9 BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Konsep Covid-19 2.1.1 Definisi Covid-19
Novel Corona Virus (Covid-19) yang lebih dikenal dengan nama Corona Virus adalah jenis baru dari coronavirus yang menular dari manusia ke manusia. Coronavirus adalah sekelompok virus yang bias menginfeksi system pernafasan (Zein, 2019). Menurut WHO Penyakit coronavirus (COVID-19) adalah infeksi saluran pernafasan yang disebabkan oleh coronavirus yang baru muncul pertama dikenali muncul di Wuhan, Tiongkok.
2.1.2 Manifestasi Klinis Covid-19
Manifestasi klinis pada pasien covid-19 memliki spectrum yang sangat luas, mulai dari tanpa gejala (asimtomatik), gejala ringan, pneumonia, pneumonia berat, ARDS, sepsis, hingga syok sepsis. Pada pasien asimtomatik dapat dilakukan tes swab nasofaring. Gejala ringan pada covid-19 didefinisikan sebagai pasien dengan infeksi akut saluran nafas atas, tanpa komplikasi, bias disertai dengan demam, fatique, batuk (dengan atau tanpa sputum), anoreksia, malaise, nyeri tenggorokan, kongesti nasal, atau sakit kepala, muntah dan diare. Sedangkan pasien covid-19 dengan covid-19 pneumonia ditandai dengan demam, ditambah salah satu gejala :
10 1. Pernafasan >30x/menit
2. Distress pernafasan berat
3. Saturasi oksigen 93% tanpa bantuan oksigen (Susilo Adityo, 2020). Pasien yang terinfeksi SARS-CoV-2 menunjukkan gejala-gejala pada system pernafasan seperti demam dengan suhu puncak 38,1-390C, batuk, bersin dan sesak nafas. Namun, gejala yang sering terjadi adalah batuk kering, demam, fatique. Gejala lain yang ditemukan adalah batuk produktif, sesak nafas, sakit tenggorokan, nyeri kepala, mialgia/arthralgia, menggigil, mual/muntah, kongesti nasal, diare, nyeri abdomen, hemoptysis, dan kongesti konjungtiva (Susilo Adityo, 2020).
Menurut data dari negara-negara yang terkena dampak awal pandemi, 40% kasus akan mengalami penyakit ringan, 40% akan mengalami penyakit sedang termasuk pneumonia, 15% kasus akan mengalami penyakit parah, dan 5% kasus akan mengalami kondisi kritis. Pasien dengan gejala ringan dilaporkan sembuh setelah 1 minggu. Pada kasus berta akan mengalami Acute Respiratory Distress Syndrome (ARDS), sepsis dan syok septik, gagal multiorgan, termasuk gagal ginjal atau gagal jangtung akut hingga berakibat kematian. Lansia dan orang dengan kondisi medis yang sudah ada sebelumnya seperti tekanan darah tinggi, gangguan jantung dan paru-paru, diabetes dan kanker berisiko lebih besar mengalami keparahan (Dr. Anung Sugihantono, 2019).
2.1.3 Klasifikasi Covid-19
Berdasarkan beratnya kasus, COVID-19 dibedakan atas beberapa kelompok yaitu tanpa gejala, gejala ringan, sedang, berat dan kritis (Burhan Erlina, 2020).
11 1. Tanpa gejala
Kondisi ini merupakan kondisi teringan. Pasien tidak ditemukan gejala. 2. Ringan/tidak berkomplikasi
Pasien dengan infeksi saluran nafas oleh virus tidak berkomplikasi dengan gejala tidak spesifik, antara lain : demam, lemah, batuk (dengan atau tanpa produksi sputum), anoreksia, malaise, nyeri otot, sakit tenggorokan, sesak ringan, kongesti hidung, sakit kepala. Meskipun jarang, pasien dapat dengan keluhan diare, mual atau muntah. Pasien usia tua dan immunocompromised gejala atipikal.
3. Sedang/Moderat
Pasien remaja atau dewasa dengan pneumonia tetapi tidak ada tanda pneumonia berat dan tidak membutuhkan suplementasi oksigen. Atau anak-anak dengan pneumonia tidak berat dengan keluhan batuk atau sulit bernapas disertai nafas cepat.
4. Berat/pneumonia berat
Pasien remaja atau dewasa dengan demam atau dalam pengawasan infeksi saluran nafas/pneumonia, ditambah satu dari frekuensi nafas >30x/menit, distress pernafasan berat, atau saturasi oksigen (SpO2) <93% pada udara kamar atau rasio PaO2/FiO2 <300. Pasien anak dengan batuk atau kesulitan bernapas, ditambah setidaknya satu dari berikut ini :
a. Sianosis sentral atau spo2 <90%;
b. Distres pernapasan berat (seperti mendengkur, tarikan dinding dada yang berat);
12 letargi atau penurunan kesadaran, atau kejang.
d. Tanda lain dari pneumonia yaitu: tarikan dinding dada, takipnea : <2 bulan, ≥60x/menit; 2–11 bulan, ≥50x/menit; 1–5 tahun, ≥40x/menit; >5 tahun, ≥30x/menit.
5. Krisis
Pasien dengan gagal nafas, Acute Respiratory Distress Syndrome (ARDS), syok sepsis atau multiple organ failure.
2.1.4 Patogenesis dan Patofisiologi Covid-19
Coronavirus menginfeksi hewan dan bersirkulasi di hewan. Coronavirus menyebabkan sejumlah besar penyakit pada hewan dan kemampuannya menyebabkan penyakit berat pada hewan seperti babi, sapi, kuda, kucing dan ayam. Coronavirus disebut dengan viru zoonotic yaitu virus yang ditransmisikan dari hewan ke manusia. Banyak hewan liat yang dapat membawa pathogen dan bertindak sebagai vector untuk penyakit menular tertentu (Burhan Erlina, 2020).
Kelelawar, tikus bamboo, unta dan musang merupakan host yang biasa ditemukan untuk Coronavirus. Coronavirus pada kelelawar merupakan sumber utama untuk kejadian Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS) dan Middle East Respiratory Syndrome (MERS). Namun pada SARS, saat itu host intermediet (masked palm civet atau luwak) justru ditemukan, terlebih dahulu dan awalnya disangka sebagai host alamiah. Barulah pada penelitian lebih lanjut ditemukan bahwa luwak hanyalah sebagai host intermediet dan kelelawar tapal kuda (horseshoe
13 bars) sebagai host alamiahnya. Secara umum, alur Coronavirus dari hewan ke manusia dan dari manusia ke manusia melalui transmisi kontak, transmisi droplet, rute feses, dan oral (Burhan Erlina, 2020).
Berdsarakan temuan, terdaoat tuju tipe Coronavirus yang dapat menginfeksi manusia saat ini, yaitu dua alphacoronavirus (229E dan NL63) dan empat betacoronavirus, yakni OC43, HKu1, Middle East Respiratory Syndrome-associated coronavirus (MERS-CoV) dan severe acute respiratory syndrome-associated coronavirus (SARSCoV), ke tujuhnya adalah coronavirus tipe baru yang menjadi penyebab kejadian luar biasa di Wuhan, yakni Novel Coronavirus 2019 (2019-nCoV).
Isolate 229E dan OC43 ditemukan sekitar 50 tahun yang lalu. NL63 dan HKU1 diindetifikasi mengikuti kejadian luar biasa. Berdsarakan temuan, terdaoat tuju tipe Coronavirus yang dapat menginfeksi manusia saat ini, yaitu dua alphacoronavirus (229E dan NL63) dan empat betacoronavirus, yakni OC43, HKu1, Middle East Respiratory Syndrome-associated coronavirus (MERS-CoV) dan severe acute respiratory syndrome-associated coronavirus (SARSCoV), ke tujuhnya adalah coronavirus tipe baru yang menjadi penyebab kejadian luar biasa di Wuhan, yakni Novel Coronavirus 2019 (2019-nCoV).
