• Tidak ada hasil yang ditemukan

DAFTAR LAMPIRAN

Skenario 5: Kombinasi Antara Skenario 3 dan

VI. HASIL SIMULASI DAN PEMBAHASAN

6.1. Definisi Skenario Dasar

Sebelum membahas hasil simulasi kebijakan (counterfactual scenario), terlebih dahulu perlu disusun model skenario dasar (baseline scenario). Setelah model skenario dasar disusun, selanjutnya hasil simulasi kebijakan akan dibandingkan dengan hasil simulasi skenario dasar tersebut. Prosedur ini biasa dilakukan dalam analisis dampak kebijakan terhadap perubahan suatu ekonomi, khususnya dengan model keseimbangan umum dinamis (Hakim, 2004). Meskipun model yang digunakan dalam penelitian ini bersifat komparatif statis, simulasi skenario dasar masih relevan dilakukan mengingat kesepakatan AFTA tetap akan dilaksanakan oleh negara-negara ASEAN dengan atau tanpa adanya FTA ASEAN – China. Dengan melaksanakan kesepakatan AFTA tersebut dapat dianggap bahwa negara-negara ASEAN melakukan kegiatan ekonomi seperti biasa (business as usual), dan hasilnya penting untuk dibandingkan dengan apabila ASEAN melakukan liberalisasi perdagangan dengan negara China.

Perbedaan antara hasil simulasi skenario dasar dengan simulasi kebijakan umumnya disajikan dalam bentuk persentase perubahan. Menurut Hakim (2004), ada dua komponen penting yang perlu diperhatikan dalam melakukan skenario dasar, yaitu: meng-up date beberapa variabel di dalam model (baik eksogen maupun endogen) dengan menggunakan asumsi atau parameter baru, dan mengetahui tingkat tarif impor yang berlaku serta kebijakan perdagangan lainnya seperti: subsidi produksi dan subsidi ekspor. Informasi mengenai hambatan perdagangan ini merupakan komponen penting dalam simulasi skenario dasar untuk mengetahui seberapa besar tingkat proteksi awal di sebuah negara.

Pada skenario dasar yang dilakukan dalam penelitian ini, semua variabel, koefisien dan data perdagangan yang ada di dalam database GTAP versi 6 dijadikan sebagai acuan (benchmark). Database GTAP tersebut memuat data agregat untuk 86 region dan 57 sektor. Semua nilai moneter dinyatakan dalam dolar Amerika Serikat (US$) dengan tahun referensi 2001 (Hertel, 1997). Dari database GTAP dapat diperoleh variable-variabel makro ekonomi dari setiap region, arus perdagangan bilateral, tingkat proteksi perdagangan (tarif dan non-tarif), koefisien dan parameter setiap sektor, serta tabel input-output (I-O) setiap region. Tabel 18 menyajikan data GDP riil dan nilai ekspor yang diambil dari database GTAP versi 6. Dari data tersebut dapat dilihat bahwa ukuran ekonomi Indonesia adalah yang terbesar diantara negara-negara ASEAN dengan GDP riil sebesar US$ 145 306.30 juta atau hampir 25 persen dari total GDP riil ASEAN. Dari sisi perdagangan, nilai ekspor Indonesia sebesar US$ 64 382.02 juta atau 44.31 persen dari total GDP masih jauh di bawah Malaysia, Singapore dan Thailand, dimana rasio nilai ekspor terhadap GDP masing- masing mencapai 118.42 persen, 105.34 persen dan 60.90 persen. Hal ini mencerminkan bahwa sektor perdagangan (ekspor) sangat penting peranannya bagi ekonomi ketiga negara ASEAN tersebut. Ekonomi mereka lebih berorientasi keluar (outward) sehingga sangat sensitif terhadap adanya goncangan ekspor. Dengan demikian, kebijakan liberalisasi perdagangan akan sangat berpengaruh terhadap perubahan output nasional dan tingkat kesejahteraan masyarakat. Menurut Lee at al

(2004) dan Hakim (2004) ada 2 (dua) faktor yang mempengaruhi tingkat perubahan kesejahteraan (EV), yaitu: pangsa (share) ekspor dan rasio ekspor terhadap output. Dalam model GTAP, variabel EV adalah pendapatan per kapita sebuah region, sehingga peningkatan ekspor berarti menambah pendapatan dan selanjutnya akan menambah tingkat kesejahteraan.

