• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI

A. Intensi Membeli

1. Definisi Intensi Membeli

Ajzen (2005) mendefinisikan intensi sebagai suatu indikasi dari kesiapan seseorang untuk menunjukkan perilaku yang merupakan antesenden dari sebuah perilaku. Selanjutnya, Soderlund dan Ohman (2003) juga menyatakan bahwa intensi merupakan unit dasar dalam jaringan rencana yang akan muncul ketika individu melakukan aktivitas kognitif yang berorientasi ke masa depan, seperti perencanaan, angan–angan, dan simulasi mental.

Intensi membeli dijelaskan oleh Assael (2002) sebagai kecenderungan konsumen untuk membeli suatu merek produk barang dan jasa maupun mengambil tindakan yang berhubungan dengan pembelian yang diukur dengan tingkat kemungkinan konsumen melakukan pembelian. Hasil akhir dari intensi membeli yaitu merencanakan membeli produk maupun jasa atau tidak.

Menurut (Howard & Sheth 2004; Tirtiroglu & Elbeck, 2008) mendefenisikan intensi membeli sebagai kemungkinan seorang konsumen berencana membeli produk tertentu pada jangka waktu tertentu dan hal itu terjadi setelah konsumen menyimpan informasi yang relevan untuk menentukan keputusan membeli. Sedangkan menurut (Spears & Singhs 2000; Liu, dkk, 2006) intensi membeli adalah rencana yang dilakukan individu secara sadar yang merupakan usaha untuk membeli sebuah produk.

Berdasarkan paparan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa intensi membeli adalah kecenderungan konsumen yang berencana melakukan perilaku membeli suatu produk di masa yang akan datang berdasarkan informasi yang telah diperoleh.

2. Aspek Intensi

Intensi dijelaskan dalam pendekatan teoritis perilaku berencana dan tindakan berasalan Ajzen (2005). Teori ini menjelaskan bahwa intensi individu menunjukkan atau tidak suatu perilaku adalah faktor yang menentukan apakah suatu perilaku terjadi atau tidak. Ajzen (2005) menjabarkan bahwa intensi memiliki tiga aspek, yakni:

a. Sikap terhadap perilaku

Aspek pembentuk intensi ini berisi penilaian individu terhadap sebuah perilaku yang dapat berupa sikap positif maupun negatif. Aspek ini menghubungkan ketertarikan berperilaku dengan hasil yang diharapkan.

b. Norma Subjektif

Aspek ini berupa pandangan maupun aturan yang dapat berpengaruh pada kehidupan seseorang. Terkait dengan aturan-aturanperilaku yang diharapkan oleh lingkungan sekitar individu, dimana tergantung pada populasi dan perilaku yang dipelajari.

c. Kontrol Perilaku

Aspek ini berhubungan perkiraan mengenai sulit atau mudahnya perilaku untuk dimunculkan dan kehadiran faktor yang dapat memfasilitasi maupun yang dapat menghalangi munculnya sebuah perilaku.

3. Aspek-Aspek Intensi Membeli

Berdasarkan aspek-aspek intensi teori perilaku beralasan oleh Ajzen (2005) dikembangkan aspek-aspek intensi membeli sebagai berikut:

1. Sikap Terhadap Perilaku Membeli

Sikap mengacu pada perasaan/penilaian terhadap objek tertentu. Ini mengukur tingkat suka atau tidak suka terhadap objek tertentu. Seseorang yang yakin bahwa sebuah tingkah laku dapat menghasilkan outcome yang positif, maka individu tersebut akan memiliki sikap yang positif, begitu juga sebaliknya. Sehingga apabila individu yakin perilaku membeli yang dia lakukan akan menghasilkan outcome yang positif, maka individu tersebut memiliki sikap yang positif terhadap perilaku membeli.

2. Norma Subjektif Atas Perilaku Membeli

Aspek ini berkenaan dengan harapan-harapan yang berasal dari referent atau orang dan kelompok yang berpengaruh bagi individu (significant others) seperti orang tua, pasangan, teman dekat, rekan kerja atau lainnya, tergantung pada perilaku yang terlibat. Sehingga individu yakin bahwa referent akan menyetujui dirinya menampilkan perilaku membeli, dan adanya motivasi untuk melakukan perilaku membeli pada suatu produk, maka hal ini akan menyebabkan individu tersebut memiliki subjective norm yang menempatkan tekanan pada dirinya untuk melakukan pembelian terhadap suatu produk.