14 Gambar 2. 1 Ilustrasitransmisi Coronavirus
Isolate 229E dan OC43 ditemukan sekitar 50 tahun yang lalu. NL63 dan HKU1 diindetifikasi mengikuti kejadian luar biasa. SARS NL63 dikaitkan dengan penyakit akut laringotrakeitis (croup) (Burhan Erlina, 2020).
Coronavirus terutama menginfeksi dewasa atau anak usia lebih tua, dengan gejala klinis ringan seperti common cold dan faringitis sampai berat seperti SARS atau MERS serta beberapa strain menyebabkan diare pada orang dewasa. Infeksi Coronavirus biasanya sering terjadi pada musim dingin dan semi. Hal tersebut terkit dengan faktor dan perjalanan atau perpindahan. Selain itu, terkait dengan karakteristik Coronavirus yang lebih menyukai suhu dingin dan kelembaban tidak terlalu tinggi. Semua orang secara umum rentan terinfeksi. Pneumonia Coronavirus jenis baru dapat terjadi pada pasien immunocompromis dan populasi normal, bergantung paparan jumlah virus. Jika kita terpapar virus dalam jumlah besar dalam satu waktu, dapat menimbulkan penyakit walaupun system imun tubuh berfungsi normal. Orang- orang dengan system imun lemah seperti orang tua, wanita hamil, dan kondisi lainnya, penyakit dapat secara progresif lebih cepat dan lebih parah. Infeksi Coronavirus menimbulkan
15 system kekebalan tubuh yang lemah terhadap virus ini lagi sehingga dapat terjadi re-infeksi (Burhan Erlina, 2020).
Pada tahun 2002-2003, terjadi kejadian luar biasa di Provinsi Guangdong, Tiongkok yaitu kejadian SARS. Total kasus SARS sekitar 8098 terbesar di 32 negara, total kematian 772 kasus. Agen virus Coronavirus pada kasus SARS disebut SARS-CoV, Grub 2b betacoronavirus (Burhan Erlina, 2020). Penyebaran kasus SARS sangat cepat jumlah kasus tersebutditemukan dalam waktu sekitar 6 bulan Virus SARS diduga sangat mudah dan cepat menyebar antar manusia. Gejala yang muncul dari SARS yaitu batu, demam, nyeri kepala, nyeri otot, dan gejala infeksisaluran nafas lain, kebanyakan pasien sembuh sendiri, dengan tingkat kematian sekitar 10-14% terutama dengan pasien dengan usia 40 tahun dengan penyakit penyerta seperti penyakit jantung, asma, penyakit paru kronik dan diabetes (Burhan Erlina, 2020).
Tahun 2012, Coronavirus jenis baru ditemukan di timur tengah diberi nama MERS-CoV (grup 2c 𝛽.- Coronavirus). Kasus pertama MERSpada tahun 2012 samapi dengan tahun 2015 ditemukan jumlah total 1143 kasus. Berbeda dengan kasus MERS, SARS cenderung tidak bersifat infeksius disbanding SARS. Dalam 3 tahun terakhir ditemukan jumlah kasus 1143. MERS diduga tidak mudah menyeba dari manusia ke manusia, namun SARS dapat dengan mudah menyebar dari manusia ke manusia. Namun, disi lain MERS lebih tinggi tingkat kematiannya jika SARS sekitar 10%, tingkat kematian MERS mencapai sekitar 40% (Burhan Erlina, 2020).
Coronavirus hanya bisa memperbanyak diri melalui sel host-nya. Virus tidak bisa hidup tanpa sel host. Berikut siklus dari Coronavirus
16 setelah menemui sel host sesuai tropismenya. Pertama, penempelan dan masuk virus ke sel host diperantarai oleh protein S yang ada dipertemukan virus. 5 protein S penentu utama dalam penginfeksi spesies host nya serta penentu tropisnya. Pada studi SARS CoV protein berkaitan dengan reseptor yaitu di sel host yaitu enzim ACE-2 (angiotensincorverting enzyme 2). ACE-2 dapat ditemukan pada mukosa oral dan nasal, nasofaring,paru, lambung, usus halus, usus besar, kullit, timus, sumsung tulang, limpa hati, ginal, sel otak,sel epitel alveolar paru, sel enterosit usus halus, sel endotel arteri vena, dan sel otot polos. Setelah berhasil selanjutnya translasi replica gen dari RNA genom virus. Salnjutnya replika dan transkipsi diman virus RNA melalui translasi dan perakitan dari kompleks replica virus.tahap selanjutnya adalah perakitan virus.
17 Setelah terjadi transmisi, virus masuk ke saluran napas atas kemudian bereplikasi di sel epitel saluran napas atas (melakukan siklus hidupnya). Setelah itu menyebar ke saluran napas bawah. Pada infeksi akut menjadi peluruhan virus dari saluran napas dan virus dapar berlanjut meluruh beberapa waktu di sel gastrointestinal setelah penyembuhan. Masa inkubasi virus sampai muncul penyakit sekitar 3-7 hari (Burhan Erlina, 2020).
2.1.5 Cara Penularan Covid-19
Cara penyebaran beberapa virus atau pathogen dapa melalui kontak dekat, lingkungan atau benda yang terkontaminasi virus, droplet saluran nafas, dan partikel airbone. Droplet merupakan partikel berisi air dengan diameter >5um. Droplet dapat melewati sampai jarak tertentu (biasanya 1 meter) ke permukaan mukosa yang rentan. Partikel droplet cukup besar sehingga tidak akan bertahan atau mengendap di udara dalam waktu yang lama. Produksi droplet dari saluran napas diantaranya batuk, bersin atau berbiacara serta invasive prosedur respirasi seperti aspirasi sputum atau bronkoskopi, insersi tuba trakea. Partikel airbone merupakan partikel dengan diameter kurang dari 5 um yang dapat menyebar dalam jarak jauh dan masih infeksius. Pathogen airbone dapat menyebar melalui kontak. Kontak langsung merupakan transmisi pathogen secara langsung dengan kulit atau membrane mukosa, darah atau cairan darah yang masuk ke tubuh melalui membran mukosa, darah atau cairan darah yang masuk ke tubuh melalui membrane mukosa atau kulit yang rusak (Burhan Erlina, 2020).
18 2.1.6 Pencegahan Covid-19
Sampai saat ini belum ada vaksin untuk mencegah infeksi COVID-19. Cara terbaik untuk mencegah infeksi adalah dengan menghindari terpapar virus penyebab. Lakukan tindakan-tindakan pencegahan penularan dalam praktik kehidupan sehari-hari. Beberapa upaya pencegahan yang dapat dilakukan, antara lain :
1. Cuci tangan dengan sabun dan air sedikitnya selama 20 detik. Gunakan handsanitizer berbasis alcohol yang setidaknya mengandung alcohol 60%, jika air dan sabun tidak tersedia.
2. Hindari menyentuh mata, hidung dan mulut dengan tangan yang belum dicuci.
3. Sebisa mungkin hindari kontak dengan orang yang sedang sakit.
4. Saat sakt gunakan masker medis. Tetap tinggal di rumah ketika sakit atau segera ke fasilitas kesehatan yang sesuai, jangan banyak beraktifitas di luar.
