• Tidak ada hasil yang ditemukan

DAFTAR LAMPIRAN

II. KAJIAN KEBIJAKAN PERDAGANGAN BEBAS

2.2. Perdagangan Bebas ASEAN

Para pemimpin pemerintahan negara-negara ASEAN pada Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN ke- IV di Singapura tahun 1992 sepakat untuk membentuk kawasan perdagangan bebas ASEAN (ASEAN Free Trade Area /AFTA) pada tahun 2008. Selanjutnya pada KTT ASEAN ke- VI di Hanoi tahun 1998 disepakati untuk mempercepat pelaksanaan AFTA secara penuh mulai Januari 2002 untuk negara ASEAN-6 (Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, Philippines, Singapore, dan Thailand). Sedangkan untuk Vietnam tahun 2006, Laos dan Myanmar tahun 2008, dan Cambodia tahun 2010. Pembentukan AFTA bertujuan untuk mempercepat integrasi ekonomi ke dalam basis produksi tunggal dan menciptakan pasar regional bagi lebih dari 500 juta penduduk ASEAN. Melalui penghapusan dan penurunan tarif maupun non-tarif, AFTA diharapkan akan meningkatkan efisiensi ekonomi, produktivitas dan daya saing ekonomi negara-negara ASEAN sehingga pada akhirnya akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat di kawasan tersebut.

2.2.1. Skema Penurunan dan Penghapusan Tarif dan Non-Tarif

Kesepakatan perdagangan bebas ASEAN dilaksanakan melalui skema

Common Effective Preferential Tariffs (CEPT – AFTA). Berdasarkan skema CEPT – AFTA, negara-negara ASEAN sepakat untuk menurunkan tingkat tarif perdagangan intra-ASEAN menjadi 0 – 5 persen, serta mengurangi dan menghapuskan pembatasan-pembatasan kuantitatif dan hambatan perdagangan lainnya. Produk- produk dalam skema CEPT – AFTA diklasifikasikan ke dalam 4 kategori, yaitu:

Inclusion List (IL), Temporary Exclusion List (TEL),Sensitive List (SL), danGeneral

Exception List (GEL). Produk-produk dalam IL harus segera diliberalisasi dengan menurunkan tarifnya menjadi 0 – 5 persen (mulai Januari 2002) dan menghapuskan hambatan non-tarif lainnya. Produk dalam TEL untuk sementara waktu dapat dikeluarkan dari skema CEPT, tetapi mulai Januari 1996 produk TEL tersebut harus dimasukkan ke dalam IL untuk secara bertahap diturunkan tarifnya menjadi 0 – 5 persen. Semua produk sensitif, khususnya produk pertanian non-olahan seperti: beras, gula, pada akhirnya harus diturunkan tarifnya antara 0 – 5 persen. Jadwal penurunan tarif produk SL adalah: ASEAN-6 mulai tahun 2003, Vietnam tahun 2013, Laos dan Myanmar tahun 2015, sedangkan Cambodia tahun 2017. Produk dalam GEL secara permanen dikecualikan dari skema CEPT – AFTA dengan pertimbangan untuk melindungi keamanan nasional, moral masyarakat, kehidupan dan kesehatan manusia, dan nilai sejarah atau arkeologis.

Data pada Lampiran 1 dan 2 menunjukkan bahwa pelaksanaan CEPT-AFTA selama 1993 – 2003 telah berhasil menurunkan tingkat tarif rata-rata ASEAN dari 7.03 persen (1993) menjadi 3.33 persen (2003) atau terjadi penurunan sebesar lebih dari 47 persen. Untuk negara-negara ASEAN-6, tingkat tarif rata-rata hanya tinggal sebesar 2.39 persen (2003). Sedangkan di kelompok negara CLMV (Cambodia, Laos,

Myanmar, dan Vietnam) tingkat tarif rata-rata masih sebesar 6.22 persen. Pada tahun 2003, ada sebanyak 49 017 pos tarif atau sekitar 99.60 persen dari total pos tarif di ASEAN-6 yang telah diturunkan menjadi 0 – 5 persen. Namun untuk negara-negara CLMV lebih dari 34 persen pos tarifnya masih di atas 5 persen.