11

3. Kontrol Perilaku Membeli

Kontrol perilaku merupakan keyakinan tentang ada atau tidaknya faktor-faktor yang memfasilitasi dan menghalangi individu untuk melakukan suatu perilaku. Dalam hal ini, contoh dari faktor-faktor yang memfasilitasi adalah misalnya adanya uang yang dapat digunakan individu untuk membeli suatu produk. Contoh lainnya adalah adanya transportasi dan waktu yang memungkinkan individu untuk membeli suatu produk. Sedangkan contoh faktor-faktor yang menghalangi individu untuk membeli suatu produk adalah tidak adanya dana, waktu dan habisnya suatu produk yang ingin dibeli seseorang.

4. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Intensi Membeli

Menurut Ajzen dan Fishbein (2005) terdapat faktor-faktor yang mempengaruhi intensi membeli pada konsumen, yaitu sebagai berikut :

1. Faktor Individu

Faktor individu terdiri dari lima kategori yaitu sebagai berikut : a. Sikap

Sikap adalah evaluasi individu secara positif atau negatif terhadap benda, orang, institusi, kejadian, perilaku atau minat tertentu. Intensi membeli dipengaruhi secara kuat oleh sikap terhadap suatu produk.

b. Kepribadian

Setiap orang memiliki kepribadian yang berbeda yang dapat mempengaruhi intensi membelinya. Kepribadian adalah karakteristik psikologis yang terdapat pada seseorang yang menyebabkan respon

yang relatif konsisten terhadap lingkungannya (Kotler & Keller, 2012)

c. Nilai

Intensi membeli konsumen juga dipengaruhi oleh nilai. Perbedaan nilai yang dianut oleh tiap konsumen akan menyebabkan adanya perbedaan intensi membeli.

d. Emosi

Respon individu tidak hanya didasarkan pada pengaruh kognitif dan rasional saja, tetapi juga dipengaruhi oleh emosi (Kotler &

Keller, 2012).

e. Inteligensi 2. Faktor Sosial

Selain faktor individu, faktor sosial juga mempengaruhi intensi membeli.

Yaitu sebagai berikut:

a. Usia dan jenis kelamin b. Ras dan Etnis

Ras dan etnis adalah bagian dari budaya. Perilaku seseorang dipelajari dari lingkungan sekitarnya. Sehingga nilai, persepsi, keinginan dan perilaku antara seseorang yang tinggal pada daerah tertentu dapat berbeda dengan orang lain yang berada di lingkungan yang lain pula (Kotler & Keller, 2012).

c. Pendidikan

13

d. Pendapatan

Keadaan ekonomi seseorang juga akan mempengaruhi pilihan produk yang akan dibelinya. Keadaan ekonomi terdiri dari penghasilan, tabungan dan aset, hutang, dan sikap terhadap membelanjakan uang atau menabung, (Kotler & Keller, 2012).

e. Agama 3. Faktor Informasi

Selain faktor individu dan sosial, faktor informasi juga mempengaruhi intensi membeli. Yaitu sebagai berikut :

a. Pengalaman

Salah satu aspek dalam intensi membeli adalah kontrol perilaku.

Kontrol perilaku ditentukan oleh pengalaman masa lalu individu dan juga perkiraan individu mengenai seberapa sulit atau mudahnya untuk melakukan suatu perilaku.

b. Pengetahuan

Pengetahuan juga berperan dalam intensi membeli konsumen.

