• Tidak ada hasil yang ditemukan

MANFAAT RUTINITAS MEMBACA AL-QURAN DALAM MENINGKATKAN KECERDASAN ROHANI SISWA DI SMPIT AL-JANNAH, KARAWANG

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "MANFAAT RUTINITAS MEMBACA AL-QURAN DALAM MENINGKATKAN KECERDASAN ROHANI SISWA DI SMPIT AL-JANNAH, KARAWANG"

Copied!
64
0
0

Teks penuh

(1)

MANFAAT RUTINITAS MEMBACA AL-QURAN DALAM MENINGKATKAN KECERDASAN ROHANI

SISWA DI SMPIT AL-JANNAH , KARAWANG

SKRIPSI

Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd.) pada Sekolah Tinggi Agama Islam

(STAI) Nida El-Adabi Bogor

Oleh:

YADI MULYADI NIM : 18.01.01.0073

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM (STAI) NIDA EL ADABI BOGOR

2022 M/ 1443 H

(2)

LEMBAR PERSETUJUAN

Bahwa Skripsi yang berjudul:

MANFAAT RUTINITAS MEMBACA AL-QURAN DALAM MENINGKATKAN KECERDASAN ROHANI SISWA DI SMPIT

AL-JANNAH , KARAWANG Oleh:

YADI MULYADI NIM : 18.01.01.0073

Setelah diperiksa dan diperbaiki sesuai dengan saran pembimbing, dapat diajukan/disahkan untuk

mengikuti sidang skripsi

Menyetujui:

Pembimbing I, Pembimbing II

Dr. kerwanto M.Ud Abdul Latif S.Pd.I Mengetahui:

Ketua STAI Nida El Adabi, Kaprodi PAI

Drs. Ramlan Rosyad, M.Si Akhmad Kharis. M.Pd NIDN :2101106001 NIDN :2112038304

(3)

LEMBAR PENGESAHAN SKRIPSI

Skripsi berjudul Manfaat Rutinitas Membaca Al-quran Dalam Meningkatkan Kecerdasan Rohani Siswa Di SMPIT Al-Jannah , Karawang disusun Oleh Yadi Mulyadi, NIM. 18.01.01.0073, Jurusan Pendidikan Agama Islam. Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, Sekolah Tinggi Agama Islam Nida El-Adabi Bogor Jawa Barat. Telah melalui bimbingan dan dinyatakan sah sebagai karya ilmiyah yang berhak diajukan pada sidang munaqosah sesuai ketentuan yang ditetapkan fakultas.

Bogor,….. Juli 2022 Sidang Munaqosyah,

Ketua Merangkap Anggota, Sekretaris Merangkap Anggota

Drs. H. Ramlan Rosyad, M.Si Enan Rahmawati, S.Ag

Anggota

Dr.Kerwanto, M.Ud Abdul Latif, S.Pd.i

(4)

ABSTRAK

Yadi Mulyadi, NIM : 18.01.01.0073 Manfaat Rutinitas Membaca Al-Quran Dalam Meningkatkan Kecerdasan Rohani Siswa Di SMPIT Al-Jannah Karawang Program Studi Pendidikan Agama Islam Fakultas Institut Agama Islam (STAI) Bogor.

Pembimbing I: Dr. Kerwanto, M.Si Pembimbing II: Abdul Latif, S.Pd.I.

Skripsi ini membahas mengenai Manfaat Rutinitas Membaca Al-quran Dalam Meningkatkan Kecerdasan Rohani Siswa Di SMPIT Al-Jannah Karawang, Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa besar manfaat rutinitas membaca Al-quran terhadap kecerdasan rohani siswa di SMPIT Al-Jannah karawang . Dan sebagai pemicu bagi orang tua untuk bersemangat dalam memberikan bimbingan dan kontribusi dalam mengajar anak-anak nya, Supaya lebih giat dalam membaca Al Qur’an dan berusaha menanamkan rasa tanggung jawab kepada anak tentang pentingnya membaca Al Qur’an dalam kehidupan sehari hari.

Dalam penelitian ini metode yang digunakan pada penelitian ini ialah melalui pendekatan kualitatif yaitu dengan analisis deskriptip dari data yang dihasilkan melalui wawancara dan observasi. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa manfaat rutinitas membaca Al Qur’an dalam meningkatkan kecerdasan rohani siswa di SMPIT AL JANNAH Karawang, bahwa membaca Al Qur’an sangat memberikan pengaruh dan manfaat yang besar bagi kecerdasan rohani yang akan memberikan dampak baik dalam kehidupan sehari hari.

(5)

KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Warohmatullahi Wabarokatuh

Segala puji bagi Allah Subhanahu Wata’ala, kepadanya kami memohon pertolongan dan memohon ampunan. Penulis berlindung kepada Allah Subhanahu Wata’ala dari kejahatan diri penulis serta keburukan amal perbuatan penulis. Siapa yang diberikan petunjuk oleh Allah, maka tidak akan ada yang dapat menyesatkannya, dan siapa yang disesatkannya maka tidak akan ada yang mampu untuk memberinya hidayah. Penulis bersaksi bahwa tidak ada Illah yang berhak di ibadahi dengan benar selain Allah, dan penulis bersaksi bahwa Nabi Muhammad Sholallahu Alaihi Wasallam hanya hamba dan utusannya.

Alhamdulillah penulis telah menyelasaikan seluruh kewajiban dan perjuangan menyelesaikan tugas akhir sebagai mahasiswa S1 pada jurusan Pendidikan Agama Islam. STAI Nida El-Adabi Bogor, yaitu skripsi yang berjudul “Manfaat Rutinitas Membaca Al-quran Dalam Meningkatkan Kecerdasan Rohani Siswa Di SMPIT Al-Jannah, Karawang”.

Skripsi ini disusun untuk memenuhi persyaratan dalam memperoleh gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd) pada Jurusan Pendidikan Agama Islam, STAI Nida El-Adabi Bogor.

Dalam proses penyusunan skripsi ini, tidak dapat dipungkiri, bahwa sebagai makhluk sosial penulis tidak dapat hidup sendiri.

Penulis membutuhkan bantuan, dukungan, dan do’a dari berbagai pihak. Sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan baik.

Untuk itu sebagai ungkapan rasa hormat, penulis menyampaikan ucapan terima kasih kepada :

(6)

1. Ketua Sekolah Tinggi Agama Islam Nida El-Adabi Bogor 2. Ketua Prodi Pendidikan Agama Islam Sekolah Tinggi Agama

Islam Nida El-Adabi Bogor.

3. Dosen pembimbing skripsi, Bapak Dr.Kerwanto, M.Ud dan Bapak Abdul Latif, S.Pd.I yang telah senantiasa selalu meluangkan waktunya untuk membimbing penulis dengan sabar, dan selalu memberikan nasehat kepada penulis untuk selalu rajin dalam mengerjakan skripsi

4. Seluruh Dosen Pendidikan Agama Islam, STAI Nida El-Adabi Bogor

5. Teman seperjuangan angkatan 2022 PAI, STAI Nida El-Adabi Bogor

6. Seluruh Guru-guru saya selama saya belajar di pondok Al- Matuq Islamic boarding School hingga lulus karena merekalah saya bisa mempunyai bekal ilmu hingga bisa melanjutkan pendidikan di kuliah ini

7. Pimpinan Pondok Pesantren Tahfidz Al-Jannah Ustadz Sholeh Dahlan Hafidzhahullah yang sudah saya anggap sebagai Ayah kandung saya, Terima kasih karena sudah mau menerima dan membimbing saya, sehingga saya bisa menjadi manusia yang bermanfaat untuk lingkungan saya terutama tempat saya mengajar. Semoga ilmu dan amal yang telah di berikan bisa menjadi amal jariyah

8. Kepala sekolah dan rekan guru-guru serta karyawan SMPIT Al- Jannah yang telah bersedia memberikan izin dan informasi dalam penelitian ini

9. Ayah dan ibu saya yang sudah menghadap Allah sewaktu saya kecil, terimakasih karena kalian lah saya bisa lahir di dunia ini.

(7)

Walaupun saya tidak seberuntung anak lain yang bisa merasakan asuhan kasih sayang selama saya kecil. Semoga ilmu yang sudah saya punya bisa menjadi amal jariyah bagi kalian di akhirat

10. Istri tercinta dan tersayang yang sudah setia menemani saya berjuang dari dasar dan selalu mendukung dan mensupport dalam doa dan pelayanan nya. Semoga Allah menjadikan kita keluarga yang sakinnah mawaddah dan warrahmah

11. Anak saya Uwais Al-qorni (rahimahullah) terima kasih karena engkaulah semangat abi untuk terus belajar menjadi Ayah yang baik, semoga Allah mengumpulkan kita di surga kelak

12. Anak-anak saya yang masih hidup Shaffa Afiyah, Zaid Afif Usamah, Ukasyah Tsaqif Afanin terima kasih karena kalian adalah semangat hidup abi di dunia ini

13. Sahabat- sahabat dan Semua pihak yang telah berperan serta memberikan bantuan moral maupun material dalam penyusunan skripsi ini.

Penulis menyadari bahwa penulisan ini masih banyak kekurangan, oleh karena itu kritik dan saran sangat penulis harapkan. Semoga skripsi ini bermanfaat bagi penulis khususnya dan bagi para pembaca pada umumnya.

