BAB IV ANALISIS DATA
LANDASAN TEORI
H. Definisi Operasional
Definisi operasional merupakan penjelasan tentang variabel yang akan digunakan dalam penelitian. Terdapat satu variabel dependen (terikat) dan empat variabel independen (bebas).
1. Variabel Dependen
Menurut Martono (2011), variabel dependen adalah variabel yang diakibatkan atau dipengaruhi oleh variabel bebas. Keberadaan variabel ini dalam penelitian kuantitatif adalah sebagai variabel yang dijelaskan dalam fokus atau topik penelitian. Dalam penelitian ini terdapat satu variabel terikat yaitu kinerja maqashid syariah. Menurut Mohammed, Razak dan Taib (2008), tujuan Bank Syariah akan tepat jika diturunkan dari tujuan syariah (maqasid syariah). Hal ini dikarenakan tujuan dari bank Islam tidak hanya memaksimalkan laba, namun juga memiliki peran di bidang sosial. Oleh karena tujuannya tidak hanya memaksimalkan laba, maka pengukuran kinerja dari bank syariah menjadi lebih kompleks. Pengukuran kinerja bank syariah berbasis maqasid syariah merupakan proses untuk menentukan apakah bank syariah dapat mencapai tujuan bank syariah yang
Keterangan Jumlah Bank
Jumlah Bank Umum Syariah 12
Tidak menyajikan laporan keuangan lengkap berturut-turut periode 2011-2016
1
Tidak menyajikan laporan GCG periode 2011-2016
1
47
diturunkan dari maqasid syariah. Pengukuran kinerja mempunyai hubungan langsung dengan dengan tujuannya, sehingga indikator-indikator pencapaian kinerjanya akan diturunkan dari tujuan-tujuan tersebut. Mohammed, Razak dan Taib (2008) menggunakan klasifikasi maqasid syariah yang merujuk pada konsep maqashid syariah Abu Zaharah (1997) yaitu:
a. Tahdhib al-Fard (mendidik individu) b. Iqamah Al-adl (menegakkan keadilan), dan c. Jaib al-Maslahah (meningkatkan kesejahteraan).
Tabel 3.2 Operasionalisasi Rasio Pengukur Kinerja Maqashid Syariah Konsep
(tujuan) Dimesi Elemen Rasio Kinerja Mendidik Individu D1. Kemajuan Pengetahuan E1. Bantuan Pendidikan R1. Bantuan pendidikan/total Beban E2. Penelitian R2. Beban
penelitian/total beban
D2. Menerapkan
dan Meningkatkan Keahlian Baru
E3. Pelatihan R3. Beban
pelatihan/total beban D3. Menciptakan
kesadaran akan
Bank Syariah
E4. Publikasi R4. Beban promosi/total beban Membangun Keadilan D4. Pengembalian yang Adil E5.Return yang Adil
R5. Bagi Hasil belum dibagi/Pendapatan Investasi Bersih D5. Produk dan Layanan yang Terjangkau E6. Fungsi Distribusi R6. Pembiayaan Mudharabah & Musyarakah/Total Pembiayaan D6.Menghilangkan Unsur-Unsur E7. Produk bebas bunga R7. Pendapatan bebas bunga/total pendapatan
48 Negatif yang Menciptakan Ketidakadilan. Kepentingan Publik D7. Profitabilitas Bank E8. Rasio laba R8. Laba bersih/total asset D8. Distribusi Pendapatan dan Kesesjahteraan E9. Pendapatan individu
R9. Zakat/ laba bersih
ID9. nvestaisi di Sektor Riil E10. Rasio investasi di sektor riil R10. Total investasi sektor riil/ total asset Sumber: Mohammed, Razak dan Taib (2015)
Tabel 3.3 Bobot Masing-Masing Tujuan dan Elemen Tujuan Bobot Tujuan (%) Elemen Bobot Elemen (%) 1. Mendidik Individu
30 E1. Bantuan Pendidikan 24
E2. Penelitian 27 E3. Pelatihan 26 E4. Publikasi 23 Total 100 2. Menegakkan Keadilan
41 E5. Return yang adil 30
E6. Fungsi distribusi 32
E7. Produk bebas bunga 38
Total 100
