BAB III METODE PENELITIAN
3.6 Pengolahan Dan Analisa Data
3.6.1 Definisi Operasional
No Variabel Definisi Operasional Cara dan alat ukur
Hasil ukur Skala ukur
1 Jenis Kelamin Karakter seksual responden
2 Usia Rentang kehidupan
yang diukur dengan
3 Psikis orangtua Hasil coping orangtua terhadap
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
Penelitian telah dilakukan dari bulan Juli sehingga bulan Nopember 2021, sedangkan pengambilan data dilakukan dari tanggal 17 September hingga 20 Oktober 2021. Kuesioner disebarkan dalam bentuk Google Form secara online yang berisikan 10 daftar pertanyaan mengenai karakteristik status psikososial ekonomi orang tua pasien penderita clubfoot di Medan dan 22 daftar pertanyaan mengenai psikis orang tua The Impact of Events Scale-Revised (IES-R). Responden yang menjadi sampel dalam penelitian ini adalah orang tua pasien penderita clubfot di Medan sebanyak 45 orang yang telah memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi dengan menggunakan teknik total sampling.
4.1 DESKRIPSI KARAKTERISTIK RESPONDEN
Penilaian Karakteristik responden meliputi jenis kelamin dan usia. Karakteristik tersebut diperoleh melalui pengisian kuesioner orang tua berdasarkan lembar responden. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel dibawah ini
Tabel 4.1. Distribusi Karakteristik Demografi Responden
Hasil Tabel 4.1 menyatakan bahwa sebagian besar responden dalam penelitian ini adalah perempuan yaitu sebanyak 30 responden (66.7%). Manakala laki-laki pula 15 Karakteristik Frekuensi Persentase (%) Jenis Kelamin
Perempuan
Laki-laki 30
15 66.7
33.3 Usia22-35 tahun (Dewasa Awal)
36-45 tahun (Dewasa Akhir) 46-55 tahun (Lansia Awal)
2021 4
44.446.7 8.9
responden (33.3%). Dari data di atas dapat disimpulkan bahwa berdasarkan hasil observasi saat mengirimkan keusioner, perempuan memiliki lebih banyak waktu luang untuk mengisi kuesioner karena pada umumnya adalah ibu rumah tangga sedangkan pada umumnya laki-laki bekerja. Sebagian besar usia dalam penelitian ini adalah dewasa akhir yaitu berusia 36-45 tahun seramai 21 responden (46.7%) diikuti dengan usia dewasa awal 22-35 tahun yaitu sebanyak 20 responden (44.4%) dan lansia awal 46-55 tahun berjumlah 4 orang responden.
Adapun distribusi frekuensi orang tua pasien penderita clubfoot di Medan mengenai karakteristik budaya yang dapat dilihat pada Tabel 4.2.
Tabel 4.2 Distribusi karakteristik psikososial ekonomi dari aspek budaya
Melakukan
Sampel penelitian dikategorikan sebagai orang tua yang mempunyai aspek budaya yang baik dan orang tua yang tidak mempunyai aspek budaya yang baik tentang clubfoot. Berdasarkan Tabel 4.2 diketahui bahwa mayoritas orangtua pasien penderita clubfoot di Medan mempunyai aspek budaya yang cukup baik mengenai perawatan dan juga kepercayaan terhadap clubfoot. Mayoritas orang tua pasien mempunyai kesadaran untuk melakukan perawatan dini di rumah sakit yaitu seramai 45 orang (100%). Kesemua 45 responden (100%) juga mendukung untuk melakukan rawatan clubfoot secara medis di rumah sakit. Sebagian besar menolak kepercayaan dimana clubfoot terjadi adalah karena kutukan dari tuhan yaitu seramai 37 responden (82.3%).
Hasil daripada penelitian ini tidak sejalan dengan penelitian (Kazibwe H, Struthers P.2009) yang mana orang tua tidak membawa anak mereka untuk pengobatan karena Clubfoot itu adalah kutukan dari Tuhan atau karena perilaku ibu. Hasil dari Tabel 4.2 dapat disimpulkan bahwa mayoritas orang tua pasien penderita clubfoot di Medan mempunyai psikososial budaya yang sama dan karakteristik psikososial budaya yang baik.
