BAB II CYBER PORNOGRAPHY SEBAGAI VARIAN DARI
C. Definisi dan Karakteristik Cyber Pornography
Cyber Pornography berasal dari dua kata, yaitu cyber dan
pornography. Cyber merupakan singkatan dari cyber space. Kata cyber
berasal dari kata cybernetics yang merupakan suatu bidang ilmu yang memadukan antara robotik, matematik, elektro dan psikologi.15 Cyber spaceyaitu sebuah ruang imajiner atau “maya”. Cyber spacesesungguhnya merupakan sebuah dunia komunikasi berbasis komputer yang menawarkan realitas baru dalam kehidupan manusia yang disebut dengan realitas virtual
(maya).16Singkatnya, katacyberdisini dapat diartikan sebagai dunia maya. Sedangkan pornography berasal dari bahasa Yunani, yaitu porne dan
graphein yang secara harfiah berarti “tulisan tentang pelacur”.17 Pornografi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia yaitu penggambaran tingkah laku secara erotis dengan lukisan atau tulisan untuk membangkitkan nafsu birahi.18
Sebenarnya belum ada definisi khusus yang disepakati oleh para ahli mengenaicyber pornography. Dari beberapa literatur yang penulis telusuri,
14
Criminalita Informatica, “Undang-undang yang Mengatur tentang Cyber Crime”, artikel
diakses pada 26 November 2014 dari http://criminalita-informatica.blogspot.com/2013/05/undang-undang-yang-mengatur-tentang.html.
15
Adek We, “Cyber Crime”, artikel diakses pada 30 November 2015 dari
http://www.academia.edu/6752746/CYBER_CRIME.
16
Abdul Wahid dan Mohammad Labib,Kejahatan Mayantara (Cyber Crime), h. 32.
17
Relly Komaruzaman, “Pornografi”, artikel diakses pada 26 Nopember 2014 dari http://id.m.wikipedia.org/wiki/pornografi.
18
pengertian daricyber pornographyhanya berkisar pada terjemahan dari kata tersebut, yaitu pornografi dunia maya. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa cyber pornography dapat diartikan sebagai penyebarluasan muatan atau materi pornografi dalam dunia maya melalui teknologi informasi berupa internet. Selain itu, pencemaran nama baik dan penyebarluasan fitnah dalam bentuk tulisan, gambar, maupun video yang mengandung unsur pornografi ke dalam internet juga termasuk dalam ruang lingkup cyber pornography.
Dunia maya (cyber/virtual world) atau internet dan World Wide Web
(www) saat ini sudah sangat penuh (berlimpah) dengan bahan-bahan pornografi atau yang berkaitan dengan masalah seksual. Menurut perkiraan, 40 % dari berbagai situs di www menyediakan bahan-bahan seperti itu. Bahkan dinyatakan dalam tesis Peter David Goldberg, yang bersumber dari
Nua Internet Surveys 2001 bahwa seks merupakan topik paling populer di internet (the most populer topic on the internet). Dalam tesis Goldberg dikemukakan pula bahwa perdagangan bahan-bahan porno melalui internet sudah mencapai miliaran dolar US per tahun, sekitar 25 % pengguna internet mengunjungi lebih dari 60.000 situs seks tiap bulan dan sekitar 30 juta orang memasuki situs seks setiap hari.19
Di Indonesia sendiri, beberapa tahun belakang masih sedikit sekali adanya warung internet (warnet) di sepanjang jalan raya, namun sekarang warnet sudah terdapat dimana-mana bahkan tidak hanya di sepanjang jalan
19
Barda Nawawi Arief,Tindak Pidana Mayantara: Perkembangan Kajian Cyber Crime di
raya namun sudah masuk di gang-gang perkampungan. Dengan demikian maka akan sulit untuk mencegah masyarakat khususnya generasi muda yang demam internet bahkan anak-anak membuka situs-situs porno yang telah tersedia di jaringan internet. Ironisnya mereka tidak hanya membuka secara sekilas saja, namun hingga menyebabkan ketagihan.
