BAB III METODE PENELITIAN
3.9. Metode Analisis Data
Metode analisis data yang digunakan untuk menguji asumsi penelitian yaitu, teknik analisis Anova One Way. Pemilihan teknik analisis ini dikarenakan pada penelitian ini melakukan perbandingan 3 kondisi variabel bebas yang sama.
Namun sebelum melakukan teknik analisis tersebut, perlu dilakukan pengecekan normalitas dan homogenitas data. Data yang dikatakan normal dan homogen apabila p > 0.05. Apabila asumsi tersebut tidak terpenuhi uji asumsi dapat dilakukan dengan teknik non parametrik: Kruskal Wallis.
31 BAB IV
HASIL & PEMBAHASAN
4.1. Hasil
4.1.1. Hasil Uji Reliabilitas
Pada penelitian ini, dilakukan uji coba kepada 22 perawat untuk melihat reliabilitas dan daya diskriminasi aitem. Menurut Azwar (2013), minimal koefisien korelasi aitem total yaitu 0.30 yang dianggap memiliki daya beda yang memuaskan. Namun, peneliti dapat menentukan batasan minimal daya diskriminasinya dengan mempertimbangkan isi dan tujuan skala (Azwar, 2013).
Tabel diatas menunjukkan bahwa reliabilitas skala job performance di 3 kondisi pengaturan kerja berada pada kategori Sangat Tinggi. Namun untuk uji daya diskriminasinya (lihat pada tabel lampiran 3), pada pengaturan kerja flexi time, 5 dari 5 aitem dimensi counterproductive work behavior berada dibawah 0.3; kemudian pada pengaturan kerja compressed-work-week 2 dari 5 aitem dimensi counterproductive work behavior berada dibawah 0.3; dan pada pengaturan kerja job-sharing 5 dari 5 aitem dimensi counterproductive work behavior berada dibawah 0.3.
32
Namun aitem yang berada pada dimensi counterproductive work behavior tidak digugurkan. Hal ini dikarenakan pertimbangan reliabilitas yang sangat tinggi dan nilai cronbach's α tiap aitem berada pada kategori tinggi, kemudian mempertimbangankan tujuan pengukuran dan jumlah aitem yang sedikit.
4.1.2. Deskripsi Demografi Responden
Partisipan pada penelitian ini merupakan seorang perawat yang bekerja di fasilitas kesehatan dengan wilayah kerja di Kepulauan Nias (Gunungsitoli, Nias, Nias Barat, Nias Utara dan Nias Selatan). Target jumlah partisipan dalam penelitian yaitu 42 jiwa, sedangkan yang berpartisipasi pada penelitian ini yaitu 43 jiwa. Berikut, deskripsi demografi partisipan yang berpartisipasi:
a) Berdasarkan Jenis Kelamin
Table 3 Sebaran Partisipan Berdasarkan Jenis Kelamin Jenis Kelamin Jumlah Persentase
Laki-Laki 13 30.23
Perempuan 30 69.77
Total 43 100
Pada tabel diatas memberikan gambaran bahwa jumlah partisipan berjenis kelamin Laki-laki sebanyak 13 jiwa (30.23%). Kemudian jumlah partisipan berjenis kelamin Perempuan sebanyak 30 jiwa (69.77%).
b) Berdasarkan Usia
Sebaran partisipan berdasarkan usia didasarkan pada Undang-Undang Nomor 13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan yaitu usia minimal pekerja
33
yaitu 18 tahun. Namun pada penelitian partisipan harus menyelesaikan pendidikan Keperawatan. Selain itu, usia maksimal perawat pada penelitian ini didasarkan pada Permenaker No. 02/1995 yaitu usia maksimal 55-60 Tahun.
