• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB VIII KESIMPULAN DAN SARAN

8.2 Saran

Adanya permasalahan berkenaan penyelenggaraan program inovasi SRI di Dusun Muhara berupa tidak tersedianya pupuk organik secara lokal, pengendalian hama yang masih rendah dan pemasaran padi SRI yang dirasa petani masih belum memberikan keuntungan karena belum memberikan nilai tambah yang diharapkan, perlu diadakannya suatu bantuan berupa pengadaan induk pasangan hewan ternak berupa kambing, ayam, marmot, bebek dan lain sebagainya dengan sistem bergulir dari satu petani ke petani lainnya, agar para petani memiliki rasa memiliki dan bertanggung jawab atas bantuan yang diberikan. Selain itu, perlu adanya penyuluhan dari ahli pengendalian hama untuk memberikan pelatihan bagaimana menanggulangi hama dengan menggunakan metode participatory Rural Apraisal (PRA) dan pentingnya penyadaran mengenai pertanian organik, karena para petani di Dusun Muhara sudah terbiasa dengan metode budidaya padi konvensional yang sebenarnya dapat merusak keseimbangan ekosistem alam. Terakhir, perlu adanya kesediaan dari Dinas Pertanian Tasikmalaya untuk melakukan upaya agar pemasaran padi SRI bisa memberikan keuntungan yang signifikan bagi petani dengan cara menjalin kerjasama dengan pihak distributor yang dapat memasarkan padi SRI di Dusun Muhara dengan harga yang bersaing dan juga memberikan pelatihan kepada petani mengenai sertifikasi pertanian organik dengan standar baku yang telah ditetapkan.

DAFTAR PUSTAKA

Agussabti. 2002. Kemandirian Petani dalam Pengambilan Keputusan Adopsi Inovasi. (Kasus Petani Sayuran di Propinsi Jawa Barat). Disertasi. Program Pasca Sarjana Institut Pertanian Bogor.

Anas, I. 2008. Peningkatan Produksi Padi Nasional Dan Pengurangan Emisi Gas Metan Dari Padi Sawah Melalui Penerapan Teknologi System Of Rice Intensification (SRI). http://www.noscenter.com/index-1a.html. Diakses pada Tanggal 3 Mei 2009.

Anonymous. 2003. Katalog BPS: 1610, Sensus Pertanian. Jakarta: Badan Pusat Statistik.

__________. 2003. Katalog BPS: 1610.32, Sensus Pertanian. Jakarta: Badan Pusat Statistik.

__________. 2006. Panduan Budidaya Padi Hemat Air System of Rice Intensification (SRI). Decentralized Irrigation System Improvement Project In Eastern Region of Indonesia (DISIMP). Jakarta.

__________. 2007. Melirik SRI untuk Tingkatkan Produksi. Media Informasi Sumber Daya Air edisi April-Mei 2007.

__________. 2008. Padi SRI, Teknik Budidaya SRI.

http://www.pu.go.id/satminkal/ dijen_sda/arsip%20Berita/2008-01-17/padi%20SRI%201.pdf . Diakses pada Tanggal 24 Maret 2009.

__________ 2008. Temu Lapang dan Panen Padi SRI di Kelompok Tani.

http://www.tasikmalayakab.go.id. Diakses pada Tanggal 2 Mei 2009. __________ 2008. Potensi Desa Banjarsari Kecamatan Sukaresik Kabupaten

Tasikmalaya Provinsi Jawa Barat. Tasikmalaya.

Badan Perencanaan dan Pembangunan Nasional. 2004. Revitalisasi Pertanian. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional Tahun 2004-2009. Republik Indonesia.

Badan Pusat Statistik Kabupaten Tasikmalaya. 2008. Kabupaten Tasikmalaya Dalam Angka. Tasikmalaya.

Masdar, Kasim, M, Rusman, B, Hakim, Nurhajati dan Helmi. 2006. Tingkat Hasil dan Komponen Hasil Sistem Intensifikasi Padi (SRI) Tanpa Pupuk Organik di Daerah Curah Hujan Tinggi. Jurnal Ilmu-Ilmu Pertanian Indonesia Volume 8 No. 2, 2006. Hlm 126-131.

