BAB III NOVEL DAN PENDIDIKAN KARAKTER
B. Definisi Pendidikan Karakter
Karakter diambil dari bahasa Yunani ’charakter’ yang berasal dari kata ’kharassein’ yang berarti memahat atau mengukir. Dalam bahasa Latin disebut kharakterI, kharassein, kharax, bermakna watak, tabiat, sifat-sifat kejiwaan, budi pekerti, kepribadian atau akhlak, dan dalam bahasa Inggris ”charakter” berarti; ”watak, karakter, sifat, peran dan huruf. Dapat juga diartikan sebagai mental or moral qualities that make a thing what it is different from others. Sedangkan secara istilah, karakter diartikan sebagai sifat manusia pada umumnya dimana manusia mempunyai banyak sifat yang tergantung dari faktor kehidupannya sendiri. Karakter juga bisa diartikan sebagai, sikap, tabiat, akhlak, kepribadian yang stabil yang merupakan hasil dari proses konsolidasi secara progresif dan dinamis. Menurut pusat bahasa Depdiknas karakter adalah ”bawaan, hati, jiwa, kepribadian, budi pekerti, perilaku, personalitas, sifat, tabiat, tempramen dan watak” (Mansur, 2016: 1)
Imam Tauhid (2011: 42-43), menjelaskan bahwa Istilah karakter menurut Pusat Bahasa Depdiknas adalah “bawaan, hati, jiwa, kepribadian,
55
budi pekerti, personalitas, sifat, tabiat, temperamen, watak”. Berkarakter adalah berkepribadian, berprilaku, bersifat, bertabiat, dan berwatak (Aqib, 2015:129). Sedangkan Menurut Prof. Dr. M Quraish Sihab (2008: 16), karakter adalah himpunan pengalaman, pendidikan, dan lain-lain yang menumbuhkan kemampuan di dalam diri kita, sebagai alat ukir sisi paling dalam hati manusia yang mewujudkan baik pikiran, sikap dan perilaku termasuk akhlak mulia dan budi pekerti (Aqib, 2015: 187).
Rutland (2009: 1), mengemukakan bahwa karakter berasal dari akar kata bahasa latin yang berarti “dipahat”. Sebuah kehidupan, seperti sebuah blok granit yang dengan hati-hati dipahat ataupun dipukul secara sembarangan yang pada akhirnya akan menjadi sebuah mahakarya atau puing-puing yang rusak. Secara harfiyah karakter artinya “kualitas mental atau moral, kekuatan moral, nama atau reputasi” (Hornby dan Parnwell, 1972: 49) Dalam Dorlan’s Pocket Medical Dictionary (1968: 126) dinyatakan bahwa karakter adalah sifat nyata dan berbeda yang ditunjukkan oleh individu: sejumlah atribut yang dapat diamati pada individu. Dan kamus psikologi dinyatakan bahwa karakter adalah kepribadian ditinjau dari titik tolak etis atau moral, misalnya kejujuran seseorang: biasanya mempunyai kaitan dengan sifat-sifat yang relatif tetap (Hidayatullah, 2010: 15)
Ekowarni(2010), menambahkan bahwa pada tatanan mikro, karakter diartikan: (a) ualitan dan kuantitas reaksi terhadap diri sendiri, orang lain, maupunsituasi tertentu, atau (b) watak, akhlak, ciri psikologis. Prof. Suyanto, Ph. D. menjelaskan bahwa “karakter adalah cara berfikir dan berperilaku
56
yang menjadi ciri khas tiap individu untuk hidup dan bekerjasama baik dalam lingkup keluarga, masyarakat, bangsa, dan negara. Individu yang berkaraker baik adalah individu yang bisa membuat keputusan dan siap mempertanggungjawabkan setiap akibat dari keputusan yang ia buat”. Karakter menurut Al Wisol diartikan sebagai gambaran tingkah laku yang menonjolkan nilai benar-salah, baik-buruk, baik secara eksplisit maupun implisit (Zubaedi, 2013: 9).
Samani dan Hariyanto memaknai karakter sebagai cara berpikir dan berperilaku yang khas tiap individu untuk hidup dan bekerja sama, baik dalam lingkup keluarga, masyarakat, bangsa, dan negara. Individu yang berkarakter baik adalah individu yang dapat membuat keputusan dan siap mempertanggungjawabkan setiap akibat dari keputusannya. Karakter dapat dianggap sebagi nilai-nilai perilaku manusia yang berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan, dan kebangsaan yang berwujud dalam pikiran, sikap, perasaan, perkataan, dan perbuatan berdasarkan norma-norma agama, hukum, tata krama, budaya, adat istiadat dan estetika (Samani dan Hariyanto, 2012: 41).
Istilah karakter juga memiliki kedekatan dan titik singgung dengan etika. Karena umumnya orang dianggap memiliki karakter yang baik setelah mampu bertindak berdasarkan etika yang berlaku di tengah-tengah masyarakat (Zubaedi, 2013: 21). Etika merupakan studi tentang cara-cara penerapan hal-hal yang baik bagi hidup manusia. Semenara itu, Bertens mengartikan etika sebagai ilmu yang mempelajari adat kebiasaan, termasuk
57
di dalam moral yang mengandung nilai dan norma ang menjadi pegangan hidup seseorang atau kelompok bagi pengaturan tingkah lakunya.
Sebagai aspek kepribadian, karakter merupakan cerminan dari kepribadian secara utuh dari seseorang: melintas, sikap, dan perilaku. Karakter selalu berkaitan dengan dimensi fisik dan psikis individu. Karaker bersifat kontekstual dan kultural. Karena bangsa merupakan jati diri bangsa yang merupakan kumulasi dari karakter-karakter warga masyarakat suatu bangsa. (Zubaedi, 2013: 10).
