• Tidak ada hasil yang ditemukan

Metode Analisis Data

Dalam dokumen SRIFATI /IKM (Halaman 58-0)

BAB 3. METODE PENELITIAN

3.7 Metode Analisis Data

Metode analisis data dalam penelitian ini (Sugiono, 2006) adalah : 1. Analisis Univariat

Analisis univariat merupakan analisis yang menitik beratkan kepada penggambaran atau deskriptif data yang diperoleh. Menggambarkan distribusi frekuensi dari masing-masing variabel bebas dan variabel terikat.

2. Analisis Bivariat

Oleh karena rancangan data dalam penelitian ini adalah posttest only control group atau subyek dibagi dalam dua kelompok secara random, maka analisis yang digunakan untuk melihat perubahan pengetahuan dan kepatuhan akibat pemberian konseling pada episiotomi digunakan uji Mann-Witney. Interval kepercayaan yang ditetapkan sebesar 95 %, dengan demikian jika nilai p-value

< 0,05, maka dikatakan (Ho) ditolak, artinya ada pengaruh konseling episiotomi terhadap peningkatan pengetahuan dan kepatuhan responden tentang perawatan luka episiotomi pada ibu post episiotomi.

BAB 4

HASIL PENELITIAN

4.1 Gambaran Umum Lokasi Penelitian

Rumah Sakit Umum Datu Beru Takengon beralamat jalan kebanyakan, yang berajak 2 km dari pusat Kota Takengon sangat strategis, yang mudah dijangkau oleh masyarakat. Batas-batas sebagai berikut:

1. Sebelah Utara berbatasan dengan Kampung Lot Kala 2. Sebelah Selatan berbatasan dengan Kampung Bukit Eweh

3. Sebelah Barat berbatasan dengan komplek kantor Dinas Kesehatan Kabupaten Aceh Tengah

4. Sebelah Timur berbatasan dengan Akademi Kebidanan Pemerintah Daerah Kabupaten Aceh Tengah dan Jalan Sengeda

Rumah sakit umum Datu Beru berdiri sejak zaman penjajahan kolonial belanda yaitu pada tahun 1939, pada waktu itu masih bernama RSU Takengon yang berlokasi di jalan Yos Sudarso Takengon, ketika itu masih dikelola oleh pemerintah Belanda. Setelah Indonesia merdeka rumah sakit ini diserahkan kepada Pemda Aceh Tengah.

Pada tahun 1978 RSU Takengon dipindahkan ketempat baru yang disediakan oleh Pemda. Rumah sakit ini masih menyandang predikat type D namun secara operasional sudah berpedoman pada struktur organisasi rumah sakit type C, ini

dilakukan guna mempersiapkan peningkatan cara kerja untuk mencapai predikat rumah sakit type C.

Kemudian pada tahun 1995, berdasarkan SK Menkes RI Nomor : 109/Menkes/SK/1995 RSU Takengon diditingkatkan statusnya menjadi tipe C yang diresmikan pada tanggal 24 juli 1995 dengan nama RSU Datu Beru Takengon.

Seiring pemberlakuan otonomi daerah dan era desentralisasi maka berdasarkan Qanun Kabupaten Aceh Tengah Nomor 14 Tahun 2002 tentang pembentukan susunan organisasi dan tata kerja RSU Datu Beru Takengon.

Seiring perkembangan otonomi daerah dan tuntutan pelayanan kesehatan, berdasarkan Qanun Kabupaten Aceh Tegah nomor 21 Tahun 2008 BPK RSU Datu Beru Takengon menjadi RSUD Datu Beru Takengon. Pada tahun 2009 berdasarkan SKU Datu beru Takengon ditetapkan sebagai RSUD dengan klasifikasi kelas B.

Visi dan Misi RSUD Datu Beru Takengon 1. Visi

“Terwujudnya RSUD Datu Beru Takengon sebagai Rumah Sakit Rujukan Regional wilayah tengah tahun 2012”

2. Misi

a. Mewujudkan pelayanan paripurna pada seluruh lapisan masyarakat.

b. Meningkatkan kualitas pembelajaran profesional disemua tingkatan untuk menghasilkan sumber daya kesehatan yang beriman dan bertakwa serta berilmu pengetahuan dan teknologi.

c. Meningkatkan produktifitas kerja dan pelayanan dengan satu komitmen

d. Meningkatkan fungsi manajemen secara efektif dan efisien sesuai komitmen.

e. Mewujudkan sarana dan prasarana yang berkualitas.

