• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

B. Gambaran Umum Kabupaten Ngada

1. Analisis Tingkat Perkembangan Wilayah …

Untuk mengetahui Perkembangan wilayah di Kabupaten Ngada di hitung menggunakan metode Indeks Tingkat Perkembangan Wilayah dengan membandingkan tingkat atau derajat perkembangan sub-wilayah yang satu dengan wilayah lainya dengan menggunakan beberapa indikator sosial-ekonomi. Metoda ini berbasis metoda pembobotan yang terdiri atas beberapa langkah, yaitu :

a. Menentukan indikator sosial ekonomi.

Indikator sosial ekonomi dimaksud disini adalah indikator yang secara langsung maupun tidak langsung mengukur tingkat pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat, seperti: keadaan perumahan, tingkat pendidikan, derajat kesehatan, kesempatan kerja, dan aksesibilitas ke fasilitas pelayanan umum dan ke sumber-sumber informasi.

1) Perumahan dapat diukur dengan menggunakan beberapa indikator seperti persentasi jumlah rumah tangga yang memiliki (i) sumber air bersih, (ii) listrik (iii) dan (iv) kondisi rumah, diukur dengan kondisi bangunan rumah permanen, semipermanen dan temporer.

2) Pendidikan dapat diukur dengan indikator :(i) persentasi jumlah anak usia sekolah yang bersekolah (ii) persentasi Jumlah murid

SLTP dan SMU dibandingkan dengan jumlah penduduk, dan (iii) persentase jumlah penduduk yang lulus sekolah (pada tingkatan tertentu) terhadap jumlah penduduk.

3) Kesehatan derajat kesehatan dapat diukur dengan tingkat pelayanan kesehatan dengan indikator berupa (i) jumlah fasilitas pelayanan kesehatan untuk setiap luasan wilayah tertentu, (ii) jumlah dokter / paramedis untuk setiap 1000-orang penduduk, dan (iii) jumlah kematian balita atau tingkat

mortalitas penduduk.

4) Kesempatan kerja dapat di ukur dengan Persentasi jumlah penduduk usia kerja yang bekerja dapat digunakan sebagai indikator kesempatan kerja.

5) Tingkat Aksesibilitas ke pusat pelayanan dapat diukur dengan jarak dan kondisi jalan, dan aksesibilitas ke sumber-sumber informasi dihitung berdasarkan 1000 orang penduduk.

b. Pemberian Bobot pada masing masing indikator 1) Prosentase Nilai Tertinggi Nilai Bobot 3

2) Prosentase Nilai Tertinggi Urutan Kedua Nilai Bobot 2 3) Prosentase Nilai Tertinggi Urutan Ketiga Nilai Bobot 1.

Perhitungan Indekss Tingkat Perkembangan Wilayah Kabupaten Ngada dengan menggunakan Data dari berbagai indikator sosial ekonomi diperlihatkan pada Tabel berikut :