Adapun distribusi frekuensi dukungan sosial orang tua pasien penderita clubfoot di Medan yang dapat dilihat pada Tabel 4.3.
Tabel 4.3 Distribusi karakteristik psikososial ekonomi dari aspek dukungan sosial
Sampel penelitian dikategorikan sebagai orangtua yang mendapatkan dukungan sosial dari tim medis secara baik dan orangtua yang tidak mendapatkan dukungan sosial dari tim medis secara baik. Berdasarkan Tabel 4.3 diketahui bahwa sebagian besar orang tua pasien penderita clubfoot di Medan yang mendapatkan informasi atau penjelasan yang cukup jelas dari tim medis terhadap penyakit, pengobatan serta prognosis terhadap clubfoot yang diderita anakyaitu sebanyak 44 jawaban (97.8%). Kesemua 45 orang tua pasien (100%) juga bersedia untuk melakukan tindakan operasi terhadap anak mereka apabila dokter menyarankan. Hal ini sejalan dengan penelitian (Perricone G et.,al 2012) dimana tim medis diharapkan berempati dalam menjelaskan penyakit, pengobatan serta prognosis secara jelas dan sabar kepada orangtua agar tujuan pengobatan tercapai dan kualitas hidup anak dapat ditingkatkan. Hasil yang dapat disimpulkan dari Tabel 4.3 bahwa mayoritas orang tua pasien penderita clubfoot di Medan mempunyai psikososial dukungan sosial yang baik dan karakteristik psikososial dukungan sosial yang baik.
Mendapat
Adapun distribusi frekuensi pendapatan orang tua pasien penderita clubfoot di Medan yang dapat dilihat pada Tabel 4.4.
Tabel 4.4 Distribusi karakteristik psikososial ekonomi dari aspek pendapatan
Sampel penelitian dikategorikan sebagai orangtua yang mempunyai pendapatan bulanan baik dan orangtua yang tidak mempunyai pendapatan bulanan yang baik.
Berdasarkan Tabel 4.4 diketahui bahwa 25 responden (55.6%) mempunyai pendapatan lebih daripada UMP yang ditetapkan Sumatera Utara. Frekuensi tersebut menunjukan mayoritas daripada mereka hidup dalam keadaan senang atau tidak miskin. Mayoritas orangtua pasien penderita clubfoot di Medan yaitu sebanyak 32 orangtua (71.2%) juga mempunyai pendapatan yang mencukupi untuk menampung biaya rawatan dan tindakan susulan.Hasil yang dapat disimpulkan dari Tabel 4.4 ini adalah mayoritas orangtua pasien penderita clubfoot di Medan mempunyai pendapatan yang baik karena kebanyakkan dari mereka mempunyai UMP yang lebih banyak dari yang ditetapkan serta mampu menampung biaya rawatan terhadap anak mereka.
Adapun distribusi frekuensi pekerjaan orang tua pasien penderita clubfoot di Medan yang dapat dilihat pada Tabel 4.5.
Tabel 4.5 Distribusi karakteristik psikososial ekonomi dari aspek pekerjaan
Bekerja Frekuensi Persentase (%)
Ya 24 53.3
Tidak 21 46.7
Total 45 100.0
Pekerjaan Frekuensi Persentase (%)
Ibu rumah
tangga 21 46.7
Wiraswasta 3 6.7
Supir 1 2.2
Tukang becak 1 2.2
Staf 1 2.2
Guru 3 6.7
dosen 1 2.2
Akuntan 1 2.2
Administrasi 3 6.7
Pegawai Negeri
Sipil 5 11.1
Medis PTPN 4 1 2.2
Karyawan swasta 1 2.2
Sampel penelitian dikategorikan sebagai orangtua yang bekerja atau tidak bekerja.