Karakter tersusun dari tiga bagian yang saling berhubungan yakni moral knowing (pengetahuan moral), moral feeling (perasaan moral), dan moral behavior (perilaku moral). Karakter yang baik terdiri dari pengetahuan tentang kebaikan (knowing the good), keinginan terhadap kebaikan (desiring the good), dan berbuat kebaikan (doing the good). Dalam hal ini, diperlukan pembiasaan dalam pemikiran (habits of the mind), pembiasaan dalam hati (habits of the heart) dan pembiasaan dalam tindakan (habits of the action) (Zubaedi, 2013: 13).
Di Indonesia pendidikan karakter saat ini memang dirasakan mendesak. Gambaran situasi masyarakat bahkan situasi dunia pendidikan di Indonesia menjadi motivasi pokok pengarusutamaan (mainstriming) implementasi pendidikan karakter di Indonesia. Pendidikan karakter di Indonesia dirasakan amat perlu pengembangannya bila mengingan makin meningkatnya tawuran antar-pelajar, serta bentuk-bentuk kenakalan remaja lainnya (samani dan hariyanto, 2012: 2).
58
Menurut Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, pendidikan karakter adalah pendidikan yang mengembangkan nilai-nilai budaya dan karakter bangsa pada diri peserta didik sehingga memiliki nilai dan karakter dalam pribadinya, menerapkan nilai-nilai tersebut dalam kehidupannya sebagai anggota masyarakat, bangsa, dan warga negara yang religius, jujur, disiplin, nasionalis, produktif, kreatif, dan sebagainya melalui pendidikan olah hati, olah otak, dan olah fisik.(Sukitman, 2015: 67).
Emi Budiastuti dalam Seminar Nasional 2010 “Character Building For Vocational Education” mengatakan: “pendidikan karakter adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan pembelajaran kepada siswa mengembangkan dengan perilaku seperti: moral, sopan santun, periaku baik, sehat, kritis, sukses, sesuai dan/atau diterima makhluk sosial. Pendidikan karakter adalah pendidikan budi pekerti plus yaitu yang melibatkan aspek pengetahuan (cognitive), perasaan (feeling), dan tindakan (action)”.
Akhmad Sudrajat (2010), menjelaskan bahwa “Pendidikan karakter adalah suatu sistem penanaman nilai-nilai karakter pada warga sekolah yang meliputi komponen pengetahuan, kesadaran atau kemauan, dan tindakan untuk melatih nilai-nilai tersebut, baik terhadap Tuhan Yang Maha Esa, dir sendiri, sesama lingkungan, maupun kebangsaan sehingga menjadi manusia insan kamil”. Dan menurut Dony Kusuma, pendidikan karakter merupakan dinamika pengembangan kemampuan yang
59
berkesinambungan dalam diri manusia untuk mengadakan inernalisasi nilai-nilai sehingga menghasilkan disosisi aktif, setabil dalam diri individu (Zubaedi, 2013: 19).
Winton (2010) menegaskan bahwa pendidikan karakter adalah upaya sadar dan sungguh-sungguh dari seorang guru untuk mengajarkan nilai-nilai kepada para siswanya (Samani dan Hariyanto, 2012: 42). Alfi Kohn, dalam Noll (2006) menyatakan bahwa pada hakikatnya ”pendidikan karakter dapat di definisikan secara luas atau secara seempit” (Samani dan Hariyanto, 2012: 43).
Scerenko (1997) mengemukakan bahwa pendidikan karakter sebagai upaya yang sungguh-sungguh dengan cara mana ciri kepribadian positif dikembangkan, didorong, dan diberdayakan melalui keteladanan, kajian (sejarah, dan biografi para bijak dan pemikiran besar), serta praktik emulasi (usaha yang maksimal untuk mewujudkan hikmah dari apa-apa yang diamati dan dipelajari).Diakui, persoalan karakter atau moral memang tidak sepenuhnya terabaikan oeh lembaga pendidikan. Akan tetapi, dengan fakta-fakta seputar kemerosotan karakter pada sekitar kita menunjukkan bahwa kegagalan pada institusi pendidikan kita dalam hal menumbuhkan manusia Indoonesia yang berkarakter atau berakhlak mulia (Zubaedi, 2013: 5).
Zuchdi, dkk (2017: 7), menjelaskan bahwa kondisi masa kini sangat berbeda dengan kondisi masa lalu. Pendekatan pendidikan karakter yang dahulu cukup efektif, tidak sesuai lagi untuk membangun generasi
60
sekarang dan yang akan datang. Zubaedi(2013: 7), menyatakan bahwa Situasi dan kondisi-kodisi karakter bangsa yang sedang memprihatinkan telah mendorong pemerintah untuk mengambil inisiatif untuk memprioriaskan pembangunan karakter bangsa. Pembangunan karaker dijadikan arus utama pembangunan nasional. Pemikiran atau gagasan mendasar tentang pendidikan karakter, sebetulnya bukan suatu hal yang baru bagi pembentukan watak bangsa Indonesia. Para tokoh pendidikan kita dulu, seperti KH. Ahmad Dahlan, RA. Kartini, Ki Hajar Dewantara, Soekarno, Moh Natsir telah berupaya untuk menerapkan semangat pendidikan karakter sebagai sarana membentuk watak dan identitas bangsa Indonesia.
Sebelum Indonesia merdeka, Soekarno menyatakan bahwa tidak ada kemerdekaan jika dalam mentalitas bangsa tidak ada semangat dan kemauan untuk merdeka, membangun karakter bangsa untuk meraih Indonesia merdeka. Pemikiran Soekarno berlanjut dengan mandasari Negara Kesatuan Indonesia yang Bhinneka Tunggal Ika ini dengan falsafah pancasila (Aqib, 2015: 29).