Mugniesyah S.S. dan Lubis, D.P. 1990. Studi Hubungan Tipe Pengambilan Keputusan Inovasi Supra Insus dengan Adopsi Supra Insus di Tingkat

Petani dan Kelompok Tani (Studi Kasus di WKPP Tambakdahan dan WKPP Mariuk, KPP Binong Subang Jawa Barat). Bogor: Pusat Studi Pembangunan Lembaga Penelitian-Institut Pertanian Bogor.

Mugniesyah, S.S.M. 2006. Materi Bahan Ajar Ilmu Penyuluhan. Departemen Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat. Fakultas Ekologi Manusia. Institut Pertanian Bogor.

Mutakin, Jenal. 2008. Budidaya dan Keunggulan Padi Organik Metode SRI (System of Rice Intensification).

http://www.garutkab.go.id/download_files/ article/ ARTIKEL%20SRI.pdf. Diakses pada Tanggal 24 Maret 2009.

Novarianto, R. 1999. Adopsi Inovasi Teknologi TABELA bagi Petani Padi Sawah (Kasus Petani Padi Sawah di Kecamatan Tapa, Kabupaten Gorontalo, Sulawesi Utara). Tesis. Program Pasca Sarjana. Institut Pertanian Bogor. Purnaningsih, N. 2006. Adopsi Inovasi Kemitraan Agribisnis Sayuran Di Propinsi

Jawa Barat. Disertasi. Pasca Sarjana. Institut Pertanian Bogor.

Rusastra, I.W, Lokollo, E.M, Friyatno, S. 2007. Dinamika Sosial Ekonomi Pedesaan: Analisis Perbandingan Sensus Pertanian. Seminar Nasional Pembangunan Pertanian dan Pedesaan, Bogor 4 Desember 2007.

Rusli, Said. 1995. Pengantar Ilmu Kependudukan-cet 7 (revisi). Jakarta. PT. Pusaka LP3ES.

Sadono, D. 1999. Tingkat Adopsi Inovasi Pengendalian Hama Terpadu oleh Petani (Kasus di Kabupaten Karawang, Jawa Barat). Tesis. Program Pasca Sarjana. Institut Pertanian Bogor.

Sastramihardja, H dan Veronica A. 1976. Adopsi Panca Usaha Pertanian di Desa Babakan dalam Gunardi. 1980. Kumpulan Bahan Bacaan Dasar-Dasar Penyuluhan Pertanian. Departemen Ilmu-Ilmu Sosial Ekonomi Pertanian. Fakultas Pertanian. Institut Pertanian Bogor.

Singarimbun, M. dan Sofian E. 1989. Metode Penelitian Survai. Jakarta: LP3S. Sjarief, R. 2007. Padi SRI, Bisa Diandalkan. Media Informasi Sumber Daya Air

edisi April-Mei 2007.

Soewardi, H. 1972. Penyebaran Inovasi dari Lapisan Atas ke Lapisan Bawah dalam Sajogyo dan Pudjiwati Sajogyo. 1982. Sosiologi Pedesaan: Kumpulan Bacaan. Jilid 1. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Syafril D. 2002. Hubungan Karakteristik Petani dan Jaringan Komunikasi

dengan Adopsi Inovasi Teknologi Sistem Usaha Pertanian Jagung. (Kasus di Kecamatan Rambah Hilir, Riau). Tesis. Program Pasca Sarjana Institut Pertanian Bogor.

