• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 2 KAJIAN PUSTAKA

2.2 Urban Renewal

2.2.3 Definisi Urban Housing Renewal

Rumah tidak hanya sebagai tempat berlindung, namun juga sebagai tempat untuk menikmati kehidupan, beristirahat dan bersuka ria bersama keluarga yang dapat memenuhi kebutuhan rohani yaitu memberikan rasa nyaman, aman, kesenangan dan terhindar dari gangguan kesehatan (Frick & Mulyani, 2006). Pemenuhan kebutuhan akan rumah bagi setiap manusia dan pengembangannya secara berkelanjutan sudah menjadi agenda dunia yang seharusnya dapat diwujudkan oleh setiap negara di dunia. Persoalan perumahan yang paling mendasar adalah pemenuhan kebutuhan perumahan bagi masyarakat berpenghasilan rendah di perkotaan (Murbiantoro, Ma'arif, Sutjahjo, & Saleh, 2009).

12

Banyak dari masyarakat berpenghasilan rendah yang tidak dapat mengakses rumah secara layak dikarenakan rendahnya tingkat ekonomi yang dimilikinya yang menyebabkan masyarakat tersebut bermukim secara liar dan menimbulkan kekumuhan di perkotaan. Menurut Turner (1976),masyarakat miskin seringkali menghindari pembiayaan untuk kebutuhan dasar seperti perumahan. Sehingga perumahan dapat diakses secara gratis dengan bermukim secara liar ataupun menumpang dirumah keluarga. Dan hal ini juga berkaitan dengan jarak antara rumah dengan tempat kerja yang memungkinkan masyarakat miskin tersebut dapat menempuh perjalanan ke tempat kerja dengan berjalan kaki.

Menjamurnya kawasan liar dan kumuh tersebut ditandai dengan kurangnya infrastruktur dasar seperti fasilitas sosial selain itu juga kekumuhan tersebut menyebabkan menurunnya produktivitas dan peluang ekonomi serta menimbulkan penyakit akibat dari buruknya kualitas hunian dan lingkungannya (Tannerfeldt & Ljung, 2006). Pemerintah telah berusaha mengatasi permasalahan lingkungan kumuh dengan melaksanakan berbagai program, salah satunya yaitu melalui peremajaan lingkungan kumuh yaitu dengan membongkar lingkungan kumuh dan perumahan kumuh dan menggantinya dengan rumah susun yang memenuhi syarat. Peremajaan lingkungan kumuh merupakan bagian dari usaha peremajaan kota (urban renewal) yang bertujuan untuk meningkatkan mutu lingkungan untuk memperbaiki tatanan sosial ekonomi di tempat terkait. Sehingga dalam pelaksanaannya bukan semata-mata memperbaiki fisik lingkungannya saja namun juga memperbaiki tatanan sosial masyarakat setempat (Yudohusodo et al, 1991). Selain itu dalam peningkatan kualitas lingkungan perumahan dan ekonomi masyarakat juga perlu melibatkan potensi yang dimiliki oleh masyarakat setempat sehingga hal tersebut menjadi kekuatan utama dalam pembangunan (Marwati, 2008).

Dalam peremajaan lingkungan kumuh harus dapat memecahkan masalah kekumuhan secara mendasar. Sehingga dalam mengatasinya, peremajaan tidak hanya sekedar memberikan ganti rugi kepada pemilik tanah dan pemilik rumah dan memintanya untuk mencari perumahan sendiri-sendiri. Karena hal tersebut dapat menimbulkan kekumuhan yang baru ditempat yang lain. Oleh karenanya dalam peremajaan lingkungan perumahan akan lebih baik jika penghuni lama diusahakan

13

ditampung kembali di lokasi yang sama dengan kepadatan yang sama, serta menyediakan lahan untuk kebutuhan sarana dan prasarana lingkungan. Sehingga akan lebih baik jika peremajaan lingkungan perumahan dilakukan dengan menggantikan rumah yang lama dengan hunian yang vertikal atau rumah susun (Yudohusodo et al, 1991).

Selain meningkatkan mutu fisik lingkungan dan hunian dengan harapan memberikan dampak yang lebih baik pada tingkat sosial dan ekonomi masyarakat, hal lain yang menjadi masalah dalam peremajaan adalah keterjangkauan biaya sewa hunian. Sebagian besar masyarakat yang tinggal di perumahan kumuh adalah masyarakat berpenghasilan rendah. Sehingga pemerintah harus dapat memberikan biaya sewa yang terjangkau bagi masyarakat tersebut. Selain itu juga, penting bagi pemerintah untuk mengedukasi masyarakat tersebut untuk bijak dalam menggunakan penghasilannya. Karena biasanya masyarakat tersebut, ketika memiliki kelebihan uang dari penghasilannya tidak digunakan untuk membuka usaha namun digunakan untuk membeli hal-hal yang tidak penting. Sehingga jika masyarakat tersebut diedukasi untuk menggunakan kelebihan penghasilannya sebagai modal dalam membuka usaha. Dengan demikian, masyarakat dapat meningkatkan kemampuan ekonominya serta diharapkan dapat membeli hunian lain di tempat yang lebih baik dan tidak kembali ke permukiman kumuh (Yudohusodo et al, 1991).