4.1.1. Gambaran Karakteristik Ibu Post Episiotomi

Responden dalam penelitian ini berjumlah 60 ibu, sesuai dengan rencana penelitian. Identitas responden dalam penelitian ini meliputi umur, jumlah paritas, tingkat pendidikan dan pekerjaan. Hasilnya adalah sebagai berikut:

Tabel 4.1. Distribusi Karakteristik Ibu Post Episiotomi

No Karakteristik Responden Jumlah (n = 60) Persentase (%) 1. Umur ibu post episiotomy

a. < 30 tahun

2. Suku ibu post episiotomy a. Gayo

4. Tingkat Pendidikan a. Tinggi

Pada Tabel 4.1 di atas dapat dilihat jumlah ibu post episiotomi yang umurnya

< 30 tahun adalah sebanyak 42 orang (70,0%). Suku terbanyak adalah suku Gayo yaitu sebanyak 30 orang (50,0%), jumlah paritas ibu post episiotomi ≤ 2 adalah sebayak 48 orang (80,0%). Tingkat pendidikan yang paling banyak adalah tingkat pendidikan sedang yaitu 37 orang (61,7 %) .Pekerjaan Responden yang terbanyak adalah non-PNS sebanyak 52 orang (86,7 %), diikuti PNS sebanyak 8 orang (13,3

%).

Tabel 4.2. Distribusi Karakteristik Suku Ibu Post Episiotomi terhadap Umur, Paritas, Tingkat Pendidikan dan Pekerjaan

No Suku Gayo Aceh Jawa Padang 4. Tingkat Pendidikan

a. Tinggi

Berdasarkan tabel di atas, Ibu post episiotomi terbanyak berada dalam kelompok umur < 30 tahun yaitu sebanyak 18 orang (30,0%) berasal dari Suku Gayo, 12 orang (20,%) berasal dari Suku Aceh, 10 Orang (16,7%) berasal dari Suku

Jawa dan 2 orang (3,3%) berasal dari Suku Padang. Paritas terbanyak ≤ 2 anak yaitu sebanyak 23 orang (38,3%) berasal dari Suku Gayo, 13 orang (21,7%) berasal dari Suku Aceh, 10 Orang (16,7%) berasal dari Suku Jawa dan 2 orang(3,3%) berasal dari Suku Padang. Tingkat pendidikan terbanyak yaitu tingkat pendidikan sedang sebanyak 18 orang (30,0%) berasal dari Suku Gayo, 9 orang (15.0%) berasal dari Suku Aceh, 9 Orang (15,0%) berasal dari Suku Jawa dan 1 orang (1,7%) berasal dari Suku Padang. Mayoritas ibu post episiotomi pekerjaannya non-PNS yaitu, sebanyak 27 orang (45,0%) berasal dari Suku Gayo, 9 orang (15,0%) berasal dari Suku Aceh, 9 Orang (15,0%) berasal dari Suku Jawa dan 2 orang (3,3%) berasal dari Suku Padang.

Tabel 4.3. Distribusi Karakteristik Umur Ibu Post Episiotomi terhadap Paritas, Tingkat Pendidikan dan Pekerjaan

No Umur Ibu Post Episiotomi < 30 tahun ≥ 30 tahun

2. Tingkat Pendidikan a. Tinggi

Paritas terbanyak ≤ 2 anak yaitu sebanyak 40 orang (66,7%) berumur < 30 tahun dan 8 orang (13,3%) berumur ≥ 30 tahun. Tingkat pendidikan terbanyak adalah sedang yaitu sebanyak 26 orang (43,3%) berumur < 30 tahun dan 11 orang (18,3%) berumur ≥ 30 tahun. Mayoritas ibu post episiotomi pek erjaannya non-PNS yaitu, sebanyak 39 orang (65,0%) berumur < 30 tahun dan 13 orang (21,7%) berumur ≥ 30 tahun.