Lampiran 1. Gambar Paradigma Laju Adopsi Inovasi

(Sumber: Rogers dan Shoemaker (1971) dan Rogers (1995) dalam Mugniesyah (2006)) I. KARAKTERISTIK INOVASI • Keuntungan Relatif • Kompatibilitas • Kompleksitas • Kemungkinan Dicoba • kemungkinan Diamati Hasilnya

II. TIPE KEPUTUSAN INOVASI • Opsional

• Kolektif • Otoritas

Variabel-variabel Pengaruh

III. SALURAN KOMUNIKASI • Interpersonal

• Media Massa

IV. CIRI SISTEM SOSIAL • Tradisional vs Modern • Derajat Integrasi Komunikasi • Dan lain-lain

V. UPAYA PROMOSI OLEH AGEN PERUBAH

Variabel Terpengaruh

LAJU ADOPSI INOVASI

Lampiran 2. Agenda Rencana Kegiatan Penelitian

No Kegiatan

Mei 2009 Juni 2009 Juli 2009-Oktober 2009 November 2009 Desember 2009-Januari 2010

Februari 2010 Maret -Juni

2010 Juli 2010 Agustus 2010 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 I Proposal dan Kolokium 1. Penyusunan draft 2. Konsultasi Proposal 3. Kolokium 4. Perbaikan Proposal II Studi Lapangan 1. Pengumpulan data

III Penulisan Laporan

1. Analisis data 2. Penyusunan draft revisi 3. Konsultasi laporan IV Ujian Skripsi 1. Ujian 2. Perbaikan Skripsi

Lampiran 3. Peta Provinsi Jawa Barat, Kabupaten Tasikmalaya dan Desa Banjarsari

Peta Kabupaten Tasikmalaya (sumber: http://www.google.co.id/imgres)

Lampiran 4 Petani Padi SRI Menurut Kategori Kriteria dari Semua Variabel Pengaruh dan Variabel Terpengaruh

Variabel- variabel Rendah Sedang Tinggi Minimal Maksimal Rata-rata St. Kategori (dalam persen) Parameter Statistik deviasi Produktivitas (ton per ha) atau X1.1 85 10 4 0.66 15.4 5 2 Tingkat Pendapatan (rupiah per hektar) atau X1.2 62 37 1 108000 9306500 1789392 1902954

Tingkat Kompatibilitas (X2) 34 47 19 5 10 6 1

Tingkat Kerumitan (X3) 6 75 19 2 7 6 1

Tingkat Kemungkinan Dicoba (X4) 9 85 6 5 10 7 1

Tingkat Kemungkinan Diamati (X5) 6 87 7 5 10 7 1

Tipe Pengambilan Keputusan Inovasi SRI (X6) 4 4 91 Tingkat Pengenalan Inovasi SRI dari Media Massa (X7) 97 1 1

Tingkat Partisipan Petani Mengikuti Penyuluhan Inovasi SRI (X8) 51 29 19 6 12 7 2 Tingkat Ketaatan Petani Berbudidaya Padi Konvensional (X9) 6 87 7 3 8 6 1

Tingkat Integrasi Petani (X10) 22 56 22 8 24 15 3

Tingkat Keragaman Metode Penyuluhan (X11) 15 56 29 4 13 9 2 Frekuensi Kunjungan Penyuluh dan/atau Agen Perubah lain (X12) 46 32 22 6 12 7 2

Tingkat Pendidikan Formal (X13) 6 84 10

Tingkat Pendidikan Non-Formal (X14) 66 29 4 1 12 2 2

Pola Perilaku Komunikasi (X15) 13 60 26 1 18 9 3

Tingkat Pengalaman Berusahatani (X16) 50 43 7 2 65 15 23

Tingkat Stratum Rumahtangga Petani (X17) 74 24 3    Tingkat Kebutuhan Petani terhadap Inovasi SRI (X18) 10 26 63   

Tingkat Keinovativan (Y1) 18 43 40 0 32 13 9

Lampiran 5 Hasil Uji Korelasi Rank Spearman Antara Variabel-Variabel Pengaruh dengan Variabel Terpengaruh

Variabel-variabel

Difusi Inovasi SRI

Tingkat Keinovativan (Y1) Laju Adopsi (Y2)

rs sig rs sig

Karakteristik Inovasi SRI

Produktivitas (X1.1) 0.326 0.007* 0.064 0.602

Tingkat pendapatan (X1.2) 0.118 0.339 0.066 0.593

Tingkat Kompatibilitas (X2) -0.014 0.911 0.035 0.776

Tingkat Kerumitan (X3) -0.219 0.073** 0.073 0.552

Tingkat Kemungkinan Dicoba (X4) 0.239 0.050* -0.121 0.327 Tingkat Kemungkinan Diamati (X5) 0.216 0.077** -0.030 0.806