Wassalamu’alaikum Warohmatullahi wa Barokatuh

Bogor, 16 Juli 2022

Yadi Mulyadi

(8)

NIM : 18.01.01.0073

(9)

Daftar isi

ABSTRAK

KATA PENGANTAR BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah B. Identifikasi Masalah C. Batasan Masalah D. Rumusan Masalah E. Tujuan Penelitian F. Manfaat Penelitian

BAB II LANDASAN TEORI 1. Membaca Al Qur’an A. Pengertian Al Qur’an

B. Dasar Dasar Membaca Al Qur’an C.Adab Adab Membaca Al Qur’an D. Manfaat Membaca Al Qur’an

E. Faktor Yang Menghalangi Dari Membaca Al Qur’an 2. Kecerdasan Rohani

A. Definisi Kecerdasan Rohani

B. Faktor Yang Mempengaruhi Kecerdasan Rohani C. Ciri Ciri Kecerdasan Rohani

D. Manfaat Kecerdasan Rohani

(10)

E. Prinsip Prinsip Kecerdasan Rohani 3. Penelitian Yang relevan

5. Kerangka Berfikir

BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian

B. Setting Penelitian C. Informan Penelitian D. Teknik Pengumpulan data E. Teknik Keabsahan data F. Teknik Analisa Data

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Deskripsi Lokasi Penelitian

B. Hasil penelitian

C. Pembahasan Hasil Penelitian

D. Hubungan Membaca Al Qur’an Dengan Kecerdasan Rohani BAB V PENUTUP

A. Kesimpulan B. Saran

DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN

(11)

BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

Membaca merupakan upaya untuk perkembangan otak, dengan membaca otak akan menyimpan banyak informasi yang akan terus tersimpan sampai mereka membutuhkan informasi tersebut.

Dengan membaca juga kita akan terus mendapatkan sesuatu yang baru dan unik yang dimana hal tersebut bisa bermanfaat bagi kehidupan kita terutama untuk kecerdasan rohani . Perintah membaca Al-Qur´an sudah ada empat belas abad yang lalu yang dimana Rasulullah Shollallahu Alaihi wa Sallam ketika menerima wahyu pertama dan sebagaimana kita ketahui bahwa beliau sebelumnya tidak bisa membaca dan menulis, hal ini membuktikan bahwa membaca Al-Quran memberikan pengaruh yang besar terhadap kecerdasan rohani . Oleh karenanya menjadi suatu keharusan yang harus dilakukan oleh setiap muslim yaitu menjadikan Al-Quran sebagai pegangan hidupnya dan menjadikan suatu yang wajib dalam membacanya setiap hari dan benar benar menyempatkan waktu untuk membaca Al-Quran karena pengaruh yang begitu besar terhadap kecerdasan rohani bagi yang mau membacanya. Oleh karena itu membaca Al-Quran disamping mendapatkan pahala juga bisa berpengaruh kepada kecerdasan rohani.

Maka dengan demikian ritinitas membaca Al-Qur’an yang dapat meningkatkan kecerdasan Rohani seseorang yaitu yang membaca nya dengan baik, dengan tartil serta mampu memahami makna yang terkandung didalamnya. Berdasarkan latar belakang inilah yang mendorong peneliti untuk melakukan penelitian tentang “Manfaat Rutinitas Membaca Al-Qur’an Dalam Meningkatkan Kecerdasan Rohani Siswa SMP IT Al-Jannah Karawang”

(12)

Kecerdasan juga tertera didalam undang-undang pendidikan yaitu Undang-undang No.20 tahun 2003 Pasal 1 tentang Sistem Pendidikan Nasional(Sisdiknas), disebutkan bahwa:“Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasanabelajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan rohani keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia,serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan Negara.

Berdasarkan undang-undang diatas, terdapat kata-kata kecerdasan.

Maksudnya adalah bahwa kecerdasan ini merupakan suatu hal yang sangatharus dimiliki setiap manusia didalam kehidupannya dan juga didalam sebuahranah pendidikan.Diantara kecerdasan tersebut ialah kecerdasanintelektual , kecerdasan emosional dan kecerdasan rohani.

Kecerdasan rohani ini merupakan kecerdasantertinggi diantara kecerdasan yang lain. Kecerdasan rohani ini sangat penting dan perlu ditingkatkan.Supaya seseorang mampu menyeimbangkan kehidupanagar dapat terwujudnya kebahagiaan, kesuksesan dan keberhasilan dalamberkehidupan baik di dunia maupun kehidupan di akhirat.

Saat ini banyak manusia yang mengandalkan kekuatan pribadi saja,selalu penuh dengan rencana. Namun manusia tidak boleh melupakan mata hati dalam melihat segala sesuatu. Hal ini sangat membutuhkan kecerdasan rohani yang memadukan antara kecerdasan intelektual dan keceradasan emosional. karena kecerdasan rohani adalah landasan yang diperlukan untuk memfungsikan kecerdasan intelektual dan kecerdasan emosional secara efektif.

Kecerdasan rohani ini menjadi syarat penting agar manusia dapat lebih memaknai hidup penuh berkah, terutama pada masa sekarang, di mana manusia modern melupakan mata hati dalam melihat segala sesuatu Jadi disini kecerdasan intelektual dan kecerdasan emosional saja tidak cukup untuk membantu manusia didalam berkehidupan di dunia ini, melainkan sangatlah

Membutuhkan kecerdasan rohani agar tujuan hidup lebih terarah, Secara umum kecerdasan rohani yang dimaksudkan disini ialah

(13)

memiliki pemahaman yang utuh tentang ajaran Islam dan dapat mengaplikasikannya dengan benar dalam kehidupan sehari-hari.

berhubungan dengan orang lain maupun lingkungan sekitar di kehidupan sehari-hari sangatlah diperlukan adanya sebuah kecerdasan rohani.

Secara umum kecerdasan rohani yang dimaksudkan disini ialah memiliki pemahaman yang utuh tentang ajaran Islam dan dapat mengaplikasikannya dengan benar dalam kehidupan sehari-hari.Karena ketika berhubungan dengan orang lain maupun lingkungan sekitar di kehidupan sehari-hari sangatlah diperlukan adanya sebuah kecerdasan rohanil. Dengan kecerdasan rohani seseorang mampu memaknai arti hidup sesungguhnya dan mampu menemukan kebahagiaan didalamnya.

Sebagai muslim yang beriman tentu dalam meraih kebahagiaan didalam berkehidupan kita tidak pernah lepas dari usaha dan berdo’a kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Salah satu bentuk dari usaha ini ialah kita berpegang teguh dan berpedomankepada kitab suci yaitu Al-Qur’an.

Al-Qur’an merupakan wahyu Allah Subhanahu wa Ta’ala yang di dalamnya berisi ajaran ajaran pokok bagi hambanya yang akan menjadi pedoman bagi alam semesta agar tidak tersesat dalam kehidupan.Al- Qur’an selain berisi ajaran-ajaran dalam berkehidupan, selain itu AlQur’an juga petunjuk dan rahmat bagi manusia.

Dan Al-Qur’an juga merupakan penawar bagi kegundahan serta sebagai obat bagi hati, Selain menjadi penawar atau penyembuh bagi penyakit manusia, Al-Qur’an juga berfungsi sebagai furqon ( Pembeda antara hak dan yang bathil ) dan juga menjadi penjelas terhadap segala sesuatu baik itu moral, akhlak, etika dan tingkah laku yang dapat di praktekan ke dalam kehidupan sehari- hari.

Kemudian didalam Al-Qur’an juga mengajarkan tentang tugas dan peran manusia sebagai kholifah yaitu berkaitan hubungannya dengan alam, dan hubungan manusia dengan seksama dan yang paling penting adalah hubungan manusia dengan Robbnya yaitu Allah Subhanahu wa Ta’ala. Untuk memahami ajaran islam yang telah Allah disampaikan Allah melalui Al-Qur’an tentu diperlukan adanya sebuah pemahaman

(14)

terhadap Al-Qur’an dan juga mengamalkannya dalam kehidupan sehari- hari.

Memahami Al-Qur’an tentu harus mengetahui bacaannya terlebih dahulu,yaitu dengan membacanya.Dengan membaca Al-Qur’an maka secara langsung akan memahami dan mengetahui isi dan apa yang terkandung di dalam Al-Qur’an, membaca Al-qur’an ini harus diawali dengan huruf perhuruf kemudian ayat perayat kemudian dilanjutkan dengan memahami makna da nisi yang terkandung di dalamnya sehimgga bisa mengambil faidah serta manfaat yang ada didalam Al- Qur’an. Dan mengaplikasikan dalam kehidupan sehari hari.

Membaca Al-Qur’an ini merupakan anjuran dari Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah dimaktubkan didalam Al-Qur’an itu sendiri sebagaimana termaktub didalam surat Al Alaq ayat 1.

َقَلَخ ْيِذَّلا َكِ ب َر ِمْساِب ْأ َرْقِا Yang artinya : Bacalah wahai ( Muhammad ) dengan menyebut nama tuhanmu.

Ayat diatas telah menjelaskan bahwa setiap umat muslim dianjurkan untuk membaca Al-Qur’an memahaminya serta mengamalkannya.

Dan didalam hadist juga Nabi Sholallahu ‘Alaihi wa Sallam mengabarkan bahwa satu huruf akan dibalas dengan 10 kebaikan, dan ini merupakan kabar gembira bagi kita untuk lebih semangat membaca Al-Qur’an, memahaminta serta berusaha untuk mengamalkannya, karena salah satu manusia terbaik adalah orang yang mempelajari Al- Qur’an dan mengamalkannya.

Membaca Al-Qur’an bukan hanya saja mendapatkan pahala dari Allah Sbhanahu wa Ta’ala, melainkan secara langsung bagi yang

membacanya akan menjadi penyembuh bagi rasa sakit baik jasmani maupun rohani. Sesuai dengan firman Allah dalam al-Qur’an Surat Yunus ayat 57:

ِل ٌةَمْح َر َّو ىًدُه َو ِِۙر ْوُدُّصلا ىِف اَم ِل ٌءۤاَفِش َو ْمُكِ ب َّر ْن ِم ٌةَظِع ْوَّم ْمُكْتَءۤاَج ْدَق ُساَّنلا اَهُّيَآٰ ي َنْيِنِم ْؤُمْل

(15)

Yang artinya; Wahai manusia! Sungguh, telah datang kepadamu pelajaran (Al-Qur'an) dari Tuhanmu, penyembuh bagi penyakit yang ada dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang yang beriman.