Berawal dari rasa penasaran dan karena terbawa teman maka mulailah mengklik muatan pornografi di dunia maya. Lama-kelamaan intensitas kunjungan ke situs porno pun semakin rutin. Dilandasi rasa penasaran yang cukup tinggi, maka semakin sering mengakses tautan pornografi.
Seorang ahli bedah otak dari Amerika Serikat Dr. Donald Hilton Jr, mengatakan bahwa pornografi sesungguhnya merupakan penyakit, karena mengubah struktur dan fungsi otak, atau dengan kata lain merusak otak. Terjadi perubahan fisiologis ketika seseorang memasukkan gambar-gambar pornografi lewat mata ke otaknya.20 Kerusakan yang dihasilkannya pun sangat dahsyat. Kecanduan pada pornografi di dunia maya sebenarnya sama seperti kecanduan pada narkotika, perbedaannya jika kecanduan narkoba jelas terlihat efeknya, sedangkan kecanduan pornografi tidak terlihat secara fisik.
20Diah Kartika,
“Pornografi Merusak Otak 2x Lebih Parah Ketimbang Narkoba”, artikel
diakses pada 26 November 2014 dari http://m.kompasiana.com/post/read/652057/3/pornografi-merusak-otak-2x/lebih-parah-ketimbang-narkoba.html.
26
CYBER PORNOGRAPHY
A. Cyber Pornographydalam Peraturan Perundang-undangan Indonesia
Cyber crime telah menjadi bahaya nyata yang merugikan masyarakat dan negara. Setiap pengguna komputer saat memasuki dunia maya melalui jaringan internet sama artinya dengan memposisikan dirinya akan menjadi korban berbagai bentuk informasi global yang bersifat menjerat, menyesatkan, menipu dan mengorbankannya.1
Sudah menjadi rahasia umum, bahwa internet dipenuhi dengan informasi yang kadang kala berlebihan. Salah satu informasi tersebut atau bahkan tidak bisa dibilang informasi adalah materi pornografi. Internet telah
menjadi semacam ‘referensi’ dalam mencari materi yang berbau pornografi.
Hal ini cukup sulit untuk dicegah, karena dalam hal ini informasi tersebar tanpa batas di internet. Walaupun masih bisa diberikan peringatan, bahwa suatu situs tidak sepatutnya untuk dikunjungi, tetapi tetap saja bisa dikunjungi.2
Telah menjadi kesulitan baru bahwa pergerakan pornografi sudah merambah ke dalam dunia maya. Masalah yang ditimbulkan pornografi di dunia maya pun saat ini sudah demikian kompleks. Dari mulai materinya
1
Abdul Wahid dan Mohammad Labib, Kejahatan Mayantara (Cyber Crime), (Bandung :
Refika Aditama, 2010), h. 132.
2
Syarif Hidayatullah dan Zulfikar s dharmawan,Islam Virtual Keberadaan Dunia Islam di
yang semakin eksplisit/vulgar dan menjijikan, sehingga membuat banyak anggota masyarakat yang tergoda untuk mengaksesnya, sampai masalah pendistribusiannya yang masih dapat terjangkau generasi muda termasuk anak-anak SD. Sedangkan aparat belum sepenuhnya memahami bagaimana melakukan upaya penegakkan hukum dengan menggunakan ketentuan hukum yang berlaku.
Hal ini menjadi salah satu pendorong bagi pembuat Undang-undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) untuk menjerat pornografi di lingkungan dunia maya. Sebagaimana diatur dalam beberapa pasal dalam undang-undang ini sebagai perbuatan yang dilarang. Pasal 27 ayat 1 mengatur perbuatan yang dilarang dalam hal penyebaran/pendistribusian muatan melanggar kesusilaan atau pornografi sebagaimana berbunyi sebagai berikut.
“Setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang memiliki muatan yang melanggar kesusilaan.”3
Pasal ini memiliki sanksi pidana yang ditentukan dalam Pasal 45 ayat (1), dimana berbunyi:
“Setiaporang yang memenuhi unsur sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27 ayat (1), ayat (2), ayat (3), atau ayat (4) dipidana dengan pidana penjara
3
Pasal 27 ayat 1 Undang-undang Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik.
paling lama 6 (enam) tahun dan/atau denda paling banyak
Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah).”4
Konstruksi Pasal 27 ayat 1 di atas menjelaskan perkembangan modus kejahatan dan/atau pelanggaran dengan media komputer/internet (dalam bentuk informasi/dokumen elektronik). Hal tersebut sangatlah penting khususnya membantu para penegak hukum dalam memproses dan mengadili kasus-kasus yang telah menggunakan media informasi elektronik untuk memuluskan kejahatan/pelanggaran yang dilakukan.5
Setidaknya terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pasal-pasal tersebut, diantaranya dalam hal penetapan pelaku (subjek hukum). Pelaku yang dapat dijerat oleh ketentuan Pasal 27 ayat 1 UU ITE adalah pihak yang mendistribusikan, mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang memiliki muatan yang melanggar kesusilaan, sedangkan pihak yang memproduksi dan yang menerima distribusi dan transmisi tersebut tidak dapat terjerat dengan pasal ini. Selain itu pihak yang mengakses muatan tersebut juga tidak dapat dipidana dengan pasal ini.6
Dalam hal ini, diperlukan kecermatan dan kehati-hatian dalam mengimplementasikan undang-undang ini agar tidak terjadi kesalahan dalam penangkapan dan pengenaan pasal yang dituntutkan. Menurut Budi
4
Pasal 45 ayat 1 Undang-undang Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik.
5
Maskun,Kejahatan Siber Cyber Crime; suatu pengantar, (Jakarta : Kencana, 2014), h.
34.
6
Budi Suhariyanto, Tindak Pidana Teknologi Informasi (Cyber Crime): Urgensi
Suhariyanto, setidaknya terdapat empat pihak yang bekerja dalam hal mewabahnya pornografi dunia maya, yaitu: yang memproduksi (produsen/pembuat), yang menyebarkan (distributor), yang menerima penyebaran dan/atau pihak yang mengakses. Seharusnya jika memang tujuan dari pencegahan dan penanggulangan kejahatan pornografi di dunia maya adalah sama dengan pencegahan dan penanggulangan kejahatan psikotropika misalnya, yaitu betul-betul memberantas sungguh-sungguh rantai kejahatan dari pangkal (produsen) sampai dengan ujung (konsumen), maka seharusnya yang dijadikan sasaran pidana tidak hanya distributor saja, akan tetapi ketiga pihak lain yang notabenenya mendukung aktivitas tersebut juga patut dikenakan. Dengan demikian pihak-pihak yang menyuburkan pornografi di Indonesia akan berpikir ulang untuk turut serta dalam rantai kejahatan tersebarnya pornografi dunia maya.7
Seperti halnya dalam kasus penyebaran video porno antara Ariel Peterpan dengan Luna Maya dan Cut Tari. Dalam kasus tersebut, Ariel sebagai pembuat video tersebut, tidak dikenakan pasal 27 ayat 1 UU ITE, namun dikenakan Pasal 29 jo. Pasal 4 ayat (1) UU Nomor 44 tahun 2008 tentang Pornografi jo. pasal 56 ke-2 KUHP sebagaimana disebutkan dalam uraian selanjutnya.8
Adapun Pasal 34 UU ITE digunakan untuk menjerat produsen dan pemilik perangkat lunak dan perangkat keras dalam hal program muatan pornografi sebagaimana berbunyi sebagai berikut.
7
Budi Suhariyanto,Tindak Pidana Teknologi Informasi, h. 163.
8
Syahrul Machmud, Penerapan Undang-undang Pornografi pada kasus Ariel Peterpan,
(1) Setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak atau melawan hukum memproduksi, menjual, mengadakan untuk digunakan, mengimpor, mendistribusikan, menyediakan, atau memiliki:
a. perangkat keras atau perangkat lunak Komputer yang dirancang atau secara khusus dikembangkan untuk memfasilitasi perbuatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27 sampai dengan Pasal 33; b. sandi lewat Komputer, Kode Akses, atau hal yang sejenis
dengan itu yang ditujukan agar Sistem Elektronik menjadi dapat diakses dengan tujuan memfasilitasi perbuatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27 sampai dengan Pasal 33.
