BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.2 Pembahasan
4.2.1 Karakteristik pasien DM Tipe 2 di Puskesmas Amplas Medan
Hasil penelitian menunjukkan pasien DM Tipe 2 paling banyak dijumpai pada kelompok usia lansia akhir (56-65 tahun). Usia mempengaruhi risiko dan angka kejadian DM Tipe 2. Usia sangat erat kaitannya dengan kenaikan kadar glukosa darah, sehingga semakin meningkatnya usia maka prevalensi DM Tipe 2 dan gangguan toleransi glukosa semakin tinggi. Proses menua berlangsung setelah usia 30 tahun mengakibatkan perubahan anatomis, fisiologis, dan biokimia (Yusra,2011). Menurut WHO, setelah usia 30 tahun, maka kadar glukosa akan naik 1-2 mg/dl/tahun pada saat puasa dan akan naik 5,6-13 mg/dl pada 2 jam setelah makan (Sudoyo, 2006 dalam Yusra, 2011). Kondisi ini ternyata tidak hanya disebabkan oleh faktor usia saja, tetapi tergantung juga pada lamanya penderita bertahan pada kondisi tersebut. Sejumlah penelitian menunjukan bahwa terdapat peningkatan kasus hingga mencapai usia 60 tahun. Menurut PERKENI, orang pada usia di atas 45 tahun harus dilakukan pemeriksaan DM.
Untuk jenis kelamin, dari hasil penelitian, didapatkan bahwa sebagian besar pasien DM Tipe 2 adalah perempuan. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Yusra A (2011). Dalam penelitian tersebut didapatkan sebanyak 60,8% perempuan menderita DM Tipe 2. Prevalensi kejadian DM Tipe 2 pada wanita lebih tinggi daripada laki-laki karena secara fisik wanita memiliki peluang peningkatan indeks masa tubuh yang lebih besar. Sindroma siklus bulanan (premenstrual syndrome), pasca-menopouse yang membuat distribusi lemak tubuh menjadi mudah terakumulasi akibat proses hormonal tersebut sehingga
wanita berisiko menderita diabetes mellitus tipe 2 (Irawan, 2010 dalam Trisnawati dkk, 2013). Namun, dalam penelitian yang dilakukan oleh Wicaksono (2011) disebutkan tidak ada hubungan antara jenis kelamin dengan prevalensi kejadian DM Tipe 2. Begitu juga dengan penelitian yang dilakukan oleh Sari (2016). Pada penelitian tersebut, didapatkan lebih banyak responden berjenis kelamin perempuan (52,2%), namun setelah dilakukan analisis jenis kelamin dengan angka kejadian DM Tipe 2, hasil analisis menunjukkan tidak adanya hubungan antara jenis kelamin dengan angka kejadian DM Tipe 2.
Dari segi pekerjaan, pada hasil penelitian, didapatkan DM Tipe 2 paling banyak diderita oleh pasien yang tidak bekerja atau ibu rumah tangga. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Tamara, Bayhakki, dan Nauli (2014). Dalam penelitian ini disebutkan bahwa kemungkinan pekerjaan yang dilakukan oleh orang yang tidak bekerja atau ibu rumah tangga, lebih sedikit daripada orang yang memiliki aktivitas di luar rumah. Menurut Black dan Hawks (2005) dalam Tamara, Bayhakki, dan Nauli (2014), bahwa aktivitas fisik dapat meningkatkan sensitivitas insulin dan memiliki efek terhadap penurunan kadar glukosa darah. Pernyataan ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Umami (2013) dalam penelitiannya yang berjudul Perbedaan Kadar Gula Darah Sebelum dan Sesudah Senam Diabetes pada Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 di Persadia Rumah Sakit Sari Asih Ciputat. Pada penelitian tersebut didapatkan adanya perbedaan kadar gula darah pasien DM Tipe 2 sebelum dan sesudah senam diabetes (p=0,0048).
