2.4 Tujuan Pendidikan Kesehatan Klien dan Metode, Teknik, dan Strategi
2.4.1 Definisi Pendidikan Kesehatan
2.4.3 Metode Pengajaran
2.4.4 Strategi Pengajaran 2.5 Media Pengajaran
2.6 Evaluasi Pendidikan Kesehatan Klien Bab III Penutup
3.1 Kesimpulan 3.2 Saran Daftar Pustaka
BAB 2
ISI
2.1 Definisi dan Jenis-jenis Pembelajaran2.1.1 Definisi, Prinsip dan Metode Belajar
Belajar menurut menurut KBBI adalah berusaha memperoleh kepandaian atau ilmu, berlatih, berubah tingkah laku atau tanggapan yang disebabkan oleh pengalaman. Selain itu, belajar adalah proses asimilasi informasi baru yang meningkatkan sebuah perubahan tetap dalam perilaku (Allender, Rector, & Warner, 2014). Konsep belajar merupakan akar dari pemikiran peserta didik, dimana nantinya yang akan menimbulkan umpan balik saat kegiatan belajar. Kegiatan belajar memiliki tujuan yaitu menumbuhkan sifat-sifat positif dari peserta didik, contohnya peserta didik memiliki karakter yang penyayang sehingga membuat sikap dan perilakunya dapat diterima oleh orang-orang disekitarnya (Prashnig, 2007).
Prinsip belajar merupakan fokus dari kegiatan pembelajaran khususnya pada aktifitas peserta didik di semua jenjang pendidikan, misalnya dengan menggunakan demonstrasi, tugas PR, dan kuis (Hackathorn, 2011). Dalam proses tersebut Raymond membagi beberapa faktor yang mempengaruhinya, yaitu faktor internal, faktor eksternal, dan faktor pendekatan belajar. Faktor internal merupakan faktor dari dalam peserta didik sendiri, seperti kondisi fisik dan psikis peserta didik. Faktor external merupakan faktor yang muncul dari lingkungan peserta didik, seperti kondisi kenyamanan tempat belajar yang digunakan. Faktor pendekatan belajar merupakan cara yang digunakan peserta didik untuk mempelajari suatu mata ajar, seperti penggunaan metode konsep akar pohon untuk mata ajar dengan materi yang saling berkaitan dan menggunakan pengalaman sebagai pembelajaran kedepan yang lebih baik (Prashnig, 2007).
Metode belajar membantu pengajar memberikan arahan sehingga mendapatkan efektifitas dalam proses kegiatan belajar. Simamora (2008) mengemukakan ke-7 metode belajar tersebut di antaranya yaitu : 1) Metode penglihatan, dimana peserta didik memahami suatu mata ajar dengan
menggunakan gambar, bentuk, animasi atau video, 2) Metode mendengar, dimana peserta didik memahami suatu mata ajar dengan mengingat intruksi verbal baik dari pendidik atau orang-orang di sekitarnya, 3) Metode bergerak, dimana peserta didik memahami suatu mata ajar dengan mendengar ataupun melihat disertai gerakan-gerakan kecil seperti mengetuk-ngetuk pensil ke meja atau berfikir sambil berjalan kesana-kemari, 4) Metode taktil (sentuhan), dimana peserta didik memahami suatu mata ajar dengan menyentuh, meraba atau membuat gamabaran sendiri di pemikirannya seperti dalam pelajaran anatomi fisiologi, pelajar lebih cepat menangkap ilmu ketika memegang langsung alat peraga dibanding membaca buku. 5) Metode penciuman, dimana peserta didik memahami suatu mata ajar dengan menggunakan indera hidung, 6) Metode pengecap, dimana peserta didik memahami suatu mata ajar dengan bantuan lidah , dan 7) Metode kombinasi, dimana peserta didik memahami suatu mata ajar dengan mengandalkan lebih dari satu indera.
