• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODE PENELITIAN

3.3. Definisi Operasional

3.3.1. Flexible Work Arrangement

Flexible work arrangement pada penelitian ini merupakan pengaturan/sistem kerja yang melihat sejauh mana pekerja diberikan kelonggaran dalam waktu kerja (jam). Hal ini bisa dilakukan dengan cara memberikan kebebasan memilih kapan harus memulai dan menyelesaikan pekerjaan, membagi pekerjaan satu karyawan dengan dua karyawan, ataupun bekerja selama lima hari tetapi meningkatkan jam kerja setiap harinya.

3.3.2. Job Performance

Job performance dalam penelitian ini merupakan perilaku/aktivitas/tindakan yang dilakukan oleh pekerja selama bekerja yang sesuai dengan tujuan organisasi/instansi. Perilaku job performance yang dapat diamati atau diukur yaitu, perilaku langsung yang sesuai deskripsi kerja (task performance) seperti merawat pasien; perilaku yang tidak langsung pada deskripsi kerja (contextual performance) seperti menolong rekan kerja; dan perilaku yang disengaja untuk membahayakan atau merugikan instansi (counterproductive work behavior) seperti absen.

25 3.4. Populasi dan Sampel Penelitian

3.4.1. Populasi

Populasi pada penelitian merupakan sekelompok individu yang memiliki keunikan dan menarik bagi peneliti. Namun tidak seluruh populasi tidak ikut serta dalam suatu penelitian, tetapi hasil penelitian digeneralisasikan untuk seluruh populasi (Gravetter, 2012). Populasi harus memiliki ciri-ciri atau karakteristik (seperti ciri demografi) yang dapat membedakannya dengan kelompok subjek atau populasi yang lain (Azwar, 2018).

Pada penelitian ini karakteristik yang dimiliki populasi yaitu, seorang perawat yang bekerja di Fasilitas Kesehatan Kepulauan Nias (baik Kota Gunungsitoli, Kabupaten Nias, Kabupaten Nias Utara, Kabupaten Nias Selatan, maupun Kabupaten Nias Barat). Dilansir BPS Statistika Provinsi Sumatera Utara jumlah perawat di masing-masing kabupaten/kota di Kepulauan Nias pada tahun terakhir atau pada tahun 2020 yaitu, Kota Gunungsitoli (155 jiwa), Kabupaten Nias (367 jiwa), Kabupaten Nias Selatan (886 jiwa), Kabupaten Nias Barat (273), dan Kabupaten Nias Utara (250 jiwa). Adapun jumlah total keseluruhan perawat di Nias berdasarkan data BPS Statistika yaitu, 1.931 jiwa.

3.4.2. Sampel Penelitian dan Teknik Sampling

Sampel adalah sekumpulan individu yang dipilih dari suatu populasi dan biasanya dimaksudkan untuk mewakili populasi dalam suatu penelitian (Gravetter, 2012). Pemilihan individu dalam populasi menjadi sampel menggunakan metode teknik sampling.

Teknik sampling yang digunakan pada penelitian ini yaitu Accidental Sampling. Pengambilan sampel pada teknik sampling ini berdasarkan asas

26

kebetulan, atau dengan kata lain siapa saja yang secara kebetulan bertemu dengan peneliti yang sesuai dengan karakteristik subjek penelitian dan bersedia untuk digunakan sebagai sampel (Retnawati, 2015).

Menurut Roscoe (1975, dalam Azwar, 2018), jumlah sampel yang layak untuk penelitian yaitu, N > 30 dan N < 500. Namun, pada penelitian ini penentuan jumlah sampel berdasarkan power statistik analisis dengan bantuan aplikasi statistika G*Power. Test Family yang digunakan yaitu F-Test dengan test statistik Anova one way. Nilai partial η2 yang digunakan yaitu 0.20. Hal ini didasarkan pada nilai partial yang diperoleh dari penelitian Ensari dkk. (2018).