Artinya : “Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit yang ada dalam dada serta petunjuk dan rahmat bagi orang – orang yang beriman.

Ayat tersebut telah menjelaskan bahwa tergambar jelas bahwa Al- Qur’an, disamping sebagai pedoman hidup manusia juga sebagai penawar bagi penyakit yang mengancam rohani manusia. Pembiasaan membaca Al-Qur’an mempunyai makna dan pengaruh yang begitu begitu besar rohani seseorang. Karena Al-Qur’an kalamullah yang berfungsi sebagai petunjuk, obat, rahmat, dan sebagai penerang yang kuat bagi kehidupan manusia.

Agar disetiap membacanya dapat mengambil manfaat , maka setiap orang harus memperhatikan adab-adab didalam membacanya, dengan menjaga adab-adabnya seseorang nantinya akan lebih mudah memahami nilai-nilai dan kandungan yang terdapat didalam Al-Qur’an serta menghadirkan Allah Subhanahu wa Ta’ala didalam hatinya.

SMPIT AL-JANNAH merupakan sekolah berbasis Islam yang membiasakan siswanya untuk selalu membaca Al-Qur’an dan sudah sudah menjadi rutinitas harian mereka setiap hari serta salah satu upaya sekolah untuk membiasakan mereka agar selalu mencintai dan terus perpengang teguh terhadap Al-Qur’an serta menjadikan mereka sebagai generasi qurani yang berakhlak mulia serta memiliki wawasan yang luas sesuai dengan harapan dan tujuan pendidikan islam.

Akan tetapi pada kenyataannya hal ini tidak selalu berpengaruh positif dan sesuai dengan yang diharapkan siswa yang mengikuti kegiatan tersebut, sebagian diantara mereka belum sepenuhnya menyadari apa tujuan dan manfaat yang dirasakan dari membaca Al-Qur’an tersebut.

Berdasarkan hasil observasi awal yang dilakukan peneliti di SMPIT AL-JANNAH Karawang.

Ketika melakukan observasi dalam kegiatan Membaca Al-Qur’an masih banyak siswa yang belum memiliki sikap dan karakter yang sesuai

(16)

didalam Al-Qur’an. Nyatanya didalam membaca Al-Qur’an terdapat siswa yang ngobrol dan sibuk sendiri dengan temannya sehingga menjadikannya tidak khusuk dalam membaca Al-Qur’an dan tidak dapat memahami makna dan isi yang terkandung didalamnya.

Kemudian terdapat penurunan siswa yang mengikuti kegiatan membaca Al-Qur’an salah satunya yaitu ketika menyetorkan hafalan ,sebagian masih ada yang belum mempersiapkan hafalan yang akan di setorkan ketika kegiatan tersebut berlangsung.Maka dengan demikian intensitas membaca Al-Qur’an yang dapat meningkatkan kecerdasan rohani seseorang yaitu yang membacanya dengan baik, tartil serta memahami makna atau isi yang terkandung didalamnya.

Berdasarkan latar belakang inilah yang mendorong peneliti untuk melakukan penelitian tentang “MANFAAT RUTINITAS MEMBACA AL QUR’AN DALAM MENINGKATKAN KECERDASAN ROHANI SISWA DI SMPIT AL-JANNAH KARAWANG ”.

(17)

B. Identifikasi Masalah

Berdasarkan Latar Belakang masalah di atas, maka menurut penulis ada beberapa factor yang mendasar yang menurut penulis perlu diadakan penelitian antara lain sebagai berikut :

1. Perlu adanya kegiatan yang yang sifatnya rutin untuk adanya kebiasaan dalam membaca Al Qur’an.

2. Meningkatkan kecerdasan rohani siswa yang dimana hal tersebut begitu penting diantara kecerdasan yang lainnya.

3. Meningkatkan semangat siswa didalam membaca Al Qur’an . C. Pembatasan Masalah

Agar penelitian ini lebih terarah, terfokus dan menghindari pembahasan yang terlalu luas, maka penulis membatasi variabelnya. Adapun batasan masalah dalam penelitian ini ialah:

1. Perkembangan Rutinitas Membaca Al-Qur’an yang dilakukan oleh siswa di SMIT Al Jannah

2. Manfaat yang didapatkan bagi kecerdasan rohani siswa dari membaca Al Qur’an di Sekolah Menengah Pertama Islam Terpadu Al Jannah Karawang.

D. Perumusan Masalah

Berdasarkan batasan yang telah penulis pilih, maka dapat dirumuskan permasalahan penelitian adalah apakah ada manfaat membaca Al-Qur’an dalam meningkatkan kecerdasan rohani pada siswa di SMPIT AL-JANNAH Karawang ?

E. Tujuan Penelitian

Sesuai dengan rumusan masalah yang telah dirumuskan, maka dapat ditentukan tujuan ini, anatara lain:

1. Untuk menjelaskan manfaat rutinitas membaca Al Quran dalam meningkatkan kecerdasan rohani siswa.

(18)

2. Untuk menjelaskan pentingnya kecerdasan rohani didalam kehidupan.

3. Untuk menjelaskan pembiasaan membaca Alquran dan manfaatnya bagi kehidupan sehari hari.

F. Manfaat Penelitian

Berdasarkan pada tujuan penelitian diatas, maka manfaat dalam penelitian adalah sebagai berikut :

a. Manfaat Teoritis

Manfaat secara teoritis adalah diharapkan mampu memperkaya teori-teori yang berkaitan dengan “Manfaat Rutinitas Membaca Al-Qur’an dalam meningkatkan kecerdasan Rohani Siswa”.

b. Manfaat bagi siswa

Hasil penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan kecerdasan Rohani siswa.

c. Bagi Guru

Hasil penelitian ini diharapkan dapat membantu guru didalam proses pembelajaran dan mampu membantu meningkatkan semangat dalam belajar terutama berhubungan dengan Kalamullah.

d. Bagi Peneliti

Peneliti mampu menambah wawasan keilmuan di bidang Al- Qur’an dan dapat dijadikan sebagai bekal untuk senantiasa terus berusaha untuk mempelajari dan berupaya dalam mengamalkannya.

(19)

BAB II

LANDASAN TEORI

1.Membaca Al Qur’an A. Pengertian Al Qur’an

Secara etimologi kata Al-Qur’an berasal dari kata Qiro’ah yang artinya tilawah atau membaca. Imam Syafi’i mengatakan bahwa kaliamt Al Qur’an tidak diambil kata jadiannya dari fi’il akan tetapi ia adalah isim ‘alam ( kata yang objek pembicaraannya sudah di tentukan dan tidak bisa di cari kata dasarnya . Contoh seperti Taurot, Zabur dan Injil.(

Secara terminology Al-Qur’an berarti kalam Allah Subhanahu wa Ta’ala yang di turunkan kepada Nabi Muhammad Salallahu

‘Alaihi wa Sallam yang dibuka dengan surat Al Fatihan dan di akhiri dengan surat An Naas dan sampai kepada kita dengan cara mutawatir.

Dan nama nama Al-Qur’an sangatlah banyak diantaranya adalah :

1. Al –Qur’an

Sebagaiman Allah Ta’ala banyak menyebutkan kata tersebut di dalamnya diantaranya firman Allah :

ِناَق ْرُفْلا َو ىٰدُهْلا َنِ م ٍتٰنِ يَب َو ِساَّنلِ ل ىًدُه ُنٰا ْرُقْلا ِهْيِف َل ِزْنُا ْ يِذَّلا َناَضَم َر ُرْهَش ۚ

Bulan Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur'an, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan- penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda antara yang benar dan yang batil (QS. Al Baqoroh ayat.185 ).

(20)

2. Al Furqon

Sebagaiman Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Al Qur’an yaitu

َل َّزَن ْيِذَّلا َك َرٰبَت ًرْيِذَن َنْيِمَلٰعْلِل َن ْوُكَيِل ٖهِدْبَع ىٰلَع َناَق ْرُفْلا

ِۙ ا

Mahasuci Allah yang telah menurunkan Furqan (Al-Qur'an) kepada hamba-Nya (Muhammad), agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam, jin dan manusia.( QS. Al Furqon ayat 1 ).

Dinamakan Al Furqon karena Allah Ta’ala menurukannya dari langit secara terpisah pisah atau berangsur angsur, dan menjadi pembeda anatara yang hak dan yang bathil, mukmin dan kafir serta yang halal dan yang harom.

3. Al Kitab

Dinamakan Al Kitab karena ia di tulis dan dikatakan juga karena karena ia mengumpulkan huruf, kalimat, ayat dan surat.

Sebagai mana Allah Ta’ala berfirman ;

اًدَحَتْلُم ٖهِن ْوُد ْنِم َد ِجَت ْنَل َو َٖۗهِت ٰمِلَكِل َلِ دَبُم َلَ ََۗكِ ب َر ِباَتِك ْنِم َكْيَلِا َي ِح ْوُا اَم ُلْتا َو Dan bacakanlah (Muhammad) apa yang diwahyukan kepadamu, yaitu Kitab Tuhanmu (Al-Qur'an). Tidak ada yang dapat mengubah kalimat-kalimat-Nya. Dan engkau tidak akan dapat menemukan tempat berlindung selain kepada-Nya.( QS. Al Kahfi ayat 27 ). Dan Allah juga berfirman :

اًج َوِع ٗهَّل ْلَعْجَي ْمَل َو َبٰتِكْلا ِهِدْبَع ىٰلَع َل َزْنَا ْيِذَّلا ِ ه ِلِلّ ُدْمَحْلَا Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan Kitab (Al- Qur'an) kepada hamba-Nya dan Dia tidak menjadikannya bengkok. ( QS. Al kahfi ayat 1 )

4. Adz Dzikr

(21)

Dinamakan demikian karena Allah menjadikannya sebagai wasilah untuk sesantiasa mengingatnya dan didalamnya Allah Ta’ala jadikan sebagai pengingat untuk hamba hambanya tentang kewajiban, hukun, larangan dan perintah .

