SLEMAN, DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA
SKRIPSI
DWI ENDAH WAHYUNI H34080154
DEPARTEMEN AGRIBISNIS
FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2012
ii RINGKASAN
DWI ENDAH WAHYUNI. Analisis Daya Saing Komoditas Buah Naga terhadap Komoditas Hortikultura Lain di Desa Pakembinangun, Kecamatan Pakem, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Skripsi. Departemen Agribisnis, Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor (Dibawah bimbingan BAYU KRISNAMURTHI)
Buah naga merupakan salah satu jenis buah tropis yang berasal Amerika Tengah dan Amerika Utara yang sangat potensial untuk dikembangkan di Indonesia. Salah satu sentra pengembangan buah naga di Indonesia adalah di Yogyakarta. Produktivitasbuah naga di Kabupaten Sleman, Yogyakarta mencapai 68 ton/ha dengan urutan kedua di bawah Kabupaten Ponorogo yang sebesar 72 ton/ha. Sabila Farm merupakan salah satu kebun di Sleman yang mengembangkan komoditasbuah-buahan termasuk buah naga. Namun, petani lain pada wilayah tersebut belum banyak yang mengembangkan komoditas buah naga dan memilih untuk mengusahakan komoditas hortikultura lainnya.
Tujuan penelitian ini adalah (1) menganalisis daya saing buah naga pada perusahaan Sabila Farm, (2) menganalisis daya saing buah naga dibandingkan komoditas hortikultura lain yang diusahakan dalam wilayah Desa Pakembinangun, (3) menganalisis kondisi pasar buah naga. Metode yang digunakan adalah analisis pendapatan usahatani, analisis efisiensi usahatani melalui R/C rasio dan analisis deskriptif.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa berdasarkan analisis pendapatan dan efisiensi usahatani pada Sabila Farm, buah naga memiliki pendapatan dan efisiensi yang lebih tinggi dari pepaya dan lebih rendah dibandingkan srikaya.
R/C rasio atas biaya tunai dari usahatani buah naga sebesar 9.92 sedangkan rasio atasbiaya total sebesar 10.26. R/C rasio atas biaya tunai dari usahatani srikaya sebesar 19.70 dan pepaya sebesar 4.31 sedangkan R/C rasio atasbiaya total usahatani srikaya sebesar 23.94 dan pepaya sebesar 4.18. Walaupun demikian, buah naga tetap menjadi prioritas utama bagi Sabila Farm karena sudah memiliki pangsa pasar yang jelas dengan permintaan konsumen yang terus meningkat. Hal ini menunjukkan bahwa buah naga memiliki keunggulan kompetitif dibandingkan kedua komoditaslainnya.
Pada wilayah Desa Pakembinangun, komoditas buah naga memberikan pendapatan dan efisiensi yang paling tinggi dibandingkan tiga komoditas lainnya yaitu caisin, selada dan cabai. Komoditas buah naga memberikan pendapatan yang paling tinggi dan semakin meningkat dari tahun ke tahun. Sedangkan bagi komoditas hortikultura lainnya, pendapatan dalam setiap tahunnya relatif sama dikarenakan umur produksinya yang lebih singkat. Rasio R/C atas biaya total dari komoditas caisin, selada dan cabai secara berturut-turut adalah 2.19, 2.54, dan4.97. Berdasarkan analisa visual dalam penempatan buah naga baik di kios buah tradisional maupun di supermarket, buah naga ditempatkan pada posisi atau letak yang tidak menonjol (outstanding). Hal ini menunjukkan bahwa buah naga bagi distributor dan pengecer menjadikan buah naga sebagai produk yang ingin tidak ditonjolkan dibandingkan jenis buah lainnya seperti durian, mangga dan jeruk.
Saran yang dapat diberikan kepada Sabila Farm sebagai produsen buah naga sebaiknya bekerja sama dengan Dinas Pertanian setempat untuk melakukan
iii pelatihan dan penyuluhan kepada petani di wilayah Desa Pakembinangun agar mengusahkan komoditas yang memiliki nilai ekonomi yang tinggi. Selain itu, juga perlu melakukan pemasaran mengenai keunggulan buah naga lokal sehingga masyarakat lebih mengenal produk lokal baik dari segi manfaat maupun kualitasnya.
iv
ANALISIS DAYA SAING KOMODITAS BUAH NAGA TERHADAP KOMODITAS HORTIKULTURA LAIN DI
DESA PAKEMBINANGUN, KECAMATAN PAKEM, SLEMAN, DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA
DWI ENDAH WAHYUNI H34080154
Skripsi ini merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi pada Departemen Agribisnis
DEPARTEMEN AGRIBISNIS
FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2012
v Judul Skripsi : Analisis Daya Saing Komoditas Buah Naga terhadap Komoditas
Hortikultura Lain di Desa Pakembinangun, Kecamatan Pakem, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta
Nama : Dwi Endah Wahyuni NRP : H34080154
Menyetujui, Pembimbing
Dr. Ir. Bayu Krisnamurthi, MS NIP. 19641018 198903 1001
Mengetahui,
Ketua Departemen Agribisnis Fakultas Ekonomi dan Manajemen
Institut Pertanian Bogor
Dr. Ir. Nunung Kusnadi, MS NIP 19580908 198403 1 002
Tanggal Lulus :
vi PERNYATAAN
Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi saya yang berjudul “Analisis Daya Saing Komoditas Buah Naga terhadap Komoditas Hortikultura Lain di Desa Pakembinangun, Kecamatan Pakem, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta”
adalah karya sendiri dan belum pernah diajukan dalam bentuk apapun kepada perguruan tinggi manapun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam bentuk daftar pustaka pada bagian akhir skripsi.
Bogor, Juli 2012
Dwi Endah Wahyuni H34080154
vii RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan di Kebumen pada tanggal 29 Desember 1989 sebagai anak kedua dari dua bersaudara pasangan Bapak Akhmad Ikhsan dan Ibu Endang Iriyawati.
Penulis menyelesaikan pendidikan dasar di SD Negeri Langenrejo, Kecamatan Butuh, Purworejo pada tahun 2002, lalu menyelesaikan pendidikan di Sekolah Menengah Pertama Negeri 3 Purworejo pada tahun 2005. Selanjutnya penulis menyelesaikan pendidikan menengah atas di SMA N 1 Purworejo pada tahun 2008. Pada tahun yang sama penulis diterima sebagai mahasiswa mayor Departemen Agribisnis, Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor melalui jalur SNMPTN. Selanjutnya pada tingkat 2 penulis mengambil minor Program Studi Komunikasi.
viii KATA PENGANTAR
Puji syukur kepada Allah SWT atas segala rahmat, taufik, hidayah serta karunianya kepada kita semua serta shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad SAW sebagai uswatun hasanah, sahabat, keluarga serta para pengikutnya sampai akhir zaman.
Judul penelitian didasarkan atas ketertarikan yang besar dari penulis terhadap pengusahaan komoditas buah naga di Indonesia secara umum. Rasa tertarik ini tidak terlepas dari besarnya potensi dari komoditas buah naga, baik dari segi petani sebagai produsen, permintaan konsumen yang tinggi di pasar maupun khasiat buah naga bagi kesehatan.
Akhirnya, skripsi ini merupakan hasil maksimal dari penulis walaupun sangat disadari masih terdapat kekurangan karena keterbatasan yang dihadapi.
Penulis berharap semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi pihak yang memerlukan sebagai bahan referensi dan dapat menambah ilmu pengetahuan mengenai salah satu produk hortikultura bagi para pembaca.
Bogor, Juli 2012
Dwi Endah Wahyuni
ix UCAPAN TERIMA KASIH
Puji syukur atas rahmat dan karunia Allah SWT akhirnya penulisan skripsi ini dapat diselesaikan sesuai dengan waktu yang telah ditentukan. Penyelesaian skripsi ini tidaklah terlepas dari bantuan berbagai pihak. Oleh karena itu, pada bagian ini penulis ingin menyampaikan terima kasih dan penghargaan sebesar- besarnya kepada :
1. Kedua orang tua tercinta, Akhmad Ikhsan dan Endang Iriyawati atas kasih sayang, nasihat, doa tiada henti serta dukungan dalam bentuk apapun sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan skripsi ini.
2. Dr. Ir. Bayu Krisnamurthi, MS sebagai dosen pembimbing skripsi atas bimbingan, nasihat, teladan, kesempatan serta kesabaran yang diberikan kepada penulis dalam penyelesaian skripsi ini.
3. Ir. Lusi Fausia, MEc sebagai dosen penguji utama atas nasihat, saran dan masukan yang diberikan kepada penulis dalam penyempurnaan skripsi.
4. Dra. Yusalina, MSi sebagai dosen penguji wakil departemen dalam sidang skripsi yang telah memberikan saran untuk perbaikan skripsi.
5. Dra. Yusalina, MSi selaku dosen pembimbing akademik yang telah memberikan bimbingan dan pengarahannya.
6. Mbak Tanti Setyarini, mas Harno, dan ponakan tercinta Sahda Qonita atas doa dan dukungannya
7. Dr. Ir. Nunung Kusnadi, MS selaku Ketua Departemen Agribisnis dan seluruh dosen Departemen Agribisnis atas ilmu dan nasehat yang diberikan selama perkuliahan.
8. Feriyanto, W.K, SP. MSi atas bimbingan, saran dan masukan yang telah diberikan kepada penulis selama menyelesaikan skripsi.
9. Bapak Gun Soetopo dan ibu Elly sebagai pemilik Sabila Farm atas kesempatan, ilmu, dan informasi yang telah diberikan kepada penulis dalam penyelesaian skripsi ini.
