BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA
2.3 Konseling
2.3.5. Proses Konseling
Mempunyai makna saling memahami dan mengenal tujuan bersama.
Tujuanya adalah untuk menjembatani hubungan antara konselor dengan klien, sikap penerimaan dan minat yang mendalam terhadap klien dan masalahnya. Dalam rapport ini akan tercipta hubungan yang akrab yang ditandai dengan saling mempercayai.
Sikap yang ditandai kehangatan emosi, realisasi tujuan bersama, menjamin kerahasiaan kesadaran terhadap hakekat klien secara alamiah.
2. Pengumpulan dan pemberian informasai
Merupakan tugas utama konselor. Ini dapat dilakukan dengan cara:
mendengar keluhan klien, mengamati komunikasi non verbal klien, bertanya tentang riwayat kesehatan latar belakang kluarga, latar belakang masalah, memberikan penjelasan tentang masalah yang dihadapi.
3. Perencanaan pengambilan keputusan dan pemecahan masalah
Setelah data yang dari klien diperoleh secara lengkap, maka Bidan membantu klien untuk memecahkan masalahnya atau membuat perencanan untuk memecahkan masalahnya. Keterampilan memecahkan masalah sangat diperlukan dalam komunikasi konseling.
4. Menindak lanjut pertemuan.
Adapun sikap yang sebaiknya dimiliki oleh bidan adalah mempunyai motivasi yang tinggi untuk membantu orang lain, bersikap rahmah, sopan santu menerima klien apa adanya, empati terhadap pasien, membantu dengan iklas dan terbuka terhadap pendapat orang lain.
2.3.6. Konseling pada Ibu Bersalin tentang Perawatan Episiotomi Cara perawatan luka episiotomi:
a) Cuci tangan sebelum dan sesudah melakukan perawatan luka episiotomi b) Bila melakukan pembersihan pada daerah perinium, menggosok mulai dari
depan kebelakang dan jangan berulang - ulang c) Luka dibersihkan minimal 3 kali sehari
d) Daerah luka harus selalu kering e) Ganti pembalut minimal 3 kali sehari
f) Untuk menghindari kelembapan yang berlebihan daerah perineum dapat dilakukan penjinaran minimal 2 kali sehari
g) Berikan salep atau betadine pada luka episiotomi bila diperlukan h) Minum obat sesuai intruksi Dokter
i) Bila ada keluhan atau nyeri pada daerah luka episiotomi hubungi bidan atau petugas kesehatan terdekat
Mobilisasi :
- Ibu post episiotomi tidak perlu bedres total
- Luka episiotomi tidak terpengaruh pada aktivitas yang ringan - Boleh melakukan senam nifas sesuai intruksi instruktur senam Kunjungan nifas :
- 6 hari setelah persalinan - 2 mg setelah persalinan
2. 4. Pengetahuan dan Kepatuhan Ibu tentang Episiotomi 2.4.1. Pengertian Pengetahuan
Pengetahuan yang diperlukan seorang ibu post episiotomi tentang perawatan luka episiotomi yang meliputi pengetahuan mengenai pengetian episiotomi, Prosedur tindakan episiotomi, mamfaat episiotomi bagi ibu dan janin dan cara perawatan episiotomi
2.4.2. Pengertian Kepatuhan
Kepatuhan adalah sikap mau mentaati dan mengikuti suatu spesifikasi, standar atau aturan yang telah diatur dengan jelas yang diterbitkan oleh organisasi yang berwenang. Seseorang dikatakan patuh apabila ia dapat memahami, menyadari dan menjalankan peraturan yang telah ditetapkan, tanpa paksaan dari siapapun, dikatakan bahwa kepatuhan seseorang terhadap suatu standar atau peraturan dipengaruhi juga oleh pengetahuan dan pendidikan individu tersebut. Semakin tinggi tingkat pengetahuan, maka semakin mempengaruhi ketaatan seseorang terhadap peraturan atau standar yang berlaku, seseorang dikatakan patuh apabila orang tersebut mau mengikuti dan mentaati peraturan atau kebijakan yang telah ditentukan tanpa harus ada paksaan dan tuntutan dari orang lain. Faktor-faktor yang mempengaruhi kepatuhan adalah faktor internal dan eksternal individu serta karakteristik.
