BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.3 Usaha Mikro dan Kecil (UMK)
2.3.1 Defenisi dan Karakteristik Usaha Mikro dan Kecil
Berdasarkan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2008 tentang usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) terdapat beberapa kriteria yang dipergunakan untuk mendefinisikan pengertian dan kriteria usaha mikro, kecil dan menengah, yaitu:
1. Usaha Mikro
Kriteria kelompok usaha mikro adalah usaha produktif milik orang perorangan dan atau badan usaha perorangan yang memenuhi kriteria usaha mikro sebagaimana diatur dalam Undang-Undang ini.
Menurut Keputusan Menteri Keuangan No. 40/KMK.06/2003 tanggal 29 Januari 2003 UMK yaitu usaha mikro yang usaha produktif milik keluarga atau perorangan WNI dan memiliki hasil penjualan paling banyak Rp100.000.000 (seratus juta rupiah) per tahun. Usaha mikro dapat mengajukan kredit kepada bank paling banyak Rp50.000.000.
Ciri-ciri usaha mikro adalah sebagai berikut:
a. Jenis barang atau komoditi usahanya tidak selalu tetap, sewaktu-waktu dapat berganti.
b. Tempat usahanya tidak selalu menetap, sewaktu-waktu dapat pindah tempat.
c. Belum melakukan administrasi keuangan yang sederhana sekalipun, dan tidak memisahkan keuangan keluarga dengan keuangan usaha.
d. Pengusaha atau SDM-nya berpendidikan rata-rata sangat rendah, umumnya tingkat SD dan belum memiliki kewirausahaan yang memadai.
e. Umumnya belum mengenal perbankan tetapi lebih mengenal rentenir.
f. Umumnya tidak memiliki izin usaha atau persyaratan legalitas lainnya.
2. Usaha Kecil
Kriteria usaha kecil adalah usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri, yang dilakukan oleh orang perorangan atau badan usaha yang bukan merupakan anak perusahaan atau bukan cabang perusahaan yang dimiliki, dikuasai, atau menjadi bagian baik langsung maupun tidak langsung dari usaha menengah atau usaha besar yang memenuhi kriteria usaha kecil sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang ini.
Menurut Undang-Undang No.9 Tahun 1995, usaha kecil adalah usaha produktif yang berskala kecil dan memilki kekayaan bersih paling banyak Rp 200.000.000, tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha atau memiliki hasil penjualan paling banyak Rp1.000.000.000 pertahun serta dapat menerima kredit dari bank diatas Rp50.000.000 sampai Rp500.000.000.
Ciri-ciri Usaha Kecil antara lain:
a. SDM-nya sudah lebih maju, rata-rata pendidikannya SMA dan sudah ada pengalaman usahanya.
b. Pada umumnya sudah melakukan pembukuan atau manajemen keuangan walau masih sederhana, keuangan perusahaan sudah mulai dipisahkan dengan keuangan keluarga, dan sudah membuat neraca usaha.
c. Pada umumnya sudah memiliki izin usaha dan persyaratan legalitas lainnya.
d. Sebagian besar sudah berhubungan dengan perbankan, namun belum dapat membuat perencanaan bisnis, studi kelayakan dan proposal kredit kepada bank, sehingga masih sangat memerlukan jasa konsultasi atau pendampingan.
Kriteria jumlah karyawan berdasarkan jumlah tenaga kerja atau jumlah karyawan merupakan suatu tolak ukur yang digunakan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) untuk menilai usaha kecil atau besar, sebagai berikut:
Tabel 2.1
Tabel Kredit Jumlah Karyawan Usaha
Mikro
Usaha Kecil
Usaha
Menengah Usaha Besar Jumlah tenaga
kerja
< 4 orang 5-19 orang 20-99 orang ≥ 100 orang
Sumber : Badan Pusat Statistik (BPS)
2.3.2 Masalah yang Dihadapi Usaha Mikro, Kecil dan Menengah
Menurut Tambunan (2002 : 73) perkembangan UKM di Indonesia tidak lepas dari berbagai macam masalah. Ada beberapa masalah yang umum dihadapi oleh pengusaha kecil dan menengah seperti keterbatasan modal kerja dan/atau modal investasi, kesulitan mendapatkan bahan baku dengan kualitas yang baik dan harga terjangkau, keterbatasan teknologi, sumber daya manusia dengan kualitas yang baik (manajemen dan teknik produksi), informasi pasar, dan kesulitan dalam pemasaran. Tingkat intensitas dan sifat dari masalah-masalah tersebut bisa berbeda tidak hanya menurut jenis produk atau pasar yang dilayani, tetapi juga berbeda antarlokasi/antarwilayah, antarsentra, antarsektor/antarsubsektor atau jenis kegiatan, dan antarunit usaha dalam kegiatan/sektor yang sama.
