• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi Digital Marketing

Menurut Purwana (2017) bahwa konsep digital marketing berasal dari internet dan mesin pencari (search engines) pada situs. Ketika puncak penggunaan internet di tahun 2001, pasar didominasi oleh Google dan Yahoo sebagai search engine optimization (SEO). Dan penggunaan pencarian melalui internet berkembang pada tahun 2006 dan pada tahun 2007 penggunaan perangkat mobile meningkat drastis yang juga meningkatkan penggunaan internet di masyarakat dari berbagai penjuru dunia mulai berhubungan satu sama lain melalui media sosial.

Menurut Chaffey (2015), digital marketing atau pemasaran digital memiliki arti yang hampir sama dengan pemasaran elektronik (e-marketing), keduanya menggambarkan manajemen dan pelaksanaan pemasaran menggunakan media elektronik, jadi yang dimaksud digital marketing adalah penerapan teknologi digital yang membentuk saluran online (channel online) ke pasar (website, e-mail, database, digital TV dan melalui berbagai inovasi terbaru lainnya termasuk di dalamnya blog, feed, podcast, dan jejaring sosial) yang memberikan kontribusi terhadap kegiatan pemasaran yang bertujan untuk mendapat keuntungan serta membangun dan mengembangkan hubungan dengan pelanggan selain itu mengembangkan pendekatan yang terencana untuk meningkatkan pengetahuan tentang konsumen, kemudian menyatukan komunikasi yang ditargetkan dengan pelayanan online sesuai kebutuhan masing-masing individu atau pelanggan yang spesifik. Berdasarkan uraian tersebut dapat disimpulkan digital marketing adalah

mencapai tujuan pemasaran melalui penerapan teknologi dan media digital.

2.2 Tagline (Slogan)

2.2.1 Definisi Tagline (Slogan)

Tagline atau slogan ialah bagian dari iklan yang bertujuan agar iklan tersebut mudah diingat oleh konsumen. Tagline secara tradisional bisa juga diartikan sebagai “Jingles” atau slogan. Tagline adalah lini yang ekspresif yang digunakan untuk mendramatisir emosi dan fungsional dari merek bagi para pelanggan dan pelanggan potensial. Tagline memberitahu konsumen bagaimana mereka diharapkan akan merasakan tentang merek tersebut. Menurut Yektiningsih (2010), sebuah tagline harus dibuat dengan memahami product insight dan consumer insight. Setelah proses tersebut dilewati munculah product positioning.

Product positioning biasanya muncul dalam bahasa marketing. Kemudian bahasa marketing tersebut diterjemahkan dalam bahasa konsumen dan terciptalah tagline.

Tagline yang berkembang dalam budaya populer dibutuhkan untuk menyederhanakan suatu pemahaman. Tagline itu harus mudah diingat, pemilihan kata yang simple dan singkat (Soebroto, 2013)

Pengenalan tagline baru biasanya dilakukan melaluin program above the line (ATL) berupa penayangan iklan diberbagai media massa cetak dan elektronik.

Tagline adalah salah satu atribut dalam sistem identitas, berupa satu kata atau lebih yang menggambarkan esensi, personality maupun positioning brand. Menurut Rustan (2009), seorang penulis dan ahli brand tagline mendefinisikan tagline sebagai susun kata yang ringkas (biasanya tidak lebih dari tujuh kata), diletakkan mendampingi logo dan mengandung pesan brand yang kuat ditujukan kepada

12

audience tertentu. Selain slogan, tagline juga dikenal dengan istilah motto. Tagline juga disebut slogan/motto, yakni sebuah frase yang menyertai nama merek untuk mengartikan dengan cepat positioning dan brand statement kedalam beberapa kata yang mudah diingat yang menyampaikan penawaran merek, janji dan posisi sejajar (Chiaravalle & Schenck, 2015).

Menurut Chairiawaty (2012), penyampaian tagline/slogan dalam iklan dianjurkan menggunakan kata-kata yang pantas, secara proporsional, yang mudah dicerna oleh pihak lain, dan tidak menimbulkan interpretasi yang bermacam-macam. Usia pemakaian sebuah tagline pada suatu brand tidak selamanya, karena tagline seringkali diganti untuk menyesuaikan perkembangan pasar dan gaya.

Selain itu tagline harus efektif, karena tagline turut berfungsi membentuk brand image di benak publik dan bukan hanya sebagai tambahan/pemanis.

Berdasarkan beberapa pengertian dari para ahli maka dapat disimpulkan bahwa tagline merupakan suatu frase pendek atau singkat yang menyertai logo atau nama merek untuk menyampaikan inti pesan dari suatu produk dan tujuan dari sebuah merek atau perusahaan kepada konsumen dan audience (masyarakat) luas yang mewakili apa yang ingin mereka atau perusahaan sampaikan dengan menciptakan frase yang mudah diingat.

2.2.2 Tujuan Tagline

Menurut Diandra (2016), tujuan utama dari tagline sendiri ialah untuk merangsang minat pembeli terhadap suatu produk. Selain itu, sebuah tagline memberikan gambaran akan tujuan dan maksud dari suatu bisnis tersebut. Menurut Altstiel & Grow (2006), Tujuan utama dari tagline adalah untuk membangun atau

memperkuat merek, dalam melakukan hal ini, tagline harus melakukan hal-hal berikut:

1. Menyediakan kontinuitas untuk periklanan, tagline salah satunya komponen umum dari suatu periklanan multimedia yang bisa menjadikan iklan berbeda serta tagline yang baik telah melalui perubahan dalam strategi perikalanan.

2. Memperoleh kejelasan mengenai suatu produk dengan menyiratkan suatu pesan produk.

2.2.3 Fungsi Tagline

Menurut Andini (2016), keberhasilan tagline dalam menjalankan fungsinya dapat diukur dengan 3 indikator, yaitu :

1. Familiarity (Keakraban)

Tagline mudah diingat dan mudah dikenali oleh konsumen ketika ditayangkan di telivisi serta konsumen menyadari jika terdapat perubahan dalam tagline iklan tersebut.

2. Differentiation (Perbedaan)

Perbedaan yang menjadi ciri khas yang dari produk-produk pesaing lainnya.

Tagline yang dimiliki produk iklan sesuai dengan harapan konsumen.

3. Message of Value (Pesan dan Nilai)

Sejauh mana efek pesan iklan yang disampaikan itu dapat menarik perhatian, dimengerti, dipahami, membangkitkan emosi dan menggerakkan sasarannya untuk memberikan tanggapan yang dikehendaki.

2.2.4 Tagline Yang Efektif

Tagline yang baik (efektif) memiliki kualitas tertentu yang membuatnya

14

dapat bekerja dan bermanfaat bagi sebuah merek produk. Kualitas tersebut membuat tagline mudah di kenali dan diingat konsumen dan menjadikannya abadi. Menurut Chiaravalle & Schenck (2015), menjelaskan bahwa tagline yang hebat memiliki sejumlah atribut umum. Yakni dengan memenuhi kriteria sebagai berikut:

1 It’s memorable, ketika mendengarnya, mengingatnya, dan mengulangnya dengan mudah.

2 It’s short, tagline yang hebat memiliki sedikitnya sepuluh suku kata sehingga mereka cepat untuk dibaca, mudah diselipkan disamping logo, dan cukup pendek untuk dimasukkan dalam komunikasi singkat.

3 It conveys a brand’s point of difference (Menyampaikan titik pembeda merek).

4 It differentiates a business from all others, tagline yang hebat begitu unik sehingga tidak bekerja ketika dikaitkan dengan merek pesaing.

5 It reflects the brand’s identity, character, promise, and personality (mencerminkan identitas merek, karakter, janji, dan kepribadian).

6 It’s believable and original (terpercaya dan asli).

2.3 Responsiveness ( Daya Tanggap )

2.3.1 Pengertian Reponsiveness ( Daya Tanggap )

Menurut Tjiptono & Chandra (2016), daya tanggap merupakan kemampuan pengecek online untuk memberikan informasi yang tepat kepada pelanggan sewaktu timbul masalah, memiliki mekanisme untuk menangani pengembalian produk dan menyediakan garansi online.

Menurut Ho & Y (2007), dimensi Responsiveness diukur berdasarkan

ketepatan waktu dari sebuah website yang merespons customer dalam sebuah lingkungan online, seperti bagaimana menjawab pertanyaan dari customer dengan cepat dan efisien atau bagaimana kebutuhan dan komplain dari customer dapat direspons melalui email secara sopan. Masalah-masalah tersebut secara konsep merupakan komponen dari dimensi responsiveness.

Pada pelayanan, kemampuan untuk segera mengatasi kegagalan secara profesional dapat memberikan persepsi yang positif terhadap kualitas pelayanan.

Adapun bentuk kepedulian tersebut dapat dilakukan baik melalui pencapaian informasi atau penjelasan-penjelasan ataupun melalui tindakan yang dapat dirasakan manfaatnya oleh pelanggan. Daya tanggap dalam E-service ialah persepsi konsumen untuk mendapatkan tanggapan maupun bantuan dengan cepat ketika mempunyai masalah atau pertanyaan (Swaid & Wigand, 2009).

Menurut Zeithaml & Bitner (2002), Responsiveness Adalah kecepatan dari pelayanan melalui media elektronik yang diterapkan oleh perusahaan meliputi waktu kerja dari customer service serta kecepatan respon dari customer service.

Ketanggapan (responsiveness) yaitu respon yang cepat dan kemampuan untuk membantu jika terdapat masalah atau pertanyaan (Parasuraman, 2005).

Berdasarkan uraian tersebut, maka dapat disimpulkan kesigapan dan kemauan adalah bentuk kepedulian kepada pelanggan. Daya tanggap merupakan suatu kebijakan untuk membantu dan memberikan pelayanan yang cepat kepada pelanggan dan daya tanggap memiliki mekanisme untuk menangani pengembalian produk, dan menyediakan garansi online.

Daya tanggap merupakan dimensi yang penting dalam kualitas layanan,

16

baik kualitas layanan offline maupun kualitas layanan online. Responsiveness mengukur kemampuan sebuah perusahaan untuk menyediakan informasi kepada pelanggan ketika terjadi masalah, memiliki mekanisme menanggani pengembalian dan memberikan jaminan daring (Zeithaml & Bitner, 2002).

2.3.2 Indikator Responsiveness ( Daya Tanggap )

Daya Tanggap (Responsiveness) yaitu suatu kemauan untuk membantu dan memberikan pelayana yang cepat (Responsif), dan tepat kepada pelanggan, dengan penyampaian imformasi yang jelas. Membiarkan pelanggan tampa adanya suatu alasan yang jelas menyebabkan persepsi yang negatif dalam kualitas pelayanan.

Menurut Tjiptono (2012), Indikator kualitas pelayanan Daya tanggap Responsiveness yaitu:

1. Merespon keluhan konsumen dan memberikan informasi dengan cepat.

2. Menangani pengembalian produk

Dokumen terkait