3. Memelihara Kemaslahatan
29 E8. Rasio laba 33
E9. Pendapatan individu 30
E10. Rasio Investasi sektor riil 37
Total 100
Total 100
Sumber: Mohammed, Razak dan Taib (2015)
Mohammed, Razak dan Taib (2008) juga menjelaskan bahwa untuk menghasilkan indeks maqashid syariah terdapat tiga tahapan yaitu:
49 a. Menetukan Rasio Kinerja
Tahap pertama yang harus dilakukan adalah mnentukan rasio kinerja yang akan digunakan berdasarkan ketersediaan data. Dalam penelitian ini menggunakan 10 rasio keuangan, yaitu:
1) Bantuan pendidikan/total beban (R1) 2) Beban penelitian/total beban (R2) 3) Beban pelatihan/total beban (R3) 4) Beban promosi/total beban (R4)
5) Bagi hasil belum dibagi/pendapatan investasi bersi (R5)
6) Pembiayaan mudharabah & musyarakah/total pembiayaan (R6) 7) Pendapatan bebas bunga/total pendapatan (R7)
8) Laba bersih/total asset (R8)
9) Zakat yang dibayarkan.aset bersih (R9) 10)Investasi sector riil total investasi (R10) b. Menentukan Rasio Kinerja
Tahap selanjutnya adalah melakukan operasi perkalian antara dimensi dan rasio kinerja dengan masing-masing bobot. Secara matematis dapat dijelaskan dalam model berikut:
1) Maqashid Pertama (Mendidik Individu)
PI (O1) = W1(E1 X R1 + E2 X R2 + E3 X R3 +E4 X R4) Dimana:
PI (O1) = Indikator kinerja untuk maqashid pertama yaitu mendidik individu
50
W1 = Bobot O1 (Tujuan/maqashid pertama)
E1,2,3,4 = Bobot Elemen pertama, kedua, ketiga dan keempat R1,2,3,4 = Rasio Elemen pertama, kedua, ketiga dan keempat 2) Maqashid Kedua (Menegakkan Keadilan)
PI (O1) = W2 (E5 X R5 + E6 X R6 + E7 X R7) Dimana:
PI (O2) = Indikator kinerja untuk maqashid kedua yaitu menegakkan keadilan
W2 = Bobot O2 (Tujuan/maqashid kedua) E5,6,7 = Bobot enam, tujuh, delapan
R5,6,7 = Rasio Elemen enam, tujuh, delapan 3) Maqashid Ketiga (Menghasilkan Kemaslahatan)
PI (O3) = W3 (E8 X R8 + E9 X R9 + E10 X R10) Dimana:
PI (O2) = Indikator kinerja untuk maqashid ketiga yaitu menghasilkan kemaslahatan
W3 = Bobot O3 (Tujuan/maqashid ketiga) E8,9,10 = Bobot delapan, sembilan dan sepuluh
R8,9,10 = Rasio Elemen delapan, sembilan dan sepuluh c. Menghitung Maqashid Indeks
Tahap selanjutnya adalah menghitung maqashid indeks dengan rumus sebagai berikut:
51 Dimana:
PI (O1) = Total indikator kinerja untuk tujuan pertama yaitu mendidik individu
PI (O2) = Total indikator kinerja untuk tujuan kedua yaitu menegakkan keadilan
PI (O3) = Total indikator kinerja untuk tujuan ketiga yaitu memelihara kemaslahatan
2. Variabel Independen
Menurut Martono (2011) variabel independen adalah variabel yang mempengaruhi variabel lain atau menghasilkan akibat pada variabel lain, yang pada umumnya berada dalam urutan waktu yang tejadi lebih dulu. Keberadaan variabel ini dalam penelitian kuantitatif merupakan variabel yang menjelaskan terjadinya fokus atau topik penelitian. Berikut adalah variabel independen yang digunakan dalam penelitian ini:
a. Ukuran Dewan Pengawas Syariah
Ukuran Dewan Pengawas adalah jumlah seluruh Dewan Pengawas Syariah yang melakukan pengawasan syariah pada bank syariah (Endraswati, 2017). Menurut Peraturan Bank Indonesia No. 6/24/PBI/2004 pasal 26 (1) menyatakan bahwa jumlah anggota Dewan Pengawas Syariah paling kurang 2 (dua) orang dan sebanyak-banyaknya 5 (lima) orang.
