BAB III. METODE PENELITIAN
3.6. Definisi Operasional
1. Dukungan keluarga adalah persepsi responden terhadap dukungan yang meliputi: dukungan emosional, dukungan informasi, dukungan
instrumental, dukungan penghargaan, dan dukungan jaringan sosial.
Cara ukur : Pengisian Kuesioner Alat ukur :
- Kuesioner yang dibuat oleh Kusuma (2011) yang terdiri dari 18 pertanyaan. Setiap pertanyaan disediakan 4 pilihan jawaban, yaitu, Tidak Pernah, Kadang-Kadang, Sering, dan Selalu. Setiap jawaban akan diberi skor dengan menggunakan skala likert 0-3.
Hasil ukur :
- Skor total berentang 0-54. Pengkategorian menggunakan rumus cut off point 75% dari total skor (54):
0= ≥ 40,5: Suportif 1= < 40,5: Non-suportif
Skala pengukuran : Ordinal
2. Kualitas Hidup adalah Persepsi individu mengenai posisi mereka dalam kehidupan dilihat dari konteks budaya dan sistem nilai dimana mereka tinggal serta hubungannya dengan tujuan, harapan, standar, dan hal-hal lain yang menjadi perhatian individu tersebut.
Cara ukur : Pengisian kuesioner
Alat ukur : Kuesioner kualitas hidup SF-36
Hasil ukur :
- Skor akhir (0-100) :
0-50 : kualitas hidup buruk 50-100 : kualitas hidup baik Skala pengukuran : Nominal
3. Umur dihitung berdasarkan tanggal lahir, dihitung sampai ulang tahun terakhir
Cara ukur : Wawancara
Alat ukur : Kuesioner umur dalam tahun Hasil ukur : Dinyatakan dalam tahun Skala pengukuran : Rasio
4. Jenis kelamin
Cara ukur : Wawancara
Alat ukur : Kuesioner karakteristik responden tentang jenis kelamin responden berupa laki-laki atau perempuan Hasil ukur : Jenis kelamin dinyatakan dengan Laki-laki Perempuan
Skala pengukuran : Nominal
5. Pekerjaan
Cara ukur : Wawancara
Alat ukur : Kuesioner tentang pekerjaan responden Hasil ukur : 1: tidak bekerja/ IRT
2: petani/pedagang/ buruh 3: PNS/TNI/POLRI 4: dan lain-lain Skala pengukuran : Nominal
6. Tingkat pendidikan terakhir Cara ukur : Wawancara
Alat ukur : Kuesioner tentang pendidikan responden Hasil ukur : 1: Tidak sekolah
2: SD 3: SMP 4: SMA
5: PT/Akademik Skala pengukuran : Nominal
7. Status pernikahan
Cara ukur : Wawancara
Alat ukur : Kuesioner tentang status pernikahan responden Hasil ukur : 1: menikah
2: tidak/belum menikah 3: janda/duda
Skala pengukuran : Nominal
8. Indeks massa tubuh (IMT)
Cara ukur : berat badan / (tinggi badan x tinggi badan) Alat ukur : timbangan dan meteran
Hasil ukur :
- ≤18,4 kg/m2 : kurus
- 18,5 kg/m2– 25 kg/m2 : normal - ≥25kg/m2 : gemuk
Skala pengukuran : Ordinal 9. Lama menderita DM
cara ukur : wawancara
Alat ukur : kuesioner tentang lama menderita DM Hasil ukur : <10 tahun, ≥10 tahun
Skala pengukuran : Nominal
4.1 HASIL PENELITIAN
Proses pengambilan data untuk penelitian ini dilakukan pada bulan September 2017- November 2017 di Puskesmas Amplas Medan. Berdasarkan data yang telah dikumpulkan, dapat disimpulkan hasil penelitian seperti yang terpapar di bawah ini.