Kepatuhan sulit diukur tergantung pada banyak faktor, diantaranya adalah pasien tidak mengakui bahwa mereka tidak melakukan apa yang dianjurkan. Antuk itu diperlukan pendekatan yang baik dengan pasien agar dapat mengetahui kepatuhan mereka dalam melaksanakan pengobatan,Cara meningkatkan kepatuhan melalui
perilaku sehat dan pengontrolan prilaku dari anggota keluarga yang lain (Niven, 2002).
2.4.3. Ibu Post Episiotomi
Ibu Post episiotomi adalah ibu yang pada proses persalinanya di lakukan tindakan pengguntingan atau insisi pada daerah perinium atau jalan lahir untuk memeperluas atau memperlebar jalan lahir dalam mempepercepat proses kelahiran janin
2.4.4. Pengertian Episiotomi
Episiotomi adalah mengiris atau menggunting perineum (Ai Yeyeh, 2009).
menurut Yanti (2010) Episiotomi adalah memotong alat genetalia. Episiotomi adalah suatu tindakan operatif berupa sayatan pada perineum meliputi selaput lendir vagina, cincin selaput dara, jaringan pada septum rektovaginal, otot-otot dan fascia perineum dan kulit depan perineum. Episiotomi (Perineotomi) adalah insisi perineum untuk memperlebar ruang pada lubang-keluar jalan-lahir sehingga memudahkan kelahiran anak. Fielding Ould, pada tahun 1872, mungkin merupakan dokter ahli kebidanan pertama yang melaksanakan episiotomi. Episiotomi merupakan tindakan insisi pada daerah genetalia ekterna dengan tujuan mempelancar persalinan. istilah yang paling tepat sebenarnya adalah perineotomi, tetapi intilah Episiotomi telah terlanjur diterima secara umum sehingga istilah ini tetap di pakai sampai saat ini. Secara definisi Episiotomi adalah suatu tindakan insisi pada perineum yang menjebabkan terpotongnya selaput lender vagina, cincin selaput dara, jaringan pada septum
tujuan agar tidak terjadi robekan- robekan perineum yang tidak teratur dan robekan musculus princter ani (Ruptur Perinea Totalis) yang bila tidak dijahit dan dirawat dengan baik akan menyebabkan inkontinesia alvi .
Istilah “episiotomi” secara harfiah berarti “ memotong pudenda atau genital”, tetapi istilah ini sebenarnya merujuk pada suatu operasi perineotomi atau suatu insisi perineum. Episiotomi dilakukan dengan membuat insisi bedah kecil ke dalam perineum, yang membantu mencegah peregangan berlebihan oleh kepala bayi pada jaringan vulva posterior serta otot – otot perineum, dan mengganti robekan vagina serta perineum yang tidak beraturan dengan jaringan yang terpotong rapi dan bersih sehingga memungkinkan perbaikan optimal. Episiotomi juga membantu mengurangi resistensi terhadap bagian terendah yang terus maju dan dianjurkan pada kelahiran bayi premature (Atlas Teknik Kebidanan,1991).
2.4.5. Tujuan Tindakan Episiotomi
- Membuat luka lurus dan bersih dengan pinggir tajam sehingga mudah di jahit.
Mengurangi tekanan perineum pada kepala bayi untuk menghindari terjadinya perdarahan intracranial.
- Mempercepat kala pengeluaran sehingga dapat dihindari terjadinya regangan berlebihan pada dasar panggul.
- Menghindari terjadinya rupture perineum totalis.
- Mengurangi tekanan terhadap kepala bayi sehingga mengurangi terjadinya asfiksia akibat kekurangan O2.
- Mengurangi hambatan persalinan oleh perineum, jika elastisitasnya tidak mendukung proses persalinan.
2.4.6. Indikasi untuk Melakukan Episiotomi
- Indikasi janin : Janin premature, letak sunsang,persalinan buatan pervaginam, janin besar.
- Indikasi ibu :Peregangan perineum yang berlebihan, primipara,perineum kaku.
2.4.7. Keuntungan Episiotomi
- Perlukaan teratur sehingga memudahkan untuk menjahit kembali.
- Luas insiasi episiotomi dapat diatur sesuai dengan kebutuhan.
2.4.8. Kerugian Episiotomi
- Mungkin tidak diperlukan karena elastisitas perineum baik. Pada primigravida sebagian besar terjadi robekan spontan yang tidak teratur sehingga melakukan adaptasinya lebih sulit saat menjahitnya.