Pengukuran variabel ukuran Dewan Pengawas Syariah (X1) yaitu dengan menulis jumlah anggota Dewan Pengawas Syariah dari
52
masing-masing bank umum syariah di Indonesia yang tercantum pada laporan tahunan. Pengukuran dalam penelitian ini mengacu pada penelitian Muamar dan Arief (2015), Annisa (2015), dan Endraswati (2017).
Ukuran DPS = ∑ anggota DPS dalam Satu Tahun
b. Rangkap Jabatan Dewan Pengawas Syariah
Rangkap jabatan Dewan Pengawas Syariah adalah anggota Dewan Pengawas Syariah melakukan lebih dari satu pekerjaan selain menjadi Dewan Pengawas Syariah. Menurut Peraturan Bank Indonesia No.11/33/PBI/2009 tentang pelaksanaan good corporate governance pada Bank Umum Syariah dan Unit Usaha Syariah, Dewan Pengawas Syariah hanya boleh merangkap jabatan sebagai anggota DPS sebanyak-banyaknya pada dua lembaga perbankan dan dua lembaga keuangan syariah non bank serta anggota Dewan Pengawas Syariah dilarang merangkap jabatan sebagai konsultan di seluruh BUS dan/atau UUS. Satu anggota DPS diperbolehkan merangkap jabatan sebagai anggota DSN. Pengukuran rangkap jabatan Dewan Pengawas Syariah dilakukan dengan cara memberi nilai satu (1) pada Dewan Pengawas Syariah yang melakukan rangkap jabatan sesuai dengan peraturan Bank Indonesia dan memberi nilai nol (0) pada Dewan Pengawas Syariah yang melakukan rangkap jabatan tidak sesuai dengan peraturan (Muamar dan Arief, 2015).
53
c. Jumlah Rapat Dewan Pengawas Syariah
Jumlah rapat Dewan Pengawas Syariah adalah rapat yang dilakukan oleh Dewan Pengawas Syariah selama satu tahun. Frekuensi rapat Dewan Pengawas Syariah dalam setahun dapat mencerminkan seberapa jauh Dewan Pengawas Syariah terlibat dalam mengawasi manajemen (Ma & Tian, 2009 dalam Endraswati 2017).
Menurut Peraturan Bank Indonesia No.11/33/PBI/2009 tentang pelaksanaan good corporate governance pada bank umum syariah dan unit usaha syariah, rapat DPS wajib diselenggarakan paling kurang satu kali dalam satu bulan. Pengambilan keputusan rapat DPS dilakukan berdasarkan musyawarah mufakat. Dalam penelitian ini pengukuran variabel jumlah rapat Dewan Pengawas Syariah dilakukan dengan cara memberi nilai nol (0) dengan jumlah rapat kurang dari 12 kali dalam satu tahun, nilai satu (1) dengan jumlah rapat sebanyak 12 kali dalam satu tahun dan nilai dua (2) pada anggota DPS yang melakukan rapat lebih dari 12 kali dalam satu tahun.
d. Latar Belakang Pendidikan Dewan Pengawas Syariah
Peraturan Bank Indonesia No. 6/17/PBI/2004 pasal 28 ayat 2 dan 3 menyatakan bahwa anggota Dewan Pengawas Syariah yang memiliki kompetensi adalah yang memiliki pengetahuan dan pengalaman pada syariah muamalah dan perbankan atau keuangan secara umum.
54
Dalam penelitian ini pengukuran variabel latar belakang pendidikan Dewan Pengawas Syariah dilakukan dengan cara memberi nilai satu (1) pada Dewan Pengawas Syariah dengan latar belakang pendidikan ilmu syariah muamalah dan pengetahuan di bidang perbankan dan/atau keuangan secara umum. Dan nilai nol (0) pada Dewan Pengawas Syariah dengan latar belakang pendidikan ilmu syariah muamalah atau pengetahuan di bidang perbankan dan/atau keuangan secara umum (hanya salah satu bukan keduanya). Pengukuran variabel latar belakang pendidikan Dewan Pengawas Syariah dalam penelitian ini mengacu pada penelitian yang dilakukan
oleh Endraswati (2017) yang berjudul “Gender Diversity in Board of Director’s and Firm Performance: Study in Indonesia Sharia Banks” serta Farook (2011) penelitiannya yang berjudul “Determinants of Corporate Social Responsibility Disclosure: The Case of Islamic banks”. Kedua pengukuran diatas sebenarnya pengukuran Dewan Direksi. Pengukuran ini diambil karena belum ada riset yang menggunakan pengukuran di atas pada Dewan Pengawas Syariah. I. Metode Analisis Data
Analisis data dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan regresi berganda, yaitu analisis yang digunakan untuk menganalisa data yang bersifat multivariate, artinya veriabel yang mempengaruhi naik turunnya variabel dependen lebih dari satu variabel independen (Bawono, 2006).