2.1.2 Teori Belajar
Teori belajar sudah berkembang selama beberapa dekade, dan teori ini biasanya familiar bagi para perawat (Lundy & Janes, 2016). Menurut Kozier dalam Berman, Snyder, & Frandsen (2016), ada tiga kerangka yang mendasari teori belajar, yaitu:
1. Perilaku (behaviorism)
Menurut Thorndike, teori perilaku adalah proses interaksi antara stimulus dan respon. Stimulus adalah apa yang merangsang terjadinya kegiatan belajar seperti pikiran, perasaan atau hal-hal lain yang dapat ditangkap melalui alat indera. Sedangkan respon adalah reaksi yang dimunculkan peserta didik ketika belajar, yang dapat pula berupa pikiran, perasaan atau gerakan/tindakan. (Kozier et al., 2015). Sementara itu, Skinner mengungkapkan teori ini adalah operant conditioning yaitu bentuk pembelajaran dimana hukuman yang diberikan atas perilaku memungkinkan perubahan dari perilaku tersebut. Skinner menganggap hukuman itu semata-mata hanya
belajar adalah adanya penguatan (reinforcement) dan hukuman (punishment). (Kozier et al., 2015).
Perawat dalam hal ini harus memberikan waktu latihan yang cukup untuk pengujian langsung dan berulang serta melakukan demonstrasi bersama, memberikan kesempatan kepada pelajar untuk memecahkan masalah, memuji pelajar atas perilaku yang benar dan memberikan umpan balik positif pada pengalaman belajar secara keseluruhan.
2. Kognitif (cognitivism)
Merupakan proses belajar yang sebagian besar melibatkan proses berpikir atau pembentukan mental serta intelektual. Pelajar menyusun dan memproses informasi sebaik-baiknya sehingga terbentuk suatu pengetahuan. Proses belajar kognitif terdiri atas 3 tahapan yaitu: 1) Asimilasi, merupakan proses penyatuan informasi baru ke dalam struktur kognitif pada benak mahasiswa, 2) Akomodasi, merupakan penyesuaian struktur kognitif ke dalam situasi baru, dan 3) Ekuilibrasi, merupakan penyesuain kesinambungan antara asimilasi dan akomodasi. (Nursalam & Effendi, 2008).
Perawat yang menerapkan teori kognitif ini akan berupaya untuk menyediakan lingkungan sosial, emosional, dan fisik yang kondusif untuk belajar, mendorong hubungan antara pengajar dengan pelajar yang positif, memilih strategi pengajaran multiindrawi karena persepsi dipengaruhi oleh indera, menargetkan gaya belajar yang berbeda pada setiap karakteristik individu yang berbeda, menilai perkembangan dan penerimaan seseorang untuk belajar dan beradaptasi pada strategi pengajaran sesuai tingkat perkembangan pelajar.
3. Kemanusiaan (humanism)
Teori ini berfokus pada kedua kualitas kognitif dan afektif pelajar. Pengemuka teori ini salah satunya adalah Abraham Maslow
dan Carl Rogers. Menurut teori ini, belajar diyakini sebagai motivasi diri, inisiasi diri, dan evaluasi diri. Pelajar mengidentifikasi kebutuhan belajar dan mengambil inisiatif sendiri untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Teori ini digunakan perawat agar berfokus pada perasaan dan sikap pelajar mengenai pentingnya seseorang mengidentifikasi kebutuhan belajar dan mengambil tanggung jawab untuk dirinya sendiri, dan pada motivasi diri pelajar untuk bekerja ke arah kemandirian dan secara independen.
Perawat yang menerapkan teori ini akan memberi empati dalam berkomunikasi antara perawat (pengajar) dengan klien (pelajar), mendorong klien untuk menetapkan tujuan dan menerapkan pembelajaran mandiri, melayaninya sebagai fasilitator, mentor, atau sumber daya untuk klien, dan memaparkan informasi yang baru dan relevan kepada klien dan mengajukan pertanyaan yang tepat untuk mendorong pelajar untuk mencari jawaban. 2.1.3 Definisi, Konsep, dan Metode Mengajar
Definisi mengajar menurut Arifin (1978) dalam Simamora (2009) ialah suatu rangkaian kegiatan penyampaian materi pelajaran kepada peserta didik agar dapat menerima, menanggapi, menguasai, dan mengembangkan bahan pelajaran tersebut. Sementara menurut Tyson dan Caroll (1970) mengajar adalah sebuah cara dan sebuah proses hubungan timbal balik antara peserta didik dan pengajar yang sama-sama aktif melakukan kegiatan. Hal ini menggambarkan bahwa mengajar sama seperti suatu kegiatan dimana seseorang mampu mengatur, mengontrol, dan mengorganisasi lingkungannya untuk tetap kondusif seiring dengan peserta didik menangkap ilmu dan menerapkan keterampilannya sementara pengajar memberikan umpan balik sehingga tercipta proses belajar yang baik.