Berdasarkan nilai partial tersebut maka diperoleh nilai effect size f yaitu 0.5.

Kemudian nilai power statistika yaitu, 0.80. Hal ini didasarkan pada rekomendasi Cohen (1992), apabila nilai power lebih kecil dari 0,80 akan menimbulkan risiko kesalahan Tipe II yang terlalu besar. Number of groups yang digunakan sebanyak 3 karena pada penelitian ini terdapat 3 grup kondisi variabel bebas. Nilai signifikansi pada penelitian ini 0.05. Berdasarkan hal tersebut maka diperoleh setidaknya total sampel yaitu 42 orang.

3.5. Instrumen Alat Ukur

Skenario atau sketsa dibuat dalam bentuk teks atau tertulis yang mengandung unsur atau tipe flexible work arrangement. Tipe flexible work arrangement yang digunakan yaitu, job-sharing, flexi-time, dan compressed work week.

Skenario atau sketsa dibuat sebanyak 3 buah (setiap tipe sebanyak 1 sketsa) untuk setiap partisipan. Keberhasilan atau tidak berhasilnya pengaruh skenario

27

flexible work arrangement pada perspektif job performance diukur menggunakan skala yang diadaptasi ke dalam Bahasa Indonesia dari skala job performance Koopsman (2014) oleh Widyastuti & Hidayat (2018). Skala tersebut dibentuk dari yaitu, task performance, contextual performance, dan counterproductive work behavior.

Alasan penggunaan skala adaptasi Widyastuti & Hidayat (2018) disebabkan karena adanya proses adaptasi yang dilakukan sesuai dengan pedoman adaptasi dari Beaton, Bombardier, Guillemin, dan Ferraz (2000, dalam Widyastuti &

Hidayat 2018); Liar et al., (2005, dalam Widyastuti & Hidayat 2018); dan Pedoman ITC untuk Menerjemahkan dan Menyesuaikan Tes (2017, dalam Widyastuti & Hidayat 2018). Proses adaptasi yang dilakukan terdiri dari tujuh tahap: (1) meminta izin untuk mengadaptasi IWPQ ke dalam bahasa Indonesia dari pengembang IWPQ, (2) meneruskan terjemahan IWPQ ke dalam bahasa Indonesia oleh dua penerjemah profesional independen, (3) proses sintesis untuk menghasilkan satu terjemahan bahasa Indonesia, (4) back-translation ke bahasa aslinya, (5) proses review back-translation oleh pengembang IWPQ, (6) cognitive debriefing pada subjek dengan karakteristik yang sama dengan target, (7) proses review hasil dan finalisasi cognitive debriefing. Kemudian skala adapatasi tersebut juga melakukan tiga prosedur analisis statistik yaitu (1) uji validitas isi, (2) perhitungan indeks diskriminan item, dan (3) estimasi koefisien reliabilitas dengan Cronbach’s Alpha.

28 3.6. Desain Penelitian

Penelitian yang dilakukan menggunakan desain within subject design, dengan meletakkan sampel pada satu kelompok, kemudian pada desain ini dilakukan counterbalancing (mengendalikan urutan perlakuan setiap partisipan) dan penelitian ini hanya melakukan satu kali pengukuran setelah setiap perlakuan diberikan.

3.7. Prosedur Pelaksanaan Penelitian

Google form yang telah dibuat disebar di sosial media dan jumlah partisipan yang mengisi dibatasi dengan jumlah 42 partisipan. Google form tersebut berisi lembar pengenalan diri dan tujuan penelitian serta instruksi pengisian google form, halaman persetujuan partisipan (informed consent), dan lembar demografis partisipan. Setiap partisipan mendapatkan skenario yang memuat 3 tipe flexible work arrangement. Namun, urutan skenario yang di dapat setiap partisipan berbeda-beda. Setelah mengisi semua lembar tersebut maka partisipan mendapatkan lembar pengundian pulsa sebesar 50 ribu untuk 10 partisipan yang beruntung.