Table 4 Sebaran Partisipan Berdasarkan Usia/Umur Range Umur Jumlah Persentase
20-25 12 28%
Berdasarkan tabel diatas diketahui bahwa partisipan dengan range usia 20-25 tahun sebanyak 12 jiwa (28%). Kemudian range usia 26-30 tahun sebanyak 14 jiwa (33%), range usia 31-35 tahun sebanyak 10 jiwa (23%), range usia 36-40 tahun sebanyak 4 jiwa (9%) dan range usia 41-45 tahun sebanyak 3 jiwa (7%).
c) Berdasarkan Tempat Kerja dan Wilayah Kerja
Table 5 Sebaran Partisipan Berdasarkan Tempat Kerja Tempat Kerja Jumlah Persentase
Rumah Sakit 22 51.16
Puskesmas 21 48.84
Total 43 100
34
Tabel diatas menggambarkan bahwa partisipan yang bekerja di fasilitas kesehatan rumah sakit sebanyak 22 jiwa (51.16%). Kemudian, partisipan yang bekerja di fasilitas kesehatan puskesmas sebanyak 21 jiwa (48.84%).
Table 6 Sebaran Partisipan Berdasarkan Wilayah Kerja Wilayah Kerja Jumlah Persentase Gunungsitoli 10 23.26
Selain tempat kerja, terdapat juga gambaran mengenai wilayah kerja partisipan. Tabel diatas menggambarkan partisipan yang wilayah kerjanya Kota Gunungsitoli sebanyak 10 jiwa (23.26%), Kabupaten Nias sebanyak 20 jiwa (46.51%), Kabupaten Nias Utara sebanyak 6 jiwa (13.95%), Kabupaten Nias Barat sebanyak 3 jiwa (6.98%) dan Kabupaten Nias Selatan sebanyak 4 jiwa (9.30%).
4.1.3. Hasil Statistika Deskripsi Data
Table 7 Deskripsi Job Performance di tipe Flexible Working Arrangement Tipe Flexible Working Arrangement Mean SD N
Compressed-work-week 34.40 2.205 43
Flexi-Time 34.30 1.726 43
Job-Sharing 34.42 1.942 43
35
Tabel analisis diatas menunjukkan bahwa, Job Performance partisipan dengan kondisi pengaturan kerja job sharing (M = 34.42, SD = 1.942) lebih tinggi dibandingkan dengan partisipan dengan kondisi pengaturan kerja compressed work week (M = 34.40, SD = 2.205). Kemudian partisipan dengan kondisi pengaturan kerja compressed work week (M = 34.40, SD = 2.205) job performance-nya lebih tinggi dibandingkan dengan kondisi pengaturan kerja flexi-time (M = 34.30, SD = 1.726). Berdasarkan hal tersebut job performance partisipan yang tinggi ketika berada pada kondisi pengaturan kerja job sharing.
Table 8 Analisis Deskripsi Dimensi Job Performance
Tipe Flexible
Berdasarkan tabel diatas, terdapat beberapa temuan disetiap dimensi job performance dengan kondisi 3 flexible working arrangement. Pada dimensi task performance, urutan performance partisipan pada flexible working arrangement tertinggi ke rendah yaitu, pertama job sharing (M = 9.907, SD = 0.3661), kemudian flexi-time (M = 9.884, SD = 0.3909) dan terakhir compressed work week (M = 9.837, SD = 0.7847). Selanjutnya, pada dimensi
36
contextual performance, urutan performance partisipan pada flexible working arrangement tertinggi ke rendah yaitu, pertama flexi-time (M = 15.05, SD = 1.344), kemudian compressed work week (M = 14.98, SD = 1.488) dan job sharing (M = 14.98, SD = 1.406). Terakhir, pada dimensi counterproductive work behavior, urutan partisipan yang mengalami perilaku merugikan disetiap kondisi dari rendah ke tertinggi yaitu, pertama compressed work week (M = 9.581, SD = 0.931), kemudian job sharing (M = 9.535, SD = 1.120) dan terakhir, flexi-time (M = 9.372, SD = 1.273).
4.1.4. Hasil Uji Asumsi
Table 9 Hasil Uji Homogenitas
Test for Equality of Variances (Levene's) F df1 df2 p
0.103 2 126 0.902
Uji Homogenitas yang telah dilakukan memberikan gambaran bahwa data yang diperoleh dengan 3 varian pengaturan kerja tersebut bersifat homogen. Hal ini disebabkan karena hasil ujinya yaitu 0.902 (p > 0.05).