- Dapat terjadi rupture total bila bila penilaian klinis salah.
2.4.9. Jenis Episiotomi yang Umum adalah sebagai berikut : - Episiotomi Medialis.
- Episiotomi lateralis.
- Episiotomi mediolateralis.
2.4.10 Alasan tidak Boleh Melakukan Episiotomi Secara Rutin adalah sebagai berikut :
- Persalinan dan kelahiran merupakan peruses normal dan tidak memerlukan intervesi, kecuali ada indikasi.
- Belum ada bukti ilmiah yang menunjukan adanya manfaat Episiotomi bagi kelahiran yang tidak mengalami komplikasi.
- Episiotomi akan meningkatkan pendarahan.
- Menambah lamanya laserasi perineal.
- Menambah resiko kerusakan sfingter ani.
- Menambah rasa sakit selama hari-hari pertama pascapartum 2.4.11 Waktu yang Tepat Melakukan Episiotomi :
- Pada waktu puncak his dan mengejan - Perineum sudah tipis dan pucat
- Lingkaran kepala pada perineum 5 cm
2.4.12 Alasan Lain Episiotomi Harus Dilakukan :
- Bila tanda- tanda robekan vagina menjadi jelas, tindakan ini di indikasikan dengan keluarnya darah segar ketika bahagian presentasi janin meregang perineum saat ibu mengejan
- Bila perineum yang terlalu teregang terlihat akan robek 2.4.13 Prosedur Episiotomi
- Surat persetujuan tindakan (infomen consent) - Persiapan alat
- Persiapan Penolong - Persiapan pasien
2.4.14 Komplikasi Luka Episiotomi
- Kehilangan darah sering terjadi pada episiotomi mediolateteralis dan bila tindakan episiotomi terlalu dini dilakukan sedangkan persalinan masih jauh.
Perdarahan merembes yang tidak diketahui sehingga menimbulkan hematoma lokal
- Kerusakan jalan lahir Kerusakan yang terjadi bisa berupa laserasi sampai rupture perineum totalis. Penyebab timbulnya kerusakan jalan lahir adalah akibat kepala janin lahir terlalu cepat, persalinan dengan distosia bahu.
Sikatrik akibat persalinan sebelumya, dan sebagainya, berdasarkan derajat kerusakan jaringan, rupture perineum dibedakan atas empat tingkat:Ruptur tingkat I : robekan terjadi pada mucosa vagina dan kulit perineum sebelah poeterior.Rupture tingkat II : robekan mengenai perineum,otot levator ani dan fasia endopelvis.Ruptur tingkat III : robekan mengenai perineum, sebahagian atau seluruh otot spinter ani externa.Ruptur tingkat IV :robekan mengenai perineum, otot spinter ani, mucosa rectum.
- InfeksiInfeksi luka Episiotomi sebahagian besar terjadi karena kurangnya tindakan aseptic saat melakukan penjahitan luka Episiotomi. Antomi perineum dekat dengan anus dan uretra maka kebersihan luka perineum memerlukan perawatan yang lebih dibandingkan luka ditempat lain.
- Hematom vulva, terjadinya hematom vulva disebabkan robeknya pembuluh darah terutama vena yang terletak di bawah kulit perineum dan mukosa vagina.hal ini dapat terjadi akibat penjahitan yang tidak sempurna atau robekan pada dinding vagina yang tidak diketahui,Hematom dapat menjadi sumber infeksi skunder dan dapat menyebabkan terjadi luka kembali.
- Dispareunia mungkin hanya bersifat sementara, karena takut, tetapi sekitar 5% dapat menjadi permanen dan dapat menyebabkan libido menurun.
2.5. Landasan Teori
Menurut Nevin (2002) bahwa kepatuhan seseorang terhadap suatu standar atau peraturan dipengaruhi juga oleh pengetahuan dan pendidikan individu tersebut.
Semakin tinggi tingkat pengetahuan, maka semakin mempengaruhi ketaatan seseorang terhadap peraturan atau standar yang berlaku, kepatuhan dipengaruhi juga oleh pendidikan individu tersebut. Semakin tinggi tingkat pendidikan, maka semakin mempengaruhi ketaatan seseorang terhadap peraturan atau standar yang berlaku.