55 1. Analisis Statistika Deskriptif
Penelitian ini menggunakan model analisis statistik deskriptif. Analisis deskriptif akan memberikan gambaran (deksripsi) tentang suatu data, meliputi rata-rata (mean), nilai maksimum, nilai minimum, standar deviasi, dari masing-masing data.
2. Uji Asumsi Klasik
Untuk menguji hipotesis penelitian ini menggunakan regresi linier berganda. Sebagai prasyarat regresi linier berganda maka dilakukan uji asumsi klasik untuk memastikan bahwa data penelitian bersifat valid, tidak bias, konsisten dan penaksiran koefisien regresinya bersifat efisien (Ghozali, 2011). Pengujian asumsi klasik meliputi uji multikolonearitas, uji heterokedastisitas dan uji autokorelasi.
a. Uji Normalitas
Uji normalitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi variabel pengganggu atau residual memiliki distribusi normal. Menurut Ghozali (2011) ada dua cara untuk mendeteksi apakah residual berdistribusi normal atau tidak yaitu dengan analisis grafik dan analisis statistik. Cara menganalisis dengan analisis grafik yaitu dengan melihat normal probability plot yang membandingkan distribusi kumulatif dengan distribusi normal. Distribusi normal akan membentuk suatu garis lurus diagonal. Jika distribusi data residual normal, maka garis yang menggambarakan data sesungguhnya akan mengikuti garis diagonalnya. Cara kedua adalah analisis statistik yaitu dengan Uji Kolmogorov-Smirnov yang merupakan pengujian
56
normalitas dengan membandingkan distribusi data (yang akan diuji normalitasnya) dengan distribusi normal baku. Distribusi normal baku adalah data yang telah ditransformasikan ke dalam bentuk Z-Score dan diasumsikan normal. Apabila nilai signifikansi di atas 0,05 menunjukkan bahwa tidak terdapat adanya perbedaan yang signifikan atau hasilnya normal, dan jika nilai signifikansi di bawah 0,05 maka terdapat adanya perbedaan yang signifikan atau hasil tidak normal. b. Uji Multikolinearitas
Uji multikolinearitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi ditemukan adanya korelasi antar variabel independen. Uji ini merupakan uji model. Model Regresi yang baik seharusnya tidak terjadi korelasi antara variabel independen (Ghozali, 2011). Multikolinearitas dapat dilihat dengan cara menganalisis nilai VIF (Varinace Inflation Factor). Suatu model regresi menunjukkan adanya Multikolinearitas jika: (1) Tingkat korelasi > 95%, (2) Nilai Tolerance < 0,10, atau (3) Nilai VIF > 10. Model regresi yang baik seharusnya tidak terjadi korelasi antara variabel independen (Ghozali, 2011). c. Uji Autokorelasi
Uji autokorelasi bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi linear ada korelasi antara kesalahan pengganggu pada periode t dengan kesalahan penganggu pada periode t-1 (sebelumnya) (Ghozali, 2011). Jika terjadi korelasi, maka dinamakan ada problem autokorelasi. Deteksi autokorelasi dilakukan dengan uji Durbin Watson, uji
57
Langrange Multiplier, dan Run Test. Dalam penelitian ini menggunakan uji statistik non-parametrikRuns test.
d. Uji Heterokedastisitas
Uji ini bertujuan untuk menguji apakah dalam suatu model regresi terjadi ketidaksamaan varians dari satu pengamatan ke pengamatan lainnya. Model regresi yang baik adalah regresi yang tidak terjadi heterokedastisitas, dimana titik-titik dalam gambar scatterplot menyebar dan tidak membentuk pola tertentu yang jelas. Jika ada pola tertentu, seperti titik-titik yang ada membentuk pola tertentu yang teratur, maka mengindikasikan telah terjadi heterokedastisitas. Akan tetapi, jika tidak ada pola yang jelas serta titik-titik menyebar di atas dan di bawah angka nol (0) pada sumbu Y, maka tidak terjadi heterokedastisitas (Ghozali, 2011).