10. Seluruh staf Departemen Agribisnis Ibu Ida, Pak Yusuf, Pak Arif atas bantuan selama kuliah dan dalam penyelesaian tugas akhir ini.
11. Pak Mul dan Ibu Mar serta semua karyawan dari Sabila Farm atas semua bantuannya
x 12. Sahabat–sahabatku di Agribisnis 45 Fiqhi Fadillah, Pingkan Octavia, Marosimy Millaty, Putri Nursakinah, Teresa MGH, Gebyar Surya, dan mbakyu Karisma Kamila atas persahabatan, dukungan dan bantuan dalam penyelesaian skripsi ini.
13. Sahabatku Batildis Irma untuk semua bantuannya selama di Yogyakarta.
14. Untuk teman–teman kost Al- Khafia Ponda, Hasrat, Afifah dan Sri terima kasih untuk persahabatan selama ini.
15. Untuk Bowo atas semua bantuan dan waktu yang diberikan.
16. Teman-teman Gladikarya Kecamatan Kebon Pedes, khususnya Desa Jambenenggang Annisa Kusuma Wardani, Jauhar, Restika dan Helma.
17. Untuk teman-teman dari Purworejo terutama Gamapuri 45 terima kasih banyak atas persahabatan dan persaudaraanya selama ini.
18. Teman seperjuangan di lokasi penelitian Riska dan juga Mas Adi atas bantuannya.
19. Teman–teman seperjuangan AGB 45, terima kasih karena penulis telah menjadi bagian dari keluarga besar Agribisnis 45, semoga kita bisa sukses di masa mendatang.
20. Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu per satu yang telah membantu terselesaikannya skripsi ini.
Bogor, Juli 2012
Dwi Endah Wahyuni
i DAFTAR ISI
DAFTAR ISI ... i
DAFTAR TABEL ... iii
DAFTAR GAMBAR ... iv
I. PENDAHULUAN ... 1
1.1. Latar Belakang ... 1
1.2. Rumusan Masalah ... 6
1.3. Tujuan Penelitian ... 8
1.4. Manfaat Penulisan ... 8
1.5. Ruang Lingkup dan Keterbatasan Penelitian ... 8
II. TINJAUAN PUSTAKA ... 10
2.1. Buah Naga ... 10
2.1.1. Sejarah Penyebaran Buah Naga ... 10
2.1.2. Karakteristik Buah Naga ... 11
2.2. Karakteristik Buah Srikaya ... 12
2.3. Karakteristik Pepaya ... 14
2.4. Karakteristik Caisin ... 15
2.5. Karakteristik Selada ... 16
2.6. Karakteristik Cabai... 17
2.7. Penelitian Terdahulu ... 18
III. KERANGKA PEMIKIRAN ... 25
3.1 Kerangka Pemikiran Teoritis ... 25
3.1.1 Definisi Daya Saing ... 26
3.1.1.1 Keunggulan Kompetitif ... 28
3.1.1.2 Keunggulan Komparatif ... 30
3.1.2. Hubungan antara Efisiensi dan Daya Saing ... 31
3.1.3. Konsep Usahatani... 32
3.1.4. Kondisi Pasar Komoditas Buah-Buahan ... 34
3.2 Kerangka Pemikiran Operasional ... 35
IV. METODE PENELITIAN ... 38
4.1 Lokasi dan Waktu ... 38
4.2 Metode Penentuan Sampel ... 38
4.3 Data dan Instrumentasi ... 38
4.4 Metode Pengumpulan Data ... 38
4.5 Metode Pengolahan Data ... 39
4.5.1 Analisis Pendapatan Usahatani ... 39
4.5.2 Analisis Efisiensi Usahatani ... 40
4.5.3 Analisis Kondisi Pasar Buah Naga ... 41
4.6. Definisi Operasional... 41
V. GAMBARAN UMUM... 45
5.1. Gambaran Umum Desa Pakembinangun……… ... 45
5.2. Gambaran Umum Sabila Farm………... 46
ii
5.2.1. Strategi Pemasaran STP ... 49
VI. PEMBAHASAN ... 51
6.1. Penerapan Usahatani pada Wilayah Desa Pakembinangun ... 51
6.1.1. Sistem Usahatani Buah Naga ... 51
6.1.2. Sistem Usahatani Srikaya ... 57
6.1.3. Sistem Usahatani Pepaya ... 60
6.1.4. Sistem Usahatani Caisin ... 65
6.1.5.Sistem Usahatani Selada ... 69
6.1.6. Sistem Usahatani Cabai ... 73
6.2. Analisis Daya Saing Buah Naga pada Sabila Farm. ... 77
6.2.1. Analisis Pendapatan Usahatani Buah Naga ... 77
6.2.2. Analisis Pendapatan Usahatani Srikaya ... 79
6.2.3. Analisis Pendapatan Usahatani Pepaya ... 80
6.2.4. Analisis Daya Saing Buah Naga Berdasarkan Tingkat Perbandingan Pendapatan Usahatani Pada Sabila Farm. .. . 81
6.3. Analisis Daya Saing Buah Naga pada Wilayah Desa Pakembinangun ... 83
6.3.1. Analisis Pendapatan Usahatani Caisin ... 83
6.3.2. Analisis Pendapatan Usahatani Selada ... 83
6.3.3. Analisis Pendapatan Usahatani Cabai ... 84
6.4.4. Analisis Daya Saing Buah Naga Berdasarkan Tingkat Perbandingan Pendapatan Usahatani pada Wilayah Desa Pakembinangun ... 85
6.5. Analisis Daya Saing Buah Naga Berdasarkan Kondisi Pasar ... 88
VII. KESIMPULAN DAN SARAN 7.1. Kesimpulan ... 90
7.2. Saran ... 91
DAFTAR PUSTAKA ... 93
LAMPIRAN ... 96
iii DAFTAR TABEL
Nomor Halaman
1. Nilai PDB Hortikultura Berdasarkan Harga Berlaku Tahun 2007-2010
(Miliar Rupiah)……… 1
2. Produksi, Luas Panen dan Produktifitas Buah–buahan di Indonesia Tahun 2007 – 2010……… ... 1
3. Perkiraan Konsumsi dan Permintaan Buah-buahan di Indonesia Tahun 2000–2015……… ... 2
4. Pendapatan Usahatani Buah naga Setiap Hektar ... 78
5. Pendapatan Usahatani Srikaya Setiap Hektar ... 79
6. Pendapatan Usahatani Pepaya Setiap Hektar ... 82
7. Pendapatan Usahatani Caisin Setiap Hektar ... 83
8. Pendapatan Usahatani Selada Setiap Hektar ... 84
9. Pendapatan Usahatani Cabai Setiap Hektar ... 85
iv DAFTAR GAMBAR
Nomor Halaman
1. Bagan Kerangka Pemikiran Operasional ... 36
2. Usahatani Melon ... 48
3. Pelepasan Bibit Sabila sebagai Bibit Unggul oleh Kementan ... 48
4. Kebun Terdaftar oleh Pemerintah Daerah... 49
5. Kunjungan Menteri Pertanian RI ... 49
6. Pelatihan PNS Kementan ... 49
7. Kunjungan Kelompok Tani ... 49
8. Pembibitan Buah Naga ... 56
9. Pembuatan Lubang Tanam ... 56
10. Tiang Panjatan ... 56
11. Penanaman Bibit ... 56
12. Pengikatan Cabang ... 56
13. Bunga Buah Naga ... 56
14. Pemanenan ... 57
15. Grading dan Pengemasan ... 58
16. Bibit Srikaya ... 60
17. Penanaman Srikaya ... 60
18. Tanaman Srikaya ... 60
19. Buah Srikaya ... 60
20. Buah Srikaya Siap Panen ... 60
21. Pengemasan Srikaya... 60
22. Tanaman Pepaya ... 65
23. Pepaya California ... 65
24. Pepaya Hawai ... 65
25. Sortasi dan Grading Pepaya ... 65
26. Penyemaian Benih ... 69
27. Bibit Caisin ... 69
28. Tanaman Caisin Umur 15 HST ... 69
29. Babycaisin ... 69
30. Penanaman Bibit Selada ... 73
v 31. Selada Siap Panen ... 73 32. Perangkap Lalat Buah ... 76 33. Tanaman Cabai Mulai Berbuah ... 76 34. Perbandingan Tingkat Pendapatan Tunai Usahatani di Sabila Farm 81 35. Perbandingan Tingkat Pendapatan Total Usahatani di Desa
Pakembinangun ... 86 36. Perbandingan Nilai R/C rasio Usahatani Buah Naga terhadap
Komoditas Hortikultura lain ………. 87 .
vi DAFTAR LAMPIRAN
Nomor Halaman
1. Analisis Pendapatan Usahatani Buah Naga ... 96
2. Analisis Pendapatan Usahatani Srikaya ... 98
3. Analisis Pendapatan Usahatani Pepaya ... 99
4. Penyusutan Investasi Alat pada Sabila Farm ... 100
5. Analisis Pendapatan Usahatani Caisin ... 101
6. Penyusutan Alat pada Usahatani Caisin ... 102
7. Analisis Pendapatan Usahatani Selada... 103
8. Penyusutan Alat pada Usahatani Selada ... 104
9. Analisis Pendapatan Usahatani Cabai ... 105
10. Penyusutan Alat pada Usahatani Cabai... 106
1 I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Indonesia merupakan salah satu negara berkembang dengan sektor pertanian sebagai sumber mata pencaharian dari mayoritas penduduknya. Sektor pertanian adalah salah satu sektor yang selama ini masih diandalkan oleh negara Indonesia karena sektor ini mampu memberikan pemulihan dalam mengatasi krisis yang sedang terjadi. Selain itu, sektor pertanian sebagai salah satu sektor penting dan mempunyai potensi besar untuk berperan sebagai pemicu pemulihan ekonomi nasional. Hal ini terbukti bahwa sektor pertanian masih memperlihatkan pertumbuhan yang positif yaitu sebesar 0.26 persen pada saat perekonomian nasional mengalami krisis (Dillon 2004).
