• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN TEORITIS

2.6 Definisi Operasional

1. Tingkat keinovativan (Y1) adalah waktu (bulan) yang dibutuhkan petani sejak mendengar/mengenal inovasi SRI sampai dengan menerapkannya di usahatani sawah mereka. Pada saat penelitian berlangsung, sejak diintroduksikannya, inovasi SRI telah dibudidayakan 32 bulan. Oleh karenanya, tingkat keinovativan dibedakan ke dalam tiga kategori: (a) rendah, jika petani mengadopsi inovasi SRI pada periode 0 - 11 bulan, (2) sedang, jika petani mengadopsi inovasi SRI pada periode 12 - 22 bulan dan (3) tinggi, jika petani mengadopsi inovasi SRI pada periode 23 - 32 bulan.

2. Laju adopsi inovasi SRI (Y2) adalah jumlah rumahtangga petani yang mengadopsi inovasi SRI dalam periode waktu (tahun) sejak SRI diintroduksikan sampai dengan diterapkan oleh sebagian besar anggota sistem sosial (kampung). Dari hasil perhitungan diperoleh laju adopsi sebesar 72 persen, 52 persen dan 50 persen berturut-turut di Kampung Cinusa, Kampung Muhara, dan di Kampung Tanjung Sirna. Berdasar hal tersebut, Laju Adopsi dibedakan ke dalam kategori: (1) rendah (skor 1) untuk responden yang berasal dari Kampung Tanjungsirna, (2) sedang (skor 2) untuk responden yang berasal dari Kampung Muhara, dan (3) tinggi (skor 3) untuk responden yang berasal dari Kampung Cinusa.

3. Tingkat keuntungan relatif inovasi SRI (X1) adalah rata-rata keuntungan (rupiah dan atau produksi) yang diperoleh dari usahatani padi dengan metode SRI. Tingkat keuntungan relatif inovasi SRI ini dihitung dengan dua metode: (a) produktivitas adalah jumlah produksi padi SRI dalam satuan ton per ha, dimana minimal produktivitasnya adalah 0,66 ton dan maksimalnya adalah 15,40 ton, dibedakan ke dalam kategori-kategori: (1) rendah, jika produktivitas yang diperoleh petani antara 0,66 – 5,56 ton; (2) sedang, jika produktivitas yang diperoleh petani antara 5,57 – 10,46 ton; dan (3) tinggi, jika produktivitas diperoleh petani antara 10,47 – 15,40 ton. (b) keuntungan relatif pendapatan adalah hasil jual produksi padi SRI dikurangi biaya produksi padi SRI, dimana minimal pendapata yang diperoleh adalah Rp. 108.000 dan maksimalnya adalah Rp. 9.306.500, dibedakan ke dalam kategori-kategori: (1) rendah, jika keuntungan relatif pendapatan yang

diperoleh petani antara Rp. 108.000 - Rp. 3.174.000, (2) sedang, jika keuntungan relatif pendapatan yang diperoleh petani antara Rp. 3.174.100 - Rp. 6.240.000 dan (3) tinggi, jika keuntungan relatif pendapatan yang diperoleh petani antara Rp. 6.240.100 – Rp. 9.306.500.

4. Tingkat kesesuaian budidaya inovasi SRI (X2) adalah derajat dimana aktivitas dan/atau teknologi inovasi SRI dipandang sesuai (tidak bertentangan/konsisten) dengan aktivitas dan/atau teknologi pada budidaya padi konvensional. Secara keseluruhan ada 12 komponen budidaya inovasi SRI, dimana minimalnya adalah lima komponen dan maksimalnya adalah sepuluh komponen, dibedakan ke dalam kriteria: (1) rendah, jika mengganti antara sembilan sampai dengan sepuluh komponen aktivitas dan/atau teknologi pada budidaya padi konvensional (2) sedang, jika mengganti antara tujuh sampai dengan delapan komponen aktivitas dan/atau teknologi budidaya konvensional, dan (3) tinggi, jika mengganti antara lima sampai dengan enam komponen aktivitas dan/atau teknologi yang sudah diterapkan dalam budidaya padi konvensional.