Tabel 4.21: Indikatoi Perumahan

No Kecamatan

Persentase Jumlah Rumah Yang Memiliki

Persentase Kondisi Perumahan Sumber Air Listrik

1 Aimere 6,90 6,40 41,07

2 Jerebuu 0,18 4,67 65,88

3 Inerie 5,76 5,53 43,55

4 Bajawa 25,16 23,35 67,70

5 Golewa 12,21 11,33 41,85

6 Golewa Selatan 8,08 7,50 45,73

7 Golewa Barat 5,80 7,48 35,08

8 Bajawa Utara 6,10 5,75 43,78

9 Soa 9,21 8,54 63,53

10 Riung 11,44 10,62 12,85

11 Riung Barat 5,08 5,03 15,10

12 Wolomeze 4,08 3,81 13,88

Sumber: Hasil Analisis Tahun 2016

Tabel 4.22 Indikator Ekonomi

No Kecamatan Perusahan Pasar Toko/

Kios/RM

1 Aimere 126 1 15

2 Jerebuu 66 2 5

3 Inerie 57 1 20

4 Bajawa 4212 2 100

5 Golewa 169 2 12

6 Golewa Selatan 44 1 10

7 Golewa Barat 12 1 20

8 Bajawa Utara 73 1 7

9 Soa 112 1 16

10 Riung 97 1 13

11 Riung Barat 36 2 11

12 Wolomeze 20 1 8

Sumber: Hasil Analisis Tahun 2016

Tabel 4.23: Indikator Pendidikan

No Kecamatan % Pend. Terdaftar di % Penduduk Lulus Dari

SD SLTP SMU SD SLTP SMU

1 Aimere 6,46 7,01 6,45 5,78 5,42 0,55

2 Jerebuu 5,13 5,99 0,00 5,34 4,60 0,00

3 Inerie 4,73 6,30 0,00 4,85 3,97 0,00

4 Bajawa 23,16 6,97 4,75 23,60 26,67 24,33

5 Golewa 10,86 8,66 4,17 10,87 16,34 17,20

6 Golewa Selatan 7,20 5,16 0,00 7,71 5,73 0,00

7 Golewa Barat 6,90 4,06 7,11 5,64 3,62 17,07

8 Bajawa Utara 7,05 7,23 0,00 8,23 3,65 1,07

9 Soa 9,33 6,90 5,53 8,72 10,20 7,06

10 Riung 8,26 5,33 1,12 9,70 11,62 2,27

11 Riung Barat 5,81 7,47 4,27 6,02 5,42 7,06

12 Wolomeze 4,83 6,10 0,00 3,52 2,77 23,39

Sumber: Hasil Analisis Tahun 2016

Tabel 4.24: Indikator Kesehatan

No Kecamatan

Pelayanan Fasilitas Kesehatan

Pelayanan Dokter

Pelayanan

Paramedis Dukun Mortalitas

1 Aimere 0,3243 0,21 4,59 0,31 2

2 Jerebuu 0,4063 0,15 6,78 0,00 1

3 Inerie 0,3361 0,13 2,75 0,26 2

4 Bajawa 0,5251 0,31 3,98 0,41 1

5 Golewa 0,6016 0,05 3,49 0,00 1

6 Golewa Selatan 0,4184 0,09 5,14 1,50 1

7 Golewa Barat 0,5229 0,10 3,87 0,00 1

8 Bajawa Utara 0,2390 0,11 3,80 0,00 1

9 Soa 0,3401 0,14 3,90 1,44 2

10 Riung 0,2013 0,13 0,66 0,00 5

11 Riung Barat 0,1312 0,12 2,97 4,03 4

12 Wolomeze 0,2132 - 3,10 2,59 3

Sumber: Hasil Analisis Tahun 2016

Tabel 4.25: Indikator Kesempatan Kerja

No Kecamatan

% Jumlah Penduduk yang

bekerja

%Jumlah Penduduk yang

belum bekerja

1 Aimere 10,33 8,25

2 Jerebuu 11,45 6,84

3 Inerie 8,78 11,52

4 Bajawa 26,65 3,97

5 Golewa 21,29 5,41

6 Golewa Selatan 14,66 5,11

7 Golewa Barat 14,95 6,04

8 Bajawa Utara 8,58 9,94

9 Soa 19,08 6,26

10 Riung 13,72 9,83

11 Riung Barat 11,44 10,91

12 Wolomeze 11,79 15,92

Sumber: Hasil Analisis Tahun 2016

Tabel 4.26: Indikator Aksesibilitas

No Kecamatan Fasilitas

Jarak ke Ibukota

Kecamatan Kodisi Jalan 0-2 2-5 5-10

1 Aimere

Perdagangan Pendidikan Kesehatan

0,4 2,0 8,0 Aspal

Aspal pengerasan 0,5 4,0 7,0

0,3 5,0 9,0 2 Jerebuu

Perdagangan Pendidikan Kesehatan

0,2 2,3 9,0 Aspal

Pengerasanl Aspal 0,2 2,5 7,3

0,5 2,0 7,6 3 Inerie

Perdagangan Pendidikan Kesehatan

0,1 5,0 7,2 Aspal

Aspal Pengerasan 0,5 4,5 6,5

0,4 3,6 8,2

4

Bajawa

Perdagangan Pendidikan Kesehatan

0,1 2,3 6,5 Aspal

Aspal Aspal 0,1 5,0 6,6

0,2 4,0 65

5 Golewa

Perdagangan Pendidikan Kesehatan

0,1 5,0 7,4 Aspal

Aspal pengerasan 0,5 5,2 5,6

0,6 3,0 7,0 Lanjutan....

