METODOLOGI PENELITIAN
3.7. Definisi Operasional 1. Kekuatan otot tungkai
Definisi : Kekuatan otot tungkai adalah kemampuan otot atau sekelompok otot tungkai melakukan satu kontraksi secara maksimal melawan tahanan atau beban
Cara ukur : Berdiri di atas tungkai tanpa alas kaki, kedua tangan memegang bagian tengah tongkat pegangan dynamometer setinggi acetabula.
Mata rantai diatur hingga posisi punggung tetap tegak lurus tetapi kedua lutut ditekuk membentuk sudut 115º
Alat ukur : Leg dynamometer untuk mengukur kekuatan otot tungkai dan dinyatakan dalam satuan kilogram (kg)
Hasil ukur : Numerik
3.7.2. Daya ledak otot tungkai
Definisi : Daya ledak otot tungkai adalah kemampuan otot untuk mengerahkan kekuatan maksimal dalam waktu yang sangat cepat
Cara ukur : Pengukuran daya ledak otot tungkai dengan menggunakan tes vertical jumps. Subjek mengambil awalan dengan sikap menekukkan lutut dan kedua lengan ke belakang (posisi siap untuk melompat). Lompat setinggi-tingginya sambil menepuk papan skala pada saat berada dipuncak lompatan
Alat ukur : Papan bergaris vertical, serbuk kapur dan penghapus Hasil ukur : Numerik
3.7.3. Kecepatan
Definisi : Kecepatan adalah kemampuan untuk melaksanakan gerak yang sama atau tidak sama dalam waktu sesingkat mungkin.
Cara ukur : Kecepatan di ukur dengan melakukan lari 50 m dan dinyatakan dalam satuan detik.
Alat ukur : Stop watch, meteran, lintasan 50 m, peluit dan bendera start Hasil ukur : Numerik
3.7.4. Kelentukan
Definisi : Kelentukan adalah kemampuan sendi untuk melakukan gerakan dalam ruang gerak sendi secara maksimal.
Cara ukur : Subjek penelitian berdiri dengan kaki lurus menyentuh balok tes.
Alat ukur : flexometer untuk mengukur kelentukan dan dinyatakan dalam satuan cm.
Hasil ukur : Numerik
3.7.5. Daya tahan otot tungkai dan otot perut
Definisi : Daya tahan otot tungkai dan otot perut adalah kemampuan otot tungkai dan otot perut melakukan gerakan dalam waktu yang relatif lama.
Cara ukur : Subjek tidur terlentang, kedua tangan saling berkaitan di belakang kepala, kedua kaki dilipat sehingga membentuk sudut 90º. Seorang pembantu memegang erat-erat kedua pergelangan kaki, subjek berusaha bangun sehingga berada dalam sikap duduk dan kedua siku dikenakan pada kedua lutut dan kemudian kembali ke sikap semula.
Lakukan gerakan ini secara berulang-ulang dan kontinyu, sampai subjek tak mampu mengangkat badannya lagi.
Alat ukur : Tes Squat Jumps untuk mengukur kemampuan daya tahan otot tungkai. Tes Sit Ups untuk mengukur kemampuan daya tahan otot perut.
Hasil ukur : Numerik 3.7.6. Kecepatan reaksi
Definisi : Kecepatan reaksi adalah kemampuan untuk melakukan gerakan secepat mungkin segera setelah menerima rangsangan.
Cara ukur : Melompat vertical dari Reaction mat secepat mungkin pada saat terdengar suara dari stimulator.
Alat ukur : Whole Body Reactions untuk mengukur kecepatan reaksi dan dinyatakan dalam detik.
Hasil ukur : Numerik
3.7.7. Glutathion peroksidase
Definisi : Glutathion peroksidase adalah antioksidan endogen yang merupakan suatu enzim scavenger terhadap hydrogen peroxide (radikal bebas) Cara ukur : Kadar glutathione peroxidase yang diambil dari vena mediana cubiti
sebanyak 3cc dan dicampur dengan antikoagulan heparin, setelah lari 200 m. Pemeriksaan berdasarkan metode ELISA dengan GPx Qayee-Bio Kit, dinyatakan dalam satuan ng/ml
Alat ukur : Spektrofotometri UV dengan panjang gelombang 450 nm Hasil ukur : Numerik
3.7.8. Asam laktat
Definisi : Asam laktat adalah produk akhir dari proses glikolisis anaerobik yang dihasilkan oleh sel darah merah dan sel otot yang aktif sebagai akibat pemecahan glukosa yang tidak sempurna
Cara ukur : Pemeriksaan kadar asam laktat dilakukan 10 menit setelah lari 200 m
Alat ukur : Accutrend Plus untuk mengukur kadar asam laktat, dengan satuan milimoles per liter (mmol/L)
Hasil ukur : Numerik 3.7.9. pH
Definisi : pH adalah derajat keasaman yang digunakan untuk menyatakan tingkat keasaman atau tingkat kebasaan yang dimiliki oleh suatu larutan.
