BAB II KAJIAN PUSTAKA
A. Metode Bimbingan Agama
2. Macam-macam Metode Bimbingan Agama
a. Wawancara, adalah salah satu cara memperoleh fakta-fakta kejiwaan yang dapat dijadikan bahan pemetaan tentang bagaimana sebenarnya hidup kejiwaan klien pada saat tertentu yang memerlukan bantuan secara personal antara pembimbing dan yang dibimbing. Menurut Setyadin wawancara adalah suatu percakapan yang diarahkan pada suatu masalah tertentu dan merupakan
9 Abdul Ghafar Don, dkk., “Dakwah Kepada non-Muslim: Sorotan
proses tanya jawab lisan dimana dua orang atau lebih berhadapan secara fisik.10
Fakta dan data ini dapat dijadikan bahan dan gambaran empiris dari kondisi kejiwaan atau mental pada saat tertentu. Sehingga perlu diberikan bimbingan dan penyuluhan secara tepat. Untuk itu dalam jalannya wawancara setiap pembimbing atau konselor melakukan pencatatan atau mungkin pula direkam pakai riset kaset yang sudah dipersiapkan sebelumnya. Agar wawancara dapat berjalan terarah dan sistematis, pembimbing bisa juga menyusun serangkaian pedoman wawancara yang memuat garis-garis besar atau hal-hal pokok. Yang diperlukan saat wawancara berlangsung. Kelemahan teknik wawancara ialah hanya mungkin dilakukan terhadap klien yang bisa diajak berkomunikasi, sedangkan klien yang tertutup mesti digunakan teknik lainnya. Namun kelebihannya, melalui wawancara permasalahan bisa diungkapkan secara mendalam hingga hal-hal yang lebih serta dilakukan dengan waktu yang lebih luas antara pembimbing dan terbimbing. Pertanyaan hendaknya diajukan dengan hati-hati, teliti dan kalimatnya harus jelas.11 Wawancara menghasilkan pemahaman yang terbentuk oleh situasi berdasarkan peristiwa-peristiwa interaksional yang khusus, metode
10 Iman Gunawan, Metode Penelitian Kualitatif Teori & Praktek, (Jakarta: PT Bumi Aksara, 2013), h. 160.
11 Bimo Walgito, Bimbingan dan Penyuluhan di Sekolah, (Yogyakarta: Andi Offset, 1993), h. 66.
tersebut dipengaruhi oleh karakteristik individu pewawancara, termasuk ras, kelas, kesukaan, dan gender.12
b. Bimbingan kelompok, yaitu cara pengungkapan jiwa/batin serta bimbingannya melalui kegiatan kelompok seperti ceramah, diskusi, seminar, simposium, atau dinamika kelompok (group dynamics), dan sebagainya13.
Dalam “Bimbingan Bersama” (group guidance) ada kontak antara ahli bimbingan dengan sekelompok klien yang agak besar, mereka mendengarkan ceramah, ikut aktif berdiskusi, serta menggunakan kesempatan untuk tanya jawab14.
Dalam metode kelompok ini, peserta akan diberikan group therapy penyembuhan gangguan jiwa melalui kelompok, terapi ini dapat diwujudkan dengan penciptaan situasi kebersamaan hak secara keterkaitan (cohesiveness) antara satu sama lain meupun secara peresapan batin melalui peragaan panggung dari contoh perilaku atau peristiwa (dramatisasi)15.
12 M.luthfi. Dasar-Dasar Bimbingan dan Penyuluh (Konseling) Islam, h. 123.
13 M. Arifin, Pedoman Pelaksanaan Bimbingan dan Penyuluhan
Agama, h. 45.
14 Samsul Munir Amin, Bimbingan dan Konseling Islam, (Jakarta: Amanah, 2010), h. 71.
Dengan menggunakan kelompok, pembimbing akan dapat mengembangkan sikap sosial, sikap memahami peran klien bimbing dalam lingkungannya menurut penglihatan orang lain dalam kelompok itu (role reception) karena ia ingin mendapatkan pandangan baru tentang dirinya dari orang lain serta hubungannya dengan orang lain16. Metode bimbingan kelompok menghendaki agar setiap klien bimbing melakukan komunikasi timbal balik dengan teman-temannya, melakukan hubungan interpersonal satu sama lain dan bergaul melalui kegiatan-kegiatan yang bermanfaat bagi bimbingan pribadi masing-masing17.
