• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kecerdasan mengandung arti kesempurnaan perkembangan akal budi , terutama yang berhubungan dengan kerohanian termasuk ruh,jiwa dan sukma.Apabila manusia berjiwa jernih, maka dia akan menemukan potensi mulia dirinya dan hal itu akan tercermin dari prilakunya yang senantiasa melakukan amalan kebaiakan.

Secara istilah kecerdasan rohani merupakan kecerdasan pokok yang denagannya dapat memecahkan masalah masalah makna dan nilai , menempatkan tindakan dalaam konteks yang lebih luas, kaya, dan bermakna.

Berdasarkan uraian dari di atas, maka dapat disimpulkan bahwa kecerdasan rohani merupakan kecerdasan hati dan jiwa , Ia adalah kecerdasan yang dapat membantu kita menyembuhkan dan membangun diri kita sera utuh sehingga melahirkan kemampuan kemampuan manusia untuk mendapatkan manfat dan kesuksesan dalam hidup di dunia maupun di akhirat dengan di dasari keimanan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan diantara definisi yang di berikan oleh para ahli yaitu :

Mujib dan Mudzakir (dalam Safaria, 2007) mengungkapkan bahwa kecerdasan rohani (spiritual) lebih merupakan konsep yang berhubungan bagaimana seseorang cerdas dalam mengelola dan mendayagunakan makna-makna, nilai-nilai, dan kualitas-kualitas kehidupan rohaninya, kehidupan rohani disini meliputi hasrat untuk hidup bermakna (the will to meaning) yang memotivasi kehidupan manusia untuk senantiasa mencari

makna hidup (the meaning of life) dan mendambakan hidup bermakna (the meaningfull life).

Zohar dan Marshall (2007) mendefinisikan kecerdasan rohani adalah kecerdasan untuk menghadapi persoalan makna atau value yaitu kecerdasan untuk menempatkan perilaku dan hidup kita dalam konteks makna yang lebih luas dan kaya, kecerdasan untuk menilai bahwa tindakan atau jalan hidup seseorang lebih bermakna dibanding dengan yang lain. SQ adalah landasan yang diperlukan untuk memfungsikan IQ dan EQ secara efektif dan sebagi kecerdasan tertinggi kita. Sedangkan didalam ESQ, kecerdasan rohani (spiritual) adalah kemampuan untuk memberi makna ibadah terhadap setiap perilaku dan kegiatan, melalui langkah-langkah dan pemikiran yang bersifat fitrah, menuju manusia yang sepenuhnya (hanif) dan memiliki pola pemikiran tauhidi (integralistik), serta berprinsip hanya karena Allah.

Menurut Kholil Khavari, kecerdasan rohani adalah kecekapan dalam dimensi non materi dan jiwa.

Menurut Toto Tasmara, Kecerdasan Rohani adalah kemampuan seseorang untuk mendengar hati nuraninya.

B. Faktor-faktor yang mempengaruhi kecerdasan spiritual

menurut Agustian adalah yang pertama, inner value (nilai-nilai spiritual dari dalam) yang berasal dari dalam diri (suara hati), seperti keterbukaan, tanggung jawab, kepercayaan, keadilan, dan kepedulian sosial. Faktor kedua, drive yaitu dorongan dan usaha untuk mencapai kebenaran dan kebahagiaan.

Ary Ginanjar Agustian juga mengatakan ada 6 prinsip dalam kecerdasan spiritual berdasarkan rukun iman,( Ginanjar: hal 35) yaitu :

1. Prinsip bintang berdasarkan iman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Yaitu kepercayaan atau keimanan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan semua tindakan hanya untuk Allah serta tidak mengharap pamrih dari orang lain dan melakukannya sendiri.

2. Prinsip malaikat berdasarkan iman kepada malaikat. Semua tugas dilakukan dengan disiplin dan sebaik-baiknya sesuai dengan sifat malaikat yang dipercaya oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk menjalankan segala perintah-Nya.

3. Prinsip kepemimpinan berdasarkan iman kepada rasul.

Seorang pemimpin harus memiliki prinsip yang teguh, agar mampu menjadi pemimpin yang sejati.Seperti halnya Rasulullah Salallaahu Alaihi wa Sallam, seorang pemimpin sejati yang dihormati oleh semua orang.