Figure 1 Q-Q Plot Uji Normalitas
37
Penelitian ini juga melakukan uji normalitas data. Berdasarkan grafik diatas menunjukkan bahwa data yang diperoleh tidak normal, hal ini disebabkan karena sebaran data tidak berada pada garis lurus atau terdapat outlier. Pembuktian lain dilakukan dengan menggunakan uji Shapiro-Wilk (lihat tabel lampiran 4) dengan hasil -0.001 (p < 0.05).
Berdasarkan kedua uji asumsi tersebut, maka diperoleh bahwa untuk menganalisis data dilakukan dengan cara statistika non-parametik: Kruskal Wallis. Hal ini disebabkan karena salah satu dari kedua uji asumsi yang dilakukan untuk uji anova tidak terpenuhi yaitu data tidak normal.
4.1.5. Hasil Uji Kruskal Wallis
Table 10 Hasil Uji Kruskal-Wallis Test
Factor Statistic df p Tipe Flexible working arrangement 0.378 2 0.828
Uji kruskal wallis menunjukkan bahwa job performance di 3 tipe flexible working arrangement (H(2) = 0.378, p= 0.828) tidak memiliki pengaruh yang tidak signifikan. Hal ini disebabkan karena nilai p > 0.05 dan pada nilai p tidak memiliki tanda * atau ** yang menandakan signifikan. Berdasarkan hasil tersebut, hipotesis null diterima atau dengan kata lain 3 tipe flexible working arrangement tidak memiliki pengaruh pada job performance menurut perawat di Kepulauan Nias.
4.2. Pembahasan
Penelitian ini melihat pengaruh dari 3 tipe flexible working arrangement terhadap peningkatan job performance menurut perawat di Kepulauan Nias.
Setelah melakukan analisis kruskal wallis, nilai p lebih besar dari 0.05 yang
38
memiliki arti bahwa tidak ada pengaruh dari 3 tipe flexible working arrangement (job sharing, flexi-time, dan compressed work week) terhadap peningkatan job performance dan bersifat tidak signifikan atau dengan kata lain hipotesis alternatif ditolak dan hipotesis null yang diterima.
Beberapa hal yang dapat menjelaskan hasil penelitian ini. Pertama, desain penelitian yang digunakan tidak menggunakan kondisi kontrol. Kondisi kontrol digunakan untuk melihat efektivitas kondisi eksperimen yang memberikan perlakuan dengan kondisi tanpa perlakuan (Gravetter & Forzano, 2012). Pada penelitian ini kondisi kontrol yang seharusnya ialah working arrangement yang saat ini digunakan oleh perawat (shift). Berdasarkan hal tersebut bisa saja kemungkinan dengan adanya kondisi kontrol dapat melihat efektivitas flexible working arrangement pada job performance perawat dibandingkan working arrangement yang saat ini digunakan oleh perawat.
Kedua, adanya variabel sekunder atau extraneous variable yang mempengaruhi. Extraneous variable adalah variabel di luar variabel bebas yang diduga dapat turut memengaruhi variabel terikat (Prasetyo et al., 2020) dan variabel tersebut dapat menjadi variabel pengganggu hanya jika mempengaruhi variabel terikat (Gravetter & Forzano, 2012). Variabel sekunder pada penelitian ini yang dapat mempengaruhi job performance yaitu variabel fisiologis (kemampuan dan keterampilan, latar belakang, dan demografis), variabel organisasi (imbalan, sumber daya, kepemimpinan dan struktur organisasi) dan variabel psikologis (Gibson dalam Sari & Chalidyanto, 2016). Pada penelitian ini beberapa variabel sekunder yang tidak dikontrol yaitu demografis partisipan
39
(tempat kerja yang berbeda atau tidak berada satu tempat kerja yang sama; dan jenis kelamin partisipan), lingkungan kerja setiap partisipan yang berbeda-beda, struktur organisasi dan kepemimpinan pemimpin yang beragam.
