3. Menganalisis kondisi aspek pasar buah naga dibandingkan komoditas buah- buah-buahan lainnya di Yogyakarta
3.1 Kerangka Pemikiran Teoritis
3.1.1. Definisi Daya Saing
Menurut Kamus Bahasa Indonesia (1995) menyebutkan bahwa daya saing adalah kemampuan komoditi untuk memasuki pasar luar negeri dan kemampuan untuk bertahan didalam pasar tersebut. Daya saing sering diidentikan dengan produktifitas (tingkat output yang dihasilkan untuk setiap unit input yang digunakan). Peningkatan produktifitas meliputi peningkatan jumlah input fisik (modal dan tenaga kerja), peningkatan kualitas input yang digunakan dan peningkatan teknologi (total faktor produktifitas) (Mudjayani 2008).
Daya saing diidentikkan dengan produktivitas atau tingkat output yang dihasilkan untuk setiap input yang digunakan. Peningkatan daya saing dapat dilakukan dengan mentransformasikan keunggulan komparatif menjadi keunggulan kompetitif. Seperti halnya dalam pembangunan agribisnis yang dilakukan sebagai upaya untuk meningkatkan daya saing, dimana suatu komoditi memiliki daya saing jika menghasilkan keuntungan yang maksimum.
27 Institut of Management Development (IMD), mendefinisikan daya saing nasional sebagai kemampuan suatu negara dalam menciptakan nilai tambah dalam rangka menambah kekayaan nasional dengan cara aset dan proses, daya tarik dan agresivitas, globality dan proximity serta dengan mengintegrasikan hubungan-hubungan tersebut kedalam suatu model ekonomi dan sosial. Dengan kata lain, daya saing nasional adalah suatu konsep yang diharapkan dapat mengidentifikasikan peranan negara dalam memberikan iklim yang kondusif kepada perusahaan-perusahaan dalam rangka mempertahankan daya saing domestik dan global (Safarudin 2012).
Esterhuizen et al (2008) diacu dalam Daryanto (2009) mendefinisikan daya saing sebagai kemampuan suatu sektor, industri, atau perusahaan untuk bersaing dengan sukses untuk mecapai pertumbuhan yang berkelanjutan didalam lingkungan global selama biaya imbangannya lebih rendah daripenerimaan sumber daya yang digunakan.
Daya saing menggambarkan kemampuan produsen untuk memproduksi suatu komoditas dengan mutu yang baik dan biaya produksi yang serendah-rendahnya. Sehingga pada tingkat harga yang terjadi di pasar, petani dapat memperoleh keuntungan dan dapat mempertahankan kelanjutan produksinya.
Daya saing suatu komoditas akan tercermin pada harga jual yang murah di pasar dan mutu yang tinggi. Untuk analisis daya saing suatu komoditas biasanya ditinjau dari sisi penawaran karena struktur biaya produksi merupakan komponen utama yang akan menentukan harga jual komoditas tersebut (Salvatore 1997, diacu dalam Kurniawan 2008).
Esensi dari daya saing suatu industri, perusahaan, atau komoditas adalah efisiensi dan produktivitas. Nilai produktivitas pertanian yang masih berada jauh di bawah dibandingkan dengan negara-negara yang lebih maju merupakan pencerminan dari kapasitas ekonomi petani, yang pada gilirannya akan menentukan daya serap petani terhadap teknologi, manajemen, dan input-input moder lainnya yang diperlukan dalam meningkatkan pendapatan dan kesejahteraannya.
Dalam menghadapi tantangan eksternal dalam era globalisasi yang ditandai dengan persaingan dan perdaganagn bebas, petani dituntut untuk
28 meningkatkan daya saing dan kemandiriannya. Daya saing dalam artian penerapan manajemen dan teknologi yang lebih efisien, produk yang bermutu serta memenuhi selera dan permintaan pasar (Gani 1996).
Peningkatan daya saing pertanian dari perspektif mikro dapat dilakukan dengan peningkatan efisiensi dan produktivitas, mendorong investasi, mendorong transformasi pertanian serta melalui kebijakan kondusif bagi pengembangan komoditas pertanian (Daryanto2009).
Dalam daya saing produk pertanian yang penting adalah pada tingkat konsumen yang semakin bebas memilih antara hasil produksi dalam negeri maupun impor baik dari segi harga maupun kualitasnya. Permasalahan yang sering terjadi adalah harga yang dibeli konsumen terlalu mahal namun sebaliknya harga yang diterima oleh petani seringkali terlalu rendah. Selain itu, saran produksi dan kebutuhan petani lainnya harus dibayar oleh petani dengan harga yang tinggi (Kartasasmita 1996). Salah satu upaya dalam meningkatkan daya saing suatu komoditas pertanian adalah dengan meningkatkan efisiensinya dalam budidaya atau usahataninya. Dengan efisiensi yang tinggi maka akan berpenagruh terhadap peningkatan daya saing suatu komoditas.
Dari beberapa pengertian daya saing, dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat konsesus yang secara tegas mendefinisikan daya saing. Oleh karena itu, masih terdapat banyak kemungkinan bagi para ahli dan peneliti untuk mengeksplorasi hal-hal apa saja yang menjadi faktor-faktor penentu daya saing suatu negara (PPSK Bank Indonesia 2008).
3.1.1.1.Keunggulan Kompetitif
Keunggulan kompetitif merupakan kemampuan untuk memasok barangdan jasa pada waktu, tempat dan bentuk yang diinginkan konsumen.
