• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN

1.5 Defenisi Konsep

Pada sebuah penelitian ilmiah, defenisi konsep sangat diperlukan untuk mempermudah dan memfokuskan penelitian. Konsep adalah defenisi abstrak mengenai gejala atau realita atau suatu pengertian yang nantinya akan menjelaskan suatu gejala (Suyanto & Sutinah, 2005: 49). Selain itu, konsep juga berfungsi sebagai panduan bagi peneliti untuk menindaklanjuti penelitian tersebut serta menghindari timbulnya kekacauan akibat kesalahan tafsir dalam penelitian. Adapun konsep yang digunakan sesuai dengan konteks penelitian adalah sebagai berikut:

1. Kelapa Sawit

Kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq) merupakan tanaman penghasil utama minyak nabati yang berasal dari Afrika Barat.Sawit atau Pohon Kelapa Sawit (Palm Tree) adalah sejenis pohon palem yang dapat menghasilkan buah yang mempunyai kandungan minyak. Buah yang dihasilkan pohon kelapa sawit disebut buah sawit atau sering disebut tandan buah segar (TBS) sawit. Tanaman ini pertama kali diperkenalkan di Indonesia oleh pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1848.

Tanaman kelapa sawit bukan merupakan tanaman asli Indonesia, namun beberapa sumber menyatakan tanaman ini berasal dari dua tempat yaitu benua Afrika dan Amerika. Tanaman ini untuk pertama kalinya ditanam pada tahun 1848 sebagai tanaman koleksi Kebun Raya Bogor yang diperkenalkan oleh pemerintahan kolonial Belanda (Fauzi, 2007).

2. Petani Sawit

Menurut Slamet (2000: 20) petani adalah orang yang memiliki dan menggarap tanah/lahan miliknya sendiri. Dalam kamus Sosiologi karangan Soerjono Soekanto (1985) dikatakan bahwa yang dimaksud dengan petani adalah seseorang yang pekerjaan utamanya bertani untuk konsumsi diri sendiri atau keluarganya.

Menurut Hernanto (1991), berdasarkan luas lahan yang dimiliki, petani dapat dibedakan menjadi 4 golongan sebagai berikut: (a) Golongan petani luas (> 2,00 ha), (b) Golongan petani sedang (0,50 ha – 2,00 ha), (c) Golongan petani sempit (< 0,50 ha), dan (d) Golongan buruh tani tidak bertanah. Dalam penelitian ini yang dimaksud petani sawit adalah petani sawit yang tergolong dalam kategori petani luas, petani sedang, dan petani sempit yang berada di Kabupaten Labuhan Batu.

3. Lembaga Pemasaran

Lembaga pemasaran adalah suatu badan usaha atau individu yang menyalurkan jasa dan komoditi dari produsen kepada konsumen akhir serta mempunyai hubungan dengan badan usaha atau individu lain. Tugas lembaga pemasaran adalah menjalankan fungsi pemasaran serta memenuhi keinginan konsumen semaksimal mungkin. Dalam saluran pemasaran tbs kelapa sawit terdapat lembaga pemasaran didalamnya. Dimana lembaga pemasaran disebutkan juga sebagai pelaku ekonomi dalam rantai pemasaran tandan buah segar kelapa sawit.

Lembaga-lembaga yang terlibat dalam proses pemasaran ini lebih lanjut dapat diidentifikasikan sebagai berikut :

1. Tauke menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti majikan yang mempunyai perusahaan dan sebagainya. Tauke merupakan elemen yang sering ditemukan dalam rantai pemasaran kelapa sawit. Tauke merupakan orang yang membeli atau mengumpulkan hasil panen kebun kelapa sawit petani untuk selanjutnya dijual ke loading ramp atau Pabrik Kelapa Sawit (Azis,2017). Tauke sawit yang dimaksud dalam penelitian ini adalah Tauke yang membeli tandan buah segar milik petani dan menjual hasil TBS kepada loading ramp ataupun pabrik kelapa sawit serta hubungan patron klien yang terjadi diantara tauke dengan petani serta hubungan tauke dengan pihak loading ramp dan pabrik kelapa sawit.