Tabel 4.4. Distribusi Karakteristik Paritas Ibu Post Episiotomi terhadap Tingkat Pendidikan dan Pekerjaan

No Paritas ≤ 2 anak > 2 anak

n % n % 1. Tingkat Pendidikan

a. Tinggi

Tingkat pendidikan terbanyak adalah sedang yaitu sebanyak 31 orang (21,7%) memiliki paritas berumur ≤ 2 anak dan 6 orang (10,0%) memiliki paritas

> 2 orang. Mayoritas ibu post episiotomi pekerjaannya non-PNS yaitu sebanyak 45 orang (75,0%) memiliki paritas berumur ≤ 2 anak dan 7 orang (11,7%) memiliki paritas > 2 orang.

Tabel 4.5. Distribusi Karakteristik Ibu Post Episiotomi terhadap Tingkat Pendidikan dan Pekerjaan

No Pekerjaan PNS Non-PNS

n % n % 1. Tingkat Pendidikan

a. Tinggi

Tingkat pendidikan terbanyak adalah sedang yaitu sebanyak 37 orang (61,7%) yang pekerjaannya non-PNS, diikuti oleh tingkat pendidikan tinggi yaitu 8 orang (13,3%) yang pekerjaannya sebagai PNS dan 10 orang (16,7%) non-PNS

4.1.2. Gambaran Pengetahuan Ibu Post Episiotomi yang Diberikan Konseling oleh Bidan yang Kompeten

Hasil penelitian tentang pengetahuan ibu post episiotomi yang diberikan konseling oleh bidan yang kompeten meliputi :

Tabel 4.6. Gambaran Pengetahuan Ibu tentang Episiotomi yang Diberikan Konseling oleh Bidan yang Kompeten

Item Pertanyaan tentang Pengetahuan

Jawaban

Skor Tepat Tidak

Tepat 1. Epiotomi atau pengguntingan adalah suatu tindakan

untuk melakukan penjahitan pada jalan lahir (P1

15 )

15 15

2. Pengguntingan jalan lahir adalah arti lain suatu tindakan untuk melakukan perbaikan pada jalan lahir (P2

12 )

18 12

3. Pengguntingan jalan lahir adalah arti lain untuk tindakan untuk memotong jalan lahir pada proses persalinan (P3

29 )

1 29

4. Tujuan tindakan pengguntingan jalan lahir membuat luka lurus untuk menghindari luka tidak teratur pada jalan lahir saat proses persalinan (P4

19 )

11 19

5. Tujuan tindakan adalah untuk menghindari tekanan pada kepala janin pada jalan lahir saat proses persalinan (P5

23 )

7 23

6. Untuk mempercepat proses persalinan perlu dilakukan tindakan pemotongan jalan lahir pada jalan lahir (P6

19 )

11 19

Tabel 4.6 (Lanjutan) 7. Pengguntingan jalan lahir dilakukan untuk kepentingan

bidan pada proses kelahiran (P7

9 )

21 9

8. Keuntungan dalam melakukan tindakan pengguntingan jalan lahir adalah luka lebih teratur dan mudah dalam melakukan penjahitan dan disesuaikan dengan kebutuhan (P8

20

)

10 20

9. Kerugian pengguntingan jalan lahir adalah mungkin pengguntingan tidak diperlukan jalan lahir elastis (P9

23 )

7 23

10. Pengguntingan jalan lahir dapat menimmbulkan luka pada jalan lahir lebih kecil jadi ibu tidak perlu kuatir (P10

8 )

22 8

11. Pengguntingan jalan lahir dapat menyebabkan peningkatan perdarahan pada proses persalinan (P11)

24 6 24

12. Bidan melakukan pengguntingan jalan lahir dapat menyebabkan peningkatan perdarahan pada proses persalinan (P12

27 )

3 27

13. Pengguntingan jalan lahir pada proses persalinan dapat juga dilakukan bidan kearah bawah (kearah anus) (P13

14. Episiotomi dapatmengurangi rasa nyeri pada masa nifas ) 15. Pengguntingan lahir dapat menambah sakit hari-hari

pertama setelah melahirkan (P15

16. Pengguntingan jalan lahir dilakukan saat ibu belum mengedan dan kepala janin belum terasa di jalan lahir (P

)