Barang danjasa tersebut dipasarkan di pasar domestik maupun internasional, pada harga yangsama atau lebih baik dari yang ditawarkan pesaing (Simatupang 1988, diacu dalam Winandi 2009). Keunggulan kompetitifmerupakan indikator efisiensi suatu komoditas secara privat berdasarkan hargapasar komoditi tersebut dan nilai uang yang berlaku saat itu di suatu negara.
Keunggulan kompetitif dapat dicapai dan dipertahankan dengan carameningkatkan produktivitas sumberdaya yang digunakan. Apabila
29 suatukomoditas tidak memiliki keunggulan kompetitif, artinya di negara penghasilkomoditas tersebut terjadi distorsi pasar atau terdapat hambatan yang merugikanprodusen.
Konsep keunggulan kompetitif digunakan untuk mengukur kelayakan suatu aktivitas atau keuntungan privat yang dihitung berdasarkan harga pasar yang berlaku (analisis finansial).Suatu komoditi dapat mempunyai keunggulan komparatif dan kompetitif sekaligus yang berarti komoditi tersebut menguntungkan untuk diproduksi atau diusahakan dan dapat bersaing di pasar.
Keunggulan kompetitif suatu komoditi adalah suatu keunggulan yang dapat dikembangkan, jadi keunggulan ini harus diciptakan untuk dapat memilikinya.Dalam mengukur keunggulan kompetitif suatu komoditas dapat menggunakan analisis keuntungan privat pengusahaan antar komoditas dalam suatu usaha. Dalam penelitian ini digunakan analisis pendapatan dari usahatani komoditas tersebut.
Dalam analisis finansial pengusahaan suatu komoditasterdapat beberapa analisis yaitu analisis biaya produksi usahatani dan analisis pendapatan usahatani.
Biaya produksi atau biaya usaha adalah semua pengeluaran yang dipergunakan selama dalam usaha budidaya.Penggolangan biaya produksi berdasarkan sifatnya dibagi menjadi biaya tetap (fixed cost) dan biaya tidak tetap (variable cost). Biaya tetap (fixed cost) adalah biaya yang sifatnya tidak dipengaruhi oleh besarnya atau jumlah produksi. Petani maupun pemilik usaha harus membayarnya berapapun jumlah komoditi yang dihasilkan usahataninya.Biaya tetap terdiri dari pajak, penyusutan alat-alat produksi, bunga pinjaman, sewa tanah, bangunan dan sebagainya.Sedangkan biaya variabel adalah biaya yang berubah sesuai dengan besarnya produksi.Biaya ini ada apabila ada sesuatu barang yang diproduksi.Biaya variabel terdiri dari bibit, pupuk, makanan ternak, biaya mengembalakan, pembelian sarana produksi, dan lain-lain.
Menurut Soekartawi et al (1986), ada beberapa istilah yang digunakan untuk melihat ukuran pendapatan dan keuntungan usahatani yaitu pendapatan kotor usahatani dan pendapatan bersih usahatani. Pendapatan kotor usahatani yaitu ukuran hasil perolehan total sumberdaya yang digunakan dalam usahatani.
Pendapatan kotor usahatani (gross farm income) didefinisikan sebagai nilai
30 produk total usahatani dalam jangka waktu tertentu, baik yang dijual maupun tidak dijual.Dalam menafsirkan pendapatan kotor, semua komponen yang tidak dijual harus dinilai berdasarkan harga pasar.Pendapatan bersih usahatani adalah selisih antara pendapatan kotor dengan pengeluaran usahatani untuk mengukur imbalan yang diperoleh petani akibat dari penggunaan faktor-faktor produksi.Pendapatan bersih usahatani mengukur imbalan yang diterima yang diperoleh keluarga petani dari penggunaan faktor - faktor produksi kerja, pengelolaan, dan modal sendiri atau modal pinjaman yang diinvestasikan ke dalam usahatani.
3.1.1.2. Keunggulan Komparatif
Keunggulan komparatif dapat diartikan sebagai perdagangan komoditasantar daerah. Suatu daerah yang memiliki hasil pertanian unggul dan dibutuhkanoleh daerah lain dapat menjual komoditasnya tersebut, kemudian outputnya digunakan untuk membeli komoditas yang tidak secara efisien dihasilkannya.
Keunggulan komparatif merupakan indikator daya saing suatu komoditasdalam menghadapi kendala kebijakan pemerintah dan kegagalan pasar.Keunggulan komparatif dapat digunakan untuk mengukur efisiensi usahatanisuatu komoditas berdasarkan analisis ekonomi. Perhitungan tersebut menggunakan harga sosial atau harga bayangan yang menggambarkan biaya imbangan dari pengeluaran dan penerimaan dalam pasar persaingan sempurna.
Dalam prinsip keunggulan komparatif menjelaskan lokasi produksi pertanian.Berbagai jenis tanaman dan ternak dengan syarat-syaratnya yang berbeda, harus diusahakan di daerah-daerah atau pada usahatani yang keadaan fisiknya dan sumberdaya lainnya secara ekonomi sangat sesuai.Karena itu, usahatani dengan sumberdaya yang sangat miskin sekalipun dapat mempunyai keunggulan komparatif untuk beberapa komoditi.Prinsip keunggulan komparatif berlaku untuk wilayah yang luas (dunia, negara) ataupun untuk perbandingan antar usahatani.
Menurut Soekartawi et al (1986) beberapa faktor yang dapat mengubah keunggulan komparatif, yang penting di antaranya adalah :
1. Pengembangan pola usahatani baru atau perbaikan teknologi