2. Agen besar mempunyai posisi yang sama dengan loading ramp sawit sebagai agen yang melakukan pengumpulan komoditi dari para pedagang pengumpul atau yang lebih dikenal dalam rantai pemasaran kelapa sawit sebagai loading ramp kelapa sawit. Kata loading ramp sendiri diambil dari istilah yang ada di pabrik kelapa sawit yaitu loading ramp yaitu sebagai tempat untuk pembongkaran TBS yang dikirim dari kebun, tempat sortasi hasil panen, dan tempat penampungan sementara sebelum didistribusikan ke dalam lori-lori TBS. Fungsi utama dari loading ramp adalah tempat pembongkaran TBS yang diterima pabrik untuk dilakukan penyortiran mutu tandan buah sawit dan pengaturan proses distribusi TBS ke dalam lori-lori berdasarkan prinsip FIFO (first in first out).

Loading ramp juga berfungsi untuk memudahkan pemasukan TBS ke

dalam lori-lori dan juga sebagai tempat penampungan sementara TBS yang diterima pabrik. Dikarenakan tidak semua masyarakat yang mempunyai kelapa sawit dapat menjualkan hasil TBS nya kepada PKS karena kendala biaya ataupun tidak adanya kendaraan serta jauhnya jarak antara kebun sawit dengan PKS yang ada di daerah tersebut.

Terbentuklah loading ramp kelapa sawit yang dapat memudahkan para petani untuk menjual hasil TBS kelapa sawitnya tanpa harus pergi jauh ke PKS yang dapat menghabiskan biaya banyak. Ditambah lagi harga yang ditawarkan oleh pihak loading ramp kelapa sawit tidak beda jauh dengan yang ditawarkan oleh PKS menyebabkan para petani atau tauke memilih menjual sawitnya kepada loading ramp kelapa sawit. Hasil TBS milik petani dan tauke yang telah dibeli oleh pihak loading ramp akan dijual kembali kepada pihak PKS. Dalam penelitian ini yang dimaksud dengan loading ramp oleh peneliti mengenai hubungan yang terjalin antara pekerja loading ramp dengan para petani dan tauke.

Gambar 1.1: loading ramp

3. Pabrik Kelapa Sawit (PKS) adalah suatu pabrik yang berfungsi sebagai tempat pengolahan tandan buah segar (TBS) kelapa sawit menjadi minyak kelapa sawit kasar/crude palm oil (CPO), inti kelapa sawit (kernel), fiber, dan tempurung sawit. Proses pembangunan PKS berlandaskan pada suatu rancangan desain tertentu yang disesuaikan dengan kebutuhan dan keinginannya. Suatu PKS selalu dilengkapi dengan peralatan dan mesin instalasi untuk menimbang dan mengolah TBS dengan teknologi serta kapasitas yang beragam. Di dalam proses pengolahan kelapa sawit menjadi CPO oleh PKS, bahan baku yang digunakan berupa TBS yang dipetik langsung dari pohon kelapa sawit yang telah berusia lebih dari 3 tahun. Untuk memperoleh TBS, PKS biasanya memiliki perkebunan kelapa sawit milik sendiri atau membeli hasil panen TBS dari petani sawit dan tauke sawit. PKS yang dimaksudkan dalam penelitiaan ini adalah pihak yang membeli TBS dari petani, tauke dan loading ramp serta jaringan sosial yang ada diantara pihak

pabrik kelapa sawit dengan petani, tauke, dan loading ramp (Darwin Hu, 2013).

Gambar 1.2: Jembatan Penimbangan PKS 4. Jaringan Sosial

Jaringan sosial merupakan hubungan-hubungan yang tercipta antar banyak individu dalam suatu kelompok ataupun antar suatu kelompok dengan kelompok lainya. Hubungan-hubungan yang terjadi bisa dalam bentuk formal maupun bentuk Informal. Hubungan sosial adalah gambaran atau cerminan dari kerjasama dan koordinasi antar warga yang disadari oleh ikatan sosial yang bersifat resiprosikal (Damsar, 2002). Jaringan sosial adalah sebagai suatu pengelompokan yang terdiri atas sejumlah orang, paling sedikit terdiri atas tiga orang yang masing-masing mempunyai identitas tersendiri dan masing-masing dihubungkan antara satu dengan yang lainya melaui hubungan-hubungan sosial

yang ada, dengan melalui hubungan sosial tersebut mereka dapat dikelompokan sebagai suatu kesatuan sosial (Granovetter, 2005).