3.8. Validitas dan Reliabilitas Alat Ukur 3.8.1. Validitas

Validitas merupakan sejauh mana ketepatan dan kecermatan suatu alat dalam melakukan fungsi ukurnya. Pada metode eksperimental terdapat dua validitas yaitu validitas internal dan eksternal (Azwar, 2018).

Validitas internal merupakan terjadinya perubahan pada variabel dependen yang disebabkan variabel independen/ perlakuan/ intervensi pada

29

eksperimen dan bukan karena disebabkan oleh faktor lain yang tidak relevan.

Sedangkan validitas eksternal merupakan kesimpulan mengenai penelitian yang diperoleh dapat digeneralisasikan (Azwar, 2018).

Pada penelitian eksperimental menghasilkan tingkat kepercayaan yang tinggi mengenai validitas internal tetapi ada ancaman terhadap validitas eksternal (Aguinis & Bradley, 2014). Namun, pada metode eksperimental vignette meningkatkan realisme eksperimental dan juga memungkinkan peneliti untuk memanipulasi dan mengontrol variabel independen, sehingga secara bersamaan meningkatkan validitas internal dan eksternal (Atzmueller &

Steiner, 2010; Hox, Kreft, & Hermkens, 1991, dalam Aguinis & Bradley, 2014).

Sedangkan untuk pengukuran job performance menggunakan skala individual work performance. Validitas dari skala tersebut yaitu validitas konvergennya terbukti cukup, dan validitas diskriminatifnya sangat baik serta konsistensi internal juga baik (Koopmans, 2014).

3.8.2. Reliabilitas

Reliabilitas merupakan sejauh mana alat ukur mempunyai konsistensi relatif tetap jika dilakukan pengukuran ulang terhadap subjek yang sama.

Koefisien reliabilitas memiliki komponen angka yang seberapa besar tingkat korelasi bertanda positif atau negatif yang berarti arah hubungan antara 0.00 sampai 1.00. Semakin mendekati 1.00 maka terdapat konsistensi hasil pengukuran yang makin sempurna (Azwar, 2018).

30

Pada penelitian ini reliabilitas diukur menggunakan Cronbach’s Alpha yang dibantu aplikasi pengolahan data statistika JASP. Selain itu, terdapat juga tabel tingkatan koefisien reliabilitas Guilford yang digunakan untuk membandingkan hasil analisis reliabilitas (Putri et al., 2019), berikut ini tabel koefisien reliabilitasnya:

Table 2 Koefisien Reliabilitas Guilford

No Interval Kriteria

1. < 0,200 Sangat rendah

2. 0,200 – 0,399 Rendah

3. 0,400 – 0,599 Cukup

4. 0,600 – 0,799 Tinggi

5. 0,800 – 1,000 Sangat Tinggi

3.9. Metode Analisis Data

Metode analisis data yang digunakan untuk menguji asumsi penelitian yaitu, teknik analisis Anova One Way. Pemilihan teknik analisis ini dikarenakan pada penelitian ini melakukan perbandingan 3 kondisi variabel bebas yang sama.

Namun sebelum melakukan teknik analisis tersebut, perlu dilakukan pengecekan normalitas dan homogenitas data. Data yang dikatakan normal dan homogen apabila p > 0.05. Apabila asumsi tersebut tidak terpenuhi uji asumsi dapat dilakukan dengan teknik non parametrik: Kruskal Wallis.

31 BAB IV

HASIL & PEMBAHASAN

4.1. Hasil

4.1.1. Hasil Uji Reliabilitas

Pada penelitian ini, dilakukan uji coba kepada 22 perawat untuk melihat reliabilitas dan daya diskriminasi aitem. Menurut Azwar (2013), minimal koefisien korelasi aitem total yaitu 0.30 yang dianggap memiliki daya beda yang memuaskan. Namun, peneliti dapat menentukan batasan minimal daya diskriminasinya dengan mempertimbangkan isi dan tujuan skala (Azwar, 2013).