Hortikultura merupakan salah satu subsektor pertanian yang berperan cukup besar dalam pembangunan perekonomian bangsa dan peningkatan devisa negara. Produk hortikultura meliputi tanaman buah-buahan, sayuran, tanaman hias dan biofarmaka. Tanaman buah-buahan merupakan salah satu komoditi hortikultura yang berpotensi untuk dikembangkan. Pada Tabel 1 dapat dilihat bahwa buah-buahan merupakan penyumbang terbesar pada Produk Domestik Bruto (PDB) hortikultura nasional. Pada tahun 2010, PDB tanaman buah-buahan menyumbang sebesar 52.91 persen dari total PDB hortikultura.
Tabel 1. Nilai PDB Hortikultura Berdasarkan Harga Berlaku Tahun 2007–2010 (Milyar rupiah)
No Komoditas
Tahun
2007 2008 2009 2010
1. Buah-buahan 42,362 47,060 48,437 45,482
2. Sayuran 25,587 28,205 30,506 31,244
3. Tanaman Hias 4,741 5,085 5,494 6,174
4. Tanaman Biofarmaka 4,105 3,853 3,897 3,665
Total 76,795 84,202 88,334 85,958
Sumber : Direktorat Jenderal Hortikultura (2011)
Produksi buah-buahan di Indonesia setiap tahun terus menunjukkan adanya peningkatan. Peningkatan produksi buah-buahan tersebut sejalan dengan adanya peningkatan luas areal tanam. Walaupun mengalami penurunan produksi dan luas areal tanam pada tahun 2010, namun penurunan tersebut diimbangi
2 dengan peningkatan produktivitas. Perkembangan produksi, luas panen, dan produktivitas buah-buahan di Indonesia tahun 2007–2010 dapat dilihat pada Tabel 2.
Tabel 2.Produksi, Luas Areal Tanam, dan Produktivitas Buah-buahan di Indonesia Tahun 2007-2010
No Tahun Produksi (ton) Luas areal tanam (ha) Produktivitas (ton/ha)
1. 2007 17,116,622 756,766 22.62
2. 2008 18,027,889 781,333 23.07
3. 2009 18,653,900 826,430 22.57
4. 2010 15,490,373 667,872 23.19
Sumber : Direktorat Jenderal Hortikultura (2011)
Pada Tabel 2 menunjukkan adanya peningkatan produktivitas buah-buahan di Indonesia yaitu sebesar 23.19 ton/ha pada tahun 2010 dibandingkan pada tahun-tahun sebelumnya yang hanya sebesar 22.62 ton/ha pada tahun 2007.
Peningkatan tersebut juga diikuti dengan peningkatan konsumsi buah-buahan seiring dengan meningkatnya jumlah penduduk. Selain itu juga adanya peningkatan pendapatan dan kualitas pendidikan sehingga meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya komposisi gizi yang seimbang.Data perkiraan peningkatan jumlah konsumsi dan permintaan buah-buahan seiring dengan peningkatan penduduk di Indonesia pada kurun waktu 2000-2015 dapat dilihat pada Tabel 3.
Tabel 3. Perkiraan Konsumsi dan Permintaan Buah-buahan di Indonesia Tahun 2000-2015
Tahun Jumlah
Penduduk (Juta)
Konsumsi per Kapita (Kg/Thn)
Peningkatan Konsumsi
(persen)
Permintaan (Ribu Ton)
2000 213 36.76 - 7,830
2005 227 45.70 32.50 10,375
2010 240 57.92 34.00 13,900
2015 254 78.74 34.50 20,000
Sumber : Badan Pusat Statistik (2011)
Peningkatan permintaan dan konsumsi akan buah-buahan belum diimbangi dengan kebutuhan gizi masyarakat Indonesia karena secara umum masih di bawah standar kebutuhan minimal. Ditinjau dari jumlah penduduk Indonesia yang sekitar 220 juta jiwa, berarti penyediaan bahan pangan termasuk
3 buah-buahan cukup besar pula. Menurut Departemen Kesehatan, setiap jiwa memerlukan sedikitnya 2,200 kkal/kapita/tahun dimana energi tersebut berasal dari berbagai sumber bahan pangan, misalnya karbohidrat, protein, vitamin dan mineral. Selain standar minimal kebutuhan gizi yang masih belum terpenuhi, nilai pemenuhan gizi berdasarkan kelompok pangan yang dikonsumsi sangat bervariasi. Kebutuhan sumber energi dari kelompok pangan biji-bijian dan gula sudah cukup baik, yaitu hampir 100 persen. Sedangkan untuk konsumsi kelompok sayuran dan buah-buahan rata-rata penduduk Indonesia masih sekitar 50 persen dari kebutuhan kalori yang disarankan (Ashari 2006).
Kebutuhan untuk konsumsi buah-buahan yang disarankan FAO adalah 70 kg/kapita/tahun. Sedangkan konsumsi buah-buahan rata-rata penduduk Indonesia pada tahun 2011 baru mencapai 34.55 kg/kapita/tahun (Direktorat Jenderal Hortikultura 2011). Jika dibandingkan negara lain yaitu penduduk Thailand sekitar 70 kg/kapita/tahun bahkan konsumsi penduduk Jepang yaitu 95 kg/kapita/tahun atau sekitar 135 persen dari rekomendasi FAO. Berdasarkan tabel 3, Indonesia diperkirakan dapat mencapai konsumsi buah-buahan yang direkomendasikan FAO pada tahun 2015 yaitu sebesar 78.74 kg/kapita/tahun.
Dengan demikian, jelas bahwa peluang memproduksi buah-buahan untuk konsumsi dalam negeri masih memiliki potensi. Hingga saat ini, untuk mencukupi permintaan buah dalam negeri, Indonesia masih harus impor buah dari berbagai negara lainnya baik Australia, Amerika, Thailand, Taiwan dan negara lainnya.
Permintaan pasar domestik maupun pasar internasional terhadap komoditas hortikultura di masa mendatang diperkirakan meningkat seiring dengan peningkatan jumlah penduduk dan tingkat pendapatan. Sejalan dengan liberalisasi perdagangan yang membawa implikasi semakin ketatnya persaingan pasar, diperlukan peningkatan efisiensi dalam upaya peningkatan daya saing. Di sisi lain, antisipasi terhadap kontinuitas pasokan produk baik dalam jumlah maupun mutu sesuai preferensi konsumen dan ketepatan waktu penyediaan juga merupakan unsur prioritas untuk dapat bersaing di pasar dunia (Irawan et al 2001, dalam Rachman et al 2004).
Buah naga (Inggris: pitaya) adalah buah dari beberapa jenis kaktus dari marga Hylocereus dan Selenicereus. Buah naga merupakan salah satu jenis buah
4 tropis yang berasal dari Amerika Tengahdan Amerika Utara yang sangat potensial untuk dikembangkan di Indonesia. Buah naga mulai dibudidayakan di Indonesia pada tahun 2001 dengan varietas buah naga putih di Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur seluas tiga ha1. Saat ini, buah naga juga dibudidayakan di beberapa negara Asia seperti Thailand, Vietnam, Filipina dan Malaysia. Bagi masyarakat di negara tersebut, usaha budidaya tanaman buah naga terus dilakukan karena memiliki potensi dan sangat menguntungkan.
Trend buah naga bukan saja hanya dimiliki masyarakat Jakarta, tetapi lambat laun memasuki hingga ke daerah-daerah lain di Indonesia. Di beberapa kota besar Indonesia sudah terlihat kecenderungan permintaan akan buah naga seperti Surabaya (Jawa Timur), Denpasar (Bali) dan Semarang (Jawa Tengah).
Pasar swalayan terkemuka di Tanjungkarang, Bandar Lampung, pada akhir tahun 2002 juga sudah mulai dipenuhi buah naga walaupun masyarakat belum begitu mengenalnya. Namun, buah tersebut bukan produksi dalam negeri, melainkan impor dari Thailand. Melihat dari perkembangan produksi dan penjualan di pasar swalayan masih sering terjadi kekosongan. Oleh sebab itu, dapat disimpulkan bahwa prospek usaha buah naga ini masih memiliki potensi (Kristanto 2010).
Buah naga merupakan salah satu komoditas hortikultura yang memiliki prospek yang baik untuk dikembangkan di Indonesia. Dengan meningkatnya pendidikan masyarakat akan pentingnya kesehatan, masyarakat menyadari manfaat dari mengkonsumsi buah naga. Namun hal ini terkendala bahwa buah naga di Indonesia sebagian besar masih merupakan produk impor, sehingga peningkatan produksi dan peningkatan daya saing harus dilakukan oleh produsen buah naga di Indonesia agar tidak kalah dengan jenis buah lain terutama produk impor. Kendala utama dalam pengembangan tanaman buah naga di Indonesia adalah kurangnya informasi dalam hal pembudidayaan dan pasar sasaran bagi petani.
Salah satu sentra pengembangan buah naga di Indonesia yaitu di Yogyakarta. Produktivitas buah naga di Kabupaten Sleman, Yogyakarta mencapai 68 ton/ha dengan urutan kedua di bawah Kabupaten Ponorogo yang sebesar 72 ton/ha (Direktorat Jenderal Hortikultura 2011). Sabila Farm merupakan salah satu
1 Cahyani. Oktober 2010. Liuk Naga di Tanah Air. Trubus : Halaman 16
5 kebun yang mengembangkan komoditas buah-buahan termasuk buah naga.