5. Saluran Pemasaran

Saluran pemasaran adalah seperangkat lembaga yang melaksanakan kegiatan (fungsi pemasaran) yang digunakan untuk mengalirkan komoditas kelapa sawit dari tangan produsen sampai ke konsumen.Pemasaran adalah suatu proses sosial baik individu maupun kelompok yang terlibat dalam proses tersebut memperoleh apa yang mereka butuhkan dan inginkan dengan cara menciptakan, menawarkan, dan mempertukarkan produk atau jasa yang bernilai dengan pihak lain (Mamilianti, 2009). Tingkatan dalam saluran distribusi terdiri dari:

1. Saluran tingkat nol atau saluran pemasaran langsung (Zero Level Channel) Produsen menjual langsung kepada konsumen.

2. Saluran tingkat satu (One-level Channel) Mempunyai satu perantara penjualan. Di dalam pasar konsumen, perantara ini sekaligus merupakan pengecer (retailer), sedangkan dalam pasar industri merupakan sebuah penyalur tinggal dan penyalur industry.

3. Saluran tingkat dua (Two-level Channel) Mempunyai dua perantara penjualan. Di dalam pasar konsumen mereka merupakan grosir atau pedagang besar (wholesaler), dan sekaligus pengecer (retailer), sedang dalam pasar industry mereka mungkin merupakan sebuah penyalur tinggal dan penyalur industri.

4. Saluran tingkat tiga (Three-level Channel) mempunyai tiga perantara penjualan, yaitu grosir, pemborong (jobber), dan pengecer (retailer), seorang pemborong biasanya ada ditengah antara grosir dan pengecer. Untuk lebih lanjut penelitian ini akan menguak seperti apa tingkatan saluran pemasaran tandan buah segar kelapa sawit yang ada di Kabupaten Labuhan Batu (Laksana, 2008:124).

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

2.1 Jaringan Sosial

Jaringan sosial merupakan seperangkat hubungan khusus atau spesifik yang terbentuk di antara sekelompok orang. Karakteristik hubungan tersebut dapat digunakan sebagai alat untuk menginterpretasi motif-motif perilaku sosial dari orang-orang yang terlibat di dalamnya (Kusnadi, 2000: 13). Menurut Powell (1994) dalam alokasi sumber daya alam jaringan, transaksi terjadi tidak melalui pertukaran yang terpisah atau restu administratif, tetapi melalui jaringan-jaringan individu yang terlibat dalam aksi-aksi timbal balik, saling mengutamakan, dan saling mendukung.

Jaringan dapat bersifat kompleks; mereka tidak menerapkan kriteria pasar yang ekplisit, juga tidak memakai paternalisme yang biasanya terdapat dalam hirarki.

Sebuah asumsi dasar dari hubungan jaringan adalah bahwa satu pihak tergantung pada sumber-sumber yang dikontrol oleh pihak lain, dan bahwa ada keuntungan yang bisa diperoleh dari penggabungan sumber daya. Intinya, pihak-pihak dalam jaringan setuju untuk tidak mengejar kepentingan diri sendiri dengan jalan merugikan yang lainnya.

Sebagai suatu sistem, masyarakat terdiri atas elemen-elemen pembentuknya yang saling berinteraksi satu sama lain membentuk suatu jaringan sosial sebagai satu kesatuan utuh yang disebut masyarakat. Jaringan sosial pada suatu masyarakat menunjukkan adanya berbagai tipe hubungan sosial, baik yang terikat oleh identitas

kekerabatan, ras, etnik, pertemanan, ataupun atas dasar kepentingan tertentu. Jaringan sosial masyarakat adalah struktur sosial masyarakat itu sendiri (Boissevain, 1978).