Ketiga, flexible working arrangement secara umum dapat berfungsi meningkatan job performance apabila dalam ruang kerjanya memiliki kelengkapan teknologi atau infrastruktur (Fadhila & Wicaksana, 2020).
Kelengkapan teknologi atau infrastruktur mempermudah atau memperlancar pekerjaan sehingga target kerja dapat terselesaikan. Apabila dikaitkan dengan penelitian ini maka kelengkapan teknologi atau infrastruktur di fasilitas kesehatan tidak dapat dikontrol oleh peneliti.
Keempat, penerapan flexible working arrangement dipengaruhi oleh jenis pekerjaan. Pekerjaan yang berjenis pelayanan masyarakat yang berhubungan langsung atau tatap muka tidak dapat menerapkan flexible working arrangement (Fadhila & Wicaksana, 2020). Kemudian tipe flexible working arrangement yaitu flexi-time dan compressed work week tidak dapat berfungsi apabila tugas atau pekerjaannya bersifat interdependensi (Ronen & Primps, 1981, dalam Kattenbach et al., 2010). Hal ini disebabkan waktu kerja yang sangat fleksibel dapat mengganggu komunikasi dan kerjasama antar rekan kerja (Nollen, 1981, dalam Kattenbach et al., 2010). Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh kemungkinan jenis pekerjaan perawat merupakan jenis pekerjaan pelayanan masyarakat yang tidak dapat menerapakan flexible working arrangement.
Kelima, sesuai penelitian Edwin (2020) bahwa, job sharing juga dapat meningkatkan job performance apabila memiliki rekan kerja yang cocok dan
40
memiliki hubungan yang baik dengan rekan kerja. Pada penelitian ini, faktor tersebut tidak dapat diawasi.
Terakhir, menurut Heine (2016, dalam Nuraini dkk., 2019) dalam sudut pandang budaya, perempuan memiliki perhatian lebih pada perasaan dan juga memiliki banyak pertimbangan untuk suatu hal sehingga perempuan lebih mudah beralih perhatian dibandingkan laki-laki. Hal ini mungkin dapat menjadi pengaruh keberhasilan penerapan flexible working arrangement ditempat kerja serta mempengaruhi penelitian ini.
Pada penelitian ini juga terdapat beberapa kekurangan. Pertama, pada penelitian ini dilakukan uji coba untuk melihat keterbacaan dan pemahaman partisipan terhadap skenario dan aitem yang dilakukan namun hanya dilakukan satu arah saja atau ketika sudah di revisi tidak dihubungi kembali untuk menanyakan apakah sudah lebih paham atau belum. Kedua, tempat/lingkungan partisipan saat membuka form dan membaca skenario yang tidak diketahui oleh peneliti, hal ini bisa saja tempatnya tidak mendukung dan banyak gangguan.
Ketiga, tindakan partisipan saat melakukan eksperimen yang tidak bisa dikontrol peneliti, seperti tidak membaca 3 skenario secara keseluruhan dan keseriusan partisipan dalam mengisi form tidak dapat dikontrol. Terakhir, partisipan yang dapat menunjukkan faking good. Namun, pertimbangan untuk tetap menggunakan metode eksperimental vignette yaitu, penggunaan metode tersebut memudahkan peneliti untuk memanipulasi dan mengontrol variabel independen sehingga meningkatkan realisme.
41
Pada penelitian ini terdapat kelebihan metedologi yang digunakan yaitu, kemudahan dalam memanipulasi dan mengontrol variabel independen, dan penelitian ini menggunakan counterbalancing melalui random link dengan javascript sehingga setiap partisipan mendapatkan perlakuan berbeda dalam satu link. Kemudian, terdapat juga kelebihan praktis dari penelitian ini yaitu peneliti mudah melakukan eksperimen dan menjangkau partisipan, efektivitas dan efesien biaya dan waktu, dan partisipan juga mudah/tidak ribet dalam mengisi alat ukur.
Penelitian ini, peneliti cukup membagikan link form ke sosial media dan menunggu partisipan mengisi formnya.