2.2.2 Perkembangan Perdagangan ASEAN dalam Kerangka AFTA

Implementasi skema CEPT-AFTA telah berhasil meningkatkan perdagangan intra-ASEAN dari US $ 82.4 milyar (1993) menjadi US $ 174.5 milyar (2003) atau meningkat rata-rata 8.8 persen per tahun lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan perdagangan dengan negara-negara di luar kawasan ASEAN (6.5 persen). Pada tahun 2003, ekspor intra-ASEAN mencapai US $ 99.7 milyar, sedangkan impornya sebesar US $ 74. 8 milyar. Perkembangan nilai perdagangan ASEAN selama tahun 1993 - 2003 disajikan pada Lampiran 3.

Setelah krisis ekonomi 1997-1998, perdagangan intra-ASEAN mengalami peningkatan cukup tajam dan mencapai puncaknya pada tahun 2000 dengan nilai sebesar US$ 166.1 milyar atau tumbuh 25.2 persen dari tahun sebelumnya. Angka perdagangan tersebut sedikit mengalami penurunan menjadi US$ 149.2 milyar (2001) dan US $ 158.7 milyar (2002), namun kembali meningkat menjadi US$ 174.5 milyar pada 2003. Meskipun telah menunjukan peningkatan, perdagangan intra-ASEAN selama ini masih jauh lebih kecil dibandingkan dengan perdagangan yang dilakukan dengan negara-negara di luar kawasan ASEAN (extra-ASEAN trade). Persentase perdagangan intra-ASEAN terhadap total perdagangan ASEAN hanya berkisar antara 19 – 22 persen. Perdagangan ASEAN selama ini masih sangat mengandalkan mitra dagang negara-negara maju seperti USA, Jepang, dan Eropa. Pada tahun 2003, perdagangan dengan USA mencapai 14.1 persen dari total nilai perdagangan

ASEAN, kemudian disusul berturut-turut dengan Jepang (13.7 persen), Uni Eropa (11.5 persen), dan China (7 persen). Hal ini mencerminkan tingkat integrasi ekonomi ASEAN masih relatif rendah dibandingkan misalnya dengan NAFTA atau EU.

Impementasi AFTA selama ini masih menghadapi beberapa kendala. Kurang kuatnya komitmen negara-negara ASEAN untuk mencapai target liberalisasi perdagangan sebagaimana yang telah disepakati dalam CEPT merupakan hambatan utama yang dihadapi dalam pelaksanaan AFTA. Dengan alasan untuk melindungi industri dalam negeri yang dianggap masih belum siap memasuki era perdagangan bebas, beberapa negara anggota ASEAN sampai saat ini masih belum bersedia menurunkan tarif dan menghapuskan hambatan non-tarif atas produk-produk tertentu. Masalah lain adalah adanya perbedaan tingkat pembangunan ekonomi nasional dan keterbatasan kemampuan sumberdaya dari sebagian negara ASEAN dalam memasuki era liberalisasi perdagangan regional. Disamping itu, masih adanya keraguan dari sebagian negara anggota ASEAN terhadap kemampuan AFTA dalam meningkatkan perdagangan dan investasi (FDI) di kawasan ASEAN juga ikut menghambat pelaksanaan AFTA. Hal ini terbukti dengan adanya beberapa negara ASEAN yang melakukan perdagangan bebas secara biletaral dengan negara-negara maju. Singapore, misalnya, menandatangani FTA dengan New Zealand (2000), Amerika Serikat (2001), Jepang (2002), dan Australia (2002). Demikian pula FTA Thailand dengan Australia (2005). Sedangkan Malaysia dan Indonesia sampai saat ini masih merundingkan FTA bilateral dengan Jepang. Ada beberapa alasan yang mendorong negara-negara ASEAN untuk mengadakan perjanjian FTA bilateral. Pertama, untuk memberi tekanan kepada negara-negara ASEAN yang selama ini masih enggan untuk meliberalisasi perdagangannya secara penuh. Kedua, krisis ekonomi dan keuangan tahun 1997-1998 yang melanda sebagian negara ASEAN telah menyebabkan

kemundurun ekonomi ASEAN, khususnya di sektor ekspor dan investasi. Ketiga, perkembangan ekonomi China yang pesat dikhawatirkan akan mengancam industri manufaktur dan daya saing ekspor negara-negara ASEAN (Aslam, 2003).