Jika responden bekerja ingin mengetahui apakah pekerjaan yang dilakukan saat ini.
Berdasarkan Tabel 4.5 orang tua pasien yang masih bekerja adalah 24 orang (53.3%) dan orangtua yang tidak bekerja adalah 21 orang (46.7%). Hasil yang didapatkan mayoritas dari pekerjaan yang dilakukan saat ini adalah Pegawai Negeri Sipil (PNS) yaitu 5 responden (11.1%). Jumlah yang tidak bekerja tinggi namun tidak mencapai tahap mayoritas adalah karena kebanyakkan responden yang mengisi kuesioner adalah para ibu rumah tangga. Didapati bahwa berdasarkan hasil observasi saat menghantar kuesioner, perempuan memiliki lebih banyak waktu luang karena pada umumnya adalah ibu rumah tangga sedangkan pada umumnya laki-laki bekerja. Dari data diatas dapat disimpulkan bahwa mayoritas responden mempunyai pekerjaan yang tetap dan baik untuk menampung kos sara hidup keluarga mereka.
Engineer 1 2.2
Asistan manajer 1 2.2
Pegawai swasta 1 2.2
Total 45 100.0
Adapun distribusi frekuensi pendidikan orang tua pasien penderita clubfoot di Medan yang dapat dilihat pada Tabel 4.6.
Tabel 4.6 Distribusi karakteristik psikososial ekonomi dari aspek pendidikan
Tingkat pendidikan dibagi menjadi tiga, yakni rendah, menengah dan tinggi. Kategori tingkat pendidikan rendah yaitu tidak sekolah atau pendidikan terakhir sekolah dasar (SD) atau sekolah menengah pertama (SMP), tingkat pendidikan menengah dengan pendidikan terakhir sekolah menengah atas (SMA) atau kejuruan (SMK), dan tingkat pendidikan tinggi dengan pendidikan terakhir akademi atau universitas (S1,S2,S3).
Hasil daripada pengisian kuesioner,tingkat pendidikan orangtua pasien penderita clubfoot di Medan sebagian besar adalah pendidikan tinggi (S1,S2),sebanyak 21 orang (46.7%) diikuti dengan pendidikan menengah atas (SMA) sebanyak 18 orang (40.0%) dan pendidikan rendah yaitu sekolah dasar (SD) dan sekolah menengah pertama (SMP) sebanyak 6 orang (13.3%). Hasil yang dapat disimpulkan dari Tabel 4.6 ini adalah mayoritas orangtua pasien penderita clubfoot di Medan mempunyai psikososial tingkat pendidikan yang baik karena kebanyakkan dari mereka menamatkan perkuliahan sehingga peringkat Universitas.
Pendidikan Frekuensi Persentase (%)
S2 5 11.1
S1 16 35.6
SMA 18 40.0
SMP 5 11.1
SD 1 2.2
Total 45 100.0
Adapun distribusi frekuensi tempat tinggal orang tua pasien penderita clubfoot di Medan yang dapat dilihat pada Tabel 4.7.
Tabel 4.7 Distribusi karakteristik psikososial ekonomi dari aspek tempat tinggal
Sampel penelitian dikategorikan sebagai orangtua yang mempunyai tempat tinggal yang baik dan orangtua yang tidak mempunyai tempat tinggal yang baik dari segi jarak dan juga finansial. Berdasarkan Tabel 4.7 sebanyak 24 orang tua pasien penderita clubfoot di Medan (53.3%) mempunyai tempat tinggal yang terjangkau dari rumah sakit atau fasilitas kesehatan untuk mendapatkan rawatan terhadap anak mereka. Hal ini megakibatkan mayoritas 30 orang tua (66.7%) mengalami masalah finansial dikarenakan jarak antara tempat tinggal dan fasilitas kesehatan terjangkau.
