BAB I. PENDAHULUAN
E. Definisi Konseptual dan Konflik Batin
E.1. Definisi Konseptual
E.1.1 Konflik Batin
Konflik dapat dimengerti sebagai pertentangan antara dua hal. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia konflik diartikan sebagai percekcokan, perselisihan, pertentangan. Ketegangan atau pertentangan dalam sebuah cerita rekaan atau drama (pertentangan antara dua kekuatan, pertentangan dalam diri satu tokoh, pertentangan antara dua tokoh dan sebagainya). Sedangkan batin menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah sesuatu yang tersembunyi atau sesuatu yang mengenai jiwa.
Konflik batin yang akan dibahas di sini adalah konflik batin yang terjadi pada Nathan Algren, tokoh utama dalam film The Last Samurai. Dalam dirinya terjadi konflik batin ketika dia memutuskan untuk bergabung dengan kaum samurai melawan pasukan Kekaisaran Jepang yang pernah menyewanya terlebih
dahulu. Algren sempat untuk ragu, karena selain dia pernah terikat kontrak pada pasukan Kekaisaran, maka sudah pasti cap pengkhianat akan melekat padanya.
E.1.2 Film
Film dalam kamus komunikasi diartikan sebagai media komunikasi yang bersifat visual atau-audio visualuntuk menyampaikan suatu pesan kepada sekelompok orang yang berkumpul di suatu tempat tertentu. (Onong Uchjana Effendi, 1981: 134)
Film merupakan salah satu jenis media massa yang digemari dan mendapatkan tanggapan positif dari masyarakat dan akan menjadi obyek penelitian semiotik yang sempurna karena film sangat kaya akan tanda-tanda dan simbolisme pesan yang menarik untuk digali dan diteliti.
E.1.3 The Last Samurai
The Last Samurai adalah film drama aksi petualangan produksi Warner Bros Pictures yang disutradarai oleh Edward Zwick. Film yang dirilis pada bulan Desember tahun 2003 ini memperoleh beberapa penghargaan, antara lain 4 nominasi Oscar dan 3 kategori nominasi Golden Globe pada tahun 2004. Dibintangi antara lain oleh Tom Cruise sebagai Nathan Algren, Ken Watanabe sebagai Katsumoto, Tony Goldwyn sebagai Kolonel Bagley, dan Masato Harada sebagai Omura.
Film ini menceritakan tentang mantan pejuang perang sipil Amerika Serikat bernama Nathan Algren yang disewa oleh penguasa Jepang untuk
menumpas pemberontakan para kaum samurai di Jepang. Akan tetapi setelah Algren menjadi tawanan dan merasakan hidup bersama para samurai itu dia menjadi berbalik untuk memihak kaum samurai dan ikut berjuang berperang bersama melawan penguasa beserta bala tentaranya.
Sentuhan cinta juga diselipkan dalam film ini yaitu antara Nathan Algren dan janda samurai adik dari Katsumoto yaitu Taka, kisah cinta yang tersembunyi karena saking halusnya sehingga hanya tertampil demikian samar namun dapat dirasakan getaran asmara pada kedua orang ini.
Akhirnya prajurit samurai dibawah pimpinan duo Katsumoto dan Nathan Algren melakukan penyerangan dengan jumlah pasukan yang sangat tidak seimbang yang walaupun tidak memenangkan pertempuranh namun semangat dan kehormatan prajurit samurai tidak terpadamkan, terbukti waktu adegan kematian Katsumoto para tentara Jepang dan komandannya memberi penghormatan untuk yang terakhir kali pada Sang Samurai terakhir itu.
E.2.1 Konflik Batin
The Last Samurai mengisahkan tentang Nathan Algren, seorang kapten pasukan Amerika dalam perang sipil, sebagai pahlawan yang sangat berjasa dalam berbagai perang dengan banyak bintang jasa. Kapten Nathan Algren ditugaskan ke Jepang sebagai pelatih bayaran pasukan bersenjata Kerajaan Jepang dan berperang untuk membasmi para samurai yang dianggap sebagai pemberontak oleh Kerajaaan Jepang.
Samurai merupakan kelompok komunitas bangsa Jepang pada era pemerintahan Tokugawa yang mendedikasikan seluruh hidupnya pada nilai kesetiaan dan kehormatan serta harga diri dengan sangat tinggi. Bahkan mereka rela mati untuk membela semua itu. Idealisme dalam mempertahankan kebudayaan Jepang menimbulkan peperangan antara para samurai melawan pihak Kekaisaran Jepang sendiri yang dibantu oleh pemerintah barat dengan dalih hubungan saling menguntungkan termasuk jual beli alat-alat persenjataan modern buatan negara-negara barat.
