Penyakit kardiovaskular (PKV) adalah penyakit yang disebabkan oleh gangguan fungsi jantung dan pembuluh darah seperti penyakit jant ung coroner, hipertensi, dan stroke (Martiningsih & Haris, 2019).
PKV adalah penyakit kronis yang secara bertahap berevolusi sepanjang hidup, dan tidak menunjukkan gejala untuk waktu yang lama. Biasanya hanya penyakit lanjut yang menyebabkan gejala atau gejala pertama yang dapat terjadi yaitu kematian mendadak (Sonja Frančula-Zaninović, 2018). 2.2.2 Tanda dan Gejala Cardiovaskular
Pada seseorang yang mengalami gangguan pada system karidovaskuler, akan muncul beberapa gejala, antara lain :
1. Nyeri dada dan rasa tidak nyaman
Pada pasien yang mengalami keluhan nyeri dada dan rasa tidak nyaman, seringkali merupakan tanda gejala terjadinya sindrom coroner akut ataupun diseksi aorta. Akan tetapi seringkali pasien tidak mengeluhkan nyeri dada, akan tetapi mengeluh rasa tidak nyaman. Sehingga perlu dilakukan pengkajian anamnesa yang lebih mendalam terhadap keluhan yang muncul dari pasien, karena keluhan rasa tidak nyaman terjadi pada pasien yang stidak selalu mencerminkan tidak keparahan penyakit yang dideritanya. Penyakit janrung coroner sering kali disebut dengan silent diseases, karena penyakit ini seringkali tidak muncul tanda dan gejala pada fase awal, khususnya pada orang lanjut usia atau pada pasien diabetes.
36 Seseorang dapat dikatakan mengalami sesak nafas apabila mengalami perubahan ambang batas pernafasan dari yang diharapkan. Gejala sesak nafas yang muncul pada pasien dapat merupakan tanda khusus yang disebabkan oleh gangguan pada jantung, gangguan pada pernafasan, gangguan neuromuscular, gangguan metabolic ataupun akibat dari toksin atau ansietas.
Pada pasien yang mengalami gangguan system kardiovaskuler, beberapa penyakit yang memunculkan gejala sesak nafas antara lain angina pektoria maupun gagal jantung. Pada angina pectoris pasien mengalami iskemik miokard sehingga pasien menjadi merasa tidak nyaman pada dada. Sedangkan pada pasien gagal jantung, sesak nafas, seringkali muncul akibat kelelahan.
Beberapa gejala sesak nafas lain yang sering muncul sebagai berikut : ortopnea, dyspnea paroksimal nocturnal dan platipnea. Ortopnea merupakan tanda terjadinya gagal jantung yang sudah lanjut, ditandai dengan munculnya sesak nafas pada saat posisi berbaring mendatar. Sedangkan sesak nafas yang muncul mendadak saat pasien tidur sehingga akibat sesak yang dialami pasien menjadi terbangun dari tidurnya disebut dengan dyspnea paroksimal nocturnal. Pada pasien yang mengalami kondisi ini, pasien akan merasa tercekik/ terengah-engah menghirup udara. Kondisi ini disebabkan oleh akumulasi cairan di alveolar. Sedangkan platipnea merupakan munculnya sesak nafas pada saat pasien berada dalam posisi duduk tegak. Hal ini terjadi karena adanya kelainan anatomis dan fungsional.
37 3. Sinkop
Sinkop adalah hilangnya kesadaran akibat hipoperfusi serebral. Pusing, sinkop atau perasaan akan pingsan (prasinkop) dapat disebabkan oleh kelainan kardiovaskular dengan penyebab utama yaitu :
a. Hipotensi postural
Merupakan keadaan penurunan tekanan darah sistolik >20 mmHg dalam kondisi berdiri yang dapat disebabkan oleh hypovolemia, penggunaan obat antihipertensi terutama diuretic dan vasodilator, serta neuropati otonomik.