(2) Tindakan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bukan tindak pidana jika ditujukan untuk melakukan kegiatan penelitian, pengujian Sistem Elektronik, untuk perlindungan Sistem Elektronik itu sendiri secara sah dan tidak melawan hukum.9
Pasal ini memiliki sanksi pidana yang ditentukan dalam Pasal 50, dimana berbunyi:
“Setiaporang yang memenuhi unsur sebagaimana dimaksud dalam Pasal 34 ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan/atau denda paling banyak Rp10.000.000.000,00 (sepuluh miliar rupiah).”10
Selain itu, Undang-undang Nomor 44 Tahun 2008 tentang Pornografi (UU Pornografi) juga dapat digunakan untuk menangani masalah pornografi dunia maya. Sebagaimana diatur dalam beberapa pasal dalam undang-undang ini sebagai perbuatan yang dilarang. Adapun pasal-pasal yang dapat digunakan dalam hal ini yaitu sebagai berikut.
Pasal 4
(1) Setiap orang dilarang memproduksi, membuat, memperbanyak, menggandakan, menyebarluaskan, menyiarkan, mengimpor, mengekspor, menawarkan, memperjualbelikan, menyewakan, atau menyediakan pornografi yang secara eksplisit memuat:
9
Pasal 34 ayat 1 dan 2 Undang-undang Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik.
10
Pasal 50 Undang-undang Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik.
a. persenggamaan, termasuk persenggamaan yang menyimpang; b. kekerasan seksual;
c. masturbasi atau onani;
d. ketelanjangan atau tampilan yang mengesankan ketelanjangan; e. alat kelamin; atau
f. pornografi anak.
(2) Setiap orang dilarang menyediakan jasa pornografi yang:
a. menyajikan secara eksplisit ketelanjangan atau tampilan yang mengesankan ketelanjangan;
b. menyajikan secara eksplisit alat kelamin;
c. mengeksploitasi atau memamerkan aktivitas seksual; atau
d. menawarkan atau mengiklankan, baik langsung maupun tidak langsung layanan seksual.11
Pasal ini memiliki sanksi pidana yang ditentukan dalam Pasal 29, dimana berbunyi:
“Setiap orang yang memproduksi, membuat, memperbanyak, menggandakan, menyebarluaskan, menyiarkan, mengimpor, mengekspor, menawarkan, memperjualbelikan, menyewakan, atau menyediakan pornografi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling singkat 6 (enam) bulan dan paling lama 12 (dua belas) tahun dan/atau pidana denda paling sedikit Rp250.000.000,00 (dua ratus lima puluh juta rupiah) dan paling banyak Rp6.000.000.000,00 (enam miliar rupiah).”12
Adapun Pasal 5 UU Pornografi digunakan bagi pihak yang meminjamkan atau mengunduh muatan pornografi di dunia maya, sebagaimana bunyi pasalnya sebagai berikut.
“Setiap orang dilarang meminjamkan atau mengunduh pornografi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (1).”13
Pasal ini memiliki sanksi pidana yang ditentukan dalam Pasal 31, dimana berbunyi:
11
Pasal 4 ayat 1 dan 2 Undang-undang Republik Indonesia Nomor 44 Tahun 2008 tentang Pornografi.
12
Pasal 29 Undang-undang Republik Indonesia Nomor 44 Tahun 2008 tentang Pornografi.
13
“Setiap orang yang meminjamkan atau mengunduh pornografi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 dipidana dengan pidana penjara paling lama 4 (empat) tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp2.000.000.000,00 (dua miliar rupiah).”14
Dalam pasal 4 ayat (1) UU Pornografi di atas, yang dimaksud dengan “membuat” adalah tidak termasuk untuk dirinya sendiri dan kepentingan sendiri. Sedangkan dalam pasal 5 UU Pornografi, yang dimaksud dengan “mengunduh” (download) adalah mengambil fail dari jaringan internet atau jaringan komunikasi lainnya.