5. Tutupi mulut dan hidung ketika batuk atau bersin dengan tissue. Buang tissue pada tempat yang telah ditentukan
6. Bersihkan dan lakukan disinfeksi secara rutin permukaan dan benda yang sering dikunjungi atau disentuh
7. Menggunakan masker medis adalah salah satu cara penularan penyakit saluran nafas, termasuk infeksi COVID-19. Akan tetapi penggunaan masker saja masih kurang cukup untuk melindungi seseorang dari infeksi ini, karenanya harus disertai dengan usaha pencegahan lain. Penggunaan masker harus dikombinasikan dengan hand hygiene dan usaha-usaha pencegahan lainnya.
19 8. Penggunaan masker medis tidak sesuai indikasi bias jadi tidak perlu, karena selain dapat menambah beban secara ekonomi, penggunaan masker yang salah dapat mengurangi keefektivitasnya dan dapat membuat orang awam mengabaikan pentingnya usaha pencegahan lain yang sama pentingnya seperti hygiene tangan dan perilaku hidup sehat (Burhan Erlina, 2020).
Covid-19 merupakan penyakit yang baru ditemukan oleh karena itu pengetahuan terkait pencegahan masih terbatas. Salah satu kunci pencegahan meliputi pemutusan rantai penularan dengan isolasi, deteksi dini dan melakukan proteksi dasar (Susilo Adityo, 2020).
20 1. Deteksi dini dan isolasi
Semua individu yang memenuhi kriteria suspek atau pernah berkontak dengan pasien positif Covid-19 harus berobat ke fasilitas kesehatan. WHO juga sudah membuat instrument penilian risiko bagi petugas kesehatan yang menangani pasien Covid-19 sebagai panduan rekomendasi tindakan lanjutan. Bagi kelompok risiko tinggi, direkomendasikan pemberhentian seluruh aktivitas yang berhubungan dengan pasien selama 14 hari, pemeriksaan infeksi SARS-CoV-2 dan isolasi. Pada kelompok dalam risiko rendah, dihimbau melaksanakan pemantauan mandiri setiap harinya terhadap suhu dan gejala pernafasan selama 14 hari dan mencari bantuan jika keluhan memberat. Pada tingkat masyarakat, usaha mitigasi meliputi pembatasan berpergian dan berkumpul masa pada acara besar atau melakukan sosial distancing (Susilo Adityo, 2020).
2. Hygiene, Cuci Tangan, dan Disinfeksi
WHO merekomendasikan dalam menghadapi wabah Covid-19 adalah melakukan proreksi dasar, yang terdiri dari cucitangan secara rutin dengan alcohol atau sabun dan air, menjaga jarak dengan seseorang yang memiliki gejala batuk atau bersin, melakukan etika batuk atau bersin, dan berobat ketika memiliki keluhan yang sesuai dalam kategori suspek. Rekomendasi jarak yang harus dijaga adalah satu metes. Pasien rawat inap dengan kecurigaan Covid-19 juga harus diberi jarak minimal satu meter dari pasien lainnya, diberikan masker bedah, diajarkan etika/ bersin, dan diajarkan cuci tangan. Perilaku cuci tangan harus diterapkan oleh seluruh petugas kesehatan pada lima waktu,
21 yaitu sebelum menyentuh pasien, sebelum melakukan prosedur, setelah terpajan cairan tubuh, setelah menyentuh lingkungan pasien (Susilo Adityo, 2020).
Air sering disebut sebagai pelarut universal, namun mencuci tangan dengan air saja tidak cukup untuk menghilangkan coronavirus karena virus tersebut merupakan virus RNA dengan selubung lipid bilayes. Sabun mampu mengangkat dan menguraisenyawa hidrofobik seperti lemak atau minyak. Selain menggunakan air dan sabun, etanol 62-71% dapat mengurangi infektivitas virus. Oleh karena itu, membersihkan tangan dapat dilakukan dengan hand rub berbasis alcohol atau sabun dan air. Berbasis alcohol yang dipilih ketika secara kasat mata tangan tidak kotor sedangkan sabun dipilih ketika tangan tampak kotor. Hindari menyentuh wajah terutama pada bagian wajah seperti hidung atau mulut dengan permukaan tangan. Ketika tangan terkontaminasi dengan virus, menyentuh wajah dapat menjadi portal masuk. Terakhir, pastikan menggunakan tisu satu kali pakai ketika bersin atau batuk untuk menghindari penyebaran droplet (Adityo Susilo, 2020).
3. Alat Pelindung Diri (APD)
SARS-CoV-2 menular terutama melalui droplet. Alat pelindung diri (APD) merupakan salah satu metode efektif pencegahan penularan selama penggunaanya rasional. Komponen APD terdiri atas sarung tangan, masker wajah, kacamata pelindung atau face shield, dan gaun nonsteril lengan panjang. Alat pelindung diri akan efektif apabila didukung dengan control administrative dan control lingkungan dan teknik (Susilo Adityo, 2020).
22 Penggunaan APD secara rasional dinilai berdasarkan risiko pajanan dan dinamika transmisi dari pathogen. Pada kondisi berinteraksi dengan pasien tanpa gejal pernafasan, tidak diperlukan APD. Jika pasien memiliki gejala penafasan, jaga jarak minimal satu meter dan pasien dipakaikan masker. Tenaga medis disarankan menggunakan APD lengkap (Susilo Adityo, 2020). Alat seperti stetoskop, thermometer, dan spigmomanometer sebaiknya disediakan khusus untuk satu pasien. Bila akan digunakan untuk pasien lain, bersihkan dan desinfeksi dengan alcohol 70%, WHO tidak merekomendasikan penggunaan APD pada masyarakat umum yang tidak ada gejala demam, batuk atau sesak (Susilo Adityo, 2020).
2.1.7 Pemeriksaan Penunjang 1. Pemeriksaan Laboratorium
Pemeriksaan laboratorium lain seperti hematologi rutin, hitung jenis, fungsi ginjal, eletrolit, analisis gas darah, hemostasis, laktat, dan prokalsitonin dapat dikerjakan sesuai dengan indikasi. Trombositopenia juga kadang dijumpai sehingga kadang diduga sebagai degue (Susilo Adityo, 2020).
2. Pencintraan
Modalitas pencintraan utama yang menjadi pilihan adalah foto toraks dan Computed Tomography Scan (CTscan) toraks. Pada foto toraks dapat ditemukan gambaran seperti opasifikasi ground-glass, infiltrate, penebalan peribronkial, konsolidasi fokal, efusi pleura, dan atelectasis (Susilo Adityo, 2020).
23 3. Pengambilan Spesimen
Rekomendasi dari WHO pengambilan spesimen pada dua lokasi yaitu dari saluran nafas atas (swab nasofaring atau orofaring) atau saluran nafas bawah (sputum, bronchoalveolar lavage (BAL) atau aspirat endotrakeal. Sampel diambil selama 2 hari berturut turut untuk PDP dan OPD, boleh diambil sampel tambahan bila ada perburukan secara klinis. Pada risiko tinggi, sampel diambil pada hari 1 dan hari 14 (Susilo Adityo, 2020).
Bronkoskopi untuk mendapatkan sampel BAL merupakan metode pengambilan sputum dengan tingkat deteksi yang paling baik. Induksi sputum juga mampu meningkatkan deteksi virus pada pasien yang negative SARS-CoV-2 melalui swab nasofaring/orofaring. Namun, tindakan ini direkomendasikan rutin karena risiko aerosolisasi virus (Susilo Adityo, 2020).
Sampel darah, urin, maupun feses untuk pemeriksaan virology belum direkomendasikan rutin dan masih belum dianggap bermanfaat dalam praktek lapangan. Virus hanya terdeteksi pada sekitar <10% sampek darah, jauh lebih rendah dibandingkan swab. Belum ada yang berhasil mendeteksi virus di urin. SARSCoV-2 dapat dideteksi dengan baik di saliva (Susilo Adityo, 2020).