Menurut Biggs (1991), seorang pakar psikologi dalam Buku ajar pendidikan dalam keperawatan (2009) konsep mengajar dibagi menjadi tiga macam pengertian, yaitu:
1) Pengertian kuantitatif, disebut juga penularan pengetahuan. Dalam hal ini guru hanya perlu menguasai pengetahuan bidang studinya dan
menyampaikan kepada siswa dengan sebaik-baiknya. Masalah berhasil atau tidaknya siswa menangkap apa yang diajarkan, bukan seluruhnya menjadi tanggung jawab pengajar.
2) Pengertian institusional, yaitu penataan segala kemampuan mengajar agar berlangsung efisien. Dalam hal ini guru dituntut untuk siap mengadaptasikan berbagai teknik mengajar terhadap siswa yang memiliki berbagai macam tipe belajar serta berbeda bakat, kemampuan, dan kebutuhannya.
3) Pengertian kualitatif, dimana pengajar berupaya mendorong siswa mencari makna dan pemahamannya sendiri dalam proses belajar, dalam arti siswa diajak lebih terbuka dalam mengeksplorasi idenya sementara pengajar hanya sebagai fasilitator.
Simamora (2009) juga memaparkan metode pengajaran yang seringkali digunakan oleh para pengajar, di antaranya yaitu :
1. Metode ceramah, dimana informasi disampaikan pasif secara lisan. Namun, merupakan metode paling efektif, praktis dan ekonomis untuk menyampaikan informasi kepada masyarakat luas.
2. Metode diskusi, dimana pembelajaran berkaitan dengan pemecahan masalah yang bertujuan mendorong peserta didik berpikir kritis, bebas menyuarakan pendapat, menyumbang buah pikirnya memecahkan masalah dan membuat alternatif solusi dengan pertimbangan yang cermat.
3. Metode demonstrasi, dimana pengajaran dilakukan dengan bantuan alat peraga, kejadian, aturan atau urutan kegiatan. Sehingga membuat peserta didik lebih terpusat, terarah dan tertanam ingatannya akan materi ajar tersebut.
4. Metode resitasi, dimana peserta didik diharuskan membuat resume selama berlangsungnya pembelajaran menggunakan kalimatnya sendiri, yang membuatnya dapat mengingat materi ajar lebih lama.
5. Metode eksperimental, dimana peserta didik dalam kelompok atau individu dilatih melakukan proses, praktik atau percobaan.
6. Metode study tour, dimana peserta didik diajak belajar di luar arena kelas dengan mengunjungi objek guna memperluas wawasan sembari membuat laporan hasil kunjungan tersebut.
7. Metode drill (latihan keterampilan), dimana peserta didik diajak langsung ke tempat latihan untuk melihat proses tujuan, fungsi, guna dan manfaatnya, diharapkan dapat membentuk kebiasaan yang akan terpola dalam dirinya.
8. Metode pengajaran teman sejawat, dimana satu dengan yang lain saling bertukar wawasan.
2.1.4 Teori Mengajar
Kegiatan mengajar dilandasi oleh tiga teori yang perlu diperhatikan agar kegiatan berlangsung dengan baik, di antaranta yaitu:
1. Teori mengajar yang pertama yaitu teaching as telling or transmission. Kegiatan mengajar adalah proses menyampaikan atau mentransmisikan suatu topik kepada pendengar yang berfokus pada tindakan yang akan dilakukan pengajar kepada individu dengan cara tertentu (FIP-UPI, 2007). 2. Teori mengajar yang kedua yaitu teaching as organizing student activity.
