362,6 s.d. -1.364,1 miliar

Total Utang Bersih BUMN

No Variabel PerubahanSatuan Dampak

1 Nilai tukar (Rp/USD1) 20% -774,3 s.d. -756,9 miliar 2 Harga minyak internasional USD20 per barel -765,8 s.d. -765,3 miliar 3 Tingkat bunga 3% -765,6 s.d. -765,5 miliar

Kebutuhan Pembiayaan Bruto BUMN

No Variabel PerubahanSatuan Dampak

1 Nilai tukar (Rp/USD1) 20% 100,23 s.d. 114,34 miliar 2 Harga minyak internasional USD20 per barel 106,72 s.d. 107,85 miliar 3 Tingkat bunga 3% 107,24 s.d. 107,32 miliar Sumber: Departemen Keuangan

Tabel VI.16

Sensitivitas Perubahan Nilai Tukar, Harga Minyak dan Tingkat Bunga terhadap Risiko Fiskal BUMN Tahun 2009

0,00 2,00 4,00 6,00 8,00 10,00 12,00 14,00 2005 2006 2007 2008 2009 10,35 12,36 8,04 7,60 5,54 (P er se n ) Grafik VI.14

Rasio Modal dengan Kewajian Moneter Bank Indonesia

Bab VI

VI-72 NK APBN 2009

Pembiayaan Defisit Anggaran, Pengelolaan Utang, dan Risiko Fiskal

Tahun 2008 dan 2009 rasio modal diperkirakan masing-masing sebesar 7,60 persen dan 5,54 persen. Penurunan ini diantaranya disebabkan oleh peningkatan biaya pengendalian moneter untuk menjaga stabilitas ekonomi makro yang menjadi tugas Bank Indonesia. Berdasarkan perkiraan di atas, Pemerintah tidak perlu menganggarkan dana charge untuk Bank Indonesia pada APBN Tahun 2009.

6.4.5.2 Lembaga Penjamin Simpanan (LPS)

Sesuai dengan Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2004 tentang Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), modal awal LPS ditetapkan paling sedikit Rp4,0 triliun dan paling besar Rp8,0 triliun. Dalam hal modal LPS kurang dari modal awal, Pemerintah dengan persetujuan DPR akan menutup kekurangan tersebut. Tabel VI.17 menggambarkan posisi permodalan LPS untuk tahun 2006 dan 2007, serta proyeksinya untuk tahun 2008 dan 2009.

Simpanan layak bayar atau jumlah klaim yang harus dibayar LPS dalam tahun 2009 tidak dapat diestimasi karena bank yang berada dalam pengawasan khusus Bank Indonesia pada akhir tahun 2008 atau yang dicabut izin usahanya dalam tahun 2009 juga tidak dapat diestimasi. Dengan demikian, kemungkinan Pemerintah harus menyediakan dana

charge untuk LPS belum dapat

ditentukan.

6.4.6 Program Pensiun dan Tunjangan Hari Tua (THT)

Pegawai Negeri Sipil (PNS)

Sumber risiko fiskal yang berasal dari program pensiun PNS diantaranya berasal dari sharing pembayaran pensiun antara APBN dan PT Taspen (Persero), yang jumlahnya secara signifikan meningkat dari tahun ke tahun. Pada tahun anggaran 2008 Pemerintah telah menetapkan sharing pembayaran pensiun antara APBN dan PT Taspen (Persero) sebesar 91 : 9. Pada tahun 2009 Pemerintah memperbaiki sharing APBN dalam pembayaran pensiun, sesuai dengan rencana pengembalian pola pendanaan pensiun secara bertahap menjadi 100 persen beban APBN.

Dengan terus meningkatnya beban APBN untuk pembayaran pensiun dan sesuai dengan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1969 tentang Pensiun Pegawai dan Pensiun Janda/Duda Pegawai, Pemerintah perlu membentuk suatu Dana Pensiun dan menerapkan sistem fully funded dalam program pensiun PNS, Pemerintah sebagai pemberi kerja bersama-sama PNS memupuk dana untuk dikelola oleh suatu Dana Pensiun, sehingga pembayaran pensiun di kemudian hari tidak akan membebani APBN. Konsekuensinya, Pemerintah melalui APBN perlu menyediakan dana awal yang cukup besar untuk menunjang penerapan sistem fully funded.