Sedangkan menurut Mudrajad Kuncoro dalam Harian Bisnis Indonesia pada tanggal 21 Oktober 2008 mengungkapkan bahwa ada tujuh tantangan yang harus dihadapi UKM dalam era krisis global, yaitu:
1) Tidak adanya pembagian tugas yang jelas antara bidang administrasi dan operasi. Kebanyakan UKM dikelola oleh perorangan yang merangkap sebagai pemilik sekaligus pengelola perusahaan, serta memanfaatkan tenaga kerja
2) Akses industri kecil terhadap lembaga kredit formal rendah, sehingga mereka cenderung menggantungkan pembiayaan usahanya dari modal sendiri atau sumber lain, seperti keluarga, kerabat, pedagang perantara, bahkan rentenir.
3) Sebagian besar usaha kecil ditandai dengan belum dipunyainya status badan hukum. Mayoritas UKM merupakan perusahaan perorangan yang tidak berakta notaris, 4,7% tergolong perusahaan perorangan berakta notaris, dan hanya 1,7% yang sudah memiliki badan hukum (PT/NV, CV, Firma, atau koperasi).
4) Tren nilai ekspor menunjukkan betapa sangat berfluktuatif dan berubah-ubahnya komoditas ekspor Indonesia selama periode 1999-2006.
5) Pengadaan bahan baku, masalah terbesar yang dihadapi dalam pengadaan bahan baku adalah mahalnya harga, terbatasnya ketersediaan, dan jarak yang relatif jauh. Ini karena bahan baku bagi UKM yang berorientasi ekspor sebagian besar berasal dari luar daerah usahan tersebut berlokasi.
6) Masalah utama yang dihadapi dalam memenuhi kebutuhan tenaga kerja adalah tidak terampil dan mahalnya biaya tenaga kerja. Regenerasi perajin dan pekerja terampil relatif lambat. Akibatnya, di banyak sentra ekspor mengalami kelangkaan tenaga terampil untuk sektor tertentu.
7) Dalam bidang pemasaran, masalahnya terkait dengan banyaknya pesaing yang bergerak dalam industri yang sama, relatif minimnya kemampuan bahasa asing sebagai suatu hambatan dalam melakukan negosiasi, dan penetrasi pasar di luar negeri.
Menurut Sri Lestari (2009 : 118) untuk memenuhi kebutuhan permodalan tersebut, UMK paling tidak menghadapi tiga masalah, yaitu:
a) Masih rendahnya atau terbatasnya akses UMK terhadap berbagai informasi, layanan, fasilitas keuangan yang disediakan oleh keuangan formal, baik bank, maupun non bank misalnya dana BUMN, ventura.
b) Prosedur dan persyaratan perbankan yang terlalu rumit sehingga pinjaman yang diperoleh tidak sesuai kebutuhan baik dalam hal jumlah maupun waktu, kebanyakan perbankan masih menempatkan agunan material sebagai salah satu persyaratan dan cenderung mengesampingkan kelayakan usaha.
c) Tingkat bunga yang dibebankan dirasakan masih tinggi. Kurangnya pembinaan, khususnya dalam manajemen keuangan, seperti perencanaan keuangan, penyusunan proposal dan lain sebagainya.
2.4 Penelitian Terdahulu
Tabel 2.4
Penelitian Terdahulu
Penelitian dan Judul Variabel Hasil
Taufan Achmad Felna, Wahyu Ario Pratomo (2013), Analisis Permintaan Kredit pada Usaha Mikro dan Kecil di Kecamatan Medan Johor. usaha mikro dan kecil di Kecamatan Medan Johor. umum di Kota Banda Aceh. umum di Kota Banda Aceh. kerja pada bank umum di Sumatera Barat.