Menurut Azwar, seseorang dikatakan patuh apabila orang tersebut mau mengikuti dan mentaati peraturan atau kebijakan yang telah ditentukan tanpa harus ada paksaan dan tuntutan dari orang lain. Faktor-faktor yang mempengaruhi kepatuhan adalah faktor internal dan eksternal individu serta karakteristik petugas.
Kepatuhan sulit diukur tergantung pada banyak faktor, diantaranya adalah pasien tidak mengakui bahwa mereka tidak melakukan apa yang dianjurkan. Untuk itu diperlukan pendekatan yang baik dengan pasien agar dapat mengetahui kepatuhan
mereka dalam melaksanakan pengobatan, cara meningkatkan kepatuhan melalui perilaku sehat dan pengontrolan prilaku dari anggota keluarga yang lain.
2.6. Kerangka Teori Landasan Teori Kepatuhan
Gambar 2.1. Kerangka Tioritis
2.7. Kerangka Konsep
Berdasarkan landasan tiori diatas maka dapat disusun kerangka konsep penelitian adalah sebagai berikut :
Variabel Independen Variabel Dependen Konseling Perawatan luka
Gambar 2.2. Kerangka Konsep - Pendidikan
- Pengetahuan - Faktor internal - Faktor ekternal - Karateristik
Perawatan Luka Episiotomi
Bidan Kompeten
Ibu Post Episiotomi - Pengetahuan - Kepatuhan Bidan Tidak Kompeten
BAB 3
METODE PENELITIAN
3.1. Jenis Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan dengan metode ekperimental sederhana, disebut juga posttest only control group atau subyek dibagi dalam dua kelompok secara random, perlakuan diberikan pada satu kelompok (kelompok perlakuan), dan kelompok lain tidak diberikan pelakuan. Setelah waktu yang ditentukan, kemudian di observasi (diukur) variabel tercoba pada kedua kelompok tersebut, perbedaan hasil observasi antara dua kelompok menunjukkan efek perlakuan (Pratikya, 2011). Secara skematik dapat dilihat dibawah ini.
Gambar 3.1. Disain Penelitian
3.2. Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian di lakukan di kamar bersalin rumah sakit umum Datu Beru Takengon. Karena Rumah Sakit Umum Datu merupakan rumah sakit rujukan untuk Aceh Tengah, dimana kasus episiotomi pada ibu bersalin banyak dilakukan pada persalinan dan disetiap ibu yang dilakukan episiotomi pasti mendapatkan konseling dari bidan yang bertugas. Waktu penelitian ini direncanakan Dari 1 Maret 2012 sampai 30 Juli 2012.
X 0 - 1 R :
( - ) 0 - 2
3.3 Populasi dan Sampel 3.3.1. Populasi
Populasi dalam penelitian ini ibu bersalin dengan tindakan episiotomi pada proses persalinan dan dirawat di ruang kebidanan Rumah Sakit Umum Datu Beru Takengon dan selanjutnya diobservasi dengan mengikuti perkembangan ibu selama tujuh hari di rumah, penelitian ini dilakukan pada bulan 1 Maret 2012 sampai bulan 30 Juli 2012 dengan sampel berjumlah 60 orang, dimana 60 orang ibu post partum episiotomi di bagi menjadi 2 kelompok, satu kelompok 30 ibu bersalin post episiotomi yang diberikan konseling oleh bidan yang kompeten dan 30 ibu bersalin post episiotomi diberikan konseling oleh bidan yang tidak kompeten, pada akhirnya kedua hasil perlakuan ini akan dinilai hasilnya pada akhir perlakuan atau tujuh hari post partum. Seluruh populasi dijadikan sampel ibu post episiotomi berjumlah 60 orang.
3.4. Metode Pengumpulan Data 3.4.1. Data Primer
Pengumpulan data primer meliputi data yang dikumpulkan secara langsung oleh peneliti mulai dari bidan melakukan tindakan episiotomi pada ibu melahirkan dan melakukan konseling pada ibu post episiotomi dimana perlakuan bidan diobservasi oleh peneliti dan semua perlakuan yang diberikan oleh bidan hasilnya disesuaikan dengan klasifikasi bidan kompeten dan tidak kompeten. Kedua kelompok bidan akan diobservasi terus oleh peneliti dalam melakukan episiotomi dan
pemberian konseling pada ibu episiotomi sampai target yang ditentukan dan kedua kelompok bidan yang telah memberikan perlakuan konseling pada ibu post episiotomi pada akhir perlakuan yang diberikan akan di nilai dengan memberikan kuesioner pada ibu post episiotomi dan lembaran observasi yang telah peneliti siapkan. Penelitian ini dilakukan mulai ibu menjalani proses persalinan dengan tindakan episiotomi di kamar bersalin dan di rawat di ruang kebidanan serta diobservasi terus sampai hari ke tujuh ibu di rumah.