Tabel diatas menunjukkan bahwa reliabilitas skala job performance di 3 kondisi pengaturan kerja berada pada kategori Sangat Tinggi. Namun untuk uji daya diskriminasinya (lihat pada tabel lampiran 3), pada pengaturan kerja flexi time, 5 dari 5 aitem dimensi counterproductive work behavior berada dibawah 0.3; kemudian pada pengaturan kerja compressed-work-week 2 dari 5 aitem dimensi counterproductive work behavior berada dibawah 0.3; dan pada pengaturan kerja job-sharing 5 dari 5 aitem dimensi counterproductive work behavior berada dibawah 0.3.

32

Namun aitem yang berada pada dimensi counterproductive work behavior tidak digugurkan. Hal ini dikarenakan pertimbangan reliabilitas yang sangat tinggi dan nilai cronbach's α tiap aitem berada pada kategori tinggi, kemudian mempertimbangankan tujuan pengukuran dan jumlah aitem yang sedikit.

4.1.2. Deskripsi Demografi Responden

Partisipan pada penelitian ini merupakan seorang perawat yang bekerja di fasilitas kesehatan dengan wilayah kerja di Kepulauan Nias (Gunungsitoli, Nias, Nias Barat, Nias Utara dan Nias Selatan). Target jumlah partisipan dalam penelitian yaitu 42 jiwa, sedangkan yang berpartisipasi pada penelitian ini yaitu 43 jiwa. Berikut, deskripsi demografi partisipan yang berpartisipasi:

a) Berdasarkan Jenis Kelamin

Table 3 Sebaran Partisipan Berdasarkan Jenis Kelamin Jenis Kelamin Jumlah Persentase

Laki-Laki 13 30.23

Perempuan 30 69.77

Total 43 100

Pada tabel diatas memberikan gambaran bahwa jumlah partisipan berjenis kelamin Laki-laki sebanyak 13 jiwa (30.23%). Kemudian jumlah partisipan berjenis kelamin Perempuan sebanyak 30 jiwa (69.77%).

b) Berdasarkan Usia

Sebaran partisipan berdasarkan usia didasarkan pada Undang-Undang Nomor 13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan yaitu usia minimal pekerja

33

yaitu 18 tahun. Namun pada penelitian partisipan harus menyelesaikan pendidikan Keperawatan. Selain itu, usia maksimal perawat pada penelitian ini didasarkan pada Permenaker No. 02/1995 yaitu usia maksimal 55-60 Tahun.

Table 4 Sebaran Partisipan Berdasarkan Usia/Umur Range Umur Jumlah Persentase

20-25 12 28%

Berdasarkan tabel diatas diketahui bahwa partisipan dengan range usia 20-25 tahun sebanyak 12 jiwa (28%). Kemudian range usia 26-30 tahun sebanyak 14 jiwa (33%), range usia 31-35 tahun sebanyak 10 jiwa (23%), range usia 36-40 tahun sebanyak 4 jiwa (9%) dan range usia 41-45 tahun sebanyak 3 jiwa (7%).

c) Berdasarkan Tempat Kerja dan Wilayah Kerja

Table 5 Sebaran Partisipan Berdasarkan Tempat Kerja Tempat Kerja Jumlah Persentase

Rumah Sakit 22 51.16

Puskesmas 21 48.84

Total 43 100

34

Tabel diatas menggambarkan bahwa partisipan yang bekerja di fasilitas kesehatan rumah sakit sebanyak 22 jiwa (51.16%). Kemudian, partisipan yang bekerja di fasilitas kesehatan puskesmas sebanyak 21 jiwa (48.84%).