Pengetahuan didefinisikan sebagai informasi yang disimpan di dalam memori dan meliputi aturan-aturan yang luas mengenai ketersediaan dan karakteristik dari suatu produk, dimana membeli suatu produk dan bagaimana menggunakan suatu produk.

c. Paparan media

Paparan media mempengaruhi intensi membeli konsumen pada suatu produk berdasarkan komunikasi yang disampaikan di berbagai media

B. Efektivitas Komunikasi

1. Definisi Efektivitas Komunikasi

Menurut Mulyana (2005) komunikasi adalah proses dimana suatu ide dialihkan dari sumber kepada satu penerima atau lebih, untuk mengubah tingkah laku mereka. Bahwa komunikasi mengacu pada tindakan, oleh satu orang atau lebih. Dilakukan oleh pengirim dan penerima pesan dalam suatu konteks tertentu, mempunyai pengaruh tertentu dan sebuah kesempatan untuk melakukan umpan balik. Sedangkan Hidayat (1986) yang menjelaskan bahwa efektivitas adalah suatu ukuran yang menyatakan seberapa jauh target (kuantitas, kualitas dan waktu) telah tercapai. Semakin besar persentase target yang dicapai, semakin tinggi efektivitasnya.

Menurut yuyun dan ahmad (2016) efektivitas komunikasi adalah sebagai penerimaan pesan oleh komunikan atau receiver sesuai dengan pesan yang dikirim oleh sender atau komunikator, kemudian receiver atau komunikan memberikan respon yang positif sesuai dengan yang diharapkan

Komunikasi yang dilakukan antar produsen, perantara, pemasaran, dan konsumen merupakan kegiatan untuk membantu konsumen mengambil keputusan di bidang pemasaran serta mengarahkan pertukaran atau transaksi semua pihak, Sangadji dan Sopiah (2013). Sedangkan Menurut Kotler (2009), komunikasi pemasaran adalah sarana dimana para pelaku usaha berusaha menginformasikan, membujuk dan mengingatkan kembali konsumen tentang produk yang dijual.

Berdasarkan uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa efektivitas komunikasi merupakan aliran informasi dua arah antara komunikator dan komunikan dan

15

informasi tersebut sama-sama direspon sesuai dengan harapan kedua pelaku komunikasi tersebut (komunikator dan komunikan).

2. Sumber Karakteristik Efektivitas Komunikasi

Menurut Kelman (1961) terdapat tiga sumber karakteristik efektivitas komunikasi, yaitu :

1. Sumber Kredibilitas (Source Credibility)

Sumber Kredibilitas dapat tercipta apabila sumber tersebut memiliki pengetahuan, keahlian, dan pengalaman yang relevan terhadap suatu bidang yang berhubungan dengan pesan yang diinformasikan. Sehingga sumber dapat memberikan pendapat yang bersifat obyektif atau dapat dipercaya

2. Daya Tarik (Source Attractiveness)

Daya tarik seorang komunikator dikaitkan dengan tingkah laku seseorang, bagaimana individu tersebut dapat meyakinkan atau mempersuasi pihak penerima.seoarang komunikator yang disenangi dan dikagumi oleh komunikanya akan menyebabkan komunikan akan menerima kepuasan dari usaha menyamakan dirinya dengan komunikator.

3. Sember Kekuatan (Source Power)

Merupakan Sumber atau komunikator yang memiliki kekuatan atau kekuasaan dalam hal mempengaruhi penerima. Kekuatan yang dimiliki untuk menyampaikan informasi dapat mempengaruhi penerima. Atau kekuasaan komunikator yang memiliki kemampuan menimbulkan ketundukan .

kekuasaan menyebabkan seorang komunikator dapat memaksakan kehendaknya kepada orang lain karena ia memiliki sumber yang sangat penting.kekuasaan yang dapat menyebabkan khayalak mampu dipengaruhi.

C. Beauty Vlogger

Menurut Pixability (2014), Beauty Vlogger adalah pengguna youtube yang memproduksi dan menerbitkan video yang terkait dengan kecantikan atau kosmetik ke akun youtube pribadi mereka. Isi vlogs kecantikan terdiri dari tutorial, rekomendasi produk, review produk, atau kombinasi dari produk tersebut, yang menampilkan seperti makeup, rambut, kuku, dan perawatan kulit, farfum.

Beauty vlogger dapat menjadikan influencer kecantikan yang berbagi review melalui klip video yang kemudian di posting pada situs berbagi video.