Pada jaringan sosial, Granoveter (1985) membedakan antara ikatan yang kuat dan yang lemah, ikatan kuat misalnya hubungan antara seseorang dan teman karibnya, dan ikatan yang lemah misalnya hubungan antara seseorang dengan kenalannya. Sosiolog cenderung memusatkan perhatian pada orang yang mempunyai ikatan yang kuat atau kelompok sosial. Mereka cenderung menganggap ikatan yang kuat itu penting, sedangkan ikatan lemah tak penting. Ikatan lemah dapat menjadi sangat penting, seseorang individu tanpa ikatan lemah akan merasa terisolasi dalam sebuah kelompok yang ikatannya sangat kuat dan akan kekurangan informasi tentang apa yang terjadi di kelompok lain ataupun masyarakat luas. Ikatan yang kuat pun mempunyai nilai, misalnya orang mempunyai ikatan memiliki motivasi lebih besar untuk saling membantu dan lebih cepat untuk memberikan bantuan (Rietzer, 2007:383-384).

Menurut Granovetter (2005), terdapat empat prinsip utama yang melandasi pemikiran mengenai adanya hubungan pengaruh antara jaringan sosial dengan manfaat ekonomi, yakni Pertama, norma dan kepadatan jaringan (network density).

Kedua, lemah atau kuatnya ikatan (ties) yakni manfaat ekonomi yang ternyata cenderung didapat dari jalinan ikatan yang lemah. Ketiga, peran lubang struktur (structural holes) yang berada di luar ikatan lemah ataupun ikatan kuat yang ternyata berkontribusi untuk menjembatani relasi individu dengan pihak luar. Keempat, interpretasi terhadap tindakan ekonomi dan non ekonomi, yaitu adanya

kegiatan-kegiatan non ekonomis yang dilakukan dalam kehidupan sosial individu yang ternyata mempengaruhi tindakan ekonominya. Dalam hal ini, ketertambatan tindakan non ekonomi dalam kegiatan ekonomi sebagai akibat adanya jaringan sosial.

Jaringan sosial berfungsi memberikan informasi yang berhubungan dengan masalah atau peluang apapun yang berhubungan dengan kegiatan usaha. Jaringan-jaringan telah lama dilihat sangat penting bagi keberhasilan bisnis, terutama pada tingkat permulaan bahwa fungsi jaringan-jaringan diterima dengan luas sebagai suatu sumber informasi penting yang sangat menentukan dalam mengidentifikasi dan mengeksploitasi peluang-peluang bisnis (Field John,2010:30).

2.1.1 Faktor Pembentuk Jaringan Sosial

Menurut Agusyanto (2013) ditinjau dari hubungan sosial yang membentuk jaringan-jaringan sosial yang ada dalam masyarakat, dapat dibedakan menjadi tiga pola yaitu jaringan kepentingan, jaringan emosi, dan jaringan kekuasaan dengan penjelasan sebagai berikut:

1. Jaringan kepentingan (interest), dimana hubungan-hubungan sosial yang membentuknya adalah hubungan-hubungan sosial yang bermuatan kepentingan. Jaringan kepentingan terbentuk atas dasar hubungan-hubungan sosial yang bermakna pada tujuan-tujuan tertentu atau khusus yang ingin dicapai oleh para pelaku. Bila tujuan-tujuan tersebut sifatnya spesifik dan konkret seperti memperoleh barang, pelayanan, pekerjaan dan sejenisnya, maka setelah tujuan-tujuan tersebut tercapai biasanya hubungan-hubungan

tersebut tidak berkelanjutan. Bila tujuan-tujuan dari hubungan-hubungan sosial yang terwujud spisifik dan konkret seperti ini, struktur sosial yang lahir dari jaringan sosial tipe ini juga sebentar dan berubah-ubah. Namun bila tujuan-tujuan tersebut tidak sekonkret dan spesifik seperti ini atau ada kebutuhan-kebutuhan untuk memperpanjang tujuan (tujuan tarnpak selalu berulang), struktur yang terbentukpun relatif stabil. Oleh karena itu, tindakan dan interaksi yang terjadi dalam jaringan kepentingan ini selalu dievaluasi berdasarkan tujuan-tujuan relasional. Pertukaran (negosiasi) yang terjadi dalam jaringan kepentingan ini diatur oleh kepentingan-kepentingan para pelaku yang terlibat didalamnya dan serangkaian norma-norma yang sangat umum. Dalam mencapai tujuan-tujuannya, para pelaku bisa memanipulasi hubungan-hubungan power atau hubungan-hubungan emosi.