Adapun untuk program THT, beberapa kebijakan Pemerintah, antara lain kenaikan gaji pokok PNS dan perubahan formula perhitungan manfaat, menimbulkan risiko pada APBN, terkait dengan kekurangan pendanaan Pemerintah (unfunded liability), dengan rincian sebagai berikut.

No

1 Dana Simpanan yang Dijamin 819.124 512.184,3 484.622,9 539.288,3 2 Modal yang Dimiliki (Ekuitas) 5.573,8 6.951,9 8.446,0 **)

3 a. Simpanan Layak Bayar 9,4 7,0 248,0 **)

b. Realisasi Pembayaran Klaim 8,6 6,6 248,0 **)

4 Cadangan Penjaminan 1.259,0 2.361,6 3.556,8 **)

Sumber: LPS

Keterangan:

*) Berdasarkan Rencana Kerja dan Anggaran Tahunan LPS Tahun 2008. **) Tidak dapat diestimasi.

Tabel VI.17 Kinerja Keuangan LPS

(miliar rupiah)

a. Perubahan formula perhitungan manfaat THT pada tahun 2004.

PT Taspen (Persero) mencatat adanya kekurangan pendanaan pemerintah sebesar Rp2,0

triliun. Terhadap kewajiban ini, Pemerintah mulai tahun 2005

2007 mencicil sebesar

Rp250,2 miliar per tahun dan pada tahun 2008 Pemerintah mengalokasikan dana sebesar Rp500,2 miliar. Besarnya cicilan pembayaran kekurangan pendanaan ini akan disesuaikan dengan kemampuan keuangan negara.

b. Akibat adanya kenaikan gaji pokok PNS pada tahun 2001, 2003, dan 2007, PT Taspen (Persero) mencatat adanya kekurangan pendanaan pemerintah dalam program THT sebesar Rp1,9 triliun.

c. Kenaikan gaji PNS pada tahun 2008 sebesar 20 persen. PT Taspen (Persero) mencatat

adanya kenaikan kekurangan pendanaan sebesar Rp2,5 triliun.

6.4.7 Desentralisasi Fiskal

Kebijakan desentralisasi fiskal dilakukan dengan tujuan untuk mempercepat terwujudnya kesejahteraan masyarakat melalui peningkatan pelayanan, pemberdayaan, dan peran serta masyarakat, serta peningkatan daya saing daerah dengan memperhatikan prinsip demokrasi, pemerataan, keadilan, keistimewaan, dan kekhususan suatu daerah dalam sistem Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dengan berjalannya waktu, pelaksanaan kebijakan ini telah berhasil mendorong perkembangan pembangunan daerah yang mengalami pemekaran. Namun, kebijakan desentralisasi fiskal perlu didukung dengan tersedianya SDM yang mampu menyelenggarakan pengelolaan keuangan daerah yang baik dan benar. Tanpa dukungan tersebut, kebijakan ini dapat menimbulkan risiko yang berdampak tidak hanya pada keuangan Pemerintah Pusat tetapi juga pada keuangan pemerintah daerah.

Beberapa sumber risiko fiskal yang terkait dengan desentralisasi fiskal diantaranya adalah sebagai berikut (1) pemekaran daerah, (2) hold harmless, dan (3) alokasi Dana Bagi Hasil Sumber Daya Alam.

6.4.7.1 Pemekaran Daerah

Penambahan daerah otonom baru memiliki dampak terhadap APBN yaitu pada (a) Dana Alokasi Umum (DAU); (b) Dana Alokasi Khusus (DAK); dan (c) kebutuhan pada instansi vertikal. Jumlah daerah otonom baru sejak tahun 2005 sampai dengan tahun 2008 telah mengalami penambahan sebanyak 31 daerah. Tabel VI.18 menunjukkan perkembangan jumlah daerah otonom baru tahun 2005 sampai dengan tahun 2008.