2.1.8 Komplikasi Covid-19
Komplikasi utama pada pasien COVID-19 adalah ARDS, gangguan gagal ginjal akut, jejaskardiak, disfungsi hati, dan pneumotoraks. Komplikasi lain adalah syok sepsis, koagulasi intravascular diseminata,
24 rabdomiolisis hingga pneumomediastrinum.
1. Pankreas
Liu, dkk.menunjukkan bahwa ekspresi ACE2 di pankreas tinggi dan lebih dominan di sel eksokrin dibandingkan endokrin. Hal ini juga diperkuat data kejadian pankreatitis yang telah dibuktikan secara laboratorium dan radiologis. Bila ini memang berhubungan, maka perlu perhatian khusus agar tidak berujung pada pankreatitis kronis yang dapat memicu inflamasi sistemik dan kejadian ARDS yang lebih berat. Namun, peneliti belum dapat membuktikan secara langsung apakah SARS-CoV-2 penyebab kerusakan pankreas karena belum ada studi yang menemukan asam nukleat virus di pankreas.
2. Miokarditis
Miokarditis fulminan telah dilaporkan sebagai komplikasi COVID-19. Temuan terkait ini adalah peningkatan troponin jantung, myoglobin, dan n-terminal brain natriuretic peptide. Pada pemeriksaan lain, dapat ditemukan hipertrofi ventrikel kiri, penurunan fraksi ejeksi, dan hipertensi pulmonal. Miokarditis diduga terkait melalui mekanisme badai sitokin atau ekspresi ACE2 di miokardium.
3. Kerusakan Hati
Peningkatan transaminase dan biliriubin sering ditemukan, tetapi kerusakan liver signifikan jarang ditemukan dan pada hasil observasi jarang yang berkembang menjadi hal yang serius. Keadaan ini lebih sering ditemukan pada kasus COVID-19 berat. Elevasi ini umumnya maksimal berkisar 1,5 - 2 kali lipat dari nilai normal. Terdapat beberapa faktor penyebab abnormalitas ini, antara lain kerusakan
25 langsung akibat virus SARSCoV-2, penggunaan obat hepatotoksik, ventilasi mekanik yang menyebabkan kongesti hati akibat peningkatan tekanan pada paru.
2.1.9 Penatalaksanaan Covid-19
Tatalaksana pada pasien yang terkonfirmasi dengan Covid-19 sebagai berikut :
1. TANPA GEJALA
a. Isolasi dan Pemantauan
1) Isolasi mandiri dirumah selama 14 hari
2) Pasien dipantau melalui telepon oleh petugas FKTP
3) Kontrol di FKTP setelah 14 hari karantina untuk pemantauan klinis
b. Non Farmakologis
Berikan edukasi terkait tindakan yang perlu dikerjakan (leaflet untuk dibawa kerumah) :
1) Pasien :
a) Pasien mengukur suhu tubuh 2 kali sehari, pagi dan malam hari
b) Selalu menggunakan masker jika keluar kamar dan saat berinteraksi dengan anggota keluarga
c) Cuci tangan dengan air mengalir dan sabun atau hand-sanitizer sesering mungkin
d) Jaga jarak dengan keluarga (Physical Distancing) e) Upaya kamar tidur sendiri/terpisah.
26 f) Menerapkan etika batuk ( Diajarkan oleh tenaga medis) g) Alat makan dan minum segera dicuci dengan air/sabun h) Berjemur matahari minimal 10-15 menit setiap harinya i) Pakaian yang telah dipakai sebaiknya dimasukkan dalam
kantong plastic/ wadah tertutup yang terpisah dengan pakaian kotor keluarga yang lainnya sebelum dicuci dan segera dimasukkan mesin cuci
j) Ukur dan catat suhu tubuh tiap jam 7 pagi, jam 12 siang dan jam 19 malam.
k) Segera berinformasi ke petugas pemantau/FKTP atau keluarga jika terjadi peningkatan suhu tubuh > 38oC
2) Lingkungan/kamar
1) Perhatikan ventilasi, cahaya dan uadara 2) Membuka jendela kamar secara berkala
3) Bila memungkinkan menggunakan APD saat
membersihkan kamar (setidaknya masker, dan bila memungkinkan sarung tangan dan goggle)
4) Cuci tangan dengan air mengalir dan sabun atau hand sanitizer sesering mungkin
5) Bersihkan kamar setiap hari, bias dengan air sabun atau bahan desinfektan lainnya.
3) Keluarga
1) Bagi anggota keluarga yang berkontak erat dengan pasien sebaiknya memeriksakan diri ke FKTP/ Rumah Sakit 2) Anggota keluarga senantiasa pakai masker
27 3) Jaga jarak minimal 1 meter dari pasien
4) Senantiasa mencuci tangan
5) Jangan sentuh daerah wajah jika tidak yakin tangan bersih 6) Ingat, senantiasa membuka jendela rumah agar sirkulasi
udara tertukar
7) Bersihkan sesering mungkin daerah yang mungkin tersentuh pasien misalnya gagang pintu, dll.
c. Farmakologi
1) Bila terdapat penyakit penyerta/ komorbid, dianjurkan untuk tetap melanjutkan pengobatan yang rutin dikonsumsi. Apabila pasien rutin meminum terapi obat anthipertensi dengan golongan obat ACE-inhibitor dan Angiotensin Reseptor Blocker perlu berkonsultasi ke Dokter Spesialis Penyakit Dalam atau Dokter Spesialis Jantung
2) Vitamin C (untuk 14 hari), dengan pilihan: Tablet Vitamin C non acidic 500 mg/ 6-8 jam oral (untuk 14 hari).
3) Tablet isap vitamin C 500 mg/12 jam oral (selama 30 hari) 4) Multivitamin yang mengandung vitamin 1-a tablet/ 24 jam
(selama 30 hari). Dianjurkan multivitamin yang mengandung vitamin C, B, E, Zink.
2. GEJALA RINGAN
a. Isolasi dan Pemantauan
1) Isolasi mandiri di rumah selama 14 hari
2) Ditangani oleh FKTP, misalnya Puskesmas, sebagai pasien rawat jalan
28 3) Control di FKTP setelah 14 hari untuk pemantauan klinis. b. Non Farmakologis
Edukasi terkait tindakan yang harus dilakukan (sama dengan edukasi tanpa gejala).
c. Farmakologis
1) Vitamin C dengan pilihan:
a) Tablet vitamin C non acidic 500 mg/ 6-8 jam oral (untuk 14 hari)
b) Tablet isap vitamin C mg/ 12 jam oral (selama 30 hari) c) Multivitamin yang mengandung vitamin C 1-2 tablet/ 24
jam (selama 30 hari)
d) Dianjurkan vitamin yang komposisi mengandung vitamin C, B, E, zink
2) Klorokuin fosfat 500 mg/ 12 jam oral (untuk 5 hari) atau Hidroksiklorokuin ( sediaan yang ada 200 mg) 400 mg/ 24 jam/ oral (untuk 5 hari)
3) Azitromisin 500 mg/ 24 jam/ oral (untuk 5 hari) dengan alternative Levofloxacin 750 mg/ 24 jam (untuk 5 hari) 4) Pengobatan simtomatis seperti paracetamol bila demam 5) Bila diperlukan dapat diberikan Antivirus : Oseltamivir 75
mg/ 12 jam/ oral atau Favipiravir (Avigan) 600 mg/12 jam/ oral (untuk 5 hari).
