• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KAJIAN PUSTAKA

B. Kesadaran Beragama

1. Definisi Kesadaran Beragama

Dalam masyarakat Indonesia selain dari kata agama, dikenal pula kata “ad diin” dari bahasa Arab dan kata “religi” dari bahasa Eropa. Din dalam bahasa Semit berarti undang-undang atau hukum. Dalam bahasa Arab kata ini mengandung arti menguasai, menundukkan, patuh, hutang, balasan, kebiasaan32.

Religi berasal dari bahasa latin. Menurut satu pendapat asalnya ialah “relegree” yang berarti mengikat33. Agama mengandung arti ikatan-ikatan yang harus dipegang dan dipatuhi manusia34.

Agama ialah suatu jenis sistem sosial yang dibuat oleh penganut-penganutnya yang berporos pada kekuatan-kekuatan non-empiris yang dipercayainya dan didayagunakan untuk mencapai keselamatan bagi diri mereka dan masyarakat luas pada umumnya35. Agama sebagai bentuk keyakinan manusia terhadap suatu yang bersifat adikodrati (supernatural) ternyata seakan-akan menyertai manusia dalam ruang lingkup kehidupan yang luas36.

32 Harun Nasution, Islam Ditinjau Dari Berbagai Aspeknya, (Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia, 1985), h. 9.

33 Ibid., h. 10.

34 Ibid.

35 D. Hendropuspito, Sosiologi Agama, (Yogyakarta: Penerbit

Kanisius, 1983), h. 34.

36 Akmal Hawi, Seluk Beluk Ilmu Jiwa Agama, (Jakarta: Rajawali Pers, 2014), h. 31.

Iman ialah kekuatan batin dengan mana manusia menanggapi sesuatu yang bermakna, entah itu kekuatan gaib, entah Roh Tertinggi (Tuhan)37. Kekuatan-kekuatan itu dianggap sebagai “yang suci” , “yang sakral” , yang memiliki kekuasaan lebih tinggi yang dapat memberi pengaruh baiknya kepada manusia. Dari definisi di atas dapat disimpulkan bahwa arti dari beragama adalah meyakini atau mempercayai suatu kekuatan non empiris yang mampu memberikan kebaikan dan keselamatan bagi manusia.

Menurut Zakiah Daradjat, Kesadaran beragama adalah bagian atau segi yang hadir (terasa) dalam pikiran dan dapat diuji melalui introspeksi, atau dapat dikatakan bahwa ia adalah aspek mental dan aktivitas agama38. Dengan ini dapat dipahami bahwa individu yang memiliki kesadaran beragama yang baik akan selalu mengingat bahwa dirinya adalah individu yang beragama, sehingga akan mempengaruhi segala perbuatannya untuk menjalankan perintah agama dan menjauhi yang dilarang oleh agama tersebut.

Pengalaman beragama adalah unsur perasaan dalam kesadaran beragama, yaitu perasaan yang membawa kepada keyakinan yang dihasilkan oleh tindakan (amaliah)39. Tindakan nyata yang menghasilkan pengalaman beragama adalah tindakan-tindakan yang diperintahkan agama.

37 D. Hendropuspito, Sosiologi Agama, h. 36.

38 Zakiah Daradjat, Ilmu Jiwa Agama, (Jakarta: Bulan Bintang, 2003), h. 6.

Hendropuspito menjelaskan fungsi agama bagi manusia sebagai berikut40:

a. Fungsi edukatif, manusia mempercayakan fungsi agama mencakup tugas mengajar dan bimbingan41

b. Fungsi penyelamatan, setiap manusia menginginkan keselamatannya baik dalam hidup sekarang ini maupun sesudah mati42

c. Fungsi pengawas sosial, agama merasa ikut bertanggung jawab atas adanya norma-norma susila yang baik yang diberlakukan atas masyarakat manusia umumnya43. Fungsi-fungsi tersebut mengarahkan manusia untuk menjadi individu yang baik, mengontrol kehidupan sosial melalui norma-norma agama, serta menjamin keselamatan manusia di kehidupan dunia, hingga keselamatan setelah kematian yang umumnya dibagi menjadi masuk surga atau neraka.

Menurut Zakiah Daradjat kematangan beragama berarti kemampuan seseorang untuk mengenali atau memahami nilai agama yang terletak pada nilai-nilai luhurnya serta menjadikan nilai-nilai dalam sikap dan bertingkah laku44. Kematangan beragama seseorang dilihat dari kemampuan seseorang untuk memahami, menghayati serta mengaplikasikan nilai-nilai luhur agama yang dianutnya dalam kehidupan sehari-hari45.