1. Variabel dependen:
Penawaran dan suku bunga kredit. Suku bunga kredit, kurs, dan pendapatan perkapita berpengaruh signifikan terhadap permintaan kredit modal kerja di Sumatera Barat.
2.5 Kerangka konseptual
Keberhasilan pengusaha mikro dan kecil ditentukan dengan adanya kepemilikan modal. Modal dapat diperoleh oleh para pengusaha mikro dan kecil dengan berbagai macam cara, misalnya dengan modal yang dimilikinya sendiri dan modal yang berasal dari pinjaman kredit. Selain itu perlu juga diketahui tentang berapa modal yang ideal agar dapat dikatakan memberikan peningkatan kesejahteraan pengusaha mikro dan kecil tersebut.
Gambar 2.1 Kerangka Konseptual
Modal Sendiri
Modal Kredit
Jumlah Pekerja Kebutuhan Modal
Ideal Bagi
Pengusaha Mikro Pendapatan Usaha
Mikro dan Kecil
BAB III
METODE PENELITIAN 3.1 Jenis Penelitian
Penelitian ini bersifat Deskriptif Kualitatif yaitu penelitian yang dilakukan untuk mengetahui nilai variabel mandiri, baik satu variabel atau lebih (independen) tanpa membuat perbandingan, atau menghubungkan antara variabel satu dengan variabel yang lain dan dinyatakan dalam bentuk kata, kalimat dan gambar, dengan mengembangkan teori yang dibangun melalui data yang diperoleh di lapangan.
3.2 Sumber Data
Pada uraian lokasi penelitian penulis menggunakan data primer, yaitu data yang diperoleh dengan wawancara langsung kepada responden atau pengusaha mikro dan kecil melalui daftar pertanyaan atau kuesioner yang telah disediakan.
Pada uraian teoritis penulis menggunakan data sekunder, yaitu data yang diperoleh dari instansi-instansi yang terkait dengan melakukan studi kepustakaan terhadap bahan-bahan publikasi secara resmi, buku-buku, majalah-majalah serta laporan lain yang berhubungan dengan penelitian.
3.3 Daerah Penelitian
Penelitian ini dilakukan di kota Medan, yaitu di Kecamatan Medan Selayang. Karena di Kecamatan tersebut banyak terdapat usaha mikro dan kecil.
Hal tersebut menarik penulis untuk menelitinya
3.4 Populasi dan Sampel Penelitian 3.4.1 Populasi
Populasi adalah kelompok elemen yang lengkap, yang biasanya berupa orang, objek, transaksi, atau kejadian dimana kita tertarik untuk mempelajarinya atau menjadi objek penelitian (Mudrajad Kuncoro, 2003: 103). Dalam penelitian ini, populasinya adalah pengusaha mikro dan kecil di Kecamatan Medan Selayang. Jumlah pengusaha mikro dan kecil di Kecamatan Medan Selayang tidak diketahui secara pastikarena tidak adadata dan lembaga yang mencatatnya. Data pengusaha UMK yang diterbitkan oleh BPS Kecamatan Medan Selayang misalnya, tidak mengklasifikasi mereka berdasarkan yang menerima kredit.
3.4.2 Sampel
Sampel penelitian diambil disebabkan berbagai keterbatasan yang dihadapi peneliti. Dalam penelitian ini, sampel kajian diambil sebanyak 50 orang pengusaha UMK. Pengambilan dilakukan dengan teknik propability sampling, yaitu teknik samping yang memberikan peluang yang sama bagi setiap unsur (anggota) populasi untuk dipilih menjadi anggota sampel. Kemudian digunakan metode Sample Random Sampling, yaitu pengambilan sampel anggota pupulasi dilakukan secara acak tanpa memperhatikan strata yang ada dalam populasi itu.
Dalam penelitian ini tidak ada rumus untuk mendapatkan angka 50, sebab jumlah populasinya juga tidak diketahui. Angka ini merupakan “judgement”
peneliti saja dengan berbagai alasan. Antara lain:
a. Menurut Roscoe dan Sugiono (2004) ukuran sampel yang layak dalam penelitian adalah antara 30 sampai 500 orang.
b. Sampel sebanyak 50 orang diyakini cukup representif atau mewakili keseluruhan pengusaha mikro dan kecil di Kecamatan Medan Selayang.