Table 6 Sebaran Partisipan Berdasarkan Wilayah Kerja Wilayah Kerja Jumlah Persentase Gunungsitoli 10 23.26

Selain tempat kerja, terdapat juga gambaran mengenai wilayah kerja partisipan. Tabel diatas menggambarkan partisipan yang wilayah kerjanya Kota Gunungsitoli sebanyak 10 jiwa (23.26%), Kabupaten Nias sebanyak 20 jiwa (46.51%), Kabupaten Nias Utara sebanyak 6 jiwa (13.95%), Kabupaten Nias Barat sebanyak 3 jiwa (6.98%) dan Kabupaten Nias Selatan sebanyak 4 jiwa (9.30%).

4.1.3. Hasil Statistika Deskripsi Data

Table 7 Deskripsi Job Performance di tipe Flexible Working Arrangement Tipe Flexible Working Arrangement Mean SD N

Compressed-work-week 34.40 2.205 43

Flexi-Time 34.30 1.726 43

Job-Sharing 34.42 1.942 43

35

Tabel analisis diatas menunjukkan bahwa, Job Performance partisipan dengan kondisi pengaturan kerja job sharing (M = 34.42, SD = 1.942) lebih tinggi dibandingkan dengan partisipan dengan kondisi pengaturan kerja compressed work week (M = 34.40, SD = 2.205). Kemudian partisipan dengan kondisi pengaturan kerja compressed work week (M = 34.40, SD = 2.205) job performance-nya lebih tinggi dibandingkan dengan kondisi pengaturan kerja flexi-time (M = 34.30, SD = 1.726). Berdasarkan hal tersebut job performance partisipan yang tinggi ketika berada pada kondisi pengaturan kerja job sharing.

Table 8 Analisis Deskripsi Dimensi Job Performance

Tipe Flexible

Berdasarkan tabel diatas, terdapat beberapa temuan disetiap dimensi job performance dengan kondisi 3 flexible working arrangement. Pada dimensi task performance, urutan performance partisipan pada flexible working arrangement tertinggi ke rendah yaitu, pertama job sharing (M = 9.907, SD = 0.3661), kemudian flexi-time (M = 9.884, SD = 0.3909) dan terakhir compressed work week (M = 9.837, SD = 0.7847). Selanjutnya, pada dimensi

36

contextual performance, urutan performance partisipan pada flexible working arrangement tertinggi ke rendah yaitu, pertama flexi-time (M = 15.05, SD = 1.344), kemudian compressed work week (M = 14.98, SD = 1.488) dan job sharing (M = 14.98, SD = 1.406). Terakhir, pada dimensi counterproductive work behavior, urutan partisipan yang mengalami perilaku merugikan disetiap kondisi dari rendah ke tertinggi yaitu, pertama compressed work week (M = 9.581, SD = 0.931), kemudian job sharing (M = 9.535, SD = 1.120) dan terakhir, flexi-time (M = 9.372, SD = 1.273).

4.1.4. Hasil Uji Asumsi

Table 9 Hasil Uji Homogenitas

Test for Equality of Variances (Levene's) F df1 df2 p

0.103 2 126 0.902

Uji Homogenitas yang telah dilakukan memberikan gambaran bahwa data yang diperoleh dengan 3 varian pengaturan kerja tersebut bersifat homogen. Hal ini disebabkan karena hasil ujinya yaitu 0.902 (p > 0.05).

Figure 1 Q-Q Plot Uji Normalitas

37

Penelitian ini juga melakukan uji normalitas data. Berdasarkan grafik diatas menunjukkan bahwa data yang diperoleh tidak normal, hal ini disebabkan karena sebaran data tidak berada pada garis lurus atau terdapat outlier. Pembuktian lain dilakukan dengan menggunakan uji Shapiro-Wilk (lihat tabel lampiran 4) dengan hasil -0.001 (p < 0.05).