Terdapat pula juga hasil tambahan dengan menggunakan analisis deskripsi job performance pada 3 flexible working arrangement. Hasil dari analisis tersebut menunjukkan 3 urutan mean job performance pada tipe flexible working arrangement. Urutan nilai mean job performance yang tertinggi yaitu ketika berada pada pengaturan kerja tipe job sharing. Urutan kedua, ketika berada pada pengaturan tipe compressed work week. Urutan terakhir yaitu ketika berada pada pengaturan kerja flexi-time.
Lebih lanjut, pada penelitian ini juga menggunakan statistika deskripsi untuk menganalisis tiap dimensi job perfomance yang menunjukkan bahwa menggunakan tipe flexitime memberikan pengaruh terhadap contextual performance sedikit lebih tinggi dibandingkan 2 tipe flexible working arrangement lainnya, tetapi counterproductive work behavior pada pengaturan kerja tersebut juga sedikit lebih tinggi dibandingkan pengaturan kerja fleksibel lainnya. Kemudian, tipe job sharing memberikan pengaruh terhadap task
42
performance sedikit lebih tinggi dibandingkan 2 tipe flexible working arrangement lainnya dan 2 dimensi lainnya berada pada urutan sedang. Terakhir, apabila menggunakan tipe compressed-work-week maka dapat menurunkan counterproductive work behavior dibandingkan 2 tipe flexible working arrangement lainnya tetapi task performance sedikit lebih rendah pada pengaturan kerja tersebut.
43 BAB V PENUTUP 4.1. Kesimpulan
Berdasarkan hasil pengolahan data, interpretasi data dan pembahasan mengenai analisa data, maka dapat dibuat kesimpulan pada bagian ini. Penelitian yang dilakukan pada perawat di Kepulauan Nias menunjukkan bahwa tidak ada pengaruh dari 3 tipe flexible working arrangement terhadap job performance. Hal ini dibuktikan melalui uji kruskal wallis.
Hasil uji lain menggunakan uji statistika deskripsi menunjukkan bahwa terdapat 3 urutan terbesar ke terkecil tipe flexible working arrangement yang memberikan pengaruh terhadap job performance. Urutan pertama yang memberikan pengaruh agak besar yaitu job sharing, kemudian compressed work week dan urutan terakhir yaitu flexi-time.
Analisa lebih lanjut mengenai uji statistika deskripsi disetiap dimensi job performance dengan 3 tipe flexible working arrangement. Hasil tersebut menunjukkan bahwa tipe flexi time memberikan pengaruh terhadap contextual performance sedikit lebih tinggi, tetapi hal ini juga meningkatkan counterproductive work behavior. Kemudian, tipe compressed-work-week memberikan pengaruh kecil atau menurunkan counterproductive work behavior, tetapi task performance sedikit lebih rendah dibandingkan 2 tipe lainnya.
Terakhir, tipe job sharing memberikan pengaruh terhadap task performance sedikit lebih tinggi dan memberikan pengaruh sedang terhadap 2 dimensi lainnya.
44 4.2. Saran
Hasil dan kesimpulan yang telah dipaparkan, maka pada bagian ini dipaparkan saran praktis dan metodologis untuk perkembangan penelitian mengenai pengaruh 3 tipe flexible working arrangement terhadap job performance dan berbagai pihak yang terkait dalam penelitian ini. Berikut ini saran-sarannya:
1. Saran Metodologis
a) Peneliti selanjutnya yang meneliti pengaruh flexible working arrangement terhadap job performance diharapkan mengontrol beberapa variabel sekunder atau faktor eksternal (extraneous variable) dengan salah satu cara yaitu, lokasi penelitian diharapakan satu tempat kerja dengan satu ruang kerja dengan bidang yang sama (contoh, penelitian dilakukan pada satu rumah sakit dengan perawat di ruangan icu).
b) Peneliti selanjutnya diharapkan untuk memastikan proses uji coba penelitian berjalan dengan baik. Proses uji coba dapat melakukan FGD dengan profesional judgment (memiliki kriteria yang sama dengan partisipan penelitian) agar dapat berkomunikasi dua arah sehingga aitem atau skenario dapat dipahami partisipan penelitian.