Dengan jumlah sampel sebanyak 50 orang, diyakini akan diperoleh data dan informasi yang tepat serta objektif dan dapat memberikan gambaran yang sebenarnya tentang masalah atau fenomena yang diteliti.
c. Sekiranya sampelnya lebih banyak lagi maka penelitian diyakini akan mengahadapi hambatan seperti keterbatasan dana, waktu, transportasi dan sebagainya.
3.5 Batasan Operasional
Batasan operasional penelitian ini adalah menganalisis permintaan kredit yang disalurkan bank sebagai lembaga penyaluran kredit terhadap pendapatan pengusaha mikro dan kecil di Kecamatan Medan Selayang. Variabel yang diteliti adalah bagaimana peran pinjaman kredit terhadap pendapatan usaha mikro dan kecil di Kecamatan Medan Selayang, yang di lihat dari pendapatan pengusaha sesudah mendapatkan pinjaman kredit dan menganalisa apakah pendapatan pengusaha tersebut meningkat atau tidak setelah mendapatkan pinjaman kredit.
3.6 Definisi Operasional Variabel
1. Pendapatan pengusaha mikro dan kecil, pendapatan disini adalah jumlah uang yang diterima oleh pengusaha usaha mikro dan kecil perbulan dari usaha yang dijalankannya dalam rupiah.
2. Modal Sendiriadalah biaya pribadi yang digunakan pengusaha mikro dan kecil dalam pembiayaan pengembangan usaha dalam rupiah.
3. Modal Kreditadalah pinjaman dalam bentuk kredit usaha mikro dan kecil yang diberikan kepada pengusaha mikro dan kecil di kecamatan Medan Selayang dan dilunasi oleh pengusaha mikro dan kecil dalam jangka waktu tertentu dalam rupiah.
4. Jumlah Pekerja adalah jumlah karyawan pengusaha mikro dan kecil yang bekerja di Kecamatan Medan Selayang.
3.7 Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data dalam penelitian ini adalah:
1. Kueisioner
Peneliti akan mengajukan lembaran kuesioner kepada para pengusaha mikro dan kecil yang menjadi responden penelitian. Diharapkan dengan lembaran kuesioner yang di isi oleh para pengusaha, peneliti akan memperoleh informasi terkait keinginan mereka mengambil kredit bank untuk usaha mereka.
2. Wawancara
Peneliti juga melakukan wawancara secara lengkap dengan 50 orang pengusaha mikro dan kecil di Kecamatan Medan Selayang.
3. Observasi
Observasi atau pengamatan secara langsung dilakukan, agar peneliti dapat mengetahui secara lebih nyata objek yang diteliti.
4. Studi kepustakaan
Studi kepustakaan adalah mengumpulkan data dan informasi melalui telahaan berbagai literatur yang relevan dengan permasalahan dalam
penelitian ini. Data dan informasi peneliti peroleh dari buku teks, majalah, surat kabar (koran), artikel ilmiah, skripsi, tesis, peraturan-peraturan dan sumber tertulis lainnya baik cetakan ataupun elektronik.
3.8 Metode Analisis Data dan Pengolahan Data
Dalam penelitian ini penulis menggunakan program komputer SPSS20yaitu untuk menganalisis secara Crosstab (tabulasi silang). Definisi
metode crosstabmenurut Santoso (2000), merupakan metode untuk menganalisis keterkaitan beberapa faktor yang disusun menjadi kolom dan baris. Adapun data tersebut merupakan data kualitatif, khususnya data yang berskala nominal, seperti hubungan antara variabel dengan gender, usia, pekerja, pendapatan dan lain sebagainya. Jadi, metode crosstabmerupakan suatu bentuk analisis statistik deskriptif yang dipergunakan untuk mengetahui hubungan antara satu variabel dengan variabel yang lain, sehingga akan memudahkan penulis dalam mengambil kesimpulan yang berhubungan dengan variabel-variabel yang diteliti. Tabel dapat membantu penulis dalam pengorganisasian data sehingga dapat memudahkan dalam hal penyajian yang akan menghasilkan informasi yang lebih bermakna.