Teori ini menjelaskan bahwa pada hakikatnya kegiatan mengajar berperan dalam mengorganisasikan berbagai kegiatan pelajar yang mengatur agar seluruh kegiatan yang dilakukan pelajar menjadi sebuah pengalaman belajar bagi dirinya (FIP-UPI, 2007).
3. Teori mengajar yang ketiga yaitu teaching as making learning possible. Teori ini menerangkan bahwa belajar dan mengajar merupakan dua hal seperti kedua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan. Teori ini berisi gabungan berbagai aspek pembelajaran antar pihak yang melakukan kegiatan belajar-mengajar (FIP-UPI, 2007).
2.1.5 Proses Belajar Mengajar dalam Keperawatan
Proses belajar mengajar tidak hanya dilakukan oleh perawat saja, namun juga dilakukan oleh perawat dan klien. Menurut Chow et al., 1984 dalam buku “Perawat sebagai pendidik, Proses pengajaran dan pembelajaran: perawat selalu
mendidik pihak lain-pasien, keluarga, dan kolega, dan dari sinilah perawat kemudian memperluas praktik mereka sehingga mencakup konsep kesehatan dan penyakit yang lebih luas (Bastable, 2002).
Proses pendidikan adalah serangkaian tindakan yang sistematik, berurutan, dan terencana terdiri dari dua operasi utama yang interdependen, pengajaran dan pembelajaran, yang memebentuk siklus tanpa terputus. Proses ini juga melibatkan dua pemain yang inter-independen, yaitu pengajar dan pendididk. Mereka melakukan kegiatan belajar secara bersama- sama dengan hasil perubahan prilaku yang dikehendaki oleh kedua belah pihak yang mendorong pertumbuhan peserta didik dan mendorong (Bastable, 2002).
Pada proses pendidikan, sama halnya dengan proses keperawatan yang mengawalinya dari pengkajian hingga evaluasi. Proses pendidikan mengidentifikasi materi dan metode instruksi berdasarkan pengkajian dan penentuan prioritas kebutuhan pembelajaran, kesiapan untuk belajar, kesiapan untuk belajarbelajar, dan gaya belajar klien. Jika sasaran tidak tercpai, seperti yang diputuskan melalui evaluasi, maka proses pendidikan harus dimulai kembali dengan pengkajian ulang (Bastable, 2002).
Menurut Smith dan Bell, upaya perawat sebagai pendidik keberhasilannya diukur bukan berapa banya meteri yang disajikan, tetapi berdasarkan berapa banyak yang dipelajari orang tersebut. Pendidikan pasien merupakan suatu proses untuk membantu orang mempelajari perilaku yang berkaitan dengan kesehatan sehingga dapat diterapkan di dalam kehidupan sehari-hari untuk mencapai kesehtana yang optimum dan kemandirian dalam perawatan diri. Pendidikan staf merupakan proses untuk mempengaruhi perilaku perawat dengan melakukan perubahan pada pengetahuan, sikap, nilai, dan keterampilan yang diperlukan untuk meningkatkan kompetendsi mereka (Bastable, 2002).
2.2 Domain Belajar dan Klien sebagai Peserta Didik 2.2.1 Domain Belajar
Domain belajar adalah ranah perubahan tingkah laku menuju peningkatan pengetahuan dan kemahiran berdasarkan alat indra dan pengalamannya. Pembelajaran dapat dilihat dalam domain atau dimensi yang berbeda. Domain atau dimensi pembelajaran pada umumnya terdiri atas dimensi kognitif, dimensi afektif, dan dimensi psikomotor (Eldemen & Mandle, 2006: Kozier, Erb, Berman, & Snyder, 2010). Masing-masing domain pun terdiri atas tingkatan berbeda yang bergantung pada tingkat kemampuan yang dapat ditampilkan. Tingkatan pembelajaran dari masing-masing domain ini diperkenalkan oleh Bloom pada tahun 1956 yang dikenal dengan Bloom’s taxonomy (Eldemen & Mandle, 2006).
