• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III. METODE PENELITIAN

3.11 Metode Analisa Data

Penelitian ini menggunakan analisa data secara kuantitatif khususnya dengan penggunaan statistik non-parametrik. Peneliti menggunakan statistik non-parametrik dengan pertimbangan jumlah subjek pada penelitian ini yang berjumlah sedikit (dibawah 30 orang) sehingga kecil kemungkinan untuk memenuhi uji asumsi statistik parametrik. Peneliti menggunakan uji statistik Kruskal Wallis. Menurut Filed (2009), uji Kruskal Wallis adalah salah satu uji non-parametrik sebagai pengganti uji One-way Anova karena tidak memenuhi uji normalitas dan homogenitas dalam statistik parametrik. Alasan peneliti menggunakan uji Kruskal Wallis adalah karena uji Kruskal Wallis dapat mengungkap perbedaan yang signifikan secara statistik antara dua atau lebih kelompok yaitu kelompok eksperimen dan kelompok kontrol.

Kemudian uji Kruskal Wallis juga dapat digunakan untuk melihat pengukuran yang berulang (dalam penelitian ini pretest,post-test dan follow up) pada dua kelompok berbeda.

BAB IV

HASIL DAN DISKUSI

Pada bab ini, peneliti akan memaparkan keseluruhan hasil penelitian. Terdapat penjelasan mengenai gambaran umm subjek penelitian, analisa data, interpretasi data penelitian serta pembahasan dari hasil penelitian.

4.1 Gambaran Subjek Penelitian

4.1.1 Gambaran berdasarkan sosiodemografi

Dari hasil penelitian, didapatkan gambaran subjek penelitian berdasarkan sosiodemografi. Data tersebut dapat dilihat pada tabel 4.1:

Tabel 4.1

Dari tabel 4.1, didapatkan gambaran subjek penelitian berdasarkan

ke dalam kelompok eksperimen dan 10 orang termasuk ke dalam kelompok kontrol.

Seluruh subjek berjenis kelamin perempuan. Ditinjau dari tingkat pendidikan, subjek dengan tingkat pendidikan SMA berjumlah 3 orang, S1 berjumlah 14 dan s2 berjumlah 3 orang. Jumlah subjek yang berusia 20-25 tahun adalah sebanyak 3 orang.

Jumlah subjek yang berusia 26 hingga 30 tahun adalah sebanyak 12 orang. Jumlah subjek yang berusia 30 hingga 35 tahun sebanyak 5 orang. Ditinjau dari pekerjaannya, terdapat 7 orang ibu rumah tangga, 4 orang PNS, 4 orang pegawai swasta dan 5 orang pewirausaha.

4.1.2 Gambaran berdasarkan perolehan rata-rata skor Skala Parent Tutoring Rata-rata dari skor Skala Parent Tutoring dapat menunjukkan perbandingan keadaan parent tutoring orang tua pada saat pre-test, post-test dan follow up.

Perbandingan tersebut dapat juga kita lihat dari dua kelompok yaitu kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Berikut merupakan nilai rata-rata kelompok ditunjukkan pada tabel 4.2:

Tabel 4.2

Perolehan rata-rata skor Skala Parent Tutoring

Mean Kelompok Eksperimen Kelompok Kontrol

Pre-test 105.6 100.5

Post-test 120.5 98.1

Follow up 119.3 102.3

Tabel 4.2 menunjukan bahwa terjadi peningkatan rata-rata skor setelah diberikan perlakuan pada kelompok eksperimen yaitu dari 105.6 menjadi 120.5. Pada kelompok kontrol perolahan rata-rata skor menurun dari 100.5 menjadi 98.1. Dapat

dilihat bahwa perolehan rata-rata skor kelompok eksperimen mengalami peningkatan dibanding kelom kontrol. Bila ditinjau dari skor follow up, terlihat kelompok eksperimen mengalami sedikit penurunan dari 120.5 menjadi 119.3 sedangkan kelompok kontrol mengalami sedikit peningkatan yaitu dari 98.1 menjadi 102.3.