16

17. Pengguntingan jalan lahir dilakukan saat ibu merasakan kepala janin keluar masuk di jalan lahir ibu (P

)

17

18. Pengguntingan jalan lahir dilakukan bidan bila bidan melihat jalan lahir teregang kuat oleh kepala janin (P

)

18

19. Sebaiknya bidan memberikan penjelasan pada ibu sebelum pengguntingan jalan lahir dilakukan oleh bidan (P

)

19

20. Bidan melakukan tindakan tindakan pengguntingan jalan lahir menurut kepentingan bidan tanpa harus memberitahu pada ibu (P

)

20

21. Dalam melakukan tindakan pengguntingan jalan lahir perlu persiapan ibu dan persiapan alat (P

)

21

22. Komplikasi yang ditimbulkan oleh tindakan pengguntingan jalan lahir perlu persiapan ibu dan persiapan alat. (P

Tabel 4.6 (Lanjutan) 23. Tindakan pengguntingan jalan lahir dapat menyebabkan

infeksi pada jalan lahir setelah proses persalinan bila luka tidak dirawat dengan baik (P23

24. Efek samping dari tindakan pengguntingan jalan lahir dapat menyebabkan rasa takut pada ibu bila bidan tidak menjelaskan sebelum dilakukan pengguntingan (P

)

24

25. Pengguntingan jalan lahir kadangkala dapat menyebabkan robekan jalan lahir lebih luas bila tafsiran berat badan bayi yang dilahirkan lebih besar. (P

) Skor jawaban yang ideal : (skor tertinggi x banyak pertanyaan x banyak

sampel) = 1 x 25 x 30

750 maka pengetahuan responden yang dibina oleh bidan kompeten

: (487/750) x 100 %

65,0

% Pada tabel 4.6. di atas dapat dilihat bahwa dari 25 pertanyaan yang disiapkan untuk mengukur pengetahuan pada ibu yang diberikan konseling oleh bidan kompeten, ada 16 pertanyaan yang jawaban tepat/sesuai di atas 60 % (skor ≥ 18) adalah pertanyaan P3, P4, P5, P6, P8, P9, P11, P12, P17, P18, P19, P21, P22, P23, P24 dan P25. Sebaliknya ada 9 pertanyaan yang mendapat nilai rendah (skor < 18 ), adalah pertanyaan P1, P2, P7, P10, P3, P14, P15, P16, P20 dan P25.

Dengan demikian total skor dari 30 ibu post episiotomi yang diberi konseling oleh bidan kompeten adalah 487. Total skor maksimal yang semua responden menjawab dengan tepat adalah 750. Maka pengetahuan ibu post episiotomi yang diberi konseling oleh bidan kompeten tergolong baik, yaitu (487/750) x 100 % = 65,0

%.

Tabel 4.7. Gambaran Kepatuhan Ibu tentang Episiotomi yang Diberikan Konseling oleh Bidan yang Kompeten

Item Pertanyaan tentang Pengetahuan

Jawaban

Skor Patuh Tidak

patuh 1. Sebelum membersihkan luka heating ibu mencuci

tangan dulu (P1

26 )

4 26

2. Luka heating hendaknya dibersihkan paling kurang 3 × sehari secara teratur sampai luka sembuh (P2

3. Ibu mengganti softek atau pembalut minimal 3× sehari untuk menjaga kebersihan luka heating

) 4. Cara yang benar dalam membersihkan daerah luka

episiotomi harusnya dari depan kebelakang jangan berulang-ulang atau di bolak-balik (P3

30 )

0 30

5. Ibu memberikan obat atau salf pada luka heating sesuai perintah dokter (P5

30 )

0 30

6. Ibu Lakukan penyinaran pada luka episiotomi minimal 1 × sehari sampai luka benar-benar sembuh (P6

25 )

5 25

7. Ibu mengeringkan luka episiotomi setiap hari dari kamar mandi dengan memakai kain bersih atau handuk bersih (P7

8. Setelah membersihkan luka heating ibu cuci tangan (P )

Jumlah skor jawaban yang sesuai 224

Skor jawaban yang ideal :

(skor tertinggi x banyak pertanyaan x banyak sampel) = 1 x 8 x 30

Maka kepatuhan responden yang dibina oleh bidan kompeten : (224/240) x 100%

240

3,3%

Pada tabel 4.7. di atas dapat dilihat bahwa dari 8 pertanyaan yang disiapkan untuk mengukur kepatuhan, semua jawaban tepat/sesuai di atas 60 % (skor ≥ 18).