4. Prinsip pembelajaran berdasarkan iman kepada kitab. Suka membaca dan belajar untuk menambah pengetahuan dan mencari kebenaran yang hakiki. Berpikir kritis terhadap segala hal dan menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman dalam bertindak.

5. Prinsip masa depan berdasarkan iman kepada hari akhir.

Berorientasi terhadap tujuan, baik jangka pendek, jangka menengah maupun jangka panjang. Semua itu karena keyakinan akan adanya hari kemudian di mana setiap individu akan mendapat balasan terhadap setiap tindakan yang dilakukan.

6. Prinsip keraturan berdasarkan iman kepada qadha dan qadhar. Setiap keberhasilan dan kegagalan, semua merupakan takdir yang telah ditentukan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Hendaknya berusaha dengan sungguh-sungguh dan berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Zohar dan Marshall mengungkapkan ada 2 faktor yang mempengaruhi kecerdasan rohani atau spiritual, yaitu:

a. Sel saraf otak

Otak menjadi jembatan antara kehidupan bathin dan lahiriah kita. Ia mampu menjalankan semua ini karena bersifat kompleks, liwes, adipatif, dan mampu mengorganisasikan diri. Penilitian yang dilakukan pada era 1990-an dengan menggunakan WEG (Magneto- Encephalo- Graphy) membuktikan bahwa osilasi sel saraf otak pada rentang 40Hz merupakan basis bagi kecerdasan rohani atau spiritual.

b. Titik Tuhan( Good Spot)

Danah Zohar menemukan adanya bagian dalam otak, yaitu lobus temporal yang meningkat ketika pengalaman religius atau spiritual berlangsung. Dia menyebutnya sebagai titik Tuhan atau Good Spot. Titik Tuhan memainkan peran biologis yang menentukan dalam pengalaman spiritual. Perlu adanya integrasi antara seluruh bagian otak, seluruh aspek dari dan seluruh segi kehidupan.( Zohar Marshal,2007 : 35 )

C. Ciri Ciri Kecerdasa Rohani

Ciri-ciri orang yang memiliki kecerdasan rohani diantaranya adalah :

1. Memiliki kesadaran diri, yaitu adanya tingkat kesadaran yang tinggi dan mendalam sehingga bisa menyadari berbagai situasi yang datang dan bisa untuk menanggapinya.

2. Memiliki visi, yaitu memiliki pemahaman tentang tujuan hidup dan kualitas hidup

3. Bersikap fleksibel yaitu mampu menyesuaikan diri secara spontan dan aktif untuk mendapatkan hasil terkait.

4. Melakukan perubahan, yaitu terbuka terhadap perbedaan, memiliki kemudahan untuk bekerja.

5. Sumber inspirasi yaitu mampu menjadi sumber insipari bagi orang lain dan memiliki gagasan yang tinggi.

Ada beberapa langkah yang bisa membantu melatih kecerdasan rohani antara lain:

a. Melakukan kegiatan amal merupakan salah satu cara di mana Anda bisa bertemu dengan orang-orang yang sepaham. Di sini, Anda akan mendapatkan lebih banyak pengalaman baik dari rekan sesama relawan maupun orang-orang yang Anda bantu.

b. Mau terbuka dan menerima perbedaan

c. Sering merefleksikan diri untuk lebih memahami hidup d. Bersedia melakukan kebaikan, baik terhadap orang-orang

yang dikenal maupun tidak.

D. Manfaat Kecerdasan Rohani

Kecerdasan rohani sangat banyak memberikan manfaat bagi kehidupan manusia diantaranya adalah :

a. Membantu Anda melihat hal-hal dari sudut pandang yang lebih luas dan kompleks.

b. Membantu berpikir lebih jernih.

c. Membuat pikiran lebih tenang.

d. Membuka wawasan dan motivasi Anda tentang bagaimana cara memaknai hidup.

e. Menurunkan sifat egoisme dalam diri Anda.

f. Memunculkan sikap menghargai orang lain dengan menempatkan orang lain diposisi yang lebih tinggi dari pada diri sendiri.

g. Menyadari pentingnya nilai-nilai kehidupan seperti keadilan, kejujuran, kebenaran dan kehormatan.

h. Memunculkan sikap belas kasih terhadap orang lain.

i. Memunculkan sikap selalu bersyukur dengan apa yang dimiliki.

j. Memunculkan rasa cinta kasih terhadap diri sendiri, orang lain maupun pada alam semesta.

