BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
C. Defatisasi
ruang antar partikel berkurang, padahal ruang antar partikel inilah yang digunakan sebagai jalan yang mudah ditembus oleh cairan.
C. Defatisasi
Setelah diperoleh serbuk daun S. rebaudiana yang mempunyai ukuran partikel sesuai yang diinginkan, maka selanjutnya dilakukan proses defatisasi menggunakan pelarut heksan. Prinsip dari defatisasi sebenarnya juga merupakan proses ekstraksi, hanya saja yang membedakannya adalah jika pada ekstraksi yang diambil adalah larutan ekstraknya dan serbuk sisa ekstraksi dibuang. Namun pada defatisasi terjadi sebaliknya, yaitu serbuk hasil defatisasi diambil dan larutan defat-nya dibuang. Dilakukan demikian karena tujuan defatisasi adalah untuk mengurangi senyawa non polar yang terdapat dalam serbuk daun S. rebaudiana. Senyawa non polar yang terdapat dalam tanaman S. rebaudiana, antara lain:
dekanoic acid, pentacosane, octacosane, stigmasterol, lupeol, dan pentacyclic triterpene (Wallin, 2007). Serbuk setelah defatisasi jumlah senyawa non polarnya akan berkurang dan serbuk inilah yang kemudian akan diekstraksi untuk mendapatkan ekstrak steviosida (Kuznesof, 2007).
Senyawa non polar dalam serbuk S. rebaudiana perlu dihilangkan agar nantinya tidak mengganggu proses pengekstraksian menggunakan pelarut akuades dan etanol, karena secara teori dikatakan akuades dapat juga menyari senyawa lipid (Anonim, 1986).
Proses defatisasi serbuk S. rebaudiana menggunakan heksan karena heksan merupakan pelarut organik yang paling bersifat non polar sehingga proses
penarikan senyawa lipid pada serbuk S. rebaudiana dapat optimal. Alat yang digunakan dalam defatisasi ini adalah soxhlet yang merupakan jenis dari penyarian berkesinambungan. Metode soxhletasi merupakan proses ekstraksi menggunakan pelarut yang selalu baru sehingga terjadi ekstraksi kontinyu dengan volume pelarut yang relatif konstan dengan adanya pendingin balik.
Cara penyarian ini dipilih karena pelarut yang dibutuhkan lebih sedikit, serbuk disari oleh cairan penyari yang murni sehingga dapat menyari senyawa non polar lebih banyak dan penyarian dapat diteruskan sesuai dengan keperluan tanpa menambah volume cairan penyari; dan karena selalu menggunakan pelarut yang dibuat baru maka diharapkan hasil yang diperoleh akan lebih optimal.
Volume masing – masing pelarut yang digunakan adalah sebanyak dua kali sirkulasi. Hal ini dimaksudkan agar proses ekstraksi dapat berjalan terus – menerus tanpa adanya penambahan pelarut lagi, sebab jika pelarut yang digunakan hanya sebanyak satu kali sirkulasi maka kemungkinan proses ekstraksi akan terhambat akibat kekurangan pelarut dan dikhawatirkan labu alas bulat yang digunakan akan pecah karena terlalu panas akibat tidak ada lagi pelarut dalam labu alas bulat tersebut. Namun apabila volume pelarut yang digunakan terlalu banyak maka akan semakin sulit bagi pelarut untuk mengalami penguapan sehingga tidak bisa mengekstraksi lipid dari serbuk secara optimal dalam jangka waktu yang telah ditentukan.
Waktu yang diperlukan untuk proses defatisasi ini adalah 2x8 jam yang merupakan hasil orientasi dari penelitian sebelumnya (Martono, 2007). Setelah
proses defatisasi selesai, kemudian dikeringkan dengan oven untuk menguapkan semua sisa pelarut heksan agar diperoleh serbuk kering.
D. Perkolasi
Penyarian dengan metode perkolasi dilakukan dengan membasahi 30 g serbuk dengan larutan penyari, lalu dimasukkan ke dalam bejana tertutup selama 3 jam. Pentingnya pembasahan dulu dengan cairan penyari adalah karena serbuk
S. rebaudiana mengandung bahan yang mudah mengembang bila terkena air dan zat aktifnya sulit disari. Bila serbuk tersebut langsung dialiri dengan cairan penyari maka cairan penyari tidak dapat menembus keseluruh sel dengan sempurna karena tidak seluruh sel mengembang. Oleh karena itu perlu dibasahi terlebih dahulu dengan cairan penyari yang cukup untuk mengembangkan sel dengan sempurna sehingga aliran penyari tidak akan mengalami hambatan. Setelah seluruh sel serbuk mengembang maka aliran cairan penyari akan merata, sehingga dapat menembus seluruh sel dengan sempurna.