3. Analisis Regresi
Uji regresi berganda dilakukan untuk mengetahui pengaruh dari variabel independen terhadap variabel dependen. Uji regeresi berganda
58
digunakan untuk menganalisa nilai variabel dependen (Y) dengan variabel independen yang lebih dari satu (Bawono, 2006). Persamaan regresi berganda dapat berupa sebagai berikut:
KMS = C + β1 Size DPS + β2 Rjabatan DPS + β3 Rapat DPS + β4 Pendidikan DPS + ε
Keterangan:
KMS = Kinerja Maqashid Syariah
β0 = Konstanta
β1,2,3,4 = Koefisien variable X1,2,3,4
Size DPS = Ukuran DPS
RJabatan DPS = Rangkap Jabatan DPS Rapat DPS = Jumlah Rapat DPS
Pendidikan DPS = Latar Belakang Pendidikan DPS
ε = Prediction error
a. Uji R2 (Koefisien Determinasi)
Uji R² dilakukan untuk mengetahui kemampuan variabel independen dalam menjelaskan variasi dependen sangat terbatas. Koefisien ini menunjukan seberapa besar variasi total pada variabel dependen yang dapat dijelaskan oleh variabel bebasnya dalam model regresi tersebut, nilai koefisien determinasi adalah antara 0 sampai 1, nilai determinasi yang mendekati 1 menunjukan variabel dalam model tersebut dapat mewakili permasalahan yang diteliti karena dapat menjelaskan variasi
59
yang terjadi pada variabel dependennya. Nilai R² sama dengan atau mendekati 0 menunjukan kemampuan variabel-variabel independen dalam menjelaskan variasi variabel dependen amat terbatas (Ghozali, 2013). Kelemahan mendasar penggunaan koefisien determinasi adalah bias terhadap jumlah variabel independen yang dimasukkan kedalam model. Setiap tambahan satu variabel independen, maka R² pasti meningkat tidak perduli apakah variabel tersebut berpengaruh secara signifikan terhadap variabel independen. Oleh karena itu banyak peneliti menganjurkan untuk menggunakan nilai Adjusted R² pada saat mengevaluasi mana model regresi terbaik, tidak seperti R² dapat naik atau turun apabila satu variabel independen ditambahkan kedalam model (Ghozali, 2013).
b. Uji F
Uji F dilakukan untuk mengetahui apakah semua variabel independen yang dimasukan dalam model mempunyai pengaruh secara bersama-sama terhadap variabel dependen (Ghozali, 2013). Hasil dari uji F dapat diketahui dengan cara melihat angka probabilitas signifikan (Ghozali, 2013), yaitu:
1) Apabila angka probabilitas signifikasi > 0,05 artinya variabel independen tidak berpengaruh terhadap variabel dependen secara bersama-sama.
60
2) Apabila angka probabilitas signifikasi < 0,05 maka variabel independen berpengaruh terhadap variabel dependen secara bersama-sama.
c. Uji t
Uji t digunakan untuk mengetahui seberapa jauh pengaruh satu variabel penjelas (independen) secara individual dalam menerangkan variasi variabel dependen (Ghozali, 2013). Pengujian ini bertujuan untuk menguji apakah variabel bebas (ukuran DPS, rangkap Jabatan DPS, jumlah rapat DPS dan latar belakang pendidikan DPS) terhadap variabel terikat (kinerja maqashid syariah) berpengaruh parsial atau terpisah. Untuk melihat apakah pengaruh dari variabel independen terhadap variabel dependen dapat diketahui dengan melihat probabilitas signifikasi (Ghozali, 2013). Apabila angka probabilitas signifikasi > 0,05 artinya variabel independen tidak berpengaruh terhadap variabel dependen secara parsial.
61 BAB IV
ANALISIS DATA