5. Tingkat kerumitan inovasi SRI (X3) adalah derajat dimana sejumlah komponen (aktivitas dan/atau teknologi) dalam inovasi SRI dianggap relatif lebih sulit diaplikasikan dibanding metode budidaya konvensional. Secara keseluruhan ada 12 komponen budidaya inovasi SRI, dimana minimalnya ada dua komponen yang dirasa sulit oleh petani dan maksimal tujuh komponen yang dirasa sulit oleh petani, dibedakan ke dalam kriteria: (1) rendah, jika antara dua sampai tiga komponen aktivitas dan/atau teknologi dianggap sulit oleh petani, (2) sedang, jika antara empat sampai dengan lima komponen aktivitas dan/atau teknologi dianggap sulit oleh petani, dan (3) tinggi, jika antara enam sampai tujuh komponen aktivitas dan/atau teknologi dianggap sulit oleh petani.

6. Tingkat kemungkinan dicobanya inovasi SRI (X4) adalah derajat dimana sejumlah komponen (aktivitas dan/atau teknologi) dalam inovasi SRI dianggap relatif mudah diaplikasikan oleh petani. Secara keseluruhan ada 12 komponen budidaya inovasi SRI, dimana minimal yang dianggap relatif mudah diaplikasikan oleh petani adalah lima komponen dan maksimal

sepuluh komponen, dibedakan ke dalam kategori: (1) rendah, jika antara lima sampai enam komponen aktivitas dan/atau teknologi Inovasi SRI dianggap mudah diaplikasikan, (2) sedang, jika antara tujuh sampai dengan delapan komponen aktivitas dan/atau teknologi inovasi SRI mudah diaplikasikan, dan (3) tinggi, jika antara sembilan sampai sepuluh komponen aktivitas dan/atau teknologi inovasi SRI mudah diaplikasikan.

7. Tingkat kemungkinan diamatinya inovasi SRI (X5) adalah derajat dimana hasil-hasil penerapan komponen aktivitas dan/atau teknologi inovasi SRI dapat diamati dan dirasakan manfaatnya oleh petani. Secara keseluruhan ada 12 komponen budidaya inovasi SRI, dimana minimal ada lima komponen yang dapat diamati dan maksimal sepuluh komponen, dibedakan ke dalam kategori: (1) rendah, jika antara lima sampai dengan enam komponen aktivitas dan/atau teknologi inovasi SRI dapat diamati manfaatnya; (2) sedang, jika tujuh sampai dengan delapan komponen aktivitas dan/atau teknologi inovasi SRI dapat diamati manfaatnya oleh petani; dan (3) tinggi, jika antara sembilan sampai dengan sepuluh komponen aktivitas dan/atau teknologi inovasi SRI dapat diamati manfaatnya oleh petani.

8. Tipe pengambilan keputusan inovasi SRI (X6) adalah keterlibatan petani sebagai unit pengambil keputusan dan/atau unit adopsi dalam pengambilan keputusan inovasi SRI, ada tiga jenis/tipe PK inovasi SRI (1) opsional, jika petani berperan sebagai unit pengambil keputusan sekaligus unit adopsi inovasi SRI, (2) kolektif, jika petani bersama-sama kelompok taninya berperan sebagai unit pengambil keputusan sekaligus unit adopsi inovasi SRI, dan (3) otoritas, jika unit pengambilan keputusan dilakukan oleh pihak berwenang (instruksi pihak-pihak di luas sistem sosial, seperti Dinas Pertanian Pemda Kabupaten Tasikmalaya), dibedakan ke dalam tiga kategori: (1) rendah, jika PK inovasi SRI adalah kolektif atau opsional, (2) sedang, jika PK inovasi SRI adalah kolektif dan opsional, dan (3) tinggi, jika PK inovasi SRI adalah otoritas, kolektif dan opsional.

9. Tingkat pengenalan inovasi SRI dari media massa (X7) adalah keterdedahan petani pada informasi inovasi SRI yang diperoleh dari media massa: radio, televisi, surat kabar, dibedakan ke dalam tiga kategori : (1) rendah, jika petani

memperoleh informasi inovasi SRI hanya dari satu jenis media massa atau tidak sama sekali, (2) sedang, jika petani memperoleh informasi inovasi SRI dari dua jenis media massa, dan (3) tinggi, jika petani memperoleh informasi inovasi SRI dari tiga dan/atau lebih jenis media massa.