29 3. GEJALA SEDANG
a. Isolasi dan Pemantauan
1) Rujuk ke Rumah Sakit ke Ruang Perawatan Covid-19/Rumah Sakit Darurat Covid-19.
2) Isolasi di Rumah Sakit ke Ruang Perawatan Covid-19/Rumah Sakit Darurat Covid-19 selama 14 hari.
b. Non Farmalagis
1) Istirahat total, intake kalori adekuar, control eletrolit, status hidrasi, saturasi oksigen
2) Pemantauan laboratorium Darah Perifer Lengkap berikut dengan hitung jenis, bila memungkinkan ditambahkan dengan CRP, fungsi ginjal, fungsi hati dan ronsen dada secara berkala. c. Farmakologis
1) Vitamin C 200-400 mg/ 8 jam dalam 100 cc NaCL 0,9% habis dalam 1 jam diberikan secara drips Intravena (IV) selama perawatan.
2) Klorokuin fosfat 500 mg/ 12 jam oral (untuk 5-7 hari) atau Hidroksiklorokuin (sediaan yang ada 200 mg) hari pertama 400 mg/ 12 jam/ oral ( untuk 5-7 hari)
3) Azitromisin 500 mg/ 24 jam per iv atau per oral (untuk 5-7 hari) dengan alternative Levofloxacin 750 mg/ 24 jam per iv atau per oral (untuk 5-7 hari)
30 5) Antivirus : Oseltamivir 75 mg/ 12 jam oral atau Favipiravir (Avigan sediaan 200 mg) loading dose 1600 mg/ 12 jam/ oral hari ke-1 dan selanjutnya 2x 600 mg (hari ke 2-5).
4. BERAT
a. Isolasi dan Pemantauan
Isolasi di ruang isolasi Rumah Sakit Rujukan atau rawat secara kohorting
b. Non farmakologi
1) Istirahat total, intake kalori adekuat, control elektrolit, status hidrasi (terapi cairan), dan oksigen.
2) Pemantauan laboratorium darah perifer lengkap berikut dengan hitung jenis, bila memungkinkan ditambahkan dengan CRP, fungsi ginjal, fungsi hati, Hemostasis, LDH, D- dimer. 3) Pemeriksaan foto toraks serial bila perburukan Monitor
tanda-tanda sebagau berikut :
a) Takipnea, frekuensi nafas ≥ 30x/min
b) Saturasi oksigen dengan pulse oximetry ≤ 93% (di jari) c) PaO2/FiO2 ≤ 300 mmHg.
d) Peningkatan sebanyak >50% di keterlibatan area paru-paru pada pencintraan thoraks dalam 24-48 jam,
e) Limfopenia pro gresif, f) Peningkatan CRP progresif g) Asidosis laktat progresif 4) Monitor keadaan kritis
31 a) Gagal napas yang membutuhkan ventilasi mekanik, shock
atau gagal Multiorgan yang memerlukan perawatan ICU.
b) Bila terjadi gagal napas disertai ARDS
pertimbangan penggunaan ventilator mekanik (alur gambar 1).
c) 3 langkah yang penting dalam pencegahan perburukan penyakit yaitu sebagai berikut :
Gunakan high flow nasal canilla (HFNC) atau non- invasive mechanical ventilation (NIV) pada pasien dengan ARDS atau efusi paru luas. HFNC lebih disarankan dibandingkan NIV. (alur gambar 1.) Pembatasan resusitasi cairan, terutama pada pasien
dengan edema paru.
Posisikan pasien sadar dalam posisi tengkurang (awake prone position).
c. Prinsip terapi oksigen 1) NRM : 15 liter per menit 2) HFNC
a) Jika dibutuhkan, tenaga kesehatan harus menggunakan respirator (PAPR, N95).
b) Batasi flow agar tidak tidak melebihi 30 liter/menit c) Lakukan pemberian HFNC selama 1 jam, kemudian
lakukan evaluasi. Jika pasien mengalami perbaikan dan mencapai kriteria ventilasi aman (indeks ROX >4,88
32 pada jam ke-2, 6 dan 12 menandakan bahwa pasien tidak mengalami perbaikan dan mencapai kriteria ventilasi aman (indeks ROX >4,88 pada jam ke-2, 6, dan 12 menandakan bahwa pasien tidak membutuhkan ventilasi invasif, sementara ROC <3,85 menandakan risiko tinggi untuk kebutuhan intubasi).
3) NIV
a) Jika dibutuhkan, tenaga kesehatan harus
menggunakan respirator (PAPR, N95)
b) Lakukan pemberian NIV selama 1 jam, kemudian lakukan evaluasi. Jika pasien mengalami perbaikan dan mencapai kroteria ventilasi aman (volume tidal [VT] c) <8 ml/ kg, tidak ada gejala kegagalan pernapasan atau peningkatan FiO2/PEEP) maka lanjutkan ventilasi dan lakukan penilaian ulang 2 jam kemudian.
d) pada kasus ARDS berat, disarankan untuk dilakukan ventilasi invasif.
e) Jangan gunakan NIV pada pasien dengan syok.
f) Kombinasi Awake Prone Position + HFNC/ NIV 2 jam 2 kali sehari dapat memperbaiki oksigenasi dan mengurangi kebutuhan akan intubasi pada ARDS ringan hingga sedang. Hindari penggunaan strategi ini pada ARDS berat.
33 Alur Penentuan Alat Bantu Napas Mekanik
*Keterangan: Bila HFNC tidak tersedia saat diindikasikan, maka pasien langsung diintubasi dan mendapatkan ventilasi mekanik invasive
34 d. Farmakologis
1) Klorokuin fosfat, 500 mg/ 12 jam/ oral (hari ke 1-3) dilanjutkan 250 mg/ 120 jam/ oral (hari ke 4-10) atau Hidroksiklorokuin dosis 400 mg/ 24 jam/ oral (untuk 5 hari), setiap 3 hari control EKG.
2) Azitromisin 500 mg/ 24 jam (untuk 5 hari) atau levofloxacin 750 mg/ 24 jam/ intravena (untuk 5 hari) 3) Bila terdapat kondisi sepsis yang diduga kuat oleh karena
ko-infeksi bakteri, pemilihan antibiotic disesuaikan dengan kondisi klinis, focus infeksi dan faktor risiko yang ada pada pasien. Pemeriksaan kultur darah harus dikerjakan dan pemeriksaan kultur sputum (dengan hati-hati secara khusus) patut dipertimbangkan.
4) Antivirus : Oseltamivir 75 mg/ 12 jam/ oral atau Faviravir (Avigan sediaan 200 mg) loading dose 1600 mg/ 12 jam/ oral hari ke-1 selanjutnya 2x 600 mg (hari ke 2-5).
5) Vitamin C 200-400 mg/ 8 jam dalam 100 cc NaCL 0,9% habis dalam 1 jam diberikan secara drips intravena (IV) 6) Hydroxycortison 100 mg/ 24 jam/ intravena (3 hari
pertama)
7) Pengobatan komorbid dan komplikasi yang ada 8) Obat suportif lainnya.
35 2.2 Konsep Cardiovaskular
2.2.1 Definisi Cardiovaskular
Penyakit kardiovaskular (PKV) adalah penyakit yang disebabkan oleh gangguan fungsi jantung dan pembuluh darah seperti penyakit jant ung coroner, hipertensi, dan stroke (Martiningsih & Haris, 2019).