B. Unsur Kriminal & Pertanggungjawaban PidanaCyber Pornography
1. Unsur Kriminal
Suatu perbuatan yang ditetapkan sebagai perbuatan yang diancam pidana disebut kriminalisasi. Terdapat beberapa kriteria perlunya suatu perbuatan dikriminalisasikan antara lain:
1.) Penggunaan hukum pidana harus memperhatikan tujuan pembangunan nasional yaitu mewujudkan masyarakat adil dan makmur yang merata materiil dan spirituil berdasarkan Pancasila.
2.) Perbuatan yang diusahakan untuk dicegah atau ditanggulangi dengan hukum pidana harus merupakan perbuatan yang tidak dikehendaki yaitu perbuatan yang mendatangkan kerugian (materiil dan atau spiritual) bagi warga masyarakat.
14
3.) Penggunaan hukum pidana harus pula memperhitungkan prinsip biaya dan hasil (cost and benefit principle)
4.) Penggunaan hukum pidana harus pula memperhatikan kapasitas atau kemampuan daya kerja dari badan hukum yaitu jangan sampai ada kemampuan beban tugas (overbelasting).15
Perbuatan pornografi dapat memberikan dampak negatif terhadap moralitas bangsa Indonesia, dan juga menimbulkan berbagai macam kejahatan lain sehingga dapat merugikan orang banyak. Selain itu, perbuatan pornografi merupakan bentuk perbuatan yang dilarang oleh norma agama, kesopanan, kesusilaan masyarakat, maka perbuatan pornografi tersebut merupakan perbuatan yang tercela, sehingga secara substansial layak dinyatakan sebagai perbuatan kriminal.
Dalam teks Pasal 27 ayat (1) UU ITE, terdapat tiga unsur yang dapat dikategorikan sebagai unsur kriminal dalam pornografi dunia maya, diantaranya:
a. Unsur Subjektif pada pelaku, yaitu unsur kesalahan
Dengan tercantumkannya “dengan sengaja”, maka perlu dibuktikan mengenai kesengajaan dari pelaku dalam hal melakukan delik yang diancamkan. Sebagaimana pada umumnya motivasi para pelakucyber crime
terkadang adalah hanya sekedar iseng atau bermain-main saja. Tanpa ada niat atau motif yang secara sungguh-sungguh untuk kepentingan ekonomi dirinya misalnya. Unsur kesalahan ini sangat penting untuk menjadi bahan
15
pertimbangan hakim dalam hal pemberian pemberatan ataupun peringanan bagi pelaku.16
b. Unsur Melawan Hukum
Dalam pasal ini tidak dijelaskan secara eksplisit mengenai arti atau
makna yang dimaksud dengan “tanpa hak”. Menurut Sutan Remi Syahdeni, kandungan arti “tanpa hak” bila dikaitkan dengan tindak pidana komputer adalah “tanpa memiliki kewenangan” atau “tanpa memperoleh izin”.17
Sedangkan menurut Budi Suhariyanto, akan lebih baik jika kata “tanpa hak” diartikan sebagai “melawan hukum”, karena jika kata “tanpa hak” diartikan sebagai “tanpa wewenang/memperoleh izin” maka akan menjadi permasalahan tersendiri, yaitu apakah ada pihak yang berwenang untuk memberikan izin penyebaran pornografi melalui Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik?18
Jika demikian maka perlu ditegaskan juga siapa dan bagaimana prosedur dalam memperoleh izin tersebut? Dalam hal ini UU ITE tidak menjelaskannya. Oleh karena itu, akan menjadi polemik tersendiri jika ditafsirkan dengan demikian. Maka, penulis sependapat apabila kata “tanpa hak” tersebut diartikan sebagai “melawan hukum”.
c. Unsur Kelakuan
Dalam pasal ini dijelaskan terdapat tiga perbuatan yang dilarang yaitu: mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat
16
Budi Suhariyanto,Tindak Pidana Teknologi Informasi, h. 108.
