• Tidak ada hasil yang ditemukan

Definisi Nusyuz

Dalam dokumen Islam Kontemporer di Indonesia dan Malaysia (Halaman 97-100)

PENYEBAB PERCERAIAN Darmawati H

1. Definisi Nusyuz

Secara etimologi (bahasa), kata nusyuz berasal dari kata dasar nasyz, yang berarti tempat yang tinggi. Sedangkan menurut istilah, nusyuz adalah pelanggaran yang dilakukan oleh seorang istri terhadap kewajibannya yang ditetapkan oleh Allah swt agar taat kepada suami, sehingga seolah-olah istri menempatkan dirinya lebih tinggi daripada suami.3

Adapun pendapat beberapa ulama terkait definisi nusyuz antara lain:

a. Menurut Ibnu Katsir, nusyuz artinya menantang. Istri yang nusyuz adalah istri yang menantang suaminya, tidak melaksanakan perintahnya, berpaling dari suami dan membuatnya marah.4

b. Menurut Hussein Bahreisj, nusyuz adalah suatu sikap membangkang atau durhaka dari istri kepada suaminya atau terjadi penyelewengan yang tidak dibenarkan oleh suami terhadap istrinya. c. Ibnu Manzur dalam lisan al-Arab mendefinisikan nusyuz sebagai rasa kebencian salah satu pihak

(suami atau istri) terhadap pasangannya.

2 Elli Nurhayati, “Tantangan Keluarga pada Mellenium ke-3” dalam Lusi Margiani dan Muh. Yasir Alimi (ed.), Sosialisasi Menjinakkan

“Taqdir” Mendidik Anak Secara Adil (Cet. I, Yogyakarta: LSPPA, 1999), h. 229-230.

3 Abu Malik Kamal bin Sayyid Salim, “Fiqhus Sunnah Lin Nisa’”, diterjemahkan Asep Sobari, Fiqih Sunnah untuk Wanita (Cet I; Jakarta: Darul Bayan al-Haditsah), h. 739.

4 Abu ‘Ubaidah Usamah bin Muhammad Al-Jammal, “Kitab Al-Mu’minat Al-Baqiyat Ash-Shalihat fi Ahkam Takhtashshu bihal Mu’minat”, diterjemahkan Arif Rahman Hakim, Lc., Shahih Fiqih Wanita Muslima. (Cet. 1; Surakarta: Insan Kamil, T.th), h. 346.

d. Wahbah al-Zuhaili, guru besar ilmu fiqh dan ushul fiqh pada Universitas Damaskus, mengartikan

nusyuz sebagai ketidakpatuhan salah satu pasangan terhadap apa yang seharusnya dipatuhi dan

satu rasa benci terhadap pasangannya.

e. Menurut Slamet Abidin dan Aminudin, nusyuz adalah durhaka, artinya kedurhakaan yang dilakukan istri terhadap suaminya. Kedurhakaan di sini adalah ketika seorang istri menentang permintaan suami tanpa alasan yang dapat diterima hukum syara. Misalnya: 1), Suami telah menyediakan rumah yang sesuai dengan keadaan suami, tetapi istri tidak mau pindah ke rumah tersebut, atau istri meninggalkan rumah tanpa izin dari suami.2), Apabila istri bepergian tanpa disertai suami atau mahramnya, walaupun perjalanan itu wajib, seperti pergi haji, maka perbuatan tersebut terhitung haram.5

f. Penolakan istri ketika suami mengajak berjima’ tanpa adanya alasan yang syar’i. g. Memasukkan orang yang tidak disukai suaminya ke dalam rumah.6

h. Dalam kitab Fath Al-Mu’in, disebutkan termasuk perbuatan nusyuz, jika seorang istri enggan bahkan tidak mau memenuhi ajakan suami, sekalipun ia sedang sibuk mengerjakan sesuatu.7

i. Al-Tabari juga mengasumsikan makna kata nusyuz ini dengan mengartikannya sebagai suatu tindakan bangkit melawan suami dengan kebencian dan mengalihkan pandangan dari suaminya. Dia juga mengatakan makna literer dari nusyuz adalah menentang dan melawan. Sedangkan menurut al-Zamakhsyari, mengatakan nusyuz bermakna menentang suami dan berdosa terhadapnya (an ta’a

zawjaha). Imam Fakhr al-Din al-Razi juga berpendapat bahwa nusyuz juga dapat berupa perkataan