Berdasarkan kedua uji asumsi tersebut, maka diperoleh bahwa untuk menganalisis data dilakukan dengan cara statistika non-parametik: Kruskal Wallis. Hal ini disebabkan karena salah satu dari kedua uji asumsi yang dilakukan untuk uji anova tidak terpenuhi yaitu data tidak normal.

4.1.5. Hasil Uji Kruskal Wallis

Table 10 Hasil Uji Kruskal-Wallis Test

Factor Statistic df p Tipe Flexible working arrangement 0.378 2 0.828

Uji kruskal wallis menunjukkan bahwa job performance di 3 tipe flexible working arrangement (H(2) = 0.378, p= 0.828) tidak memiliki pengaruh yang tidak signifikan. Hal ini disebabkan karena nilai p > 0.05 dan pada nilai p tidak memiliki tanda * atau ** yang menandakan signifikan. Berdasarkan hasil tersebut, hipotesis null diterima atau dengan kata lain 3 tipe flexible working arrangement tidak memiliki pengaruh pada job performance menurut perawat di Kepulauan Nias.

4.2. Pembahasan

Penelitian ini melihat pengaruh dari 3 tipe flexible working arrangement terhadap peningkatan job performance menurut perawat di Kepulauan Nias.

Setelah melakukan analisis kruskal wallis, nilai p lebih besar dari 0.05 yang

38

memiliki arti bahwa tidak ada pengaruh dari 3 tipe flexible working arrangement (job sharing, flexi-time, dan compressed work week) terhadap peningkatan job performance dan bersifat tidak signifikan atau dengan kata lain hipotesis alternatif ditolak dan hipotesis null yang diterima.

Beberapa hal yang dapat menjelaskan hasil penelitian ini. Pertama, desain penelitian yang digunakan tidak menggunakan kondisi kontrol. Kondisi kontrol digunakan untuk melihat efektivitas kondisi eksperimen yang memberikan perlakuan dengan kondisi tanpa perlakuan (Gravetter & Forzano, 2012). Pada penelitian ini kondisi kontrol yang seharusnya ialah working arrangement yang saat ini digunakan oleh perawat (shift). Berdasarkan hal tersebut bisa saja kemungkinan dengan adanya kondisi kontrol dapat melihat efektivitas flexible working arrangement pada job performance perawat dibandingkan working arrangement yang saat ini digunakan oleh perawat.

Kedua, adanya variabel sekunder atau extraneous variable yang mempengaruhi. Extraneous variable adalah variabel di luar variabel bebas yang diduga dapat turut memengaruhi variabel terikat (Prasetyo et al., 2020) dan variabel tersebut dapat menjadi variabel pengganggu hanya jika mempengaruhi variabel terikat (Gravetter & Forzano, 2012). Variabel sekunder pada penelitian ini yang dapat mempengaruhi job performance yaitu variabel fisiologis (kemampuan dan keterampilan, latar belakang, dan demografis), variabel organisasi (imbalan, sumber daya, kepemimpinan dan struktur organisasi) dan variabel psikologis (Gibson dalam Sari & Chalidyanto, 2016). Pada penelitian ini beberapa variabel sekunder yang tidak dikontrol yaitu demografis partisipan

39

(tempat kerja yang berbeda atau tidak berada satu tempat kerja yang sama; dan jenis kelamin partisipan), lingkungan kerja setiap partisipan yang berbeda-beda, struktur organisasi dan kepemimpinan pemimpin yang beragam.

Ketiga, flexible working arrangement secara umum dapat berfungsi meningkatan job performance apabila dalam ruang kerjanya memiliki kelengkapan teknologi atau infrastruktur (Fadhila & Wicaksana, 2020).

Kelengkapan teknologi atau infrastruktur mempermudah atau memperlancar pekerjaan sehingga target kerja dapat terselesaikan. Apabila dikaitkan dengan penelitian ini maka kelengkapan teknologi atau infrastruktur di fasilitas kesehatan tidak dapat dikontrol oleh peneliti.