4.1.1 Deskripsi lokasi penelitian
Secara geografis Kecamatan Medan Amplas memiliki luas wilayah 1.377,3 Ha, dengan 7 kelurahan dan 77 lingkungan. Jumlah penduduk di Kecamatan Amplas sebanyak 130.985 jiwa dengan jumlah kepala keluarga sebanyak 27.298.Puskesmas Amplas terletak di Jalan Garu II B, Kelurahan Harjosari I, Kecamatan Medan Amplas, Lingkungan XII. Puskesmas ini memiliki 7 wilayah kerja yaitu, Kelurahan Harjosari I, Harjosari II, Timbang Deli, Amplas, Sitirejo II, Sitirejo III, dan Bangun Mulia.
4.1.2 Karakteristik pasien DM Tipe 2 di Puskesmas Amplas Medan
Seratus pasien yang terlibat dalam penelitian ini merupakan pasien DM Tipe 2 yang menjalani rawat jalan di Puskesmas Amplas Medan. Setiap pasien dalam penelitian merupakan pasien yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi yang telah ditetapkan. Semua data pasien yang diambil merupakan data primer yaitu wawancara dan pengukuran langsung pada pasien DM Tipe 2. Data karakteristik yang dinilai pada penelitian ini adalah usia, jenis kelamin, pekerjaan, tingkat pendidikan terakhir, lama menderita DM, status pernikahan, dan indeks massa tubuh pasien DM Tipe 2.
Tabel 4.1 Karakteristik Pasien DM Tipe 2 di Puskesmas Amplas Medan. oleh pasien yang berada di kelompok lansia akhir yaitu sebanyak 67 orang (67%).
Untuk jenis kelamin, didapatkan DM Tipe 2 lebih banyak diderita oleh perempuan
yaitu sebanyak 60 orang (60%). Untuk pekerjaan, DM Tipe 2 paling banyak diderita oleh pasien yang tidak memiliki pekerjaan, yaitu sebanyak 36 orang (36%). Untuk tingkat pendidikan terakhir, DM Tipe 2 paling banyak ditemukan pada kelompok pasien yang memiliki tingkat pendidikan akhir Perguruan Tinggi (PT), yaitu sebanyak 34 orang (34%). Sementara untuk lama DM Tipe 2, didapatkan jumlah pasien dengan lama menderita DM Tipe 2 kurang dari 10 tahun adalah sebanyak 67 orang (67%). Untuk status pernikahan pasien DM Tipe 2 di Puskesmas Amplas, sebagian besar atau sebanyak 98 pasien (98%) yang menderita DM Tipe 2 sudah menikah dan hanya 2 pasien (2%) yang belum menikah. Untuk indeks massa tubuh (IMT), sebanyak 43 pasien DM Tipe 2 (43%) berada di kategori obesitas.
4.1.3 Dukungan keluarga pasien DM Tipe 2 di Puskesmas Amplas Medan
Untuk menilai dukungan keluarga pada 100 pasien, digunakan kuesioner Dukungan Keluarga Kusuma (2011) yang telah divalidasi. Kuesioner tersebut meliputi 18 pertanyaan. Semakin tinggi skor total maka semakin tinggi dukungan keluarga pasien DM. Dari hasil jawaban pasien dapat ditentukan dukungan keluarga pasien. Tabel dibawah menjelaskan dukungan keluarga pada pasien DM.
Tabel 4.2 Dukungan Keluarga Pasien DM Tipe 2 di Puskesmas Amplas Medan.
Dukungan Keluarga Frekuensi (orang) Persentase (%)
Suportif 55 55
Tidak Suportif 45 45
Jumlah 100 100
Berdasarkan Tabel 4.2, pasien yang mendapatkan dukungan keluarga yang bersifat suportif ada sebanyak 55 pasien (55 %), sedangkan untuk yang tidak suportif ada 45 pasien (45%).