Ukuran perkolator yang digunakan harus dipilih sesuai dengan jumlah bahan yang disari, yaitu jumlah bahan yang disari tidak lebih dari 2/3 tinggi perkolator (Anonim, 1986), maka jumlah serbuk untuk setiap perkolasi adalah sebesar 30 g.
Setelah pembasahan selama 3 jam, kemudian massa dipindahkan sedikit demi sedikit ke dalam perkolator sambil tiap kali ditekan hati – hati. Penekanan ini merupakan salah satu usaha untuk mengatur kecepatan pengaliran cairan penyari. Selanjutnya dituangi dengan cairan penyari secukupnya sampai cairan
mulai menetes dan di atas simplisia masih terdapat selapis cairan penyari. Kemudian dibiarkan menetes perlahan – lahan atau dengan kecepatan 1 ml/menit (Anonim, 1986) dan ditambahkan berulang – ulang cairan penyari secukupnya sehingga selalu terdapat selapis cairan penyari di atas serbuk. Dengan pertimbangan bahwa kecepatan aliran penyari menentukan hasil akhir dari jumlah kadar steviosida, maka dipilih kecepatan aliran penyari sebesar 1 ml/menit, karena jika penetesan terlalu cepat, penyarian akan kurang sempurna, sebaliknya jika terlalu lambat akan membuang waktu dan kemungkinan menguapnya larutan penyari akan semakin besar. Selama proses perkolasi harus selalu terdapat selapis cairan penyari di atas serbuk karena apabila serbuk kering akan terdapat gelembung – gelembung udara yang akan mengganggu dalam penyarian. Hal ini dikarenakan cairan penyari yang keluar tidak mampu untuk menembus sel – sel yang mengandung zat aktif karena terhalang oleh gelembung udara tersebut. Untuk memudahkan penambahan cairan penyari diatas perkolator dipasang botol cairan penyari dan kecepatan menetes cairan penyari diatur sama dengan kecepatan menetes perkolat.
Pada penelitian ini, perkolator dilengkapi dengan alat pemanas sehingga dapat diatur suhu yang diinginkan. Adanya pemanasan dapat meningkatkan daya melarutkan cairan penyari dan kecepatan difusi sehingga dapat meningkatkan kelarutan zat aktif menjadi pertimbangan digunakannya pemanasan dalam perkolasi ini (Anonim,1986). Oleh karena itu, dalam percobaan yang dilakukan digunakan variasi suhu dan volume akuades (Tabel II).
Replikasi dilakukan sebanyak 2 kali. Larutan ekstrak yang didapat kemudian ditampung dan siap dianalisis. Alasan penggunaan variasi suhu dan volume akuades adalah untuk mendapatkan pengaruh dari dua faktor ini dalam mempengaruhi kelarutan steviosida sehingga diharapkan dapat diketahui faktor mana yang lebih dominan dalam meningkatkan kadar steviosida. Selain itu dapat juga untuk mengetahui perbandingan komposisi pelarut dan suhu yang sesuai untuk menghasilkan ekstrak dengan kadar steviosida yang optimal.
Penentuan 2 jenis volume akuades yaitu 150 ml dan 375 ml untuk digunakan sebagai level rendah dan level tinggi dalam perhitungan desain faktorial dikarenakan pada rentang volume tersebut diharapkan dapat memberikan hasil yang berbeda secara signifikan terhadap kadar steviosida. Pemilihan level tinggi volume akuades 375 ml diharapkan bahwa dengan peningkatan volume akuades sebanyak 2,5 kali dari volume akuades yang ditentukan sebelumnya dapat menyari semua steviosida yang terkandung dalam daun S. rebaudiana.
Penggunaan pemanasan dengan suhu 300 C dan 500 C selain karena pertimbangan dari dua jenis suhu tersebut dapat memberikan hasil yang berbeda secara signifikan adalah juga karena suhu 300 diasumsikan sebagai suhu kamar dimana metode perkolasi secara konvensional umumnya dilakukan pada suhu kamar. Sedangkan level tinggi suhu mencapai 500 C karena steviosida hanya stabil selama 1 jam pada suhu ±1000C dan pada suhu 80°C stabil selama 5 jam (Nabors, 1986) dan untuk mencegah penguapan etanol yang digunakan sebagai cairan penyari.