Allah Ta’ala berfirman :

َنْل َّزَن ُنْحَن اَّنِا َن ْوُظِف ٰحَل ٗهَل اَّنِا َو َرْكِ ذلا ا

Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Qur'an, dan pasti Kami (pula) yang memeliharanya.( QS. Al hirj ayat 9 )

5. At Tanzil

Dinamakan demikian karena meliat kepada mashdarnya ( asal isim, sumber atau asal ). Sebagaiman firman Allah dalam Surat Syuaro ayat 192.

َۗ َنْيِمَلٰعْلا ِ ب َر ُلْي ِزْنَتَل ٗهَّنِا َو Dan sungguh, (Al-Qur'an) ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan seluruh alam.

Inilah diantara nama lain dari Al qur’an yang paling masyhur, dan sebagian ulama menambahkan bahwa penamaan Al-Qur’an sangat banyak bahkan bisa mencapai seratus penamaan, diantaranya :

1. Al Burhan 2. At Tibbyan 3. At Tasdhiq 4. Al Bashooir 5. Al Fashl 6. An Naba’

7. Al Haq 8. Al Karim 9. An Nur

(22)

10. Al Huda 11. Al ‘Aliy 12. Al Hakim

Inilah sebagian nama nama tambahan dari Al Qur’an yang di tambahkan oleh para ulama rohimahumullah.

Adapun penamaan mushaf maka itu bukan bagian dari nama Al- Qur’an yang di namakan oleh Allah Ta’ala, akan tetapi itu adalah istilah yang di kenal oleh kaum muslimin di masa Utsman bin ‘Affan rodiyallahu ‘Anhu karena di zaman beliau lebih di kenal dengan mushaf dari pada penamaan Al-Qur’an. ( Abdul Aziz , 2000 : 17-18 ) .

Berkaitan dengan pembahasan tentang Al-Qur’an, ada beberapa pandangan para ahli yang mengungkapkan tentang Al- Qur’an. Menurut pandangan yang paling kuat seperti diungkapkan oleh Dr. Subhi AshShalih, bahwa Al-Qur’an terbentuk dari kata masdar, dengan arti isim maf’ul yaitu dari kata haqoro artinya dibaca. Dan menurut pandangan umum kaum muslimin Al-Qur’an adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala yang diturunkan kepada manusia terbaik dan Nabi terbaik serta Rasul termulia yaitu Muhammad Sholallahu

‘Alaihi wa Sallam, sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala mrnurunkan kitab kitabNya yang lain kepada Rasul Rasul

‘Alaihimussalam sebelumnya.

Berangkat dari sinilah datang berbagai ayat Al-Qur’an dan hadits-hadits Rasul yang memerintahkan membaca dan menganjurkannya telah di siapkan pahala yang begitu banyak dan berlimpah dan Agung karenanya.

Sebagaimana Rausullah Sholallahu Alaihi wa Sallam bersabda :

(23)

ِ َّاللَّ ُلوُس َر َلاَق ُلوُقَي هنع الله ىضر ٍدوُعْسَم َنْب ِ َّاللَّ دْبَع ْنَع -

ملسو هيلع الله ىلص -

«

ِ َّاللَّ ِباَتِك ْنِم اًف ْرَح َأ َرَق ْنَم ح ملا ُلوُقَأ َلَ اَهِلاَثْمَأ ِرْشَعِب ُةَنَسَحْلا َو ٌةَنَسَح ِهِب ُهَلَف

ٌف ْر

ِم َو ٌف ْرَح ٌمَلَ َو ٌف ْرَح ٌفِلَأ ْنِكَل َو

ٌف ْرَح ٌمي ».

“Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Siapa yang membaca satu huruf dari Al Quran maka baginya satu kebaikan dengan bacaan tersebut, satu kebaikan dilipatkan menjadi 10 kebaikan semisalnya dan aku tidak mengatakan ملا satu huruf akan tetapi Alif satu huruf, Laam satu huruf dan Miim satu huruf.” (HR.

Tirmidzi dan dishahihkan di dalam kitab Shahih Al Jami’, no.

6469). Didalam Al Qur’an juga di sebutkan Allah Ta’ala berfirman dalam surat Fathir ayat 29 :

Membaca Al Quran adalah perdagangan yang tidak pernah merugi

َنوُج ْرَي ًةَيِن َلََع َو ا ًّرِس ْمُهاَنْق َز َر اَّمِم اوُقَفْنَأ َو َة َلََّصلا اوُماَقَأ َو ِ َّاللَّ َباَتِك َنوُلْتَي َنيِذَّلا َجِت َروُبَت ْنَل ًة َرا

“Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan salat dan menafkahkan sebahagian dari rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi”.

Dari beberapa definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa Al- Qur’an adalah :

1. Sebuah bacaan yang jika membacanya termasuk ibadah dan amal sholih.

2. . Kalam Allah Subhanahu wa Ta’ala yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad Sholallahu ‘Alaihi wa Sallam .

(24)

3. Sebagai penuntun, pembimbing, dan pedoman hidup manusia untuk membedakan mana yang hak dan yang bathil dalam kehidupan manusia

Berdasarkan uraian pengertian Al-Qur’an maka dapat disimpulkan bahwa begitu penting dan urgennya kita untuk selalu membaca Al Qur’an di dalam kehidupan kita karena Al Qur’an adalam pedoman atau petunjuk bagi hidup manusi.

B. Dasar-Dasar Membaca Al-Qur’an

Membaca Al-Qur’an memiliki dasar-dasar, diantaranya dasar tersebut adalah :

1) Dasar Religius

Yang dimaksud dasar religius dalam uraian ini adalah dasar yang bersumber pada AL-Qur’an dan hadits. Yang mana keduanya merupakan pokok dari ajaran islam dan juga merupakan wahyu yang Allah turunkan kepada Nabi Muhammad Salallahu ‘Alaihi wa Sallam dan Allah menjadikan hadits sebagai tafsir dari Al-Qur’an .

Dan diantara sebaik baiknya manusia adalah orang yang senantiasa mempelajari Al-Quran dan mengamalkannya kepada orang lain.

ُهَمَّلَع َو َنآ ْرُقْلا َمَّلَعَت ْنَم ْمُكُرْيَخ . “Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Al-Qur`an dan mengajarkannya.( HR.Bukhori )

Dan adanya perintah Allah untuk selalu membaca Al- Qur’an,sebagaimana di sebutkan didalam Al-Qur’an dalam surat Al ‘Alaq ayat 1 – 5 Allah Ta’ala berfirman :

ََۚقَلَخ ْيِذَّلا َكِ ب َر ِمْساِب ْأ َرْقِا

(25)

Artinya: "Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan,"

ٍَۚقَلَع ْنِم َناَسْنِ ْلَا َقَلَخ Artinya: "Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah."

ُُۙم َرْكَ ْلَا َكُّب َر َو ْأ َرْقِا Artinya: "Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Mahamulia,"

ُِۙمَلَقْلاِب َمَّلَع ْيِذَّلا Artinya: "Yang mengajar (manusia) dengan pena"

َْۗمَلْعَي ْمَل اَم َناَسْنِ ْلَا َمَّلَع Artinya: "Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya."

serta dari hadits Nabi Sholallahu ‘Alahi wa Sallam yang mengatakan bahwa siapa yang membaca satu huruf dari Al- Qur’an maka baginya kebaikan bahkan satu huruf tersebut bisa mendapatkan sepuluh kebaikan dan orang yang terbata bata dalam membacanya ia akan tetap mendapatkan pahala yaitu dua pahala.

2. Dasar psikologi

Yaitu ilmu yang mempelajari tingkah laku manusia, dalam hal ini psikolog termasuk dalam aspek dasar karena psikolog berusaha menyelidiki semua aspek yang berhubungan dengan berbuatan manusia baik yang sifatnya rohani atau jasmani , baik atau buruk.

Sebagaimana Al-Qur’an Allah Subhanahu wa Ta’ala jadikan sebagai pedoman hidup serta petunjuk bagi manusia dan didalamnya juga Allah jadikan syifaa lima fisshudur ( obat bagi hati atau dada ) serta penyakit yang dialami, diantara penyakit yang sangat butuh obat serta nutrisi adalah hati kita yang

(26)

dimana kata Al Imam Ibnu Qoyyim rohimahullah bahawa hati adalah raja yang mengatur seluruh organ manusia.

Ketika keadaan hati seseorang baik maka semuanya juga akan baik termasuk perbuatannya. Sebagaimana Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda yang di riwayatkan dari Nu’man bin Basyir rodiyallahu ‘Anhu :

ُهُّلُك ُدَسَجْلا َدَسَف ْتَدَسَف اَذِإ َو ، ُهُّلُك ُدَسَجْلا َحَلَص ْتَحَلَص اَذِإ ًةَغْضُم ِدَسَجْلا ىِف َّنِإ َو َلََأ ُبْلَقْلا َىِه َو َلََأ

“Ingatlah bahwa di dalam jasad itu ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baik pula seluruh jasad. Jika ia rusak, maka rusak pula seluruh jasad. Ketahuilah bahwa ia adalah hati (jantung)”

(HR. Bukhari no. 52 dan Muslim no. 1599).

Para ulama mengatakan walaupun hati itu kecil dibandingkan dengan anggota badan yang lainnya ,namun baik dan jeleknya jasad tergantung pada hati .( Syarh Muslim, 11:29 ).

