BAB V PEMBAHASAN
B. Persyaratan Kesehatan Bangunan
1. Lantai 2. Dinding
3. Atap dan talang 4. Langit-langit 5. Tangga 6. Pintu 7. Jendela 8. Pencahayaan 9. Kondisi ruang 10. Kamar tidur 11. Ventilasi C. Fasilitas sanitasi 1. Air bersih 2. Tempat wudhu
3. Sarana pembuangan air limbah 4. Toilet/kamar mandi/ urinoir 5. Sarana pembuangan sampah 6. Ruang makan 7. Dapur
8. Bebas jentik nyamuk
Formulir Penilaian Hygiene Sanitasi Pondok
Pesantren Dinas Kesehatan Kota Banjar
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Desain Penelitian
Desain penelitian yang digunakan adalah desain deskriptif kualitatif dengan metode cross sectional, yaitu suatu subjek penelitian hanya diobservasikan sekali saja dan pengukuran dilakukan pada suatu saat saja tanpa menindaklanjut terhadap pengukuran yang dilakukan. (28) Metode deskriptif adalah suatu metode dalam meneliti status sekelompuk manusia, suatu objek, suatu kondisi, suatu sistem pemikiran ataupun suatu kelas peristiwa pada masa sekarang. Tujuan dari penelitian deskriptif ini adalah untuk membuat deskripsi, gambaran atau lukisa secara sistematis, faktual dan akurat mengenai fakta-fakta, sifat-sifat serta hubungan antarfenomena yang diselidiki.(29)
Menurut Bodgan dan Taylor dalam Moleong, metodologi kualitatif sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisa dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati. Pertimbangan waktu, tenaga dan biaya mendasari bentuk riset terpancang atau tunggal, artinya pengumpulan data sudah diarahkan sesuai dengan tujuan dan panduan pertanyaan di dalamnya sudah dibatasi lebih dulu aspek-aspek yang dipilihnya. Bentuk penelitian ini akan mampu menangkap berbagai informasi kualitatif tentang bagaimana penerapan ketersediaan sanitasi dasar di Pondok Pesantren Miftahul Huda Al-Alzhar Citagkolo Desa Kujangsari secara mendalam berupa ucapan, tulisan dan perilaku yang diamati dari orang-orang yang menjadi sasaran penelitian.(29)
B. Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini akan dilakukan di Pondok Pesantren Al-Azhar Citangkolo Desa Kujangsari Kota Banjar wilayah kerja Puskesmas Langensari 1 pada bulan Maret – 16 April 2016.
C. Sumber Informasi
Penelitian kualitatif tidak menggunakan istilah populasi, tetapi oleh Spradley dinamakan social situation atau obyek penelitian.(30) Pertimbangan penelitian sampel bukan berdasarkan aspek keterwakilan populasi dalam sampel. Pertimbangannya lebih pada kemampuan sampel (informan) untuk memasok informasi selengkap mungkin. Penentuan sampel penelitian tidak secara random. Oleh karena itu sampel ditentukan secara purposive (sengaja) menurut kriteria tertentu. Ukuran sampel tidak menjadi persoalan, namun yang terpenting adalah kelengkapan data. Prinsip dalam penentuan sampel penelitian ini yaitu kesesuaian (approriteness) dan kecukupan (adequacy). Jadi tidak ada proses pengambilan sampel dari populasi tertentu. Peneliti menggunakan istilah informan untuk menyebut sampel dalam penelitian ini sebagai orang yang menjadi sumber informasi. Adapun kriteria yang peneliti tetapkan untuk pemilihan informan dalam penelitian ini disesuaikan dengan komponen ketersediaan sanitasi dasar yaitu ketua sarana dan prasarana yang betugas mengkoordinasi sistim sarana dan prasarana di Pondok Pesantren ditambah informan tambahan yang merupakan anggota bidang sarana dan prasarana Pondok Pesantren dan santri sebagai pengguna fasilitas di Pondok Pesantren
Miftahul Huda Al-Azhar. Secara garis besar yang menjadi informan penelitian adalah :
1 ketua umum Sarana dan Prasarana Pondok Pesantren 2 Anggota Sarana dan Prasarana Pondon Pesantren 2 Santri di Pondok Pesantren
D. Instrumen dan Cara Penelitian 1. Instrumen Penelitian
a. Pendoman Wawancara
Pendoman wawancara digunakan untuk memandu pewawancara agar mendapatkan informasi yang lengkap dan sesuai tujuan penelitian. Peneliti membuat pedoman wawancara dengan mengacu pada pedoman penilaian sanitasi dasar yang dibuat oleh Dinas Kesehatan Kota Banjar. b. Alat Perekam Suara
Alat perekam suara digunakan untuk merekam pembicaraan saat wawancara mendalam. Tujuannya agar tidak ada informasi yang tertinggal pada saat peneliti melakukan transkrip wawancara. File hasil rekaman suara berupa file berformat MP3.