4.1.3 Perbandingan Mean Skor Tes Pengetahuan

Perbandingan rata-rata (mean) skor tes pengetahuan subjek penelitian saat pre-test dan post-test dari kelompok eksperimen dan kelompok kontrol adalah sebagai berikut:

Tabel 4.3

Data subjek berdasarkan hasil cek manipulasi

Kelompok Eksperimen Kelompok Kontrol

Pre-test 7.8 8.3

Post-test 15.1 8.5

Tabel 4.3 menunjukkan hasil cek manipulasi tes pengetahuan tentang parent tutoring pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Terlihat mean pada kelompok eksperimen meningkat dari 7.8 menjadi 15.1. Kelompok kontrol juga mengalami sedikit peningkatan yaitu dari 8.3 menjadi 8.5. Dapat dilihat bahwa setelah adanya perlakuan skor rata-rata hasil tes pengetahuan pada kelompok eksperimen mengalami peningkatan yang lebih besar bila dibandingkan dengan kelompok kontrol

4.1.4 Perbandingan Rata-rata Skor Skala dan Tes Pengetahuan Berdasarkan Sosiodemografi

Dari hasil penelitian, didapatkan gambaran subjek penelitian berdasarkan sosiodemografi. Data tersebut dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 4.4

Rata-rata skor berdasarkan Sosiodemografi Subjek Penelitian

Aspek Kategori Mean Skala Parent Tutoring Mean Tes Pengetahuan Eksperimen Kontrol Eksperimen Kontrol

Pendidikan

Dari tabel 4.4, didapatkan gambaran subjek penelitian berdasarkan sosiodemografi. Dapat dilihat bahwa orang tua dengan pendidikan S1 dan S2 memperoleh skor yang lebih tinggi pada Skala Parent Tutoring dan tes pengetahuan dibandingkan dengan yang berlatar pendidikan SMA. Ditinjau dari usia, tidak terlihat perbedaan skor yang mencolok pada Skala Parent tutoring dan skor rata-rata tes

pengetahuan di ketiga kelompok usia. Dapat dilihat pula bahwa orang tua yang bekerja sebagai pegawai negeri dan ibu rumah tangga mendapatkan rata-rata skor yang lebih tinggi dibandingkan dengan orang tua yang bekerja sebagai pegawai swasta dan pewirausaha.

4.2 Hasil Analisis Data 4.2.1 Hasil Cek Manipulasi

Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan uji Mann Whitney untuk menganalisa skor hasil tes pengetahuan sebagai cek manipulasi. Analisis Mann Whitney digunakan dengan pertimbangan bahwa data dari tes pengetahuan tidak memenuhi asumsi normalitas dan homogenitas. Berikut merupakan hasil uji statistik Mann Whitney pada skor tes pengetahuan subjek

Tabel 4.5

Perbandingan Cek Manipulasi Kelompok Eksperimen dan Kelompok Kontrol

Kelompok Eksperimen Kelompok Kontrol

Mann Whitney (U) 4000 46.000

Z -3.488 -.307

Asymp.Sig (2-tailed) .001 .796

Keterangan:

U = Nilai Uji Mann Whitney

Z = Nilai posisi skor dalam distribusi Asymp = Nilai signifikansi dua arah

Tabel 4.5 menunjukkan perbandingan nilai hasil tes pada saat pre-test dan post-test kelompok kontrol dan eksperimen. Berdasarkan uji statistik tersebut didapatkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan pada nilai tes saat pre-test dan post-test kelompok eksperimen, U = 4000, z = - 3.488, p < .05. Pada kelompok

kontrol tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara nilai pre-test dan post-test, U

= 46.000, z = .307, p> .05.

Dari analisis di atas dapat ditemukan bahwa orang tua yang mendapatkan psikoedukasi ORBIMA memiliki perubahan tingkat pengetahuan terkait parent tutoring. Orang tua mengalami peningkatan pengetahuan setelah intervensi dilaksanakan (ditunjukkan pada nilai post-test kelompok eksperimen). Sementara itu, pada orang tua yang tidak diberikan psikoedukasi ORBIMA memiliki pengetahuan yang sama sebelum maupun saat sesudah perlakuan. Meskipun ada perbedaan rata-rata pengetahuan pada setiap pengukuran di kelompok kontrol, karena perbedaan tersebut sangat sedikit dan secara statistik tidak bermakna, maka dikatakan tidak terdapat perubahan tingkat pengetahuan pada kelompok kontrol. Pada kelompok eksperimen terdapat perubahan tingkat pengetahuan yang signifikan. Ini artinya perubahan pengetahuan orang tua terkait dengan parent tutoring disebabkan oleh psikoedukasi ORBIMA. Hal ini juga terbukti dari kelompok kontrol yang tidak mengalami perubahan pengetahuan yang siginifikan dikarenakan kelompok kontrol tidak mendapatkan perlakuan.