Kini sebagian besar klip Vloggers yang melakukan review suatu produk sudah banyak yang bisa kita temukan dari mana saja bahkan di halaman vlog mereka yang terhubung ke saluran youtube (Nguyen 2015; Tang. 2016).

Beauty vlogger sebagai bentuk komunikasi yang efektif sebagai sumber yang dapat dipercaya di antara semua sumber di media yang berbeda (Bickart, &

Schindle, 2001). Beauty Vlogger yang dihasilkan konsumen di youtube pada umumnya menarik lebih banyak pemirsa dan pelanggan dibandingkan dengan video klip yang diunggah di akun resmi saluran lainya (Pixability, 2014).

Berdasarkan uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa beauty vlogger merupakan media yang digunakan secara individu oleh pemiliknya yang menyajikan sumber informasi kecantikan ke akun media sosial.

17

D. Dinamika Pengaruh Efektivitas Komunikasi Terhadap Intensi Membeli

Hsu dkk 2013 (dalam Ananda & Wandebori 2016), menunjukkan bahwa vlog adalah salah satu platform yang populer, yang dianggap oleh pengguna online sebagai sumber yang sangat kredibel di antara semua sumber-sumber di media yang berbeda. Melalui menonton dan seringnya berinteraksi dengan seorang vlogger melalui YouTube, konsumen menjadi akrab dengan beauty vloggers dan konten yang mereka berikan, sehingga kondisi dimana kepercayaan akan terbentuk antara beauty vlogger dan konsumen yang akan memiliki daya tarik. Selain daya tariknya yang lebih penting lagi, kepercayaan dan keahlian para vlogger kecantikan sangat mempengaruhi intensi beli kosmetik seperti halnya reputasi dan kemampuan persuasif, dua faktor lain yang mempengaruhi intensi membeli kosmetik.

Konsumen setelah melihat beauty vlogger merasakan kemudahan-kemudahan untuk memperoleh sebuah informasi terhadap suatu produk. Tidak hanya informasi, tetapi konsumen juga mendapatkan rekomendasi mengenai suatu produk. Konsumen yang telah mendapatkan informasi mengenai produk dari beauty vlogger akan memiliki minat pembelian. Hal ini dikarenakan sebelumnya konsumen sudah mendapatkan informasi sehingga dapat menjadi masukan pertimbangan pemilihan produk. Konsumen juga merasakan bahwa konsumen lain yang memberikan review dari beauty vlogger pada produk juga turut memicu brand awareness atau kesadaran terhadap produk. Apabila awareness sudah tertanam pada konsumen, konsumen akan mendengar pengalaman produk dari seseorang sehingga akan memberikan kemampuan untuk membandingkan

manfaat atau perbedaan satu merek produk terhadap merek lainnya, hal ini dapat mempengaruhi pembelian dari konsumen (Assael, 1991).

Menurut penelitian Nur Rafika (2017) yang berjudul efektivitas beauty vlogger dalam meningkatkan minat beli produk kecantikan. Hasilnya, bahwa efektivitas beauty vlogger meningkatkan minat beli pada produk kecantikan dan kedua variabel menunjukan hasil yang positif. Melalui beauty vlogger konsumen dapat menilai bagaimana sumber karakteristik yang dilihat.Dampak pada sasaran atau konsumen dipengaruhi oleh bagaimana konsumen memandang karakteristik oleh sumber, apabila pesan yang disampaikan oleh sumber terpercaya dan memiliki kredibilitas yang tinggi, maka akan lebih persuasif (Kotler & Armstrong 2001). Konsumen yang melihat sumber dalam menyampaikan informasi akan mengetahui bagaimana tingkat kredibilitas dari sumber. Konsumen yang merasa bahwa sumber informasi memiliki pengetahuan dan keahlian dalam menyampaikan informasi, maka konsumen akan mempertimbangkan kembali apakah produk tersebut memang layak untuk dimiliki atau tidak. O’Mahony dan Meenaghan (1997/1998) pengaruh terbesar atau yang paling efektif untuk mempengaruhi konsumen pada niat pembelian produk atau jasa adalah karakteristik dari sumber yang dirasakan oleh seseorang. Oleh karena itu, penting sekali bagi suatu vlogger untuk terus menciptakan sumber karakteristik yang terpercaya sehingga konsumen cenderung melakukan intensi membeli dengan produk yang di lihatnya.