BAB 1V
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Sejarah dan Letak geografis Kota Medan dan Kecamatan Medan Selayang
Kota Medan merupakan salah satu dari 25 Daerah Tingkat II (Dati II) yang berada pada kawasan timur pulau sumatera, letaknya hampir keseluruhan berbatasan dengan Kabupaten Deli Serdang sedangkan pada bagian utara berbatasan dengan perairan Selat Malaka. Secara Astronomis berada antara 3027′dan 30 77′LU serta 98044′BT, dengan ketinggian 3 -27 meter di atas permukaan laut.
Luas Kota Medan mencapai 265,10 km² atau sekitar 0,37% dari total luas daratan Propinsi Sumatera Utara dan berada pada 2,5-3,75 meter diatas permukaan laut dengan kemiringan 0-2 (datar) seluas 245,21 km² atau 92,57%
dan kemiringan 2-15% seluas 19,69 km² atau 7,4% dari seluruh wilayah.
Kedalaman 20-60 cm seluas 140-40 km² atau 52,98% dari luas seluruh wilayah yang tidak bererosi. Kota Medan memiliki iklim tropis dengan temperature rata-rata tahunan adalah 21,20 C sampai dengan 35,10 C (BPS Kota Medan, 2016)
Secara administratif, Kota Medan dibagi dalam 21 wilayah kecamatan dan 151 kelurahan. Potensi lahan yang dimiliki Kota Medan sebagian besar telah dimanfaatkan untuk kegiatan industri dan pertanian.
Kecamatan Medan Selayang adalah salah satu dari 21 kecamatan di Kota Medan, Sumatera Utara, Indonesia. Pada tahun 2015, jumlah penduduk di kecamatan ini adalah 106.150 orang penduduk. Dengan luas wilayah 7,78 km².
Letaknya di atas permukaan laut adalah 30 meter. Dan kecamatan Medan Selayang ini berbatasan dengan
Sebelah utara : Kecamatan Medan Sunggal Sebelah selatan : Kecamatan Medan Selayang Sebelah barat : Kecamatan Medan Baru Sebelah timur : Kecamatan Medan Polonia
Kecamatan Medan Selayang dibagi dalam 6 kelurahan, yang dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 4.1
Luas Wilayah dirinci per Kelurahan di Kecamatan Medan Selayang Tahun 2015
No Kelurahan Luas (km²) Persentase Terhadap Luas Kecamatan
1 Sempaka 5,10 21,44
2 Beringin 0,79 3,32
3 PB Selayang 11 7,00 7,00
4 PB Selayang 1 1,80 1,80
5 Tanjung Sari 5,10 5,10
6 Asam Kumbang 4,00 4,00
Medan Selayang 23,79 100
Sumber : BPS Kecamatan Medan Selayang, 2016
Pada tahun 2015 jumlah penduduk Medan Selayangadalah sebesar 106.150 jiwa dengan luas wilayah 23,79 km² dan dengan kepadatan penduduk per km² adalah sebesar 4.474, atau dapat dilihat selengkapnya pada tabel berikut:
Tabel 4.2
Jumlah penduduk, Luas Kelurahan, Kepadatan penduduk per km² dirinci menurut Kelurahan di Kecamatan Medan Selayang Tahun 2015
No Kelurahan Jumlah
Sumber : BPS Kecamatan Medan Selayang, 2016
4.2 Kondisi Ekonomi dan Sosial Kecamatan Medan Selayang
Kecamatan Medan Selayang memiliki sejumlah pasar dan pertokoan yang sudah ramai untuk medukung perekonomian yang ada di kecamatan ini, diantaranya terdapat 3 pasar, 272 pertokoan dan 44 swalayan/mini market.
Ketersediaan BBM di kecamatan ini sudah cukup memadai. Terdapat 3 SPBU.
Untuk fasilitas bengkel kendaraan bermotor, sudah banyak bengkel yang ada di kecamatan ini yaitu sebanyak 74 bengkel sepeda motor dan 48 bengkel mobil.