Hal ini sejalan dengan penelitian Ramirez (2011), dimana jarak antara rumah dan rumah sakit yang jauh menimbulkan masalah finansial seperti biaya transportasi, akomodasi, makan dan biaya telepon. . Hasil yang dapat disimpulkan dari Tabel 4.7 ini adalah mayoritas orangtua pasien penderita clubfoot di Medan mempunyai psikososial ekonomi tempat tinggal yang kurang baik karena kebanyakkan dari mereka mengalami masalah finansial akibat jarak tempat tinggal dan rumah sakit terjangkau.
Adapun distribusi frekuensi asuransi kesehatan orang tua pasien penderita clubfoot di Medan yang dapat dilihat pada Tabel 4.8.
Tabel 4.8 Distribusi karakteristik psikososial ekonomi dari aspek asuransi kesehatan
Sampel penelitian dikategorikan sebagai orangtua yang mempunyai asuransi kesehatan dan orangtua yang tidak mempunyai asuransi kesehatan untuk menampung biaya perawatan anak mereka. Berdasarkan Tabel 4.8 mayoritas 30 orangtua pasien penderita clubfoot di Medan (66.7%) mempunyai asuransi kesehatan dan sebanyak 15 orang (33.3%) tidak mempunyai asuransi kesehatan. Hasil yang dapat disimpulkan dari Tabel 4.8 bahwa mayoritas orangtua pasien penderita clubfoot di Medan mempunyai psikososial ekonomi asuransi kesehatan yang sedang karena hanya (66.7%) mengambil asuransi kesehatan untuk perawatan anak mereka.
Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) /asuransi swasta
Frekuensi Persentase (%)
Ya 30 66.7
Tidak 15 33.3
Total 45 100.0
Adapun distribusi frekuensi psikis orang tua pasien penderita clubfoot di Medan yang dapat dilihat pada Tabel 4.9.
Tabel 4.9 Distribusi karakteristik psikososial ekonomi dari aspek psikis
Sampel penelitian dikategorikan sebagai orangtua yang mempunyai gejala psikis dan orangtua yang tidak mempunyai gejala psikis terhadap suatu kejadian yang membuat trauma, dalam hal ini berkaitan dengan peristiwa clubfoot pada anaknya. Hasil daripada Tabel tersebut didapati mayoritas 28 orangtua pasien penderita clubfoot di Medan (62.2%) tidak mempunyai gejala dari post traumatic stress. Terdapat 9 orang (20%) yang mempunyai gejala post traumatic stress dan 8 orang (17.8%) hanya mempunyai beberapa gejala sahaja dari post traumatic stress. Hasil yang dapat disimpulkan dari Tabel 4.9 bahwa orangtua pasien penderita clubfoot di Medan mempunyai psikososial ekonomi dari aspek psikis yang sedang (62.2%) karena mayoritas daripada mereka tidak mempunyai gejala dari post traumatic stress.
Psikis (Post Traumatic Stress)
Frekuensi Persentase (%)
Ada Gejala 9 20.0
Tidak Bergejala 28 62.2
Ada Beberapa
Gejala 8 17.8
Total 45 100.0
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 KESIMPULAN
Berdasarkan hasil dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa:
1. Karakteristik status psikososial ekonomi pada orang tua pasien penderita clubfoot di Medan yang didapatkan adalah rata-rata dalam katagori usia dewasa akhir (36-45 tahun) sebesar 46.7%, mayoritas jenis kelamin adalah perempuan sebanyak 66.7% , tingkat pendidikan terbanyak adalah sekolah menengah atas (SMA) sebesar 40% dan sebanyak 53.3% bekerja.
2. Karakteristik budaya orang tua pasien yang melakukan perawatan dini di rumah sakit adalah 45 jawaban (100%), orang tua yang mendukung rawatan medis di rumah sakit adalah 45 jawaban (100%) dan orang tua yang menolak kepercayaan clubfoot dikarenakan kutukan Tuhan 37 jawaban (82.3%) adalah baik.
3. Aspek dukungan sosial orang tua pasien yang mendapatkan penjelasan dari tim medis terhadap penyakit,pengobatan serta prognosis secara jelas terhadap clubfoot adalah 44 jawaban (97.8%) dan orang tua yang bersedia melakukan tindakan operasi apabila dokter menyarankan adalah 45 jawaban (100%) adalah baik.