17
Sutan Remi Syahdeni,Kejahatan dan Tindak Pidana Komputer, (Jakarta : Pustaka Utama
Graffiti, 2009), h. 227.
18
diaksesnya Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang memiliki muatan yang melanggar kesusilaan. Dalam perspektif subjek yang terkena keberlakuan dari UU ITE adalah semua orang pada umumnya baik itu yang telah dewasa maupun anak-anak. Adapun Pasal 52 ayat (1) mengatur pemberatan sanksi pidana jika objek kesusilaan/pornografinya adalah anak-anak sebagaimana berbunyi sebagai berikut:
“Dalam hal tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27 ayat (1) menyangkut kesusilaan atau eksploitasi seksual terhadap anak dikenakan pemberatan sepertiga dari pidana pokok.”19
Dari teks Pasal 52 ayat (1) ini terdapat pemberatan pidana sepertiga lebih berat dibandingkan dengan ancaman pidana pornografi umum. Hal ini bisa dipahami sebagai sinkronisasi sistematika perundang-undangan kita yang telah mengatur ketentuan bahwa jika setiap tindak pidana yang melibatkan anak-anak sebagai korban tindak pidana, maka pemberatan pidana menjadi sepertiga lebih berat daripada ancaman pidana umumnya.20 2. Pertanggungjawaban pidana
Pertanggungjawaban pidana pada hakikatnya mengandung makna pencelaan pembuat (subjek hukum) atas tindak pidana yang telah dilakukannya. Oleh karena itu, pertanggungjawaban pidana mengandung didalamnya pencelaan objektif dan pencelaan subjektif. Artinya, secara objektif si pembuat telah melakukan tindak pidana (perbuatan terlarang/melawan hukum dan diancam pidana menurut hukum yang
19
Pasal 52 ayat 1 Undang-undang Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik.
20
berlaku) dan secara subjektif si pembuat patut dipersalahkan/dipertanggungjawabkan atas tindak pidana yang dilakukannya itu sehingga ia patut dipidana.21
Dalam hal penyebarluasan pornografi di internet, yang dapat dikenakan pertanggung-jawaban pidana adalah:
a. Orang yang memproduksi, membuat, memperbanyak, menggandakan, menyebarluaskan, menyiarkan, mengimpor, mengekspor, menawarkan, memperjualbelikan, menyewakan, atau menyediakan pornografi (pasal 29 jo. Pasal 4 ayat (1) UU Pornografi)
b. Orang yang menyediakan jasa pornografi yang:
1) menyajikan secara eksplisit ketelanjangan atau tampilan yang mengesankan ketelanjangan;
2) menyajikan secara eksplisit alat kelamin;
3) mengeksploitasi atau memamerkan aktivitas seksual; atau
4) menawarkan atau mengiklankan, baik langsung maupun tidak langsung layanan seksual (pasal 30 jo. pasal 4 ayat [2] UU Pornografi)
c. Setiap orang yang meminjamkan atau mengunduh pornografi yang secara eksplisit memuat:
1) menyajikan secara eksplisit ketelanjangan atau tampilan yang mengesankan ketelanjangan;
2) menyajikan secara eksplisit alat kelamin;
21
Barda Nawawi Arief,Tindak Pidana Mayantara Perkembangan Kajian Cyber Crime di
3) mengeksploitasi atau memamerkan aktivitas seksual; atau
4) menawarkan atau mengiklankan, baik langsung maupun tidak langsung layanan seksual (pasal 31 jo. pasal 5 UU Pornografi). d. Orang yang memperdengarkan, mempertontonkan, memanfaatkan,
memiliki, atau menyimpan produk pornografi (pasal 32 jo. pasal 6 UU Pornografi)
e. Orang yang mendanai atau memfasilitasi perbuatan orang yang menyediakan jasa pornografi (pasal 33 jo. pasal 7 jo. pasal 4 UU Pornografi)