Tabel 18. Data Dasar Nilai GDP dan Ekspor, Tahun 2001 , Negara GDP Riil (US$ Juta) Nilai Ekspor (US$ Juta) Rasio Ekspor thd GDP (%) IDN 145 306.30 64 382.02 44.31 MYS 88 040.63 104 257.67 118.42 PHL 71 437.49 35 803.55 50.12 SGP 84 855.19 89 388.25 105.34 THA 114 681.16 69 841.83 60.90 VNM 32 722.70 13 375.21 40.87 XSE 79 052.98 7 533.14 9.53 CHN 1 159 031.38 362 021.12 31.23 ROW 29 503 474.63 4 915 784.68 16.66 Total 31 278 602.00 5 662 387.47 18.10

Sumber: GTAP versi 6

Di lihat dari tingkat proteksi perdagangan, secara umum tarif impor komoditi pertanian dan kehutanan Indonesia relatif lebih rendah jika dibandingkan dengan Malaysia, Thailand, dan Viet Nam. Satu-satunya negara ASEAN yang telah meliberalisasi pasar domestik adalah Singapore, dimana tarif impor hampir semuanya telah dihapuskan. Tingkat tarif impor rata-rata komoditi pertanian dan kehutanan disajikan pada Tabel 19. Tingkat proteksi awal tersebut akan menentukan keuntungan ekonomi yang dapat diperoleh dari liberalisasi perdagangan. Apabila tingkat proteksi awal tinggi maka dapat diharapkan keuntungan ekonomi yang dapat diperoleh akan semakin besar. Sebaliknya jika tingkat tarif awal sudah rendah maka dampak liberalisasi perdagangan terhadap ekonomi akan relatif kecil. Pada Tabel 19 dapat dilihat bahwa komoditi beras dan gula masih memperoleh proteksi yang cukup tinggi

di beberapa negara ASEAN. Hal ini dimungkinkan karena kedua jenis komoditi tersebut oleh sebagian besar negara anggota AFTA masih dimasukkan ke dalam daftar sangat sensitif (Highly Sensitive List) dengan alasan untuk melindungi petani domestik. Tarif impor beras (processed rice) Indonesia adalah sebesar 16.11 persen, lebih rendah dibanding di Philippines sebesar 29.63 persen. Sedangkan untuk komoditi gula, tarif impor di Indonesia adalah sebesar 15.87 persen masih lebih rendah dibandingkan dengan Philippines (31.30 persen), Viet Nam (24.96 persen) dan Thailand (23.13 persen). Untuk produk kayu olahan (wood-based products), tingkat tarif impor di Indonesia (4.36 persen) paling rendah kedua setelah Singapore (nol persen). Tingkat tarif impor tertinggi adalah di Thailand (15.65 persen), diikuti Viet Nam (14.96 persen), Malaysia (8.33 persen) dan Philippines (6.89 persen). Sedangkan untuk produk kehutanan (forestry), yang sebagian besar berupa kayu bahan baku industri, tingkat tarif impornya relatif rendah di semua negara ASEAN. Hal ini menggambarkan terjadinya kekurangan bahan baku industri perkayuan di negara- negara tersebut sehingga mereka membuka pasar impor komoditi tersebut dengan tingkat tarif rendah.

Tingkat proteksi tarif dan non-tarif adalah faktor penentu dalam analisis dampak liberalisasi perdagangan. Analisis dampak liberalisasi perdagangan, terutama dengan menggunakan model keseimbangan umum, selalu difokuskan kepada penurunan atau penghapusan hambatan perdagangan secara bilateral. Hal ini disebabkan semakin tinggi tingkat proteksi awal yang diberlakukan secara bilateral, maka semakin besar pula dampak penghapusan hambatan perdagangan tersebut terhadap struktur perdagangan antara dua negara (Hakim, 2004). Oleh sebab itu, pada simulasi skenario dasar ini perlu untuk diketahui tingkat proteksi perdagangan yang diberlakukan secara bilateral di negara-negara ASEAN dan China yang menjadi fokus