Selanjutnya, untuk tingkat pendidikan terakhir pasien, hasil penelitian menunjukkan paling banyak pasien memiliki tingkat pendidikan terakhir memasuki perguruan tinggi (34%). Berdasarkan penelitian sebelumnya, yang dilakukan oleh Trisnawati dan Setyorogo (2012), pasien DM Tipe 2 paling banyak ditemukan pada pasien dengan pendidikan terakhir tamat SD. Menurut Irawan (2010) dalam Trisnawati dan Setyorogo (2012), tingkat pendidikan memiliki pengaruh terhadap kejadian penyakit DM Tipe 2. Orang yang tingkat pendidikannya tinggi biasanya akan memiliki banyak pengetahuan tentang kesehatan. Dengan adanya pengetahuan tersebut oarang akan memiliki kesadaran
dalam menjaga kesehatannya. Namun, setelah dilakukan analisis lebih lanjut pada penelitian tersebut, kesimpulan yang didapat adalah tidak ada hubungan yang signifikan antara pendidikan dengan kejadian DM Tipe 2.
Berdasarkan hasil penelitian, didapatkan kebanyakan lama pasien menderita DM Tipe 2 adalah kurang dari 10 tahun. Lama menderita DM Tipe 2 sering dikaitkan dengan terjadinya komplikasi pada pasien DM Tipe 2, di mana pada akhirnya akan berhubungan dengan kualitas hidup pasien.
Status pernikahan pasien pada penelitian ini didapatkan sebagian besar responden sudah menikah. Status perkawinan diyakini memiliki hubungan dengan kejadian diabetes melitus di masyarakat. Status perkawinan diyakini memiliki pengaruh terhadap kebiasaan atau gaya hidup dan pola makan serta aktivitas fisik yang dilakukan (Irawan, 2010).
Dari hasil penelitian, indeks massa tubuh (IMT) pasien DM Tipe 2 paling banyak pada kategori obesitas. Hasil ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Irawan (2010). Pada penelitian tersebut, didapatkan bahwa orang yang mengalami kegemukan memiliki risiko 2,11 kali, sedangkan orang yang mengalami obesitas berisiko 3,46 kali untuk menderita diabetes melitus dibanding orang yang tidak mengalami kegemukan.
4.2.2 Dukungan keluarga pasien DM Tipe 2 di Puskesmas Amplas Medan
Penelitian menunjukkan sebagian besar pasien DM Tipe 2 di Puskesmas Amplas mendapat dukungan keluarga yang suportif. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Chusmeywati (2016). Hasil penelitian tersebut juga mendapatkan sebagian besar pasien DM Tipe 2 mendapat dukungan keluarga yang baik dari keluarga mereka.
Dukungan keluarga adalah sikap, tindakan dan penerimaan keluarga terhadap penderita yang sakit. Dukungan bisa berasal dari orang lain (orangtua, anak, suami, istri atau saudara) yang dekat dengan subjek dimana bentuk dukungan berupa informasi, tingkah laku tertentu atau materi yang dapat menjadikan individu merasa disayangi, diperhatikan dan dicintai (Ali, 2009 dalam Tamara, Bayhakki, & Nauli, 2014).
Dukungan keluarga sangat diperlukan karena sangat dibutuhkan kepatuhan pasien dalam menjalani terapi yang diberikan, seperti pembatasan asupan makanan, aktivitas fisik, dan pemantauan mandiri kadar gula darah (Miller &
Dimatteo, 2013). Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Tabasi, Madarshahian, Nikoo, dan Hassanabadi (2014). Penelitian dengan randomized control trial tersebut yang dilakukan pada 91 pasien dengan kelompok intervensi 45 responden dan kelompok kontrol 46 pasien mendapatkan hasil peningkatan kepatuhan pasien DM Tipe 2 terhadap terapi yang diberikan (r=0,67, p<0,001).
Dari hasil wawancara dengan pasien DM Tipe 2 di Puskesmas Amplas, ditemukan sebagian besar pasien merasakan dukungan dari keluarganya. Namun, ada pula yang tidak. Sebagian pasien dapat secara mandiri tanpa dukungan dari keluarga dalam mengurus dirinya sendiri dalam menjalani pengobatan yang diberikan.