4.1.4 Kualitas hidup pasien DM Tipe 2 di Puskesmas Amplas Medan
Sementara untuk menilai kualitas hidup pasien responden, penelitian ini menggunakan kuesioner SF-36 (versi Indonesia) yang terstruktur dan yang telah
divalidasi. Kuesioner tersebut terdiri dari 36 pertanyaan. Semakin tinggi skor total kualitas hidup semakin baik kualitas hidupnya. Untuk lebih jelasnya, dapat dilihat pada tabel di bawah ini.
Tabel 4.3 Kualitas Hidup Pasien DM Tipe 2 di Puskesmas Amplas Medan.
Kualitas Hidup Frekuensi (Orang) Persentase (%)
Baik 82 82
Buruk 18 18
Jumlah 100 100
Berdasarkan Tabel 4.3, kualitas hidup pasien yang dinilai baik ada sebanyak 82 pasien (82%). Sementara untuk kualitas hidup buruk ada 18 pasien (18%).
4.1.5 Hubungan dukungan keluarga dengan kualitas hidup pasien DM Tipe 2 di Puskesmas Amplas Medan
Setelah itu, data yang telah dikumpulkan di-entry ke software SPSS untuk dianalisis mengenai hubungan dukungan keluarga dengan kualitas hidup pasien.
Berikut adalah tabel hubungan dukungan keluarga dengan kualitas hidup pasien.
Tabel 4.4 Hubungan Dukungan Keluarga dengan Kualitas Hidup Pasien DM Tipe 2 di Puskesmas Amplas Medan.
Dukungan keluarga Kualitas hidup
Jumlah
Baik Buruk P
Suportif 50 5 55
Tidak Suportif 32 13 45 0,010
Jumlah 82 18 100
Tabel 4.4 menunjukkan hubungan dukungan keluarga dengan kualitas hidup pasien DM Tipe 2. Pasien yang memiliki dukungan keluarga yang suportif dan kualitas hidup baik dijumpai pada 50 pasien (50%). Sementara untuk pasien dengan dukungan keluarga suportif namun kualitas hidup buruk, dijumpai pada 5 pasien (5%). Dukungan keluarga tidak suportif dan kualitas hidup baik dijumpai
pada 32 responden (32%). Untuk dukungan keluarga tidak suportif dan kualitas hidup buruk dijumpai pada 13 responden (13%).
Setelah dilakukan uji hipotesis dengan metode Chi Square dengan tingkat kemaknaan 0,05 (α = 5%), diperoleh nilai p value adalah 0,010 (p< 0,05) yang berarti bahwa ada hubungan antara dukungan keluarga dengan kualitas hidup pasien Diabetes Melitus Tipe 2.
4.2 PEMBAHASAN
4.2.1 Karakteristik pasien DM Tipe 2 di Puskesmas Amplas Medan
Hasil penelitian menunjukkan pasien DM Tipe 2 paling banyak dijumpai pada kelompok usia lansia akhir (56-65 tahun). Usia mempengaruhi risiko dan angka kejadian DM Tipe 2. Usia sangat erat kaitannya dengan kenaikan kadar glukosa darah, sehingga semakin meningkatnya usia maka prevalensi DM Tipe 2 dan gangguan toleransi glukosa semakin tinggi. Proses menua berlangsung setelah usia 30 tahun mengakibatkan perubahan anatomis, fisiologis, dan biokimia (Yusra,2011). Menurut WHO, setelah usia 30 tahun, maka kadar glukosa akan naik 1-2 mg/dl/tahun pada saat puasa dan akan naik 5,6-13 mg/dl pada 2 jam setelah makan (Sudoyo, 2006 dalam Yusra, 2011). Kondisi ini ternyata tidak hanya disebabkan oleh faktor usia saja, tetapi tergantung juga pada lamanya penderita bertahan pada kondisi tersebut. Sejumlah penelitian menunjukan bahwa terdapat peningkatan kasus hingga mencapai usia 60 tahun. Menurut PERKENI, orang pada usia di atas 45 tahun harus dilakukan pemeriksaan DM.