Keempat, penerapan flexible working arrangement dipengaruhi oleh jenis pekerjaan. Pekerjaan yang berjenis pelayanan masyarakat yang berhubungan langsung atau tatap muka tidak dapat menerapkan flexible working arrangement (Fadhila & Wicaksana, 2020). Kemudian tipe flexible working arrangement yaitu flexi-time dan compressed work week tidak dapat berfungsi apabila tugas atau pekerjaannya bersifat interdependensi (Ronen & Primps, 1981, dalam Kattenbach et al., 2010). Hal ini disebabkan waktu kerja yang sangat fleksibel dapat mengganggu komunikasi dan kerjasama antar rekan kerja (Nollen, 1981, dalam Kattenbach et al., 2010). Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh kemungkinan jenis pekerjaan perawat merupakan jenis pekerjaan pelayanan masyarakat yang tidak dapat menerapakan flexible working arrangement.

Kelima, sesuai penelitian Edwin (2020) bahwa, job sharing juga dapat meningkatkan job performance apabila memiliki rekan kerja yang cocok dan

40

memiliki hubungan yang baik dengan rekan kerja. Pada penelitian ini, faktor tersebut tidak dapat diawasi.

Terakhir, menurut Heine (2016, dalam Nuraini dkk., 2019) dalam sudut pandang budaya, perempuan memiliki perhatian lebih pada perasaan dan juga memiliki banyak pertimbangan untuk suatu hal sehingga perempuan lebih mudah beralih perhatian dibandingkan laki-laki. Hal ini mungkin dapat menjadi pengaruh keberhasilan penerapan flexible working arrangement ditempat kerja serta mempengaruhi penelitian ini.

Pada penelitian ini juga terdapat beberapa kekurangan. Pertama, pada penelitian ini dilakukan uji coba untuk melihat keterbacaan dan pemahaman partisipan terhadap skenario dan aitem yang dilakukan namun hanya dilakukan satu arah saja atau ketika sudah di revisi tidak dihubungi kembali untuk menanyakan apakah sudah lebih paham atau belum. Kedua, tempat/lingkungan partisipan saat membuka form dan membaca skenario yang tidak diketahui oleh peneliti, hal ini bisa saja tempatnya tidak mendukung dan banyak gangguan.

Ketiga, tindakan partisipan saat melakukan eksperimen yang tidak bisa dikontrol peneliti, seperti tidak membaca 3 skenario secara keseluruhan dan keseriusan partisipan dalam mengisi form tidak dapat dikontrol. Terakhir, partisipan yang dapat menunjukkan faking good. Namun, pertimbangan untuk tetap menggunakan metode eksperimental vignette yaitu, penggunaan metode tersebut memudahkan peneliti untuk memanipulasi dan mengontrol variabel independen sehingga meningkatkan realisme.

41

Pada penelitian ini terdapat kelebihan metedologi yang digunakan yaitu, kemudahan dalam memanipulasi dan mengontrol variabel independen, dan penelitian ini menggunakan counterbalancing melalui random link dengan javascript sehingga setiap partisipan mendapatkan perlakuan berbeda dalam satu link. Kemudian, terdapat juga kelebihan praktis dari penelitian ini yaitu peneliti mudah melakukan eksperimen dan menjangkau partisipan, efektivitas dan efesien biaya dan waktu, dan partisipan juga mudah/tidak ribet dalam mengisi alat ukur.

Penelitian ini, peneliti cukup membagikan link form ke sosial media dan menunggu partisipan mengisi formnya.