4.2.3 Kualitas hidup pasien DM Tipe 2 di Puskesmas Amplas Medan
Berdasarkan hasil penelitian, didapatkan sebagian besar pasien DM Tipe 2 memiliki kualitas hidup yang baik. Kualitas hidup didefinisikan sebagai persepsi individu dari posisi individu dalam kehidupan dalam konteks sistem budaya dan nilai dimana individu hidup dan dalam kaitannya dengan tujuan, harapan, standar dan kekhawatiran. Kualitas hidup adalah konsep yang luas mulai terpengaruh dengan cara yang kompleks dengan kesehatan fisik individu, keadaan psikologis, keyakinan pribadi, hubungan sosial dan hubungan individu dengan fiturfitur penting dari lingkungan individu (WHO). Menurut Kiadaliri (2013) dalam systematic review berjudul Quality of Life in Diabetes : A Systematic Review in Iran, didapatkan faktor-faktor yang berpengaruh terhadap kualitas hidup pasien DM, yaitu ada tidaknya komplikasi, usia penderita DM, status sosioekonomi, jenis kelamin perempuan, status perkawinan, kadar HbA1c, dan IMT pasien.
Ada tidaknya komplikasi berhubungan dengan lama pasien menderita DM Tipe 2. Dalam penelitian Yusra (2011), hasil analisis hubungan antara lama menderita DM dengan kualitas hidup menunjukkan semakin lama menderita DM maka semakin buruk pula kualitas hidup pasien DM Tipe 2, namun, hasil tersebut
tidak kuat. Hasil uji statistik lebih lanjut menunjukkan tidak ada hubungan yang bermakna antara lama menderita DM dengan kualitas hidup responden (p=0,085).
Hasil ini juga sejalan dengan penelitian Retnowati dan Satyabakti (2015). Hasil analisis hubungan antara lama menderita DM dengan kualitas hidup responden dalam penelitian ini menunjukkan tidak ada hubungan di antara keduanya.
Adapun yang berhubungan dengan kualitas hidup pasien DM Tipe 2 adalah status perkawinan pasien tersebut. Orang yang menikah biasanya memiliki pola makan yang lebih teratur, selain itu status perkawinan juga memiliki pengaruh terhadap kondisi kejiwaan seseorang (Irawan, 2010). Hasil analisis hubungan antara status pernikahan dengan kualitas hidup responden dalam penelitian Retnowati dan Setyabakti (2015) menunjukkan ada hubungan signifikan di antara keduanya. Penelitian empiris di Iran menunjukkan bahwa individu yang menikah memiliki skor kualitas hidup lebih tinggi daripada individu yang tidak menikah atau berstatus janda/duda (Kiadaliri, Najafi, dan Sani, 2013).
4.2.4 Hubungan dukungan keluarga dengan kualitas hidup pasien DM Tipe 2 di Puskesmas Amplas Medan
Hasil penelitian ini menunjukkan adanya hubungan dukungan keluarga dengan kualitas hidup pasien DM Tipe 2 di Puskesmas Amplas. Hasil ini sejalan dengan hasil penelitian Tamara, Bayhakki & Nauli (2014). Penelitian dengan desain penelitian cross sectional yang dilakukan di RSUD Arifin Achmad Provinsi Riau melibatkan 46 responden mendapatkan hasil, yaitu terdapat hubungan dukungan keluarga dengan kualitas hidup pasien DM Tipe 2 (p=0,003).
Namun, hasil ini bertentangan dengan penelitian yang dilakukan oleh Suardana, Rasdini, dan Kusmarjathi (2015). Penelitian dengan metode penelitian cross sectional melibatkan 40 responden didapatkan tidak ada hubungan bermakna antara dukungan keluarga dengan kualitas hidup pasien DM Tipe 2 (r=-0,209;
p=0,195).
Coffmann (2008) dalam Yusra (2011) dalam penelitiannya menyatakan bahwa keluarga merupakan sumber dukungan paling utama. Dukungan yang diberikan dilihat dari 4 dimensi, yaitu dimensi emosional, dimensi penghargaan, dimensi
instrumental, dan dimensi informasi. Disampaikan juga bahwa dukungan dari keluarga berkaitan erat dengan kepatuhan pasien terhadap pengobatan, sehingga akan mempengaruhi kualitas hidupnya.
Dalam penelitian Tamara, Bayhakki, dan Nauli (2014), dinyatakan pasien DM Tipe 2 yang berada dalam lingkungan keluarga dan diperhatikan oleh anggota keluarganya akan dapat menimbulkan perasaan aman dan nyaman sehingga akan menumbuhkan motivasi untuk melaksanakan perawatan diri. Perasaan nyaman dan aman yang timbul dalam diri pasien DM tipe 2 akan muncul karena adanya dukungan baik emosional, penghargaan, instrumental dan informasi dari keluraga.