Komoditas lain yang diusahakan di Sabila Farm diantaranya pepaya, srikaya, delima, jambu dan sirsak. Komoditas lain yang diusahakan dan juga merupakan komoditas unggulan bagi Sabila Farm adalah srikaya dan pepaya. Srikaya dipilih untuk diusahakan karena memiliki potensi dan juga memiliki nilai jual yang tinggi. Lahan yang digunakan untuk mengusahakan srikaya sebesar 2,500 m2. Pepaya juga merupakan salah satu komoditas unggulan dari Sabila Farm.
Walaupun demikian, lahan yang digunakan untuk usahatani buah naga paling luas yaitu sebesar empat ha.
Sabila Farm mulai membudidayakan buah naga pada tahun 2005. Lahan yang dimiliki Sabila Farm saat ini mencapai tujuh hektar. Walaupun masih tergolong baru, namun buah naga yang dihasilkan sangat terkenal dan sudah didistribusikan ke wilayah Yogyakarta, wilayah Jabodetabek, Makasar, Pontianak dan beberapa daerah lainnya.
Sabila Farm terletak di Desa Pakembinangun, Kecamatan Pakem, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Komoditas buah-buahan, khususnya buah naga di Desa Pakembinangun masih tergolong langka karena hanya Sabila Farm yang mengusahakan buah naga secara komersial. Desa Pakembinangun merupakan salah satu desa yang memiliki kondisi agroekologi yang baik untuk mengusahakan komoditas hortikultura. Jenis komoditas hortikultura yang diusahakan oleh petani di desa Pakembinangun sebagian besar merupakan komoditas sayuran yaitu berupa caisin, selada, cabai dan tomat.
Buah naga sebagai buah baru di Indonesia khususnya Yogyakarta sehingga diperlukan suatu proses pengenalan dalam pemasarannya. Sebagian petani sebagai produsen buah naga kini masih memproduksi dalam jumlah kecil. Walaupun dapat dikatakan bahwa pasar mencari produk, namun masalah kualitas harus tetap diperhatikan. Semakin baik mutu buah naga yang dihasilkan maka akan semakin tinggi nilai jual dan semakin cepat terserap pasar (Kristanto 2010). Selain itu, buah naga yang dihasilkan di Indonesia diharapkan tidak hanya dapat memenuhi kontinuitas saja namun juga memiliki keunggulan baik dalam kualitas, rasa, tampilan dan harga sehingga mampu bersaing dengan produk impor.
6 1.2 Rumusan Masalah
Salah satu kebun yang mengembangkan komoditas buah naga adalah Sabila Farm. Sabila Farm terletak di Dusun Kertodadi, Desa Pakembinangun, Kecamatan Pakem, Kabupaten Sleman DIY. Selain buah naga, komoditas lain yang juga diusahakan di Sabila Farm adalah srikaya dan pepaya. Pemilihan komoditas tersebut karena memiliki prospek yang baik dan nilai jual yang tinggi.
Desa Pakembinangun termasuk salah satu desa yang memiliki agroekologi yang baik dalam mengembangkan komoditas hortikultura. Dilihat dari kondisi geografis, Desa Pakembinangun merupakan desa yang strategis dan merupakan pusat kehidupan bagi desa-desa disekitarnya pada wilayah Kecamatan Pakem.
Berdasarkan observasi yang dilakukan oleh peneliti, sebagian petani di Desa Pakembinangun dalam mengusahakan komoditas hortikultura lebih memilih komoditas sayuran. Beberapa komoditas yang diusahakan diantaranya cabai, tomat, sawi dan selada.
Adanya kebijakan pemerintah dengan bergabung menjadi salah satu negara anggota WTO akan berimplikasi pada kemudahan produk impor masuk ke Indonesia sehingga produk lokal harus memiliki keunggulan agar tidak kalah dengan produk impor. Selain itu, dalam pemilihan komoditas yang diusahakan harus didasarkan pada komoditas yang memiliki potensi dan nilai ekonomis yang tinggi. Untuk itu perlu dilakukan peningkatan daya saing dalam mengusahakan suatu komoditas. Sabila Farm sebagai salah satu produsen komoditas hortikultura perlu meningkatkan pendapatan dan efisiensi dalam menjalankan usahanya. Untuk mengukur efisiensi salah satunya dengan efisiensi usahatani. Efisiensi usahatani dapat dilakukan dengan menggunakan analisis imbangan penerimaan dan biaya (R/C Ratio).Rasio R/C menunjukkan besarnya penerimaan untuk setiap rupiah biaya yang dilakukan dalam suatu usahatani.
Produktitivitas rata-rata buah naga di Yogyakarta khususnya Kabupaten Sleman cukup tinggi dikarenakan kondisi cuaca dan iklim, serta kesesuaian lahan yang cocok untuk pengembangan budidaya buah naga. Selain itu, prospek pembudidayaan buah naga juga memiliki potensi yang baik karena dapat memberikan pendapatan yang cukup tinggi dibandingkan pembudidayaan komoditas hortikultura lainnya. Namun, buah naga belum banyak diusahakan oleh
7 petani di Yogyakarta dikarenakan belum tersedianya informasi dalam pembudidayaan dan informasi pasar yang cukup baik bagi petani. Selain itu, petani khususnya di wilayah desa Pakembinangun lebih memilih mengusahakan komoditas hortikultura lain terutama sayur-sayuran. Pemilihan komoditas tesebut didasarkan karena umur produksi komoditas yang relatif pendek dan tidak memerlukan modal yang besar. Untuk itu, perlu dilakukan analisis daya saing komoditas buah naga terhadap komoditas hortikultura lainnya melalui analisis pendapatan dan efisiensi usahatani.
Dari uraian di atas, dalam melihat daya saing suatu komoditas dapat ditelusuri melalui tingkat pendapatan dan efisiensi usahataninya terhadap komoditas yang lain. Pada akhirnya apabila telah terlihat gambaran menyeluruh dari suatu sistem komoditas buah naga, maka dapat dikatakan bahwa tingkat pendapatan dan efisiensi berkaitan dengan peningkatan daya saing. Efisiensi suatu komoditas akan menyebabkan penurunan biaya produksi yang pada akhirnya akan meningkatkan daya saingnya terhadap komoditas lain.
Dalam analisis ini, untuk keunggulan kompetitif didasarkan pada tingkat pendapatan atau keuntungan dan efisiensi yang diperoleh Sabila Farm dari pengusahaan buah naga dibandingkan dengan komoditas lain, dalam hal ini yaitu srikaya dan pepaya. Untuk keunggulan komparatif, menggunakan analisis tingkat pendapatan dan efisiensi pegusahaan buah naga dibandingkan komoditas hortikultura yang diusahakan dalam suatu wilayah, dalam hal ini Desa Pakembinangun dibandingkan komoditas caisin, selada dan cabai. Berdasarkan permasalahan yang diuraikan diatas, maka dalam penelitian ini perlu dianalisis 1. Bagaimana kondisi daya saing buah naga berdasarkan analisis tingkat
pendapatan dan efisiensi usahatani buah naga dibandingkan srikaya dan pepaya pada Sabila Farm?
2. Bagaimana kondisi daya saing buah naga melalui analisis tingkat pendapatan dan efisiensi usahatani buah naga dibandingkan komoditas lain yang diusahakan dalam wilayah Desa Pakembinangun yaitu komoditas caisin, selada dan cabai?
3. Bagaimana kondisi aspek pasar buah naga dibandingkan komoditas buah- buahan lainnya di Yogyakarta?
8 1.3 Tujuan
Secara umum, tujuan dari penelitian ini adalah :
1. Menganalisis tingkat pendapatan dan efisiensi usahatani dari pengusahaan komoditas buah naga dibandingkan srikaya dan pepaya pada Sabila Farm.
2. Menganalisis daya saing pengusahaan komoditas buah naga melalui analisis tingkat pendapatan dan efisiensi usahatani dibandingkan komoditas hortikultura lain yang diusahakan dalam wilayah Desa Pakembinangun yaitu komoditas caisin, selada dan cabai.
3. Menganalisis kondisi aspek pasar buah naga dibandingkan komoditas buah- buahan lainnya di Yogyakarta.
1.4 Manfaat Penulisan
Hasil penelitian ini diharapkan dapat berguna bagi :
1. Para pengambil keputusan dan pelaku ekonomi dalam sektor hortikultura sebagai upaya untuk merekomendasikan konsep pengembangan produk hortikultura terutama komoditas buah naga.
2. Masyarakat akademik, penelitian ini dapat digunakan sebagai masukan untuk meneliti lebih lanjut mengenai kondisi pengusahaan dan perdagangan komoditas buah naga di Indonesia.
3. Penulis, penelitian ini bermanfaat untuk meningkatkan kemampuan dan pengetahuan dalam mengidentifikasi dan menganalisis permasalahan komoditas pertanian terutama hortikultura serta sebagai aplikasi teori yang diperoleh selama ini.
1.5 Ruang Lingkup dan Keterbatasan Penelitian
Ruang lingkup dalam penelitian ini yaitu terutama diarahkan untuk menganalisis daya saing pengusahaan komoditas buah naga melalui pendapatan dan efisiensi usahatani. Penelitian ini meliputi kegiatan yang terdiri dari (1) analisis perbandingan tingkat pendapatan dan efisiensi usahatani buah naga dibandingkan komoditas lain yang diusahakan dalam kebun Sabila Farm yaitu srikaya dan pepaya pada kurun waktu enam tahun, (2) analisis daya saing buah naga dibandingkan dengan komoditas hortikultura lainnya yang diusahakan dalam wilayah Desa Pakembinangun yaitu komoditas caisin, selada dan cabai dan (3) analisis kondisi pasar komoditas buah naga di Yogyakarta.