dari penelitian ini. Tingkat tarif impor bilateral tersebut disajikan pada Lampiran 6 – Lampiran 12. Secara umum, tingkat tarif impor sangat bervariasi baik di tingkat sektor maupun di antara masing-masing negara. Indonesia mengenakan tarif impor cukup tinggi untuk komoditi beras padi (paddy) dan beras olahan (procrice) dari hampir semua negara, kecuali beras olahan dari Philippines dan beras padi dari EU-15 dengan tarif nol persen. Namun impor beras olahan dari Philippines dan beras padi dari EU-15 tersebut nilainya sangat kecil, sehingga secara keseluruhan tarif impor beras yang diberlakukan di Indonesia masih relatif tinggi. Komoditi lain yang memperoleh proteksi tarif cukup tinggi adalah gula, makanan olahan (food products), perikanan (fisheries), dan produk kayu olahan. Di luar produk manufaktur lainnya (other manufactures) yang terdiri dari beragam produk, produk tekstil dan peralatan mesin memiliki tingkat tarif yang masih cukup tinggi. Untuk tekstil, tarif impor tertinggi dikenakan atas impor dari China sebesar 10.08 persen dan Korea Selatan sebesar 9.70 persen. Demikian pula untuk peralatan mesin, tarif tertinggi dikenakan untuk impor dari China sebesar 5.03 persen.

Berbeda dengan Indonesia, tarif impor beras dan gula di Malaysia sudah dihapuskan. Tingkat tarif tertinggi di Malaysia adalah untuk impor produk pertanian lainnya (other agriculture) seperti: plant-based fibers, crops nec, dan wool, silk-worm cocoons. Malaysia mengenakan tarif impor produk susu dari Indonesia sebesar 10.33 persen merupakan tarif tertinggi dibanding tarif impor dari negara-negara lain. Produk tekstil dari Indonesia juga dikenakan tarif impor relatif tinggi sebesar 10.82 persen. Di Philippines, tarif impor tinggi dikenakan untuk komoditi beras, produk daging (meat products), dan peternakan (livestock) dari Indonesia, masing-masing sebesar 50 persen, 38.38 persn dan 15 persen. Struktur tarif impor di Thailand hampir sama dengan di Vietnam dan China. Ketiga negara tersebut masih memberikan

proteksi tarif cukup tinggi untuk sebagian besar komoditi pertanian, kehutanan, dan produk manufaktur. Tarif impor relatif rendah hanya untuk komoditi beras dan gandum. Thailand mengenakan tarif impor produk kayu olahan dari Indonesia sebesar 24.31 persen, lebih tinggi dibandingkan tarif yang dikenakan Viet Nam dan China.

Tabel 19. Data Dasar Tingkat Tarif Rata-Rata, Tahun 2001

(%)

Sektor Negara

IDN MYS PHL SGP THA VNM XSE CHN

Paddy 14.88 0.00 7.61 0.00 0.27 1.15 1.19 8.92 ProcRice 16.11 0.00 29.63 0.00 5.55 7.19 1.23 0.64 Wheat 0.64 0.00 3.45 0.00 4.79 0.00 0.00 9.15 Cereal 0.15 0.00 9.75 0.00 27.96 0.99 0.29 19.70 VegetFruit 4.28 4.65 9.73 0.00 32.31 30.88 4.58 21.77 VegetOil 2.05 1.03 3.99 0.00 19.53 12.39 1.68 30.46 Sugar 15.87 0.00 31.30 0.00 23.13 24.96 1.64 14.45 OtherSugar 0.00 0.77 0.00 0.00 0.00 0.77 0.38 3.08 MeatProd 3.95 2.56 24.52 0.00 29.43 16.22 6.89 13.95 DairyProd 3.71 1.68 3.10 0.00 14.36 15.26 5.89 23.76 FoodProd 6.12 3.26 5.23 0.00 36.55 25.10 7.37 19.08 Livestock 2.69 0.57 7.13 0.00 9.70 3.15 1.33 9.13 Fishery 3.10 0.37 2.99 0.00 32.29 10.26 1.95 13.90 Forest 1.42 0.36 0.69 0.00 4.78 1.62 1.35 4.50 WoodProd 4.36 8.33 6.86 0.00 15.65 14.96 12.89 9.88 OtherAgric 2.32 59.04 4.39 0.00 24.81 11.87 12.21 9.71 Sumber: GTAP versi 6