No Kecamatan Fasilitas

Jarak ke Ibukota

Kecamatan Kodisi Jalan 0-2 2-5 5-10

6 Golewa Selatan

Perdagangan Pendidikan Kesehatan

0,2 5,0 7,3 Aspal

Pengerasanl Aspal

0,4 3,2 7,0

0,5 2,0 8,0

7 Golewa Barat

Perdagangan Pendidikan Kesehatan

0,4 3,0 7,2 Aspal

Aspal Aspal

0,4 5,0 8.0

0,6 4,0 7,0

8 Bajawa Utara

Perdagangan Pendidikan Kesehatan

0,4 5,0 8,0 Pengerasan

Aspal Tanah

0,5 5,2 8,2

0,5 4,5 9,0

9 Soa

Perdagangan Pendidikan Kesehatan

1,2 2,5 7,1 Aspal

Pengerasan Pengerasan

0,2 3,6 8,0

1,2 4,5 7,5

10 Riung

Perdagangan Pendidikan Kesehatan

0.2 5,0 8,0 Aspal

Pengerasan Tana

0,2 5,4 8,0

0,4 4,0 7,0

11 Riung Barat

Perdagangan Pendidikan Kesehatan

0,2 2,6 8,0 Aspal

Pengerasan Tana

0,5 2,8 8,0

0,2 2,8 8,0

12 Wolomeze

Perdagangan Pendidikan Kesehatan

0,5 3,0 7,0 Aspal

Pengerasan Tana

0,6 4,6 10

0,5 4,3 10

Sumber: Hasil Analisis Tahun 2016

Perhitungan Indekss Tingkat Perkembangan Wilayah Kabupaten Ngada diperlihatkan pada Tabel 4.27 Pada perhitungan ini setiap indikator diberi bobot yang sama atas dasar asumsi bahwa indikator-indikator tersebut memberikan kontribusi yang sama terhadap pemenuhan kebutuhan dasar. Dengan pendekatan ini diperoleh nilai total (yang dicantumkan pada kolom terakhir), yaitu dengan menjumlahkan nilai total skor dari masing-masing indikator. Hasil perhitungan dan pembobotan dapat dilihat pada tabel berikut:

Keterangan

A1 =% rumah yang memiliki sumber air bersih C3 =Tingkat Mortalitas

A2 =% rumah yang memiliki aliran listrik C =Nilai total untuk indikator kesehatan A3 =% rumah yang 2 dari komponen utamanya (lantai, D1 = % penduduk usia kerja yang bekerja

dinding dan atap) terbuat dari bahan permanen E1 = Jumlah Perusahan A =Nilai total untuk mdikator perumahan E2 = Jumlah Pasar

B1-B3 =% penduduk usia sekolah yang terdaftar di SD,SLTP dan SLTA E3 = Jumlah Toko/Kios/Rumah Makan

B4-B6 =%jumlah penduduk yang lulus SD,SLTP dan STLA E = Nilai Total Untuk Indikator Sarana Ekonomi B =Nilai total untuk indikator pendidikan F1 = Jarak (dalam km) ke Ibu Kota Kecamatan C1 =Jumlah Fasilitas Kesehatan per 1 km luas wilayah F2 = Kondisi permukaan

C2-C4 =Jumlah Dokter,Para Medis dan Dukun per 1000 jiwa F = Nilai total untuk indikator aksesibilitas K.