10. Tingkat partisipasi petani mengikuti penyuluhan inovasi SRI (X8) adalah frekuensi peranserta petani dalam mengikuti kegiatan penyuluhan tentang inovasi SRI sebelum dia menerapkan inovasi SRI. Pada saat penelitian berlangsung, penyuluhan inovasi SRI telah diadakan sebanyak 14 kali pertemuan, dimana minimal ada enam pertemuan yang dihadiri oleh petani dan maksimal adalah 12 pertemuan, dibedakan ke dalam tiga kategori: (1) rendah, jika petani mengikuti antara enam sampai dengan tujuh kegiatan penyuluhan inovasi SRI, (2) sedang, jika petani mengikuti sekitar delapan sampai dengan sembilan kegiatan penyuluhan inovasi SRI, dan (3) tinggi, jika petani mengikuti antara sepuluh sampai dengan 12 kegiatan penyuluhan inovasi SRI.

11. Tingkat ketaatan petani berbudidaya padi konvensional (X9) adalah derajat dimana petani cenderung lebih menerapkan aktivitas dan/atau teknologi budidaya padi konvensional. Secara keseluruhan budidaya padi konvensional ada 12 komponen budidaya padi konvensional, dimana minimal ada tiga komponen yang petani lebih cenderung menerapkan budidaya padi konvensional dan maksimal ada delapan komponen, dibedakan ke dalam tiga kategori: (1) rendah, jika petani menerapkan tiga sampai dengan empat aktivitas dan/atau teknologi budidaya padi konvensional, (2) sedang, jika petani menerapkan lima sampai dengan enam aktivitas dan/atau teknologi budidaya padi konvensional; dan (3) tinggi, jika petani menerapkan antara tujuh sampai dengan delapan aktivitas dan/atau teknologi budidaya padi konvensional.

12. Tingkat integrasi petani (X10) adalah total skor dari jumlah kelompok dan/atau organisasi yang aktivitasnya diikuti oleh petani. Keikutsertaan pada setiap kelompok diberi skor satu. Total keseluruhan aktivitas kelompok dan/atau organisasi yang diikuti oleh petani ada 38 kegiatan, dimana minimal aktivitas yang diikuti oleh petani ada delapan sedangkan maksimalnya ada 24

aktivitas yang diikuti. Selanjutnya Tingkat Integrasi Petani dibedakan ke dalam tiga kategori: (1) rendah, jika petani mengikuti delapan sampai dengan 12 aktivitas kelompok dan/atau organisasi; (2) sedang, jika petani mengikuti 13 sampai dengan 18 aktivitas kelompok dan/atau organisasi; dan (3) tinggi, jika petani mengikuti antara 19 sampai dengan 24 aktivitas kelompok dan/atau organisasi.

13. Tingkat keragaman metode penyuluhan (X11) adalah jumlah dan ragam metode penyuluhan yang digunakan Pemda Tasikmalaya dan pemangku kepentingan dalam mendiseminasikan inovasi SRI kepada petani di lokasi penelitian. Minimal tingkat keragaman metode penyuluhan adalah empat metode dan maksimalnya adalah 13 metode, dibedakan ke dalam kategori: (1) rendah, jika antara empat sampai tujuh metode penyuluhan; (2) sedang, jika antara delapan sampai sepuluh metode penyuluhan; dan (3) tinggi, jika antara 11 sampai 13 metode penyuluhan.

14. Frekuensi kunjungan penyuluh dan/atau agen perubah lain (X12) adalah total kegiatan kunjungan (rumah, usahatani) yang dilakukan penyuluh dan/atau agen perubah lain dalam mendiseminasikan inovasi SRI sampai petani mengadopsi inovasi. Minimal frekuensi kunjungan penyuluh dan/atau agen perubah lain adalah enam kunjungan, sedangkan maksimalnya adalah adalah 12 kunjungan, dibedakan ke dalam kategori: (1) rendah, jika kunjungan penyuluh/agen perubah lainnya antara enam sampai dengan tujuh kunjungan pada komunitas petani; (2) sedang, jika kunjungan penyuluh dan/atau agen perubah lainnya antara delapan sampai dengan sembilan kunjungan; dan (3) tinggi, jika kunjungan penyuluh/agen perubah lainnya antara sepuluh sampai dengan 12 kunjungan.

15. Tingkat pendidikan formal (X13) adalah jenis pendidikan sekolah tertinggi yang pernah diikuti oleh responden, dibedakan ke dalam kategori: (a) rendah, jika tidak tamat tamat dan SD dan sederajat, (2) sedang, jika SLTP dan sederajat; dan (3) tinggi, jika SLTA dan sederajat.

