Operasional
37
Malik (RSUP HAM) Medan yang berlokasi di Jalan Bunga Lau No. 17, Kelurahan Kemenangan Tani, Kecamatan Medan Tuntungan, Kotamadya Medan, Provinsi Sumatera Utara. Rumah sakit ini merupakan rumah sakit pemerintah yang masuk dalam kategori Rumah Sakit Kelas A.
Berdasarkan SK MenKes RI No. HK.02.02/MENKES/390/2014 tanggal 17 Oktober 2014 tentang Pedoman Penetapan Rumah Sakit Rujukan Nasional, RSUP HAM Medan merupakan salah satu rumah sakit di bagian Regional Barat yang merupakan Rumah Sakit Rujukan Nasional. Selain itu, RSUP HAM Medan ini juga merupakan jenis Rumah Sakit Pendidikan, sehingga peneliti dapat melakukan penelitian di rumah sakit ini. Penelitian ini dilakukan di poliklinik Bedah Onkologi dan rawat inap di Rindu B2 dan B3 RSUP HAM Medan.
Data yang digunakan pada penelitian ini adalah data primer berupa wawancara dengan pasien yang berobat ke RSUP HAM Medan. Penelitian dilakukan terhadap 71 pasien dengan nyeri kanker payudara yang datang ke RSUP HAM untuk rawat jalan dan rawat inap dari bulan Juli 2019 sampai dengan Agustus 2019. Sampel penelitian ini adalah pasien nyeri kanker payudara yang telah memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi.
Dari hasil pengumpulan data berupa wawancara di poliklinik bedah onkologi dan rawat inap di rindu B2 dan B3 RSUP HAM Medan selama 1 bulan, didapatkan total subjek penelitian adalah 71 pasien ( stadium awal sebanyak 20 pasien dan stadium lanjut sebanyak 51 orang) dan pada rasa nyeri yang dirasakan paling banyak pasien kanker payudara merasakan nyeri sedang.
Tabel 4.1 Karakteristik pasien kanker payudara.
Tabel 4.1 menunjukkan bahwa pasien kanker payudara paling banyak ditemukan pada usia <50 tahun yaitu 40 kasus (56,3%) sedangkan pada usia >=50 tahun terdapat 31 kasus (43,6%). Pada pendidikan didapatkan pasien kanker payudara paling banyak pada pendidikan terakhir SMA yaitu 31 orang (43,6%).
Untuk pekerjaan pasien kanker payudara paling banyak ditemukan pada sampel Tidak Bekerja/IRT yaitu 51 orang (71,8%). Pada status pasien kanker payudara paling banyak telah menikah yaitu 67 orang (94,3%) dan yang belum menikah yaitu 4 orang (5,6%). Berdasarkan penyebaran pasien kanker payudara paling banyak terkena Metastasis jauh sebanyak 32 orang (45%). Untuk pengobatan pasien kanker payudara paling banyak mendapatkan pengobatan berupa Operasi dan Kemoterapi yaitu 40 orang (56,3%).
Tabel 4.2 Distribusi frekuensi skala nyeri pasien kanker payudara.
Nyeri n= 71
Nyeri ringan, n (%) 20(28,2)
Nyeri sedang, n (%) 30(42,3)
Nyeri berat, n (%) 21(29,6)
Tabel 4.2 menunjukkan bahwa pasien kanker payudara paling banyak mengalami nyeri sedang sebanyak 30 orang (42,3%) diikuti dengan nyeri berat 21 orang (29,6%) dan nyeri sedang ringan 20 orang (28,2%). Hasil ini sejalan dengan penelitian Fransiska (2015) yang menyatakan bahwa pengukuran derajat nyeri yang dilakukan pada Brief Pain Infentory didapatkan para penderita kanker payudara di RSUP Haji Adam Malik paling banyak mengalami nyeri sedang.