b. Sinkop neurokardiogenik
Merupakan kondisi yang disebabkan oleh reflex otonomik abnormal. Pingsan murni dapat terjadi pada seseorang yang dipaksa berdiri dalam jangka waktu yang lama dan dalam kondisi lingkungan yang panas, dan juga dapat terjadi karena faktor emosi ataupun nyeri yang berlebihan. Hal ini terjadi akibat penurunan frekuensi jantung yang mendadak atau vasodilatasi. Sebelum terjadi pingsan, pasien ditandai oleh munculnya gejala prodromal antara lain, pusing, pandangan gelap, tinnitus, mual, berkeringat dan wajah pucat. Selanjutnya pasien akan terjadi di lantai. Kondisi ini pasien dalam posisi berbaring, seringkali pasien akan dapat sadar kembali. Hal ini terjadi karena pada posisi berbaring, aliran darah akan kembali ke otak sehingga pasien akan menjadi sadar. c. Aritmia
38 atau prasinkop. Bradiaritmia seringkali penyebab yang mendasari akibat gangguan pada sinoatrial atau blok atrioventrikul. Selain itu, takikardia ventricular juga dapat memunculkan gejala sinkop atau prasinkop.
d. Obstruksi mekanik curah jantung
Kondisi ini dapat menyebabkan terjadinya hambatan ventrikel kiri untuk memompa darah secara maksimal ke seluruh tubuh seperti stenosis aorta yang berat dan kardiomiopati hipertrovik. Hal ini menyebabkan curah jantung menjadi menurun sehingga sirkulasi serebral juga akan terganggu. Gangguan sirkulasi serebral inilah yang akan memunculkan gejala prasinkop atau sinkop. Adanya emboli paru atau tumor jantung juga dapat mencetuskan terjadinya sinkop.
4. Edema
Merupakan penumpukan cairan dalam ruang interstitial. Gangguan kardiovaskuler yang memunculkan gejala edema biasanya akibat dari gagal jantung, penggunaan obat-obatan vasodilator, penyakit vena kronik dan limfedema. Pada gangguan jantung, seringkali edema disertai dengan peningkatan tekanan vena jugularis, bukan merupakan tanda yang bersifat kardiogenik.
5. Palpitasi
Palpitasi merupakan kondisi yang tidak diduga akan detak jantung yang terasa di dalam dada. Hal ini dapat terasa cepat, kuat atau ireguler dan dideskripsikan dipukul-pukul, berdetak keras, melompat-lompat, bergetar, berlomba atau meloncat-loncat. Palpitasi juga dapat
39 muncul akibat penggunaan kafein dan nikotin berlebihan, penggunaan dekongestan, antihistamin maupun obat-obatan stimulant seperti amfetamin, ekstasi dan kokain. Selain itu, palpitasi juga merupakan tanda dan gejala terjadinya takikardia supraventricular.
6. Gejala lainnya
Beberapa gejala non kardiak juga dapat tejadi pada penyakit jantung, misalnya pasien dengan endocarditis infektif, gejala yang muncul berupa penurunan berat badan, rasa letih, demam, dan keringat malam.
2.2.3 Klasifikasi Cardiovaskular
Penyakit kardiovaskuler dibagi menjadi beberapa bentuk adalah sebagai berikut:
1. Penyakit Jantung Koroner (PJK)
Merupakan penyakit akibat gangguan pembuluh darah yang memberi nutrisi ke otot jantung (Nurhidayat, 2014).
2. Hipertensi
Hiperensi didefinisikan sebagai peningkatan tekanan darah sistolik diatas 160 mmHg dan tekanan darah diastolic lebih dari 90 mmHg. Hipertensi dapa meningkatkan beban jantung yang membua dinding jantung menjadi semakin membesar dan akhirnya melemah. Hal ini juga akan meningkatkan stroke, serangan jantung, gagal ginjal dan gagal jantung kongestif (sesak nafas bila beraktivitas, kedua tungkai edema, cepat lelah). Tekanan darah yang tinggi terus menerus akan menyebabkan kerusakan system pembuluh darah arteri secara
perlahan-40 lahan akan mengalami proses pengerasan yang akan diperberat oleh adanya lipid, akhirnya lumen pembuluh darah arteri mengalami penyempitan makan akan terjadi kerusakan otot jantung/ penyakit jantung coroner (Nurhidayat, 2014).