Ketika mengalami kekalahan dalam pertempurannya melawan samurai, Algren menjadi tawanan dan melihat berbagai pola kehidupan yang sangat berbeda dalam budaya kehidupan masyarakat samurai. Antara lain tingginya nilai kemanusiaan, religi, kesetiakawanan sosial, keramahan, sopan santun dan pengorbanan tanpa pamrih. Semuanya itu dilihat dan dirasakan Algren sendiri dalam kehidupan sehari-hari kaum samurai itu. Diselamatkan oleh musuh besarnya dan seorang pemimpin samurai bernama Katsumoto hingga mereka bisa saling belajar, memahami dan akhirnya bersahabat, juga dari kehidupan keseharian sebuah keluarga yang dia bunuh dalam peperangan dalam sebuah desa samurai yang sangat tradisional tapi penuh harmoni dan keramahan, dia menemukan keseimbangan hidup yang tinggi hingga akhirnya Nathan Algren memutuskan untuk berpihak kepada para samurai.
Banyak sekali konflik batin yang dialami oleh Nathan Algren selama proses tersebut yang akan dibahas berdasarkan topik-topik di bawah ini:
a. Konflik antara komitmen profesional dan hati nurani.
Tokoh utama dalam film ini, Nathan Algren pada mulanya digambarkan sebagai seorang laki-laki khas Amerika pada umumnya, pemberani, skeptis dan sedikit hedonis. Hal ini terlihat antara lain dalam adegan ketika dia ditawari kontrak kerja sama untuk melatih pasukan Kekaisaran Jepang. Tanpa rasa sungkan sedikitpun Algren mengajukan penawaran harga jasanya hampir dua kali lipat pada seorang utusan Jepang. Akan tetapi jauh di dalam hatinya, sebenarnya dia menyesal ketika kontrak itu kemudian disepakati. Trauma dan mimpi buruk masa lalu ketika berperang dengan suku Indian akan semakin mengganggu tidurnya. Namun, hal itu tak menyurutkan niatnya untuk tetap berangkat meninggalkan negerinya menyeberangi samudera menuju kepulauan Jepang, sebuah negara yang sedang dalam masa transisi pemerintahan. Tempat yang kelak akan mengubah jalan hidupnya dan di tempat itulah pada akhir cerita digambarkan Algren menemukan kedamaian yang selama ini ia cari.
b. Konflik antara rasa bersalah dan kehormatan
Berubahnya pendirian Nathan Algren untuk kemudian berpihak kepada kaum samurai tidak terjadi seketika. Akan tetapi melalui proses dan banyak pertentangan dalam hatinya, antara lain ketika dia mengetahui ritual harakiri atau bunuh diri ala samurai yang tidak dapat menanggung rasa malu akibat kalah dalam pertempuran. Juga dia merasa bahwa kekalahan itu merupakan kesalahannya semata akibat pasukan yang dipimpinnya belum siap sepenuhnya untuk berperang. Akan tetapi Kolonel Bagley selaku atasannya dan Omura,
Menteri Jepang yang menyewanya memaksa untuk segera melacak keberadaan para samurai dan menghadapinya untuk kemudian mengalahkannya.
Kedua atasan Algren tersebut bersikeras para samurai yang hanya bersenjatakan pedang, tombak, dan panah akan mudah dikalahkan oleh batalyon bersenjata api. Algren yang mengetahui ketidaksiapan pasukan yang dilatihnya gagal meyakinkan kedua orang itu untuk menunda konfrontasi terlebih dahulu.
c. Antara keinginan dan tindakan
Dalam film ini diperlihatkan dimana keinginan Algren untuk menjauhi segala hal yang berhubungan dengan peperangan setelah dia dibebaskan oleh Katsumoto dan berusaha untuk menolak kontrak baru yang disodorkan oleh Omura kepadanya. Isi kontrak itu menyatakan bahwa Algren harus kembali aktif memimpin pasukan kerajaan melawan dan membasmi para samurai. Sudah jelas dia menolak, akan tetapi Algren pun sadar, mengabaikan kontrak berarti cepat atau lambat nyawanya akan menjadi taruhan. Omura tidak mungkin membiarkan Algren hidup karena secara tidak langsung akan menghambat tujuan akhir Omura itu sendiri, memenangkan hati Sang Kaisar dan memperkuat kekuasaannya.