Selain proteksi tarif, pengenaan hambatan non-tarif (pajak/subsidi ekspor dan output) juga sangat berpengaruh pada hasil analisis dampak kebijakan liberalisasi perdagangan. Besarnya pajak dan subsidi ekspor di negara-negara ASEAN dan China disajikan pada Tabel 20. Fakta menarik dari data pada tabel tersebut adalah semua negara ASEAN dan China tidak memberikan subsidi ekspor untuk komoditi pertanian. Hal ini sangat berbeda dengan negara-negara maju yang pada umumnya memberikan subsidi ekspor cukup tinggi kepada sektor pertanian domestik. Perberian subsidi ekspor tersebut telah menyebabkan harga komoditi pertanian di pasar global menjadi rendah sehingga merugikan produsen pertanian di negara-negara berkembang. Subsidi ekspor komoditi pertanian oleh negara-negara maju sampai saat ini menjadi isu penting yang belum dapat diselesaikan dalam negosiasi di WTO.

Dalam hal pajak ekspor, hanya Vietnam dan kelompok negara Rest of Southeast Asian (XSE) yang mengenakan pajak ekspor produk kayu olahan masing- masing sebesar 13.06 persen dan 4.67 persen. Pengenaan pajak ekspor ini mencerminkan peranan penting industri perkayuan sebagai sumber pendapatan di negara-negara tersebut. Di sektor manufaktur, pajak ekspor untuk produk tekstil dan produk manufaktur lainnya dikenakan di hampir semua negara ASEAN dan China. Pajak ekspor tekstil Indonesia adalah sebesar 2.39 persen, merupakan yang tertinggi diantara negara-negara ASEAN. Sedangkan pajak ekspor produk manufaktur lain relatif rendah yaitu sebesar 0.31 persen. Diantara negara-negara ASEAN, Viet Nam mengenakan pajak ekspor tertinggi untuk produk manufaktur lain sebesar 4.21 persen.

Sama dengan subsidi ekspor, hampir semua negara ASEAN dan China tidak memberikan subsidi output untuk semua komoditi, kecuali produk tambang dan mineral di Singapore yang diberi subsidi sebesar 4.50 persen. Di lain pihak, pajak output dikenakan atas semua sektor di ASEAN dan China, kecuali Malaysia.

Malaysia adalah satu-satunya negara di ASEAN yang tidak mengenakan pajak/subsidi output. Pengenaan pajak output atas sektor pertanian dan kehutanan menggambarkan bahwa sektor pertanian dan kehutanan di ASEAN dan China tidak memperoleh bantuan dari pemerintah, bahkan sebaliknya menjadi sumber pendapatan bagi negara. Di Indonesia, pajak output tertinggi dikenakan atas komoditi gula sebesar 9.18 persen. Pajak output komoditi gula di Indonesia tersebut adalah yang paling tinggi di antara negara-negara ASEAN dan China, sehingga menjadi salah satu penyebab rendahnya daya saing komoditi gula Indonesia di pasar regional. Untuk sektor kehutanan, pemerintah Indonesia mengenakan pajak output produk kehutanan sebesar 1.42 persen, lebih tinggi dibanding produk kayu olahan sebesar 0.84 persen. Di satu sisi, hal ini dapat dianggap sebagai upaya pemerintah untuk melindungi kelestarian sumberdaya hutan alam melalui instrumen pajak. Dengan mengenakan pajak output yang tinggi diharapkan pemanfaatan sumber bahan baku kayu dapat lebih efisien sehingga mendukung kelestarian hutan. Namun di sisi lain, tingginya pajak tersebut menunjukkan bahwa sumberdaya hutan masih menjadi andalan sumber pendapatan bagi pemerintah.