E. Prinsip Prinsip Kecerdasa Rohani

Membangun mental dengan prinsip-prinsip kecerdasan Rohani di antaranya :

1. Prinsip tauhid adalah prinsip yang berdasarkan iman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

2. Prinsip Aqidah (kepercayaan) adalah prinsip berdasarkan iman kepada seluruh rukun iman yang enam dan menanamkannya dalam prilaku sehari hari

3. Prinsip kepemimpinan adalah prinsip berdasarkan iman kepada Rasulullahi Sholallahu Alaihi wa Sallam dan mencontoh beliau didalam ri’ayah ( kepemimpinan )

4. Prinsip pembelajaran adalah prinsip berdasarkan iman kepada kitabullah yaitu Al-Qur’an , membaca, mentadaburi dan berusaha mengamalkannya.

F. Fungsi Kecerdasa Rohani

Menurut Agustian Fungsi kecerdasan Rohani yaitu membentuk perilaku seseorang yang berakhlaq mulia, seperti:

1. Kerendahan hati yaitu menghormati dan menerima segala nasehat dan kritik dari orang lain.

2. Tawakal (berusaha dan berserah diri) yaitu tabah terhadap segalamusibah dan ujian dan selalu menyerahkan segala perkaranya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

3. Keihklasan (ketulusan) yaitu selalu mengerjakan sesuatu karena Allah dan bukan karena pujian atau balasan dari manusia.

4. Ihsan yaitu memiliki tanggung jawab dengan melakukan pekerjaan dengan sungguh-sungguh dan menjadi uswah atau qudwah yang baik dalam prilaku.

3.Kerangka Berfikir

Membaca al-Qur’an merupakan perintah Allah yang tidak bisa kita abaikan, dan sudah menjadi suatu keharusan bagi setiap muslim untuk bisa dan mampu didalam membaca Al Qur’an dan hal ini menjadi tugas yang bukan hanya sebagai pendidik atau guru yang bertanggung jawab untuk menjadikan seorang pelajar atau siswa untuk mahir didalam membaca Al Qur’an, akan tetapi hal ini juga menjadi tugas besar orang tua dan menjadi hal yang harus lebih di perhatikan yaitu menjadikan

anak untuk senantiasa mau belajar Al Qur’an serta membacanya dalam kehidupan sehari hari.

Sangat banyak manfaat yang akan di dapatkan diantaranya adalah manfaat bagi kecerdasan rohani yang dimana hal ini akan sangat berpengaruh kepada prilaku, moral, akhlak dan kehidupan. Juga akan menjadikan sebab kehidupannya bahagia dengan merasakan ketenangan dan ketentraman dalam hati yang dimana hal tersebut merupakan dzikir kepada Allah Ta’ala.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam surat Ar Ro’du tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.”

Ayat ini menunjukan bahwa memabaca Al Qur’an sangat mempengaruhi kecerdasan rohani dan kehidupan manusia.

Al Qur’an juga obat mujarab untuk hati. Al Qur’an menjadi obat bagi hati yang terkena syubhat (racun pemikiran) dan syahwat (nafsu jelek untuk maksiat). Dalam Al Qur’an terdapat penjelas, di mana kebatilan dienyahkan oleh kebenaran.