K

A1 A2 A3 A B1 B2 B3 B4 B5 B6 B C1 C2 C3 C4 C5 C D1 E1 E2 E3 E F1 F2 F

Aimere 2 1 2 5 2 2 3 1 1 1 10 2 3 3 1 3 12 1 3 3 1 7 2 3 5 40 Menengah

Jerebuu 1 1 3 5 1 2 1 1 1 1 7 2 2 3 1 3 11 1 2 3 1 6 3 2 5 35

Inerie 1 1 2 4 1 2 1 1 1 1 7 2 2 2 1 3 10 1 1 3 2 6 2 3 5 33

Bajawa 3 3 3 9 3 3 2 3 3 3 17 3 3 3 1 2 12 3 2 3 3 8 3 3 6 55

Golewa 2 2 2 6 3 3 2 2 3 3 16 3 1 2 1 3 10 3 3 3 1 7 3 3 6 48

Golewa Selatan 2 2 2 6 2 1 1 1 1 1 7 2 1 3 2 3 11 2 1 3 1 5 3 3 6 37

Golewa Barat 1 1 2 4 2 1 3 1 1 3 11 3 1 3 1 3 11 2 1 3 2 6 2 3 5 39

Bajawa Utara 1 1 2 4 2 3 1 1 1 1 9 1 1 3 1 3 9 1 2 3 1 6 2 1 3 32 Terbelakang

Soa 2 1 3 6 3 3 3 2 2 3 16 2 2 3 2 3 12 2 3 3 1 7 3 2 5 48 Berkembang

Riung 2 2 1 5 2 2 1 2 2 3 12 1 2 1 1 1 6 2 2 3 1 6 2 1 3 34

Riung Barat 1 1 1 3 2 2 2 1 1 1 9 1 2 2 3 1 9 1 1 3 1 5 1 1 2 29

Wolomeze 1 1 1 3 1 1 1 1 1 3 8 1 1 2 3 1 8 1 1 3 1 5 1 1 2 27

Perkemb angan Wilayah

Terbelakang Berkembang Menengah

Terbelakang Total

Kecamatan Perumahan Pendidikan Sarana

Ekonomi

Kesehatan Aksesibilitas

Sumber:Hasil analisis 2016

99

Berdasarkan hasil analisis pada tabel Indeks Tingkat Perkembangan Wilayah di Kabupaten Ngada Propinsi Nusa Tenggara Timur tahun 2016 di atas memperlihatkan bahwa tingkat perkembangan Wilayah Kecamatan Bajawa, Golewa dan Soa merupakan Kecamatan yang paling berkembang hal ini disebabkan Kota Kabupaten terletak di Kecamatan Bajawa dan kecamatan Golewa, dan Soa merupakan Kecamatan yang berdekatan dengan kota kabupaten dimana Daerah pusat Kota, pinggiran Kota merupakan Daerah yang lebih banyak ditempati untuk bertempat tinggal.

perkembangan wilayah yang tinggi/paling berkembang juga dipengaruhi oleh jumlah sarana sosial ekonominya yang tinggi, oleh karena itu Kecamatan –kecamatan tersebut mengalami perkembangan karena hampir jumlah fasilitas sarana sosial ekonomi tersebar secara merata dan dapat memacu bertambahnya jumlah penduduk di Kecamatan-kecamatan itu.

Sedangkan wilayah dengan tingkat perkembangan yang rendah/menengah berada di Kecamatan Aimere, Golewa selatan, Golewa Barat, Jerebuu dan Kecamatan Riung dengan nilai indeks perkembangan 34-48. hal ini disebabkan karena rendahnya sarana sosial ekonomi yang ada di kecamatan tersebut berdasarkan perhitungan pada Tabel 4.21 dan 4.27 dimana dari kondisi

perumaha, sarana pendidikan, kesehatan, aksesibilitas, KK dan ekonomi mendapatkan nilai yang cukup rendah diantara 3 Kecamatan yaitu Bajawa Golewa dan Soa.

sedangkan Kecamatan Inerie, Bajawa Utara, Wolemeze dan Kecamatan Riung Barat termasuk dalam kelompok kecamatan yang memiliki tingkat perkembangan yang relatif terbelakang dengan nilai total indeks perkembanganya sebesar 27-32. disebabkan karena tingkat perkebangan sarana sosial ekonomi masih sangat rendah, yang didominasi oleh sarana ekonomi dan aksesibilitas.

Perkembangan wilayah yang tindak merata atau adanya ketimpangan pembangunan atar Kecamatan maupun fungsi pusat pelayanan tersebut dapat menyebabkan terjadinya backwash effects, yang artinya wilayah-wilayah yang lebih maju menciptakan keadaan yang menghambat perkembangan wilayah-wilayah yang masih terbelakang. Seperti diketahui bahwa pola persebaran sarana sosial ekonomi dan aktivitas kegiatan seperti perdagangan lebih didominasi di wilayah yang lebih maju atau dekat pusat kota saja, sedangkan wilayah terbelakang sangat sukar mengembangkan aktivitas perekonomiannya sehingga wilayah yang sudah maju akan semakin meningkat, sebaliknya wilayah terbelakang akan semakin terbelakang.

Berikut perkembangan wilayah antar fungsi pusat pelayanan di Kabupaten Ngada di tahun 2016 sebagai berikut

Tabel 4.27:Tingkat Perkembangan Wilayah Antar Fungsi Pusat Pelayanan di Kabupaten Ngada Tahun 2016

Pusat

Pelayanan Kecamatan Total Keterangan

1 PPK Aimere 40 Menengah

2 Jerebuu 35

3 Inerie 33

4 PKL Bajawa 55

5 PPK Golewa 48

6 Golewa Selatan 37

7 Golewa Barat 39

8 Bajawa Utara 32 Terbelakang

9 PPK Soa 48 Berkembang

10 PPK Riung 34

11 Riung Barat 29

12 Wolomeze 27

Terbelakang No

Indek Perkembangan Wilayah

Terbelakang

Berkembang Menengah

Dari hasil analisis yang di sajikan pada Tabel 4.27 menunjukkan bahwa perkembangan pembangunan wilayah berdasarkan fungsi pusat pelayanan di Kabupaten Ngada belum merata, dengan klasifikasi indeks tingkat perkembangan wilayah yang masih didominasi oleh pusat pelayanan Kawasan (PPK) artinya bahwa Kabupaten Ngada belum berhasil dalam pengembangan pusat pelayanan kawasan (PPK) secara merta keseluru Kecamatan-Kecamatan yang masuk dalam Pusat pelayanan Kawasan, sedangkan pusat kegiatan lokal (PKL) masuk dalam klasifikasi fungsi pusat pelayanan berkembang.

2. Analisis Sektor Unggul Menurut Lapangan Usaha Atas Dasar Harga

Dokumen terkait