Hasil penelitian Gorat (2016) juga menyatakan bahwa nyeri yang dirasakan pada penderita kanker payudara di RSUP Haji Adam Malik paling banyak merasakan nyeri sedang. Hasil ini sejalan dengan teori Raylene (2002) yang menyatakan bahwa nyeri yang dirasakan tiap orang berbeda tergantung ambang nyeri yang dimiliki, seseorang yang tidak atau sedikit memberikan reaksi pada suatu rangsangan nyeri dikatakan memiliki batas ambang nyeri yang tinggi. Sedangkan
seseorang yang memberikan reaksi berlebihan terhadap rangsangan nyeri yang sama dikatakan memiliki batas ambang nyeri yang rendah. Jika suatu rangsangan nyeri telah melawati batas ambang nyeri, maka seseorang akan merasakan nyeri berat.
Diketahui pada hasil penelitian ini ditemukan banyaknya pasien yang merasakan nyeri sedang, bisa dikatakan bahwa rangsangan nyeri yang diterima oleh pasien kanker payudara masih berada pada batasan ambang nyeri.
Tabel 4.3 Distribusi frekuensi kualitas hidup pasien kanker payudara.
Kualitas Hidup n= 71
Gangguan ringan, n (%) 20(28,2)
Gangguan sedang, n (%) 30(42.3)
Gangguan berat, n (%) 21(29,6)
Tabel 4.3 menunjukkan bahwa pasien kanker payudara paling banyak mengalami kualitas hidup dengan gangguan sedang sebanyak 30 orang (42,3%), gangguan berat 21 orang (29,6%), dan gangguan ringan 20 orang (28,2%). Hasil ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Fransiska (2015) bahwa pasien mengalami gangguan pada kualitas hidupnya pada kategori sedang karena nyeri yang dialaminya. Hasil ini didukung oleh pernyataan Urch & Dickenson (2008) bahwa nyeri kanker mengakibatkan peningkatan respon fisik atau perilaku seperti kecemasan, ketakutan, cepat marah (agresi), depresi, menarik diri, kurang tidur, mengurangi mobilitas, perubahan peran keluarga atau sosial, dan efek pada pekerjaan (Briggs, 2010). Hasil ini juga sejalan dengan teori Chen (2012), yang mengatakan bahwa nyeri berdampak pada penurunan kualitas hidup penderita kanker, terutama pada pasien dengan metastasis jauh.
Tabel 4.4 Distribusi pasien kanker payudara berdasarkan stadium.
Stadium n= 71
Stadium Awal, n (%) 20(28,2)
Stadium Lanjut, n (%) 51(71,8)
Tabel 4.4 menunjukkan bahwa pasien kanker payudara terbanyak adalah pasien dengan stadium lanjut (71,8%). Banyak faktor yang menyebabkan pasien kanker payudara datang dengan stadium lanjut salah satunya keterlambatan pemeriksaan kanker payudara. Salah satu faktor keterlambatan pemeriksaan kanker payudara adalah tingkat pengetahuan wanita tentang pemeriksaan payudara sendiri (sadari) (Titiana & Nurlisis, 2018).
Selain keterlambatan dan tingkat pengetahuan, rasa sakit juga merupakan penyebab banyaknya pasien datang dengan stadium lanjut. Seseorang bertindak untuk memeriksakan diri atau mengobati penyakitnya didorong oleh keseriusan penyakit dan ancaman yang dilihat mengenai gejala dan penyakit terhadap dirinya (Notoatmodjo, 2010).
Kondisi perekonomian Indonesia juga bisa menjadi penyebab banyaknya kanker yang ditemukan pada stadium akhir. Kemiskinan dan kurangnya sarana prasarana di daerah pedesaan, mengakibatkan banyak warga yang tidak melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala. Jauhnya rumah sakit rujukan utama pun menjadi salah satu alasan utama sulitnya masyarakat untuk memeriksakan diri (Laksmiarti & Budisuari, 2014).
Tabel 4.5 Hasil analisis hubungan stadium dengan nyeri pada pasien kanker payudara.