a. Domain Kognitif
Domain kognitif merupakan domain belajar yang berkaitan dengan pemikiran rasional yang terkait fakta-fakta dan konsep-konsep. Domain kognitif merujuk kepada pengetahuan dan bergerak dari konsep yang sederhana menuju konsep yang kompleks (Rankin & Stallings, 2001). Domain kognitif inilah yang biasa digunakan untuk mengukur kemampuan intelektual pembelajar karena domain kognitif juga mencakup kemampuan mengingat kembali materi pembelajaran yang telah diberikan . Pengetahuan atau kognitif ini merupakan domain yang sangat penting dalam membentuk tindakan atau perilaku seseorang. Contoh dari dimensi
kognitif ialah kemampuan memahami anatomi dan fisiologi tubuh manusia.
Bloom membagi domain kognitif menjadi enam subkategori yaitu pengetahuan, pemahaman, aplikasi, analisis, sintesis, dan evaluasi. Menurut Eldemen & Mandle, tingkatan dalam proses pembelajaran yang dicapai tergantung pada bagaimana tingkatan tersebut diantisipasi untuk konten yang akan digunakan. Berikut ini adalah tingkatan dari domain kognitif :
1. Mengetahui (Know)
Mengetahui meliputi kemampuan untuk mengenali, memperoleh, dan mengingat kembali peristilahan, fakta-fakta, gagasan, pola, urutan, metedologi, prinsip dasar, dll terkait hal yang baru diketahuinya. Tahap ini dapat ditandai pembelajar yang dapat menjawab dan melaksanakan pertanyaan atau kegiatan yang menggunakan kata kerja seperti mengidentifikasi, menentukan, merangkai, memasangkan dan seterusnya (Rankin & Stallings, 2001). Seseorang dikatakan telah mencapai tingkat ini apabila ia dapat mendefinisikan, menyebutkan, menguraikan, dan menyatakan. Contohnya, seseorang dapat menyebutkan tanda-tanda bahaya merokok.
2. Memahami (Comprehend)
Memahami meliputi kemampuan untuk menangkap arti atau makna dari sesuatu hal yang telah dipelajari. Contoh hal yang membuktikan bahwa seseorang sudah ada dalam tahap ini seperti klien mampu menjelaskan secara spesifik bagaimana obat baru akan meningkatkan kondisi fisik seseorang yang mengonsumsinya.
3. Aplikasi (Application)
Pada tingkat ini, seseorang sudah mampu untuk menerapkan kaidah atau teori yang telah dipelajarinya untuk menyelesaikan masalah yang ada di kehidupan nyata. Tahap ini dapat ditandai pembelajar yang dapat menjawab dan melaksanakan pertanyaan (Rankin & Stallings, 2001).
Contohnya, seseorang klien dapat menerapkan cara mencuci tangan yang benar.
4. Analisis (Analysis)
Dalam tingkat ini, seseorang sudah mampu menjabarkan suatu materi atau objek yang kompleks ke bagian yang lebih sederhana. Tahap analisis memungkinkan seseorang untuk membedakan informasi yang penting dari informasi yang tidak penting. Contoh hal yang membuktikan bahwa seseorang sudah ada dalam tahap ini adalah klien mampu membedakan antara mitos atau fakta mengenai pola hidup yang baik dan klien mampu membedakan efek samping yang mungkin sering terjadi dari suatu obat.
5. Sintesis (Synthesis)
Pada tingkat sintesis seseorang mampu mengumpulkan beberapa komponen yang sejenis untuk membentuk suatu pola pemikiran baru yang utuh. Tahap sintesis ini ditandai dengan kemampuan untuk mennyatukan ide-ide menjadi solusi atas masalah, merancang rencana tindakannya dan merumuskan suatu hal yang baru. Contoh hal yang membuktikan bahwa seseorang sudah ada dalam tahap ini adalah klien mengalami efek samping dari suatu obat dan mampu mengambil langkah-langkah pencegahan yang tepat.
