TINJAUAN PUSTAKA
C. Usaha Kecil
1. Defenisi Usaha Kecil
Beberapa definisi usaha kecil yang dikenal di Indonesia. Definisi usaha kecil Menurut kategori Biro Pusat Statistik (BPS) pada tahun 1999, usaha kecil identik dengan industri kecil dan industri rumah tangga. BPS mengklasifikasikan industri berdasrakan jumlah pekerjanya, yaitu: (1) industri rumah tangga dengan pekerja 1-4 orang; (2) industri kecil dengan pekerja 5-19 orang; (3) industri menengah dengan pekerja 20-99 orang; (4) industri besar dengan pekerja 100 orang atau lebih.
Sesuai dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2008 tentang Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM), pengertian usaha kecil yaitu: Usaha kecil
adalah usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri, yang dilakukan oleh orang perorangan atau badan usaha yang bukan merupakan anak perusahaan atau bukan cabang perusahaan yang dimiliki, dikuasai, atau menjadi bagian baik langsung maupun tidak langsung dari usaha menengah atau usaha besar yang memenuhi kriteria usaha kecil sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang.
Menurut Departemen Koperasi dan UKM, usaha kecil adalah kegiatan ekonomi yang dilakukan oleh perseorangan, rumah tangga, ataupun suatu badan bertujuan untuk memproduksi barang atau jasa untuk diperniagakan secara komersial dan omzet penjualan kurang dari satu miliar rupiah.
Menurut SAK UMKM ( Standar Akuntansi Keuangan Usaha Mikro, Kecil Menengah) dalam pernyataan standar akuntansi untuk UMKM bab 1 tentang ruang lingkup paragraph 1 dijelaskan bahwa usaha kecil adalah entitas yang :
a. Tidak memiliki tanggung jawab akuntabilitas terhadap publik
b. Menerbitkan laporan keuangan bertujuan umum untuk pengguna eksternal.
Contoh pengguna eksternal adalah termasuk pemilik yang tidak terlibat dalam manajemen bisnis, keberadaan dan potensial kreditor, dan agensi pemeringkat kredit.
Sementara itu terdapat juga beberapa definisi usaha kecil pada tingkatan internasional, misalnya menurut World Bank, usaha kecil adalah usaha dengan jumlah karyawan kurang dari 30 orang, memiliki pendapatan setahun tidak melebihi $3 juta, dan jumlah aset tidak lebih dari $3 juta. Europa Comission juga mendefinisikan usaha kecil adalah usaha dengan jumlah karyawan kurang dari 50 orang, pendapatan setahun tidak lebih €10 juta dan jumlah aset tidak lebih dari
€13 juta. Di Malaysia, usaha kecil didefinisikan sebagai usaha dengan jumlah karyawan antara 5-50 orang atau jumlah modal saham sampai sejumlah M$500 ribu.
Kriteria usaha kecil menurut Undang-Undang Republik Indonesia adalah sebagai berikut:
a. Memiliki kekayaan bersih lebih dari Rp50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah) sampai dengan paling banyak Rp500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah) tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha; atau
b. Memiliki hasil penjualan tahunan lebih dari Rp300.000.000,00 (tiga ratus juta rupiah) sampai dengan paling banyak Rp2.500.000.000,00 (dua milyar lima ratus juta rupiah).
Beberapa definisi mengenai usaha kecil, namun agaknya usaha kecil mempunyai karakteristik yang hampir seragam. Pertama, tidak adanya pembagian tugas yang jelas antara bidang administrasi dan operasi. Kebanyakan industri kecil dikelola oleh perorangan yang merangkap sebagai pemilik sekaligus pengelola perusahaan, serta memanfaatkan tenaga kerja dari keluarga dan kerabat dekatnya.
Kedua, rendahnya akses industri kecil terhadap lembaga-lembaga kredit formal sehingga mereka cenderung menggantungkan pembiayaan usahanya dari modal sendiri atau sumber-sumber lain seperti keluarga, kerabat, pedagang perantara, bahkan rentenir.
Ketiga, sebagian besar usaha kecil ditandai dengan belum dipunyainya status badan hukum. Menurut catatan BPS pada tahun 1994, dari jumlah perusahaan kecil sebanyak sebanyak 124.990, ternyata 90,6 persen merupakan
perusahaan perorangan yang tidak berakta notaris; 4,7 persen tergolong perusahaan perorangan berakta notaris; dan hanya 1,7 persen yang sudah mempunyai badan hukum (PT/NV, CV, Firma, atau Koperasi).
Keempat, dilihat menurut golongan industri tampak bahwa hampir sepertiga bagian dari seluruh industri kecil bergerak pada kelompok usaha industri makanan, minuman dan tembakau, diikuti oleh kelompok industri barang galian bukan logam, industri tekstil, dan industri kayu,bambu, rotan, rumput dan sejenisnya termasuk perabotan rumah tangga masing-masing berkisar antara 21%
hingga 22% dari seluruh industri kecil yang ada. Sedangkan yang bergerak pada kelompok usaha industri kertas dan kimia relatif masih sangat sedikit sekali yaitu kurang dari 1%.
2 Ciri-ciri dan Contoh Usaha Kecil
Menurut Mulyadi (2009:38), usaha kecil memiliki kekuatan dan kelemahan. Kekuatan usaha kecil itu antara lain, mengembangkan kreatifitas usaha baru, melakukan inovasi, ketergantungan usaha besar terhadap usaha kecil, dan daya tahan usaha kecil pasca krisis. Sementara kelemahannya yaitu, lemahnya keterampilan manajemen, tingginya tingkat kegagalan oleh karena kurangnya kompetensi dalam dunia usaha, dan keterbatasan sumber daya.