2. Jaringan emosi (sentiment), yang terbentuk atas dasar hubungan-hubungan sosial yang bermuatan emosi. Jaringan kepentingan terbentuk atas hubungan-hubungan sosial, dimana hubungan-hubungan sosial itu sendiri menjadi tujuan tindakan sosial misalnya dalam pertemanan, percintaan atau hubungan kerabat dan sejenisnya. Struktur sosial yang dibentuk oleh hubungan-hubungan emosi ini cenderung lebih mantap dan permanen. Hubungan-hubungan sosial yang terwujud biasanya cenderung menjadi hubungan yang dekat dan menyatu.

diantara para pelaku terdapat kecenderungan menyukai atau tidak menyukai pelaku-pelaku lain dalam jaringan. Oleh karena itu, muncul adanya saling kontrol yang relatif kuat antar pelaku dalam jaringan yang bersangkutan sehingga memudahkan lahirnya nilai-nilai dan norma-norma yang

mengembangkan kontinuitas pola-pola jaringan yang relatif stabil sepanjang waktu. Akibatnya jaringan-jaringan tipe ini menghasilkan suatu rasa solidaritas, artinya para pelaku cenderung mengurangi kepentingan-kepentingan pribadinya. Biasanya mereka saling memberi dan menerima antara pelaku-pelaku lainnya dalam cara-cara yang terpola secara tradisional berdasarkan saling keterhubungan diantara mereka (resiprokal).

3. Jaringan kekuasaan (power), dimana hubungan-hubungan sosial yang yang membentuknya adalah hubungan-hubungan sosial yang bermuatan power.

Pada jaringan kekuasaan, konfigurasi-konfigurasi saling keterhubungan antarpelaku didalamnya disengaja atau diatur. Tipe jaringan sosial ini muncul bila pencapaian tujuan-tujuan yang telah ditargetkan membutuhkan tindakan kolektif dan konfigurasi saling keterhubungan antar pelaku biasanya dibuat permanen. Hubungan-hubungan power ini biasanya ditujukan pada penciptaan kondisi-kondisi yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan-tujuan yang telah ditetapkan. Jaringan sosial tipe ini harus mempunyai pusat power, yang secara terus menerus mengkaji ulang kinerja unit-unit sosialnya dan memolakan kembali strukturya untuk meningkatkan efisiensinya. Kontrol informal tidak memadai, masalahnya lebih kompleks dibandingkan jaringan sosial yang terbentuk secara alami.

Pada kehidupan nyata, ketiga tipe jaringan ini secara terus menerus saling berpotongan. Pertemuan-pertemuan tersebut mambangkitkan suatu ketegangan bagi pelaku yang bersangkutan karena logika situasional atau struktur sosial dari

masing-masing tipe jaringan berbeda atau belum tentu sesuai satu sama lain.

Aturan-aturan, norma-norma dan nilai-nilai yang lahir dari perpotongan-perpotongan ketiga tipe ini yang berlaku, akibatnya aturan-aturan formal apapun, begitu juga dengan norma-noma dan nilai-nilai yang terdapat pada kebudayaan dan struktur sosial tidak dapat diterapkan atau berlaku sepenuhnya dalam realita kehidupan. Jadi yang namanya kebudayaan dan struktur sosial bukanlah seperangkat pengetahuan yang operasional dalam kehidupan nyata melainkan bersifat normatif atau ideal, yaitu berisi model-model pengetahuan yang kompleks tentang bagaimana yang seharusnya.

2.1.2 Pola Jaringan Sosial

Berdasarkan status sosial ekonomi individu yang terlibat dalam suatu jaringan sosial, Wolf, 1966 (Scott, 1972) membagi pola jaringan sosial menjadi tiga bentuk yaitu :

1. Jaringan vertikal (hirarkis) adalah hubungan dua pihak yang berlangsung secara tidak seimbang karena satu pihak mempunyai dominasi yang lebih kuat dibanding pihak lain, atau terjadi hubungan patron-klien.