19

C. Hipotesa Penelitian

Berdasarkan uraian diatas, maka hipotesa yang diajukan dalam penelitian ini adalah terdapat pengaruh positif efektivitas komunikasi beauty vlogger dengan intensi membeli lip cream wardah pada mahasiswi. Hal ini berarti semakin efektif komunikasi beauty vlogger maka semakin tinggi intensi membeli mahasiswi tersebut. Sebaliknya, semakin tidak efektif komunikasi beauty vlogger maka semakin rendah pula intensi membeli mahasiswi tersebut.

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Identifikasi Variabel Penelitian

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian dengan pendekatan kuantitatif. Dalam penelitian perlu dilakukan identifikasi terhadap variabel yang digunakan. Variabel yang diukur dalam penelitian ini adalah variabel bebas dan variabel tergantung. Variabel bebas adalah variabel yang mempengaruhi atau yang menjadi sebab perubahannya atau timbulnya variabel dependen dan variabel tergantung adalah variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat, karena adanya variabel bebas (Sugiyono, 2012). Adapun variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah :

1. Variabel Terikat (Dependent Variable) : Intensi Membeli

2. Variabel Bebas (Independent Variable) : Efektivitas Komunikasi

B. Definisi Operasional Variabel Penelitian

Definisi operasional merupakan suatu definisi mengenai variabel yang dirumuskan berdasarkan karakteristik-karakteristik variable tersebut yang dapat diamati (Azwar, 2010). Berikut ini merupakan definisi operasional dari variabel yang digunakan dalam penelitian :

1. Intensi Membeli

Intensi membeli adalah kecenderungan konsumen untuk membeli suatu produk di masa yang akan datang berdasarkan informasi yang diperoleh setelah mengevaluasi produk yang akan dibeli. Skor yang tinggi pada skala ini

mengidentifikasikan intensi membeli seseorang yang tinggi, sedangkan skor rendah menunjukkan intensi membeli yang rendah.

2. Efektivitas Komunikasi

Efektivitas komunikasi merupakan menyalurkan informasi atau pesan yang berarti dan terus menerus kepada seseorang atau komunikan sehingga dapat diterima dengan jelas yang dapat memberikan keputusan serta dapat direspon sesuai dengan harapan kedua pelaku komunikasi tersebut, hal ini dilakukan oleh pengirim dan penerima pesan. Skor yang tinggi pada skala ini mengidentifikasikan komunikasi beauty vlogger yang efektif, sedangkan skor rendah menunjukkan komunikasi beauty vlogger yang tidak efektif.

C. Populasi dan Sampel Penelitian 1. Populasi

Populasi merupakan kumpulan dari individu dengan kualitas serta ciri-ciri yang telah ditetapkan (Sinulingga, 2011). Yang menjadi populasi dalam penelitian ini adalah para mahasiswi yang pernah menonton tayangan beauty vlogger. Namun, karena jumlah populasi bersifat infinit atau tidak terhingga, maka peneliti memutuskan untuk mengambil sebagian dari populasi yang disebut dengan sampel untuk memudahkan pelaksanaan penelitian.

2. Sampel

Sampel inilah yang nantinya akan digeneralisasikan terhadap populasi sehingga sampel harus mencerminkan secara tepat keadaaan populasi atau dengan kata lain, sampel harus memiliki ciri-ciri atau karakteristik yang dimiliki oleh populasi. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah mahasiswi yang pernah menonton tayangan beauty vlogger.

Teknik pengambilan sampel yang akan digunakan dalam penelitian ini menggunakan Non Probability Sampling dengan metode Sampling Incidental yang berarti sampel diperoleh secara kebetulan dan memenuhi kriteria yang diinginkan oleh peneliti (Sugiyono, 2012). Kriteria populasi yang akan dijadikan sampel dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Pernah menonton tayangan beauty vlogger pada produk lip cream warda.

Berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan, maka sampel yang akan digunakan dalam penelitian ini berjumlah 150 mahasiswi.

D. Metode Pengambilan Data

Metode pengumpulan data dibutuhkan untuk mengumpulkan data penelitian.

Dalam penelitian ini, metode pengumpulan data yang digunakan adalah skala.

Skala merupakan suatu alat atau metode pengumpulan data yang terdiri dari seperangkat pertanyaan yang disusun untuk mengungkapkan atribut tertentu melalui respon yang diberikan subjek terhadap pertanyaan tersebut (Azwar, 2012).

Dalam penelitian ini, digunakan dua buah skala yaitu skala intensi membeli dan skala efektivitas komunikasi. Format skala akan menggunakan model skala Likert dimana nantinya akan ada sejumlah aspek/item-item yang akan diuraikan ke dalam bentuk favorable (mendukung) dan unfavorable (tidak mendukung) dengan lima kategori jawaban interval yang terdiri dari Sangat Sesuai (SS), Sesuai (S), Netral (N), Tidak Sesuai (TS), dan Sangat Tidak Sesuai (STS). Nilai dari setiap pilihan akan bergerak dari angka 1 sampai 5. bobot 23

sedangkan untuk pernyataan unfavorable, bobot penilaiannya adalah SS=1, S=2, N=3, TS=4, STS=5.

Tabel 3.1. Skor Alternatif Jawaban Skala

Favorable Unfavorable

Alternatif jawaban Skor Alternatif jawaban Skor

Sangat Setuju 5 Sangat Setuju 1

Setuju 4 Setuju 2

Netral 3 Netral 3

Tidak Setuju 2 Tidak Setuju 4

Sangat Tidak Setuju 1 Sangat Tidak Setuju 5

1. Skala Intensi Membeli

Alat ukur yang digunakan untuk mengukur intensi membeli dengan menggunakan skala yang disusun sendiri oleh peneliti, berdasarkan aspek-aspek intensi membeli. Adapun aspek-aspek-aspek-aspek intensi membeli yang dikemukakan oleh Ajzen (2005), yaitu: sikap, norma subjektif dan kontrol perilaku.

Variabel intensi membeli diukur dengan model skala yang juga dirancang oleh peneliti sendiri, yaitu dengan menggunakan skala model Likert. Dibawah ini merupakan blueprint, skala dari aspek-aspek intensi membeli yang dikembangkan oleh Ajzen (2005). Aitem-aitem dalam skala ini berupa pernyataan dengan lima pilihan jawaban, yaitu dari Sangat Sesuai (SS), Sesuai (S), Netral (N), Tidak Sesuai (TS), dan Sangat Tidak Sesuai (STS).

Tabel 3.2. BluePrint Skala Intensi Membeli

NO Dimensi Aitem

Favourable

Aitem

Unfavourable Jumlah Bobot

1 Sikap 1, 5, 13 8, 11, 16 6 33,33 %

2 Norma subjektif 6, 12, 17 3, 9, 14 6 33,33 %

3 Kontrol Perilaku 2,7, 15 4, 10, 18 6 33,33 %

TOTAL 18 100 %

2. Skala Efektivitas Komunikasi

Alat ukur yang digunakan untuk mengukur efektivitas komunikasi dengan menggunakan skala yang disusun sendiri oleh peneliti berdasarkan sumber karakteristik efektivitas komunikasi. Adapun sumber karakteristik efektivitas komunikasi yang dikemukakan oleh Kelman (1961), yaitu:

kredibilitas, daya tarik dan kekuatan.

Variabel efektivitas komunikasi diukur dengan model skala yang juga dirancang oleh peneliti sendiri, yaitu dengan menggunakan skala model Likert. Dibawah ini merupakan blueprint, skala efektivitas komunikasi dari sumber karakteristik yang dikembangkan oleh Kelman (1961). Aitem-aitem dalam skala ini berupa pernyataan dengan lima pilihan jawaban, yaitu dari Sangat Sesuai (SS), Sesuai (S), Netral (N), Tidak Sesuai (TS), dan Sangat Tidak Sesuai (STS).