Kondisi inilah yang akan mencegah munculnya stress dan mengurangi kecemasan pada pasien DM tipe 2.
5.1 KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian, adapun kesimpulan yang dapat peneliti buat adalah sebagai berikut :
1. Karakteristik demografi responden di Puskesmas Amplas Medan dalam penelitian ini sebagian besar berada di kelompok usia lansia akhir, berjenis kelamin perempuan, tidak bekerja, tingkat pendidikan terakhir perguruan tinggi, lama menderita DM kurang dari 10 tahun, sebagian besar sudah menikah dan memiliki indeks massa tubuh obesitas.
2. Sebagian besar responden di Puskesmas Amplas memiliki dukungan keluarga yang suportif.
3. Mayoritas responden di Puskesmas Amplas mempunyai kualitas hidup yang baik.
4. Ada hubungan yang signifikan antara dukungan keluarga dan kualitas hidup pada pasien DM Tipe 2 di Puskesmas Amplas Medan.
5.2 SARAN
Saran yang dapat penulis sampaikan pada penelitian ini adalah:
1. Kepada Dokter : Perlu dilakukan edukasi kepada keluarga pasien mengenai besarnya pengaruh dukungan keluarga terhadap kualitas hidup pasien DM Tipe 2, terutama dalam hal kepatuhan pasien dalam menjalani terapi yang diberikan.
2. Kepada Pihak Puskesmas : dapat dilakukan penyuluhan tentang pengetahuan dan edukasi mengenai pentingnya dukungan keluarga dalam mempengaruhi kualitas hidup pasien DM Tipe 2.
3. Kepada Peneliti Selanjutnya : Peneliti berharap penelitian ini dapat dijadikan sebagai pedoman dalam melakukan penelitian selanjutnya
dengan memperluas variabel-variabel lainnya.
5, 24 Juni, h.3.
American Diabetes Association , 2014, Diagnosis and Classification of Diabetes Mellitus, vol. 37, supp. 1, Januari, h.1.
Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementrian RI Tahun 2013, Riskesdas 2013.
Kementrian Kesehatan Republik Indonesia, 2009, Tahun 2030 Diabetes Melitus di Indonesia Mencapai 20,3 Juta Orang, Jakarta, dilihat 25 April 2017,
<http://www.depkes.go.id/article/view/414/tahun-2030-prevalensi-diabetes-melitus-di-indonesia-mencapai-213-juta-orang.html>
Chusmeywati, V. 2016, ‘Hubungan dukungan keluarga terhadap kualitas hidup penderita diabetes melitus di RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta Unit II’, naskah publikasi Sarjana Ilmu Keperawatan pada Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Yogyakarta. h. 3.
Damawiyah, S. 2015, Pengaruh penerapan discharge planning dengan family centered nursing terhadap motivasi dan kesiapan keluarga dalam merawat pasien stroke pasca akut di RS Islam Surabaya, tesis Magister Keperawatan Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro, Semarang.h.41.
Ganong, W. F. 2008, Fisiologi Kedokteran, EGC, Jakarta.
Infodatin Pusat Data dan Informasi Kementrian Kesehatan RI, 2014, Situasi dan Analisis Diabetes, KemenkesRI, Jakarta.
International Diabetes Federation, 2015, Diabetes complication, Brussels, dilihat 25 April 2017, <http://www.idf.org/complications-diabetes>
International Diabetes Federation (IDF), 2013, Diabetes Surge Hits Every Nation, IDF, Brussels.
Irawan, D. 2010, ‘Prevalensi dan Faktor Risiko Kejadian Diabetes Melitus Tipe 2 di Daerah Urban Indonesia’, tesis Fakultas Kesehatan Masyarakat Program Studi Ilmu Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia.
KAKU, K. 2010,’ Pathophysiology of type 2 diabetes and its treatment policy’, Japan Medical Association Journal, vol.53, no.1, h.43.
Kiadaliri, A. A., Najafi, B., Mirmalek-Sani, M. 2013, ‘Quality of life in patient with diabetes’, Journal of Diabetes and Metabolic Disorders, vol.12, no.54, h.3.
Kusuma, H. 2011, ‘Hubungan Antara Depresi dan Dukungan Keluarga dengan Kualitas Hidup Pasien HIV/AIDS yang Menjalani Perawatan di RSUPN Cipto Mangunkusumo Jakarta’, Tesis, Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, Depok.