Tipe Pengambilan Keputusan Inovasi SRI

Tipe Pengambilan Keputusan Inovasi SRI (X6) -0.108 0.382 -0.084 0.493 Saluran Komunikasi

Tingkat Pengenalan Inovasi SRI dari Media Massa (X7) 0.064 0.602 0.137 0.266*** Tingkat Partisipasi Petani Mengikuti Penyuluhan Inovasi SRI (X8) 0.151 0.219*** 0.330 0.006*

Karakteristik Sistem Sosial

Tingkat Ketaatan Petani Berbudidaya Padi Konvensional (X9) -0.234 0.055** 0.094 0.443 Tingkat Integrasi Petani (X10) 0.009 0.941 -0.206 0.092**

Promosi oleh Agen Perubahan

Tingat Keragaman Metode Penyuluhan Inovasi SRI (X11) 0.211 0.084** 0.242 0.046* Frekuensi Kunjungan Penyuluh dan/atau Agen Perubah Lain (X12) 0.250 0.039* 0.146 0.235***

Karakteristik Individu

Tingkat Pendidikan (X13) -0.086 0.484 0.000 0.997

Tingkat Pendidikan Non Formal (X14) 0.325 0.007* 0.029 0.813 Pola Perilaku Komunikasi (X15) 0.079 0.521 -0.249 0.040* Tingkat Pengalaman Berusahatani (X16) -0.033 0.792 0.176 0.151** Tingkat Stratum Rumahtangga Petani (X17) 0.069 0.578 -0.100 0.415 Tingkat Kebutuhan Petani terhadap Inovasi SRI (X18) 0.003 0.983 0.041 0.741

Ket: * Signifikansi α=0,05 (mempengaruhi dan signifikan)

** Signifikansi α=0,10 (cukup mempengaruhi dan cukup signifikan)

*** Signifikansi α=0,20 sampai α=0,30 (kurang baik mempengaruhi dan tidak signifikan) Signifikansi α>0,30 (tidak baik mempengaruhi dan sangat tidak signifikan)

Lampiran 6 Perbandingan Budidaya Padi SRI dan Konvensional Berdasarkan Standar Dusun Muhara

Budidaya SRI Konvensional

Pupuk

Pupuk Kompos, campuran antara kotoran

hewan (kohe) dan daun-daunan

Pupuk Kimia, dengan rincian sbg berikut:

- Urea 125 Kg/Ha - TSP 100 Kg/Ha

- Za 100 Kg/Ha 

Jarak tanam 30x30 cm, 35x35 cm 20x20 cm, 25x25 cm

Air Sedikit air (macak-macak) Banyak air (tanah digenangi)

Jumlah benih 5 kg/ha 20-30 kg/ha

Pembenihan Di nampan dengan pemilihan benih bermutu Di sawah tanpa pemilihan benih bermutu

Umur tanam benih 7-15 hari 20-30 hari

Cara tanam Benih tunggal, horizontal (L) dan dangkal Benih banyak, vertical dan dalam Penyiangan 3-5 kali/musim tanam 2 kali per musim tanam

Pestisida

Pestisida nabati (MOL) dan pengelolaan hama terpadu

Pestisida kimia

Masa produksi 100 hari 110 hari

Hasil Gabah Kering Pungut

7-8 kg/bata atau 4,9-5,6 Ton/Ha

Lampiran 7 Dokumentasi Inovasi Budidaya Padi SRI di Dusun Muhara

Lahan Sawah yang dijadikan Sawah Percontohan Budidaya Padi SRI di Dusun

Muhara

Pengolahan Lahan dengan menggunakan traktor

Pembibitan Jarak Tanam 30 x 30 cm

Penyiangan dengan menggunakan Lalandak Tanaman Eceng Gondok yang digunakan sebagai filter air untuk menyaring residu pupuk kimia

Penyiangan menggunakan tangan Proses Pembuatan Micro Organisme Lokal (MOL)

Dokumen terkait