6. Evaluasi (Evaluation)
Evaluasi adalah kemampuan untuk menilai suatu objek dengan membuat pendapat mandiri berdasarkan kriteria yang sudah ditetapkan. Tingkatan evaluasi ini dapat ditandai dengan kemampuan menilai sesuatu berdasarkan nilai, logika dan fungsinya sesuai dengan pengetahuan yang telah diketahui sebelumnya. Contoh hal yang membuktikan bahwa seseorang sudah ada dalam tahap ini adalah klien menyadari kebutuhan akan informasi tentang kesehatan.
b. Domain afektif
Domain afektif merupakan ranah yang mempelajari hal yang mengenai pembelajar itu sendiri. Hal yang dipelajari ialah seperti mengenai ekspresi
perasaan, emosi, nilai, dan kepercayaan spiritual. Semua hal yang dipelajari tersebut akan mendorong berubahnya sikap perilaku pembelajar dalam mengambil sebuah keputusan (Eldemen & Mandle, 2006).
Menurut Eldemen dan Mandle (2006) setiap domain belajar memiliki tingkatan tersendiri. Tingkatan domain afektif dimulai dari yang terendah yaitu penerimaan hingga yang terkompleks yaitu karakteristik. Tingkatan domain afektif diantaranya ialah:
a) Penerimaan (Receiving)
Penerimaan merupakan tingkat yang paling awal dan dapat dikatakan rendah karena tingkat ini merupakan tingkat pertama yang harus dilalui saat proses belajar berlangsung. Pada tingkat ini pembelajar bersedia untuk menerima peristiwa yang terjadi disekitarnya. Menerima bukan hanya mendengarkan atau melihat namun yang dimaksud adalah mau untuk memperhatikan stimulus yang diberikan. Seperti contohnya ialah saat berdiskusi seseorang tidak hanya mendengarkan pendapat orang lain melainkan mau untuk memperhatikan pendapat tersebut dan saat seorang calon nasabah bank yang akan membuka rekening baru maka akan bersedia untuk menerima penjelasan dari customer service mengenai produk bank tersebut.
b) Pemberian tanggapan (Responding)
Tingkatan selanjutnya ialah pemberian tanggapan (responding). Pada tahap ini pembelajar akan memberikan respon atau tanggapan terhadap fenomena yang telah dihadapinya. Respon disini meliputi partisipasi aktif yang melibatkan memberikan respon secara verbal atau nonverbal. Contoh, setelah calon nasabah bank telah selesai dijelaskan mengenai produk bank oleh costumer service
maka calon nasabah bank tersebut akan bertanya mengenai hal yang kurang jelas atau ingin diperdalam lagi.
c) Pemberian nilai (Valuing)
Pada tingkat ini pembelajar akan memberikan harga atau nilai kepada objek, fenomena atau tingkah laku yang telah ditunjukkan
kepadanya. Misalnya, setelah menanyakan lebih lanjut mengenai produk bank yang akan dipilih maka calon nasabah bank tersebut aka menilai produk bank mana yang menurutnya paling baik atau cocok untuk dirinya saat ini.
d) Pengorganisasian (Organization)
Tingkat selanjutnya merupakan tahap yang lebih rumit karena pada tahap ini pembelajar biasanya menemui sebuah masalah yang harus diselesaikan. Pada tingkat ini pembelajar akan memiliki kemampuan pengorganisasian seperti menggabungkan nilai-nilai yang berbeda, mengidentifikasi nilai, menyelesaikan konflik dan membentuk suatu sistem untuk menyelesaikan masalah.
Setelah itu pembelajar dapat mekonseptualisasikan nilai atau sistem yang telah didapatkan. Contohnya, seseorang yang telah mengalami kecelakaan lalu lintas lalu dia mendapati kenyataan bahwa kakinya harus diamputasi maka apabila seseorang tesebut telah mencapai tingkat ini dia akan dapat menerima perubahan yang terjadi.
e) Karakteristik (Characterization)
Tingkat yang terakhir dalam domain afektif ini dan merupakan tingkat terkompleks ialah karakteristik (characterization). Pembelajar pada tahap ini sudah memiliki sistem nilai yang mengatur sikap perilaku sampai menjadi suatu gaya hidup yang konsisten. Selain mendapatkan gaya hidupnya, pembelajar tersebut juga dapat merespon sistem nilai lain yang dijumpainya.