2. Cara Pengambilan Data
Informasi atau data dalam penelitian kualitatif bersifat deskriptif. Kata-kata atau tindakan orang-orang yang diamati dan diwawancarai merupakan sumber data utama. Sumber data utama dicatat melalui catatan tertulis atau melalui perekaman suara, video maupun pengambilan gambar.(29) Sumber data dalam penelitian ini dibagi menjadi dua sumber, sebagai berikut :
1) Data Primer
Data ini diperoleh dari hasil observasi (pengamatan), dokumentasi dan wawancara mendalam yang dilakukan terhadap informan baik informan utama/kunci maupun informan pendukung, mengenai berbagai hal yang berkaitan dengan ketersediaan sanitasi dasar di Pondok Pesantren Miftahul Huda Al-Alzhar Citangkolo Desa Kujangsari Kota Banjar. Pengambilan data primer dilakukan dengan wawancara mendalam (indepth interview). Sebelum wawancara berlangsung, informan mengisi lembar persediaan untuk diwawancarai. Informan yang bersedia diwawancara diberikan pertanyaan yang telah disusun dalam pedoman wawancara dan proses wawancara direkam dengan alat perekam suara. Wawancara dilakukan di Pondok Pesantren Miftahul Huda Al-Azhar Citangkolo Desa Kujangsari Kota Banjar. Wawancara dilakukan sekitar 20 menit. Peneliti ditemani 1 orang teman dalam melakukan wawancara untuk mengamati situasi saat wawancara berlangsung dan mengurangi risiko adanya informasi yang terlewatkan, selain itu teman yang menemani wawancara ini akan dijadikan kolega untuk teknik analisis peer debriefing (memastikan jawaban informan pada orang yang menemani saat wawancara). Selain wawancara, peneliti melakukan observasi, yaitu mengobservasi ketersediaan sanitasi dasar di Pondok Pesantren Miftahul Huda Al-Azhar Citangkolo Desa Kujangsari Kota Banjar.
E. Teknik Analisa Data
Analisis data dan interpretasi data merupakan proses penyederhanaan data dalam bentuk yang lebih mudah. Pada penelitian ini proses analisis data dilakukan dengan tahapan-tahapan sebagai berikut:
1. Membuat transkrip wawancara
Data yang didapat dari wawancara mendalam berupa rekaman percakapan antara peneliti dan informan serta tulisan singkat yang dilakukan peneliti. Agar data dapat disajikan dan dianalisis, maka peneliti mengubah rekaman suara menjadi tulisan dengan cara melakukan transkrip.
2. Pengkodean
Setelah data selesai ditranskrip, hasil dari penelitian ini masih berupa seluruh percakapan selama wawancara. Peneliti melakukan pengkodean terhadap pernyataan-pernyataan informan yang sesuai dengan fokus penelitian. Pengkodean ini bertujuan untuk memilah pernyataan yang sesuai dari semua pernyataan informan.