PKV adalah penyakit kronis yang secara bertahap berevolusi sepanjang hidup, dan tidak menunjukkan gejala untuk waktu yang lama. Biasanya hanya penyakit lanjut yang menyebabkan gejala atau gejala pertama yang dapat terjadi yaitu kematian mendadak (Sonja Frančula-Zaninović, 2018). 2.2.2 Tanda dan Gejala Cardiovaskular
Pada seseorang yang mengalami gangguan pada system karidovaskuler, akan muncul beberapa gejala, antara lain :
1. Nyeri dada dan rasa tidak nyaman
Pada pasien yang mengalami keluhan nyeri dada dan rasa tidak nyaman, seringkali merupakan tanda gejala terjadinya sindrom coroner akut ataupun diseksi aorta. Akan tetapi seringkali pasien tidak mengeluhkan nyeri dada, akan tetapi mengeluh rasa tidak nyaman. Sehingga perlu dilakukan pengkajian anamnesa yang lebih mendalam terhadap keluhan yang muncul dari pasien, karena keluhan rasa tidak nyaman terjadi pada pasien yang stidak selalu mencerminkan tidak keparahan penyakit yang dideritanya. Penyakit janrung coroner sering kali disebut dengan silent diseases, karena penyakit ini seringkali tidak muncul tanda dan gejala pada fase awal, khususnya pada orang lanjut usia atau pada pasien diabetes.
36 Seseorang dapat dikatakan mengalami sesak nafas apabila mengalami perubahan ambang batas pernafasan dari yang diharapkan. Gejala sesak nafas yang muncul pada pasien dapat merupakan tanda khusus yang disebabkan oleh gangguan pada jantung, gangguan pada pernafasan, gangguan neuromuscular, gangguan metabolic ataupun akibat dari toksin atau ansietas.
Pada pasien yang mengalami gangguan system kardiovaskuler, beberapa penyakit yang memunculkan gejala sesak nafas antara lain angina pektoria maupun gagal jantung. Pada angina pectoris pasien mengalami iskemik miokard sehingga pasien menjadi merasa tidak nyaman pada dada. Sedangkan pada pasien gagal jantung, sesak nafas, seringkali muncul akibat kelelahan.
Beberapa gejala sesak nafas lain yang sering muncul sebagai berikut : ortopnea, dyspnea paroksimal nocturnal dan platipnea. Ortopnea merupakan tanda terjadinya gagal jantung yang sudah lanjut, ditandai dengan munculnya sesak nafas pada saat posisi berbaring mendatar. Sedangkan sesak nafas yang muncul mendadak saat pasien tidur sehingga akibat sesak yang dialami pasien menjadi terbangun dari tidurnya disebut dengan dyspnea paroksimal nocturnal. Pada pasien yang mengalami kondisi ini, pasien akan merasa tercekik/ terengah-engah menghirup udara. Kondisi ini disebabkan oleh akumulasi cairan di alveolar. Sedangkan platipnea merupakan munculnya sesak nafas pada saat pasien berada dalam posisi duduk tegak. Hal ini terjadi karena adanya kelainan anatomis dan fungsional.
37 3. Sinkop
Sinkop adalah hilangnya kesadaran akibat hipoperfusi serebral. Pusing, sinkop atau perasaan akan pingsan (prasinkop) dapat disebabkan oleh kelainan kardiovaskular dengan penyebab utama yaitu :
a. Hipotensi postural
Merupakan keadaan penurunan tekanan darah sistolik >20 mmHg dalam kondisi berdiri yang dapat disebabkan oleh hypovolemia, penggunaan obat antihipertensi terutama diuretic dan vasodilator, serta neuropati otonomik.
b. Sinkop neurokardiogenik
Merupakan kondisi yang disebabkan oleh reflex otonomik abnormal. Pingsan murni dapat terjadi pada seseorang yang dipaksa berdiri dalam jangka waktu yang lama dan dalam kondisi lingkungan yang panas, dan juga dapat terjadi karena faktor emosi ataupun nyeri yang berlebihan. Hal ini terjadi akibat penurunan frekuensi jantung yang mendadak atau vasodilatasi. Sebelum terjadi pingsan, pasien ditandai oleh munculnya gejala prodromal antara lain, pusing, pandangan gelap, tinnitus, mual, berkeringat dan wajah pucat. Selanjutnya pasien akan terjadi di lantai. Kondisi ini pasien dalam posisi berbaring, seringkali pasien akan dapat sadar kembali. Hal ini terjadi karena pada posisi berbaring, aliran darah akan kembali ke otak sehingga pasien akan menjadi sadar. c. Aritmia
38 atau prasinkop. Bradiaritmia seringkali penyebab yang mendasari akibat gangguan pada sinoatrial atau blok atrioventrikul. Selain itu, takikardia ventricular juga dapat memunculkan gejala sinkop atau prasinkop.
d. Obstruksi mekanik curah jantung
Kondisi ini dapat menyebabkan terjadinya hambatan ventrikel kiri untuk memompa darah secara maksimal ke seluruh tubuh seperti stenosis aorta yang berat dan kardiomiopati hipertrovik. Hal ini menyebabkan curah jantung menjadi menurun sehingga sirkulasi serebral juga akan terganggu. Gangguan sirkulasi serebral inilah yang akan memunculkan gejala prasinkop atau sinkop. Adanya emboli paru atau tumor jantung juga dapat mencetuskan terjadinya sinkop.
4. Edema
Merupakan penumpukan cairan dalam ruang interstitial. Gangguan kardiovaskuler yang memunculkan gejala edema biasanya akibat dari gagal jantung, penggunaan obat-obatan vasodilator, penyakit vena kronik dan limfedema. Pada gangguan jantung, seringkali edema disertai dengan peningkatan tekanan vena jugularis, bukan merupakan tanda yang bersifat kardiogenik.
5. Palpitasi
Palpitasi merupakan kondisi yang tidak diduga akan detak jantung yang terasa di dalam dada. Hal ini dapat terasa cepat, kuat atau ireguler dan dideskripsikan dipukul-pukul, berdetak keras, melompat-lompat, bergetar, berlomba atau meloncat-loncat. Palpitasi juga dapat
39 muncul akibat penggunaan kafein dan nikotin berlebihan, penggunaan dekongestan, antihistamin maupun obat-obatan stimulant seperti amfetamin, ekstasi dan kokain. Selain itu, palpitasi juga merupakan tanda dan gejala terjadinya takikardia supraventricular.
6. Gejala lainnya
Beberapa gejala non kardiak juga dapat tejadi pada penyakit jantung, misalnya pasien dengan endocarditis infektif, gejala yang muncul berupa penurunan berat badan, rasa letih, demam, dan keringat malam.
2.2.3 Klasifikasi Cardiovaskular
Penyakit kardiovaskuler dibagi menjadi beberapa bentuk adalah sebagai berikut:
1. Penyakit Jantung Koroner (PJK)
Merupakan penyakit akibat gangguan pembuluh darah yang memberi nutrisi ke otot jantung (Nurhidayat, 2014).
2. Hipertensi
Hiperensi didefinisikan sebagai peningkatan tekanan darah sistolik diatas 160 mmHg dan tekanan darah diastolic lebih dari 90 mmHg. Hipertensi dapa meningkatkan beban jantung yang membua dinding jantung menjadi semakin membesar dan akhirnya melemah. Hal ini juga akan meningkatkan stroke, serangan jantung, gagal ginjal dan gagal jantung kongestif (sesak nafas bila beraktivitas, kedua tungkai edema, cepat lelah). Tekanan darah yang tinggi terus menerus akan menyebabkan kerusakan system pembuluh darah arteri secara
perlahan-40 lahan akan mengalami proses pengerasan yang akan diperberat oleh adanya lipid, akhirnya lumen pembuluh darah arteri mengalami penyempitan makan akan terjadi kerusakan otot jantung/ penyakit jantung coroner (Nurhidayat, 2014).