Penyakit syubhat yang merusak bisa enyah (pergi) karena adanya ilmu dan keinginan (yang baik), di mana hakikat sesuatu begitu jelas karenanya. Dalam Al Qur’an terdapat berbagai hikmah yang bisa dipetik, terdapat berbagai nasehat yang baik untuk memotivasi dalam beramal dan menakut-nakuti dari berbuat kejelekan. Dalam Al Qur’an juga terdapat kisah-kisah yang bisa diambil ‘ibroh (pelajaran) sehingga hati pun menjadi baik. Al Qur’an begitu memberi semangat hati pada hal-hal yang bermanfaat dan memperingatkan pula dari hal-hal yang membahayakan. Akhirnya, hati semakin cinta pada kebenaran dan benci pada kebatilan. Padahal sebelumnya bisa jadi hati sangat ingin berbuat kebatilan dan benci pada kebenaran.

4.Penelitian Yang Relevan

Penulis melihat dan memandang penelitian atau pembahasan terdahulu ini menjadi salah satu acuan penulis dalam melakukan penelitian sehingga penulis dapat memperkaya teori yang digunakan dalam mengkaji penelitian yang di lakukan. Berikut merupakan penelitian terdahulu berupa jurnal terkait dengan penelitian yang di lakukan penulis.

Penelitian yang dilakukan oleh Suniar Siwi Mahanani yang berjudul, “Pengaruh Intensitas Keagamaan Terhadap Kecerdasan Rohani atau Spiritual (Studi Kasus Santri Pondok Pesantren Tarbiyatul Islam Al-Falah Salatiga Tahun 2016).

Hasil penelitiannya adalah: Berdasarkan perhitungan tabel diatas Kasus Santri Pondok Pesantren Tarbiyatul Islam Al-Falah Salatiga Tahun pada umumnya dalam kondisi sedang. Terbukti 42% dari 90 santri yaitu 38 santri dalam kategori sedang , kemudian 39% dari 90 santri yaitu 35 santri dalam kategori tinggi, sedangkan 18% dari 90 santri yaitu 16 santri dalam kategori 96 rendah, dan 1% dari 90 santri yaitu 1 santri dalam kondisi sangat tinggi intensitasnya dalam mengikuti kegiatan keagamaan. Berdasarkan perhitungan tabel diatas dapat dijelaskan bahwa kecerdasan rohani atau spiritual santri Pondok Pesantren Tarbiyatul Islam AlFalah Salatiga pada umumnya dalam kondisi tinggi. Terbukti 41% dari 90 santri yaitu 39 santri dalam kondisi tinggi, kemudian 37 % dari 90 santri yaitu 35 santri dalam kondisi sedang, sedangkan 12% dalam kondisi sangat tinggi, dan 0% atau bisa dikatakan tidak ada siswa yang kecerdasan rohaninya rendah. Berdasarkan tabel koefisien korelasi tersebut (Arikunto 2014:319), dengan nilai rxy sebesar 0,409yang mana nilai r terletak terletak pada peringkat antara 0,400 –0,700 yang berarti korelasi sedang atau cukup. Maka hipotesis penelitian ini yang menyebutkan bahwa intensitas kegiatan keagamaan berpengaruh terhadap kecerdasan rohani santri Pondok Pesantren Tarbiyatul Islam AlFalah diterima.

Dengan demikian, nilai korelasional 0,409 bernilai positif menunjukkan bahwa semakin tinggi intensitas keagamaan yang

diberikan akan semakin meningkat kecerdasan spiritual santri Pondok Pesantren Tarbiyatul Islam Al-Falah. Ini berarti bahwa, semakin intensif dalam mengikuti kegiatan keagamaan, semakin meningkat pula tingkat kecerdasan rohani atau spiritual santri Pondok Pesantren Tarbiyatul Islam Al-Falah.50“Pengaruh Intensitas Keagamaan Terhadap Kecerdasan Spiritual (Studi Kasus Santri Pondok Pesantren Tarbiyatul Islam Al-Falah Salatiga.

Persamaan penelitian terdahulu dengan penelitian yang akan peneliti lakukan yaitu sama sama meneliti kecerdasan rohani siswa siswa. Perbedaannya adalah terletak pada lokasi dan bidang kajiannya , lokasi peneliti sebelumnya yaitu di Pondok Tarbiyatul Islam Al-Falah Salatiga , sedangkan lokasi yang akan menjadi penelitian penulis yaitu di SMPIT Al-Jannah Karawang.

BAB III

METODE PENELITIAN

Dokumen terkait