Tujuan utama dari bimbingan kelompok ini adalah penyebaran informasi mengenai penyesuaian diri dengan berbagai kehidupan klien18.
c. Metode Psikoanalisis, yaitu menganalisis gejala tingkah laku, baik melalui mimpi ataupun tingkah laku yang serba salah dengan menitik beratkan pada perhatian atas hal-hal apa sajakah perbuatan salah itu terjadi berulang-ulang19. Metode Psikoanalisis (Psychoanalysis method), metode ini pertama dikenalkan oleh Sigmund Freud. Metode ini
16 Samsul Munir Amin, Bimbingan dan Konseling Islam, h. 70.
17 M. Arifin, Pedoman Pelaksanaan Bimbingan dan Penyuluhan
Agama, h. 45.
18 Samsul Munir Amin, Bimbingan dan Konseling Islam, h. 71.
19 M. Arifin, Pedoman Pelaksanaan Bimbingan dan Penyuluhan
berpangkal pada pandangan bahwa semua manusia itu jika pikirannya dan perasaannya tertekan oleh kesadaran dan perasaan atau motif-motif tertekan tersebut tetap masih aktif mempengaruhi segala tingkahlakunya meskipun mengendap di dalam alam ketidaksadaran (Das Es) yang disebutnya “Verdrongen Complexen”20.
Kepribadian menurut teori ini sangat dipengaruhi oleh pengalaman yang telah dilalui manusia, yaitu semenjak terlahir ke dunia. Apabila sejak kecil klien telah mengalami konflik yang menyakitkan dan tidak terselesaikan dengan baik, mkaka dampak dari pengalaman konflik yang pernah dihadapi klien tersebut akan mempengarihi kehidupannya meskipun hal itu tidak disadari oleh klien. Keadaan tersebut akan mempengaruhi pikiran dan perasaan serta tingkahlakunya disertai dengan ketegangan-ketegangan emosional yang mengakibatkan ketidakmampuan menyesuaikan diri dengan lingkungan kehidupannya21. Jika pembimbing menghadapi klien yang demikian, maka harus berkerjasama dengan psikiater atau psikolog karena hal tersebut diluar kemampuan pembimbing.
Dengan demikian, pada akhirnya akan diketahui bahwa masalah pribadi klien sebenarnya akan terungkap dan selanjutnya disadarkan kembali (dicerahkan) agar masalah tersebut dianggap telah selesai dan tidak perlu
20 Samsul Munir Amin, Bimbingan dan Konseling Islam, h. 73.
dianggap suatu hal yang memberatkan, dan sebagainya22. Disinilah perlunya nilai-nilai iman dan takwa dibangkitkan dalam pribadi klien, sehingga terbentuklah dalam pribadinya sikap tawakal dan optimisme dalam menempuh kehidupan baru yang lebih cerah lagi23.
Adapun dalam melakukan konseling agama, dapat dilakukan dengan metode sebagai berikut24:
1) Metode yang bersifat lahir, metode ini menggunakan alat yang dapat dilihat, di dengar atau dirasakan oleh klien, yaitu menggunakan tangan dan lisan. Dalam menggunakan tangan, tersirat beberapa makna, antara lain:
- Menggunakan tangan, kekuatan atau otoritas - Keinginan, kesungguhan dan usaha yang keras - Sentuhan tangan
Dengan lisan dapat dilakukan dengan hal-hal berikut:
- Membaca atau berdoa dengan lisan
- Sesuatu yang dekat dengan lisan, yaitu dengan hembusan
2) Teknik yang bersifat batin, yaitu teknik yang hanya dilakukan dalam hati maupun dengan doa dan harapan, namun tidak ada usaha dan upaya keras secara konkret, seperti dengan menggunakna potensi
22 M. Arifin, Pedoman Pelaksanaan Bimbingan dan Penyuluhan
Agama, h. 48.
23 Ibid, h. 48-49.
tangan dan lisan. Tujuan utamanya adalah membimbing dan mengantarkan individu kepada kebaikan dan perkembangan eksistensi diri dari kehidupannya, baik hubungannya dengan Tuhannya, diri sendiri, lingkungan keluarga, lingkungan kerja, dan lingkungan masyarakatnya.
d. Metode direktif (metode yang berfisat mengarahkan), yaitu metode yang mengarahkan kepada klien untuk berusaha mengatasi kesulitan (problema) yang dihadapi. Pengarahan yang diberikan kepada anak bimbing ialah dengan memberikan secara langsung jawaban-jawaban terhadap permasalahan yang menjadi sebab kesulitan yang dihadapi/dialami klien25. Biasanya ada dua tipe klien yang dihadapi, pertama dalah klien yang memiliki kekuatan dan mampu memahami permasalahan yang sedang dihadapinya sehingga mampu mengungjapkannya kepada konselor, sedangkan tipe kedua adalah klien yang tidak memiliki kekuatan atau tidak dapat memahami permasalahan yang sedang dihadapinya, dan tipe klien yang kedua ini sangat membutuhkan direktif atau arahan dari konselor untuk dapat memahami dan mengungkapkan permasalahan yang sedang dihadapinya. Dengan Direktif diharapkan bisa memberikan arahan
25 M. Arifin, Pedoman Pelaksanaan Bimbingan dan Penyuluhan
serta contoh-contoh yang lebih tepat dengan karakteristik pertumbuhan dan perkembangan klien26.
e. Metode non-direktif (cara yang tidak mengarah) yaitu cara lain untuk mengungkapkan segala perasaan dan pikiran yang tertekan sehingga menjadi penghambat kemajuan belajar anak bimbing27.