3. Angina pectoris
Suau sindrom klinis dimana klien mendapat serangan dada yang khas, yaitu seperti ditekan atau terasa berat didada yang sering kali menjalar kelengan sebelah kiri. Sakit dada tersebut biasanya timbul pada waktu klien melakukan suatu aktifitas dan segera hilang bila klien menghentikan aktifitas (Nurhidayat, 2014).
4. Infark Miokard Akut (IMA)
Infark Miokard Akut merupakan kematian jaringan miokard akibat oklusi akut pembuluh darah coroner. Infark miokard akut adalah kematian sel-sel miokardium yang terjadi akibat kekurangan oksigen berkepanjangan. Hal ini adalah respon letal terakhir terhadap iskemia miokardium yang tidak teratasi. Sel-sel miokardium mulai mati setelah sekitar 20 menit mengalami kekurangan oksigen. Setelah periode ini, kemampuan sel untuk menghasilkan ATP secara aerobis lenyap, dan sel tidak dapat memnuhi kebutuhan energinya (Nurhidayat, 2014).
2.2.4 Faktor Risiko Cardiovaskular
Terdapat berbagai faktor risiko untuk terjadinya penyakit kardiovaskular yaitu faktor risiko yang tidak dapat dimodifikasi (usia, jenis kelamin, dan riwayat keluarga), dan faktor risiko yang dapat dimodifikasi antara lain : peningkatan kadar lipid serum, hipertensi, merokok, diabetes mellitus, aktifitas fisik kurang, stress psikososia, obesitas, dan peningkatan
41 kadar Homosistein) (Engelin E, 2017).
Faktor risiko penyakit kardiovaskular adalah sebagai berikut : 1. Merokok
Suatu kegiatan yang dilakukan seseorang dengan menghisap rokok yang mengandung lebih dari 1200 bahan-bahan yang kompleks, antara lain : Nikotin Ben Zpyrine, Hydrogen sianida, Asetelin, Benzaldetia, Metil Klorod, Orto Kresol, Resoltinor, Akrotein, dan Karbon Monoksida. Perokok mempunyai risiko 2-4 kali lebih tinggi dari pada bukan perokok terserang penyakit jantung dan stroke (Nurhidayat S, 2014).
Menurut beberapa hasil penelitian, mengungkapkan bahwa merokok dapat menaikkan tekanan darah. Senyawa dalam rokok yang diduga dapat meningkatkan tekanan darah adalah nikotin. Nikotin dapat meningkatkan penggumpalan dalam darah dan menyebabkan pengapuran pada dinding pembuluh darah. Selain itu, risiko terjadi meningkatnya tekanan darah akibat merokok dapat diketahui melalui perilaku merokok seseorang (Lestari Endang, DKK, 2014).
Merokok dapat menignkatkan konsentrasi fibrinogen, dimana peningkatan ini akan mempermudah terjadinya penebalan dinding pembuluh darah juga peningkatan ciskositas darah. Rokok juga dapat merangsang proses ateroskelerosis karena efek langsung karbon monoksida pada dinding arteri, kemudian nikotin dapat menyebabkan mobilisasi katekolamin juga menyebabkan kerusakan endotel arteri, selain itu rokok juga dapat memicu penurunan HDL, meningkatkan fibrinogen dan memacu agregasi trombosit, serta mengurangi daya
42 angkut oksigen ke jaringan perifer (Lestari Endang, dkk, 2014)
2. Diet yang salah
WHO menjelaskan terdapat 18 juta penduduk dunia usia di bawah lima tahun mengalami overweight. Beberapa studi telah membutkikan beberapa zat makanan berpernanan terhadap peningkatan risiko penyakit jantung dan stroke. Apabila mengkonsumi kalori lebih banyak daripada yang digunakan dalam aktifitas sehari-hari, kelebihan kalori akan disimpan dalam bentuk timbunan lemak, terutama yang bahaya jika disimpan di dinding pembuluh darah karena akan menyebabkan penebalan dinding pembuluh darah (aterosklerosis), hipertensi, diabetes mellitus, berat badan berlebihan yang semuanya merupakan faktor risiko penyakit jantung dan stroke. WHO merekomendasikan program diet dan aktifitas fisik untuk masyarakat dan individu dalam mengurangi penyakit kardiovaskular. Program diet yang dimaksud adalah dengan memenuhi keseimbangan energi dan berat badan sehat, membatasi intake lemak dan mengalihkan konsumsi lemak jenuh ke lemak tidak jenuh, meningkatkan konsumsi buah-buahan dan syuran serta kacang-kacangan, membatasi penggunaan gula bebas, dan membatasi garam dari semua sumber dan memastikan garam adalam beryodium (Nurhidayat, 2014).
3. Jenis kelamin
Perempuan lebih rentan terkena penyakit kardiovaskuler dibandingkan dengan laki-laki. Para ahli telah meneliti faktor risiko penyakit kardiovaskuler dan bagaimana perempuan sangat rentan terkena penyakit ini. Faktor utama penyakit kardiovaskuler pada
43 perempuan adalah merokok, hipertensi, dislipidemia, diabetes mellitus, obesitas/kegemukan, kurang aktifitas dan diet yang salah. Diabetes merupakan faktor risiko yang sangat kuat bagi perempuan, dengan meningkatkan risiko serangan penyakit jantung 3-7 kali dibandingkan 2-3 kali pada laki-laki. Penyakit kencing manis sama saja sedang menderita serangan jantung atau kencing manis equivalen dengan penyakit jantung.
4. Alkohol
Menurut Step Wise peminum alkohol pada laki-laki frekuensi minumnya ≥ 5 kali, sedangkan pada wanita frekuensi minum alkohol ≥ 4 kali dalam waktu 30 hari. Status epimiologi yang dilakukan terhadap beberapa orang telah diakui bahwa konsumsi alkohol dosis sedang berhubungan dengan penurunan mortalitas penyakit kardiovaskular, tetapi konsumsi alkohol dosis tinggi berhubungan dengan peningkatan mortalitas penyakit kardiovaskular. Peningkatan dosis pada alkohol dengan peningkatan mortalita kardiovaskuler karena aritmia, hipertensi sistemik, dan kardiomiopati dilatasi (Nurhidayat, 2014).
5. Obesitas
Menurut LeMone, Burke, & Baudoff (2014) faktor lain yang terkait dengan risiko penyakit kardiovakular yaitu obesitas yang merupakan kondisi kelebihan simpanan lemak di jaringan adipose sehingga dampaknya adalah peningkatan indeks massa tubuh dan lingkar pinggang. Obesitas dapat menyebabkan peningkatan kerja otot jantung sehingga meningkatkan kebutuhan okesigen jantung dan organ tubuh lainnya. Tedapat saling keterkaitan antara obesitas dengan risiko
44 peningkatan penyakit kardiovaskular, hipertensi, angina, stroke, diabetes, dan merupakan beban penting pada kesehatan jantung dan pembuluh darah (Martiningsih & Haris, 2019).
6. Hipertensi
Hipertensi didefinisikan sebagai peningkatan tekanan darah sistolik diatas 160 mmHg dan tekanan darah diastolic lebih dari 90 mmHg. Hipertensi dapat meingkatkan beban jantung yang membuat dinding jantung menjadi semakin membesar dan akhirnya melemah. Hal ini juga akan meningkatkan stroke, serangan jantung, gagal ginjal dan gagal jantung kongestif (sesak nafas bila aktivitas, edema kedua tungkai, cepat lelah). Tekanan darah yang tinggi terus menerus akan menyebabkan kerusakan system pembuluh darah arteri secara perlahan-lahan akan mengalami proses pengerasan yang akan diperbe rat oleh adanya lipid, akhirnya lumen pembuluh darah areri menyempit dan aliran darah kurang bahkan berhenti. Jika arteri coroner yang mengalami penyempian maka akan terjadi kerusakan otot jantung/ penyakit jantung koroner (Nurhidayat, 2014).