Dengan memperhatikan besarnya pajak/subsidi ekspor dan output untuk setiap komoditi, maka dapat diperkirakan besarnya dampak penghapusan hambatan non-tarif tersebut terhadap perubahan ekspor dan output dari masing-masing komoditi. Menurut teori liberlisasi perdagangan, semakin besar tingkat proteksi awal yang diberlakukan atas sebuah komoditi maka semakin besar pula perubahan kinerja output dan perdagangan dari komoditi tersebut setelah dilakukan liberalisasi. Sebaliknya apabila komoditi tersebut sudah memiliki tarif awal yang rendah atau tidak diproteksi maka liberalisasi perdagangan akan memberikan dampak yang relatif kecil terhadap kinerja komoditi tersebut.

Tabel 20. Data Dasar Pajak/Subsidi Ekspor Rata-Rata, Tahun 2001

(%)

Sektor Negara

IDN MYS PHL SGP THA VNM XSE CHN

Paddy 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 ProcRice 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 Wheat 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 Cereal 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 VegetFruit 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 VegetOil 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 Sugar 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 OtherSugar 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 MeatProd 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 DairyProd 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 FoodProd 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 Livestock 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 Fishery 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 Forest 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 WoodProd 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 -13.06 -4.67 0.00 OtherAgric 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 Textiles -2.39 -2.26 -1.46 0.00 -1.54 -1.58 0.00 -3.84 Electronic 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 Machinery 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 MiningMnrl 0.03 0.01 0.05 0.00 0.00 -1.05 -0.70 0.00 OtherMnfcs -0.31 -0.14 -0.49 0.00 -0.29 -4.21 -0.08 -0.80 Catatan: tanda negatif berarti pajak dan positif berarti subsidi

Tabel 21. Data Dasar Pajak/Subsidi Output Rata-Rata, Tahun 2001

(%)

Sektor Negara

IDN MYS PHL SGP THA VNM XSE CHN

Paddy -0.71 0.00 -2.24 -0.64 -0.26 -3.93 -1.31 -1.94 ProcRice -0.42 0.00 -3.86 -0.38 -0.54 -0.94 -0.61 -3.88 Wheat -1.27 0.00 -13.05 -0.64 -0.22 -1.79 -0.48 -1.94 Cereal -1.27 0.00 -13.05 -0.64 -0.22 -1.79 -0.37 -1.94 VegetFruit -0.87 0.00 -6.77 -0.64 -0.08 -1.79 -0.31 -1.94 VegetOil -1.15 0.00 -6.35 -0.20 -0.98 -1.79 -0.99 -2.81 Sugar -9.18 0.00 -3.97 -0.23 -5.00 -1.11 -4.77 -3.88 OtherSugar -0.06 0.00 -4.89 -0.64 -0.12 -1.18 -0.21 -1.94 MeatProd -1.38 0.00 -3.67 -1.16 -1.15 -5.39 -1.20 -2.07 DairyProd -1.38 0.00 -3.67 -0.59 -1.15 -2.48 -1.25 -2.07 FoodProd -1.85 0.00 -2.99 -0.58 -0.87 -0.94 -0.87 -3.88 Livestock -0.67 0.00 -2.40 -19.22 -0.11 -0.37 -0.17 -1.44 Fishery -0.80 0.00 -0.21 -0.42 -0.01 -3.26 -0.41 -1.59 Forest -1.42 0.00 -4.49 -0.41 -1.67 -10.66 -4.17 -5.13 WoodProd -0.84 0.00 -6.27 -0.64 -2.09 -1.04 -1.88 -4.89 OtherAgric -0.87 0.00 -5.89 -0.44 -0.09 -1.78 -0.19 -1.80 Textiles -1.92 0.00 -16.89 -0.54 -1.34 -1.93 -1.34 -5.42 Electronic -3.36 0.00 -11.85 -0.41 -1.99 -1.76 -1.57 -3.81 Machinery -4.13 0.00 -18.11 -0.65 -2.03 -0.72 -1.72 -4.61 MiningMnrl -1.85 0.00 -12.08 4.50 -9.28 -3.94 -5.19 -6.26 OtherMnfcs -4.19 0.00 -13.47 -1.10 -6.11 -2.83 -7.37 -5.83 Catatan: tanda negatif berarti pajak dan positif berarti subsidi