9 Penelitian dilakukan di wilayah Desa Pakembinangun dan juga Sabila Farm. Objek penelitian ini antara lain pemilik kebun Sabila Farm, Manajer kebun Sabila Farm, beberapa petani yang mengusahakan komoditas hortikultura dalam wilayah Desa Pakembinangun dan juga beberapa pedagang yang memiliki kios buah di wilayah Samirono dan Gentan. Selain buah naga, jenis komoditas hortikultura dalam penelitian ini dibatasi pada komoditas pepaya, srikaya, caisin, selada dan cabai.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini meliputi analisis pendapatan usahatani diperoleh melalui penerimaan dikurangi biaya produksi. Periode analisis pendapatan usahatani yang dilakukan berdasarkan pada umur buah naga yaitu enam tahun. Analisis yang dilakukan pada penelitian ini berdasarkan harga yang berlaku pada saat penelitian dilakukan yaitu pada tahun 2012. Untuk komoditas caisin, selada dan cabai tidak memiliki dimensi waktu sehingga hasil produksi diasumsikan sama. Pada kondisi aktual produksi sayuran dapat dipengaruhi oleh musim dan penggunaan input yang berbeda. Sedangkan analisis efisiensi usahatani berupa R/C rasio yang diperoleh melalui penerimaan dibagi biaya produksi.
Analisis kondisi pasar dari buah naga di Yogyakarta dilakukan dengan menggunakan analisis deskriptif. Kondisi pasar didasarkan pada pengamatan peneliti secara visual pada kios-kios buah tradisional yang berada di Samirono dan Gentan, Yogyakarta dan juga dibeberapa supermarket yang terdapat buah naga.
10 II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Buah Naga
2.1.1 Sejarah Penyebaran Buah Naga
Tanaman buah naga berasal dari Amerika Utara dan Amerika Tengah.
Pada awalnya tanaman ini ditujukan sebagai tanaman hias, karena bentuk batangnya segitiga dan berduri pendek serta memiliki bunga yang indah mirip dengan bunga Wijayakusuma berbentuk corong dan mulai mekar disenja dan akan mekar sempurna pada malam hari. Karena itulah tanaman ini juga dijuluki night blooming cereus. Nama buah naga atau dragon fruit disebabkan karena buah ini memiliki warna merah menyala dan memiliki kulit dengan sirip hijau yang mirip dengan sosok naga dalam imajinasi di negara Cina. Masyarakat Cina kuno menganggap buah naga membawa berkah, sehingga sering diletakkan di antara dua ekor patung naga berwarna hijau di atas meja altar persembahan kepada dewa.
Warna merah buah menjadi mencolok di antara warna naga yang hijau sehingga memunculkan estetika.
Dalam perkembangannya, buah naga lebih dikenal sebagai tanaman dari Asia karena sudah dikembangkan secara besar-besaran di beberapa negara Asia terutama negara Vietnam dan Thailand. Seperti didaerah asalnya Meksiko, Amerika Tengah, maupun Amerika Utara meskipun awalnya tanaman ini ditujukan untuk tanaman hias dalam perkembangannya masyarakat Vietnam mulai mengembangkan sebagai tanaman buah, karena memang bukan hanya dapat dimakan, rasa buah ini juga enak dan memiliki kandungan yang bermanfaat dan berkhasiat. Maka tanaman ini mulai dibudidayakan dikebun-kebun sebagai tanaman yang diambil buahnya.
Buah naga mulai dikenal di Indonesia sekitar tahun 2000 dan bukan dari budidaya sendiri melainkan diimpor dari Thailand. Tanaman ini mulai dikembangkan sekitar tahun 2001, dibeberapa daerah di Jawa Timur di antaranya Kabupaten Pasuruan, Kabupaten Mojokerto, Kabupaten Jember dan sekitarnya.
Hingga kini luas areal penanaman tanaman ini masih terbatas. Hal ini disebabkan karena buah naga masih tergolong baru dan langka (Kristanto 2010).
11 2.1.2.Karateristik Buah Naga
Buah naga merupakan kelompok tumbuhan biji tertutup yang berkeping dua. Species dari tanaman buah naga ada empat yaitu Hylocereus undatus (daging putih), Hylocereus polyrhizus ( daging merah), Hylocereus costaricensis (daging merah super) dan Selenicereus megalanthus (kulit kuning, tanpa sisik).
Tanaman buah naga termasuk tanaman tropis dan sangat mudah beradaptasi pada berbagai lingkungan tumbuh dan perubahan cuaca seperti sinar matahari, angin dan curah hujan. Curah hujan yang ideal untuk pertumbuhan dan perkembangan tanaman ini sekitar 60 mm/bulan atau 720 mm/tahun. Sementara itu, intensitas matahari yang disukai sekitar 70-80 persen. Oleh karena itu, tanaman ini sebaiknya ditanam di lahan yang tidak terdapat naungan dengan sirkulasi udara yang baik.Pertumbuhan dan perkembangan tanaman buah naga dapat tumbuh dengan baik, baik ditanam di daerah dataran rendah maupun dataran tinggi antara 0-1000 m dpl. Suhu udara yang ideal bagi tanaman ini antara 26-36
0C dan kelembaban 70-90 persen. Tanah harus berareasi baik dan derajat keasaman (pH) tanah yang disukai bersifat sedikit alkalis 6.5-7.
Tanaman buah naga merupakan jenis tanaman memanjat. Pada habitat aslinya tanaman ini memanjat tanaman lainnya untuk menopang dan bersifat epifit. Secara morfologis tanaman ini termasuk tanaman tidak lengkap karena tidak memiliki daun. Morfologi tanaman buah naga teridi dari akar, batang dan cabang, bunga, buah dan biji.
Perakaran buah naga bersifat epifit, merambat dan menempel pada tanaman lain. Dalam pembudidayaannya, dibuat tiang penopang untuk merambatkan batang tanaman buah ini. Perakaran buah naga tahan terhadap kekeringan tetapi tidak tahan dalam genangan air yang terlalu lama. Meskipun akar dicabut dari tanah, tanaman ini masih bisa hidup dengan menyerap makanan dan air dari akar udara yang tumbuh pada batangnya.
Batang buah naga berwarna hijau kebiru-biruan atau keunguan. Batang tersebut berbentuk siku atau segitiga dan mengandung air dalam bentuk lendir dan berlapiskan lilin bila sudah dewasa. Dari batang ini tumbuh cabang yang bentuk dan warnanya sama dengan batang dan berfungsi sebagai daun untuk proses asimilasi dan mengandung kambium yang berfungsi untuk pertumbuhan tanaman.
12 Pada batang dan cabang tanaman ini tumbuh duri-duri yang keras dan pendek.
Letak duri pada tepi siku-siku batang maupun cabang dan terdiri 4-5 buah duri disetiap titik tumbuh.
Buah berbentuk bulat panjang dan biasanya terletak mendekati ujung cabang atau batang. Pada cabang atau batang bisa tumbuh lebih dari satu dan terkadang berdekatan. Ketebalan kulit buah sekitar 1-2 cm dan pada permukaan kulit buah terdapat sirip atau jumbai berukuran sekitar 2 cm.
Buah naga mempunyai khasiat yang bermanfaat bagi kesehatan manusia diantaranya sebagai penyeimbang kadar gula darah, pelindung kesehatan mulut, pencegah kanker usus, mengurangi kolesterol, pencegah pendarahan dan mengobati keluhan keputihan. Buah naga biasanya dikonsumsi dalam bentuk buah segar sebagai penghilang dahaga, karena buah naga mengandung kadar air tinggi sekitar 90 persen dari berat buah.
Buah naga atau dragon fruit diklasifikasikan sebagai buah eksotik di Indonesia karena harganya cukup mahal dan ketersediaannya masih langka.
Prospek buah naga di pasar domestik cukup baik karena penggemarnya semakin meningkat. Hal tersebut dapat dilihat dengan semakin banyaknya buah naga di supermarket atau pasar swalayan di beberapa kota di Indonesia. Untuk memenuhi kebutuhan pasar tersebut sekarang telah berkembang sentra produksi buah naga di beberapa daerah. Namun, produsen buah naga di Indonesia belum mampu memenuhi permintaan domestik sehingga masih harus melakukan impor. Untuk itu, pengusahaan buah naga memiliki potensi pasar yang cukup baik.
2.2. Karakteristik Buah Srikaya
Pohon buah srikaya berbentuk perdu dengan ketinggian 3-7 m. Daun memanjang sampai bentuk lanset, dengan panjang 3.5-7 cm, lentur dan bertepi rata. Bunga dalam karangan yang pendek berbunga 2–10. Daun kelopak waktu kuncup tersusun secara katup, segitiga kecil, pada pangkalnya bersatu. Daun mahkota terluar berdaging sangat tebal dengan panjang 2-3 cm, dari dalam putih kekuningan dan pangkalnya berongga. Daun mahkota dalam sangat kecil dengan dasar buah meninggi. Benang sari berwarna putih dan berjumlah banyak.