4.2.2 Hasil Uji Hipotesis

Dalam penelitian ini, peneliti melakukan 3 kali pengukuran yaitu pre-test (sebelum perlakuan), post-test (setelah perlakuan) dan follow up (pengukuran dilakukan 2 minggu setelah perlakuan. Ketiga pengukuran tersebut dilakukan pada kelompok kontrol dan eksperimen. Tujuan dari penelitian melakukan follow up atau

pengukuran lanjutan adalah untuk melihat apakah efek dari pemberian psikoedukasi ORBIMA tetap bertahan selama dua minggu setelah intervensi diberikan pada kelompok eksperimen.

Peneliti kemudian menentukan apakah terdapat perbedaan yang signifikan (secara statistik) pada tiga kelompok yang diukur dengan menggunakan pengujian Kruskal-Wallis. Alasan dari peneliti menggunakan pengujian Kruskal Wallis adalah karena data tidak memenuhi uji asumsi normalitas dan homogenitas. Apabila data memenuhi uji asumsi normalitas dan homogenitas amaka uji One Way Anova dapat dilakukan. Uji Kruskal Wallis adalah uji non-paramterik apabila data tidak memenuhi uji asumi. Berikut merupakan hasil uji statistik menggunakan Kruskal-Wallis:

Tabel 4.6

Peringkat Rata-rata disetiap Pengukuran Parent Tutoring pada Kelompok Eksperimen dan Kelompok Kontrol

Mean Rank = Peringkat rata-rata perlakuan

Tabel 4.6 menunjukkan bahwa pada kelompok eksperimen, peringkat rata-rata follow up (19.25) dan post-test (21.70) lebih tinggi dibandingkan peringkat rata-rata pre-test (5.56). Ini berarti ada perbedaan pada setiap pengukuran di kelompok eksperimen. Sementara itu bila dilihat pada kelompok kontrol, terdapat sedikit perbedaan antara peringkat rata-rata pre-test (15.70), post-test (13.15) dan follow up

(17.65). Selanjutnya, untuk mengetahui seberapa signifikan perbedaan peringkat rata-rata pada tiap kelompok, ditunjukkan pada tabel berikut ini:

Tabel 4.7

Nilai Signifikansi Uji Kruskal Wallis pada Kelompok Eksperimen dan Kelompok Kontrol Kelompok Eksperimen Kelompok Kontrol

Chi-Square 19.694 1.318

Df 2 2

Asymp.Sig .000 .517

Keterangan:

Df : derajat kebebasan (degree of freedom) Sig : nilai signifikansi

Tabel 4.7 menunjukkan nilai signifikansi uji Kruskal-Wallis pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Terlihat pada kelompok eksperimen, nilai H(2) = 19.694, p < .05 yang berarti terdapat perbedaan yang signifikan antara pengukuran saat pre-test, post-test dan follow up. Dapat disimpulkan bahwa parent tutoring orang tua tidak sama saat sebelum diberikan, setelah diberikan dan saat dua minggu setelah diberikan psikoedukasi ORBIMA.

Sementara itu pada kelompok kontrol didapatkan nilai H(2) = 1.318 dengan nilai p> .05. Hal ini menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan saat pengukuran pretest, post-test, dan follow up pada kelompok kontrol. Dapat disimpulkan bahwa orang tua yang tidak diberikan psikoedukasi ORBIMA memiliki keterampilan parent tutoring yang sama saat pretest, post-test, dan follow up dilaksanakan. Informasi lain yang didapatkan adalah meskipun terdapat perbedaan peringkat rata-rata pada pengukuran pretest, post-test, dan follow up di kelompok kontrol, namun perbedaan tersebut tidak signifikan (maka dari itu hanya sedikit dan

tidak bermakna). Sementara itu pada kelompok eksperimen perbedaan yang muncul terlihat signifikan.