Untuk jenis kelamin, dari hasil penelitian, didapatkan bahwa sebagian besar pasien DM Tipe 2 adalah perempuan. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Yusra A (2011). Dalam penelitian tersebut didapatkan sebanyak 60,8% perempuan menderita DM Tipe 2. Prevalensi kejadian DM Tipe 2 pada wanita lebih tinggi daripada laki-laki karena secara fisik wanita memiliki peluang peningkatan indeks masa tubuh yang lebih besar. Sindroma siklus bulanan (premenstrual syndrome), pasca-menopouse yang membuat distribusi lemak tubuh menjadi mudah terakumulasi akibat proses hormonal tersebut sehingga
wanita berisiko menderita diabetes mellitus tipe 2 (Irawan, 2010 dalam Trisnawati dkk, 2013). Namun, dalam penelitian yang dilakukan oleh Wicaksono (2011) disebutkan tidak ada hubungan antara jenis kelamin dengan prevalensi kejadian DM Tipe 2. Begitu juga dengan penelitian yang dilakukan oleh Sari (2016). Pada penelitian tersebut, didapatkan lebih banyak responden berjenis kelamin perempuan (52,2%), namun setelah dilakukan analisis jenis kelamin dengan angka kejadian DM Tipe 2, hasil analisis menunjukkan tidak adanya hubungan antara jenis kelamin dengan angka kejadian DM Tipe 2.
Dari segi pekerjaan, pada hasil penelitian, didapatkan DM Tipe 2 paling banyak diderita oleh pasien yang tidak bekerja atau ibu rumah tangga. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Tamara, Bayhakki, dan Nauli (2014). Dalam penelitian ini disebutkan bahwa kemungkinan pekerjaan yang dilakukan oleh orang yang tidak bekerja atau ibu rumah tangga, lebih sedikit daripada orang yang memiliki aktivitas di luar rumah. Menurut Black dan Hawks (2005) dalam Tamara, Bayhakki, dan Nauli (2014), bahwa aktivitas fisik dapat meningkatkan sensitivitas insulin dan memiliki efek terhadap penurunan kadar glukosa darah. Pernyataan ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Umami (2013) dalam penelitiannya yang berjudul Perbedaan Kadar Gula Darah Sebelum dan Sesudah Senam Diabetes pada Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 di Persadia Rumah Sakit Sari Asih Ciputat. Pada penelitian tersebut didapatkan adanya perbedaan kadar gula darah pasien DM Tipe 2 sebelum dan sesudah senam diabetes (p=0,0048).
Selanjutnya, untuk tingkat pendidikan terakhir pasien, hasil penelitian menunjukkan paling banyak pasien memiliki tingkat pendidikan terakhir memasuki perguruan tinggi (34%). Berdasarkan penelitian sebelumnya, yang dilakukan oleh Trisnawati dan Setyorogo (2012), pasien DM Tipe 2 paling banyak ditemukan pada pasien dengan pendidikan terakhir tamat SD. Menurut Irawan (2010) dalam Trisnawati dan Setyorogo (2012), tingkat pendidikan memiliki pengaruh terhadap kejadian penyakit DM Tipe 2. Orang yang tingkat pendidikannya tinggi biasanya akan memiliki banyak pengetahuan tentang kesehatan. Dengan adanya pengetahuan tersebut oarang akan memiliki kesadaran
dalam menjaga kesehatannya. Namun, setelah dilakukan analisis lebih lanjut pada penelitian tersebut, kesimpulan yang didapat adalah tidak ada hubungan yang signifikan antara pendidikan dengan kejadian DM Tipe 2.
Berdasarkan hasil penelitian, didapatkan kebanyakan lama pasien menderita DM Tipe 2 adalah kurang dari 10 tahun. Lama menderita DM Tipe 2 sering dikaitkan dengan terjadinya komplikasi pada pasien DM Tipe 2, di mana pada akhirnya akan berhubungan dengan kualitas hidup pasien.