Pengambilan data primer dilakukan secara prospektif, maksudnya hari pertama ibu episiotomi diberikan konseling dan diteliti diukur pengetahuan dan kepatuhannya pada hari ke tujuh post episiotomi dengan cara mendatangi ibu post episiotomi berdasarkan alamat lengkap yang sudah di catat sebelumnya.
Gambar 3.2 Alur Penelitian
Untuk membedakan bidan kompeten dan bidan tidak kompeten dilakukan observasi tentang tindakan episiotomy dan konseling yang dilakukan bidan dengan memakai SOP yang telah disiapkan, setelah dilakukan pemilahan penulis mengikuti jadwal dinas bidan kompeten dan bidan tidak kompeten sampai jumlah sampel cukup, pada akhirnya kedua perlakukan yang diberikan oleh bidan kompeten dan bidan yang tidak kompeten dinilai dan diobservasi oleh penulis dengan memberikan kuisioner pada ibu post episiotomy untuk penilaian pengetahuan dan untuk kepatuhan di observasi dengan SOP yang telah disiapkan untuk menilai proses penyembuhan luka episiotomy.
3.4.2. Data Sekunder
Data sekunder mengenai bidan dan data pelayanan kesehatan rumah sakit di peroleh dari rumah sakit umum datu beru Kabupaten Aceh Tengah serta data dasar kesehatan lainnya yang mendukung.
3.4.3. Uji Validitas dan Reliabilitas
Validitas ialah indeks yang menunjukkan sejauh mana suatu alat pengukur betul-betul mengukur apa yang perlu diukur. Sedangkan reliabilitas adalah indeks yang menunjukkan sejauh mana suatu alat pengukur dapat dipercaya atau dapat diandalkan. Dengan kata lain, reliabilitas menunjukkan sejauh mana hasil pengukuran tetap konsisten bila pengukuran dilakukan dua kali atau lebih terhadap gejala yang sama, dengan alat ukur yang sama (Saepudin, 2011).
Untuk mengetahui apakah alat ukur (instrument) penelitian perlu dilakukan uji
item skor dan skor total (Item-total correlation), yaitu dengan melihat signifikansi skor item dengan skor total. Untuk skor item yang signifikan dengan skor total dapat dimasukkan (diikut sertakan) sebagai variabel yang valid. Uji validitas dilakukan pada ibu dengan post episiotomi sebanyak 20 orang di Klinik bersalin Hj. Barirah Madeni.
Uji validitas suatu instrumen (dalam kuesioner) dilakukan dengan menggunakan rumus korelasi Pearson Product Moment Corelation Coefficient (r) dengan ketentuan bila nilai r hitung > r tabel pada df yang sebesar 0,361 , maka dinyatakan valid dan sebaliknya apabila r hitung < dari pada r tabel maka dinyatakan tidak valid (Riyanto A, 2009).Uji reliabilitas dilakukan setelah semua data dinyatakan valid, analisis dilanjutkan dengan uji reliabilitas. Dalam penelitian ini teknik untuk menghitung indeks reliabilitas alat ukur menggunakan Cronbach's Alpha, yaitu menganalisis reliabilitas alat ukur dari satu kali pengukuran, dengan ketentuan bila r Alpha > 0,6, maka dinyatakan reliabel. Jika dilihat dari tabel pengujian validitas diperoleh nilai Cronbach's Alpha dari variabel independen (X) yaitu pengetahuan dan kepatuhan, untuk tiap butir pertanyaan > nilai r tabel, dengan demikian dinyatakan valid. Nilai Cronbach's Alpha dari masing-masing variabel > konstanta 0,6 .