2. Jaringan horizontal (pertemanan) adalah hubungan dua pihak di mana salah satu pihak memiliki dominasi sedikit lebih tinggi dibanding pihak lainnya.

3. Jaringan diagonal (kakak-adik) adalah hubungan dua pihak di mana masing-masing pihak menempatkan diri secara sejajar satu sama lainnya.

2.3 Patron Klien

Pelras menguraikan arti dari hubungan patron dan klien. Menurutnya,

“patron” berasal dari kata “patronus” yang berarti “bangsawan”, sementara “klien”

berasal dari kata “clien” yang berarti pengikut. Secara rinci, Pelras mengartikan hubungan patron klien sebagai hubungan tidak setara antara seorang bangsawan dengan sejumlah rakyat biasa sebagai pengikutnya berdasarkan pertukaran barang dan jasa termasuk kekuasaan, yang di dalamnya kebergantungan klien kepada patron diimbali dengan perlindungan patron terhadap klien (Kausar, 2009 : 16).

Scott, yang dapat dikatakan lebih fleksibel dalam menetapkan batasan hubungan antara patron dengan klien. Scott (1972) memberikan definisi bahwa ikatan patron klien didasarkan dan berfokus pada pertukaran yang tidak setara yang berlangsung antara kedua belah pihak, serta tidak didasarkan pada kriteria askripsi.

Oleh karena itu siapa saja yang memiliki modal dalam hubungan yang bersifat vertikal, maka iadapat berstatus sebagai patron (Layn: 2008, 45).

Lebih lanjut ciri-ciri ikatan patron klien sebagai berikut:

1. Karena adanya kepemilikan sumber daya ekonomi yang tidak seimbang.

2. Adanya hubungan resiprositas. Hubungan resiprositas adalah hubungan yang saling menguntungkan, saling memberi dan menerima walaupun dalam kadar yang tidakseimbang.

3. Hubungan Loyalitas. Loyalitas adalah kesetiaan atau kepatuhan.

4. Hubungan Personal. Hubungan personal merupakan hubungan yang bersifat langsung dan intensif antara patron dengan klien, yang menyebabkan

hubungan terjadi tidak bersifat semata-mata bermotifkan keuntungan saja melainkan juga mengandung unsur perasaan yang bisa terdapat dalam hubungan yang bersifat pribadi.

Patron sebagai pelindung berperan memberikan perlindungan terhadap pemerasan-pemerasan yang legal dan tidak legal dari pihak yang berkuasa Wolf (1966:153). Peranan patron dalam konteks pertanian adalah menyampaikan ide pemerintah atau kebijaksanaan kepada petani. Hal ini dilakukan dengan cara: karena asosiasinya dengan birokrasi pemerintah, dia dapat menjelaskan yang besar secara mendetail. Pada waktu yang sama status dan posisinya pada masyarkat tani memungkinkan untuk mempengaruhi sikap petani ( Norazit, 1982:3). Terwujudnya hubungan patron klien disebabkan oleh jarak antara satu pihak dengan pihak lainnya.

Jarak yang dimaksud disini ialah jarak sosial ekonomi, sehingga pihak inferior berusaha mendapatkan keselamatan ekonomi dan keseimbangan ekologi diantara mereka dan lingkungan sosialnya. Dalam keadaan seperti ini mereka akan mencari individu seorang pelindung yang dapat memenuhi beberapa keperluan dan tuntutan lainnya agar dapat tetap bertahan.