2.2.5 Pencegahan Cardiovaskular
Penyakit kardiovaskular dapat diperbaiki oleh pengurangan faktor risiko, dengan demikian pencegahan primer adalah perlunya berhenti merokok, optimalisasi berat badan, dan pentingnya olahraga. AHA merekomendasikan diet untuk menghentikan hipertensi dan kolestrol lipoprotein desintas rendah, sebagai berikut : diet tinggi serat, rendah gula, rendah garam dan lemak jenuh, asupan buah dan sayuran (Stewart Jack,
45 2017).
Pencegahan dari faktor risiko lainnya yaitu berhenti merokok, karena dengan penghentian rokok merupakan salah satu cara yang paling efektif misalnya dari segi biaya dalam pencegahan dari faktor risiko kardiovaskuler (Stewart Jack, 2017).
2.2.6 Penanganan Cardiovaskular
Upaya dalam penanganan cardiovaskular adalah dengan pengendalian faktor risiko dari penyakit kardiovaskular. Pengendalian faktor risiko yang harus dicapai dapat mengikuti pedoman yang sudah sesuai dan tersedia untuk hal tersebut baik dari organisasi dari luar Indonesia (Eropa, Amerika Serikat) maupun dari PERKI sendiri. Pengendalian faktor risiko :
1. Berhenti merokok
Individu yang mempunyai faktor risiko atau yang sehat harus berhenti total merokok baik rokok konvensional maupun elektrik, serta menghindarkan diri dari lingkungan yang penuh asap rokok. Upaya berhenti merokok harus komprehensif, diberikan motivasi yang kuat dan terus menerus, ditemukan masalah dan alasan merokok dan digali motivasi untuk berhenti merokok secara seksama, tanpa terkesan menyalahkan. Kegiatan ini dapat dilakukan oleh dokter SpJP, dapat berkolaborasi dengan dokter spesialis lain, psikolog atau pemberian asuhan keperawatanlain bila perlu dirujuk ke pusat pelayanan khusus untuk hal tersebut atau membentuk klinik berhenti merokok sendiri yang melibatkan berbagai profesi.
2. Pengendalian hipertensi
46 farmakologis seperti pembatasan asupan garam, latihan fisik intensitas sedang yang teratur, dan dengan mencapai berat badan ideal. Pengendalian tekanan darah tinggi dengan obat-obatan dapat mengacu kepada pedoman yang khusus untuk pengendalian hipertensi dari penghimpunan profesi. Pengendalian hipertensi dengan cara non farmakologis maupun dengan obat-obatan dapat dilakukan bersama dengan dokter lain atau profesi lain yang dapat memberikan nasihat mengenai upaya pengontrolan tekanan darah.
3. Pengendalian berat badan berlebih
Berat badan harus dikendalikan hingga berat badan mecapai idealnya dengan indeks massa tubuh >25 kg/m2. Pengendalian berat badan dilakukan dengan pengendalian asupan kalori melalui pengaturan diet terarah dan latihan fisik teratur. Kegiatan pengendalian berat badan dapat dilakukan dengan berkolaborasi dengan dokter spesialis lain atau dengan pemberian asuhan keperawatan lain.
4. Pengendalian hidup sedentary/ kurang aktifitas fisik
Untuk mengatasi keadaan kurang aktivitas fisik perlu diberikan program edukasi khusus, program rehabilitasi yang mencakup peningkatan motivasi dan pembuatan program latihan fisik yang nyaman, aman dan efektif hingga dapat mencapai target aktifitas fisik sedang dengan frekuesi minimal 5 menit dalam seminggu, minimal 30 menit setiap sesi.
2.3 Penanganan COVID-19 Dengan Penyakit Cardiovaskular
47 cardiovaskuler effect :
2.3.1 Chloroquine/hydroxyl-chloroquine
Chloroquine merupakan salah satu golongan obat anti-malaria yang digunakan sebagai salah satu terapi potensial COVID-19 dengan penyakit cardiovascular. Penggunaan chloroquine perlu perhatian khusus seperti pada beberapa gangguan seperti cardiomyopathy, ventricular arrhythmias, uncorrected hypokalaemia/pomagnesaemia, bradycardia (<50 bpm), concomitant administration of QT-Polonging agent, hepatic disease and co-administration with orther hepatotoxic drugs. Penggunaan chloroquine pada gangguan-gangguan tersebut memiliki beberapa efek samping yaitu, QT-interval prolongaticon, thrombocytopenia dan anemia. Untuk mencegah terjadinya komplikasi lebih lanjut, chloroquine tidak boleh diberikan pada pasien dengan cardio myopathy/ heart failure, conduction Disorders (AV Block), torsades de pointes, ventricular arrhythmias. 2.3.2 Ribavirin
Ribavirin merupakan salah satu jenis obat golongan antivirus yang biasa digunakan untuk penanganan Hepatitis C. Namun pada masa pandemic ribavirin memiliki peran untuk mengurangi gejala COVID-19 pada pasien dengan penyakit cardiovascular. Ribavirin digunakan pada pasien dengan ischaemic heart disease. Penggunaan ribavirin dapat menyebabkan anemia pada pasien jantung coroner yang berlanjut dengan komplikasi berupa infark miokard. Beberapa efek samping yang terjadi pada penggunaan ribavirin adalah thrombocytopenia dan haemolytic anemia.
48 2.3.3 Lopinavir/Ritonavir
Lopinavir-ritonavir merupakan perpaduan obat antivirus yang biasa digunakan dalam pengobatan HIV. Lopinavir-ritonavir bekerja dengan menghambat proses pembelahan virus. Pada masa pandemic, lopinavir-ritonavir digunakan pada pasien dengan conduction system disease, ischaemic heart disease, cardiomyopathy or structural heart disease, uncorrected hypokalamaemia or hypomagnesaemia, concomitant administration of QT-or PR- prolonging agents. Penggunaan lopinavir-ritonavir dapat menyebabkan beberapa efek samping seperti hyperlipidemia dan hipertrigliseridemia. Lopinavir-ritonavir tidak dapat digunakan pada pasien-pasien dengan hepatotoxicity, QT and PR interval Prolongation, torsades de pointes, second- and third-degree AV block. 2.3.4 Tocilizumab
Tocilizumab adalah obat injeksi yang masuk dalam golongan anti-inflamasi. Obat ini biasa digunakan pada pasien dengan rheumatoid arthritis untuk mengurangi peradangan yang terjadi. Meski diklaim sebagai terapi potensial COVID-19 dengan penyakit cardiovascular, tocilizumab memiliki beberapa efek samping seperti peningkatan tekanan darah tinggi, trombositopenia, elevated liver transaminases dan hyperlipidemia. Penggunaan tocilizimab pada pasien dengan hepatotoxicity tidak disarankan.
2.3.5 Interferon alpha 2B
Interferon alpha 2B adalah obat yang bekerja untuk meningkatkan sistem kekebalan tubuh dan diharapkan dapat menghambar pertumbuhan
49 virus, bakteri dan kanker. Penggunaan interferon alpha 2B pada decompensated liver disease memiliki efek samping seperti hipertensi, thrombocytopenia, anemia, elevated liver transaminases dan hypertriglieseridemia. Interferon alpha 2B tidak disarankan pada pasien dengan hepatotoxicity, thyroid dysfunction, pericarditis, ischaemic and harmorrhagic cere-brovaskuler event, arrhythmias, myocardial ischaemia/infarction, cardiomyopathy.