Status pernikahan pasien pada penelitian ini didapatkan sebagian besar responden sudah menikah. Status perkawinan diyakini memiliki hubungan dengan kejadian diabetes melitus di masyarakat. Status perkawinan diyakini memiliki pengaruh terhadap kebiasaan atau gaya hidup dan pola makan serta aktivitas fisik yang dilakukan (Irawan, 2010).
Dari hasil penelitian, indeks massa tubuh (IMT) pasien DM Tipe 2 paling banyak pada kategori obesitas. Hasil ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Irawan (2010). Pada penelitian tersebut, didapatkan bahwa orang yang mengalami kegemukan memiliki risiko 2,11 kali, sedangkan orang yang mengalami obesitas berisiko 3,46 kali untuk menderita diabetes melitus dibanding orang yang tidak mengalami kegemukan.
4.2.2 Dukungan keluarga pasien DM Tipe 2 di Puskesmas Amplas Medan
Penelitian menunjukkan sebagian besar pasien DM Tipe 2 di Puskesmas Amplas mendapat dukungan keluarga yang suportif. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Chusmeywati (2016). Hasil penelitian tersebut juga mendapatkan sebagian besar pasien DM Tipe 2 mendapat dukungan keluarga yang baik dari keluarga mereka.
Dukungan keluarga adalah sikap, tindakan dan penerimaan keluarga terhadap penderita yang sakit. Dukungan bisa berasal dari orang lain (orangtua, anak, suami, istri atau saudara) yang dekat dengan subjek dimana bentuk dukungan berupa informasi, tingkah laku tertentu atau materi yang dapat menjadikan individu merasa disayangi, diperhatikan dan dicintai (Ali, 2009 dalam Tamara, Bayhakki, & Nauli, 2014).
Dukungan keluarga sangat diperlukan karena sangat dibutuhkan kepatuhan pasien dalam menjalani terapi yang diberikan, seperti pembatasan asupan makanan, aktivitas fisik, dan pemantauan mandiri kadar gula darah (Miller &
Dimatteo, 2013). Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Tabasi, Madarshahian, Nikoo, dan Hassanabadi (2014). Penelitian dengan randomized control trial tersebut yang dilakukan pada 91 pasien dengan kelompok intervensi 45 responden dan kelompok kontrol 46 pasien mendapatkan hasil peningkatan kepatuhan pasien DM Tipe 2 terhadap terapi yang diberikan (r=0,67, p<0,001).
Dari hasil wawancara dengan pasien DM Tipe 2 di Puskesmas Amplas, ditemukan sebagian besar pasien merasakan dukungan dari keluarganya. Namun, ada pula yang tidak. Sebagian pasien dapat secara mandiri tanpa dukungan dari keluarga dalam mengurus dirinya sendiri dalam menjalani pengobatan yang diberikan.
4.2.3 Kualitas hidup pasien DM Tipe 2 di Puskesmas Amplas Medan
Berdasarkan hasil penelitian, didapatkan sebagian besar pasien DM Tipe 2 memiliki kualitas hidup yang baik. Kualitas hidup didefinisikan sebagai persepsi individu dari posisi individu dalam kehidupan dalam konteks sistem budaya dan nilai dimana individu hidup dan dalam kaitannya dengan tujuan, harapan, standar dan kekhawatiran. Kualitas hidup adalah konsep yang luas mulai terpengaruh dengan cara yang kompleks dengan kesehatan fisik individu, keadaan psikologis, keyakinan pribadi, hubungan sosial dan hubungan individu dengan fiturfitur penting dari lingkungan individu (WHO). Menurut Kiadaliri (2013) dalam systematic review berjudul Quality of Life in Diabetes : A Systematic Review in Iran, didapatkan faktor-faktor yang berpengaruh terhadap kualitas hidup pasien DM, yaitu ada tidaknya komplikasi, usia penderita DM, status sosioekonomi, jenis kelamin perempuan, status perkawinan, kadar HbA1c, dan IMT pasien.