Menurut Field (2009), uji kruskal wallis adalah uji omnibus yang berarti uji tersebut tidak menjelaskan kelompok mana yang berbeda secara signifikan. Pada penelitian ini, perlu dilakukan uji lanjut Post Hoc yaitu dengan analisis Mann Whitney dan melihat boxplot. Hal ini diperlukan mengingat penelitian ini memiliki 3 kelompok pengukuran dan penting untuk mengetahui kelompok mana yang berbeda secara signifikan pada kelompok eksperimen.

Sebelum melakukan analisis Mann Whitney, boxplot dapat digunakan terutama dalam statistik non-parametrik. Dengan melihat boxplot, peneliti dapat menemukan perbedaan antar kelompok tanpa menggunakan asumsi distribusi statistik (Field, 2009). Hasil uji boxplot dapat dilihat pada gambar 4.1 berikut ini:

Gambar 4.1: Data subjek berdasarkan nilai rata-rata kelompok

Gambar 4.1 menunjukkan hasil uji boxplot pada pengukuran kelompok eksperimen saat pre-test, post-test dan follow up. Terlihat pada gambar bahwa garis median (garis ditengah box) pada saat pengukuran post-test dan follow up hampir sama sedangkan garis median pada pre-test terlihat lebih rendah. Dari sini dapat disimpulkan pada pada eksperimen ini saat pre test memiliki perbedaan signifikan dengan pengukuran saat post test dan follow up (2 minggu setelah perlakuan).

Untuk lebih memastikan hasil dari uji boxplot, maka peneliti melakukan uji lanjutan yaitu dengan analisis Mann Whitney. Alasan peneliti menggunakan uji Mann Whitney adalah uji tersebut dapat menunjukkan perbedaan median dan rata-rata dua kelompok tanpa harus memenuhi uji asumsi normalitas (Field, 2009). Maka dari itu, pada penelitian ini hasil pengukuran akan dibandingkan satu persatu yaitu pre-test dibandingkan degan post-test, pre-test dibandingkan dengan follow up, kemudian yang terakhir adalah post-test dibandingkan dengan follow up. Dalam melakukan analisa Mann Whitney, peneliti harus menentukan nilai kritis. Nilai kritis yang dapat digunakan adalah .05/3 = .0167 (Field, 2009). Berikut pada tabel 4.8 merupakan analisis dari uji Mann Whitney:

Tabel 4.8

Hasil Perbandingan Pre-test, Post-test dan Follow Up Kelompok Eksperimen

Pretest-posttest Pretest - follow up Posttest - follow up

Mann-Whitney U .000 .500 38.000

Z : Nilai posisi skor dalam distribusi Asymp.Sig : Nilai signifikansi dua arah

Tabel 4.8 menunjukkan hasil perbandingan antara pre-test ,post-test dan follow up pada kelompok eksperimen. Dari uji Mann Whitney didapatkan bahwa ada perbedaan yang signifikan antara nilai pre-test dan post-test, U = .000, z = - 3.790, p

< .05. Bila diamati dengan nilai kritis p < .0167, data juga menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara pre-test dan post-test (ditunjukkan dengan nilai Sig. yang lebih kecil dari nilai kritis). Kemudian dari uji Mann Whitney didapatkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara nilai pre-test dan follow up, U = .500, z = - 3.747, p < .05. Bila diamati dengan nilai kritis p < .0167, data juga menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara pre-test dan follow up (ditunjukkan dengan nilai Sig. yang lebih kecil dari nilai kritis). Setelah itu, perbandingan antara post-test dengan follow up pada kelompok eksperimen terlihat bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara nilai post-test dan follow up, U

= 38.000, z = -.918, p > .05. Bila diamati dengan nilai kritis p > .0167, data juga menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara post-test dan follow up (ditunjukkan dengan nilai Sig. yang lebih besar dari nilai kritis)

Peneliti kemudian melakukan analisa terhadap nilai z untuk mengetahui nilai besaran dari perlakuan. Efek besaran pada dasarnya dapat menunjukkan seberapa besar pengaruh dari suatu intervensi atau perlakuan (Field, 2009). Rumus dari efek besaran ditunjukkan pada gambar 4.2 sebagai berikut:

Gambar 4.2: Rumus Efek Besaran

Hasil hitung dari efek besaran adalah sebagai berikut

1. Perbandingan antara pre-test dengan post-test

-3. 790:√20 = -0.84

Berdasarkan perhitungan efek besaran, hasil yang didapatkan adalah -0.84.