f. Orang yang dengan sengaja atau atas persetujuan dirinya menjadi objek atau model yang mengandung muatan pornografi (pasal 34 jo. pasal 8 UU Pornografi)
g. Orang yang menjadikan orang lain sebagai objek atau model yang mengandung muatan pornografi (pasal 35 jo. pasal 9 UU Pornografi) h. Orang yang mempertontonkan diri atau orang lain dalam pertunjukan
atau di muka umum yang menggambarkan ketelanjangan, eksploitasi seksual, persenggamaan, atau yang bermuatan pornografi lainnya (pasal 36 jo. pasal 10 UU Pornografi)
i. Orang yang melibatkan anak dalam kegiatan dan/atau sebagai objek pornografi (pasal 37 jo. pasal 11 UU Pornografi)
j. Orang yang mengajak, membujuk, memanfaatkan, membiarkan, menyalahgunakan kekuasaan, atau memaksa anak dalam menggunakan produk atau jasa pornografi (pasal 38 jo. pasal 12 UU Pornografi).22
Tidak hanya pornografi, penyebarluasan materi atau konten yang melanggar kesusilaan melalui internet juga dapat dipidana. Dalam hal ini, yang dapat dikenakan pertanggungjawaban pidana adalah;
k. Orang yang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang memiliki muatan yang melanggar kesusilaan (pasal 27 ayat [1] jo. pasal 45 ayat [1] UU No. 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik)
l. Orang yang menyiarkan, mempertunjukkan atau menempelkan di muka umum tulisan, gambaran atau benda yang telah diketahui isinya melanggar kesusilaan, atau yang dengan maksud untuk disiarkan, dipertunjukkan atau ditempelkan di muka umum, membikin tulisan, gambaran atau benda tersebut, memasukkannya ke dalam negeri, meneruskannya, mengeluarkannya dari negeri, atau memiliki persediaan, ataupun barangsiapa secara terang-terangan atau dengan mengedarkan surat tanpa diminta, menawarkannya atau menunjukkannya sebagai bisa diperoleh (pasal 282 KUHP).
22
Sigid Suseno,Yurisdiksi Tindak PidanaSiber, (Bandung : PT. Refika Aditama, 2012), h.
C. DampakCyber Pornographydi Masyarakat
Banyak orang mempermasalahkan pornografi hanya karena aspek moral, yaitu eksploitasi seks yang dijadikan komoditi haram oleh norma
agama dan ‘tabu’ oleh masyarakat. Padahal, pornografi di dunia maya bukan
hanya soal aspek moral saja, namun terdapat banyak fakta yang memperlihatkan bahwa masalah pornografi ternyata memiliki dampak negatif secara medis dan sosial.
Dari sudut pandang medis, paling tidak pornografi dapat menyebabkan beberapa hal, yaitu: Kerusakan otak, penyimpangan seksual, penyebaran penyakit menular, misalnya penyebaran HIV-AIDS. Menurut Dr. Donald Hilton, pornografi yang memuat gambaran tentang eksploitasi seks dapat membuat seseorang kecanduan dan terdorong untuk mengonsumsi pornografi berulang-ulang. Kondisi ini secara ilmu syaraf bila tidak segera diatasi akan merusak fungsi otak bagian depan, yaitupre frontal cortex.23
Padahal pre frontal cortex mempunyai fungsi yang sangat penting, yaitu menjadi eksekutif otak, yaitu tempat untuk kontrol diri, mengambil keputusan, mengatur emosi, mengorganisasi, dan merencanakan. Pada orang biasa mengonsumsi pornografi, maka kondisi pre frontal cortex-nya akan mengerut, dan tidak dapat menjalankan fungsinya. Ini terjadi karena rasa cemas dan rasa gelisahnya karena sesungguhnya hati nuraninya tahu bahwa mengonsumsi pornografi adalah sesuatu yang dilarang secara norma. Rasa cemas ini secara bersamaan bertempur dengan rasa terlalu senang akibat