Ada tidaknya komplikasi berhubungan dengan lama pasien menderita DM Tipe 2. Dalam penelitian Yusra (2011), hasil analisis hubungan antara lama menderita DM dengan kualitas hidup menunjukkan semakin lama menderita DM maka semakin buruk pula kualitas hidup pasien DM Tipe 2, namun, hasil tersebut
tidak kuat. Hasil uji statistik lebih lanjut menunjukkan tidak ada hubungan yang bermakna antara lama menderita DM dengan kualitas hidup responden (p=0,085).
Hasil ini juga sejalan dengan penelitian Retnowati dan Satyabakti (2015). Hasil analisis hubungan antara lama menderita DM dengan kualitas hidup responden dalam penelitian ini menunjukkan tidak ada hubungan di antara keduanya.
Adapun yang berhubungan dengan kualitas hidup pasien DM Tipe 2 adalah status perkawinan pasien tersebut. Orang yang menikah biasanya memiliki pola makan yang lebih teratur, selain itu status perkawinan juga memiliki pengaruh terhadap kondisi kejiwaan seseorang (Irawan, 2010). Hasil analisis hubungan antara status pernikahan dengan kualitas hidup responden dalam penelitian Retnowati dan Setyabakti (2015) menunjukkan ada hubungan signifikan di antara keduanya. Penelitian empiris di Iran menunjukkan bahwa individu yang menikah memiliki skor kualitas hidup lebih tinggi daripada individu yang tidak menikah atau berstatus janda/duda (Kiadaliri, Najafi, dan Sani, 2013).
4.2.4 Hubungan dukungan keluarga dengan kualitas hidup pasien DM Tipe 2 di Puskesmas Amplas Medan
Hasil penelitian ini menunjukkan adanya hubungan dukungan keluarga dengan kualitas hidup pasien DM Tipe 2 di Puskesmas Amplas. Hasil ini sejalan dengan hasil penelitian Tamara, Bayhakki & Nauli (2014). Penelitian dengan desain penelitian cross sectional yang dilakukan di RSUD Arifin Achmad Provinsi Riau melibatkan 46 responden mendapatkan hasil, yaitu terdapat hubungan dukungan keluarga dengan kualitas hidup pasien DM Tipe 2 (p=0,003).
Namun, hasil ini bertentangan dengan penelitian yang dilakukan oleh Suardana, Rasdini, dan Kusmarjathi (2015). Penelitian dengan metode penelitian cross sectional melibatkan 40 responden didapatkan tidak ada hubungan bermakna antara dukungan keluarga dengan kualitas hidup pasien DM Tipe 2 (r=-0,209;
p=0,195).
Coffmann (2008) dalam Yusra (2011) dalam penelitiannya menyatakan bahwa keluarga merupakan sumber dukungan paling utama. Dukungan yang diberikan dilihat dari 4 dimensi, yaitu dimensi emosional, dimensi penghargaan, dimensi
instrumental, dan dimensi informasi. Disampaikan juga bahwa dukungan dari keluarga berkaitan erat dengan kepatuhan pasien terhadap pengobatan, sehingga akan mempengaruhi kualitas hidupnya.
Dalam penelitian Tamara, Bayhakki, dan Nauli (2014), dinyatakan pasien DM Tipe 2 yang berada dalam lingkungan keluarga dan diperhatikan oleh anggota keluarganya akan dapat menimbulkan perasaan aman dan nyaman sehingga akan menumbuhkan motivasi untuk melaksanakan perawatan diri. Perasaan nyaman dan aman yang timbul dalam diri pasien DM tipe 2 akan muncul karena adanya dukungan baik emosional, penghargaan, instrumental dan informasi dari keluraga.