4. Pendapatan orang tua pasien yang melebihi UMP Sumatera Utara 2019>RP2.303.403,43 adalah 25 jawaban (55.6%) dan orang tua yang mempunyai pendapatan yang mencukupi untuk biaya rawatan dan tindakan terhadap anak mereka adalah 32 jawaban (71.2%) termasuk kategori sedang.
5. Jarak antara rumah dan fasilitas kesehatan yang terjangkau adalah sebanyak 53.3%
dan 66.7% mengalami masalah finansial dikarenakan jarak antara rumah dan fasilitas kesehatan termasuk kategori kurang baik.
6. Sebanyak 30 jawaban (66.7%) adalah orang tua yang mempunyai asuransi kesehatan termasuk kategori sedang.
7. Dari aspek psikis, sebanyak 28 orang (62.2%) dikatagori sebagai tidak ada gejala post traumatic stress termasuk kategori sedang.
5.2 SARAN
Bagi fasilitas kesehatan
Petugas kesehatan yang menangani pasien clubfoot anak agar melakukan penilaian psikososial ekonomi orangtua dan terlebih dahulu sebelum memulai pengobatan.
Bagi peneliti selanjutnya
Penelitian selanjutnya agar dapat menambahkan variabel lainnya, seperti jenis alat transportasi yang digunakan, akomodasi, jumlah saudara kandung serta status tempat tinggal seperti listrik, air, jumlah ruangan.
Pemantauan terhadap ekonomi orangtua sebaiknya juga dilakukan sebelum memulakan rawatan.
DAFTAR PUSTAKA
Arikunto, S., 2010. Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktik. Edisi Revisi.
Jakarta: Rineka Cipta
Badan Pusat Statistik. Penjelasan. Dalam: Klasifikasi Baku Jenis Pekerjaan Indonesia 2002. Jakarta: Badan Pusat Statistik; 2002. h. v-xxi.
Cahyono B.C. ,2012, Congenital Talipes Equinovarus (CTEV).. Available In Website:
http://www.kalbemed.com/Portals/6/07_191Congenital%20Talipes%20Equinovarus.
Pdf (accessed June 6, 2017)
Chaplin. 2011. Kamus Lengkap Psikologi (terjemahan Kartini Kartono). Jakarta: PT.
RajaGrafindo Persada.
Cousino MK dan Hazen RA., 2013 Parenting Stress Among Caregivers Of Children With Chronic Illness: A Systematic Review. J Pediatr Psychol;38:809- 28.
Dobbs MB, Gordon JE, Walton T dan Schoenecker PL.,2004, Bleeding
Complications Following Percutaneous Tendoachilles Tenotomy In The Treatment Of Clubfoot Deformity. J Pediatr Orthop. Pp. 353–357.
Herring, J. Ricco dan A., Richards, B.,2014. Tachdjian’s Pediatric Orthopaedics. 5th Ed. Herring J, Editor. Philadelpia: Elsevier; pp. 785–818.
Hosseinzadeh P, Steiner RB dan Milbrandt TA,2016, Initial Correction Predicts The Need For Secondary Achilles Tendon Procedures In Patients With Idiopathic
Clubfoot Treated With Ponseti Casting. J Pediatr Orthop. Pp. 36:80–3.
Kazibwe H dan Struthers P. Barriers.,2009 Experienced By Parents Of Children With Clubfoot Deformity Attending Specialised Clinics In Uganda. Tropical Doctor.n;39(1):15-8.
Kohn R, Wintrob RM dan Alarcon RD.,2009 Transcultural Psychiatry. Dalam:
Sadock BJ, Sadock VA, Ruiz P, Penyunting. Kaplan & Sadock’s Comprehensive Textbook Of Psychiatry. Edisi ke-9. Philadelphia: Lippincott Williams & Wilkins; h.
735-53.