Dengan demikian total skor dari 30 ibu post episiotomi yang diberikan konseling oleh bidan kompeten adalah 224. Total skor maksimal yang semua responden menjawab dengan tepat adalah 240. Maka kepatuhan ibu post episiotomi yang diberi konseling oleh bidan yang kompeten tergolong sangat baik, yaitu (224/240) x 100 % = 93,3 %.

4.1.3. Gambaran Pengetahuan Ibu Post Episiotomi yang Diberikan Konseling oleh Bidan yang tidak Kompeten

Hasil penelitian tentang pengetahuan ibu post episiotomi yang diberikan konseling oleh bidan yang tidak kompeten meliputi :

Tabel 4.8. Gambaran Pengetahuan Ibu tentang Episiotomi yang Diberikan Konseling oleh Bidan yang tidak Kompeten

Item Pertanyaan tentang Pengetahuan

Jawaban

Skor Tepat Tidak

Tepat 1. Epiotomi atau pengguntingan adalah suatu tindakan untuk

melakukan penjahitan pada jalan lahir (P1

4 )

6 4

2. Pengguntingan jalan lahir adalah arti lain suatu tindakan untuk melakukan perbaikan pada jalan lahir (P2

10 )

20 10

3. Pengguntingan jalan lahir adalah arti lain untuk tindakan untuk memotong jalan lahir pada proses persalinan (P3

18 )

12 18

4. Tujuan tindakan pengguntingan jalan lahir membuat luka lurus untuk menghindari luka tidak teratur pada jalan lahir saat proses persalinan (P4

9 )

21 9

5. Tujuan tindakan adalah untuk menghindari tekanan pada kepala janin pada jalan lahir saat proses persalinan (P5

12 )

18 12

6. Untuk mempercepat proses persalinan perlu dilakukan tindakan pemotongan jalan lahir pada jalan lahir (P6

20 )

10 20

7. Pengguntingan jalan lahir dilakukan untuk kepentingan bidan pada proses kelahiran (P7

2 )

8 2

8. Keuntungan dalam melakukan tindakan pengguntingan jalan lahir adalah luka lebih teratur dan mudah dalam melakukan penjahitan dan disesuaikan dengan kebutuhan (P8

13

)

17 13

9. Kerugian pengguntingan jalan lahir adalah mungkin pengguntingan tidak diperlukan jalan lahir elastis (P9

16 )

14 16

10. Pengguntingan jalan lahir dapat menimmbulkan luka pada jalan lahir lebih kecil jadi ibu tidak perlu kuatir (P10

5 )

25 5

11. Pengguntingan jalan lahier dapat menyebabkan peningkatan perdarahan pada proses persalinan (P11)

13 17 13

12. Bidan melakukan pengguntingan jalan lahir dapat menyebabkan peningkatan perdarahan pada proses persalinan (P12

19 )

11 19

13. Pengguntingan jalan lahir pada proses persalinan dapat juga dilakukan bidan kearah bawah (kea rah anus (P13

14. Episiotomi dapat mengurangi rasa nyeri pada masa nifas (P

Tabel 4.8 (Lanjutan)

15. Pengguntingan jalan lahir pada proses persalinan dapat juga dilakukan bidan kearah bawah (kea rah anus (P13

16. Episiotomi dapat mengurangi rasa nyeri pada masa nifas (P

)

14

17. Pengguntingan lahir dapat menambah sakit hari-hari pertama setelah melahirkan (P

)

15

18. Pengguntingan jalan lahir dilakukan saat ibu belum mengedan dan kepala janin belum terasa di jalan lahir (P

)

16

19. Pengguntingan jalan lahir dilakukan saat ibu merasakan kepala janin keluar masuk di jalan lahir ibu (P

)

17

20. Pengguntingan jalan lahir dilakukan bidan bila bidan melihat jalan lahir teregang kuat oleh kepala janin (P

)

18

21. Sebaiknya bidan memberikan penjelasan pada ibu sebelum pengguntingan jalan lahir dilakukan oleh bidan (P

)