3. Membuat tabel hasil wawancara
Agar mudah dipahami dan dapat dianalisis, peneliti memasukkan hasil wawancara ke dalam tabel hasil wawancara. Tabel hasil wawancara ini berisi kalimat pernyataan dari informan dan informan tambahan yang merupakan inti dari jawaban pertanyaan yang diajukan oleh peneliti.
4. Melakukan validasi data atau memeriksa keabsahan data
Validasi data dilakukan agar data yang diperoleh dari penelitian dapat dipercaya dan bersifat objektif. Validasi data dalam penelitian ini
menggunakan teknik peer debriefing, member check dan triangulasi data.(31) Teknik peer debriefing dilakukan dengan para kolega (dalam penelitian ini orang yang menemani peneliti pada saat melakukan wawancara) untuk memperoleh berbagai masukan dan kritik agar kualitas analisis lebih dapat dipertanggungjawabkan. Teknik member check dilakukan dengan para informan, yaitu menanyakan kembali pernyataan yang telah terangkum dalam pemahaman peneliti, untuk memastikan kebenaran makna yang telah dibuat. Dengan cara demikian dapat dilakukan cross check dan sekaligus konfirmasi dalam menarik kesimpulan dari informasi yang telah direkam peneliti. Teknik triangulasi dilakukan dengan 2 cara, yaitu triangulasi sumber dan triangulasi metode. Triangulasi sumber dilakukan dengan cara membandingkan informasi antara informan yang satu dengan yang lain (informan yang berbeda). Teknik triangulasi metode menggunakan tiga metode yaitu wawancara mendalam, observasi, dan telaah dokumen.
5. Menginterpretasikan hasil wawancara
Interpretasi dari hasil wawancara ini dijelaskan pada bab hasil penelitian dan pembahasan. Pada penulisan hasil wawancara, peneliti menjelaskan hasil per komponen lalu dalam komponen tersebut dijabarkan hasil per sub komponen agar penjelasannya tertuang secara lebih terperinci. Pernyataan informan dalam hasil penelitian yang didapat dari proses wawancara dijelaskan dan dibandingkan dengan pedoman penilaian ketersediaan sanitasi dasar yang dikeluarkan Dinas Kesehatan Kota Banjar pada bagian pembahasan.
F. Definisi Variabel
Tabel 3.1 Definisi Variabel
No Variabel Definisi Variabel
Cara Mengukur
Alat Ukur Hasil Ukur
1 Persyaratan Kesehatan Lingkungan
Kesehatan lingkungan yang memenuhi syarat, meliputi: a. Lokasi b. Lingkungan termasuk halaman Observasi dan Wawancara Checklist a. Sesuai b. Tidak Sesuai 2 Persyaratan kesehatan bangunan Kesehatan bangunan yang memenuhi syarat, meliputi:
a. Lantai b. Dinding
c. Atap dan talang d. Langit-langit e. Tangga f. Pintu g. Jendela h. Pencahayaan Observasi dan Wawancara Checklist a. Sesuai b. Tidak Sesuai
i. Kondisi ruang j. Kamar tidur k. Ventilasi 3 Fasilitas
Sanitasi
Fasilitas sanitasi yang memenuhi syarat, meliputi: a. Air bersih b. Tempat wudhu c. Sarana pembuangan air limbah d. Toilet/kamar mandi/urinoir e. Sarana pembungan sampah f. Ruang makan g. Dapur h. Bebas jentik nyamuk Observasi dan Wawancara Checklist a. Sesuai b. Tidak Sesuai
BAB IV
HASIL PENELITIAN
A. Deskripsi Tempat Penelitian
1. Gambaran Umum Pesantren Miftahul Huda Al Azhar Citangkolo a. Sejarah
Yayasan ini pertama kali didirikan pada tahun 1968. Sebagai pendiri yayasan ini adalah: KH. Abdurrohim yang sekaligus pendiri Pondok Pesantren Miftahul Huda Al Azhar Citangkolo. Seiring dengan perkembangan waktu dan perubahan zaman, maka tampuk kepemimpinan yayasan ini bernama Yayasan Pengamalan Pendidikan Islam Miftahul Huda atau disingkat YaPPIM, yayasan tersebut terlahir dari buah pemikiran Mbah KH. Abdurrohim sebagai bentuk proaktif terhadap perkembangan zaman dan pengamalan undang undang. Pada masanya yayasan yang dipimpin oleh putra sulung yang bernama KH. Munawir Abdurrohim, MA. Putra pertama beliau pada saat itu baru kembali mengenyam pendidikan di Al Azhar University tepatnya Universitas Al Azhar Kairo Mesir.
