• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II. DEFENISI NINJÕ, NOVEL DAN SEMIOTIK

7. Amanat

2.4. Defenisi Semiotik

2.4.1. Pengertian Semiotik

Semiotika adalah ilmu tanda, istilah tersebut berasal dari kata Yunani yaitu semeion yang berarti tanda. Semiotika secara istilah adalah ilmu yang secara sistematik mempelajari tanda, lambang-lambang, sistem lambang, dan proses perlambangan (Jan Van Luxembrug, 1986:44). Dalam pengertian lain, Aart Van Zoest (1993:1) juga mengemukakan bahwa semiotika adalah cabang ilmu yang berurusan dengan pengkajian tanda dan segala sesuatu yang berhubungan dengan tanda, seperti sistem tanda dan proses yang berlaku bagi pengguna tanda.

Segala sesuatu dapat menjadi tanda. Tanda terdapat dimana-mana misalnya, kata adalah tanda, demikian pula gerak isyarat, lampu lalu lintas, bendera, dan sebagainya. Struktur karya Sastra, struktur film, bangunan atau nyanyian burung dapat dianggap sebagai tanda.

Dua ribu tahun yang lalu para ahli filsafat Yunani sekali-sekali sudah memikirkan fungsi tanda dan didalam filsafat Yunani abad pertengahan pengertian serta pengguna tanda telah disinggung, namun istilah semiotika baru digunakan pada abad XVIII oleh Lambert seorang ahli filsafat Jerman. Masyarakat baru memikirkan secara sistematis tentang pengguna tanda dan banyak yang membahasnya dalam abad XX ini. Pakar tentang semiotika modern yang sangat terkenal yaitu Charles Sanders Pierce dan Ferdinand de Saussure.

Charles Sanders Pierce, mengatakan bahwa manusia dapat berpikir dengan sarana tanda

dan manusia tanpa tanda tidak akan dapat berkomunikasi. Tanda merupakan kesatuan antara dua aspek yang tidak terpisahkan satu sama lain yaitu Signifiant (penanda) dan Segnifie (petanda) . Signifiant adalah aspek formal atau bunyi pada tanda itu dan Signifie adalah aspek makna atau

konseptual, contohnya kata ‘ibu’ merupakan tanda berupa satuan bunyi yang menandai arti yaitu ‘orang yang melahirkan kita’.

Dalam menginterprestasikan tanda, Pierce membedakan tanda berdasarkan hubungan antara penanda dan petandanya sebanyak 3 jenis tanda antara lain :

a. Ikon b. Indeks c. Simbol

Ikon adalah tanda yang menunjukkan adanya hubungan yang bersifat alamiah antara penanda dan petandanya. Hubungan ini disebut juga hubungan persamaan, misalnya gambar pohon sebagai penanda yang menandai pohon sebagai artinya.

Indeks adalah tanda yang menunjukkan adanya hubungan kausual atau hubungan sebab akibat antara penanda dan petandanya. Hubungan ini dapat terjadi dikarenakan adanya kedekatan eksistensi antara penanda dan petandanya. Sebagai contoh, ada asap menandai api, asap merupakan tandanya karena dengan adanya api baru muncul asap.

Simbol adalah tanda yang menunjukkan tidak adanya hubungan alamiah antara penanda dan petandanya, hubungan ini merupakan hubungan yang sudah terbentuk secara konvensional. Misalnya, berbagai gerakan anggota badan menandakan maksud-maksud tertentu, atau warna tertentu seperti warna putih menandai sesuatu pula. Dalam sesuatu penelitian atau penelaahan sastra dengan pendekatan semiotik, tanda yang berupa indekslah yang paling banyak dicari, yaitu tanda-tanda yang menunjukkan hubungan sebab akibat, misalnya dalam hal penokohan.