Para ulama juga mengatan bahwa hati adalah malikul a’dhoo ( rajanya anggota badan) sedangkan anggota badan junuduhu ( tentaranya ). “ Jami’ul Ulum wal Hikam , 1:210”.

Hadits ini juga merupakan dalil bahwa akal dan kemampuan memahami pusatnya adalah di hati. Sumbernya adalah di hati ,bukan di otak ( kepala ). Demikian di simpulkan oleh Ibnu Bathoh dan Imam Nawawi rohimahumallah.

C. Adab Adab Membaca Al Qur’an

Beberapa adab penting yang perlu diperhatikan dalam membaca Al-Qur’an:

(27)

1. Hendaklah yang membaca Al-Qur’an berniat ikhlas, mengharapkan ridha Allah, bukan berniat ingin cari dunia atau cari pujian.

2. Disunnahkan membaca Al-Qur’an dalam keadaan mulut yang bersih. Bau mulut tersebut bisa dibersihkan dengan siwak atau bahan semisalnya.

3. Disunnahkan membaca Al-Qur’an dalam keadaan suci.

Namun jika membacanya dalam keadaan berhadats dibolehkan berdasarkan kesepatakan para ulama.

Catatan:

Ini berkaitan dengan masalah membaca, namun untuk menyentuh Al-Qur’an dipersyaratkan harus suci. Dalil yang mendukung hal ini adalah:

Dari Abu Bakr bin Muhammad bin ‘Amr bin Hazm dari ayahnya dari kakeknya, sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menulis surat untuk penduduk Yaman yang isinya, “Tidak boleh menyentuh Al- Qur’an melainkan orang yang suci”. (HR. Daruquthni no.

449. Hadits ini dinilai shahih oleh Syaikh Al-Albani dalam Al-Irwa’ no. 122).

4. Mengambil tempat yang bersih untuk membaca Al-Qur’an.

Oleh karena itu, para ulama sangat anjurkan membaca Al- Qur’an di masjid. Di samping masjid adalah tempat yang bersih dan dimuliakan, juga ketika itu dapat meraih fadhilah i’tikaf.

Imam Nawawi rahimahullah menyatakan, “Hendaklah setiap orang yang duduk di masjid berniat i’tikaf baik untuk waktu yang lama atau hanya sesaat. Bahkan sudah

(28)

sepatutnya sejak masuk masjid tersebut sudah berniat untuk i’tikaf. Adab seperti ini sudah sepatutnya diperhatikan dan disebarkan, apalagi pada anak-anak dan orang awam (yang belum paham). Karena mengamalkan seperti itu sudah semakin langka.” (At-Tibyan, hlm. 83).

5. Menghadap kiblat ketika membaca Al-Qur’an. Duduk ketika itu dalam keadaan sakinah dan penuh ketenangan.

6. Memulai membaca Al-Qur’an dengan membaca ta’awudz.

Bacaan ta’awudz menurut jumhur (mayoritas ulama) adalah

“a’udzu billahi minasy syaithonir rajiim”. Membaca ta’awudz ini dihukumi sunnah, bukan wajib.

Perintah untuk membaca ta’awudz di sini disebutkan dalam ayat,

َِّلِلّاِب ْذِعَتْساَف َنَآ ْرُقْلا َتْأ َرَق اَذِإَف مي ِج َّرلا ِناَطْيَّشلا َنِم

“Apabila kamu membaca Al Quran hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari syaitan yang terkutuk.” (QS. An-Nahl: 98)

7. Membaca “bismillahir rahmanir rahim” di setiap awal surat selain surat Bara’ah (surat At-Taubah).

8. Hendaknya ketika membaca Al-Qur’an dalam keadaan khusyu’ dan berusaha untuk mentadabbur (merenungkan) setiap ayat yang dibaca.

Perintah untuk mentadabburi Al-Qur’an disebutkan dalam ayat,

اَهُلاَفْقَأ ٍبوُلُق ىَلَع ْمَأ َنَآ ْرُقْلا َنو ُرَّبَدَتَي َلََفَأ

“Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran ataukah hati mereka terkunci?” (QS. Muhammad: 24)

ِباَبْلَ ْلْا وُلوُأ َرَّكَذَتَيِل َو ِهِتاَيَآ او ُرَّبَّدَيِل ٌك َراَبُم َكْيَلِإ ُهاَنْل َزْنَأ ٌباَتِك

(29)

“Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran.” (QS. Shaad: 29)

Imam Nawawi rahimahullah menyatakan, “Hadits yang membicarakan tentang perintah untuk tadabbur banyak sekali.

Perkataan ulama salaf pun amat banyak tentang anjuran tersebut. Ada cerita bahwa sekelompok ulama teladan (ulama salaf) yang hanya membaca satu ayat yang terus diulang-ulang dan direnungkan di waktu malam hingga datang Shubuh.

Bahkan ada yang membaca Al-Qur’an karena saking mentadabburinya hingga pingsan. Lebih dari itu, ada di antara ulama yang sampai meninggal dunia ketika mentadabburi Al- Qur’an.” (At-Tibyan, hlm. 86).

Diceritakan oleh Imam Nawawi, dari Bahz bin Hakim, bahwasanya Zararah bin Aufa, seorang ulama terkemuka di kalangan tabi’in, ia pernah menjadi imam untuk mereka ketika shalat Shubuh. Zararah membaca surat hingga sampai pada ayat,

ٌريِسَع ٌم ْوَي ٍذِئَم ْوَي َكِلَذَف روُقاَّنلا يِف َرِقُن اَذِإَف

“Apabila ditiup sangkakala, maka waktu itu adalah waktu (datangnya) hari yang sulit.” (QS. Al-Mudattsir: 8-9). Ketika itu Zararah tersungkur lantas meninggal dunia. Bahz menyatakan bahwa ia menjadi di antara orang yang memikul jenazahnya.

(At-Tibyan, hlm. 87)

Ingat nasihat Ibrahim Al-Khawwash bahwa tombo ati (obat hati) ada lima:

(30)

a. Membaca Al-Qur’an disertai tadabbur (perenungan)

b. Perut kosong (rajin puasa)

c. Rajin qiyamul lail (shalat malam) d. Merendahkan diri di waktu sahur e. Duduk dengan orang-orang shalih.

( Imam Nawawi dalam At-Tibyan, hlm. 80-87).

D. Keutamaan Membaca Al Qur’an

Terdapat banyak dalil yang berisi motivasi untuk membaca Al- Qur’an, merenungi makna dan mengamalkannya. Allah Ta’ala berfirman,

ِباَبْلَ ْلْا وُلوُأ َرَّكَذَتَيِل َو ِهِتاَيآ او ُرَّبَّدَيِل ٌك َراَبُم َكْيَلِإ ُهاَنْل َزْنَأ ٌباَتِك

“Ini adalah sebuah Kitab yang kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayat-Nya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran” (QS. Shaad [38]: 29).

Bukanlah tujuan membaca Al-Qur’an hanya sekedar membaca dan melewati ayat-ayatnya saja serta mengkhatamakan bacaannya sebanyak sepuluh atau dua puluh kali. Bukan ini maksudnya.

Maksud dan tujuan utama adalah mengambil manfaat dari Al- Qur’an dan mengamalkannya. Membaca Al-Qur’an merupakan sarana dan jalan untuk mengamalkan Al-Qur’an. Membaca Al- Qur’an sendiri adalah sebuah amal shalih, namun kita tidak mengkhusukan hanya membaca Al-Qur’an dan berhenti di sana.

Lebih dari itu, kita harus merenungi makna dan mengamalkannya, sehingga kita bisa menjadi hamba yang mengambil manfaat dari ayat-ayat Al-Qur’an.

(31)

Dalam sebuah hadits, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

، ٌف ْرَح ملا ُلوُقَأ َلَ ،اَهِلاَثْمَأ ِرْشَعِب ُةَنَسَحلا َو ،ٌةَنَسَح ِهِب ُهَلَف ِ َّاللَّ ِباَتِك ْنِم اًف ْرَح َأ َرَق ْنَم َح ٌميِم َو ٌف ْرَح ٌم َلَ َو ٌف ْرَح ٌفِلَأ ْنِكَل َو ٌف ْر

“Barangsiapa membaca satu huruf dari kitabullah, baginya satu kebaikan. Satu kebaikan akan dilipatgandakan sepuluh. Aku tidak mengatakan ‘alif laam miim’ itu satu huruf, akan tetapi, Alif satu huruf, Laam satu huruf dan Miim satu huruf” (HR.

Tirmidzi no. 2915).

Adapun orang-orang yang hanya membaca Al-Qur’an dan tidak mengamalkannya, maka Al-Qur’an itu akan menuntutnya pada hari kiamat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

َكْيَلَع ْوَأ َكَل ٌةَّجُح ُنآ ْرُقْلا َو

“Al-Qur’an itu akan menjadi hujjah yang membelamu atau yang akan menuntutmu” (HR. Muslim no. 223).

Al-Qur’an menjadi hujjah yang membela kita, jika kita mengamalkan kandungannya. Al-Qur’an akan menuntut kita, jika kita tidak mengamalkannya. Sesungguhnya Al-Qur’an akan menjadi musuh pada hari kiamat bagi orang-orang yang membaca dan menghafalnya saja, namun menyelisihi dan tidak mengamalkannya.

Al-Qur’an bisa jadi berada di depan kita, menunjukkan kita kepada jalan kebaikan dan menuntun kita menuju surga. Al- Qur’an juga bisa jadi berada di belakang kita yang akan menarik kita ke dalam neraka. Allah Ta’ala berfirman:

َغَلَب ْنَم َو ِهِب ْمُك َرِذْنُ ِلْ ُنآ ْرُقْلا اَذَه َّيَلِإ َي ِحوُأ َو

(32)

“Dan Al-Qur’an ini diwahyukan kepadaku supaya dengan dia aku memberi peringatan kepadamu dan kepada orang-orang yang sampai Al-Qur’an (kepadanya)” (QS. Al-An’am [6]: 19).