Setiap penambahan daerah otonom baru mengakibatkan menurunnya alokasi riil DAU bagi daerah otonom lainnya. Apabila kebijakan hold

harmless masih dipertahankan,

penurunan alokasi DAU tersebut memberi konsekuensi kepada APBN untuk menyediakan dana penyesuaian.

Daerah 2005 2006 2007 2008 Jumlah

Provinsi - - - - 0

Kabupaten - - 21 6 27

Kota - - 4 - 4

Jumlah - - 25 6 31

Sumber : Departemen Keuangan

Tabel VI.18

Bab VI

VI-74 NK APBN 2009

Pembiayaan Defisit Anggaran, Pengelolaan Utang, dan Risiko Fiskal

Untuk memenuhi kebutuhan sarana dan prasarana pemerintahan daerah otonom baru, mulai tahun 2003 Pemerintah telah mengalokasikan sejumlah dana pada DAK untuk bidang prasarana pemerintahan guna mendukung kelancaran penyelenggaraan pemerintahan daerah pemekaran. Dana ini dialokasikan untuk daerah yang terkena dampak pemekaran (daerah otonom baru dan daerah induk). Sejak tahun 2003 sampai dengan 2008, DAK bidang prasarana pemerintahan ini dialokasikan dengan kisaran Rp3,3 miliar–Rp4,3 miliar kepada tiap daerah penerima.

Dengan berjalannya waktu, pelaksanaan kebijakan ini telah berhasil mendorong perkembangan pembangunan daerah yang mengalami pemekaran. Namun, kebijakan desentralisasi fiskal perlu didukung dengan tersedianya sumber daya manusia yang mampu menyelenggarakan keuangan daerah serta sistem administrasi yang baik dan benar. Tanpa dukungan tersebut, kebijakan ini dapat menimbulkan risiko yang berdampak pada keuangan Pemerintah Pusat maupun pemerintah daerah.

Konsekuensi lain dari pemekaran daerah terhadap keuangan negara adalah penambahan kantor-kantor untuk instansi vertikal guna melakukan kegiatan pemerintahan yang merupakan kewenangan dan tanggung jawab Pemerintah Pusat, antara lain sebagai berikut pertahanan dan keamanan, agama, kehakiman, dan keuangan. Dengan dibukanya kantor-kantor tersebut, Pemerintah Pusat harus menyediakan dana untuk sarana dan prasarana gedung kantor, belanja pegawai, dan belanja operasional lainnya. Berdasarkan data RKA-KL tahun 2005–2008, jumlah dana APBN yang dialokasikan kepada daerah otonom baru berkisar antara Rp6,3 triliun–Rp14,0 triliun. Berdasarkan data RKA-KL tahun 2008, jumlah dana APBN yang dialokasikan untuk kebutuhan instansi vertikal pada daerah otonom baru adalah sebesar Rp14,0 triliun.

6.4.7.2 Hold Harmless

Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah mengatur bahwa pemberian dana alokasi umum (DAU) ke daerah dilakukan berdasarkan suatu formula tertentu. Lebih lanjut disebutkan bahwa formula ini digunakan mulai tahun anggaran 2006, akan tetapi sampai dengan tahun anggaran 2007 alokasi DAU yang diberlakukan untuk masing-masing daerah ditetapkan tidak lebih kecil dari tahun anggaran 2005. Apabila DAU untuk provinsi tertentu lebih kecil dari tahun anggaran 2005, kepada provinsi yang bersangkutan dialokasikan dana penyesuaian yang besarnya sesuai dengan kemampuan dan perekonomian negara, kebijakan ini dikenal sebagai hold harmless.

