BAB IV PEMIKIRAN, METODE PENETAPAN HUKUM, FAKTOR
B. Metode Ijtihad Ibrahim Hosen Mengenai Kedudukan
1. Definisi ijtihad, Syarat dan Tingkatan Mujtahid
Dikalangan ulama Usul Fiqih terdapat berbagai redaksi dalam
mendefinisikan ijtihad, namun intinya adalah sama. Ibnu Abd al-Syakur dari
kalangan Hanafiyah sebagaimana yang penulis kutip dari Satria Efendi mendefinisikan ijtihad sebagai “pengerahan kemampuan untuk menemukan
kesimpulan hukum-hukum syara sampai ke tingkat zhanni (dugaan keras)
21
Ibrahim Hosen, Fiqih Perbandingan Masalah Pernikahan Jilid 1, h.263.
22
sehingga mujtahid itu tidak bisa lagi berupaya lebih dari itu”. Sedangakan
al-Baidawi ahli Ushul Fiqih dari kalangan Syafi‟iyah mendefinisikan ijtihad sebagai “pengerahaan seluruh kemampuan dalam upaya menemukan hukum-hukum
syara”.23
Sementara itu Abu Zahrah ahli Ushul Fiqih yang hidup pada awal abad kedua puluh ini mendefinisikan ijtihad sebagai “pengerahan seorang ahli fiqih
akan kemampuannya dalam upaya menemukan hukum yang berhubungan dengan
amal perbuatan satu persatu dari dalilnya.24
Adapun syarat-syarat seorang mujtahid menurut Satria Efendi dalam
bukunya mengatakan bahwa Wahbah az-Zuhaili menyimpulkan ada delapan
persyaratan yang harus dipenuhi oleh seorang mujtahid adalah:25
a. Mengerti dengan makna-makna yang dikandung oleh ayat hukum dalam
Al-Quran baik secara bahasa maupun istilah syariat.
b. Mengetahui tentang hadis-hadis hukum baik secara bahasa maupun dalam
pemakaian syara‟.
c. Mengetahui tentang mana ayat atau hadis yang telah di mansukh dan mana ayat
atau hadis yang me-nasakh atau sebagai penggantinya.
d. Mempunyai pengetahuan tentang masalah-masalah yang sudah terjadi ijma
tentang hukumnya dan mengetahui tempat-tempatnya.
e. Mengetahui tentang seluk beluk qiyas, seperti syarat-syaratnya, rukun-rukunya,
tentang „illat hukum dan cara menemukan „illat itu dari ayat atau hadis, dan
mengetahui kemaslahatan yang dikandung oleh suatu ayat hukum dan
prinsip-prinsip umum syariat Islam.
23
Satria Efendi, Usul Fiqih, cet.1, (Jakarta: kencana, 2005), h.245-246.
24
Muhammad Abu Zahrah, Usul Fiqih, cet.12, (Jakarta: Pustaka Firdaus, 2008), h.567.
25
f. Menguasai bahasa Arab dan ilmu-ilmu bantu yang berhubungan dengannya.
g. Menguasai ilmu Ushul Fiqih, seperti tentang hukum dan macam-macamnya,
tentang sumber-sumber hukum atau dalil-dalilnya, tentang kaidah-kaidah dan
cara meng-istinbathkan-kan hukum dari sumber-sumber tersebut, dan tentang
ijtihad.
h. Mampu menangkap tujuan syariat dalam merumuskan suatu hukum.
Abu Zahrah membagi mujtahid kepada beberapa tingkat, yaitu mujtahid
mustaqil, mujtahid muntasib, mujtahid fi al-mazhab, dan mujtahid fi at-Tarjih. :26
a. Mujtahid muthlaq mustaqil yang sering juga disebut dengan mujtahid mutlaq
ialah ijtihad yang dilakukan dengan cara menciptakan sendiri norma-norma
hukum dan kaidah-kaidah istinbath yang menjadi sistem atau metode bagi bagi
mujtahid dalam menggali hukum.
b. Mujtahid Muthlaq Muntasib atau sering juga disebut Mujtahid Muntasib ialah
ijtihad yang dilakukan dengan menggunakan norma-norma dan kaidah-kaidah
istinbath yang dibuat oleh mujtahid muthlaq mustaqil.
c. Mujtahid fi al- Mazhab. Aktifitas ijtihad dibidang ini ialah menseleksi hasil
ijtihad/ pendapat-pendapat mujtahid muthlaq muntasib, mana di antara hasil
ijtihad/ pendapat-pendapat itu yang terkuat.
d. Mujtahid fi at-Tarjih, yaitu dengan cara mentarjih beberapa pendapat di bidang
fiqih yang diriwayatkan dari Imamnya dengan mempergunakan metode
pentarjihan yang telah diterapkan oleh pendahulunya. Atau dengan cara
mentarjih beberapa pendapat imam mujtahid dan fuqaha terdahulu dengan
26
menggunakan metode-metode pentarjihan yang telah dibakukan sehingga
diketahui mana pendapat yang paling tepat.
2. Metode ijtihad Ibrahim Hosen mengenai kedudukan saksi nikah.
Metode dalam bahasa indonesia adalah cara yang teratur dan terpikir
baik-baik untuk mencapai maksud, atau cara kerja yang bersistem untuk memudahkan
pelaksanaan suatu kegiatan guna mencapai tujuan yang ditentukan.27 Sedangkan
ijtihad adalah upaya optimal yang dilakukan oleh mujtahid/faqih untuk
menemukan suatu hukum syara‟ yang kebenarannya masih bersifat zhanni
(dugaan kuat).28 Bila kata metode digabungkan dengan ijtihad disertai penyebutan
Ibrahim Hosen, maka berarti cara yang teratur dan bersistem untuk mempermudah
pelaksanaan kegiatan yang ditentukan tujuannya, yang dilakukan oleh Ibrahim
Hosen dengan menggunakan semua kemampuannya dalam rangka menemukan hukum syara‟ yang bersifat amaliyah dari al-Qur‟an dan Hadist.
Majlis Tarjih Pengembangan Pemikiran Islam (MT-PPI) membedakan tiga
istilah teknis dalam ijtihad, yaitu metode, pendekatan dan teknik29. Metode ijtihad
MT-PPI adalah:
1) Bayani (semantik), merupakan pendekatan yang ditempuh melalui
kebahasaan
2) Ta‟lili (rasionalistik), pendekatan dari sisi kelogisan berfikir;
27
Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan bahasa, Kamus Besar
Bahasa Indonesia, cet.9, (Jakarta: Balai Pustaka dan Depdikbud, 1997), Edisi ke-2, h.52.
28 Atha‟ bin Khalil, Ushul Fiqih (Kajian Ushul Fiqih Mudan dan Praktis), (Bogor: Pustaka Thariqul Izzah, 2003), h.376.
29
Fathurrahman Djamil, Metode Ijtihad majelis Tarjih Muhammadiyah, (Jakarta: Logos Wacana Imu, 1995), h. 78.
3) Istislahi (filosofis), pendekatan dengan pertimbangan kemanfaatan
(maslahah).
Sedangkan pendekatan MT-PPI dalam melakukan ijtihad adalah pendekatan:
1) Sejarah
2) Sosiologis
3) Antropologis
4) Hermenetika
Dan Teknik yang digunakan adalah:
1) Ijma‟ yaitu kesepakatan para mujtahid dari kalangan umat Islam tentang
hukum syara` pada satu masa setelah Nabi.
2) Qiyas (mengukur sesuatu dengan sesuatu yang lain untuk diketahui adanya
persamaan antara keduanya),
3) Maslahah mursalat (sesuatu dianggap maslahah namun tidak ada ketegasan
hukum untuk merealisasikannya dan tidak pula ada dalil tertentu baik yang
mendukung maupun yang menolaknya), dan
4) Sad Az-Zariah (Mencegah segala sesuatu baik perkataan maupun
perbuatan yang menyampaikan pada sesuatu yang dicegah/dilarang yang
mengandung kerusakan atau bahaya)
5) Al-„urf (sesuatu dipandang baik dan diterima oleh akal sehat).
Berangkat dari pengertian diatas penulis akan menjelaskan proses
penggalian hukum yang dilakukan Ibrahim Hosen untuk mendudukan hukum
kedudukan saksi nikah hingga kesimpulan mengenai metode ijtihad yang
Pertama, untuk menentukan hukum kedudukan saksi nikah Ibrahim Hosen
paparkan dalil/argumentasi dari kelompok yang mengatakan bahwa saksi nikah
merupakan syarat sahnya suatu pernikahan dan kelompok yang mengatakan
bahwa saksi nikah bukanlah syarat sah suatu pernikahan melainkan syarat
sempurnanya suatu pernikahan.
Kedua, ada tiga dalil yang menjadi pegangan kelompok pertama yaitu
kelompok yang menyatakan bahwa saksi nikah adalah syarat sahnya suatu
pernikahan. Dari ketiga hadist tersebut Ibrahim memeriksa keunggulan dan
kelemahan dari hadist tersebut. Dari dalil yang pertama Ibrahim mengatakan
bahwa hadist tersebut tidak mempunyai kekuatan tetap (da‟if) sehingga tidak
dapat dijadikan hujjah sebab perawinya tidak di kenal. Jikalau sanadnya pun
shohih maka yang dinafikan oleh hadist tersebut adalah syarat sempurna bukan
syarat sahnya akad nikah. Dari dalil yang kedua Ibrahim mengatakan bahwa
hadist tersebut mauquf yakni putus sanadnya, jikalau hadist tersebut dapat
diterima tentu Imam Abu Hanifah mempergunakannya akan tetapi Imam Abu
Hanifah tidak mempergunakannya hal ini menunjukan bahwa hadist tersebut tidak
dapat dijadikan hujjah karena ia mauquf. Kemudian dari dalil yang ketiga Ibrahim
Hosen mengatakan bahwa andaikata hadist tersebut shahih sanadnya menurut
ijma ulama bahwa perintah menabuh gendang adalah sunnah hukumnya.
Ketiga, setelah Ibrahim selesai memaparkan keunggulan dan kelemahan dari
setiap dalil yang digunakan kelompok pertama barulah ia melakukan pentarjihan
yaitu metode yang digunakan untuk mencari dalil mana yang terkuat dari antara
bukan yang bersifat qath‟i dan tidak mungkin di lakukan al-jam‟u wa al-taufiq
atau naskh.30 Cara pentarjihan yang dilakukan oleh Ibrahim Hosen adalah dengan
cara tarjih bain al-nushus yaitu menguatkan salah satu nash (ayat atau hadist)
yang saling bertentangan untuk mengetahui kuatnya salah satu dalil yang saling
bertentangan31 ada beberapa cara yang digunakan yaitu
1. Dari segi sanad (yaitu para penutur hadist).
2. Dari segi matannya (kandungan hadist).
3. Dari segi hukum yang di kandung nash (ayat atau hadist).
4. Pentarjihan dengan menggunakan faktor (dalil) lain di luar nash.32
Dari pendapat yang diutarakan Ibrahim Hosen mengenai kedudukan saksi
nikah menurut penulis Ibrahim menggunakan cara melihat dari segi sanad hadist
yang digunakan kelompok pertama sebab Ibrahim mengatakan bahwa dalil yang
pertama sanadnya do‟if sebab perawinya tidak dikenal, begitu pula pada dalil
yang kedua Ibrahim mengatakan dalil tersebut mauquf yakni putus sanadnya dan
dalil yang ketiga pun demikian bahwa sanadnya tidak dapat diterima.
Keempat, setelah melakukan pentarjihan dan dari pentarjihan tersebut
ditemukan dalil yang terkuat dan dalil yang dilemahkan dari kedua kelompok
yang berbeda pendapat mengenai kedudukan saksi nikah. Barulah Ibrahim Hosen
menyimpulkan (setelah melakukan pentarjihan), bahwa dalil yang dipegang
kelompok kedua yaitu kelompok yang memandang bahwa saksi nikah bukanlah
sebagai syarat sahnya suatu pernikahan melainkan memandang bahwa saksi nikah
merupakan syarat sempurnanya suatu pernikahan sebagai dalil yang terkuat.
30
Nasroen Haroen, Usul Fiqih , cet.2, (Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1997), h.195.
31
Nasroen Haroen, Usul Fiqih , h.197.
32
Kelima, metode ijtihad yang digunakan Ibrahim Hosen dalam mendudukan
hukum saksi nikah adalah dengan metode ijtihad ta‟lili (rasionalistik) yaitu
pendekatan dari sisi kelogisan berpikir,33 dengan mengutamakan konsep sad al-zari‟ah yaitu untuk menutup pintu mafsadah yang ditimbulkan apabila nikah tanpa
di hadiri oleh saksi.
Menyikapi pernyataan diatas, menurut penulis, Islam memang
menganjurkan bahkan merupakan suatu prinsip hukum yaitu menutup pintu
mafsadah, sebab kemungkinan terjadinya mafsadah lebih relatif besar, ketimbang
kemaslahatan yang ditimbulkan dari perbuatan tidak menghadirkan saksi akad
nikah. Sebab menolak kemadharatan didahulukan atas dasar menarik
kemaslahatan.34 Dzari‟ah pada dasarnya adalah wasilah (perantaraan), setiap
perbuatan yang membawa kearah mubah adalah mubah, perbuatan yang
membawa kearah haram adalah haram, dan perbuatan yang menjadi perantara
kepada terlaksananya perbuatan wajib adalah wajib.35
C. Faktor Sosial Yang Melatarbelakangi Pemikiran Prof. K.H. Ibrahim