Hal ini menunjukkan bahwa pemberian Psikoedukasi ORBIMA memberikan pengaruh yang terkategori besar untuk keterampilan parent tutoring saat post-test dibandingkan saat pre-test. Ukuran efek diatas ambang batas 0.5 menunjukkan efek yang besar (Field, 2009).

2. Perbandingan antara pre-test dengan follow up

-3.747:√20 = -0.81

r = Z : √N

Keterangan:

r = nilai korelasi (effect size) Z = nilai posisi dalam distribusi N = jumlah pengamatan

Berdasarkan perhitungan efek besaran, hasil yang didapatkan adalah -0.81.

Hal ini menunjukkan bahwa pemberian Psikoedukasi ORBIMA memberikan pengaruh yang terkategori besar untuk keterampilan parent tutoring saat follow up dibandingkan saat pre-test (ukuran efek diatas ambang batas 0.5 yang berarti efek besar)

3. Perbandingan antara post-test dengan follow up

-0.918:√20 = - 0.20

Berdasarkan perhitungan efek besaran, hasil yang didapatkan adalah -0.20.

Hal ini menunjukkan bahwa pemberian Psikoedukasi ORBIMA tidak memberi pengaruh untuk keterampilan parent tutoring subjek saat post-test dan follow up (ukuran efek mendekati 0 = efek kecil)

Berdasarkan analisis sebelumnya, maka secara keseluruhan dapat disimpulkan bahwa hipotesis penelitian (Ha) ini diterima. Psikoedukasi ORBIMA (Orang Tua Bimbing Anak) efektif meningkatkan parent tutoring orang tua yang memiliki anak usia dini. Parent tutoring secara signifikan dipengaruhi oleh pemberian psikoedukasi ORBIMA , H(2) = 19.694, P < .05. Kemudian, Psikoedukasi ORBIMA berpengaruh besar pada peningkatan parent tutoring orang tua PAUD saat post-test dengan nilai r = -0. 84 dan follow up r = -0.81 (bila dibandingkan dengan saat pre-test). Psikoedukasi ORBIMA tidak memiliki pengaruh besar pada parent

tutoring subjek saat follow up bila dibandingkan dengan saat post-test dengan nilai r

= - 0.20

4.3 Hasil Observasi

Berdasarkan hasil observasi dari observer, peneliti dapat memperoleh gambaran mengenai perilaku dan kemampuan yang diperoleh peserta setelah mengikuti Psikoedukasi ORBIMA. Tabel 4.9 memperlihatkan hasil observasi berdasarkan penilaian sikap peserta selama mengikuti intervensi:

Tabel 4.9

Tabel 4.9 menunjukkan penilaian dari 2 observer terhadap peserta selama psikoedukasi ORBIMA berlangsung. Dapat dilihat pada tabel bahwa kognisi peserta termasuk kedalam kategori baik (64.5%) dengan beberapa peserta yang cukup (23.3%) dan sangat baik (12.2%). Keterbukaan peserta selama proses psikoedukasi terlihat sangat baik (27.3%) dan baik (67.2%). Selanjutnya pada aspek motivasi untuk belajar, kebanyakan peserta jua menunjukkan tingkat motivasi yang baik (78.4%) dengan beberapa peserta pada tingkat cukup (9%) dan sangat baik (12.6%). Dari segi komunikasi, kebanyakan peserta berada pada tingkat baik (80.4%) dan cukup (19.6%).

Pada aspek konsentrasi, terdapat sedikit peserta yang kurang berkonsentrasi (18.4%), namun sisanya ada pada tingkat baik (62.2%) dan cukuo (19.4%). Kemudian dari aspek komitmen, kebanyakan peserta menunjukkan komitmen pada tingkat baik (62.2%) dan cukup (37%)

Secara keseluruhan, peserta mengikuti dan mampu memahami seluruh materi yang diberikan. Hal ini ditunjukkan dengan bagaimana orang tua menyelesaikan tugas dari pemateri, memberikan pertanyaan dan tanggapan, serta mampu menjawab pertanyaan mengenai parent tutoring.