16. Tingkat pendidikan non-formal (X14) adalah total skor kegiatan pendidikan di luar sekolah (PLS) yang pernah diikuti oleh petani, baik pelatihan dan/atau kursus, seminar, lokakarya, pameran, mimbar sarasehan dan lainnya dilihat

menurut tingkatan penyelenggaraannya (tingkat kampung, desa, kecamatan, kabupaten, provinsi dan nasional berturut-turut diberi skor 1, skor 2, skor 3, skor 4 dan skor 5), dibedakan ke dalam tiga kategori: (1) rendah, jika total skor petani mengikuti kegiatan PLS satu kegiatan PLS; (2) sedang, jika total skor petani mengikuti kegiatan PLS dua kegiatan PLS, (2) tinggi, jika total skor petani mengikuti kegiatan PLS lebih atau sama dengan tiga kegiatan PLS.

17. Pola perilaku komunikasi (X15) adalah akumulasi skor dari interaksi komunikasi (pergaulan) petani dengan beragam sumber informasi yang diperoleh melalui komunikasi interpersonal, baik lokalit maupun kosmopolit dan komunikasi bermedia dan media massa. Pada komunikasi interpersonal lokalit diukur dari pola interaksi dominan dengan sumber-sumber informasi yang berdomisili di: satu RT, satu RW, satu kampung, satu dusun, dan satu desa; berturut-turut diberi skor 1, skor 2, skor 3, skor 4 dan skor 5. Pada komunikasi interpersonal kosmopolit diukur dari status sumber informasi yang berinteraksi dengan petani: ketua kelompok tani, kontak tani/tokoh masyarakat di tingkat: desa, kecamatan, kabupaten, provinsi, dan nasional; berturut-turut diberi: skor 1, skor 2, skor 3, skor 4, skor 5, dan skor 6. Pada komunikasi bermedia dan/atau media massa yang dibedakan menurut jenis media massanya: radio, surat kabar, buku, telepon, televisi, dan internet; berturut-turut diberi skor 1, skor 2, skor 3, skor 4, skor 5, dan skor 6. Minimal akumulasi skor pola perilaku komunikasi petani adalah satu dan maksimalnya adalah 18. Selanjutnya pola perilaku komunikasi (PPK) dibedakan ke dalam tiga kriteria: (1) rendah, jika akumulasi skor PPK petani antara satu sampai enam; (2) sedang, jika akumulasi skor PPK petani antara tujuh sampai 12; dan (3) tinggi, jika akumulasi skor PPK petani antara 13 sampai 18.

18. Tingkat pengalaman berusahatani (X16) adalah lamanya (tahun) petani responden berbudidaya padi sawah, minimal pengalaman berusahatani petani adalah dua tahun dan maksimalnya adalah 65 tahun, dibedakan ke dalam tiga kategori: (1) rendah, jika lamanya berusahatani padi sawah antara 2-23 tahun, (2) sedang, jika lamanya berusahatani padi sawah antara 24-45 tahun, dan (3) tinggi, jika lamanya berusahatani padi sawah antara 46-65 tahun.

19. Tingkat stratum rumahtangga petani (X17) adalah rata-rata luas lahan usahatani sawah yang dikuasai (miliki dan/atau garapan) rumahtangga petani responden, dengan merujuk konsep stratifikasi Sajogyo (1990) dibedakan ke dalam tiga kategori: (1) rendah, jika menguasai lahan kurang dari 0,25 ha, (2) sedang, jika menguasai lahan 0,25 – 0,50 ha, dan (3) tinggi, jika menguasai lahan lebih dari 0,50 ha.

20. Tingkat kebutuhan petani terhadap inovasi SRI (X18) adalah kombinasi motivasi atau alasan petani untuk mengadopsi Inovasi SRI, yang dibedakan ke dalam tiga kategori, (1) rendah, jika motivasinya untuk meningkatkan produksi padi dan keuntungan tanpa perduli pada kualitas lingkungan (tanpa pupuk organik), (2) sedang, jika bermotivasi meningkatkan produksi dan keuntungan, namun ada sedikit kepedulian pada kualitas lingkungan (menggunakan pupuk anorganik-organik, namun dominan anorganiknya) dan (3) tinggi, jika bermotivasi meningkatkan produksi dan keuntungan serta peduli terhadap kualitas lingkungan (dominan menggunakan pupuk organik).

BAB III

Dokumen terkait