c) Pada penelitian selanjutnya diharapkan menambahkan kondisi kontrol (work arrangement saat ini diterapkan) dan membandingkannya dengan flexible working arrangement.
d) Bagi peneliti eksperimental vignette yang melakukan secara daring maka peneliti diharapkan mengumpulkan partisipan dalam satu
45
platform (zoom/skype dan lain-lain) dan melakukannya pada waktu yang sama serta pada google formnya menggunakan website tambahan seperti autoproctor agar mengetahui partisipan keseriusan partisipan dalam mengisi skala serta memudahkan partisipan menanyakan aitem atau skenario yang belum dipahami.
e) Penelitian yang menggunakan variabel flexible working arrangement dapat menjadikan jenis pekerjaan, jenis kelamin pekerja dan kelengkapan infrastruktur atau teknologi ditempat kerja sebagai aspek yang mempengaruhi flexible working arrangement.
2. Saran Praktis
Berdasarkan hasil penelitian diatas, peneliti menyarankan kepada pemangku jabatan (pimpinan dinas kesehatan atau pihak fasilitas kesehatan) di Kepulauan Nias yang terlibat dalam pembuatan kebijakan aturan kerja perawat supaya aspek jenis pekerjaan, jenis kelamin pekerja dan kelengkapan infrastruktur atau teknologi ditempat kerja menjadi masukkan dan bahan pertimbangan dalam pembuatan pengaturan kerja sehingga job performance perawat sesuai yang diharapkan.
xv
DAFTAR PUSTAKA
Aguinis, H., & Bradley, K. J. (2014). Best Practice Recommendations for Designing and Implementing Experimental Vignette Methodology Studies.
Organizational Research Methods, 17(4), 351–371.
https://doi.org/10.1177/1094428114547952
Allen, T. D., Johnson, R. C., Kiburz, K. M., & Shockley, K. M. (2013). Work-Family Conflict and Flexible Work Arrangements: Deconstructing Flexibility. Personnel Psychology, 66(2), 345–376.
https://doi.org/10.1111/peps.12012
Asmara, C. G. (2021, July 12). Alert! RI Butuh Puluhan Ribu Nakes Lawan Covid-19. CNBC Indonesia. Retrieved Oktober 10, 2021 from:
https://www.cnbcindonesia.com/news/20210712142751-4-260156/alert-ri-butuh-puluhan-ribu-nakes-lawan-covid-19
Atzmüller, C., & Steiner, P. M. (2010). Experimental vignette studies n survey research. Methodology European Journal of Research Methods for the Behavioral and Social Sciences, 6(3), 128–138.
https://doi.org/10.1027/1614-2241/a000014
Austin-Egole, I. S., Iheriohanma, E. B. J., & Nwokorie, C. (2020). Flexible Working Arrangements and Organizational Performance: An Overview.
IOSR Journal Of Humanities And Social Science (IOSR-JHSS), 22(6), 50–
59. www.iosrjournals.org50%7CPage
xvi
Azwar, S. (2018). Metode Penelitian Psikologi Edisi II. Yogyakarta : Pustaka Pelajar
Blais, K. K., Hayes, J. S., Kozier, B., & Erb, G. (2007). Praktik Keperawatan Profesional: Konsep dan Perspektif (4ed.). Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran (EGC).
Bona, M. F. (2021, March 17). Kemkes Sebut Peran Perawat Sangat Krusial Hadapi Pandemi Covid-19. BeritaSatu.com. Retrieved September 14, 2021 from: https://www.beritasatu.com/kesehatan/746903/kemkes-sebut-peran-perawat-sangat-krusial-hadapi-pandemi-covid19
Cohen, J. (1992). A power primer. Psychological Bulletin, 112(1), 155–159.
https://doi.org/10.1037/0033-2909.112.1.155
Daryoush, Y., Silong, A. D., Omar, Z., & Othman, J. (2013). Improving Job Performance: Workplace Learning is the First Step. International Journal of Education and Literacy Studies, 1(1), 100–107.