Al-Qur’an adalah hujjah dan peringatan.

Tidak ada alasan bagi seorang pun setelah Al-Qur’an diturunkan, karena di dalamnya Allah Ta’ala telah menjelaskan manakah yang benar (haq) dan manakah yang salah (bathil).

Allah Ta’ala telah menjelaskan manakah yang merupakan petunjuk (hidayah) dan manakah kesesatan. Barangsiapa yang mengamalkannya, merekalah orang-orang yang berbahagia, namun barangsiapa yang menyelisihinya, merekalah orang- orang yang celaka. Allah Ta’ala berfirman :

ىَمْعَأ ِةَماَيِقْلا َم ْوَي ُه ُرُشْحَن َو اًكْنَض ًةَشيِعَم ُهَل َّنِإَف ي ِرْكِذ ْنَع َض َرْعَأ ْنَم َو

“Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta” (QS. Thaaha [20]: 124). Dan diantara keutamaan keutaman membaca Al Qur’an yaitu :

a. Mendapatkan kebaikan yang banyak b. Diangkat oleh Allah

c. Dimisalkan seperti buah utrujah ( buah yang wangi dan rasanya manis )

d. Mendapatkan cinta Allah dan Rasulnya

e. Orang yang senantiasa mahir dala mmbaca Al- qur’an akan bersama malaikat yang mulia.

f. Akan dipakaikan mahkota pada hari kiamat yang cahayanya lebih baik dari sinar matahari yang ada di dunia.

(33)

g. Akan mendapatkan ketenangan h. Tercurahnya rahmat Allah i. Malaikat akan mengelilinginya

j. Allah akan menyebutnya di hadapan makhlukNya ( malaikat ).

k. Allah akan memulyakannya

l. Allah jadikan sebagai syafaat. ( Abdul Aziz,2000:

29-31).

E. Faktor Penghalang Dari Membaca Al Qur’an

Al Qur’an memiliki fadhilah atau keutamaan bagi orang yang membacanya. Sebagaimana disebutkan dalam hadist Rasulullah Sholallahu Alaihi wa Sallam bersabda :

ىِتْأَي ُهَّنِإَف َنآ ْرُقْلا اوُء َرْقا هِباَحْصَلْ اًعيِفَش ِةَماَيِقْلا َم ْوَي

“Bacalah Al-Qur’an, karena ia akan datang pada Hari Kiamat sebagai penolong bagi orang-orang yang membacanya.”( HR.

Mualim.804 ). Dan dalam sabda beliau yang lain

ُهَمَّلَع َو َنآ ْرُقْلا َمَّلَعَت ْنَم ْمُكُرْيَخ

“Sebaik-baik kamu adalah orang yang mempelajari Al-Qur ‘an dan mengajarkannya.”( HR.Bukhori .5027 )

Diantara faktor yang memnyebabkan seseorang tidak mau atau berat dalam membaca Al Qur’an yaitu :

a. Tidak dikehendaki kebaikan oleh Allah

b. Akibat dosa yang senantiasa terjerumus ke dalamnya c. Adanya sifat malas

d. Tidak mengetahui keutamaan membaca Al Qur’an e. Tidak menyempatkan waktu untuk membacanya f. Selalu ada kesibukan untuk membacanya.

(34)

2.Kecerdasan Rohani

A. Definisi Kecerdasan Rohani

Kecerdasan mengandung arti kesempurnaan perkembangan akal budi , terutama yang berhubungan dengan kerohanian termasuk ruh,jiwa dan sukma.Apabila manusia berjiwa jernih, maka dia akan menemukan potensi mulia dirinya dan hal itu akan tercermin dari prilakunya yang senantiasa melakukan amalan kebaiakan.

Secara istilah kecerdasan rohani merupakan kecerdasan pokok yang denagannya dapat memecahkan masalah masalah makna dan nilai , menempatkan tindakan dalaam konteks yang lebih luas, kaya, dan bermakna.

Berdasarkan uraian dari di atas, maka dapat disimpulkan bahwa kecerdasan rohani merupakan kecerdasan hati dan jiwa , Ia adalah kecerdasan yang dapat membantu kita menyembuhkan dan membangun diri kita sera utuh sehingga melahirkan kemampuan kemampuan manusia untuk mendapatkan manfat dan kesuksesan dalam hidup di dunia maupun di akhirat dengan di dasari keimanan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan diantara definisi yang di berikan oleh para ahli yaitu :

Mujib dan Mudzakir (dalam Safaria, 2007) mengungkapkan bahwa kecerdasan rohani (spiritual) lebih merupakan konsep yang berhubungan bagaimana seseorang cerdas dalam mengelola dan mendayagunakan makna-makna, nilai-nilai, dan kualitas-kualitas kehidupan rohaninya, kehidupan rohani disini meliputi hasrat untuk hidup bermakna (the will to meaning) yang memotivasi kehidupan manusia untuk senantiasa mencari

(35)

makna hidup (the meaning of life) dan mendambakan hidup bermakna (the meaningfull life).

Zohar dan Marshall (2007) mendefinisikan kecerdasan rohani adalah kecerdasan untuk menghadapi persoalan makna atau value yaitu kecerdasan untuk menempatkan perilaku dan hidup kita dalam konteks makna yang lebih luas dan kaya, kecerdasan untuk menilai bahwa tindakan atau jalan hidup seseorang lebih bermakna dibanding dengan yang lain. SQ adalah landasan yang diperlukan untuk memfungsikan IQ dan EQ secara efektif dan sebagi kecerdasan tertinggi kita. Sedangkan didalam ESQ, kecerdasan rohani (spiritual) adalah kemampuan untuk memberi makna ibadah terhadap setiap perilaku dan kegiatan, melalui langkah-langkah dan pemikiran yang bersifat fitrah, menuju manusia yang sepenuhnya (hanif) dan memiliki pola pemikiran tauhidi (integralistik), serta berprinsip hanya karena Allah.

Menurut Kholil Khavari, kecerdasan rohani adalah kecekapan dalam dimensi non materi dan jiwa.

Menurut Toto Tasmara, Kecerdasan Rohani adalah kemampuan seseorang untuk mendengar hati nuraninya.

B. Faktor-faktor yang mempengaruhi kecerdasan spiritual

menurut Agustian adalah yang pertama, inner value (nilai-nilai spiritual dari dalam) yang berasal dari dalam diri (suara hati), seperti keterbukaan, tanggung jawab, kepercayaan, keadilan, dan kepedulian sosial. Faktor kedua, drive yaitu dorongan dan usaha untuk mencapai kebenaran dan kebahagiaan.

(36)

Ary Ginanjar Agustian juga mengatakan ada 6 prinsip dalam kecerdasan spiritual berdasarkan rukun iman,( Ginanjar: hal 35) yaitu :

1. Prinsip bintang berdasarkan iman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Yaitu kepercayaan atau keimanan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan semua tindakan hanya untuk Allah serta tidak mengharap pamrih dari orang lain dan melakukannya sendiri.

2. Prinsip malaikat berdasarkan iman kepada malaikat. Semua tugas dilakukan dengan disiplin dan sebaik-baiknya sesuai dengan sifat malaikat yang dipercaya oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk menjalankan segala perintah-Nya.

3. Prinsip kepemimpinan berdasarkan iman kepada rasul.

Seorang pemimpin harus memiliki prinsip yang teguh, agar mampu menjadi pemimpin yang sejati.Seperti halnya Rasulullah Salallaahu Alaihi wa Sallam, seorang pemimpin sejati yang dihormati oleh semua orang.

4. Prinsip pembelajaran berdasarkan iman kepada kitab. Suka membaca dan belajar untuk menambah pengetahuan dan mencari kebenaran yang hakiki. Berpikir kritis terhadap segala hal dan menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman dalam bertindak.

5. Prinsip masa depan berdasarkan iman kepada hari akhir.

Berorientasi terhadap tujuan, baik jangka pendek, jangka menengah maupun jangka panjang. Semua itu karena keyakinan akan adanya hari kemudian di mana setiap individu akan mendapat balasan terhadap setiap tindakan yang dilakukan.

(37)

6. Prinsip keraturan berdasarkan iman kepada qadha dan qadhar. Setiap keberhasilan dan kegagalan, semua merupakan takdir yang telah ditentukan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Hendaknya berusaha dengan sungguh-sungguh dan berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Zohar dan Marshall mengungkapkan ada 2 faktor yang mempengaruhi kecerdasan rohani atau spiritual, yaitu:

a. Sel saraf otak

Otak menjadi jembatan antara kehidupan bathin dan lahiriah kita. Ia mampu menjalankan semua ini karena bersifat kompleks, liwes, adipatif, dan mampu mengorganisasikan diri. Penilitian yang dilakukan pada era 1990-an dengan menggunakan WEG (Magneto- Encephalo- Graphy) membuktikan bahwa osilasi sel saraf otak pada rentang 40Hz merupakan basis bagi kecerdasan rohani atau spiritual.

b. Titik Tuhan( Good Spot)

Danah Zohar menemukan adanya bagian dalam otak, yaitu lobus temporal yang meningkat ketika pengalaman religius atau spiritual berlangsung. Dia menyebutnya sebagai titik Tuhan atau Good Spot. Titik Tuhan memainkan peran biologis yang menentukan dalam pengalaman spiritual. Perlu adanya integrasi antara seluruh bagian otak, seluruh aspek dari dan seluruh segi kehidupan.( Zohar Marshal,2007 : 35 )

(38)

C. Ciri Ciri Kecerdasa Rohani

Ciri-ciri orang yang memiliki kecerdasan rohani diantaranya adalah :

1. Memiliki kesadaran diri, yaitu adanya tingkat kesadaran yang tinggi dan mendalam sehingga bisa menyadari berbagai situasi yang datang dan bisa untuk menanggapinya.

