BAB II. LANDASAN TEORI
2.1.1 Definisi Parent Tutoring
Tutoring adalah pertolongan atau assistance yang diberikan kepada individu ataupun kelompok dengan harapan agar mereka dapat menyelesaikan masalah secara mandiri melalui interaksi, alat-alat dan gagasan berdasarkan norma yang berlaku (Chasanatin, 2010). Secara umum, tutoring dapat dilakukan dengan berbagai cara, bahan, ataupun arahan asalkan sesuai dengan norma yang berlaku. Tutoring sebaiknya dilakukan secara berkelanjutan (continuity) supaya hasilnya sesuai dengan yang diharapkan.
Berge (2010) menyatakan bahwa Parent tutoring berlandaskan pada pemikiran bahwa orang tua adalah pendidik dalam keluarga dalam konteks pendidikan. Djamarah (2002) berpendapat bahwa orang tua merupakan salah satu pendidik yang paling penting pada masa pra-sekolah anak. Oleh karena itu, bentuk pertama dari pendidikan terdapat dalam keluarga. Kartono (1985) menyatakan bahwa tutoring yang dilakukan orang tua adalah bentuk dari tanggung jawab orang tua sebagai pendidik. Melalui tutoring, bantuan diberikan kepada anak agar ia mampu
menghadapi kelemahannya dalam belajar serta mengembangkan semua aspek yang ada pada anak agar dapat berkembang secara maksimal.
Definisi parent tutoring merujuk pada istilah bimbingan belajar orang tua, yaitu suatu bantuan atau pertolongan kepada anak untuk mengatasi kesulitan belajar di sekolah dengan tujuan agar anak mendapatkan hasil belajar yang lebih baik (Handoko, 2011). Dalam rumah tangga orang tua harus memberikan pengawasan dan arahan kepada anak agar anak memiliki gairah dan dorongan untuk belajar sehingga nantinya anakmeraih kesuksesan.
Menurut Sheridan (2005) dalam bukunya yaitu Conjoint Behavioral Consultation: Promoting Family-School Connections and Interventions, parent tutoring adalah petunjuk atau penjelasan cara mengerjakan sesuatu hal yang dilakukan oleh orang tua terhadap anak-anaknya, dengan memperhatikan motivasi, imbalan, dan perhatian dalam pengarahan yang diberikan. Dalam memberikan parent tutoring, orang tua harus memperhatikan gaya belajar anak, kesulitan anak dalam belajar, memberikan stimulus dan fasilitas agar anak dapat belajar dengan efektif.
Prisca (2016) berpendapat bahwa orang tua juga harus menetapkan keteraturan pada anak, misalnya kesadaran akan waktu. Pada akhirnya, keterlibatan orang tua dalam pendidikan anak dan minat belajar anak menjadi tujuan akhir dari parent tutoring.
Berge (2010) menjelaskan bahwa parent tutoring juga berkaitan dengan pengetahuan orang tua mengenai tahap perkembangan anak. Demi pelaksanaan parent tutoring yang benar, maka orang tua harus terlebih dulu mengetahui
kebutuhan belajar anak sesuai dengan tahap perkembangannya. Pernyataan serupa juga disampaikan oleh Prisca (2016) dimana parent tutoring harus dilakukan secara berkala dengan memperhatikan tahap perkembangan anak. Maka dari itu, parent tutoring merupakan proses bantuan akademik yang tidak terputus atau berhenti di umur tertentu.
Parent tutoring sangat terikat pada jenjang pendidikan anak, maka dari itu setiap jenjang pendidikan memiliki tuntutan yang berbeda. Pada siswa PAUD, anak belajar sesuai dengan gaya belajarnya, mengatasi masalah belajar anak, memberikan stimlus belajar dan mencipatakan keteraturan dengan jadwal menjadi perhatian utama (Sheridan, 2005). Heward (2003) mengemukakan bahwa orang tua siswa PAUD sebaiknya menciptakan suasana menyenangkan dalam belajar dan tidak mencela rasa ingin tahu anak. Sebaliknya, orang tua harusnya memberikan solusi bila anak mengahadapi masalah dan senantiasa memberikan stimulasi terkait dengan pelajaran di tingkat PAUD.
Slamet (2010) menyampaikan bahwa orang tua di rumah yang jarang melaksanakan tutoring pada anak biasanya menunjukkan beberapa perilaku seperti (1) acuh terhadap belajar anak, (2) tidak memperhatikan kepentingan dan kebutuhan belajar anak, (3) tidak membantu anak dalam mengatur waktu belajar dan (4) tidak mengetahui kesulitan belajar, motivasi belajar dan cara belajar anak. Berge (2010) menyatakan bahwa anak yang memperoleh tutoring dari orang tua lebih baik dari segi akademik, terutama kemampuan calistung, kemampuan berdikari dan minat
belajarnya. Untuk itu perlu adanya peran orang tua terutama dalam membimbing anaknya dalam belajar sehingga anak dapat belajar secara optimal.