Srikaya dapat tumbuh pada semua jenis tanah. Akan tetapi jenis tanah yang paling baik adalah tanah yang mengandung pasir dan kapur. Srikaya dapat
13 tumbuh baik pada derajat keasaman tanah (pH) antara 6–6.5 dengan ketinggian tempat antara 100–1,000 m dpl (di atas permukaan laut). Pada ketinggian di atas 1,000 m dpl atau dataran tinggi dan pegunungan, tanaman srikaya tumbuh lambat dan enggan berbuah.
Iklim yang dibutuhkan tanaman srikaya harus sesuai. Komponen iklim meliputi curah hujan, suhu udara dan angin. Suhu udara yang sesuai dengan tanaman srikaya antara 20–25 °C dan curah hujan yang dibutuhkan tanaman srikaya antara 1,500–3,000 mm/tahun. Sebaiknya curah hujan merata sepanjang tahun. Walaupun tanaman srikaya tahan terhadap kekeringan, tetapi untuk pertumbuhan bunga sampai buah matang perlu kelembaban yang cukup di sekitar sistem perakarannya.
Srikaya merupakan buah yang mengandung vitamin C (mencegah asma) dan beberapa manfaat lain diantaranya mengontrol kadar gula darah, menjaga kesehatan jantung, menurunkan tekanan darah, membantu memproduksi energi, memelihara cadangan vitamin B di dalam tubuh yang penting untuk pertumbuhan dan perkembangan fungsi-fungsi tubuh, menjaga kekuatan tulang, membantu menurunkan kadar kolesterol, memelihara kesehatan tiroid, vitamin B9.
Daerah pengembangan tanaman srikaya sampai saat ini masih terbatas, hal ini dikarenakan masih sedikit masyarakat yang mengusahakan srikaya secara komersil dan adanya persepsi masyarakat, bahwa srikaya hanya ditanam sebagai tanaman perkarangan saja namun tidak dilihat dari sisi bisnis usaha srikaya. Oleh karena itu, buah srikaya sulit sekali ditemukan di pasar dan hal ini dapat menjadi suatu prospek bisnis bagi pengusaha agribisnis. Beberapa pertimbangan yang menjadikan srikaya berpotensi untuk diusahakan dengan tujuan komersial antara lain, buah srikaya merupakan komoditas buah yang mempunyai potensi untuk dikembangkan karena memiliki nilai jual yang tinggi (Sakina 2009).
2.3. Karakteristik Buah Pepaya
Pepaya adalah tanaman yang berasal dari Amerika Tengah, pusat penyebarannya diduga berada di Meksiko bagian Selatan dan Nikaragua, sekitar abad ke-15 dan ke-17 menyebar ke berbagai negara tropis di benua Asia, Afrika dan pulau–pulau di lautan Pasifik.
14 Pepaya dapat tumbuh dengan baik di Indonesia mulai dari dataran rendah sampai dataran tinggi yang memiliki ketinggian 1,000 m di atas permukaan laut.
Keadaan iklim dan lahan di Indonesia sangat cocok untuk budidaya pepaya.Pohon pepaya umumnya tidak bercabang atau bercabang sedikit, dengan tinggi 5–10 m.
Daun–daunnya membentuk serupa spiral pada batang pohon bagian atas. Daunnya menyirip lima dengan tangkai yang panjang dan berlubang dibagian tengah.
Pepaya memiliki karakteristik monodioecious (berumah tunggal sekaligus berumah dua) dengan tiga kelamin yaitu tumbuhan jantan, betina dan banci.
Walaupun tumbuhan jantan seringkali dapat menghasilkan buah secara
„partenogenesi‟, namun tumbuhan jantan dikenal sebagai „pepaya gantung‟.
Bunga pepaya memiliki mahkota bunga berwarna kuning pucat dengan tangkai atau duduk pada batang. Bunga jantan pada tumbuhan jantan tumbuh pada tangkai panjang dan biasanya ditemukan pada daerah sekitar pucuk.
Bentuk buah bulat hingga memanjang dengan ujung meruncing. Buah berwarna hijau gelap ketika muda dan setelah masak menjadi hijau muda hingga berwarna kuning. Daging buah berasal dari karpela yang menebal, berwarna kuning hingga memerah tergantung dari varietasnya. Bagian tengah buah berongga dengan biji berwarna hitam atau kehitaman dan terbungkus semacam lapisan berlendir (pulp) untuk mencegah dari kekeringan.
Pepaya (Carita papaya L.) merupakan salah satu tanaman buah yang popular di masyarakat. Pepaya merupakan komoditas hortikultura yang penting karena memiliki nilai ekonomi yang tinggi. Buah pepaya dapat disebut buah rakyat karena disukai oleh semua lapisan masyarakat. Pepaya di Indonesia merupakan salah satu komoditas unggulan dan komoditas ekspor. Kecenderungan pola makan yang tidak seimbang menyebabkan ketersediaan buah pepaya semakin dibutuhkan sebagai sumber serat dengan harga relatif lebih murah. Budidaya pepaya umumnya ditunjukkan untuk dijual dalam bentuk buah segar. Daya serap pasar cenderung masih memiliki potensi. Ini ditunjukkan oleh konsumsi per kapita sebesar 2.86 kg pepaya pertahun. Prediksi angka tersebut terus meningkat dari tahun ke tahun (PT. Cakrawala Pengembangan Agro Sejahtera 2003, diacu dalam Haposan 2006).
15 Proyeksi permintaan pasar terhadap pepaya mencapai 0.77 juta ton pada tahun 2010, sementara itu data produksi pepaya di Indonesia tecatat di Biro Pusat Statistik (BPS) menunjukkan produk rata-rata pada tahun 1992-1998 baru mencapai 0.43 juta ton sehingga Indonesia masih berpeluang untuk meningkatkan produksi pepaya sekitar 0.34 juta ton (79 persen) untuk memenuhi proyeksi permintaan pada tahun 2010 (Sawit et al 1997 diacu dalam Haposan 2006).
Pepaya merupakan salah satu buah tropis yang banyak diminati konsumen baik di dalam negeri maupun diluar negeri. Kegunaan pepaya cukup beragam dan hampir semua bagian pepaya dapat dimanfaatkan untuk berbagai keperluan. Daun mudanya dapat digunakan sebagai lalapan, bahan baku tradisonal dan lain-lain.
Selain itu getah pepaya yang mengandung enzim papain juga dapat diolah menjadi produk perdagangan yang banyak digunakan dalam berbagai makanan, minuman dan industri farmasi. Buahnya selain digunakan untuk memenuhi kebutuhan gizi keluarga juga mempunyai nilai ekonomis yang cukup tinggi (Direktorat Jenderal Hortikultura 2005).
2.4. Karakteristik Caisin
Tanaman caisin dapat tumbuh baik di tempat berudara panas maupun berudara dingin sehingga dapat diusahakan baik di dataran rendah maupun dataran tinggi. Meskipun demikian tanaman caisin akan lebih baik jika ditanam di dataran tinggi. Daerah penanaman yang cocok yaitu mulai dari ketinggian 5–1200 m di atas permukaan laut.
Tanaman caisin dapat tahan terhadap air hujan sehingga dapat ditanam sepanjang tahun. Pada musim kemarau, jika penyiraman dilakukan dengan teratur dan dengan air yang cukup, tanaman akan tumbuh sebaik musim penghujan.
Walaupun demikian, tanaman caisin tidak senang terhadap air yang menggenang.Tanah yang cocok untuk ditanami caisin adalah tanah gembur, banyak mengandung humus, subur, serta pembuangan airnya baik. Derajat keasaman (pH) tanah yang optimum untuk pertumbuhannya berkisar 6–7.
Caisin merupakan tanaman sayuran dengan iklim subtropis, namun mampu beradaptasi dengan baik pada iklim tropis. Caisin tergolong tanaman yang tahan terhadap suhu tinggi (panas). Saat ini, kebutuhan akan caisin semakin lama semakin meningkat seiring dengan peningkatan populasi manusia dan manfaat
16 mengkonsumsi bagi kesehatan. Rukmana (1994) dalam Fahrudin (2009) menyatakan caisin mempunyai nilai ekonomi tinggi setelah kubis crop, kubis bunga dan brokoli.
Sebagai sayuran, caisin atau dikenal dengan sawi hijau mengandung berbagai khasiat bagi kesehatan. Kandungan yang terdapat pada caisin adalah protein, lemak, karbohidrat, Ca, P, Fe, Vitamin A, Vitamin B, dan Vitamin C.
Permintaan masyarakat terhadap caisin semakin lama semakin meningkat. Dengan permintaan caisin yang semakin meningkat, maka untuk memenuhi kebutuhan konsumen, baik dalam segi kualitas maupun kuantitas, perlu dilakukan peningkatan produksi.
2.5. Karakteristik Selada
Selada merupakan sayuran yang termasuk ke dalam family Caompositae dengan nama latin Lactuca sativa L. Tanaman selada dapat tumbuh di dataran tinggi maupun dataran rendah, namun lebih baik jika diusahakan di dataran tinggi.
Tanaman selada merupakan tanaman yang tidak tahan terhadap hujan dan juga tidak tahan terhadap sengatan matahari langsung yang terlalu panas.
Tanaman selada tumbuh baik pada tanah yang subur dan banyak mengandung humus. Tanah yang banyak mengandung pasir dan lumpur juga sangat cocok bagi pertumbuhan tanaman selada. Derajat keasaman tanah (pH) yang ideal untuk pertumbuhan tanaman ini adalah berkisar 6.5–7.
Selada merupakan tanaman setahun polimorf (memiliki banyak bentuk), khususnya dalam hal bentuk daunnya. Tanaman ini cepat menghasilkan akar tunggang dalam yang diikuti dengan penebalan dan perkembangan ekstensif akar lateral yang kebanyakan horizontal. Daun selada sering berjumlah banyak, tersusun berbentuk spiral dalam susunan padat.