19

22. Bidan melakukan tindakan tindakan pengguntingan jalan lahir menurut kepentingan bidan tanpa harus memberitahu pada ibu (P

)

20

23. Dalam melakukan tindakan pengguntingan jalan lahir perlu persiapan ibu dan persiapan alat (P

)

21

24. Komplikasi yang ditimbulkan oleh tindakan pengguntingan jalan lahir perlu persiapan ibu dan persiapan alat (P

)

22

25. Tindakan pengguntingan jalan lahir dapat menyebabkan infeksi pada jalan lahir setelah proses persalinan bila luka tidak dirawat dengan baik (P

)

23

26. Efek samping dari tindakan pengguntingan jalan lahir dapat menyebabkan rasa takut pada ibu bila bidan tidak menjelaskan sebelum dilakukan pengguntingan (P

)

24

27. Pengguntingan jalan lahir kadangkala dapat menyebabkan robekan jalan lahir lebih luas bila tafsiran berat badan bayi yang dilahirkan lebih besar (P

) Skor jawaban yang ideal : (skor tertinggi x banyak pertanyaan x banyak sampel) =

1 x 25 x 30

750 maka pengetahuan responden yang dibina oleh bidan kompeten

: (340/750) x 100 %

45,3%

Pada tabel 4.8. di atas dapat dilihat bahwa dari 25 pertanyaan yang disiapkan untuk mengukur pengetahuan ibu post episiotomi yang diberi konseling oleh bidan yang tidak kompeten, ada 8 pertanyaan yang jawaban tepat/sesuai di atas 60 % (skor

≥ 18) adalah pertanyaan P3, P6, P12, P17, P19, P21, P24, dan P25,. Sebaliknya ada 17 pertanyaan yang mendapat nilai rendah (skor < 18 ), adalah pertanyaan P1, P2, P4, P5,

P7, P8, P9, P10, P11, P13, P14, P15, P16, P18, P16, P20, P22, dan P23,

Tabel 4.9. Gambaran Kepatuhan Ibu tentang Episiotomi yang Diberikan Konseling oleh Bidan yang tidak Kompeten

Dengan demikian total skor dari 30 responden yang diberi konseling oleh bidan yang tidak kompeten adalah 340. Total skor maksimal yang semua responden menjawab dengan tepat adalah 750.

Maka pengetahuan ibu post episiotomi yang diberikan konseling oleh bidan tidak kompeten tergolong tidak baik, yaitu (340/750) x 100 % = 45,3 %.

Item Pertanyaan tentang Pengetahuan

Jawaban

Skor Patuh Tidak

Patuh 1. Sebelum membersihkan luka heating ibu mencuci

tangan dulu (P1

16 )

14 16

2. Luka heating hendaknya dibersihkan paling kurang 3

× sehari secara teratur sampai luka sembuh (P2

3. Ibu mengganti softek atau pembalut minimal 3× sehari untuk menjaga kebersihan luka heating

) 4. Cara yang benar dalam membersihkan daerah luka

episiotomi harusnya dari depan kebelakang jangan berulang-ulang atau di bolak-balik (P3

12 )

18 12

5. Ibu memberikan obat atau salf pada luka heating sesuai perintah dokter (P5

27 )

3 27

6. Ibu Lakukan penyinaran pada luka episiotomi minimal 1 × sehari sampai luka benar-benar sembuh (P6

22 )

8 22

Tabel 4.9 (Lanjutan) 7. Ibu mengeringkan luka episiotomi setiap hari dari

kamar mandi dengan memakai kain bersih (P7

8. Setelah membersihkan luka heating ibu cuci tangan (P

Jumlah skor jawaban yang sesuai 139

Skor jawaban yang ideal : (skor tertinggi x banyak pertanyaan x banyak sampel) = 1 x 8 x 30

240 Maka kepatuhan responden yang dibina oleh bidan

kompeten : (139/240) x 100 %

58,0%

Pada tabel 4.9. di atas dapat dilihat bahwa dari 8 pertanyaan yang disiapkan untuk mengukur kepatuhan ibu post episiotomi yang diberi konseling oleh bidan yang tidak kompeten, ada 4 pertanyaan dengan jawaban tepat/sesuai di atas 60%

(skor ≥ 18), yaitu P2, P3, P5, dan P6.