Stadium
Gambar 4.5 Diagram analisis hubungan stadium dengan nyeri
Tabel 4.5 dan diagram diatas dapat diketahui bahwa pasien kanker payudara pada stadium awal paling banyak merasakan nyeri ringan sebanyak 20 orang dan pada stadium lanjut didapatkan pasien kanker payudara paling banyak merasakan nyeri sedang 30 orang diikuti dengan nyeri berat 21 orang.
Berdasarkan hasil analisis menggunakan Chi-square dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan antara derajat nyeri dengan stadium kanker payudara (P value <0,05). Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Costa et al., (2017) dimana dikatakan bahwa metastasis mempengaruhi nyeri yang akan dirasakan oleh pasien penderita kanker payudara.
Diketahui bahwa metastasis termasuk migrasinya sel ketempat yang jauh dan paling banyak terjadi pada pasien dengan stadium lanjut. Sebagian besar pasien pada sampel ini memiliki metastasis jauh, dimana tulang dan paru-paru merupakan situs utama yang dipengaruhi oleh metastasis pada kanker payudara, teori ini sejalan dengan penelitian Fontanella et al., (2015). Penelitian Tamai et al., (2017) juga menyatakan bahwa terdapat hubungan antara terjadinya metastasis dengan nyeri yang dirasakan pada pasien kanker payudara.
Meskipun nyeri kanker dapat dialami pasien pada stadium kanker apapun, stadium kanker dan lokasi kanker mempengaruhi intensitas nyeri yang dialami pasien kanker sehingga dapat berpengaruh terhadap skor nyeri pasien. 75-90%
20
0 0
30
0
21
Stadium Awal Stadium Lanjut
Ringan Sedang Berat
pasien kanker dengan stadium lanjut dan metastasis akan mengalami peningkatan intensitas nyeri kanker (Manthy,2013).
Nyeri kanker melibatkan komponen fisik, sosial, dan psikologis, yang semuanya termasuk dalam istilah „rasa sakit total‟, yang digunakan untuk merujuk pada sifat nyeri multidimensi (Costa et al., 2017). Kontribusi masing-masing komponen bervariasi berdasarkan faktor individu dan keadaan yang dihadapi oleh pasien. Oleh karena itu, persepsi nyeri dipengaruhi oleh beberapa variabel seperti kelelahan, insomnia, ketakutan, kecemasan, kemarahan, kesedihan, depresi dan penurunan kapasitas fungsional (Mehta, 2008).
Terjadinya rasa sakit mungkin karena proses penyakit itu sendiri atau sebagai pengobatan setelahnya, seperti pasca operasi, terapi radiasi, dan kemoterapi (Leppert, 2016). Ini membuat rasa sakit menjadi masalah yang signifikan bagi sebagian besar wanita dengan kanker payudara sehingga menyebabkan efek negatif pada kualitas hidup.
Penelitian Glare (2014) yang meneliti nyeri pada penyintas kanker mengatakan bahwa penyintas kanker juga mengalami nyeri yang berkepanjangan terutama pada tahun pertama dan kedua setelah selesai terapi. Hal ini dikarenakan efek nyeri setelah operasi (post surgical syndrome) pada bekas operasi, dan juga efek samping kemoterapi seperti nyeri sendi.
Tabel 4.6 Hasil analisis hubungan stadium dengan kualitas hidup pasien kanker payudara
Stadium
Gambar 4.6 Diagram analisis hubungan stadium dengan kaulitas hidup
Tabel 4.6 dapat diketahui bahwa pasien kanker payudara pada stadium awal hanya merasakan gangguan ringan pada kualitas hidupnya sebanyak 20 orang dan pada stadium lanjut pasien kanker payudara paling banyak merasakan gangguan sedang pada kualitas hidupnya sebanyak 30 orang, dan diikuti dengan gangguan berat sebanyak 21 orang.