xvii
Ensari, N., Lopez, P. D., & Hosboyar, M. (2018). A quasi-experimental study on flexible work arrangement. Pressacademia, 5(2), 153–165.
https://doi.org/10.17261/pressacademia.2018.846
Fadhila, A. A., & Wicaksana, L. (2020). Sistematik Review: Fleksibel Working Arrangement (Fwa) Sebagai Paradigma Baru Asn Di Tengah Pandemi Covid-19. Spirit Publik: Jurnal Administrasi Publik, 15(2), 111.
https://doi.org/10.20961/sp.v15i2.44542
Friandani, W. J. (2021, March 18). Peran Perawat Di Masa Pandemi Covid-19.
Rumah Sakit UNS. Retrieved September 12, 2021 from:
https://rs.uns.ac.id/peran-perawat-di-masa-pandemi-covid-19/
Gibson, J. L., Ivancevich, J. M., Donnelly, J. H., Konopaske, R. (2006).
Organizations: Behavior Structure Processes. 14th Ed. New York: The McGraw-Hill Companies.
Giovanis, E. (2018). The relationship between flexible employment arrangements and workplace performance in Great Britain. International Journal of Manpower, 39(1), 51–70. https://doi.org/10.1108/IJM-04-2016-0083
Gravetter, F.J., & Forzano, L.B. (2012). Research Methods For The Behavioral Sciences 4thedition. Wadsworth : Cengage Learning
Gunawan, H. (2020, January 6). Seorang Pasien di Nias Dikabarkan Meninggal Setelah Tidak Dapat Pelayanan Puskesmas. Tribunnews. Retrieved Oktober 12, 2021 from: https://www.tribunnews.com/regional/2020/01/06/seorang-
pasien-di-nias-dikabarkan-meninggal-setelah-tidak-dapat-pelayanan-puskesmas
xviii COVID-19. Pusat Penelitian Kependudukan LIPI. Retrieved September 14, 2021 from: https://kependudukan.lipi.go.id/mencatatcovid19/perawat-indonesia-di-tengah-pandemi-covid-19/
Jex, S. M., & Britt, T. W. (2008). Organizational Psychology: A Scientist-Practitioner Approach. Newjersey, USA: John Willey & Sons, Inc.
Kattenbach, R., Demerouti, E., & Nachreiner, F. (2010). Flexible working times:
Effects on employees’ exhaustion, work-nonwork conflict and job performance. Career Development International, 15(3), 279–295.
https://doi.org/10.1108/13620431011053749
Koopmans, L., Bernaards, C. M., Hildebrandt, V. H., Schaufeli, W. B., De Vet Henrica, C. W., & Van Der Beek, A. J. (2011). Conceptual frameworks of individual work performance: A systematic review. Journal of Occupational
and Environmental Medicine, 53(8), 856–866.
https://doi.org/10.1097/JOM.0b013e318226a763
Koopmanss, L. (2014). Measuring individual work performance. Amsterdam, NLD: Institute for health and care research
Laia, A. K. W., Megawati, & Yuniati. (2020). Pengaruh Faktor Psikologis Dan Dukungan Organisasi Terhadap Kinerja Perawat Di RSU Lukas
xix
Hilisimaetano Teluk Dalam Nias Selatan Tahun 2018. Jurnal Maternitas Kebidanan, 5(1), 56–68.
Lewis, S. (2003). Flexible Working Arrangements: Implementation, Outcomes, And Management. In: Cooper, C. L., & Robertson, I. T. (editor).
International Review of Industrial and Organzational Psychology Vol. 18.
John Wiley & Sons, Ltd.
Mathis, R. L. & Jackson, J. H. (2010). Human Resource Management 13th edition.
USA: South-Western Cengage Learning.
Motowidlo, S. J., & Keil, H. J. (2013). Job performance. In N. W. Schmitt, S.
Highhouse, & I. B. Weiner (Eds.), Handbook of psychology: Industrial and organizational psychology (pp. 82–103). John Wiley & Sons, Inc.