Di bawah kepemimpinan KH. Munawir Abdurrohim, MA. Banyak sekali lembaga yang di bangun pada saat itu. Lembaga yang di bangun di bawah naungan Yayasan Pengamalan Pendidikan Islam Miftahul Huda mulai lembaga pendidikan, lembaga usaha, dan kembaga bimbingan atau konsultasi baik itu secara formal maupun non formal. Seiring perubahan undang-undang yang berlaku, maka keluarga besar azhar akhirnya memutuskan untuk merubah nama yayasan yang sedang di
kelola itu. Tepatnya pada bulan September 2012 Yayasan Pengamalan Pendidikan Islam Miftahul Huda berubah menjadi Yayasan Miftahul Huda Al Azhar Citangkolo atau disingkat YaMAC sesuai dengan salinan Akta Notaris No. 20 Tanggal 17 September 2012.
b. Latar belakang
Yayasan Miftahul Huda Al Azhar Citangkolo Kota Banjar adalah hasil kesepakan bersama seluruh pengurus Yayasan Pengamalan Pendidikan Islam yang dipimpin KH. Munawir Abdurrohim, MA. Selanjutnya, Yayasan Miftahul Huda Al Azhar Citangkolo Kota Banjar hanya menaungi lembaga-lembaga yang didirikan pada masa lahirnya Yayasan Pengamalan Pendidikan Islam Miftahul Huda (YaPPIM) saja. Yayasan Miftahul Huda Al Azhar Citangkolo Kota Banjar adalah yayasan yang bergerak dalam bidang pendidikan, dakwah dan sosial.
Kegiatan utama yayasan ini adalah membuka perpustakaan dengan mengoleksi berbagai buku dari berbagai cabang ilmu yang ada dalam tradisi pengetahuan islam. Kemudian mengadakan majelis ta'lim secara berkala. Yayasan ini berdiri karena sebuah kepedulian atas realitas umat islam yang masih tertinggal khususnya dalam bidang ilmu pengetahuan. Dengan realitas ini tergeraklah keinginan besar dan harapan yang menggelora bagi kemahuan islam. Karenanya atas inisiatif berbagai kalangan akhirnya berdirilah yayasan ini sebagai usaha kecil kami untuk menggapai harapan yang besar itu. Akhirnya, tepat pada tanggal 19 September 2012, Yayasan Miftahul Huda Al Azhar Citangkolo dengan resmi dibuka.