Pada tahun 2008 kebijakan hold harmeless telah dikurangi, meskipun belum seratus persen dihapuskan. Pemerintah masih mengalokasikan dana penyesuaian DAU sebesar Rp271,7 miliar untuk menutup DAU bagi daerah yang mengalami penurunan DAU sebesar 75 persen atau lebih dibandingkan dengan DAU tahun 2007.

Pada tahun 2009 Pemerintah berencana untuk tidak memberlakukan kebijakan hold

harmlesss yang berarti DAU untuk tiap daerah dialokasikan murni berdasarkan formula.

Keberhasilan penerapan formula murni ini sangat ditentukan oleh political will Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, serta DPR RI dalam upaya mengoptimalkan alokasi DAU bagi kepentingan seluruh daerah. Kesamaan political will antara tiga pihak ini diharapkan dapat mengurangi potensi bertambahnya beban APBN 2009.

6.4.7.3 Alokasi Dana Bagi Hasil Sumber Daya Alam

Sesuai dengan ketentuan Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah, dana bagi hasil (DBH) disalurkan berdasarkan realisasi penerimaan tahun berjalan. Oleh karena itu, selama tahun anggaran berjalan terdapat potensi perbedaan antara DBH yang dialokasikan dalam APBN-P dengan realisasi.

Apabila perhitungan realisasi DBH suatu daerah lebih tinggi daripada alokasi dalam APBN-P, Pemerintah harus mentransfer selisih dana tersebut ke daerah yang bersangkutan. Berdasarkan data tahun

2000

2007, rata-rata selisih alokasi DBH

dengan realisasi adalah sebesar minus 3,05 persen (tanda minus berarti realisasi lebih besar daripada yang dialokasikan) dalam APBN-P (lihat Grafik VI.15).

6.4.8 Tuntutan Hukum kepada Pemerintah

Tuntutan hukum kepada Pemerintah muncul pada saat pihak ketiga mengajukan tuntutan hukum kepada Pemerintah melalui pengadilan, seperti dalam kasus pengadaan listrik swasta (Independent Power Producers/IPPs) dan Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN). Masalah listrik swasta diselesaikan melalui tiga pola penyelesaian sengketa, yaitu sebagai berikut (a) closed-out atau penghentian kontrak dengan disertai pemberian kompensasi (7 kontrak); (b) renegosiasi terms and conditions kontrak (17 kontrak); dan (c) ajudikasi atau arbitrase-litigasi (3 kontrak, yaitu PLTP Dieng, PLTP Patuha, dan PLTP Karaha Bodas). Dalam ajudikasi atau arbitrase-legitasi tersebut tidak terdapat risiko fiskal. Sengketa atas kontrak PLTP Dieng dan PLTP Patuha telah dapat diselesaikan melalui settlement agreement dengan overseas private investment corporation (OPIC) selaku perusahaan asuransi dari kedua proyek tersebut. Sesuai settlement agreement, Pemerintah berkewajiban membayar cicilan dengan jadual yang ditentukan. Pemerintah telah mengalokasikan anggaran untuk pembayaran cicilan tersebut setiap tahun anggaran. Sedangkan untuk kasus PLTP Karaha Bodas, arbitrase telah memberikan putusan final dan sejumlah dana pada beberapa trust

accounts di New York dan pada tahun 2006 telah dieksekusi untuk memenuhi seluruh

putusan arbitrase tersebut.

Dalam sengketa yang terkait dengan kegiatan BPPN, jumlah perkara yang ditangani sampai dengan saat ini adalah 494 perkara, terdiri dari 432 perkara perdata (termasuk 20 perkara baru), 30 perkara niaga (termasuk 1 perkara baru), 7 perkara tata usaha negara (PTUN), 1

perkara pidana dan 24 penyelesaian kewajiban pemegang saham (PKPS). Beberapa perkara

yang mewajibkan Pemerintah membayar dan yang berpotensi membayar adalah sebagai berikut.

a. Perkara yang mewajibkan Pemerintah membayar (perkara yang sudah memiliki

kekuatan hukum tetap) adalah sebesar Rp12,2 miliar dan USD104,7 juta. Dengan rincian 0 10 20 30 40 50 60 7 0 (Tr il iu n R p ) 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 Grafik VI.15