25

Tabel 3.3. BluePrint skala Efektivitas Komunikasi

No Dimensi Aitem

Favourable

Aitem

Unfavourable Jumlah Bobot 1 Sumber kredibilitas 1, 9, 13 5, 3, 14 6 33,33 % 2 Sumber daya tarik 2, 11, 15 10, 7, 17 6 33,33 %

3 Sumber kekuatan 4, 6, 18 12, 8, 16 6 33,33 %

TOTAL 18 100 %

E. Uji Coba Alat Ukur 1. Uji Reliabilitas

Alat ukur yang memiliki kualitas baik adalah alat ukur yang reliabel (Azwar, 2012). Alat ukur yang reliabel adalah sejauh mana alat ukur itu dapat digunakan beberapa kali untuk mengukur objek yang sama dan akan menghasilkan data yang sama (Sugiyono, 2012). Dalam uji reliabilitas ini menggunakan metode internal consistency dengan melakukan sekali uji coba instrumen dan kemudian dianalisis dengan teknik alfa cronbach. Reliabilitas dinyatakan dalam koefisien reliabilitas yang berada pada rentang 0-1 yang artinya bila koefisien reliabilitas semakin mendekati angka 1, maka semakin tinggi tingkat reliabilitas dari alat ukur tersebut (Azwar, 2012). Teknik alfa cronbach dapat dilakukan dengan bantuan komputerisasi SPSS version 17.0 forWindows untuk menguji reliabilitas alat ukur.

2. Uji Validitas

Validitas alat ukur adalah sejauh mana suatu alat tes mampu mengukur apa yang seharusnya diukur (Sugiyono, 2012). Validitas yang digunakan dalam penelitian ini adalah validitas isi (content validity).

Validitas isi mengukur sejauh mana aitem-aitem yang ada didalam tes dapat mencakup keseluruhan objek yang hendak diukur. Adapun pengujian validitas ini dilakukan dengan cara menggunakan analisis rasional atau professional judgement dengan dosen pembimbing dalam pemilihan aitem untuk menghindari adanya kalimat-kalimat yang ambigu.

3. Uji Daya Beda Aitem

Uji daya beda aitem dilakukan untuk melihat sejauh mana item mampu membedakan antara individu atau kelompok individu yang memiliki atribut dengan yang tidak memiliki atribut yang akan diukur. Atau dengan kata lain, memilih item yang mengukur hal yang sama dengan yang diukur oleh tes sebagai keseluruhan (Azwar, 2010).

Pengujian daya beda aitem ini dilakukan dengan komputasi koefisien korelasi antara distribusi skor pada setiap aitem dengan suatu kriteria yang relevan yaitu distribusi skor skala itu sendiri. Komputasi ini menghasilkan koefisien korelasi item total yang dapat dilakukan dengan menggunakan formula koefisien korelasi Pearson Product Moment (Azwar, 2010). Aitem dianggap memuaskan bila koefisien korelasi minimal 0,30. Namun ketika aitem memiliki indeks daya diskriminasi sama dengan atau lebih besar daripada 0,3 jumlahnya melebihi

27

jumlah aitem yang direncanakan untuk dijadikan skala, maka dapat memiliki aitem dengan daya diskriminasi tertinggi

F. Hasil Uji Coba Alat Ukur

Menurut Azwar (2010) uji coba alat ukur digunakan untuk mengetahui seberapa jauh alat ukur dapat mengukur dengan tepat apa yang akan diukur dan seberapa jauh alat ukur dapat menunjukkan kecermatan pengukuran. Uji coba alat ukur pada penelitian ini dilakukan pada 50 orang sampel dengan kriteria yang sama pada penelitian sebenarnya.

1. Hasil Uji Coba Skala Intensi Membeli

Hasil skala intensi membeli didapati bahwa dari 18 aitem terdapat 16 aitem yang memiliki daya beda aitem yang tinggi. Terdapat 3 aitem yang gugur

Hasil skala intensi membeli didapati bahwa dari 18 aitem terdapat 16 aitem yang memiliki daya beda aitem yang tinggi. Terdapat 3 aitem yang gugur

Dokumen terkait