Selama proses penyampaian materi dan tanya jawab, peserta juga aktif dalam menyampaikan beberapa tanggapan mengenai akibat bila tidak melakukan parent tutoring. Di tiap materi yang sudah selesai, orang tua merefleksikan keadaan orang tua sekarang dengan kata-kata “aduh”, “bagaimana ya”, “harusnya memang kita..”

dan “jangan sampai begitu ya..”. Peserta juga aktif saat ice breaking dilaksanakan dan sebagian besar dari peserta cukup ekspresif saat menyampaikan pendapat. Terdapat beberapa peserta yang di pertemuan 2 atau 3 menutup zoom cameranya. Hal ini membuat peneliti dan observer kesulitan mengetahui perilaku peserta tersebut pada saat itu.

Untuk menguji reliabilitas dari observasi, peneliti melakukan uji Kappa dengan tujuan untuk melihat kesepakatan penilaian antar rater yang dalam hal ini adalah observer 1 dan observer 2. Ini berarti peneliti menggunakan estimasi reliabilitas inter rater dengan melakukan crossbox antara 2 observer. Berdasarkan

hasil dari analisis Kappa, didapatkan Kappa value sebesar .71 dengan nilai standardized error .101. Menurut Field (2009) nilai Kappa diantara .40 hingga .75 menunjukkan good agreement atau kesesuaian antara 2 rater. Nilai standardized error di .101 menunjukkan angka yang termasuk kecil. Semakin kecil angka dari standardized error maka diasumsikan semakin reliabel.

4.4 Hasil Evaluasi Proses Psikoedukasi

Setelah melalui proses psikoedukasi, peneliti memperoleh hasil evaluasi dari lembar evaluasi yang diisi langsung oleh peserta psikoedukasi. Berikut merupakan hasil evaluasi dari psikoedukasi ORBIMA yang ditunjukkan pada tabel 4.10:

Tabel 4.10

Hasil Evaluasi Proses Intervensi

No. Aspek Penilaian Sangat kurang

7. Kemampuan fasilitator dalam mengelola kelompok

0% 0% 0% 74% 26%

8. Manfaat yang dirasakan 0% 0% 0% 42.8% 57.2%

9. Pelaksanaan kegiatan secara umum

0% 0% 0% 37.2% 62.8%

Hasil evaluasi menunjukkan penilaian peserta terhadap psikoedukasi ORBIMA dari beberapa aspek. Peserta menilai bahwa materi pembahasan sangat penting. Pengetahuan yang didapatkan peserta selama psikoedukasi juga dianggap

sangat banyak. Kemudian, peserta menilai bahwa manfaat yang dirasakan serta pelaksanaan kegiatan secara keseluruhan dengan nilai sangat baik. Peserta menilai baik terkait dengan kemampuan fasilitator mengelola kelas dan kelompok dan menilai runtut terkait dengan proses pembahasan materi . Beberapa peserta menilai bahwa materi cukup mudah diterapkan dan situasi selama kegiatan cukup baik.

Beberapa peserta juga menilai bahwa penguasaan fasilitator terhadap materi termasuk cukup baik. Artinya, terdapat tiga aspek dimana peserta menilai “cukup” yaitu pada aspek kemungkinkan peserta dalam menerapkan materi, penguasaan fasilitator terhadap materi dan situasi selama kegiatan.

4.5 Pembahasan

Hasil dari penelitian memperlihatkan bahwa Psikoedukasi ORBIMA (Orang Tua Bimbing Anak) secara signifikan efektif meningkatkan parent tutoring pada orang tua siswa PAUD Jasmine Islamic School. Hal ini ditunjukkan melalui hasil uji Kruskal-Wallis, H (2) = 19.694, p < .05 yang berarti tingkat parent tutoring secara signifikan dipengaruhi oleh pemberian Psikoedukasi ORBIMA. Pengaruh yang diberikan psikoedukasi ORBIMA terhadap parent tutoring orang tua juga tergolong besar (U = 3, r = -.84). Kesimpulan ini juga bisa dilihat dari peningkatan nilai rata-rata parent tutoring orang tua saat setelah pemberian psikoedukasi dan 2 minggu setelah pemberian psikoedukasi (follow up). Sebelum perlakuan rata-rata skornya 105.6 kemudian meningkat menjadi 120.5. Ini berarti kondisi parent tutoring orang tua lebih baik setelah pemberian Psikoedukasi ORBIMA.