Liputan 6. UMP Sumatera Utara pada 2019 Ditetapkan Rp 2,3 Juta. 1 November 2018 [diakses tanggal 22 Februari 2019]. Tersedia di:
https://www.liputan6.com/bisnis/read/3682294/ump-sumatera-utara-pada2019-ditetapkan-rp-23-juta
Maranho DA dan Volpon JB.,2011, Congenital Clubfoot. Acta Ortop Bras.
[online ]. ;19(3):163-9.
Norman Ramírez, John M Flynn, Samuel Fernández, Wallace Seda dan Raul E Macchiavelli. ,2011,Orthosis Noncompliance After The Ponseti Method For The Treatment Of Idiopathic Clubfeet: A Relevant Problem That Needs Reevaluation.
710-5
Nurdin AE.,2011, Respons Bio-Fisio-Psikologis Terhadap Stres. Dalam: Dany F, Haniyarti S, Penyunting. Tumbuh Kembang Perilaku Manusia. Jakarta: EGC; pp.
290-303.
Nurdin AE. ,2011,Sindrom Adaptasi Umum Pada Stres. Dalam: Dany F, Haniyarti S, Penyunting. Tumbuh Kembang Perilaku Manusia. Jakarta: EGC; pp 284-289.
Nurdin AE.,2011, Teori Psikologi Perilaku. Dalam: Dany F, Haniyarti S, Penyunting.
Tumbuh Kembang Perilaku Manusia. Jakarta: EGC; pp. 162-170.
O Esan, A Akinsulore dan MB Yusuf OO. ,2017, Adegbehingbe Assessment Of Emotional Distress And Parenting Stress Among Parents Of Children With Clubfoot In South-Western Nigeria SA Orthop. J. Vol.16 N.2 Centurion
Okado Y, Tillery R, Sharp KH, Long AM dan Phipps S.,2016, Effect Of Time Since Diagnosis On The Association Between Parent And Child Distress In Families. Child Health Care. ;45:303-22
Perricone G, Polizzi C, Morales MR, Marino S dan Scacco CF. Functioning Of Family System In Pediatric Oncology During Treatment Phase. Pediatr Hematol Oncol:652-62.
Presiden Republik Indonesia. Kumpulan Peraturan Jaminan Kesehatan. 18 Januari 2013 [diakses tanggal 22 Februari 2019]. Tersedia di:
http://www.depkes.go.id/resources/download/jkn/himpunan-peraturanjaminan-kesehatan.pdf
Rasjad C MD.,2007, Kelainan Bawaan dan Perkembangan dalam Pengantar Ilmu Bedah Ortopedi. pp. 120–123
Richardo J. Laloan dan Andriessanto C. Lengkong.,2020,Congenital Talipes Equinovarus (CTEV) e-CliniC.211-221
Salter RB. ,1999,Textbook of Disorders and Injuries of the Musculoskeletal System. Baltimore: William & Wilkins; pp. 113–144.
Sanjay Meena, Pankaj Sharma, Shreesh Kumar Gangary dan Lalit Kumar Lohia.,2014,Congenital Clubfoot;pp. 34-39.
Sarah Drew, Christopher Lavy dan Rachael Gooberman-Hill.,2016,What Factors Affect Patient Access And Engagement With Clubfoot Treatment In Low- And Middle-Income Countries? Meta-Synthesis Of Existing Qualitative Studies Using a Social Ecological Model.
S. Nordin, M. Aidura, S. Razak dan WI. Faisham.,2002,Controversies in Congenital Clubfoot : Literature Review: 34–40
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem
Pendidikan Nasional. Available from http://usu.ac.id/public/content/files/sisdiknas.pdf Warsini S, Buettner P, Mills J, West C dan Usher K.,2015,Psychometri Evaluation Of The Indonesian Version Of The Impact Of Event Scale-Revised. J Psychiatr Ment Health Nurs. ;22:251-9.