Kondisi inilah yang akan mencegah munculnya stress dan mengurangi kecemasan pada pasien DM tipe 2.
5.1 KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian, adapun kesimpulan yang dapat peneliti buat adalah sebagai berikut :
1. Karakteristik demografi responden di Puskesmas Amplas Medan dalam penelitian ini sebagian besar berada di kelompok usia lansia akhir, berjenis kelamin perempuan, tidak bekerja, tingkat pendidikan terakhir perguruan tinggi, lama menderita DM kurang dari 10 tahun, sebagian besar sudah menikah dan memiliki indeks massa tubuh obesitas.
2. Sebagian besar responden di Puskesmas Amplas memiliki dukungan keluarga yang suportif.
3. Mayoritas responden di Puskesmas Amplas mempunyai kualitas hidup yang baik.
4. Ada hubungan yang signifikan antara dukungan keluarga dan kualitas hidup pada pasien DM Tipe 2 di Puskesmas Amplas Medan.
5.2 SARAN
Saran yang dapat penulis sampaikan pada penelitian ini adalah:
1. Kepada Dokter : Perlu dilakukan edukasi kepada keluarga pasien mengenai besarnya pengaruh dukungan keluarga terhadap kualitas hidup pasien DM Tipe 2, terutama dalam hal kepatuhan pasien dalam menjalani terapi yang diberikan.
2. Kepada Pihak Puskesmas : dapat dilakukan penyuluhan tentang pengetahuan dan edukasi mengenai pentingnya dukungan keluarga dalam mempengaruhi kualitas hidup pasien DM Tipe 2.
3. Kepada Peneliti Selanjutnya : Peneliti berharap penelitian ini dapat dijadikan sebagai pedoman dalam melakukan penelitian selanjutnya
dengan memperluas variabel-variabel lainnya.
5, 24 Juni, h.3.
American Diabetes Association , 2014, Diagnosis and Classification of Diabetes Mellitus, vol. 37, supp. 1, Januari, h.1.
Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementrian RI Tahun 2013, Riskesdas 2013.
Kementrian Kesehatan Republik Indonesia, 2009, Tahun 2030 Diabetes Melitus di Indonesia Mencapai 20,3 Juta Orang, Jakarta, dilihat 25 April 2017,
<http://www.depkes.go.id/article/view/414/tahun-2030-prevalensi-diabetes-melitus-di-indonesia-mencapai-213-juta-orang.html>
Chusmeywati, V. 2016, ‘Hubungan dukungan keluarga terhadap kualitas hidup penderita diabetes melitus di RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta Unit II’, naskah publikasi Sarjana Ilmu Keperawatan pada Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Yogyakarta. h. 3.
Damawiyah, S. 2015, Pengaruh penerapan discharge planning dengan family centered nursing terhadap motivasi dan kesiapan keluarga dalam merawat pasien stroke pasca akut di RS Islam Surabaya, tesis Magister Keperawatan Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro, Semarang.h.41.
Ganong, W. F. 2008, Fisiologi Kedokteran, EGC, Jakarta.
Infodatin Pusat Data dan Informasi Kementrian Kesehatan RI, 2014, Situasi dan Analisis Diabetes, KemenkesRI, Jakarta.
International Diabetes Federation, 2015, Diabetes complication, Brussels, dilihat 25 April 2017, <http://www.idf.org/complications-diabetes>
International Diabetes Federation (IDF), 2013, Diabetes Surge Hits Every Nation, IDF, Brussels.
Irawan, D. 2010, ‘Prevalensi dan Faktor Risiko Kejadian Diabetes Melitus Tipe 2 di Daerah Urban Indonesia’, tesis Fakultas Kesehatan Masyarakat Program Studi Ilmu Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia.
KAKU, K. 2010,’ Pathophysiology of type 2 diabetes and its treatment policy’, Japan Medical Association Journal, vol.53, no.1, h.43.