5.1 Uji Perbedaan Kompetensi Bidan dalam Memberikan Konseling terhadap Peningkatan Pengetahuan Ibu Episiotomi

Dengan demikian total skor dari 30 ibu post episiotomy yang diberikan konseling oleh bidan yang tidak kompeten adalah 139.

Total skor maksimal yang semua responden menjawab dengan tepat adalah 240.

Maka kepatuhan ibu post episiotomi yang diberi konseling oleh bidan yang tidak kompeten tergolong cukup baik, yaitu (139/240) x 100 % = 58,0 %

Untuk melihat adanya perbedaan pengetahuan ibu Post Episiotomi yang diberikan konseling oleh bidan yang kompoten dan bidan yang tidak kompeten dilakukan dengan statistik uji Mann Whitney. Uji Man Whitney termasuk dalam uji non-parametrik dan merupakan uji untuk data dua sampel bebas. Dalam penelitian ini variabel pengetahuan di kelompokkan menjadi tiga kategori, yaitu baik, cukup baik dan kurang baik. Untuk melihat dalam bentuk yang lebih spesifik dalam ranah

perilaku, maka skor nilai pengetahuan dapat dikategorikan menjadi ‘kurang’, ‘cukup’

dan ‘baik’, Untuk melihat perbedaan data kategori dengan rancangan dua sampel, dapat dilakukan dengan uji Mann Whitney.

5.2 Uji Perbedaan Kompetensi Bidan dalam Memberikan Konseling terhadap Kepatuhan Ibu Episiotomi

Untuk melihat kepatuhan ibu Post Episiotomi yang diberikan konseling oleh bidan yang kompoten dan bidan yang tidak kompeten dilakukan dengan statistik uji Mann Whitney. Uji Man Whitney termasuk dalam uji non-parametrik dan merupakan uji untuk data dua sampel bebas. Dalam penelitian ini variabel kepatuhan di kelompokkan menjadi dua kategori, yaitu patuh dan tidak patuh. Untuk melihat dalam bentuk yang lebih spesifik dalam ranah perilaku, maka skor nilai kepatuhan dapat dikatagorikan menjadi ‘patuh’dan ‘tidak patuh’ Untuk melihat perbedaan data kategori dengan rancangan dua sampel, dapat dilakukan dengan uji Mann Whitney Tabel 4.10. Hasil Uji Beda Proporsi Tingkat Pengetahuan dan Kepatuhan

Responden yang Dibina oleh Bidan yang Berkompeten dan Bidan yang tidak Kompeten

Tabel 4.10 (Lanjutan) Kepatuhan

- Patuh - Tidak Patuh

29 1

11

19 0,0001*

Pada Tabel 4.10. di atas dilakukan uji Mann Whitney untuk melihat perbedaan tingkat pengetahuan dan kepatuhan ibu post episiotomy yang diberi konseling oleh bidan kompeten dan bidan yang tidak kompeten, skor nilai ini tidak dikategorikan.

Hasil uji menunjukkan bahwa ada perbedaan tingkat pengetahuan ibu post episiotomy yang diberi koseling oleh bidan kompeten dan bidan tidak kompeten, 30 ibu post episiotomi yang diberi konseling oleh bidan yang kompeten memiliki pengetahuan yang baik sebanyak 10 orang (33,3%), pengetahuan cukup baik sebanyak 19 orang (63,3%), dan pengetahuan kurang baik 1 orang (3,3%), sedangkan 30 responden yang diberi konseling oleh bidan yang tidak kompeten memiliki pengetahuan yang baik sebanyak 1 orang (3,3%), pengetahuan cukup baik sebanyak 22 orang (73,3%) dan pengetahuan kurang baik 7 orang (23,3%). Hasil uji Mann Whitney menunjukkan (p.(=0,0001) < α (=0,05)). Artinya ada perbedaaan kompetensi bidan dalam memberikan konseling terhadap peningkatan pengetahuan ibu post episiotomi.