3. Angina pectoris
Suau sindrom klinis dimana klien mendapat serangan dada yang khas, yaitu seperti ditekan atau terasa berat didada yang sering kali menjalar kelengan sebelah kiri. Sakit dada tersebut biasanya timbul pada waktu klien melakukan suatu aktifitas dan segera hilang bila klien menghentikan aktifitas (Nurhidayat, 2014).
4. Infark Miokard Akut (IMA)
Infark Miokard Akut merupakan kematian jaringan miokard akibat oklusi akut pembuluh darah coroner. Infark miokard akut adalah kematian sel-sel miokardium yang terjadi akibat kekurangan oksigen berkepanjangan. Hal ini adalah respon letal terakhir terhadap iskemia miokardium yang tidak teratasi. Sel-sel miokardium mulai mati setelah sekitar 20 menit mengalami kekurangan oksigen. Setelah periode ini, kemampuan sel untuk menghasilkan ATP secara aerobis lenyap, dan sel tidak dapat memnuhi kebutuhan energinya (Nurhidayat, 2014).
2.2.4 Faktor Risiko Cardiovaskular
Terdapat berbagai faktor risiko untuk terjadinya penyakit kardiovaskular yaitu faktor risiko yang tidak dapat dimodifikasi (usia, jenis kelamin, dan riwayat keluarga), dan faktor risiko yang dapat dimodifikasi antara lain : peningkatan kadar lipid serum, hipertensi, merokok, diabetes mellitus, aktifitas fisik kurang, stress psikososia, obesitas, dan peningkatan
41 kadar Homosistein) (Engelin E, 2017).
Faktor risiko penyakit kardiovaskular adalah sebagai berikut : 1. Merokok
Suatu kegiatan yang dilakukan seseorang dengan menghisap rokok yang mengandung lebih dari 1200 bahan-bahan yang kompleks, antara lain : Nikotin Ben Zpyrine, Hydrogen sianida, Asetelin, Benzaldetia, Metil Klorod, Orto Kresol, Resoltinor, Akrotein, dan Karbon Monoksida. Perokok mempunyai risiko 2-4 kali lebih tinggi dari pada bukan perokok terserang penyakit jantung dan stroke (Nurhidayat S, 2014).
Menurut beberapa hasil penelitian, mengungkapkan bahwa merokok dapat menaikkan tekanan darah. Senyawa dalam rokok yang diduga dapat meningkatkan tekanan darah adalah nikotin. Nikotin dapat meningkatkan penggumpalan dalam darah dan menyebabkan pengapuran pada dinding pembuluh darah. Selain itu, risiko terjadi meningkatnya tekanan darah akibat merokok dapat diketahui melalui perilaku merokok seseorang (Lestari Endang, DKK, 2014).