2. Memiliki visi, yaitu memiliki pemahaman tentang tujuan hidup dan kualitas hidup

3. Bersikap fleksibel yaitu mampu menyesuaikan diri secara spontan dan aktif untuk mendapatkan hasil terkait.

4. Melakukan perubahan, yaitu terbuka terhadap perbedaan, memiliki kemudahan untuk bekerja.

5. Sumber inspirasi yaitu mampu menjadi sumber insipari bagi orang lain dan memiliki gagasan yang tinggi.

Ada beberapa langkah yang bisa membantu melatih kecerdasan rohani antara lain:

a. Melakukan kegiatan amal merupakan salah satu cara di mana Anda bisa bertemu dengan orang-orang yang sepaham. Di sini, Anda akan mendapatkan lebih banyak pengalaman baik dari rekan sesama relawan maupun orang- orang yang Anda bantu.

b. Mau terbuka dan menerima perbedaan

c. Sering merefleksikan diri untuk lebih memahami hidup d. Bersedia melakukan kebaikan, baik terhadap orang-orang

yang dikenal maupun tidak.

D. Manfaat Kecerdasan Rohani

(39)

Kecerdasan rohani sangat banyak memberikan manfaat bagi kehidupan manusia diantaranya adalah :

a. Membantu Anda melihat hal-hal dari sudut pandang yang lebih luas dan kompleks.

b. Membantu berpikir lebih jernih.

c. Membuat pikiran lebih tenang.

d. Membuka wawasan dan motivasi Anda tentang bagaimana cara memaknai hidup.

e. Menurunkan sifat egoisme dalam diri Anda.

f. Memunculkan sikap menghargai orang lain dengan menempatkan orang lain diposisi yang lebih tinggi dari pada diri sendiri.

g. Menyadari pentingnya nilai-nilai kehidupan seperti keadilan, kejujuran, kebenaran dan kehormatan.

h. Memunculkan sikap belas kasih terhadap orang lain.

i. Memunculkan sikap selalu bersyukur dengan apa yang dimiliki.

j. Memunculkan rasa cinta kasih terhadap diri sendiri, orang lain maupun pada alam semesta.

E. Prinsip Prinsip Kecerdasa Rohani

Membangun mental dengan prinsip-prinsip kecerdasan Rohani di antaranya :

1. Prinsip tauhid adalah prinsip yang berdasarkan iman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

2. Prinsip Aqidah (kepercayaan) adalah prinsip berdasarkan iman kepada seluruh rukun iman yang enam dan menanamkannya dalam prilaku sehari hari

(40)

3. Prinsip kepemimpinan adalah prinsip berdasarkan iman kepada Rasulullahi Sholallahu Alaihi wa Sallam dan mencontoh beliau didalam ri’ayah ( kepemimpinan )

4. Prinsip pembelajaran adalah prinsip berdasarkan iman kepada kitabullah yaitu Al-Qur’an , membaca, mentadaburi dan berusaha mengamalkannya.

F. Fungsi Kecerdasa Rohani

Menurut Agustian Fungsi kecerdasan Rohani yaitu membentuk perilaku seseorang yang berakhlaq mulia, seperti:

1. Kerendahan hati yaitu menghormati dan menerima segala nasehat dan kritik dari orang lain.

2. Tawakal (berusaha dan berserah diri) yaitu tabah terhadap segalamusibah dan ujian dan selalu menyerahkan segala perkaranya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

3. Keihklasan (ketulusan) yaitu selalu mengerjakan sesuatu karena Allah dan bukan karena pujian atau balasan dari manusia.

4. Ihsan yaitu memiliki tanggung jawab dengan melakukan pekerjaan dengan sungguh-sungguh dan menjadi uswah atau qudwah yang baik dalam prilaku.

3.Kerangka Berfikir

Membaca al-Qur’an merupakan perintah Allah yang tidak bisa kita abaikan, dan sudah menjadi suatu keharusan bagi setiap muslim untuk bisa dan mampu didalam membaca Al Qur’an dan hal ini menjadi tugas yang bukan hanya sebagai pendidik atau guru yang bertanggung jawab untuk menjadikan seorang pelajar atau siswa untuk mahir didalam membaca Al Qur’an, akan tetapi hal ini juga menjadi tugas besar orang tua dan menjadi hal yang harus lebih di perhatikan yaitu menjadikan

(41)

anak untuk senantiasa mau belajar Al Qur’an serta membacanya dalam kehidupan sehari hari.

Sangat banyak manfaat yang akan di dapatkan diantaranya adalah manfaat bagi kecerdasan rohani yang dimana hal ini akan sangat berpengaruh kepada prilaku, moral, akhlak dan kehidupan. Juga akan menjadikan sebab kehidupannya bahagia dengan merasakan ketenangan dan ketentraman dalam hati yang dimana hal tersebut merupakan dzikir kepada Allah Ta’ala.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam surat Ar Ro’du ayat 28 :

ِهاللَّ ِر ۡكِذِب ۡمُهُب ۡوُلُق ُّنِٕٮَم ۡطَت َو ا ۡوُنَمٰا َنۡيِذَّلَا ِب َلََا

ُب ۡوُلُقۡلا ُّنِٕٮَم ۡطَت ِ هاللَّ ِر ۡكِذ

“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.”

Ayat ini menunjukan bahwa memabaca Al Qur’an sangat mempengaruhi kecerdasan rohani dan kehidupan manusia.

Al Qur’an juga obat mujarab untuk hati. Al Qur’an menjadi obat bagi hati yang terkena syubhat (racun pemikiran) dan syahwat (nafsu jelek untuk maksiat). Dalam Al Qur’an terdapat penjelas, di mana kebatilan dienyahkan oleh kebenaran.

Penyakit syubhat yang merusak bisa enyah (pergi) karena adanya ilmu dan keinginan (yang baik), di mana hakikat sesuatu begitu jelas karenanya. Dalam Al Qur’an terdapat berbagai hikmah yang bisa dipetik, terdapat berbagai nasehat yang baik untuk memotivasi dalam beramal dan menakut-nakuti dari berbuat kejelekan. Dalam Al Qur’an juga terdapat kisah-kisah yang bisa diambil ‘ibroh (pelajaran) sehingga hati pun menjadi baik. Al Qur’an begitu memberi semangat hati pada hal-hal yang bermanfaat dan memperingatkan pula dari hal-hal yang membahayakan. Akhirnya, hati semakin cinta pada kebenaran dan benci pada kebatilan. Padahal sebelumnya bisa jadi hati sangat ingin berbuat kebatilan dan benci pada kebenaran.

(42)

4.Penelitian Yang Relevan

Penulis melihat dan memandang penelitian atau pembahasan terdahulu ini menjadi salah satu acuan penulis dalam melakukan penelitian sehingga penulis dapat memperkaya teori yang digunakan dalam mengkaji penelitian yang di lakukan. Berikut merupakan penelitian terdahulu berupa jurnal terkait dengan penelitian yang di lakukan penulis.

Penelitian yang dilakukan oleh Suniar Siwi Mahanani yang berjudul, “Pengaruh Intensitas Keagamaan Terhadap Kecerdasan Rohani atau Spiritual (Studi Kasus Santri Pondok Pesantren Tarbiyatul Islam Al-Falah Salatiga Tahun 2016).

Hasil penelitiannya adalah: Berdasarkan perhitungan tabel diatas Kasus Santri Pondok Pesantren Tarbiyatul Islam Al-Falah Salatiga Tahun pada umumnya dalam kondisi sedang. Terbukti 42% dari 90 santri yaitu 38 santri dalam kategori sedang , kemudian 39% dari 90 santri yaitu 35 santri dalam kategori tinggi, sedangkan 18% dari 90 santri yaitu 16 santri dalam kategori 96 rendah, dan 1% dari 90 santri yaitu 1 santri dalam kondisi sangat tinggi intensitasnya dalam mengikuti kegiatan keagamaan. Berdasarkan perhitungan tabel diatas dapat dijelaskan bahwa kecerdasan rohani atau spiritual santri Pondok Pesantren Tarbiyatul Islam AlFalah Salatiga pada umumnya dalam kondisi tinggi. Terbukti 41% dari 90 santri yaitu 39 santri dalam kondisi tinggi, kemudian 37 % dari 90 santri yaitu 35 santri dalam kondisi sedang, sedangkan 12% dalam kondisi sangat tinggi, dan 0% atau bisa dikatakan tidak ada siswa yang kecerdasan rohaninya rendah. Berdasarkan tabel koefisien korelasi tersebut (Arikunto 2014:319), dengan nilai rxy sebesar 0,409yang mana nilai r terletak terletak pada peringkat antara 0,400 –0,700 yang berarti korelasi sedang atau cukup. Maka hipotesis penelitian ini yang menyebutkan bahwa intensitas kegiatan keagamaan berpengaruh terhadap kecerdasan rohani santri Pondok Pesantren Tarbiyatul Islam AlFalah diterima.

Dengan demikian, nilai korelasional 0,409 bernilai positif menunjukkan bahwa semakin tinggi intensitas keagamaan yang

(43)

diberikan akan semakin meningkat kecerdasan spiritual santri Pondok Pesantren Tarbiyatul Islam Al-Falah. Ini berarti bahwa, semakin intensif dalam mengikuti kegiatan keagamaan, semakin meningkat pula tingkat kecerdasan rohani atau spiritual santri Pondok Pesantren Tarbiyatul Islam Al-Falah.50“Pengaruh Intensitas Keagamaan Terhadap Kecerdasan Spiritual (Studi Kasus Santri Pondok Pesantren Tarbiyatul Islam Al-Falah Salatiga.