Lailiyah, K. 2010, ‘Analisis Deskriptif Penggunaan Obat dengan Kualitas Hidup Pasien Diabetes Melitus Rawat Jalan Rumah Sakit Umum Daerah di Moewardi Surakarta’, skripsi sarjana farmasi, Universitas Muhammadiyah Surakarta.
Miller, T. A., DiMatteo, M R 2013, ‘Importance of family/social support and impact on adherence to diabetic therapy’, Dovepress Journal, vol.6, 5 November, h.1.
Perkumpulan Endokrinologi Indonesia, 2015, Konsensus Pengelolaan dan Pencegahan Diabetes Melitus Tipe 2 di Indonesia 2015, PERKENI, Indonesia.
Purnamasari, D. 2014, ‘Diagnosis dan klasifikasi diabetes melitus’ in Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam, InternaPublishing, Jakarta.
RAND Corporation, 36-Item short form survey (SF-36) scoring instructions, RAND Corporation, California.
Retnowati, N., Satyabakti, P. 2015, ‘Hubungan dukungan keluarga dengan kualitas hidup Penderita Diabetes Melitus Tipe 2 di Puskesmas Tanah Kalidinding’, Jurnal Berkala Epidemiologi, vol.3, no.1, h.5-6.
Riskifani, S., Perwitasari, D. A., W., Supadmi 2014, ‘Pengukuran Kualitas Hidup Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 di RS PKU Muhammadiyah Bantul’, vol.2, no.3, 8 April 2014, h.2.
Romero, M., Vivas-Consuelo, D., Alvis-Gusman, N. 2013, ‘Is Health Related Quality of life a valid indicator for health systems evaluation?’, a SpringOpen Journal, vol.2, no.1, p.2.
Sari, M. A. 2016, ‘Faktor Risiko Kejadian Diabetes Melitus Tipe II pada Masyarakat Urban Kota Semarang’, skripsi Sarjana Kesehatan Masyarakat, Universitas Negeri Semarang.
Suardana, K. I., Rasdini, I. G.A., Kusmarjathi, N. K. 2015, ‘Hubungan Dukungan Sosial Keluarga dengan Kualitas Hidup Pasien Diabetes Mellitus Tipe II di Puskesmas IV Denpasar Selatan’, Jurnal Skala Husada, vol.12, no. 1, h. 1.
Tabasi, H. K., Madarshahian, F., Nikoo, M. K., et al. 2014, ‘Impact of family support improvement behaviors on anti diabetic medication adherence and cognition in type 2 diabetic patients’, Journal of Diabetes and Metabolic Disorders, vol. 13, no.113, h.1.
Tamara, E., Bayhakki, Nauli, F.A. 2014, ‘Hubungan antara Dukungan Keluarga dan Kualitas Hidup Pasien Diabetes Melitus Tipe II di RSUD Arifin Achmad Provinsi Riau’, vol.1, no.2, h. 7.
Trisnawati, S. K., Setyorogo, S. 2013, ‘Faktor Risiko Kejadian Diabetes Melitus Tipe II di Puskesmas Kecamatan Cekareng Jakarta Barat Tahun 2012’, Jurnal Ilmiah Kesehatan, vol. 5, no. 1, h. 8.
Umami, A. K. 2013, ‘Perbedaan Kadar Gula Darah Sebelum dan Sesudah Senam Diabetes pada Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 di Persadia Rumah Sakit Sari Asih Ciputat’, skripsi Ilmu Keperawatan Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
Wicaksono, R. P. 2011, ‘Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Diabetes Melitus Tipe 2’, skripsi Sarjana Strata-1 Kedokteran Umum, Universitas Diponegoro.
World Health Organization, 1997, Measuring Quality of Life, WHO, Switzerland.
World Health Organization 2006, Definition and diagnosis of diabetes mellitus and intermediate hyperglycemia, WHO, Switzerland.
World Health Organization, 2016, Global Report on Diabetes. World Heatlh Organization, France.
Wu, Y., Ding, Y., Tanaka, Y., et al. 2014, ‘Risk factors contributing to type 2 diabetes and recent advances in the treatment and prevention’, International Medical Journal of Sciences, vol.11, no.11, h.1.