Hasil uji menunjukkan bahwa ada perbedaan kepatuhan ibu post episiotomi yang diberikan konseling oleh bidan kompeten dan bidan tidak kompeten. 30 ibu post episiotomi yang diberikan konseling oleh bidan yang kompeten memiliki

tingkat kepatuhan yang baik sebanyak 29 orang (96,7%), tingkat kepatuhan yang tidak baik sebanyak 1 orang (3,3%), sedangkan 30 responden yang diberikan konseling oleh bidan yang tidak kompeten cukup baik sebanyak 19 orang (63,3%) dan pengetahuan kurang baik 1 orang (3,3%), sedangkan 30 responden yang diberikan konseling oleh bidan yang tidak kompeten memiliki tingkat kepatuhan yang baik sebanyak 11 orang (36,7%), tingkat kepatuhan yang tidak baik sebanyak 19 orang (63,3%). Hasil uji Mann Whitney menunjukkan (p.(=0,0001) < α (=0,05)).

Artinya ada perbedaan kompetensi bidan dalam memberikan konseling terhadap peningkatan kepatuhan ibu post episiotomi.

BAB 5 PEMBAHASAN

5.1 Karakteristik Ibu Post Episiotomi di Ruang Kebidanan Rumah Sakit Beru Takengon

Gambaran karakteristik responden dari hasil penelitian dapat kita lihat dari tabel 4.1 dimana sebagian besar umur responden adalah pada kelompok <30 tahun sebesar 70%, hal ini menunjukan sebagian besar ibu post episiotomi berada pada masa - masa reproduksi pengalaman tentang epiotomi merupakan pengalaman yang sangat berpengaruh negative terhadap peralinan berikutnya, bila persalinan pertama dilakukan episiotomi pada persalinan berikutnya tindakan episiotomi akan dilakukan kembali karena luka episiotomi pada perineum ibu bisa berupa sikatrik, sehingga perineum tidak elastis lagi atau perineum kaku hingga bila tidak dilakukan episiotomi robekan pada perineum bisa lebih berat lagi dan bias menhambat proses persalinan,untuk responden pada kelompok umur yang lainnya, yaitu kelompok umur lebih dari 30 tahun perlu juga dilakukan konseling, data dari penelitiaan dan observasi lapangan ada beberapa kasus pada ibu post episiotomi walaupun konseling tentang perawatan episiotomi telah diberikan bidan pada kenyataanya ada ibu post episiotomi yang tidak dapat merawat lukanya dengan baik, pada umur lebih 30 tahun penulis telah menganngap para ibu ini telah berpengalaman dalam merawat luka episiotomi tapi setelah melihat kenyataan di lapangan umur tidak menentukan ibu post episiotomi dapat dinilai mampu tergantung kembali pada personal hygine ibu

episiotomi terebut.Mayoritas suku dari responden adalah 30 responden (50 % )adalah suku gayo , hasil pemantauan lapangan ada beberapa yang hal mempengaruhi proses perawatan luka episiotomi diantara pengaruh budaya, dimana pada ada tradisi yang memberikan air jeruk dan garam pada daerah luka episiotomi agar luka cepat kering tapi hal ini menjebabkan luka episiotomi menjadi infeksi. Dan pada budaya derah lain ada yang memberikan air garam pada luka episiotomi,ada tradesi yang memasang api-api untuk mengeringkan luka, ada yang duduk diatas batu bata ( batu bata telah panaskan di atas api).Jumlah paritas ibu yang terbanyak ≤ 2 sebesar 80%, dari

episiotomi terebut.Mayoritas suku dari responden adalah 30 responden (50 % )adalah suku gayo , hasil pemantauan lapangan ada beberapa yang hal mempengaruhi proses perawatan luka episiotomi diantara pengaruh budaya, dimana pada ada tradisi yang memberikan air jeruk dan garam pada daerah luka episiotomi agar luka cepat kering tapi hal ini menjebabkan luka episiotomi menjadi infeksi. Dan pada budaya derah lain ada yang memberikan air garam pada luka episiotomi,ada tradesi yang memasang api-api untuk mengeringkan luka, ada yang duduk diatas batu bata ( batu bata telah panaskan di atas api).Jumlah paritas ibu yang terbanyak ≤ 2 sebesar 80%, dari

Dalam dokumen SRIFATI /IKM (Halaman 58-0)

Dokumen terkait