Selada merupakan sayuran yang mempunyai nilai komersial dan prospek yang cukup baik. Ditinjau dari aspek klimatologis, aspek teknis, ekonomis dan bisnis, selada layak diusahakan untuk memenuhi permintaan konsumen yang cukup tinggi dan peluang pasar internasional yang cukup besar (Haryanto dkk, 2003).
Tanaman selada merupakan sayuran yang dikonsumsi karena kelembutan, kerenyahan dan karakteristiknya yang berair (Denisen 1979 diacu dalam Prawoto
17 2012). Selada (Lactuca sativa) merupakan sayuran yang sering dimanfaatkan untuk menghias masakan. Selada dihidangkan sebagai pendamping makanan seperti gado-gado, salad, burger, ataupun lalap. Harga sayuran selada cukup tinggi dan pemasarannya cukup mudah. (Saparinto 2011). Untuk itu, seiring dengan pertumbuhan usaha kuliner, maka permintaan selada akan terus meningkat.
2.6. Karakteristik Cabai
Secara umum cabai dapat ditanam di areal sawah maupun pekarangan tegal, di dataran rendah hingga dataran tinggi. Cabai merupakan tanaman semusim berbentuk perdu. Tanaman ini berakar tunggang dengan banyak akar samping yang dangkal. Batangnya tidak berbulu, tetapi banyak cabang. Daunnya panjang dengan ujung runcing (oblongusacutus). Cabai berbunga sempurna dengan benang sarinya tidak berlekatan (lepas). Umumnya bunga berwarna putih, namun ada pula yang ungu dan bunga cabai berbentuk terompet kecil.
Ada dua golongan tanaman cabai yang terkenal yaitu cabai besar (Capisicum annuum L.) dan cabai kecil (Capisicum frutescens L.). Jenis cabai yang termasuk ke dalam golongan cabai besar adalah cabai merah (Capisicumannum L. var longum L. Sendt). Cabai tersebut buahnya panjang dengan ujungnya runcing dan posisinya menggantung pada ketiak daun. Ketika muda warna buahnya hijau, setelah tua berubah menjadi merah.
Cabai dapat dengan mudah ditanam, baik di dataran rendah maupun dataran tinggi. Syarat agar tanaman cabai tumbuh baik adalah tanah berhumus (subur), gembur, bersarang, dan pH tanahnya antara 5-6. Tanaman cabai tidak tahan hujan, terutama pada waktu berbunga, karena bunga-bunganya akan mudah gugur. Jika pada tanahnya terlalu banyak air atau becek, tanaman mudah terserang penyakit layu. Oleh karena itu, waktu tanam cabai yang baik adalah pada awal musim kemarau. Namun cabai juga dapat ditanam pada saat musim penghujan dengan syarat drainasenya baik.
Tanaman cabai merupakan salah satu sayuran yang memiliki peluang bisnis yang baik. Besarnya kebutuhan dalam negeri maupun luar negeri menjaadikan cabai sebagai komoditas yang menjanjikan. Permintaan cabai yang tinggi untuk kebutuhan bumbu masakan, industri makanan, dan obat-obatan merupakan potensi untuk mendapatkan keuntungan. Hal ini juga salah satu sebab
18 cabai merupakan komoditas hortikultura yang mengalami fluktuasi harga paling tinggi di Indonesia (Hapernas, dan Dermawan 2011).
Kebutuhan masyarakat terhadap komoditas cabai semakin meningkat seiring dengan peningkatan jumlah penduduk. Selain itu, semakin bervariasinya jenis dan menu makanan yang memanfaatkan cabai turut membuat kebutuhan cabai meningkat. Permintaan cabai semakin tinggi karena digalakkannya ekspor komoditas nonmigas, seperti tanaman produk pertanian. Oleh karena itu, peluang pengembangan usaha agribisnis cabai memiliki potensi yang tinggi.
2.7. Penelitian Terdahulu
Penelitian mengenai buah naga dilakukan oleh Istianingsih (2010) mengenai Pengaruh Umur Panen dan Suhu Simpan terhadap Umur Simpan Buah Naga Super Red (Hylocereus costaricensis). Hasil dari penelitian tersebut yaitu berdasarkan hasil dari peubah yang diuji pada lokasi kebun buah naga Sentul, umur panen yang lebih disarankan untuk buah naga adalah saat 35 HSA. Hal ini disebabkan kesegaran buah lebih terjaga dengan warna kulit buah yangsudah seragam, dan nilai padatan terlarut total yang cukup tinggi. Suhu simpan 150C memiliki kemampuan untuk menyimpan buah lebih lama serta menjaga kandungan kimia buah seperti padatan terlarut total dan asam tertitrasi total agar tidak turun secara drastis selama penyimpanan. Buah nagasuper red dapat disimpan pada suhu ruang selama ± 7 hari dan pada suhu 150C selama ± 14 hari.
Penelitian selanjutnya dilakukan dilakukan oleh Puspita (2011) dengan judul Pengaruh Pengemasan dan Suhu terhadap Daya Simpan Buah Naga Super Merah (Hylocereus costaricensis). Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh pengemasan dan suhu penyimpanan terhadap daya simpan buah naga super merah yang dilaksanakan di kebun buah naga Indian Hills Sentul, Bogor dan PostharvestLaboratory, Departemen Agronomi dan Hortikultura, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor. Hasil dari penelitian tersebut menunjukkan bahwa perlakuan suhu 15 0C dapat memperpanjang daya simpan buah naga super merah hingga 15 hari. Perlakuan pengemasan yang dikombinasikan dengan suhu kamar maupun suhu dingin, tidak berpengaruh nyata terhadap mutu buah naga super merah.
19 Persamaan penelitian tersebut dengan penelitian ini adalah sama-sama meneliti komoditas buah naga, namun perbedaannya pada penelitian tersebut hanya terfokus pada buah naga super red sedangkan pada penelitian ini meneliti buah naga terutama varietas buah naga putih.
Penelitian mengenai daya saing dilakukan oleh Rohman (2008) dengan judul Analisis Daya Saing Beras Pandan Wangi dan Varietas Unggul Baru (Oryza sativa). Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa dengan analisis Policy Analysis Matrix (PAM) Beras Pandan Wangi dan Varietas Unggul Baru di Desa Bunikasih, Kecamatan Warungkondang, Kabupaten Cianjur memiliki keunggulan baik secara kompetitif maupun komparatif. Hal ini ditunjukkan dengan nilai indikator efisiensi pengusahaan kedua varietas yaitu nilai PCR dan DRC yang bernilai kurang dari satu. Selain itu, pengusahaan kedua komoditi tersebut memberikan keuntungan baik secara finansial dan ekonomi yang tercermin dari nilai KS dan KP yang positif. Nilai KP untuk Pandan Wangi adalah Rp 19,435,791.94 per ha per tahun sedangkan untuk beras Varietas Unggul Baru adalah Rp 6,608,066.69 per ha per tahun. Nilai KS untuk Pandan Wangi Rp 91,299,286.92 per ha per tahun, sedangkan pada beras Varietas Unggul Baru mencapai Rp 42,280,563.87 per ha per tahun.
Analisis dampak kebijakan pemerintah terhadap input dan output secara keseluruhan berdampak menghambat produsen untuk berproduksi atau dengan kata lain kebijakan yang ada belum berjalan secara efektif. Hal tersebut tercermin dari nilai EPC kedua komoditas yang kurang dari satu. Nilai EPC untuk beras Pandan Wangi adalah 0.50 dan untuk beras Varietas Unggul Baru adalah 0.73.
Secara keseluruhan komoditas beras Pandan Wangi memiliki daya saing yang lebih baik jika dibandingkan dengan komoditas beras Varietas Unggul Baru.
Selain itu, berdasarkan simulasi-simulasi yang dilakukan daya saing beras Pandan Wangi lebih tahan terhadap perubahan jika dibandingkan dengan Varietas Unggul Baru. Kondisi demikian terjadi akibat harga output Pandan Wangi yang lebih tinggi dari harga beras Varietas Unggul Baru dan disebabkan pula oleh besarnya biaya total yang digunakan dalam pengusahaan beras Varietas Unggul Baru selama satu tahun lebih tinggi dari biaya total pengusahaan beras Pandan Wangi.
20 Penelitian lainnya yaitu Analisis Daya Saing Buah-buahan Tropis Indonesia oleh Mudjayani (2008). Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis deskriptif kualitatif dan analisis kuantitatif. Analisis deskriptif kualitatif menggunakan analisis dengan pendekatan Teori Berlian Porter (Porter’s Diamond Theory). Sedangkan analisis kuantitatif untuk menjelaskan kekuatan daya saing dilakukan dengan analisis RCA (Revealed Comparative Advantage) untuk menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi daya saing buah-buahan tropis Indonesia (komoditas yang diteliti manggis, nenas, pepaya, pisang), dengan metode regresi linear berganda yaitu menggunakan model analisis OLS (OrdinaryLeast Square).
Hasil penelitian ini menunjukan bahwa berdasarkan analisis keunggulan kompetitif (Porter’s Diamond) dengan menganalisis kondisi eksternal serta kondisi internal, buah-buahan tropis Indonesia (manggis. nenas, pepaya, pisang) memiliki keunggulan kompetitif.Berdasarkan analisis keunggulan komparatif (Revealed Comparative Analysis) dari hasil perhitungan nilai RCA, buah-buahan tropis Indonesia memiliki keunggulan komparatif terlihat dari hasil nilai RCA (RCA>1) buah-buahan tropis Indonesia memiliki daya saing kuat. Faktor-faktor yang mempengaruhi daya saing buah-buahan tropis Indonesia adalah produktivitas yang berpengaruh positif terhadap daya saing, nilai ekspor yang berpengaruh positif terhadap daya saing, harga ekspor yang berpengaruh negatif terhadap daya saing, dan dummy krisis yang berpengaruh negatif terhadap daya saing. Selain variabel dummy krisis, semua variabel regresi berpengaruh signifikan pada taraf nyata 10 persen.