(qawl) atau perbuatan (fa’l). Artinya, ketika istri tidak sopan terhadap suaminya ia berarti nusyuz dengan perkataan dan ketika ia menolak tidur bersamanya atau tidak mematuhinya, maka ia telah

nusyuz dalam perbuatan (fa’l).8

Nusyuz adalah haram bagi seorang istri. Allah swt sudah menyiapkan hukuman yang sangat pedih

bagi perempuan yang tidak mengindahkan suaminya dan tidak mau menerima nasihat suaminya. Dan hukuman hanya diberikan kepada orang yang melakukan perbuatan haram dan/atau meninggalkan perbuatan wajib (suatu kewajiban).9

Rumusan konsep nusyuz yang lebih menyudutkan pihak perempuan tersebut, menimbulkan implikasi tidak hanya dalam memahami makna ayat al-Quran yang membicarakannya, seperti pada QS 4/: 34 dan 128 tetapi juga berimplikasi dalam memahami kedudukan dan hak-hak perempuan dalam Islam. Ayat tersebut banyak dikutip oleh para ahli hukum Islam untuk menunjukkan bahwa perempuan benar-benar berada di bawah laki-laki dan bahwa laki-laki memiliki hak-hak tertentu dalam memperlakukannya, terutama saat perempuan itu (istri) melakukan pembangkangan atau nusyuz.

Selama ini memang persoalan nusyuz terlalu dipandang sebelah mata. Artinya, nusyuz selalu saja dikaitkan dengan istri, dengan anggapan bahwa nusyuz merupakan sikap ketidakpatuhan istri terhadap suami. Sehingga istri dalam hal ini selalu saja menjadi pihak yang dipersalahkan. Begitu pula dalam kitab-kitab fikih, persoalan nusyuz seakan-akan merupakan status hukum yang khusus ada pada

5 Beni Ahmad Saebani, M.Si., Fiqh Munakahat 2 (Cet.VI; Bandung: Pustaka Setia), h. 49. 6 Abu ‘Ubaidah Usamah bin Muhammad Al-Jammal, Op.Cit., h 346.

7 H.M.A Tihami, M.A., M.M. dan Sohari Sahrani, M.M., M.H., Fikih Munakahat, Kajian Fikih Nikah Lengkap (Cet. 1; Serang: Rajawali Pers), h. 185. 8 Asghar Ali Engineer, Matinya Perempuan: Menyingkap Megaskandal Doktrin dan Laki-laki, Alih Bahasa Akhmad Affandi (Cet. I, Yogyakarta:

IRCiSod, 2003), h. 92.

perempuan (istri) dan untuk itu pihak laki-laki (suami) diberi kewenangan atau beberapa hak dalam menyikapi nusyuz-nya istri.

Kompilasi Hukum Islam (KHI) menyebutkan dalam pasal 80 ayat (7), “kewajiban suami sebagaimana dimaksud ayat (2) gugur apabila istri nusyuz”.10 Yang dimaksud dengan kewajiban suami di sini adalah kewajiban memberi nafkah, kiswah dan tempat kediaman bagi istri. Seperti yang telah dijelaskan dalam ayat (4) dalam pasal yang sama sebelumnya.

Tindakan-tindakan yang bisa dilakukan suami tersebut sepertinya sudah menjadi hak mutlak dengan adanya justifikasi hukum yang menguatkannya. Dan hal itu dapat suami lakukan setiap kali ada dugaan istrinya melakukan nusyuz. Dalam suatu kutipan kitab klasik dinyatakan, nusyuz adalah wanita-wanita yang diduga meninggalkan kewajibannya sebagai istri karena kebenciannya terhadap suami, seperti meninggalkan rumah tanpa izin suami dan menentang suami dengan sombong.11

Apabila dipahami dari pernyataan dalam kitab tersebut, baru pada taraf menduga saja seorang suami sudah boleh mengklaim istrinya melakukan nusyuz, jelas posisi istri dalam hal ini rentan sekali sebagai pihak yang dipersalahkan. Istri tidak memiliki kesempatan untuk melakukan pembelaan diri, apalagi mengkoreksi tindakan suaminya. Sebaliknya, suami mempunyai kedudukan yang sangat leluasa untuk menghukumi apakah tindakan istrinya sudah bisa dikatakan sebagai nusyuz atau tidak.