Terdapat pula juga hasil tambahan dengan menggunakan analisis deskripsi job performance pada 3 flexible working arrangement. Hasil dari analisis tersebut menunjukkan 3 urutan mean job performance pada tipe flexible working arrangement. Urutan nilai mean job performance yang tertinggi yaitu ketika berada pada pengaturan kerja tipe job sharing. Urutan kedua, ketika berada pada pengaturan tipe compressed work week. Urutan terakhir yaitu ketika berada pada pengaturan kerja flexi-time.

Lebih lanjut, pada penelitian ini juga menggunakan statistika deskripsi untuk menganalisis tiap dimensi job perfomance yang menunjukkan bahwa menggunakan tipe flexitime memberikan pengaruh terhadap contextual performance sedikit lebih tinggi dibandingkan 2 tipe flexible working arrangement lainnya, tetapi counterproductive work behavior pada pengaturan kerja tersebut juga sedikit lebih tinggi dibandingkan pengaturan kerja fleksibel lainnya. Kemudian, tipe job sharing memberikan pengaruh terhadap task

42

performance sedikit lebih tinggi dibandingkan 2 tipe flexible working arrangement lainnya dan 2 dimensi lainnya berada pada urutan sedang. Terakhir, apabila menggunakan tipe compressed-work-week maka dapat menurunkan counterproductive work behavior dibandingkan 2 tipe flexible working arrangement lainnya tetapi task performance sedikit lebih rendah pada pengaturan kerja tersebut.

43 BAB V PENUTUP 4.1. Kesimpulan

Berdasarkan hasil pengolahan data, interpretasi data dan pembahasan mengenai analisa data, maka dapat dibuat kesimpulan pada bagian ini. Penelitian yang dilakukan pada perawat di Kepulauan Nias menunjukkan bahwa tidak ada pengaruh dari 3 tipe flexible working arrangement terhadap job performance. Hal ini dibuktikan melalui uji kruskal wallis.

Hasil uji lain menggunakan uji statistika deskripsi menunjukkan bahwa terdapat 3 urutan terbesar ke terkecil tipe flexible working arrangement yang memberikan pengaruh terhadap job performance. Urutan pertama yang memberikan pengaruh agak besar yaitu job sharing, kemudian compressed work week dan urutan terakhir yaitu flexi-time.

Analisa lebih lanjut mengenai uji statistika deskripsi disetiap dimensi job performance dengan 3 tipe flexible working arrangement. Hasil tersebut menunjukkan bahwa tipe flexi time memberikan pengaruh terhadap contextual performance sedikit lebih tinggi, tetapi hal ini juga meningkatkan counterproductive work behavior. Kemudian, tipe compressed-work-week memberikan pengaruh kecil atau menurunkan counterproductive work behavior, tetapi task performance sedikit lebih rendah dibandingkan 2 tipe lainnya.

Terakhir, tipe job sharing memberikan pengaruh terhadap task performance sedikit lebih tinggi dan memberikan pengaruh sedang terhadap 2 dimensi lainnya.

44 4.2. Saran

Hasil dan kesimpulan yang telah dipaparkan, maka pada bagian ini dipaparkan saran praktis dan metodologis untuk perkembangan penelitian mengenai pengaruh 3 tipe flexible working arrangement terhadap job performance dan berbagai pihak yang terkait dalam penelitian ini. Berikut ini saran-sarannya:

1. Saran Metodologis

a) Peneliti selanjutnya yang meneliti pengaruh flexible working arrangement terhadap job performance diharapkan mengontrol beberapa variabel sekunder atau faktor eksternal (extraneous variable) dengan salah satu cara yaitu, lokasi penelitian diharapakan satu tempat kerja dengan satu ruang kerja dengan bidang yang sama (contoh,

a) Peneliti selanjutnya yang meneliti pengaruh flexible working arrangement terhadap job performance diharapkan mengontrol beberapa variabel sekunder atau faktor eksternal (extraneous variable) dengan salah satu cara yaitu, lokasi penelitian diharapakan satu tempat kerja dengan satu ruang kerja dengan bidang yang sama (contoh,

Dokumen terkait