Berdasarkan hasil analisis menggunakan Chi-square dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan antara stadium kanker dengan kualitas hidup pasien kanker payudara (P value <0,05). Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Mello et al., (2019) dimana dikatakan bahwa pasien dengan kanker payudara stadium lanjut mempunyai kualitas hidup yang lebih buruk dibandingkan dengan pasien pada stadium awal, persepsi rasa sakit dan nyeri ditemukan menjadi gejala utama yang paling mempengaruhi kualitas hidup pasien kanker payudara. Pada penelitian Aguiar et al., (2014) juga menemukan bahwa gejala komponen psiko-emosional yang signifikan mempengaruhi kualitas hidup pada penderita kanker payudara.
Hasil ini juga sejalan dengan penelitian Costa et al., (2017) yang menyatakan kehadiran metastasis jauh menurunkan kualitas hidup dan membatasi aktivitas sehari-hari pasien penderita kanker payudara. Oleh karena itu kuantifikasi fungsi fisik menjadi elemen penting dalam verifikasi kesehatan.
Terkait kualitas hidup, kanker sering dikaitkan dengan penurunan kapasitas fisik 20
yang mengganggu kegiatan sehari-hari terutama bagi mereka yang mengalami metastasis (Montazeri,2008). Kualitas hidup pasien kanker payudara juga dipengaruhi oleh cara individu untuk memahami penyakit sehingga mereka dapat mengerti bagaimana menjaga kesehatan mereka (Prastiwi, 2012).
Penelitian Zimmerman et al., (2011) juga menegaskan bahwa dukungan keluarga juga penentu penting kualitas hidup pasien pada kanker stadium lanjut.
Peran keluarga sangat penting bagi setiap aspek perawatan kesehatan anggota keluarga, mulai dari strategi-strategi hingga fase rehabilitasi. Dengan demikian pasien memiliki harapan apabila mendapatkan dukungan keluarga yaitu meningkatkan kepatuhan kemoterapi, meningkatkan kualitas hidup dan psikis serta terapi yang dilakukan pasien akan terus berlanjut (Lianawati, 2018).
Prastiwi (2012) mengatakan bahwa dukungan dari orang terdekat juga mempengaruhi pemulihan pasien kanker dalam hal mengurangi tingkat stres dan depresi. Dukungan sosial menjadi faktor penting bagi kualitas hidup wanita yang didiagnosis menderita kanker payudara (Leung et al., 2014). Selain itu dukungan sosial pada saat melakukan diagnosis dapat meningkatkan kualitas hidup bagi penderita kanker payudara (Hughes et al. ,2014).
Tabel 4.7 Hasil analisis hubungan nyeri dengan kualitas hidup berdasarkan stadium kanker payudara. dengan rasa nyeri yang dirasakan oleh pasien dengan rasa nyeri sedang sebanyak
30 orang. Pada kualitas hidup yang dirasakan berat oleh pasien terjadi pada stadium lanjut dengan rasa nyeri yang dirasakan nyeri berat sebanyak 21 orang.
Berdasarkan hasil analisis menggunakan Chi-square dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan antara nyeri dengan kualitas hidup berdasarkan stadium kanker payudara (P value <0,05). Hasil ini sejalan dengan penelitian Costa et al., (2017) yang menyatakan bahwa pasien yang mengklasifikasikan nyeri mereka sebagai nyeri yang intens dan mengalami metastasis jauh memiliki nilai rata-rata yang lebih rendah pada skala kesehatan global. Dimana menunjukkan bahwa kelompok pasien dengan metastasis jauh dengan nyeri akut sangat terkait dengan penurunan kualitas hidup pasien kanker payudara. Nyeri tampaknya berdampak pada kualitas hidup terutama pada pasien dengan metastasis jauh. Pasien-pasien ini tidak hanya berurusan dengan nyeri akut tetapi juga memiliki penurunan yang signifikan dari timbangan fungsional dan gejala. Mereka juga menderita dari citra tubuh yang buruk dan secara emosional terluka oleh proses perawatan dan kurang nya kapasitas fungsional (Chen, 2012).