Permasalahan lain dalam usaha peremajaan lingkungan yang bertransisi dari rumah tapak ke rumah susun adalah adanya keengganan masyarakat untuk tinggal di rumah susun karena masyarakat lebih terbiasa untuk tinggal di rumah tapak. Oleh karenanya, sebelum peremajaan dilakukan perlu adanya penyuluhan yang intensif tentang kepastian kepemilikan rumah susun yang dijamin oleh peraturan perundang-undangan, untung ruginya tinggal di rumah suusn hasil peremajaan dan penyesuaian kehidupan di rumah susun. Karena pelaksanaan peremajaan lingkungan bukan semata-mata masalah teknis namun juga mengandung masalah sosial budaya yang perlu untuk ditangani bersama. Oleh karenanya, pemerintah daerah harus terlibat untuk melakukan pendekatan kepada masyarakat dengan mengikutsertakan peranan LSM untuk menangani masalah sosial, budaya dan ekonomi masyarakat. Sehingga dalam hal ini peranan dalam

14

berbagai institusi pemerintahan dan juga LSM harus ada sinergitas yang berkesinambungan (Yudohusodo et al, 1991).

Untuk dapat mengetahui adanya peningkatan mutu kehidupan masyarakat, menurut Maslow (dalam Pamungkas, 2010) menyatakan bahwa seseorang dapat merasakan kualitas hidupnya meningkat bila ada perubahan yang lebih baik jika dibandingkan dengan kondisi kehidupannya pada hunian sebelumnya. Pada rumah susun, penghuni memiliki referensi dan standard hidup berdasarkan pengalaman tinggal sebelumnya sehingga diharapkan adanya perubahan kondisi hidup yang lebih baik saat tinggal di rumah susun dan di masa mendatang. Dengan demikian, semakin terpenuhinya kebutuhan dasar penghuni maka dapat dikatakan bahwa kualitas hidup penghuni tersebut juga meningkat.

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa urban housing

renewal atau peremajaan adalah cara untuk memperbaiki kawasan perumahan

kumuh yang kondisi fisiknya menurun dan juga sekaligus dapat meningkatkan nilai sosial dan ekonomi masyarakat setempat yaitu dengan cara menata ulang kawasan tersebut dengan menggantikan hunian yang kurang layak dengan hunian vertikal atau rumah susun serta menyediakan sarana dan prasarana yang layak. Sehingga dalam peremajaan lingkungan perumahan tidak bisa diatasi dengan hanya sekedar memberikan ganti rugi karena dikhawatirkan masyarakat akan menimbulkan masalah kekumuhan yang baru. Sehingga akan lebih baik jika masyarakat tersebut tidak direlokasi melainkan dibiarkan tetap tinggal ditempatnya semula namun kondisi fisik lingkungan dan huniannya diperbaiki dengan mentransisi masyarakat tersebut ke rumah susun. Perbaikan fisik tersebut harapannya juga dapat memperbaiki kondisi sosial, budaya dan ekonomi masyarakat. Sehingga peranan berbagai instansi pemerintah terkait, dengan LSM dan masyarakat setempat sangat penting untuk dilakukan untuk mencegah timbulnya konflik di masa mendatang. Selain itu juga keterjangkauan biaya sewa juga menjadi aspek penting untuk dipikirkan karena masyarakat yang tinggal di kawasan kumuh sebagian besar adalah masyarakat berpenghasilan rendah. Dan juga masyarakat tersebut harus diberikan penyuluhan mengenai kehidupan di rumah susun mengingat masyarakat tersebut sudah terbiasa tinggal di rumah tapak.

15

Teori Maslow ini digunakan untuk mengevaluasi keberhasilan tujuan pelaksanaan UHR yaitu dengan membandingkan pengalaman bermukim penghuni saat sebelum peremajaan dilakukan dengan setelah peremajaan dilakukan. Dari paparan pada teori tersebut dapat disimpulkan bahwa jika terjadi perubahan yang lebih baik pada kondisi kehidupan penghuni setelah peremajaan dilakukan maka tujuan UHR dapat dikatakan berhasil.

Dokumen terkait