Seperti contoh, seseorang yang mengalami obesitas disarankan oleh dokter untuk melakukan diet ketat. Maka setelah itu seseorang tersebut dapat menerima kenyataan bahwa dia harus dia dan mekonseptualisasikannya dengan melakukan diet ketat tersebut dengan baik dan benar. Setelah berlangsung sekian lama makan diet ketat tersebut sudah menjadi bagian dari gaya hidupnya dan dia dapat menghadapi pola makan teman-temannya yang sedang tidak diet.
c. Domain Psikomotorik
Domain psikomotor merujuk kepada kemampuan dari motorik individu dalam melakukan pengaplikasian atas pengetahuannya. Domain ini merupakan domain pembelajaran yang melibatkan perolehan keterampilan dengan melibatkan integrasi dari aktivitas otot dan bekerja sama dengan pikiran, contohnya kemampuan berjalan, kemampuan menggunakan alat tulis, kemampuan menyendokkan makanan sendiri ke dalam mulut atau bisa disebut kemampuan menggunakan alat makan (Redman, 2007 dalam Potter & Perry, 2013). Menurut Sympson (1972) dalam Potter dan Perry (2013) domain psikomotor terdiri dari tujuh perilaku. Perilaku tersebut dimulai dari
perception atau tingkatan yang paling sederhana dan orgination yang merupakan tingkat yang paling kompleks di dalam tujuh perilaku tersebut.
Tujuh perilaku mengenai domain psikomotor, terdiri dari:
1. Persepsi (perception), merupakan prilaku dimana seseorang dapat menyadari adanya suatu objek atau kualitas melalui penggunaan indra yang dimiliki. Selanjutnya akan merasakan adanya rangsangan sebagai tanda untuk melakukan tugas tertentu. Seseorang menghubungkan isyarat sensorik dengan pesan untuk bertindak. Misalnya, setelah mendengarkan bunyi mobil pemadam kebakaran, mereka akan meminggirkan mobil untuk member akses kepada mobil pemadam kebakaran tersebut.
2. Penetapan (set), adalah prilaku yang berdasar pada kesiapan untuk mengambil suatu tindakan atau aksi tertentu. Terdapat tiga penetapan, yaitu mental, fisik, dan emosional. Misalnya, seseorang menggunakan pertimbangan dalam memutuskan cara terefisien untuk melakukan suatu tindakan motorik (kesiapan mental). Sebelum melakukan tindakan, seperti berjalan setelah tertidur, seseorang tersebut berdiri sampai postur dirinya siap menopang tubuhnya (kesiapan fisik).
3. Respon terbimbing (guided response), adalah prilaku yang dilakukan di bawah bimbingan instruktur yang melibatkan
peniruan atas intruksi atau demostrasi yang diberikan. Misalnya, klien mampu memasukkan cairan insulin untuk injeksi setelah adanya demonstrasi dari perawat.
4. Mekanisme (mechanism), adalah perilaku dengan tingkatan yang lebih tinggi dikarenakan individu telah memperoleh kepercayaan diri serta keterampilan dalam perilaku yang akan dilakukan. Perilaku yang dilakukan biasanya mengenai keterampulan yang lebih kompleks karena melibatkan beberapa langkah dari guide response. Misalnya, klien mampu membedakan dosis sesuai kebutuhan dalam pengisian jarum suntik.
5. Respons terbuka yang kompleks (complex overt response), prilaku yang melibatkan suatu keterampilan dengan pola gerakan yang kompleks. Pada prilaku ini dilakukan secara lancar dan akurat. Sebagai contoh, klien dapat memberikan dirinya sendiri suatu injeksi pada berbagai titik penginjeksian.
6. Adaptasi (adaptation), prilaku yang ditunjukan seseorang saat menghadapi situasi yang tidak terduga dan berupa suatu respon