Disamping itu, di Kecamatan Medan Selayang ini terdapat juga beberapa sekolah negeri maupun swasta. Tercatat ada sejumlah fasilitas pendidikan di kecamatan ini yaitu 12 TKswasta, 8 SD Negeri dan 24 SD swasta, 1 SLTP Negeri dan 12 SLTP swasta, 5 SLTA Negeri serta 1 SMK Negeri.
Fasilitas kesehatan yang ada di Kecamatan Medan Selayang dapat dikatakan masih sedikit dan belum merata di tiap kelurahannya. Tercatat bahwa hanya di kelurahan PB Selayang 11 terdapat puskesmas.
Sarana ibadah dan lapangan olahraga di Kecamatan Medan Selayang hampir di setiap kelurahan ada untuk tiap-tiap agama (BPS Kecamatan Medan Selayang, 2016).
4.3 Karakteristik Responden
Dengan kuesioner yang telah disebarkan oleh penulis, maka jawaban dari responden dapat memberikan informasi terhadap kondisi usaha mikro dan kecil yang ada di Kecamatan Medan Selayang.
4.3.1 Jenis Kelamin
Berikut merupakan data 50 orang pengusaha mikro dan kecil yang menjadi responden berdasarkan jenis kelamin.
Tabel 4.3
Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin
No Jenis Kelamin Jumlah (orang) Persentase(%)
1 Laki-Laki 20 40
2 Perempuan 30 60
Total 50 100
Sumber: diolah dari data primer, 2017
Berdasarkan data pada tabel tersebut terdapat jumlah responden perempuan lebih besar dibandingkan dengan responden laki-laki, yakni terdiri atas 30 orang berjenis kelamin perempuan atau sebesar 60% dari keseluruhan responden dan 20 orang berjenis kelamin laki-laki atau sebesar 40% dari total keseluruhan responden. Hal ini menggambarkan bahwa permintaan kredit di Kecamatan Medan Selayang didominasi oleh perempuan.
4.3.2 Umur
Tabel 4.4 berisi data responden berdasarkan umur, sebagai berikut:
Tabel 4.4
Karakteristik Responden Berdasarkan Umur
No Umur (tahun) Jumlah (orang) Persentase (%)
1 20-30 9 18
2 31-40 13 26
3 41-50 19 38
4 51-60 5 10
5 >60 4 8
Total 50 100
Sumber: diolah dari data primer, 2017
Umur responden antara 20-30 tahun sebanyak 9 orang atau 18% dari total keseluruhan responden, antara 31-40 tahun sebanyak 13 orang atau 26%, umur responden antara 41-50 tahun sebanyak 19 orang atau 38% dari total keseluruhan responden, antara 51-60 tahun sebanyak 5 orang atau 10%, dan umur di atas 60 tahun sebanyak 4 orang atau 8% dari total keseluruhan responden, dimana hal ini menunjukkan bahwa permintaan kredit di Kecamatan Medan Selayang didominasi oleh kelompok umur yang sudah tergolong dewasa, dan kelompok yang paling kecil adalah kelompok yang tegolong sudah tua yang tentunya sudah dianggap tidak telalu membutuhkan pinjaman kredit.
4.3.3 Status Perkawinan
Sebagian besar pengusaha mikro dan kecil di Kecamatan Medan Selayang sudah berstatus kawin atau berumah tangga, yakni sebanyak 46 atau 92% dari total keseluruhan responden, dan sebanyak 4 orang atau sebesar 8% dari jumlah
keseluruhan responden belum kawin atau belum menikah. Oleh karena itu sebagaimana akan dilihat pada tabel 4.5
Tabel 4.5
Karakteristik Responden Berdasarkan Status Perkawinan No Status Perkawinan Jumlah (orang) Persentase(%)
1 Kawin 46 92
2 Belum Kawin 4 8
Total 50 100
Sumber: diolah dari data primer, 2017
Berdasarkan data pada tabel tersebut, dapat disimpulkan status perkawinan responden lebih dominan kawin, namun perbedaan tersebut tidak memberi pengaruh yang besar terhadap perekonomian, walaupun dengan status yang berbeda, masih memiliki peluang yang sama dalam kebebasan membuka usaha sesuai dengan minat dan kemampuan mereka.