LAMPIRAN A. BIODATA PENULIS
CURRICULUM VITAE
Nama :Mohamad Mukhtar Bin Razak
Nim : 180100250
Tempat/Tanggal Lahri : Malaysia/ 13 April 2000
Agama : Islam
Nama Ayah : Razak Bin Abu Bakar
Nama Ibu : Subedah Binti Kadeer Moideen
Alamat : Kos TentremJl. Suka Baru No.18, Padang Bulan Selayang I, Kec. Medan Selayang, Kota Medan, Sumatera Utara 20131, Indonesia
Riwayat Pendidikan : 1. SK Kangkar Pulai , Johor, Malaysia (2007-2012) 2. SMK Kangkar Pulai , Johor, Malaysia (2013-2017) 3. Universitas Sumatera Utara, Medan, Indonesia (2018-Sekarang)
Riwayat Pelatihan :1. Pengawas sekolah (2016-2017)
Riwayat Organisasi : 1. Persatuan Pengawas sekolah (2016-2017) 2. Persatuan Kadet Bomba (2013-2017)
LAMPIRAN B
LEMBAR PENJELASAN KEPADA RESPONDEN
Selamat sejahtera,
Dengan hormat, saya yang bertanda tangan di bawah ini;
Nama: Mohamad Mukhtar Bin Razak NIM: 180100250
Saya sedang melakukan penelitian yang berjudul “Karakteristik Status Psikososial Ekonomi Pada Orang Tua Pasien Penderita Clubfoot Di Medan”.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui sebagaimana karakteristik status psikososial ekonomi pada orang tua pasien penderita clubfoot di medan. Agar terlaksananya penelitian ini, saya mengharapkan Ibu/bapak bersedia menjadi responden dalam penelitian ini dengan meluangkan waktu mengisi pertanyaan yang ada pada kuesioner dengan jujur. Informasi yang ibu/bapak berikan akan dijaga kerahasiannya dan akan digunakan hanya untuk kepentingan penelitian sahaja.
Partisipasi ibu/bapak adalah bersifat suka rela dan tanpa paksaan, sekiranya ibu/bapak tidak bersedia saya tetap menghargainya. Terima kasih saya ucapkan kepada ibu/bapak yang telah ikut berpartisipasi pada penelitian ini. Keikutsertaan ibu/bapak dalam penelitian ini akan menyumbangkan sesuatu yang berguna bagi ilmu pengetahuan. Setelah memahami hal yang menyangkut penelitian ini diharapkan ibu/bapak bersedia mengisi lembar persetujuan yang telah saya persiapkan.
Hormat saya,
(Mohamad Mukhtar Bin Razak)
LAMPIRAN C
LEMBAR PERSETUJUAN MENJADI RESPONDEN (INFORMED CONSENT)
Saya yang bertanda tangan di bawah ini :
Nama : Umur : Alamat : No. HP :
Setelah mendapat penjelasan dari peneliti tentang penelitian “Karakteristik Status Psikososial Ekonomi Pada Orang Tua Pasien Penderita Clubfoot Di Medan”, maka dengan ini saya secara sukarela dan tanpa paksaan menyatakan bersedia ikut serta dalam penelitian tersebut. Demikianlah surat pernyataan ini untuk dapat dipergunakan sepenuhnya.
Medan, 2021
Responden,
( )
LAMPIRAN D
LEMBAR KUESIONER RESPONDEN
No Responden:
Nama:
Jenis kelamin: Laki-laki/ Perempuan Usia:
Pekerjaan : bekerja/tidak bekerja Jenis pekerjaan :
Pendidikan terakhir: SD = Sekolah Dasar SMP = Sekolah
Menegah Pertengahan SMA = Sekolah Menengah Atas
S1 = Sarjana S2 = Magister
Petunjuk Pengisian Bapak/Ibuk diharapkan:
1.Menjawab setiap pertanyaan yang tersedia pada tempat yang tersediakan.
2.Semua pertanyaan harus dijawab.
3.Setiap pertanyaan diisi dengan satu jawaban.
4..Bila ada yang kurang mengerti silahkan bertanya kepada peneliti.