Persamaan penelitian terdahulu dengan penelitian yang akan peneliti lakukan yaitu sama sama meneliti kecerdasan rohani siswa siswa. Perbedaannya adalah terletak pada lokasi dan bidang kajiannya , lokasi peneliti sebelumnya yaitu di Pondok Tarbiyatul Islam Al-Falah Salatiga , sedangkan lokasi yang akan menjadi penelitian penulis yaitu di SMPIT Al-Jannah Karawang.

(44)

BAB III

METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian

Untuk dapat menyelesaikan penelitian ini maka penulis menggunakan jenis penelitian lapangan (Fiel Research) untuk memperoleh data-data primer, selain itu juga deskriptif.

Penelitian deskriptif adalah upaya mendeskripsikan, mencatat, menganalisis dan menginterprestasikan kondisi-kondisi yang saatini terjadi atau ada. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif. Penelitian kualitatif adalah penelitian yang mendeskrifsikan kejadian atau peristiwa yang ada di lapangan atau lokasi penelitian.( Ari Kanto,2010: 42 )

B. Tempat Penelitian

Penelitian ini akan dilaksanakan di Sekolah Menengah Islam Terpadu Al- Jannah, Jl. Kp. Tamelang RT. 15 RW. 07, Ds.

Bengle, Kec. Majalaya, Kab. Karawang. Prov. Jawa Barat.

Waktu penelitian dilakukan pada tanggal 4 Mei sampai dengan 30 Juni tahun ajaran 2022.

C. Subjek dan Informan Penelitian 1. Data primer

Data primer adalah data yang di peroleh langsung dari lapangan baik dengan menggunakan system observasi atau wawancara.

Yang dikatakan dengan observasi yaitu dengan melakukan pengamatan langsung di lapangan. Sedangkan yang di katakan wawancara (interview) melakukan tanya jawab serta

(45)

menggunakan pertanyaan (questioner) atau wawancara kepada objek penelitian. Objek penelitian itu sendiri yaitu Siswa Al Jannah kelas 7 – 9 yang berjumlah 65 orang.

2. Data skunder

Data skunder adalah data-data yang di peroleh dari buku-buku referensi, dokumentasi dan data-data dari hasil karya orang lain, serta data data yang ada dari sekolah SMPIT Al Jannah, guru guru yang mengajar tahfidz di Sekolah tersebut .

D. Teknik Pengumpulan Data

Pada teknik pengumpulan data ini, data dikumpulkan secara langsung dari informasi, data-data yang dikumpulkan berupa kata-kata, gambaran dan bukan angka melalui penerapan metode kualitatif yang ada di lapangan, maka penulis menggunakan beberapa teknik pengumpulan data, adapun metode yang digunakan adalah sebagai berikut:

1. Observasi

Observasi adalah pengamatan yang penulis lakukan secara systematis melalui metode ini penulis dapat mengamati masalah yang di teliti sesuai kenyataan dan pelaksanaan dilapangan pengamatan disebut observer yang diamati disebut objek. ( Supardi,2006 : 88 )

Sedangkan dalam definisi lain observasi adalah kegiatan pengamatan (pengambilan data) untuk memotret seberapa jauh efek tindakan telah mencapai sasaran.( Kunandar,2013 : 143 ) Teknik observasi yang digunakan adalah observasi terstruktur.

(46)

Observasi terstruktur adalah pengamatan yang dilakukan oleh seorang peneliti terhadap subjek atau objek penelitian dimana yang diamati itu sesuatu yang bersifat terstruktur. Dalam observasi terstruktur ini, peneliti dan mitra peneliti (kolaborator) terlebih dahulu menyetujui kriteria yang diamati, selanjutnya observasi tinggal menghitung saja berapa kali jawaban, tindakan, atau sikap yang sedang diteliti itu ditampilkan. ( Kunandar,2013 :143 )

Metode observasi merupakan metode pengumpulan data yang dilakukan dengan cara mengamati dan mencatat secara sistematik gejala gejala yang diselidiki observasi dilakukan menurut prosedur dan aturan tertentu sehingga dapat diulangi oleh peneliti dan hasil observasi memberi kemungkinan untuk ditafsirkan secara ilmiah. Metode ini juga merupakan suatu pengamatan langsung yang dilakukan peneliti terhadap manfaat rutinitas membaca Al Qur’an dalam meningkatkan kecerdasa rohani siswa di SMPIT Al jannah Karawang .

2. Wawancara

Wawancara merupakan salah satu teknik pengumpulan data, dalam rangka untuk memperoleh keterangan-keterangan lisan dari objek penelitian dengan melaksanakan komunikasi tatap muka, yang dapat memberikan data/keterangan kepada peneliti.

Wawancara adalah proses memperoleh keterangan untuk tujuan penelitian dengan cara tanya jawab, sambil bertatap muka antara pewawancara dengan responden dengan menggunakan alat yang dinamakan interview quide (panduan wawancara).

(47)

Adapun wawancara yang akan penulis gunakan dalam proses penelitian ini adalah jenis wawancara terbuka dan jenis wawancara terstruktur. Wawancara terbuka adalah wawancara yang mana peneliti memberikan kebebasan diri dan mendorongnya untuk berbicara secara luas dan mendalam. ( Danin, 2012 : 123 )

Wawancara terstruktur adalah pengumpulan data yangmana peneliti telah mengetahui dengan pastiin forma siapa yang akan diperoleh dan peneliti telah mempersiapkan instrument peneliti berupa pertanyaan-pertanyaan tertulis yang alternativ jawabannya telah disiapkan ( Sugiono,2009 : 319). Adapun yang peneliti wawancarai adalah siswa SMPIT Al Jannah Karawang .

E. Teknik Keabsahan Data

Dalam penelitian ini teknik keabsahan data dengan pertimbangan agar hasil penelitian dapat obyektif. Peneliti menggunakan keabsahan data

trianggulasi. Trianggulasi merupakan teknik pemeriksaan keabsahan data dengan memanfaatkan suatu yang lain. Diluar data itu untuk keperluan pengecekan atau sebagai pembanding terhadap data itu. Adapun langkahlangkah dalam menganalisa triangulasi melalui sumber dapat dicapai dengan jalan:

1. Membandingkan data hasil observasi dengan data hasil wawancara.

2. Membandingkan apa yang dikatakan orang didepan umum dengan apa yang dikatakannya secara pribadi.

(48)

3. Membandingkan apa yang dikatakan orang-orang tentang situasi penelitian dengan apa yang dikatakannya sepanjang waktu.

4. Membandingkan hasil wawancara dengan isi suatu dokumen yang berkaitan. ( J.Lexi.M, 2007: 330-331 ).

F. Teknik Analisa Data

Sesuai dengan data yang di peroleh maka analisa yang di gunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan analisa deskritif kualitatif yaitu menggambarkan hasil penelitian dengan uraian-uraian yakni tentang manfaat rutinitas membaca Al Qur’an dalam meningkatjkan kecerdasa rohani siswa di SMPIT Al jannah Karawang.

Adapun langkah-langkah yang dilakukan untuk menerapkan analisa kualitatif antara lain:

1. Reduksi Data

Reduksi data merupakan bagian dari analisis. Reduksi data merupakan suatu bentuk analisa yang menajamkan, menggolongkan, mengarahkan, membuang yang tidak perlu, dan mengorganisasi data dengan cara sedemikian rupa hingga kesimpulan-kesimpulan finalnya dapat ditarik dan diverifikasi. Reduksi data yaitu merangkum memilih halhal pokok, memfokuskan padahal-hal penting. Dengan “reduksi data” peneliti tidak perlu mengartikannya sebagai kuantifikasi. Data kualitatif dapat disederhanakan dan transformasikan dalam aneka macam cara, yakni: melalui seleksi yang ketat, melalui ringkasan atau uraian singkat

(49)

menggolongkan-nya dalam satu pola yang lebih luas dan sebagainya.

2. Display Data

Setelah data direduksi, maka langkah selanjutnya mendisplay data, mendisplay data bisa dilakukan dalam bentuk uraian singkat, bagan, hubungan antar kategori dan sejenisnya. Dengan mendisplay data maka akan memudahkan untuk memahami apa yang terjadi, merencanakan kerja selanjutnya.

3. Langkah terakhir adalah penarikan kesimpulan dan verifikasi. Kesimpulan awal yang dikemukakan masih bersifat sementara dan akan berubah bila tidak ditemukan bukti-bukti yang kuat yang mendukung pada tahapan pengumpulan data berikutnya begitu.

Referensi

Dokumen terkait

1) Badge dengan tulisan DEPARTEMEN KELAUTAN DAN PERIKANAN melengkung 90 (sembilan puluh derajat) dengan ukuran lebar 1,5 (satu koma lima) cm, panjang 6 cm (ditempatkan di

menggunakan metode Fuzzy Inference System pada tiap kelompok kecamatan menghasilkan akurasi peramalan terbaik dengan menggunakan model skenario Uji Coba II yang

Jika ada pekerjaan galian atau pengerukan yang dilakukan sebelum caisson, palung dan cofferdam terpasang pada tempatnya, maka setelah selesai pembuatan dasar pondasi, Kontraktor

Penggunaan nilai wajar dalam menilai aset perusahaan dapat menimbulkan keuntungan atau kerugian yang tidak direalisasi keuntugan atau kerugian yang tidak

Dari hasil karakterisasi sistem dispersi padat yang terbentuk maka hasil analisis Differential Thermal Analysis (DTA) menunjukkan terbentuknya titik eutetik pada dispersi padat

[r]

Media bahan alam dalam kegiatan untuk meningkatkan kemampuan mengurukan pola adalah media yang kongkret dan menarik sehingga anak kelompok A1 TK Desa Wonolopo lebih tertarik dan

Jakarta: Departemen pendidikan dan kebudayaan Direktorat Jenderal Kebudayaan Proyek