2.4.2 Semiotika Sastra

Sastra sebagai kreatif menggunakan manusia dan segala macam segi kehidupanya, maka sastra tidak saja merupakan suatu media untuk menyampaikan ide, teori, atau sistem berpikir manusia, tetapi juga merupakan media untuk menampung ide, teori, dan sistem berpikir manusia.

Sastra juga merupakan suatu bentuk dan hasil pekerjaan seni kreatif yang objeknya adalah manusia dan kehidupanya dengan menggunakan bahasa sebagai mediumnya (Atar semi,1993 :8). Berbeda dengan seni lain, seperti seni lukis yang mediumnya netral dalam arti, belum mempunyai arti, mempunyai sistem, dan mempunyai konveksi.

Dalam sastra banyak bentuk-bentuk karya sastra, misalnya prosa, puisi dan drama. Karya sastra merupakan sebuah sistem yang mempunyai konvensi-konvensi sendiri, untuk itu dalam menganalisis karya sastra harus memahami arti bahasa dan sistem tanda. Pada dasarnya konvensi-konvensi yang berlaku dalam masyarakat pemakai bahasa merupakan prinsip penandaan.

Pemahaman makna sebuah karya sastra dapat diinterprestasikan melalui tanda. Hal tersebut didasarkan kenyataan bahwa bahasa adalah sistem tanda atau sign. Dikarenakan bahasa adalah sistem tanda untuk memahami konsep makna dalam karya sastra, seorang penelaah atau pembaca harus menguasai tanda-tanda, lambang-lambang, sistem lambang dan proses perlambangan yang ada pada bahasa tersebut.

Dalam hal ini bukan berarti bahasa saja yang dapat diartikan sebagai tanda, melainkan berbagai hal yang melengkupi kehidupan ini. Jadi tanda itu dapat diinterpersentasikan keberbagai hal, seperti pengalaman, pikiran, perasaan maupun konsep-konsep khusus tentang budaya, seni dan sastra.

Bahasa adalah tanda, dikarenakan dalam bahasa terdapat kata, kalimat, dan teks yang merupakan tanda-tanda bahasa. Oleh karena itu sastra identik dengan teks. Teks sastra secara keseluruhan merupakan legisn (tanda atas dasar sebuah konvensi atau sebuah kode), dikarenakan teks berdasarkan kumpulan peraturan atau kode, sehingga banyak kesalahan dalam memahami teks sebuah karya sastra (Aart Van Zoest, 1993:67)

Untuk memahami teks sebuah karya sastra diperlukan suatu telaah semiotika sebagai salah satu iman tentang tanda yang dapat dijadikan pendekatan dalam telaah sastra. Pendekatan semiotik dalam sastra dikenal dengan istilah semiotika sastra. Semiotika sastra bukanlah suatu

aliran dan bukan suatu ilmu yang hanya mempelajari bahasa-bahasa alami yang dipakai dalam sastra, tetapi juga sistem-sistem tanda lainya untuk menemukan kode-kode dalam teks sebuah karya sastra (Jan Van Luxemburg,1986:44-45).

Semiotika sastra lebih mengarah pada cara-cara untuk membedakan tanda-tanda sastra dengan tanda tipe-tipe wacana yang lain yang mengandung kesusastraan sebagai kegiatan yang mempersoalkan tipe-tipe tanda yang lain.

Dapat disimpulkan bahwa dalam menginterprestasikan sebuah teks karya sastra dapat dilakukan melalui tanda-tanda yang tepat dalam teks sastra tersebut. Hal ini berarti, apabila ingin melihat budaya yang berdapat di dalam sebuah teks karya sastra, dapat diinterprestasikan dengan cara memahami konsep dasar tentang budaya yang ingin diambil, kemudian menghubungkan konsep tersebut dengan bagian-bagian teks yang menjadi tanda yang memiliki sifat indeksikal. Jadi, unsur budaya yang terdapat dalam sebuah karya sastra dapat dijadikan sebagai tanda untuk diinterprestasikan dengan mengambil bagian-bagian teks dalam karya sastra tersebut.

Dokumen terkait