Selisih antara Alokasi dengan Realisasi * 2000 - 2007

Alokasi ke Daerah (Anggaran) Realisasi ke daerah *

* Realisasi berdasarkan transfer kas pada KPPN

Bab VI

VI-76 NK APBN 2009

Pembiayaan Defisit Anggaran, Pengelolaan Utang, dan Risiko Fiskal

sebesar Rp7,6 miliar sudah dibayar kepada satu pemilik dana, dan Rp240 juta masih dalam proses pembayaran terhadap satu pemilik dana. Sementara itu sebesar Rp4,4 miliar dan USD104,7 juta belum dibayar terhadap dua pemilik dana.

b. Perkara yang berpotensi Pemerintah membayar (perkara masih dalam proses di

pengadilan) adalah 18 perkara dengan nilai sebesar Rp915,4 miliar dan USD38,2 juta.

6.4.9 Keanggotaan pada Organisasi dan Lembaga Keuangan

Internasional

Keanggotaan Indonesia pada organisasi dan lembaga keuangan internasional dapat menimbulkan risiko fiskal terkait dengan adanya komitmen Pemerintah untuk memberikan kontribusi dan penyertaan modal kepada organisasi-organisasi atau lembaga keuangan internasional tersebut.

Untuk tahun 2009, jumlah dana yang harus dipersiapkan oleh Pemerintah untuk membayar kontribusi dan penyertaan modal kepada organisasi internasional (OI) dan lembaga keuangan internasional (LKI) adalah sebesar

Rp582,4 miliar. Kontribusi kepada OI disalurkan melalui DIPA Departemen Luar Negeri sebagaimana diatur dalam Keppres Nomor 64 Tahun 1999 dengan jumlah sebesar Rp300,0 miliar. Dalam hal trust fund dan penyertaan modal pada OI dan LKI, dana dialokasikan pada DIPA Departemen Keuangan dan mencapai nilai sebesar Rp282,4 miliar dengan rincian sebagaimana tertera pada Tabel VI.19.

6.4.10 Bencana Alam

Indonesia merupakan negara yang wilayahnya memiliki kondisi geografis, geologis, hidrologis, dan demografis yang memungkinkan terjadinya bencana, baik yang disebabkan oleh faktor alam, faktor nonalam maupun faktor manusia yang menyebabkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan

maupun kerugian harta benda. Berdasarkan data tahun 2007 beberapa bencana yang mengancam wilayah Indonesia diantaranya adalah banjir, banjir dan tanah longsor, gunung berapi serta bencana lainnya sebagaimana dapat dilihat pada Grafik

VI.16 berikut ini.

Dasar hukum penanggulangan bencana mengacu kepada UU Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana. Berdasarkan undang-undang tersebut tanggung jawab Pemerintah dalam

Organisasi/Lembaga Keuangan Internasional

1 IDB (Islamic Development Bank) 123,2 Sudah ada tagihan 2 IBRD (International Bank for

Reconstruction and Development) 105,0 Perkiraan 3 IFAD (International Fund for

Agricultural Development) 18,2 Untuk pembayaran cicilan III 4 ADB (Asian Development Bank) 25,0 Pencairan promisory notes 5 ASEAN Animal Health Trust Fund 0,5 Jumlahnya tetap hingga 2012 6 Common Fund for Commodities (CFC) 0,5 Perkiraan

7 USAID 10,0 Berdasarkan pembayaran tahun sebelumnya 282,4

Jumlah

Tabel VI.19

Perkiraan Kontribusi Berupa Trust Fund dan Penyertaan Modal Pemerintah pada Organisasi/Lembaga Keuangan Internasional

Tahun 2009

No Jumlah Keterangan

(miliar Rp)