Hasil ini juga sejalan dengan teori Lewis (2005), yang menyatakan bahwa nyeri pada pasien kanker merupakan kelainan penting yang mempengaruhi kualitas hidup pasien. Nyeri kanker sendiri biasanya dianggap sebagai nyeri kronis, maupun nyeri akut yang dapat terjadi akibat kerusakan jaringan dan kerusakan akibat metastasis pada jaringan tulang atau viseral. Nyeri kanker sering ditemukan dalam praktek sehari-hari pada pasien yang pertama kali datang berobat, sekitar 30% pasien kanker disertai dengan keluhan nyeri dan hampir 70%
pasien kanker stadium lanjut yang menjalani pengobatan (Sudoyo & Setiohadi, 2006).
Menurut Schenk, et al., (2008) mengatakan pada kasus nyeri kanker pada kanker payudara memang membuat pasien merasa tidak nyaman. Secara klinis 50% kanker payudara terjadi pada nyeri kanker, bahkan bisa menyebar ke nyeri punggung, nyeri bahu, nyeri dada tapi sebagaian besar karena terjadinya metastasis tulang sel-sel kanker menyerang matriks tulang atau jaringan lunak sekitarnya. Akibat dari semua gejala diatas apabila tidak diberikan terapi yang tepat dapat menurunkan kualitas hidup para penderita kanker payudara.
47
Berdasarkan hasil penelitian dari data yang diperoleh, maka didapat kesimpulan sebagai berikut:
1. Berdasarkan karakteristik kanker payudara di Poli klinik Bedah Onkologi dan ruang Rindu B2-3 berdasarkan sosiodemografis, pasien kanker payudara paling banyak ditemukan pada usia <50 tahun yaitu sebanyak 56,3%, pendidikan terakhir paling banyak adalah SMA 43,6%, pekerjaan yang paling banyak adalah tidak bekerja sebanyak 71,8%, status yang paling banyak adalah menikah sebanyak 94,3%. Berdasarkan penyebaran paling banyak pada metastasis jauh 45% dan pada pengobatan kanker payudara paling banyak mendapatkan pengobatan berupa operasi dan kemoterapi 56,3%.
2. Hasil analisis hubungan derajat nyeri dengan stadium kanker payudara menggunakan uji chi-square didapatkan nilai p value sebesar 0,01.
Berdasarkan nilai p value, didapatkan bahwa terdapat hubungan antara derajat nyeri dengan stadium kanker payudara.
3. Hasil analisis hubungan stadium dengan kualitas hidup pasien kanker payudara menggunakan uji chi-square didapatkan nila p value sebesar 0,01.
Berdasarkan nilai p value, didapatkan bahwa terdapat hubungan antara stadium dengan kualitas hidup pasien kanker payudara.
4. Hasil analisis hubungan nyeri dengan kualitas hidup pasien kanker payudara menggunakan uji chi-square didapatkan nilai p value sebesar 0,01.
Berdasarkan nilai p value, didapatkan bahwa terdapat hubungan antara nyeri dengan kualitas hidup pasien kanker payudara.
5.2 Saran
Dari serangkaian proses penelitian yang telah dilakukan, maka dapat dikemukakan beberapa saran sebagai berikut:
1. Bagi masyarakat agar dapat menyadari gejala-gejala awal penyakit kanker payudara sehingga penderita tidak datang ketika penyakitnya sudah memasuki stadium lanjut.
2. Bagi dokter dan keluarga yang merawat pasien dengan nyeri kanker payudara, disarankan untuk meningkatkan pemahaman, serta memberikan perhatian dan kasih saying yang cukup karena kurangnya dukungan keluarga dan dari orang sekitar dapat berdampak pada pengaruh kesejahteraan fisik maupun psikis pada penderita kanker payudara.
3. Bagi peneliti yang ingin melakukan penelitian di bidang nyeri kanker payudara, disarankan menambahkan berbagai variabel seperti pengaruh keluarga, lingkungan, efek sosio demografi dan variabel lainnya untuk mengetahui peran-peran dari variabel tersebut terhadap nyeri yang dirasakan pasien kanker payudara. Serta dapat menambah jumlah sampel dalam penelitian selanjutnya.