Cara ukur : Pemeriksaan pH dari darah arteri radialis yang diambil sebanyak 0,5 ml segera setelah melakukan lari 200 m.
Alat ukur : I-STAT untuk mengukur pH, PaO2, PaCO2, SaO2
Hasil ukur : Numerik
3.7.10. Tekanan parsial oksigen (PaO2)
Definisi : Tekanan parsial oksigenadalah tekanan parsial yang dihasilkan oleh sejumlah oksigen yang terlarut dalam plasma.
Cara ukur : Pemeriksaan PaO2 dari darah arteri radialis yang diambil sebanyak 0,5 ml segera setelah melakukan lari 200 m.
Alat ukur : I-STAT untuk mengukur pH, PaO2, PaCO2, SaO2
Hasil ukur : Numerik
3.7.11. Tekanan parsial karbondioksida (PaCO2)
Definisi : Tekanan parsial karbondioksida adalah tekanan yang dihasilkan oleh CO2 yang terlarut dalam plasma.
Cara ukur : Pemeriksaan PaCO2 dari darah arteri radialis yang diambil sebanyak 0,5 ml segera setelah melakukan lari 200 m.
Alat ukur : I-STAT untuk mengukur pH, PaO2, PaCO2, SaO2
Hasil ukur : Numerik
3.7.12. Saturasi oksigen (SaO2)
Definisi : Saturasi oksigen adalah rasio hemoglobin yang mengikat oksigen terhadap jumlah total hemoglobin dalam darah
(SaO2 = HbO2/total Hb).
Cara ukur : Pemeriksaan SaO2 dari darah arteri radialis yang diambil sebanyak
0,5 ml segera setelah melakukan lari 200 m.
Alat ukur : I-STAT untuk mengukur pH, PaO2, PaCO2, SaO2
Hasil ukur : Numerik 3.7.13. Intensitas nyeri
Definisi : Intensitas nyeri adalah rasa sakit atau ketidaknyamanan yang terjadi setelah melakukan lari 200 m
Cara ukur : Pemeriksaan intesitas nyeri menggunakan VAS yang disajikan dalam bentuk garis horizontal. Cara penyajiannya VAS diberi angka 0-10 yang masing-masing nomor dapat menunjukkan intensitas nyeri yang dirasakan
Alat ukur : Visual Analogue Scale (VAS).
Hasil ukur : Numerik
3.7.14. Waktu tempuh pelari 200 m
Definisi : Waktu tempuh pelari 200 m adalah waktu yang dibutuhkan pelari untuk menempuh jarak 200 m dari garis awal (start) sampai mencapai garis akhir (finish).
Alat ukur : Pengukuran menggunakan stopwatch dan waktu tempuh, dinyatakan dengan satuan detik.
Hasil ukur : Numerik
3.7.15. Latihan persiapan khusus
Definisi : Latihan Persiapan Khusus adalah perencanaan latihan yang menerapkan frekuensi latihan, takaran latihan, jenis latihan dan lama latihan berdasarkan fisiologi olahraga. Tujuannya adalah untuk
meningkatkan kemampuan komponen fisik dasar yang spesifik untuk pelari 200 m.
3.7.16. Latihan konvensional
Definisi : Latihan Konvensional adalah program latihan yang tidak direncanakan dengan baik, tanpa menerapkan frekuensi latihan, takaran latihan, jenis latihan dan lama latihan. Latihan konvensional tidak menerapkan fisiologi olahraga. Tujuan Latihan Konvensional untuk meningkatkan kemampuan komponen fisik dasar untuk pelari 200 m.
3.7.17. Sport massage
Definisi : Sport massage yang ditujukan untuk atlet setelah melakukan latihan dengan manipulasi mekanik pada bagian tubuh yang lunak dengan tekanan ritmis untuk menghasilkan efek-efek fisiologis. Massase spesifik untuk pelari 200 m dengan menggunakan tehnik effleurage (gosokan). Caranya adalah dengan menggunakan telapak tangan untuk menggosok-gosok pada tungkai bawah selama 12 menit (6 menit tungkai bawah kanan dan 6 menit tungkai bawah kiri) setelah melakukan latihan.
Gerakan Effleurage ini harus selalu menuju ke arah jantung, sebab jantung adalah pusat peredaran darah. Darah yang mengalir cepat dari venous kembali ke jantung akan mempercepat pula proses pembuangan sisa-sisa pembakaran.
3.8 Bahan dan Cara Kerja