Merokok dapat menignkatkan konsentrasi fibrinogen, dimana peningkatan ini akan mempermudah terjadinya penebalan dinding pembuluh darah juga peningkatan ciskositas darah. Rokok juga dapat merangsang proses ateroskelerosis karena efek langsung karbon monoksida pada dinding arteri, kemudian nikotin dapat menyebabkan mobilisasi katekolamin juga menyebabkan kerusakan endotel arteri, selain itu rokok juga dapat memicu penurunan HDL, meningkatkan fibrinogen dan memacu agregasi trombosit, serta mengurangi daya
42 angkut oksigen ke jaringan perifer (Lestari Endang, dkk, 2014)
2. Diet yang salah
WHO menjelaskan terdapat 18 juta penduduk dunia usia di bawah lima tahun mengalami overweight. Beberapa studi telah membutkikan beberapa zat makanan berpernanan terhadap peningkatan risiko penyakit jantung dan stroke. Apabila mengkonsumi kalori lebih banyak daripada yang digunakan dalam aktifitas sehari-hari, kelebihan kalori akan disimpan dalam bentuk timbunan lemak, terutama yang bahaya jika disimpan di dinding pembuluh darah karena akan menyebabkan penebalan dinding pembuluh darah (aterosklerosis), hipertensi, diabetes mellitus, berat badan berlebihan yang semuanya merupakan faktor risiko penyakit jantung dan stroke. WHO merekomendasikan program diet dan aktifitas fisik untuk masyarakat dan individu dalam mengurangi penyakit kardiovaskular. Program diet yang dimaksud adalah dengan memenuhi keseimbangan energi dan berat badan sehat, membatasi intake lemak dan mengalihkan konsumsi lemak jenuh ke lemak tidak jenuh, meningkatkan konsumsi buah-buahan dan syuran serta kacang-kacangan, membatasi penggunaan gula bebas, dan membatasi garam dari semua sumber dan memastikan garam adalam beryodium (Nurhidayat, 2014).
3. Jenis kelamin
Perempuan lebih rentan terkena penyakit kardiovaskuler dibandingkan dengan laki-laki. Para ahli telah meneliti faktor risiko penyakit kardiovaskuler dan bagaimana perempuan sangat rentan terkena penyakit ini. Faktor utama penyakit kardiovaskuler pada
43 perempuan adalah merokok, hipertensi, dislipidemia, diabetes mellitus, obesitas/kegemukan, kurang aktifitas dan diet yang salah. Diabetes merupakan faktor risiko yang sangat kuat bagi perempuan, dengan meningkatkan risiko serangan penyakit jantung 3-7 kali dibandingkan 2-3 kali pada laki-laki. Penyakit kencing manis sama saja sedang menderita serangan jantung atau kencing manis equivalen dengan penyakit jantung.
4. Alkohol
Menurut Step Wise peminum alkohol pada laki-laki frekuensi minumnya ≥ 5 kali, sedangkan pada wanita frekuensi minum alkohol ≥ 4 kali dalam waktu 30 hari. Status epimiologi yang dilakukan terhadap beberapa orang telah diakui bahwa konsumsi alkohol dosis sedang berhubungan dengan penurunan mortalitas penyakit kardiovaskular, tetapi konsumsi alkohol dosis tinggi berhubungan dengan peningkatan mortalitas penyakit kardiovaskular. Peningkatan dosis pada alkohol dengan peningkatan mortalita kardiovaskuler karena aritmia, hipertensi sistemik, dan kardiomiopati dilatasi (Nurhidayat, 2014).
5. Obesitas
Menurut LeMone, Burke, & Baudoff (2014) faktor lain yang terkait dengan risiko penyakit kardiovakular yaitu obesitas yang merupakan kondisi kelebihan simpanan lemak di jaringan adipose sehingga dampaknya adalah peningkatan indeks massa tubuh dan lingkar pinggang. Obesitas dapat menyebabkan peningkatan kerja otot jantung sehingga meningkatkan kebutuhan okesigen jantung dan organ tubuh lainnya. Tedapat saling keterkaitan antara obesitas dengan risiko
44 peningkatan penyakit kardiovaskular, hipertensi, angina, stroke, diabetes, dan merupakan beban penting pada kesehatan jantung dan pembuluh darah (Martiningsih & Haris, 2019).
6. Hipertensi
Hipertensi didefinisikan sebagai peningkatan tekanan darah sistolik diatas 160 mmHg dan tekanan darah diastolic lebih dari 90 mmHg. Hipertensi dapat meingkatkan beban jantung yang membuat dinding jantung menjadi semakin membesar dan akhirnya melemah. Hal ini juga akan meningkatkan stroke, serangan jantung, gagal ginjal dan gagal jantung kongestif (sesak nafas bila aktivitas, edema kedua tungkai, cepat lelah). Tekanan darah yang tinggi terus menerus akan menyebabkan kerusakan system pembuluh darah arteri secara perlahan-lahan akan mengalami proses pengerasan yang akan diperbe rat oleh adanya lipid, akhirnya lumen pembuluh darah areri menyempit dan aliran darah kurang bahkan berhenti. Jika arteri coroner yang mengalami penyempian maka akan terjadi kerusakan otot jantung/ penyakit jantung koroner (Nurhidayat, 2014).