Terdapat beberapa hal yang diperkirakan menjadi alasan kenapa Psikoedukasi ORBIMA memberikan hasil yang efektif pada orang tua PAUD Jasmine Islamic School. Pertama, pemberian psikoedukasi yang tersusun atas beberapa metode penyampaian materi (video, case study, penugasan, ceramah, tanya jawab, review).

Kombinasi dari berbagai metode penyampaian informasi akan memberikan pengalaman yang berbeda pada setiap sub-materi. Hal ini dilakukan untuk menjaga atensi dari peserta terutama apabila psikoedukasi dilakukan secara digital. Berbagai metode ini juga perlu diperhatikan mengingat orang tua sebagai peserta psikoedukasi terdiri dari berbagai macam latar belakang pendidikan dan pengetahuan sehingga orang tua memerlukan praktik secara konkrit. Santrock (2003) dan Walsh (2010) menyatakan bahwa dalam pemberian pelatihan, seminar, dan psikoedukasi diperlukan adanya variasi metode agar tiap peserta dapat merefleksikan dirinya dan menangkap informasi secara utuh. Ini berarti apabila psikoedukasi hanya dilakukan dengan metode ceramah maka terdapat kemungkinan para orang tua tidak dapat merefleksikan dirinya (afeksi) atau menyadari pentingnya parent tutoring.

Psikoedukasi ORBIMA juga memperhatikan aspek kognitif, afektif dan psikomotorik pada orang tua. Modul psikoedukasi ORBIMA berlandaskan pada ketiga aspek tersebut dan selama psikoedukasi berlangsung, ketiga aspek tersebut menjadi salah satu perhatian utama dalam peneltian. Fasilitator selama psikoedukasi senantiasa berupaya untuk memberi pengetahuan kepada orang tua mengenai pentingnya melaksanakan parent tutoring. Melalui proses ini, diharapkan

pengetahuan (knowledge) akan merubah perilaku seseorang dan memiliki keterampilan yang baru. Inilah upaya dari peneliti dan fasilitator untuk meningkatkan aspek kognitif dari orang tua siswa PAUD Jasmine Islamic School. Menurut Widyastuti (2018), stimulus berupa ceramah, materi-materi sederhana dan konkrit akan memudahkan orang tua dalam menyerap informasi baru dan melakukan praktik dalam kehidupan sehari-hari.

Aspek afeksi juga diperhatikan oleh fasilitator, dimana pada saat materi selesai atau pada saat role play, orang tua dapat merefleksikan (reflecting) perasaannya, baik dalam bentuk kekhawatiran, rasa penasaran atau dengan merespon secara antusias (responding). Pencapaian orang tua secara afektif dapat dilihat dari bagaimana orang tua memberikan respon selama proses psikoedukasi (terlihat dari observasi). Berbeda saat sebelum intervensi, orang tua hanya memikirkan bagaimana caranya agar anak mampu belajar membaca dan menulis. Hal ini dikarenakan orang tua sebelumnya belum menyadari betapa pentingnya menjaga minat belajar anak.

Setelah disampaikan materi mengenai permasalahan belajar anak dan karakteristik anak usia dini, orang tua merespon dengan berbagai pertanyaan dan pada akhir psikoedukasi memberikan kesan dan pesan bahwa selama ini orang tua harusnya berempati kepada keadaan anak saat belajar. Sejalan dengan pendapat dari Susanto (2011), orang tua pada umumnya hanya mempertimbangkan seberapa “pintar”

anaknya, terutama dalam hal prestasi akademik. Padahal belajar sambil bermain

merupakan hal vital yang harus disadari oleh orang tua dan seharusnya rutin

merupakan hal vital yang harus disadari oleh orang tua dan seharusnya rutin