Metode non-direktif dibagi menjadi dua macam, yaitu28:
1) Client Centered, yaitu cara pengungkapan tekanan batin yang dirasakan menjadi penghambat anak bimbing dalam belajar dengan sistem pancingan yang berupa satu dua pertanyaan yang terarah. Selanjutnya klien diberi kesempatan seluas-luasnya untuk mengungkapkan permasalahan yang disadari menjadi hambatan jiwanya. Pembimbing bersikap memperhatikan dan mendengarkan serta mencatat poin-poin penting yang dianggap rawan untuk diberi bantuan.
2) Metode educative, metode ini hampir sama dengan metode client-centered, hanya bedanya terletak pada usaha mengorek sumber perasaan yang menjadi beban tekanan batin klien serta mengaktifkan
26 M. Lutfi, Dasar-dasar Bimbingan dan Penyuluhan (Konseling)
Islam, h. 131.
27 M. Arifin, Pedoman Pelaksanaan Bimbingan dan Penyuluhan
Agama, h. 47.
kekuatan/tenaga kejiwaan klien (potensi dinamis) melalui pengertian tentang realitas situasi yang dialami olehnya29. Inti dari metode ini adalah pemberian “insight” dan klarifikasi (pencerahan) terhadap unsure-unsur kejiwaan yang menjadi sumber konflik seseorang. Hiltner menggambarkan bawa counseling agama itu sebagai suatu “turning the corner”, yakni counseling agama perlu membelokkan sudut pandang klien yang dirasakan sebagai permasalahn hidupnya kepada sumber kekuatan konflik batin, kemudian mencerahkan konflik tersebut serta memberikan “insight” ke arah pengertian mengapa ia merasakan konflik tersebut30. Setelah klien mengungkapkan perasaan atau hambatan-hambatan yang disadari dirinya melalui metode client centered, selanjutnya diperdalam dengan permintaan/pertanyaan yang motovasi dan persuasif (meyakinkan untuk mengingat-ingat serta mendorong agar berani mengungkapkan perasaan tertekan sampai ke akar-akarnya. Pada akhirnya, pembimbing memberikan petunnjuk-petunjuk tentang usaha apa sajakah yang baik bagi klien dengan cara yang tidak bernada imperative (wajib).
29 Samsul Munir Amin, Bimbingan dan Konseling Islam, h. 72.
f. Metode bimbingan klinikal, pelayanan bimbingan dan penyuluhan dengan menggunakan teknik klinikal menitikberatkan pada pengembangan skill klien sesuai dengan latar belakang dan kemampuan yang dimilikinya31. Pendekatan teknik klinikal tidak semata-mata berorientasi kepada kepada pengembangan intelektual, tetapi juga berorientasi juga kepada kemampuan personal secara keseluruhan, baik jasamani maupun rohani. Pada teknik ini, bantuan atau pelayanan yang diberikan tidak sebatas mengungkapkan masalah-masalah klien atau membimbing dalam memecahkannya. Namun selanjutnya konselor membantu klien mengarahkan klien kepada kemungkinan atau peluang-peluang yang bisa bermanfaat sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya. Dalam ajaran Al-Qur’an memang ada kandungan ayat yang memerintahkan umat Islam agar melakukan dan mengerjakan sesuatu pekerjaan hendaklah didasarkan pada pengetahuan dan kemampuan yang dimiliki (Al-Isra’ : 36) karena setiap unsur dari organ-organ tubuh manusia itu selalu ikut terlibat dan merasakannya juga akan dimintakan pertanggung jawaban dari setiap yang akan dilakukan. Maka minat dan kemampuan akan berjalan secara seimbang bila disertai dengan kekuatan ilmu pengetahuan yang dimiliki. Maka atas dasar ini pula teknik klinikal yang dikembangkan
31 M. Lutfi, Dasar-dasar Bimbingan dan Penyuluhan (Konseling)
dalam pelayanan bimbingan dan penyuluhan Islam memberikan tuntutan agar setiap hidup senantiasa belajar untuk mencari ilmu pengetahuan.