Tabel 3.1 Hasil Uji Validitas dan Reliabilitas pada Instrumen Pengetahuan Variabel Nilai Corrected
Item-Total
Cronbach’s Alpha
Keterangan
Pengetahuan 1 0,863 Valid
Pengetahuan 2 0,678 Valid
Pengetahuan 3 0,572 Valid
Pengetahuan 4 0,349 Tidak Valid
Pengetahuan 5 0,676 Valid
Pengetahuan 6 0,717 Valid
engetahuan 7 0,863 Valid
Pengetahuan 8 0,678 Valid
Pengetahuan 9 0,717 Valid
Pengetahuan10 0,572 Valid
Pengetahuan11 0,863 Valid
Pengetahuan12 0,678 Valid
Pengetahuan13 0,349 Tidak Valid
Pengetahuan14 0,863 Valid
Pengetahuan15 0,572 Valid
Pengetahuan 16 0,863 Valid
Pengetahuan 17 0,081 Tidak Valid
Pengetahuan 18 0,863 Valid
Pengetahuan 19 0,206 Tidak Valid
Pengetahuan 20 0,863 Valid
Pengetahuan 21 0,133 Tidak Valid
Pengetahuan 22 0,678 Valid
Pengetahuan 23 0,863 Valid
Pengetahuan 24 0,678 Valid
Pengetahuan 25 0,863 Valid
Reliabilitas 0,950 Reliabel
Dari Tabel 3.1. di atas dapat diperoleh bahwa dari seluruh variabel pengetahuan sebanyak 25 pertanyaan mempunyai nilai r-hitung > 0,361 (r-tabael) dengan nilai cronbach alpha 0,950, adalah 20 pertanyaan dan 5 pertanyaan dibawah r-tabel. Maka dapat disimpulkan bahwa 20 pertanyaan variabel pengetahuan valid dan reliabel.
Tabel 3.2 Hasil Uji Validitas dan Reliabilitas pada Instrumen Kepatuhan Variabel Nilai Corrected
Item-Total
Kepatuhan 14 0,100 Tidak Valid
Kepatuhan 15 0,442 Valid
Kepatuhan 16 0,952 Valid
Kepatuhan 17 0,257 Tidak Valid
Kepatuhan 18 0,799 Valid
Kepatuhan 19 0,799 Valid
Kepatuhan 20 0,952 Valid
Reliabilitas 0,969 Reliabel
Berdasarkan Tabel 3.2. di atas dapat dilihat bahwa dari seluruh variabel kepatuhan sebanyak 20 pertanyaan mempunyai nilai r-hitung > 0,361 (r-tabael) dengan nilai cronbach alpha 0,969 adalah 18 pertanyaan dan 2 pertanyaan dibawah r-tabel, maka dapat disimpulkan bahwa 18 pertanyaan variabel kepatuhan valid dan reliabel.
3.5. Variabel dan Definisi Operasional 3.5.1. Variabel Penelitian
Variabel bebas : Kompetensi Bidan dalam memberikan konseling pada ibu tentang episiotomi
Variabel tak bebas : Pengetahuan ibu dan kepatuhan ibu tentang episiotomi
3.5.2. Definisi Operasional
1) Bidan Kompeten adalah bidan yang dalam bekerja sesuai dengan standar SOP atau daptar tilik acuan disetiap pekerjaan.
2) Bidan tidak kompeten adalah bidan yang dalam bekerja tidak sesuai dengan SOP atau daptar tilik .
3) Ibu post episiotomi adalah ibu yang dalam proses persalinan dilakukan pengguntingan pada jalan lahir untuk mempermudah bayi lahir dan memperluas jalan lahir.
4) Konseling perawatan luka episiotomi adalah proses komunikasi antara bidan dengan ibu post episiotomi tentang perawatan luka episiotomi pada jalan lahir.
Materi konseling episiotomi yang disampaikan meliputi : Cara perawatan luka episiotomi, cara pemberian obat pada luka, cara melalakukan pulva hygiena.
5). Pengetahuan adalah kemampuan ibu dalam memahami segala sesuatu tentang cara perawatan, cara pemberian obat dan cara melakukan pulva hygiena.
6) Kepatuhan adalah sikap mau mentaati dan mengikuti semua pesan yang telah
luka episiotomi dan cara melakukan pulva hygiena yang diketahui berdasarkan konseling yang diberikan pada ibu post episiotomi hari pertama dan hasil konseling tersebut dinilai kembali pada hari kelima.