Nuraini, L., Suyasa, P. T. Y. S., & Suyasa, P. T. Y. S. (2019). Apakah Bekerja Secara Flextime Mendukung Contextual Performance Karyawan?. Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, Dan Seni, 3(2), 339.
https://doi.org/10.24912/jmishumsen.v3i2.3520
Nurnaeni, U. (2017). Gambaran Kinerja Dan Keterikatan Kerja Pada Pegawai Pengelola Barang/Jasa Pemerintah. Jurnal Muara Sains, Teknologi,
Kedokteran Dan Ilmu Kesehatan, 1(2), 473.
https://doi.org/10.24912/jmishumsen.v1i2.1474
Obisi, C. (2017). Impact of Flexible Work Arrangement on Employees Performance in Public Schools in Lagos State, Nigeria. BVIMSR’s Journal
of Management Research, 9(2), 157–166.
http://eds.b.ebscohost.com/eds/pdfviewer/pdfviewer?vid=0&sid=962254de-xx Work-Family Conflict Impact on Psychological Safety and Psychological Well-Being: A Job Performance Model. Frontiers in Psychology, 11.
Prasetyo, A. R., Kaloeti, D. V. S. K., Rahmandani, A., Salma, & Ariati, J. (2020).
Buku Ajar Metodologi Penelitian Eksperimen. In Fakultas Psikologi Universitas Diponegoro Semarang.
Putri, H. E., Isrokatun, I., Majid, N. W. A., & Ridwan, T. (2019). Spatial sense instrument for prospective elementary school student. Journal of Physics:
Conference Series, 1318(1). https://doi.org/10.1088/1742-6596/1318/1/012142
Rajagukguk, K. (2020, May 19). Indonesia Kekurangan Jumlah Tenaga Perawat.
Media Indonesia. Retrieved Oktober 10, 2021 from:
https://mediaindonesia.com/humaniora/314345/indonesia-kekurangan-jumlah-tenaga-perawat
xxi
Retnawati, H. (2015). Teknik Pengambilan Sampel. Ekp, 13(3), 1576–1580.
http://staffnew.uny.ac.id/upload/132255129/pengabdian/15-Teknik Penyampelan alhamdulillah.pdf
Robbins, S.P. & Judge, T.A. (2013). Organizational Behavior. New Jersey:
Pearson Education.
Rokom. (2021, October 28). Kasus Terus Turun, Indonesia Tetap Waspadai Situasi Global Pandemi COVID-19. Sehat Negeriku. Retrieved November
02, 2021 from:
https://sehatnegeriku.kemkes.go.id/baca/umum/20211028/1238766/kasus-terus-turun-indonesia-tetap-waspadai-situasi-global-pandemi-covid-19/
Saifullah, F. (2020). Pengaruh Work-Life Balance dan Flexible Work Arrangement Terhadap Kinerja Karyawati Muslimah Konveksi. BISNIS : Jurnal Bisnis Dan Manajemen Islam, 8(1), 29.
https://doi.org/10.21043/bisnis.v8i1.6762
Sari, A. D., & Chalidyanto, D. (2016). Hubungan Faktor Psikologis Terhadap Kinerja Radiografer Rumah Sakit. Jurnal Administrasi Kesehatan Indonesia, 4(1), 9. https://doi.org/10.20473/jaki.v4i1.2016.9-17
Simanjuntak, D. F., Mustika, M. D., & Sjabadhyni, B. (2019). Pengaruh Flexible Work Arrangement Terhadap Ethical Decision Making : Peran Employee Engagement Sebagai Mediator. Jurnal Diversita, 5(1), 1–8.
https://doi.org/10.31289/diversita.v5i1.2327
xxii
Sinaga, A. (2017). Pengaruh Motivasi, Disiplin Kerja, Loyalitas Pegawai Dan Gaya Kepemimpinan Terhadap Kinerja Pegawai Pada Pt Wesly Tour &
Travel. Jurnal Ilmu Manajemen (JIM), 2(4), 53–61.
Travel. Jurnal Ilmu Manajemen (JIM), 2(4), 53–61.