Menurut Thurston (2011) dalam penelitiannya mengenai in-home parent tutoring menyatakan bahwa parent tutoring mempunyai beberapa fungsi, yaitu (1) pemahaman dimana anak sebaiknya memiliki pemahaman tentang dirinya dahulu, baru kemudian orang tua dan guru memahami anak mencakup kecerdasan bakat, sifat dan kemampuan umum. (2) Pencegahan yaitu mencegah anak melakukan perbuatan yang negatif. Bimbingan juga pada dasarnya membantu anak untuk mengarahkan perbuatannya menjadi lebih konstruktif misalnya dengan kegiatan olahraga dan kesenian yang dapat menyalurkan bakat anak. (3) Pengembangan yaitu dorongan yang bersifat membangun agar bakat dan kemampuan yang terbangun dapat terpelihara dan dapat ditingkatkan. (4) Penyesuaian diri dimana guru serta orang tua menemani anak dalam menyesuaikan diri untuk mencegah hambatan ataupun kesulitan belajar yang mungkin dialami anak.
Dari uraian di atas dapat diketahui bahwa parent tutoring perlu dilakukan terutama untuk peserta didik usia dini yang cenderung belum sadar akan pentingnya belajar dan membutuhkan stimulus yang lebih. Dapat disimpulkan bahwa Parent tutoring merupakan perilaku orang tua terhadap anak yang bersifat kooperatif (bantuan) terkait dengan cara belajar, kebiasaan belajar dan motivasi belajar anak yang ditinjau dari segi psikomotorik, afektif dan kognitif dengan memperhatikan tahap perkembangan anak (Prisca, 2016). Parent tutoring dalam konteks penelitian
ini terkait dengan kemampuan orangtua untuk mendukung proses belajar anak serta pembentukan perilaku belajar anak secara langsung. Secara spesifik, dukungan orang tua yang dimaksud adalah pemberian bantuan dari orang tua terhadap anak dalam mengarahkan cara belajar yang baik, membantu anak dalam mengatur waktu, pengetahuan dan kemampuan orang tua dalam mengidentifikasi dan mengatasi kesulitan belajar, membentuk kebiasaan belajar anak, penyediaan fasilitas belajar dan mengembangkan motivasi belajar anak. Seluruh bantuan tersebut diberikan dengan adanya kesadaran dari orang tua atas pentingnya melakukan tutoring serta dengan memperhatikan tahap perkembangan anak.
2.1. 2 Indikator Parent Tutoring
Berlandaskan pada teori parent tutoring dari Sheridan (2005), Handoko (2010) dalam bukunya Bimbingan dan Konseling di Sekolah: Panduan Praktis mengemukakan bahwa terdapat 6 indikator orang tua yang melaksanakan parent tutoring. Semakin tinggi intensitas orang tua dalam melakukan parent tutoring sesuai 6 indikator tersebut maka semakin tinggi tingkat parent tutoring yang dimiliki orang tua. Karena bersifat umum/general, maka indikator ini dapat berfungsi pada setiap jenjang pendidikan (Prisca, 2016). Berikut keenam indikator parent tutoring dari Sheridan (2005)
a. Mengarahkan cara belajar yang baik
Orang tua nanti akan dijadikan contoh bagi anaknya. Pada aspek ini, anak-anak harus dipandang sebagai individu dengan karakter dan cara belajarnya masing-masing.
Sangat penting untuk mengetahui cara belajar yang efektif dan gaya belajar anak agar mendapatkan hasil yang optimal.
b. Menentukan waktu belajar
Orang tua membantu anak dalam menentukan waktu belajarnya. Menentukan waktu belajar sangat diperlukan karena anak-anak akan lupa mengerjakan pekerjaan sekolahnya. Pengawasan dan arahan terhadap penentuan jam belajar juga diperlukan agar pembagian waktu antara bermain dan belajar lebih seimbang.
c. Membantu mengatasi kesulitan belajar
Setiap anak pasti memiliki masalah, hambatan ataupun kesulitan dalam belajar. Tugas orang tua dan guru adalah mencari informasi dari anak mengenai kesulitannya dan mengatasi kesulitan tersebut. Orang tua dapat mengubah sikap terhadap anak dengan kesulitan belajar, menghadapi masalah anak secara positif dan berkomunikasi dengan anak mengenai cara menyelesaikan masalahnya.
d. Menyediakan fasilitas belajar
Anak jarang mengeluhkan fasilitas belajar kepada orang tuanya. Padahal fasilitas dan sarana belajar sangat perlu diperhatikan agar mendorong anak untuk belajar dan tidak menghambat perkembangan anak. Fasilitas seperti buku, pensil, penggaris, meja, dan kursi adalah beberapa fasilitas yang perlu diperhatikan.
e. Memberikan motivasi belajar
Dorongan dari dalam diri anak dan kesadarannya untuk belajar adalah faktor penentu yang besar dalam kesuksesan belajar anak. Semakin tinggi motivasi belajar anak
maka semakin tinggi potensi anak dalam meraih keberhasilan dalam belajar. Orang tua dapat mengarahkan dan memberikan stimulus agar anak selalu termotivasi
f. Membentuk Kebiasaan Belajar
Kebiasaan belajar adalah teknik orang tua dalam memberikan stimulus belajar kepada anaknya. Orang tua menggunakan metode yang bervariasi untuk membantu anak semangat dalam belajar. Orang tua harus lebih kreatif dalam menentukan cara yang benar dalam memberikan stimulus pada anak.
Enam indikator ini merupakan dasar dari pembuatan alat ukur parent tutoring (berdasarkan teori parent tutoring dari Sheridan, 2005)