2.2.5 Pencegahan Cardiovaskular
Penyakit kardiovaskular dapat diperbaiki oleh pengurangan faktor risiko, dengan demikian pencegahan primer adalah perlunya berhenti merokok, optimalisasi berat badan, dan pentingnya olahraga. AHA merekomendasikan diet untuk menghentikan hipertensi dan kolestrol lipoprotein desintas rendah, sebagai berikut : diet tinggi serat, rendah gula, rendah garam dan lemak jenuh, asupan buah dan sayuran (Stewart Jack,
45 2017).
Pencegahan dari faktor risiko lainnya yaitu berhenti merokok, karena dengan penghentian rokok merupakan salah satu cara yang paling efektif misalnya dari segi biaya dalam pencegahan dari faktor risiko kardiovaskuler (Stewart Jack, 2017).
2.2.6 Penanganan Cardiovaskular
Upaya dalam penanganan cardiovaskular adalah dengan pengendalian faktor risiko dari penyakit kardiovaskular. Pengendalian faktor risiko yang harus dicapai dapat mengikuti pedoman yang sudah sesuai dan tersedia untuk hal tersebut baik dari organisasi dari luar Indonesia (Eropa, Amerika Serikat) maupun dari PERKI sendiri. Pengendalian faktor risiko :
1. Berhenti merokok
Individu yang mempunyai faktor risiko atau yang sehat harus berhenti total merokok baik rokok konvensional maupun elektrik, serta menghindarkan diri dari lingkungan yang penuh asap rokok. Upaya berhenti merokok harus komprehensif, diberikan motivasi yang kuat dan terus menerus, ditemukan masalah dan alasan merokok dan digali motivasi untuk berhenti merokok secara seksama, tanpa terkesan menyalahkan. Kegiatan ini dapat dilakukan oleh dokter SpJP, dapat berkolaborasi dengan dokter spesialis lain, psikolog atau pemberian asuhan keperawatanlain bila perlu dirujuk ke pusat pelayanan khusus untuk hal tersebut atau membentuk klinik berhenti merokok sendiri yang melibatkan berbagai profesi.
2. Pengendalian hipertensi
46 farmakologis seperti pembatasan asupan garam, latihan fisik intensitas sedang yang teratur, dan dengan mencapai berat badan ideal. Pengendalian tekanan darah tinggi dengan obat-obatan dapat mengacu kepada pedoman yang khusus untuk pengendalian hipertensi dari penghimpunan profesi. Pengendalian hipertensi dengan cara non farmakologis maupun dengan obat-obatan dapat dilakukan bersama dengan dokter lain atau profesi lain yang dapat memberikan nasihat mengenai upaya pengontrolan tekanan darah.
3. Pengendalian berat badan berlebih
Berat badan harus dikendalikan hingga berat badan mecapai idealnya dengan indeks massa tubuh >25 kg/m2. Pengendalian berat badan dilakukan dengan pengendalian asupan kalori melalui pengaturan diet terarah dan latihan fisik teratur. Kegiatan pengendalian berat badan dapat dilakukan dengan berkolaborasi dengan dokter spesialis lain atau dengan pemberian asuhan keperawatan lain.
4. Pengendalian hidup sedentary/ kurang aktifitas fisik
Untuk mengatasi keadaan kurang aktivitas fisik perlu diberikan program edukasi khusus, program rehabilitasi yang mencakup peningkatan motivasi dan pembuatan program latihan fisik yang nyaman, aman dan efektif hingga dapat mencapai target aktifitas fisik sedang dengan frekuesi minimal 5 menit dalam seminggu, minimal 30 menit setiap sesi.