Dari hasil penelitian strategi yang dapat dilakukan untuk peningkatan daya saing buah-buahan tropis Indonesia adalah : (1) menjaga kualitas buah-buahan tropis Indonesia dengan memperbaiki infrastruktur yaitu dengan pengadaan alat pendingin, pemberantasan hama penyakit, dan konsistensi dalam hal pemasokan buah-buahan ke pasar. (2) meningkatkan kinerja ekspor buah-buahan tropis Indonesia. (3) meningkatkan produktivitas buah-buahan tropis Indonesia (dalam penelitian ini adalah manggis, nenas, pepaya, pisang), peningkatan produktivitas dapat meningkatkan jumlah produksi yang berarti meningkatkan daya saing buah- buahan tropis Indonesia. (4) meningkatkan volume ekspor buah-buahan tropis
21 Indonesia yang dapat meningkatkan nilai ekspor buah-buahan tropis sehingga dapat meningkatkan daya saing buah-buahan tropis Indonesia.
Penelitian selanjutnya dilakukan oleh Aliyatillah (2009) mengenai Analisis Daya Saing dan Dampak Kebijakan Pemerintah terhadap Komoditas Kakao. Pada penelitian teersebut, alat analisis yang digunakan adalah metode Policy Analysis Matrix (PAM). Hasil pada penelitian ini menunjukkan bahwa komoditas kakao di perkebunan Afdeling Rajamandala memiliki keunggulan kompetitif dan komparatif. Keuntungan privat yang diterima perkebunan sebesar Rp 5,736,356.50 per ha. Dengan demikian, kegiatan pengusahaan kakao di perkebunan Afdeling Rajamandala layak untuk dijalankan dan dapat bersaing pada tingkat harga privat. Keuntungan sosial yang diperoleh pada pengusahaan kakao di perkebunan Afdeling Rajamandala adalah Rp 3,016,772.92 per ha, yang berarti pengusahaan kakao tersebut menguntungkan secara ekonomi walaupun tanpa adanya kebijakan pemerintah.
Dampak kebijakan pemerintah yang memberikan dukungan terhadap daya saing kakao adalah dengan menetapkan harga output di atas harga efisiennya atau dengan kata lain perkebunan Afdeling Rajamandala menerima insentif dari konsumen. Hal ini ditunjukkan nilai EPC yang dihasilkan dalam penelitian ini adalah lebih dari satu yaitu 1.12 yang menunjukkan bahwa proteksi pemerintah dalam sistem produksi kakao di perkebunan Rajamandala sudah menunjukkan adanya proteksi.
Berdasarkan analisis sensitivitas yang dilakukan, kurs mata uang cukup berpengaruh terhadap daya saing komoditas kakao karena kakao merupakan komoditas internasional. Untuk meningkatkan dayasaing komoditas kakao khususnya di perkebunan Afdeling Rajamandala, upaya yang dapat ditempuh adalah dengan melakukan kontrak kerjasama dengan negara importir kakao agar fluktuasi niai tukar rupiah tidak menyebabkan daya saing kakao menurun. Adanya penurunan produktivitas lebih dari 10 persen dan penurunan harga kakao sebesar 5 persen akan menyebabkan komoditas kakao di perkebunan Afdeling Rajamandala tidak berdayasaing baik dari segi keunggulan komparatif maupun kompetitifnya.
22 Penelitian selanjutnya dilakukan oleh Safarudin (2012) dengan judul Analisis Daya Saing Komoditas Gula di Kabupaten Lampung Utara. Penelitian ini secara umum bertujuan menganalisis daya saing komoditas gula di Lampung Utara dan merumuskan alternatif strategi pengembangan komoditas gula di Lampung Utara. Hasil analisis daya saing menggunakan Teori Berlian Porter yang menunjukkan bahwa masing-masing komponen daya saing telah berjalan relatif baik. Analisis keterkaitan antar tiap komponen daya saing menunjukkan keterkaitan yang saling mendukung dan tidak saling mendukung. Keterkaitan yang saling mendukung lebih dominan sehingga dapat disimpulkan bahwa daya saing komoditas gula di Kabupaten Lampung Utara dibandingkan daerah lain di Indonesia relatif kuat.
Hasil analisis SWOT menunjukkan bahwa strategi yang dapat dirumuskan untuk meningkatkan daya saing gula di Kabupaten Lampung Utara antara lain (1) melakukan perbanyakan usahatani tebu dengan memanfaatkan lahan yang belum terpakai dan sumber daya pendukung lainnya, (2) meningkatkan kuantitas, kualitas dan efisiensi produksi gula, (3) pembentukan kluster industri, (4) pengaturan produksi dan impor gula, (5) perbaikan sarana dan prasarana penunjang PG, (6) peningkatan produksi tebu dan gula melalui pemanfaatan teknologi, (7) meningkatkan sosialisasi dan promosi tenang produk gula dari Kabupaten Lampung dan (8) konsolidasi antar tiap pihak dalam agribisnis pergulaan di Kabupaten Lampung Utara.
Penelitian yang mengaitkan antara efisiensi dan daya saing dilakukan oleh Kurniawan (2008) dengan judul Analisis Efisiensi dan Daya Saing Usahatani Jagung pada Lahan Kering di Kabupaten Tanah Laut Kalimantan Selatan.
Penelitian ini secara umum bertujuan untuk menganalisis produksi, efisiensi, keunggulan kompetitif dan komparatif jagung di lahan kering Kalimantan Selatan.
Secara rinci tujuan penelitian adalah: (1) menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi produksi jagung dan tingkat efisiensi teknis dan alokatif usahatani lahan kering dengan menggunakan fungsi produksi stochastic frontier dan fungsi biaya dual, dan (2) menganalisis daya saing (keunggulan kompetitif dan komparatif) usahatani jagung lahan kering dan pengaruh efisiensi terhadap daya saing di Kabupaten Tanah Laut, Kalimantan Selatan dengan menggunakan PAM.
23 Hasil penelitian menunjukkan bahwa menunjukkan bahwa secara statistik variabel luas lahan, benih, pupuk organik, pupuk P, pestisida, tenaga kerja dan pengolahan tanah ditemukan berpengaruh nyata terhadap produksi jagung pada taraf α=15 persen, sedangkan pupuk N dan K tidak berpengaruh nyata. Ini diduga karena penggunaan pupuk N diduga sudah berlebihan. Rata-rata penggunaan urea di daerah penelitian adalah 447.5 kg per ha, sedangkan rekomendasi penggunaan pupuk urea adalah 350–400 kg per ha.
Efisiensi teknis dianalisis dengan menggunakan model fungsi produksi stochastic frontier. Nilai indeks efisiensi teknis hasil analisis dikategorikan efisien jika lebih besar dari 0.8 karena daerah penelitian merupakan sentra produksi jagung di Kalimantan Selatan. Rata-rata efisiensi teknis petani di daerah penelitian adalah 0.887. jumlah petani memiliki nilai efisiensi teknis lebih besar dari 0.8 adalah 89.48 persen sehingga sebagian besar usahatani jagung yang diusahakan telah efisien secara teknis. Jadi, karena sebagian besar petani telah efisien secara teknis, maka untuk meningkatkan output perlu dilakukan introduksi teknologi baru seperti benih unggul yang lebih sesuai dengan kondisi agroklimat dan mekanisasi pertanian.
Efisiensi alokatif dianalisis dengan menggunakan model fungsi biaya dual frontier yang diturunkan dari fungsi produksi frontier. Petani responden di daerah penelitian belum efisien secara alokatif. Rata-rata efisiensi alokatif adalah 0.566.
Rendahnya efisiensi alokatif ini menyebabkan efisiensi ekonomis juga rendah, yaitu 0.498. Salah satu penyebab rendahnya efisiensi alokatif ini adalah penggunaan pupuk urea yang berlebihan. Penurunan penggunaan pupuk urea dari 447.51 kg per ha menjadi 400 per ha menyebabkan kenaikan efisiensi alokatif menjadi 0.518 dan efisiensi ekonomis menjadi 0.512.
Analisis daya saing dilakukan dengan menggunakan kriteria PCR dan DRC. Berdasarkan nilai PCR dan DRC yang kurang dari satu, artinya jagung di daerah penelitian memiliki daya saing sebagai substitusi impor. Ini dapat dilihat dari terserapnya semua hasil poduksi jagung di pasar lokal, sedangkan jagung impor hanya masuk ke pasar lokal saat paceklik saja. Harga jagung impor lebih mahal daripada harga jagung lokal dengan selisih harga Rp 100/kg.
24 Persamaan penelitian diatas dengan penelitian ini adalah sama-sama meneliti tentang daya saing suatu komoditas. Namun, dalam penelitian ini menggunakan metode yang mengaitkan antara daya saing dengan tingkat pendapatan usahatani, efisiensi usahatani dan kondisi pasar komoditas buah naga.
Penelitian yang mengaitkan antara pendapatan buah naga dan daya saing suatu komoditas (buah naga) sampai saat ini belum ada. Penelitian ini akan mencoba mengaitkan antara tingkat pendapatan dan efisiensi usahatani terhadap daya saing suatu komoditas, dalam hal ini adalah komoditas buah naga.