Adapun menurut Muhammad Taufiq (2008), UKM (Usaha Kecil dan Menengah) memiliki ciri-ciri skala usaha kecil, padat karya, berbasis sumberdaya lokal dan sumberdaya alam, pelaku banyak, dan menyebar, sehingga dari ciri-ciri tersebut dapat diuraikan beberapa kekuatan dan kelemahan UKM sebagai berikut:
a. Skala usaha kecil
Salah satu karakter penting dari UKM adalah skala usahanya yang relatif kecil. Meskipun batas atas kategori usaha kecil adalah dengan omset maksimal 1 miliar, namun dalam kenyataannya sebagian besar usaha kecil justru memiliki omset dibawah 500 juta. Mengacu pada argumentasi bahwa salah satu sumber keunggulan adalah melalui economies of scale, maka akan sulit bagi usaha berskala kecil secara individual untuk bersaing dengan usaha berskala besar dalam suatu aktivitas bisnis yang sama.
b. Padat karya
Produk usaha berskala kecil pada umumnya sangat padat karya. Kegiatan produksi yang melibatkan banyak tenaga kerja sebagai konsekuensi dari aktivitas yang menghasilkan produk yang berciri hand made. Produk UKM yang bersandar pada keahlian dan keterampilan tangan ini membawa konsekuensi pada kurangnya aspek presisi dan kesulitan untuk distandarisasi. Disamping memiliki kelemahan, aktivitas bisnis yang mengandalkan keterampilan individu tentu juga memiliki keunikan, sehingga mendapat pasar yang tersendiri. Keunikan produk UKM dapat dikembangkan sebagai sumber keungulan menghadapi produk-produk yang berbasis pabrikasi (produk cetak).
c. Berbasis sumberdaya lokal dan sumberdaya alam.
Salah satu ciri dari orientasi berusaha di kalangan UKM pada umumnya adalah lebih kepada upaya melakukan aktivitas apa yang bisa dilakukan dengan sumberdaya yang ada, ketimbang memproduksi sesuatu yang diminta oleh pasar.
Dengan kata lain aktivitas usaha UKM lebih kepada production oriented,
memproduksi sebaik mungkin apa yang bisa dilakukan dengan bertumpu pada ketersediaan sumberdaya yang ada. Karakter aktivitas bisnis UKM seperti ini menghasilkan produk-produk unggulan yang komparatif pada masing-masing wilayah. Kebersinambungan usaha yang berbasis sumberdaya alam tentu sangat rentan, manakala UKM terlibat dalam aktivitas produksi yang mengeksploitasi sumberdaya alam yang tidak terbaharui.
d. Pelaku banyak
Hampir tidak ada barrier to entry pada aktivitas bisnis UKM, baik dari aspek teknologi, investasi, manajemen, perlindungan hak intelektual, maka sangat mudah bagi masyarakat untuk masuk ke dalam industri yang digeluti oleh UKM.
Sebagai konsekuensinya relatif sangat banyak pelaku bisnis UKM dalam sektor dan kegiatan bisnis tertentu. Di satu sisi struktur usaha seperti ini sangat baik untuk mendorong kompetisi, tetapi di lain pihak UKM sering dihadapkan pada kondisi dimana banyak UKM sebagai produsen menghadapi kekuatan monopsonis.
e. Menyebar
Aktivitas bisnis UKM dapat dijumpai hampir diseluruh pelosok tanah air serta diberbagai sektor. Dengan demikian, bila UKM dapat mengembangkan jaringan yang efektif, maka konsep global production dapat dipenuhi, karena UKM mampu menghasilkan produk di mana saja dan memasarkannya ke mana saja serta kapan saja. Dengan kata lain produk UKM yang sejenis sangat mudah diperoleh masyarakat dimana saja dan kapan saja.
Menurut Deddy Edward Tanjung (2008), ciri-ciri dari usaha kecil yaitu:
a. Jenis barang/komoditi yang diusahakan umumnya sudah tetap tidak gampang berubah;
b. Lokasi/tempat usaha umumnya sudah menetap tidak berpindah-pindah;
c. Pada umumnya sudah melakukan administrasi keuangan walau masih sederhana, keuangan perusahaan sudah mulai dipisahkan dengan keuangan keluarga, sudah membuat neraca usaha;
d. Sudah memiliki izin usaha dan persyaratan legalitas lainnya termasuk NPWP;
e. Sumberdaya manusia (pengusaha) memiliki pengalaman dalam berwira usaha;
f. Sebagian sudah akses ke perbankan dalam hal keperluan modal;
g. Sebagian besar belum dapat membuat manajemen usaha dengan baik seperti business planning.
Menurut Deddy Edward Tanjung (2008), contoh usaha kecil adalah : a. Usaha tani sebagai pemilik tanah perorangan yang memiliki tenaga kerja;
b. Pedagang dipasar grosir (agen) dan pedagang pengumpul lainnya;
c. Pengrajin industri makanan dan minuman, industri meubelair, kayu dan rotan, industri alat-alat rumah tangga, industri pakaian jadi dan industri kerajinan tangan;
d. Peternakan ayam, itik dan perikanan;
e. Koperasi berskala kecil.