2.4 Penelitian Terdahulu

1. Menurut hasil penelitian Purba (2018). Pemasaran adalah suatu proses sosial yang melibatkan kegiatan-kegiatan penting yang memungkinkan individu dan perusahaan mendapatkan apa yang mereka butuhkan dan inginkan melalui pertukaran dengan pihak lain untuk mengembangkan hubunganpertukaran (Boyd et al., 2000). Dalam sistem pemasaran, jaringan sosial menjadi penting karena

peternak memerlukan bantuan orang yang berada di luar komunitasnya (Vissa, 2012). Pada dasarnya, jaringan sosial terbentuk karena adanya rasa saling tahu, saling menginformasikan, saling mengingatkan, dan saling membantu dalam melaksanakan ataupun mengatasi sesuatu (Lawang, 2005). Hubungan sosial yang membentuk jaringan sosial terdiri dari tiga macam yaitu: (1) jaringan kekuasaan (power) yaitu hubungan sosial yang bermuatan kekuasaan; (2) jaringan kepentingan (interest) yaitu hubungan sosial yang bermakna pada tujuan-tujuan khusus; dan (3) Jaringan perasaan (sentiment), terbentuk atas dasar hubungan sosial yang bermuatan perasaan (Agusyanto, 2007). Dalam konteks sistem pemasaran telur maka perlu dikaji manfaat dari jaringan sosial di dalam rantai pemasaran telur untuk melihat peran jaringan sosial tersebut dalam memasok kebutuhan telur di pasar.Pemasaran telur yang banyak dipilih oleh para peternak kecil adalah pola pemasaran tidak langsung atau melalui perantara (middleman), dan sedikit yang menjual langsung kepada konsumen akhir. Secara umum proses saluran pemasaran telur dari para peternak kecil di Desa Triwidadi kepada konsumen akhir hanya melibatkan pedagang perantara dan agen.

lembaga pemasaran yang turut serta dalam aktivitas dalam pemasaran ini dapat diklasifikasikan sebagai berikut: Pertama, pedagang perantara merupakan pedagang yang membeli dan menyalurkan sendiri hak milik atas produk telur dan selanjutnya dijual kepada pihak lain. Kedua, agen merupakan lembaga yang melaksanakan perdagangan dengan cara menyediakan jasa-jasa penjualan atau distribusi barang akan tetapi mereka tidak mempunyai wewenang atau hak untuk memiliki barang yang diperdagangkan tersebut.

Dari hasil penelitian didapatkan beberapa tingkat hubungan atau jaringan sosial antara peternak dengan pedagang perantara, yaitu: (1) Hubungan kekerabatan:

hubungan yang memiliki asal usul silsilah yang sama, baik melalui keturunan biologis, sosial, maupun budaya; (2) Sudah berlangganan: hubungan yang didasari dengan kerja sama serta mempunyai visi misi yang sama antara peternak dengan pedagang perantara sehingga terbentuk kebiasaan yang terus-menerus terulang dan akhirnya menciptakan ikatan emosional diantara peternak dan pedagang perantara; (3) Sudah mempunyai pasar: hubungan yang didasari karena pedagang perantara tersebut sudah mempunyai pasar untuk menjualkan dan mendistribusikan telur ke konsumen akhir. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jaringan emosi (sentiment) yang lebih dominan untuk membentuk jaringan di rantai pemasaran. Kedekatan antara peternak dengan pedagang perantara terbentuk oleh hubungan kekerabatan, pertemanan dan ketetanggaan. Hal ini membentuk hubungan sosial, kepercayaan, kepedulian, kontrol, dan kerjasama

hubungan yang memiliki asal usul silsilah yang sama, baik melalui keturunan biologis, sosial, maupun budaya; (2) Sudah berlangganan: hubungan yang didasari dengan kerja sama serta mempunyai visi misi yang sama antara peternak dengan pedagang perantara sehingga terbentuk kebiasaan yang terus-menerus terulang dan akhirnya menciptakan ikatan emosional diantara peternak dan pedagang perantara; (3) Sudah mempunyai pasar: hubungan yang didasari karena pedagang perantara tersebut sudah mempunyai pasar untuk menjualkan dan mendistribusikan telur ke konsumen akhir. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jaringan emosi (sentiment) yang lebih dominan untuk membentuk jaringan di rantai pemasaran. Kedekatan antara peternak dengan pedagang perantara terbentuk oleh hubungan kekerabatan, pertemanan dan ketetanggaan. Hal ini membentuk hubungan sosial, kepercayaan, kepedulian, kontrol, dan kerjasama