Menjadi batasan nusyuz seoarang istri, misalnya sudah menjadi kebiasaan masyarakat bahwa memasak, mencuci dan menyapu adalah tugas istri. Sebenarnya rutinitas tersebut adalah kewajiban suami. Andai rutinitas ini diperintahkan suami kepada istri, maka istri tidak wajib memenuhinya. Pengingkaran atas perintah ini tidak termasuk nusyuz (melawan). Adapun batasan ketaatan yang harus dijalani seorang istri terhadap suami adalah sepanjang kewajiban-kewajiban istri terhadap suami selama tidak berupa maksiat dan di luar kemampuan.

Adapun konsekuensi hukum akibat nusyuz istri terhadap suaminya adalah gugur kewajiban suaminya memberi nafkah kepada istri nusyuz selama dalam nusyuz-nya, dan apabila suaminya meninggal dunia, istri tidak mendapat warisan, terkecuali harta pembawaan sebelum terjadi akad nikah. Apabila seorang istri murtad, maka terputuslah hak untuk mendapat warisan, dan jika ada harta pembawaannya, tidak diwarisi, namun diserahkan kepada baitul mal. Alasan dari semua itu adalah karena nafkah dan warisan merupakan nikmat Allah, maka tidak dibenarkan mendapatkan dari jalan kedurhakaan dan kemaksiatan.

Ayat-ayat Alquran menerangkan, bahwasanya nusyuz tidak selalu terjadi pada perempuan, tetapi juga seorang suami memungkinkan untuk berbuat nusyuz. Allah SWT berfirman dalam QS al-Nisa/4: 128:

ۚا ٗحۡل ُص اَمُهَنۡيَب اَحِل ۡصُي نَأ ٓاَمِهۡيَلَع َحاَنُج َلَف ا ٗضاَرۡعِإ ۡوَأ اًزوُشُن اَهِلۡعَب ۢنِم ۡتَفاَخ ٌةَأَرۡمٱ ِنوَإِ

اٗيرِبَخ َنوُلَمۡعَت اَمِب َنَك َ َّلٱ َّنِإَف ْاوُقَّتَتَو ْاوُنِسۡ ُت نوَإِ َّۚحُّشلٱ ُسُفنَ ۡلٱ ِتَ ِضۡحُأَو ۗٞ ۡيرَخ ُحۡل ُّصلٱَو

Terjemahnya:

“Dan jika seorang wanita khawatir akan nusyuz12 atau sikap tidak acuh dari suaminya, maka tidak mengapa bagi keduanya mengadakan perdamaian yang sebenar-benarnya, dan perdamaian itu lebih baik (bagi

10 Depag RI, Inpres Nomor 1 Tahun 1991 tentang Kompilasi Hukum Islam (Derektorat Jendral Pengembangan Kelembagaan Agama Islam), Pasal 80 Ayat (7).

11 Muhammad Nawawi bin Umar bin Arabi, Syarh Uqud al-Lujjayn fi Bayan al-Huquq az-Zawjayn, (Surabaya: Mutiara Ilmu, t.th.), h. 7. 12 Nusyuz yang dimaksud di sini yaitu meninggalkan kewajiban bersuami istri. nusyuz dari pihak istri seperti meninggalkan rumah tanpa izin

mereka) walaupun manusia itu menurut tabiatnya kikir. dan jika kamu bergaul dengan istrimu secara baik dan memelihara dirimu (dari nusyuz dan sikap tak acuh), maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.13

Dalam dokumen Islam Kontemporer di Indonesia dan Malaysia (Halaman 97-100)