4.3.4 Tingkat Pendidikan
Pendidikan bisa menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi kemajuan suatu usaha dan daya tahan para pengusaha dalam menghadapi tantangan dan persaingan dalam dunia usaha. Namun, hal tersebut bukan merupakan suatu kepastian. Meskipun lamanya pendidikan tidak menjamin adanya kemajuan usaha yang lebih tinggi dibandingkan pengusaha yang berpendidikan lebih rendah, namun pendidikan bisa memperluas wawasan pengusaha untuk terus mengembangkan usahanya secara efektif dan efisien. Berikut merupakan tabel data responden berdasarkan tingkat pendidikan.
Tabel 4.6
Karakteristik Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan No Tingkat Pendidikan Jumlah (orang) Persentase (%)
1 SD 1 2
Sumber: diolah dari data primer, 2017
Tabel diatas menunjukkan pengusaha yang menjadi responden didominasi oleh pengusaha yang berpendidikan SMA/SMK, yaitu berjumlah 27 orang atau sebesar 54% dari jumlah keseluruhan responden, yang berarti mayoritas permintaan kredit pengusaha mikro dan kecil ialah yang berpendidikan SMA/SMK, kemudian disusul pengusaha mikro dan kecil yang berpendidikan akhir Strata 1 yaitu berjumlah 13 orang atau sebesar 26% dari keseluruhan responden, kemudian berikutnya tingkat pendidikan akhir Diploma yaitu berjumlah 7 orang atau sebesar 14%, dan selanjutnya responden yang berpendidikan akhir SMP berjumlah 2 orang atau sebesar 4% dan terakhir responden yang berpendidikan SD, merupakan tingkat pendidikan dengan jumlah responden paling sedikit yaitu berjumlah 1 orang atau sebesar 2% dari jumlah keseluruhan responden. Hal tersebut menunjukkan bahwa pengusaha mikro dan kecil yang menjadi responden lebih memilih untuk langsung menjadi pengusaha dan/atau membuka usaha setelah tamat SMA/SMK daripada melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Hal ini sangat mungkin terjadi dikarenakan faktor kurangnya biaya dan tidak adanya keinginan untuk melanjutkan pendidikan atau karena hal lainnya, dengan anggapan bahwa semakin
cepat membuka usaha maka akan semakin cepat menghasilkan uang tanpa harus menghabiskan biaya dan waktu untuk pendidikan.
4.3.5 Lama Usaha
Tabel 4.7 berisi data responden berdasarkan lama usaha, sebagai berikut:
Tabel 4.7
Karakteristik Responden Berdasarkan Lama Usaha
No Lama Usaha (tahun) Jumlah (orang) Persentase (%)
1 <1 4 8
2 1-3 14 28
3 3,1-5 3 6
4 5,1-10 16 32
5 >10 13 26
Total 50 100
Sumber: diolah dari data primer, 2017
Berdasarkan data pada tabel tersebut diperoleh lama usaha yang dimiliki oleh pengusaha mikro dan kecil di Kecamatan Medan Selayang yang tertinggi adalah 5,1-10 tahun yaitu berjumlah 16 orang atau 32%dari total keseluruhan responden, kemudian lamanya usaha 1-3 tahun berjumlah 14 orang atau 28% dari keseluruhan responden, lamanya usaha mikro dan kecil lebih dari 10 tahun berjumlah 13 orang atau 26% dari keseluruhan responden, lamanya usaha kurang dari 1 tahun berjumlah 4 orang atau 8%, dan lama usaha mikro dan kecil 3,1-5 tahun berjumlah 3 orang atau 6% dari keseluruhan responden.
4.3.6 Jumlah Pekerja
Berikut merupakan penyajian data pengusaha mikro dan kecil yang menjadi responden penelitian berdasarkan kategori jumlah pekerja.
Tabel 4.8
Karakteristik Responden Berdasarkan Jumlah Pekerja No Pekerja (orang) Jumlah (orang) Persentase (%)
1 1-2 45 90
2 3-5 5 10
3 6-10 0 0
4 10-20 0 0
5 >20 0 0
Total 50 100
Sumber: diolah dari data primer, 2017
Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa mayoritas responden menggunakan
Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa mayoritas responden menggunakan