1. Apakah ibu/bapak melakukan perawatan dini di rumah sakit setelah anak didiagnosa clubfoot?
….……….
2. Apakah ibu/bapak mendukung rawatan clubfoot secara medis di rumah sakit?
..………
3. Apakah ibu/bapak menolak kepercayaan dimana clubfoot terjadi karena kutukan dari Tuhan?
….………
4. Apakah ibu/bapak mendapat penjelasan dari tim medis terhadap penyakit, pengobatan serta prognosis secara jelas terhadap clubfoot yang diderita anak?
….……….
5. Apakah ibu/bapak bersedia untuk dilakukan tindakan operasi apabila dokter menyarankan?
….……….
6. Apakah pendapatan bulanan ibu/bapak lebih besar sama dengan UMR Sumatera Utara 2019 yaitu ≥ Rp 2.303.403,43 ?
….……….
7. Apakah status pendapatan bulanan ibu/bapak cukup untuk biaya rawatan dan tindakan anak?
….………..
8. Apakah jarak tempat tinggal ibu/bapak dengan fasilitas kesehatan dimana rawatan clubfoot dilakukan terjangkau?
….………..
9. Apakah ibu/bapak mengalami masalah finansial dikarenakan jarak antara tempat tinggal dengan fasilitas kesehatan?
….………..
10.Apakah ibu/bapak memakai sebarang program jaminan kesehatan seperti jaminan kesehatan nasional (JKN) /asuransi swasta saat perawatan clubfoot?
….………
Kuesioner the impact of event scale-revised (IES-R)
PETUNJUK : Di bawah ini merupakan daftar kesulitan yang biasa dialami orang setelah mengalami kejadian-kejadian yang membuat stress. Silakan baca setiap pernyataan, dan kemudian pilih seberapa menyusahkan setiap kesulitan tersebut bagi anda selama tujuh hari terakhir berkenaan dengan diagnosis clubfoot pada anak anda. Seberapa besar penderitaan dan gangguan yang anda rasakan akibat kesulitan-kesulitan ini. Berilah nilai 0=tidak sama sekali; 1=sedikit; 2=sedang-sedang saja (cukup); 3=sedikit banyak;
4= sangat.
0 1 2 3 4
1. Hal-hal yang mengingatkan saya pada penyakit clubfoot anak membuat saya merasakannya kembali
2 Saya mengalami kesulitan untuk tidur nyenyak
3 Ada hal-hal yang terus membuat saya memikirkan kejadian tersebut
4 Saya merasa mudah tersinggung dan marah
5 Saya berusaha untuk tidak bersedih ketika memikirkan atau teringatakan peristiwa tersebut
6 Saat saya tidak bermaksud untuk memikirkannya, kejadian tersebut malah terpikirkan
7 Saya merasa seperti kejadian tersebut tidak pernah terjadi atau tidak nyata (masih tidak percaya)
8 Saya berusaha menjauhi hal-hal yang dapat mengingatkan pada kejadian tersebut
9 Gambaran atau bayangan tentang kejadian itu muncul di pikiran saya
10 Saya gelisah dan mudah terkejut
11 Saya mencoba untuk tidak memikirkan kejadian tersebut 12 Saya sadar bahwa saya masih menyimpan banyak
perasaan tentang kejadian tersebut, tetapi saya tidak memperdulikannya
13 Saya sudah tidak memiliki perasaan apapun terhadap kejadian itu
14 Saya menyadari diri saya bersikap seperti kembali pada masa tersebut.
15 Saya mengalami kesulitan untuk tidur.
16 Saya mengalami gelombang perasaan yang kuat (shock) mengenai kejadian tersebut (Jika ingat saya masih sedih atau bisa menangis
17 Saya mencoba menghapus kejadian tersebut dari ingatan saya.
18 Saya mengalami kesulitan berkonsentrasi.
19 Jika ingat kejadian tersebut menyebabkan saya
19 Jika ingat kejadian tersebut menyebabkan saya