Grafik VI.16

Kejadian Bencana di Indonesia Tahun 2007

4 1 % 6 2 % 1 2 3 % 2 9 8 % 4 5 1 2 % 5 6 1 5 % 7 5 2 0 % 1 5 2 3 9 %

Ba n jir A n g in T opa n T a n a h Lon g sor Ba n jir da n T a n a h Lon g sor Gelom ba n g Pa sa n g /A br a si Gem pa Bu m i Keg a g a la n T ekn olog i Let u sa n Gu n u n g Ber a pi

penyelenggaraan penanggulangan bencana diantaranya perlindungan masyarakat dari dampak bencana, pemulihan kondisi dari dampak bencana dan pengalokasian anggaran penang-gulangan bencana dalam APBN. Anggaran tersebut diperuntukan untuk kegiatan-kegiatan tahap prabencana, saat tanggap darurat bencana, dan pascabencana. Untuk tahun 2007, Pemerintah mengalokasikan dana kontinjensi untuk penanggulangan bencana sebesar Rp2,7 triliun. Dari anggaran tersebut, 99 persen telah direalisasi antara lain untuk penanganan gempa di Manggarai, Bengkulu, Sumatera Barat dan sekitarnya serta banjir di Morowali dan Gorontalo.

Sedangkan untuk tahun 2008, Pemerintah mengalokasikan dana kontinjensi bencana sebesar Rp3,0 triliun, dan telah direalisasi 98,3 persen atau Rp2,95 triliun. Untuk tahun 2009, Pemerintah mengalokasikan dana kontinjensi bencana sebesar Rp3,0 triliun, sama dengan tahun anggaran sebelumnya.

6.4.11 Risiko Fiskal Lainnya

Di samping risiko fiskal tersebut di atas, APBN juga dihadapkan pada beberapa risiko fiskal lainnya, antara lain sebagai berikut.

a. Risiko tidak tercapainya penerimaan perpajakan nonmigas

Berdasarkan hasil pembahasan antara Pemerintah dengan DPR jumlah penerimaan pajak nonmigas (PPh nonmigas, PPN & PPnBM, pajak bumi dan bangunan, BPHTB serta pajak lainnya) untuk tahun anggaran 2009 ditetapkan sebesar Rp591,13 triliun, yang berarti lebih besar apabila dibandingkan dengan angka penerimaan yang diajukan oleh Pemerintah sebesar Rp584,6 triliun. Mengingat kondisi perekonomian nasional masih dibayangi dengan ketidakpastian sebagai dampak krisis keuangan global, terdapat potensi risiko target tersebut tidak tercapai. Oleh karena itu dalam upaya memberikan bantalan kepada APBN 2009 terhadap risiko tersebut maka dialokasikan dana cadangan risiko fiskal sebesar Rp2,0 triliun. b. Risiko Kebijakan Domestic Market Obligation (DMO) ketersediaan inkind batubara Dalam upaya untuk menurunkan biaya pokok produksi (BPP) tenaga listrik, Pemerintah melakukan beberapa kebijakan, diantaranya dengan melakukan program diversifikasi energi primer di pembangkit tenaga listrik, salah satunya dengan cara meningkatkan penggunaan batubara. Untuk itu akan diterbitkan Peraturan Pemerintah yang mengatur pasokan batubara untuk pemenuhan kebutuhan dalam negeri inkind kepada PT PLN (Persero), yang berlaku mulai 1 Januari 2009. Jika PT PLN (Persero) mendapat batubara untuk mengganti bahan bakar minyak (BBM)-nya dari DMO atau kewajiban memasok pasar domestik, maka potensi subsidi yang dapat dihemat sebesar Rp3,0 triliun. Dalam upaya memberikan bantalan kepada APBN jika kebijakan ini tidak terlaksana, telah dialokasikan dana cadangan risiko fiskal sebesar Rp3,0 triliun.

0 500 1.000 1.500 2.000 2.500 3.000 3.500 2004 2005 2006 2007 2008 2009 *)

Sumber : Departemen Keuangan Grafik VI.17

Dana Penanggulangan Bencana Alam 2004-2008

Pagu Realisasi (Mi lia rRp )