c. Lembaga-lembaga pengembangan
1) Lembaga-Lembaga formal yang berada di bawah naungan Yayasan Miftahul Huda Al Azhar Citangkolo Kota Banjar:
a. RA Al Azhar b. MIS Al Azhar c. MTs Al Azhar d. SMP Al Azhar e. MA Al Azhar f. SMA Al Azhar g. SMK Al Azhar h. SMK Farmasi Al Azhar i. STAI Miftahul Huda Al Azhar j. KBIH/U Al Azhar
k. PPMAC Ma'arif Al Azhar l. Laznah Falakiyah
2) Lembaga-Lembaga Non Formal:
a. Pondok Pesantren Miftahul Huda Al Azhar Citangkolo b. PAUD Al Azhar
c. RA Al Azhar d. Madrasah diniyah
e. Koprasi Pesantren Al Azhar f. Jama'ah Shubuhan
g. Jama'ah Kliwonan h. Jama'ah Wagean i. Jama'ah Manisan
j. Jama'ah Thoriqoh
k. NU dan Banom/seluruh lembaganya 3) Lembaga yang sedang dalam pengembangan
a. Akademik Komunitas Al Azhar (AKMA) b. STKIP MA'ARIF AL AZHAR (STKIP MA) 4) Susunan Organisasi a. Pendiri KH.Hasbuloh Badawi, BA KH.Zaeni Ilyas b. Penasehat KH.Munawir Abdurrohim, MA c. Pembina
KH. Muslih Abd Rochiem, M.Pd.I
KH. Mu'in Abdurrochiem, M.Pd.I
KH. Muharor Brd, M.Pd.I
KH. Munahir Abdurrohim SH, M.Pd.I
DR. KH. Marsudi Suhud, M.B.A, P.Hd
KH. Ahmad Budaeri Hasyim Aha, M.Pd.I
Ny. Hj. Linatus Shofiyah Alha, S.Pd.I d. Sekertaris
Ny. Hj. Widadatul Ulya, M.Pd.I e. Bendahara
Ny. Hj. Mus'idah Abdurrohim, M.Pd.I f. Koordinator Bidang :
Pendidikan
Ny. Hj. Mufizah abdurrohim Alha, M.Pd
Ekonomi
Ny. Hj. Ishomah Alha, S.Pd.I
Pengembangan
Ny. Hj. Dairotul Hasanah Alha, S.Pd.I
Sosial
Ny. Hj. Muhjiatul Makiyah Alha, S.Pd.I
Humas:
Ny.Hj. Zahrotul Nafisah,S,Pd.I
B. Hasil Penelitian Ketersediaan Sanitasi Dasar di Pondok Pesantren Miftahul Huda Al-Azhar Citangkolo Desa Kujangsari Kota Banjar.
Ketersediaan sanitasi dasar Pondok Pesantren Miftahul Huda Al-Azhar Citangkolo Desa Kujangsari Kota Banjar masih belum memenuhi persyaratan yang sudah ditetapkan Dinas Kesehatan Kota Banjar. Setiap Pondok Pesantren seharusnya memenuhi persyaratan yang berkaitan dengan sanitasi mulai dari persyaratan kesehatan lingkungan, pesyaratan kesehatan bangunan dan fasilitas sanitasi. Hal ini bertujuan untuk mengurangi dampak-dampak yang terjadi pada sanitasi buruk salah satu dampak-dampaknya adalah penyakit menular. Penyakit menular yang tejadi pada sanitasi buruk bisa berupa penyakit kulit, penyakit ISPA dan sebagainya.
Data hasil penelitian mengenai ketersediaan sanitasi dasar di Pondok Pesantren Miftahul Huda Al-Azhar secara umum menunjukkan beberapa komponen belum memenuhi persyaratan yang sudah ditentukan, hal ini dapat
dilihat dari kesehatan bangunan dimana dinding, atap dan talang, kondisi ruangan, kamar tidur di Pondok Pesantren Miftahul Huda Al-Azhar belum memenuhi persyaratan serta beberapa fasilitas sanitasi seperti air bersih, tempat wudhu, sarana pembuangan air limbah, kamar mandi, sarana pembuangan sampah, ruang makan serta dapur belum memenuhi persyaratan. Berikut akan dijabarkan secara rinci hasil penelitian mengenai ketersediaan sanitasi dasar di Pondok Pesantren Miftahul Huda Al-Azhar.
A. Persyaratan Kesehatan Lingkungan
Komponen persyaratan kesehatan lingkungan ini akan menjelaskan bagaimana keadaan kesehatan lingkungan yang ada di instansi terkait, dapat dilihat dari segi lokasi dan lingkungan termasuk halaman. 1. