BAB IV PEMIKIRAN, METODE PENETAPAN HUKUM, FAKTOR
C. Faktor Sosial Yang Melatarbelakangi Pemikiran
Fiqih sebagai hasil ijtihad, dipengaruhi oleh kadar ilmu latar belakang
budaya dan pemikiran serta situasi dan kondisi yang melingkupi penggalinya
(mujtahid).36 Pada pembahasan ini penulis akan menguraikan faktor yang
melatarbelakangi pemikiran Ibrahim Hosen mengenai kedudukan saksi nikah.
Terdapat 2 hal yang melatarbelakangi seseorang mencetuskan pemikirannya.
33
Alfi Nuril Hidayah, “Metode Pemahaman Hadist Muhammadiyah dan NU”, (Skripsi S1 Fakultas Usuluddin Adab dan Da‟wah, Institut Agama Islam Negri Tulungagung, 2015) h.46.
34
Muhammad Abu Zahrah, Usul Fiqih, cet.12, (Jakarta: Pustaka Firdaus, 2008), h.446.
35
Muhammad Abu Zahrah, Usul Fiqih, h.439.
36
Pertama adalah latar belakang personal. Lalu, kedua adalah latarbelakang sosial.37
Pada pemikiran Ibrahim Hosen ini latar belakang internal yang mempengaruhi
adalah didikan sang ayah, guru nya semasa menuntut ilmu di pesantren, dan
ketika menuntut ilmu di Universitas Al-Azhar Kairo, Mesir. Untuk latar belakang
eksternal yang mempengaruhi pemikiran Ibrahim Hosen adalah kondisi
intelektual yang ada di indonesia, fanatik mazhab, dan kebutuhan akan
Undang-undang perkawinan.38 Dibawah ini penulis jabarkan mengenai hal-hal tersebut
1. Latar belakang personal
a. Belajar dan di didik langsung oleh sang ayah
Ibrahim Hosen adalah anak kedelapan dari dua belas bersaudara hasil
perkawinan seorang ulama, K.H. Hosen dengan Siti Zawiyah keturunan nigrat.39
Dalam lingkungan keluarganya Ibrahim mendapat perlakuan yang istimewa dari
orang tuanya. Terutama dalam hal pendidikan agama, Ibrahim di didik langsung
oleh sang ayah. Jadwal yang diberlakukan kepada ibrahim oleh sang ayah pun
sangat ketat. Pagi harus bangun sebelum subuh. Lalu shalat dan terus belajar
mengaji. Begitu juga di sore hari hingga malam. Sedang siang harinya belajar di
madrasah. Kalau Ibrahim tidak ada, ayahnya Hosen langsung mencarinya hingga
ketemu. Ia berharap benar kelak anaknya menjadi ulama seperti dirinya dan
saudara-saudaranya.40
37 Junaidi Idrus, rekondtruksi pemikiran Nurcholis Madjid, cet.1, (Jogjakarta: Logung Pustaka, 2004), h. 20.
38
Tim Penyusun, Prof. KH.Ibrahim Hosen dan Pembaharuan Hukum Islam di Indonesia, (Jakarta, LPPI-IIQ, 1996), h.102-103, 221.
39 Tim Penyusun, Prof. KH.Ibrahim Hosen dan Pembaharuan Hukum Islam di Indonesia, h.4.
40
Tim Penyusun, Prof. KH.Ibrahim Hosen dan Pembaharuan Hukum Islam di Indonesia, h.5.
Pernah suatu ketika Ibrahim mencuri-curi waktu disaat sang ayahnya
sedang beristirahat, ia keluar rumah untuk bermain dan menonton pertandingan
sepak bola. Ketika sedang semangat-semangatnya bersorak sorai memberikan
dukungan kepada temannya yang sedang bertanding tiba-tiba telinganya ada yang
menjewer. Ibrahim pun kaget, ketika membalikkan badannya dilihat orang yang
menjewernya ternyata adalah sang ayah. Tanpa diberi ampun Ibrahim diseret
hingga sampai kerumah. Itulah pengalaman Ibrahim yang menggambarkan betapa
kerasnya sang ayah mendidiknya demi anaknya menjadi orang yang pandai.41
Pemikiran Ibrahim Hosen tidak bisa dilepaskan dari pengaruh sang ayah
yang begitu ketat mendidik anaknya di usianya yang masih belia. Ayahnya
berperan besar dalam membentuk karakter dan watak pemikiran keyakinan
Ibrahim Hosen. Ayahnya yang pertama mendidik dan menanamkan nilai-nilai
keislaman kedalam jiwa Ibrahim Hosen meskipun ketika itu usianya masih belia.
b. Menuntut ilmu kepada sang kyai di pesantren
Dalam perkembangan intelektual Ibrahim Hosen tentu tidak terlepas dari
orang-orang yang berjasa dalam hidupnya, diantaranya adalah Kyai Nawawi.
Beliau adalah seorang ulama besar yang pernah belajar dan menjadi guru di
Makkah selama kurang lebih 12 tahun. Murid-muridnya, baik sewaktu di Makkah
maupun setelah di Teluk Betung banyak yang menjadi ulama terpandang, dari
Kyai Nawawi, Ibrahim Hosen memperoleh ilmu agama terutama bahasa arab dan
fiqih.42
41 Tim Penyusun, Prof. KH.Ibrahim Hosen dan Pembaharuan Hukum Islam di Indonesia, h.5.
42
Tim Penyusun, Prof. KH.Ibrahim Hosen dan Pembaharuan Hukum Islam di Indonesia, h.8.
K.H. TB. Sholeh Ma‟mun Pimpinan Pesantren Lontar, Serang Banten.
Ulama yang mempunyai kelebihan dalam ilmu qira‟at dan tilawah al-Quran, dari
belajar bersama K.H. TB. Sholeh Ma‟munlah Ibrahim memperoleh ilmu qira‟ah
dan tilawah serta lagu-lagu berirama qasidah, termasuk barzanji, mawalan dan
lain-lain. Ilmu-ilmu inilah yang turut medorong Ibrahim dalam merealisasikan
berdirinya Perguruan Tinggi Ilmu Al-Quran (PTIQ) tahun 1997 dan Institute Ilmu
Al Quran (IIQ) tahun 1977.43
K.H. Abbaas seorang ulama besar kharismatik yang masyhur adalah
murid keenam dari Kyai Hasyim Asy‟ari (pendiri NU) selain keluasan ilmunya
beliau juga memiliki aliansi kekerabatan yang cukup erat dengan para kyai di
Jawa Timur. Dari K.H. Abbas inilah Ibrahim berhasil mendalami ilmu mantiq,
ilmu fiqih, ushul fiqih dan lain-lain. Pesan terakhir yang diberikan K.H. Abbas
kepada Ibrahim sebelum mengakhiri masa belajarnya bersama K.H. Abbas adalah
“Fiqih itu luas, jangan hanya terpaku hanya pada satu maszhab saja”. 44
c. Belajar di Universitas al-Azhar Kairo Mesir
Pada tahun 1955, Ibrahim Hosen berhasil melanjutkan pendidikannya di
Universitar al-Azhar Kairo, melalui perjuangan yang sangat keras. Kesempatan
yang didapat Ibrahim Hosen dalam menimba ilmu di Universitas al-Azhar di
manfaatkan dengan sebaik-baiknya. dari anjuran seorang diplomat yang bernama Ja‟far Zainudin, Ibrahim memilih melanjutkan study-nya di Fakultas Syariah. Hal
43
Tim Penyusun, Prof. KH.Ibrahim Hosen dan Pembaharuan Hukum Islam di Indonesia, h.10.
44
Tim Penyusun, Prof. KH.Ibrahim Hosen dan Pembaharuan Hukum Islam di Indonesia, h.13-14.
ini mengindikasikan bahwa Ibrahim Hosen memiliki kecenderungan mendalami
dunia hukum Islam.
Perkembangan lebih jauh ditunjukan Ibrahim Hosen dengan aktif di
organisasi Himpunan Pelajar Indonesia (HPI), pergumulannya di HPI menjadi
nilai tambah dalam dunia kepemimpinannya. Terbukti Ibrahim Hosen ditunjuk
menjadi ketua umum Himpunan Pelajar Indonesia (HPI) berkat pergaulannya
yang luas.
2. Latar belakang sosial
a. Kondisi intelektual di Indonesia
Intelektual adalah orang-orang yang terpelajar atau terdidik secara
akademis, kreatif, memiliki gairah pengabdian dan bertanggung jawab serta cinta
kepada kebenaran.45 Kaum intelektual sangat berpengaruh dalam perkembangan
pemikiran Ibrahim Hosen, ada dua sebab yang mendasarinya. Pertama, sebab
aktual antara lain karena di Indonesia kaum intelektual memiliki peranan yang
amat besar dalam masalah sosial, politik dan kebudayaan. Kedua, sebab
fundamental adalah karena sedemikian besarnya pengaruh kaum intelektual dalam
proses perubahan sosial kemasyarakatan.46
b. Fanatik tehadap mazhab tertentu
Hukum Islam datang ke Indonesia bersamaan dengan datangnya agama
Islam itu sendiri. Oleh karena itu, para ulama dan Da‟i yang datang ke Indonesia mayoritas pengikut mazhab syafi‟i maka hukum Islam yang berkembang di negeri
ini adalah hukum Islam yang model dan karekteristiknya ala mazhab Syafi‟i.
45
Junaidi Idrus, rekondtruksi pemikiran Nurcholis Madjid, h.40.
46
Buku-buku yang banyak dipelajari di Indonesia bersumber dari mazhab Syafi‟i
yang masih orisinil. Sehingga panorama hukum Islam yang berkembang nampak
cantik dan menyejukkan.
Akan tetapi, hukum Islam yang berkembang di Indonesia tidaklah
demikian, yang semestinya hukum Islam selalu baru dan menjawab tantangan
zaman nampak tidak dapat dibuktikan. Ada beberapa hal yang menyebabkan
kenapa hukum Islam di Indonesia nampak lesu dan tidak berdarah sehingga
menimbulkan kesalahan persepsi dari kalangan luar yaitu adanya pendapat yang
menyatakan bahwa seorang (awam) harus terikat dengan salah satu mazhab saja,
tidak boleh pindah ke mazhab lain, pendapat ini kemudian diikuti oleh baik awam
maupun ulama sehingga timbulah rasa fanatik mazhab yang berlebihan, sehingga
yang benar hanyalah pendapat mazhab/imamnya saja sedangkan yang lain
dianggap salah sekalipun pendapat mazhab lain lebih kuat sehingga hukum Islam
nampak sempit.47
Hal ini dirasakan oleh Ibrahim Hosen seorang ulama dan ahli hukum
Islam yang mempunyai rasa tanggung jawab terhadap masa depan hukum Islam di
negri ini. Untuk itu beliau tidak tinggal diam terhadap hal tersebut, pergerakan
pun mulai beliau galakan melalui buku-buku dan karya beliau.
c. Kebutuhan umat Islam akan undang-undang perkawinan
Keadaan dimana Indonesia membutuhkan Undang-undang perkawinan
guna terjadinya keseragaman dan adanya pedoman, yang digunakan hakim agama
dalam menyelesaikan hal-hal yang berhubungan dengan pernikahan turut
47
Tim Penyusun, Prof. KH.Ibrahim Hosen dan Pembaharuan Hukum Islam di Indonesia, h.103.
melatarbelakangi pandangan Ibrahim Hosen dalam menggali hukum Islam
khususnya mengenai kedudukan saksi nikah. Hal ini sebenarnya pernah
disampaikan oleh Ibrahim Hosen dalam seminar tentang perlunya undang-undang
perkawinan.48
Hal ini memang memberikan pengaruh besar kepada Ibrahim Hosen,
sebagai seorang intelektual yang bergerak di bidang hukum Islam untuk ikut andil
dalam melatarbelakangi terbentuknya undang-undang perkawinan. Bahkan bukan
hanya ikut andil dalam melatarbelakangi terbentuknya undang-undang
perkawinan tetapi memberikan pengaruh besar terhadap lahirnya undang-undang
perkawinan. Ini terbukti ketika Ibrahim Hosen membuat draft yang dijadikan
bahan dan pegangan fraksi PPP dalam kaitannya pada pembicaraan rancangan
undang-undang perkawinan di DPR.49
Menurut penuturan Hamid Farihi dalam kapasitasnya sebagai murid yang
pernah belajar langsung dengan Ibrahim Hosen bahwa latar belakang ekternal
yang mempengaruhi Ibrahim Hosen dalam mencetuskan pemikirannya adalah
tuntutan masyarakat, dimana saat itu masyarakat amat membutuhkan landasan
hukum terhadap permasalahan sosial, Hamid Farihi dalam hal ini memberikan
contoh kasus yaitu ketika ada wanita yang telah hamil 4 bulan di luar nikah
hendaknya laki-laki yang menghamili menikahi wanita tersebut tanpa menunggu
wanita tersebut melahirkan. Menurut Hamid Farihi Ibrahim Hosen sanggup
menggali hukum terhadap permasalahan yang sifatnya mendesak atau ketika ada
48 Tim Penyusun, Prof. KH.Ibrahim Hosen dan Pembaharuan Hukum Islam di Indonesia, h.220.
49
Tim Penyusun, Prof. KH.Ibrahim Hosen dan Pembaharuan Hukum Islam di Indonesia, h.221.
hajat seperti kasus wanita hamil di luar nikah tersebut dengan menghadirkan
landasan hukum yang sulit dibantahkan. Inilah faktor terkuat yang
melatarbelakangi Ibrahim Hosen dalam mencetuskan pemikirannya menurut
penuturan hamid farihi kepada penulis.50
Berbeda dengan penuturan salah satu murid Ibrahim Hosen juga yaitu
Afidah Wahyuni, beliau mengatakan bahwa tuntutan sosial bukanlah pemicu
Ibrahim Hosen dalam berijtihad, beliau lebih mengedepankan Maqosid As-Syari‟ah dan untuk melihat Maqosid As-As-Syari‟ah perlu ketajaman seorang
mujtahid yang mampu melihat Maqosid As-Syariah jauh kedepan sehingga bagi
yang tidak mampu menjangkau Maqosid As-Syari‟ah jauh kedepan maka yang
akan timbul adalah hujatan terhadap mujtahid tadi, Afidah Wahyuni memberikan
contoh terhadap Umar bin Khottab yang memiliki ketajaman dalam melihat
Maqosid As-Syariah jauh kedepan sehingga yang tidak mampu akan menghujat
Umar bin Khottab.51
D. Kecenderungan Pemikiran Ibrahim Hosen Terhadap Satu Mazhab