3.6 Metode Pengukuran
Metode pengukuran yang digunakan dalam penelitian ini adalah : 1. Skala pengukuran pengetahuan tentang episiotomi
Skala pengukuran tentang episiotomi dilakukan dengan mengajukan 25 pertanyaan menggunakan skala guttman dengan dua alternatif jawaban (Benar, Salah dan Tidak tahu). Hasil pengukuran berupa skor 0 – 25
a) Pemberian skor pada pernyataan Benar yang benar :
Benar = 1
Salah = 0
Tidak tahu = 0
Pertanyaan pengetahuan yang masuk dalam kelompok ini adalah pertanyaan nomor 3,4,5,6,8,9,11,12,13,15,17,18,19,21, 22,23,24 dan 25.
b) Pemberian skor pada pernyataan salah yang benar :
Benar = 0
Salah = 1
Tidak tahu = 0
Pernyataan pengetahuan yang masuk dalam kelompok ini adalah pertanyaan nomor 1, 2, 7, 10, 14 dan 20.
c) Variabel pengetahuan sebanyak 25 pertanyaan dengan nilai terendah 0 dan nilai tertinggi 25, dengan demikian dapat dikatogorikan menjadi :
(Nursalam, 2010)
- Baik : > 61 % dari total skor (15 – 25) - Cukup : 41 – 61 % dari total skor (10 – 14 ) - Kurang : < 40 % dari total skor ( 1 – 9 )
2. Skala pengukuran kepatuhan tentang perawatan luka episiotomi. Skala pengukuran kepatuhan tentang perawatan episiotomi
Skala pengukuran tentang kepatuhan perawatan luka episiotomi dilakukan dengan mengajukan 8 pertanyaan menggunakan skala guttman dengan 8 alternatif jawaban (Ya, Tidak). Hasil pengukuran berupa skor 0 – 8
a) Pemberian skor pada pernyataa Ya yang benar :
Ya = 1
Tidak = 0
b) Pemberian skor pada pernyataan salah yang benar :
Tidak = 0
Ya = 1
c ) Variabel kepatuhan sebanyak 8 pertanyaan dengan nilai terendah 0 dan nilai tertinggi 8 , dengan demikian dapat dikatogorikan menjadi :
(Nursalam, 2010)
- Patuh : > 75 % dari total skor > 6 pertanyaan
3.7 Metode Analisis Data
Metode analisis data dalam penelitian ini (Sugiono, 2006) adalah : 1. Analisis Univariat
Analisis univariat merupakan analisis yang menitik beratkan kepada penggambaran atau deskriptif data yang diperoleh. Menggambarkan distribusi frekuensi dari masing-masing variabel bebas dan variabel terikat.
2. Analisis Bivariat
Oleh karena rancangan data dalam penelitian ini adalah posttest only control group atau subyek dibagi dalam dua kelompok secara random, maka analisis yang digunakan untuk melihat perubahan pengetahuan dan kepatuhan akibat pemberian konseling pada episiotomi digunakan uji Mann-Witney. Interval kepercayaan yang ditetapkan sebesar 95 %, dengan demikian jika nilai p-value
< 0,05, maka dikatakan (Ho) ditolak, artinya ada pengaruh konseling episiotomi terhadap peningkatan pengetahuan dan kepatuhan responden tentang perawatan luka episiotomi pada ibu post episiotomi.
BAB 4
HASIL PENELITIAN
4.1 Gambaran Umum Lokasi Penelitian
Rumah Sakit Umum Datu Beru Takengon beralamat jalan kebanyakan, yang berajak 2 km dari pusat Kota Takengon sangat strategis, yang mudah dijangkau oleh masyarakat. Batas-batas sebagai berikut:
1. Sebelah Utara berbatasan dengan Kampung Lot Kala 2. Sebelah Selatan berbatasan dengan Kampung Bukit Eweh
3. Sebelah Barat berbatasan dengan komplek kantor Dinas Kesehatan Kabupaten Aceh Tengah
4. Sebelah Timur berbatasan dengan Akademi Kebidanan Pemerintah Daerah Kabupaten Aceh Tengah dan Jalan Sengeda
Rumah sakit umum Datu Beru berdiri sejak zaman penjajahan kolonial belanda yaitu pada tahun 1939, pada waktu itu masih bernama RSU Takengon yang
Rumah sakit umum Datu Beru berdiri sejak zaman penjajahan kolonial belanda yaitu pada tahun 1939, pada waktu itu masih bernama RSU Takengon yang