Kiadaliri, A. A., Najafi, B., Mirmalek-Sani, M. 2013, ‘Quality of life in patient with diabetes’, Journal of Diabetes and Metabolic Disorders, vol.12, no.54, h.3.
Kusuma, H. 2011, ‘Hubungan Antara Depresi dan Dukungan Keluarga dengan Kualitas Hidup Pasien HIV/AIDS yang Menjalani Perawatan di RSUPN Cipto Mangunkusumo Jakarta’, Tesis, Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, Depok.
Lailiyah, K. 2010, ‘Analisis Deskriptif Penggunaan Obat dengan Kualitas Hidup Pasien Diabetes Melitus Rawat Jalan Rumah Sakit Umum Daerah di Moewardi Surakarta’, skripsi sarjana farmasi, Universitas Muhammadiyah Surakarta.
Miller, T. A., DiMatteo, M R 2013, ‘Importance of family/social support and impact on adherence to diabetic therapy’, Dovepress Journal, vol.6, 5 November, h.1.
Perkumpulan Endokrinologi Indonesia, 2015, Konsensus Pengelolaan dan Pencegahan Diabetes Melitus Tipe 2 di Indonesia 2015, PERKENI, Indonesia.
Purnamasari, D. 2014, ‘Diagnosis dan klasifikasi diabetes melitus’ in Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam, InternaPublishing, Jakarta.
RAND Corporation, 36-Item short form survey (SF-36) scoring instructions, RAND Corporation, California.
Retnowati, N., Satyabakti, P. 2015, ‘Hubungan dukungan keluarga dengan kualitas hidup Penderita Diabetes Melitus Tipe 2 di Puskesmas Tanah Kalidinding’, Jurnal Berkala Epidemiologi, vol.3, no.1, h.5-6.
Riskifani, S., Perwitasari, D. A., W., Supadmi 2014, ‘Pengukuran Kualitas Hidup Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 di RS PKU Muhammadiyah Bantul’, vol.2, no.3, 8 April 2014, h.2.
Romero, M., Vivas-Consuelo, D., Alvis-Gusman, N. 2013, ‘Is Health Related Quality of life a valid indicator for health systems evaluation?’, a SpringOpen Journal, vol.2, no.1, p.2.
Sari, M. A. 2016, ‘Faktor Risiko Kejadian Diabetes Melitus Tipe II pada Masyarakat Urban Kota Semarang’, skripsi Sarjana Kesehatan Masyarakat, Universitas Negeri Semarang.
Suardana, K. I., Rasdini, I. G.A., Kusmarjathi, N. K. 2015, ‘Hubungan Dukungan Sosial Keluarga dengan Kualitas Hidup Pasien Diabetes Mellitus Tipe II di Puskesmas IV Denpasar Selatan’, Jurnal Skala Husada, vol.12, no. 1, h. 1.
Tabasi, H. K., Madarshahian, F., Nikoo, M. K., et al. 2014, ‘Impact of family support improvement behaviors on anti diabetic medication adherence and cognition in type 2 diabetic patients’, Journal of Diabetes and Metabolic Disorders, vol. 13, no.113, h.1.
Tamara, E., Bayhakki, Nauli, F.A. 2014, ‘Hubungan antara Dukungan Keluarga dan Kualitas Hidup Pasien Diabetes Melitus Tipe II di RSUD Arifin Achmad Provinsi Riau’, vol.1, no.2, h. 7.
Trisnawati, S. K., Setyorogo, S. 2013, ‘Faktor Risiko Kejadian Diabetes Melitus Tipe II di Puskesmas Kecamatan Cekareng Jakarta Barat Tahun 2012’,
Trisnawati, S. K., Setyorogo, S. 2013, ‘Faktor Risiko Kejadian Diabetes Melitus Tipe II di Puskesmas Kecamatan Cekareng Jakarta Barat Tahun 2012’,