40 D. Hendropuspito, Sosiologi Agama, h. 38.

41 Ibid.

42 Ibid., h. 39.

43 Ibid., h. 45.

44 Akmal Hawi, Seluk Beluk Ilmu Jiwa Agama, h. 82.

Kesadaran beragama dapat dilihat dari beberapa dimensi keberagamaan. Menurut Glock dan Stark, ada lima macam dimensi keberagamaan46:

a. Dimensi keyakinan, dimensi ini berisi pengharapan-pengharapan di mana orang religius berpegang teguh pada pandangan teologis tertentu dan mengakui kebenaran doktrin-doktrin tersebut.

b. Dimensi praktik agama, dimensi ini mencakup perilaku pemujaan, ketaatan, dan hal-hal yang dilakukan untuk menunjukkan komitmen kepada agama yang dianutnya. c. Dimensi pengalaman, dimensi ini berkaitan dengan

pengalaman-pengalaman religius yang dialami seseorang, seperti merasa dekat dengan Tuhan.

d. Dimensi pengetahuan agama, dimensi ini orang-orang yang beragama memiliki pengetahuan dasar tentang agama yang diyakininya.

e. Dimensi konsekuensi, dimensi ini orang yang beragama menunjukkan konsekuensi dari keyakinan terhadap suatu agama, yaitu pikiran serta tindakan yang dipengaruhi oleh komitmen terhadap suatu agama.

Menurut Jalaluddin kesadaran beragama tidak hanya melandasi tingkah laku yang tampak tetapi juga mewarnai sikap, pemikiran, tujuan, minat, kemauan, dan tanggapan terhadap

nilai-46 Djamaluddin Ancok dan Fuad Nashori S, Psikologi Islami: Solusi

Islam Atas Problem-problem Psikologi, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar Offset,

nilai abstrak yang ideal seperti demokrasi, keadilan, pengorbanan, persatuan, kemerdekaan, perdamaian dan kebahagiaan47.

Adapun ciri-ciri kematangan beragama menurut Zakiah Daradjat dalam buku karya Akmal Hawi yang berjudul “Seluk Beluk Ilmu Jiwa Agama” adalah sebagai berikut48:

a. Pemahaman aqidah yang baik, aqidah merupakan pondasi atau landasan yang mendasar dalam kehidupan yang beragama.

b. Memiliki tujuan hidup berdasarkan aqidah, tujuan orang-orang beriman yaitu untuk berbakti dan beribadah kepada penciptanya, yang dimaksud ibadah di sini ialah mengerjakan perintah-perintah Allah dan meninggalkan larangan-Nya atau mengabdikan diri kepada-Nya.

c. Melaksanakan ajaran agama secara konsisten dan produktif, kesadaran beragama yang matang juga terletak pada konsistensi atau kemantapan pelaksanaan hidup beragama secara bertanggung jawab dengan mengerjakan perintah agama dan meninggalkan larangan agama.

d. Memiliki pandangan hidup/filsafat yang komprehensif universal, keanekaragaman kehidupan dunia harus diarahkan kepada keteraturan dari fakta yang ternyata mempengaruhi hubungan satu sama lain. Fakta yang perlu dicari faedahnya itu bukan hanya bentuk materi akan tetapi keteraturan itu meliputi pula alam perasaan manusia, pikiran, motivasi, sikap dan norma. Filsafat hidup yang

47 Akmal Hawi, Seluk Beluk Ilmu Jiwa Agama, h. 82.

universal atau komprehensif menurut Jalaluddin ada beberapa hal yang harus dimiliki, yaitu49:

1) Memiliki alam perasaan, ciri kehidupan perasaan orang yang beriman antara lain cinta kepada Allah, takut akan siksaan-Nya, khusyuk dan khidmat serta bergetar hatinya ketika mendengarkan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.

2) Memiliki pemikiran yang mendalam dalam menelaah, maksudnya orang yang matang beragamamemiliki sifat-sifat yang berkenaan dengan segi intelektual orang beriman, yaitu selalu memikirkan alam semesta, ciptaan Allah, menuntut ilmu, tidak mengikuti prasangka, menggunakan alasan dan berlogika.

3) Memiliki motivasi kehidupan beragama, motivasi kehidupan beragama mulanya berasal dari kebutuhan biologis dan psikologis. Kebutuhan-kebutuhan tersebut jika mendapat pemuasan dalam kehidupan beragama, maka menimbulkan dan memperkuat motivasi keagamaan yang lama-kelamaan akan menjadi dasar dalam berperilaku.

4) Memiliki sikap, Orang beriman akan memiliki sikap bersyukur dan pantang berputus asa, senang berbuat kebajikan kepada sesama, mampu mengendalikan emosi serta sabar, tidak suka memusuhi dan menyakiti

orang lain, tidak iri, dengki, sombong, tamak dan tidak rakus.

e. Memiliki diferensialisasi yang baik, pemikiran makin kritis dalam memecahkan permasalahan yang dihadapi dengan berlandaskan ke-Tuhanan. Pada saat angin topan atau letusan gunung merapi, ia dapat menghayati betapa Maha Kuasa Sang Pencipta.

f. Memiliki pandangan hidup yang integral, landasan hidup yang menyatukan diferensiasi hasil kejiwaan yang meliputi fungsi kognitif, afektif dan psikomotorik. Dalam kesadaran beragama, integrasi tercermin pada keutuhan pelaksanaan ajaran agama, yaitu keterpaduan ikhsan, iman dan peribadatan.

g. Memiliki semangat pencarian dan pengabdian kepada Tuhan, mencari kebenaran, keimanan, rasa ke-Tuhanan, dan cara-cara terbaik untuk berhubungan dengan manusia dan alam sekitar Ia selalu menguji keimanan melalui pengalaman-pengalaman keagamaan sehingga menemukan keyakinan yang lebih tepat, peribadatannya selalu dievaluasi dan ditingkatkan agar menemukan penghayatan kehadiran Tuhan.

Dokumen terkait