Yusra, A. 2011, ‘Hubungan antara Dukungan Keluarga dengan Kualitas Hidup Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 di Poliklinik Penyakit Dalam Rumah Sakit Umum Pusat Fatmawati Jakarta’, tesis Magister Ilmu Keperawatan Kekhususan Keperawatan Medikal Bedah, Universitas Indonesia.
Lampiran A. Daftar Riwayat Hidup
DAFTAR RIWAYAT HIDUP
Nama Lengkap : Felicia
NIM : 140100171
Tempat/Tanggal Lahir : Medan/ 10 Juli 1996 Nama Ayah : Rustian
Nama Ibu : Juniaty
Alamat : Jalan Platina Raya Komplek The Ivory Blok D No.1E Riwayat Pendidikan :
1. SD Swasta Sutomo 2 Medan (2002-2008).
2. SMP Swasta Sutomo 2 Medan (2008-2011).
3. SMA Swasta Sutomo 2 Medan (2011-2014).
Riwayat Pelatihan :
1. Peserta PMB (Penerimaan Mahasiswa Baru) FK USU 2014.
2. Peserta MMB (Manajemen Mahasiswa Baru) FK USU 2014.
3. Ketua Waisak MIND FK USU 2015.
4. Ketua Asadha KMB USU 2015.
5. Bendahara Kathina MIND FK USU 2015.
Riwayat Organisasi :
1. Staff Muda Divisi Keuangan SCORE PEMA FK USU 2015-2016.
2. Sekretaris Manajer Divisi Keuangan SCORE PEMA FK USU 2016-2017.
3. Ketua divisi kerohanian MIND FK USU 2015-2016.
4. Anggota Departemen Mahasiswa Internasional PEMA FK USU 2014-2015.
5. Anggota bidang Olahraga Minat dan Bakat KMB USU 2015-2016.
6. Anggota bidang Kerohanian KMB USU 2014-2015.
Riwayat penghargaan :
1. Juara 1 Pekan Ilmiah Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara 2016
2. Juara 3 Scientific Atmosphere Fakultas Kedokteran Universitas Udayana Bali 2017
3. Juara 1 Regional Medical Olympiad cabang Genitourinary reproduksi Fakultas Kedokteran Universitas Lampung 2017
4. Grand Finalis Indonesian International Medical Olympiad cabang Urogenital Reproduction Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara 2017
5. Finalis Poster Ilmiah Fakultas Kedokteran Universitas
Lampiran B. Pernyataan Orisinalitas
PERNYATAAN
Hubungan Dukungan Keluarga dengan Kualitas Hidup Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 di Puskesmas Amplas Medan
Dengan ini penulis menyatakan bahwa skripsi ini disusun sebagai syarat untuk memperoleh Sarjana Kedokteran pada Program Studi Pendidikan Dokter pada Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara adalah benar merupakan hasil karya penulis sendiri.
Adapun pengutipan yang penulis lakukan pada bagian tertentu dari hasil karya orang lain dalam penulisan skripsi ini, telah penulis cantumkan sumbernya secara jelas sesuai dengan norma, kaidah, dan etika penelitian ilmiah.
Apabila di kemudian hari ternyata ditemukan seluruh atau sebagian skripsi ini bukan hasil karya penulis sendiri atau adanya plagiat dalam bagian tertentu, penulis bersedia menerima sanksi pencabutan gelar akademik yang penulis sandang dan sanksi lainnya sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Medan, 4 Desember 2017 Penulis,
Felicia 140100171
Lampiran C. Lembar Penjelasan
LEMBAR PENJELASAN KEPADA RESPONDEN Dengan hormat,
Saya yang bertanda tangan di bawah ini:
Nama : Felicia NIM : 140100171
Alamat : Jalan Platina Raya Komplek The Ivory Blok D No.1E No. HP : 0857-1732-5503
Adalah mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara yang akan melaksanakan penelitian dengan judul “Hubungan Dukungan Keluarga terhadap Kualitas Hidup Diabetes Mellitus Tipe 2 di Puskesmas Amplas”.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya hubungan antara dukungan keluarga dengan kualitas hidup pasien Diabetes Mellitus Tipe 2.
Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan lembaran pertanyaan (kuesioner) yang akan Saya pandu dalam wawancara. Memerlukan waktu ± 30 menit untuk menjawab 54 pertanyaan dengan beberapa pilihan jawaban yang sudah disediakan. Saya juga akan menilai kadar gula darah Ibu/Bapak dengan menggunakan glukometer.
Jawaban dari seluruh pertanyaan yang Ibu/Bapak berikan hanya akan digunakan untuk kepentingan penelitian ini dan tidak akan disalahgunakan untuk maksud-maksud lain. Identitas Ibu/Bapak tetap akan dirahasiakan dan tidak akan dituliskan atau disebarkan.
Setelah memahami penjelasan yang Saya berikan, Ibu/Bapak dapat menandatangani lembar persetujuan setelah penjelasan (Informed Consent) yang disediakan. Keikutsertaan Ibu/Bapak dalam penelitian ini sangat Saya harapkan.
Partisipasi Ibu/Bapak dalam penelitian ini bersifat bebas dan tanpa paksaan.
Ibu/Bapak berhak untuk menolak berpartisipasi tanpa sanksi apapun.
Demikianlah penjelasan ini Saya sampaikan. Atas partisipasi dan kesediaan Ibu/Bapak, Saya ucapkan terima kasih.
Medan, 19 Juni 2017
Felicia
Lampiran D. Lembar Persetujuan Setelah Penjelasan (Informed Consent) LEMBAR PERSETUJUAN SETELAH PENJELASAN
(Informed Consent) Saya yang bertanda tangan di bawah ini:
Nama : Umur : Alamat :
Setelah mendapat keterangan dan penjelasan secara lengkap, serta memahaminya, maka dengan penuh kesadaran dan tanpa paksaan Saya menyatakan bersedia berpartisipasi pada penelitian ini.
Demikianlah surat pernyataan ini Saya buat tanpa paksaan dan apabila di kemudian hari saya mengundurkan diri, kepada saya tidak akan dituntut apapun.
Medan, 2017 Peneliti Yang membuat pernyataan
( ) ( )
Lampiran E. Karakteristik Responden
KARAKTERISTIK RESPONDEN Tanggal Pemeriksaan :
Pemeriksa :
Nama Pasien :
Umur :
Jenis Kelamin :
Alamat :
No. HP :
Pekerjaan :
Pendidikan Terakhir : Status Perkawinan :
Lama Menderita DM : tahun bulan
Obat Makan : Ya Tidak
Obat Suntik : Ya Tidak
BB : kg
TB : cm
Lingkar Pinggang : cm
Lingkar Pinggul : cm
LLA : cm
KGD : mg/dL
Lampiran F. Kuesioner Dukungan Keluarga
KUESIONER DUKUNGAN KELUARGA
Petunjuk pengisian:
Bacalah beberapa pernyataan di bawah ini, lalu pilihlah satu pilihan yang tersedia di sampingnya dengan memberikan tanda checklist (V) pada kolom yang tersedia, dengan keterangan sebagai berikut:
- Tidak pernah (TP) : Bila tidak menerima dukungan dalam 1 bulan
1. Keluarga mendampingi saya dalam menjalani perawatan.
2. Tanpa saya minta, keluarga saya menunjukkan kepeduliannya dengan mengajak saya untuk membicarakan masalah yang saya hadapi.
3. Keluarga tetap mencintai dan
memperhatikan keadaan saya selama saya sakit.
4. Keluarga memberikan perhatian yang baik setiap saya membutuhkan bantuan.
5. Keluarga menghibur saya bila saya terlihat sedang sedih dengan masalah yang saya hadapi.
6. Keluarga menyediakan waktu dan fasilitas jika saya memerlukan untuk keperluan pengobatan.
7. Keluarga sangat berperan aktif dalam setiap pengobatan dan perawatan sakit saya.
8. Keluarga bersedia membiayai biaya perawatan dan pengobatan.
9. Keluarga berusaha untuk mencarikan kekurangan sarana dan peralatan perawatan yang saya perlukan.
10. Keluarga siap membantu saya dalam melakukan aktivitas sehari-hari bila saya sakit seperti mandi, berpakaian, menyuapi makan, bangun dan beranjak dari tempat tidur bila saya tidak mampu, dan lain-lain.
11. Keluarga memberitahu tentang hasil pemeriksaan dan pengobatan dari
11. Keluarga memberitahu tentang hasil pemeriksaan dan pengobatan dari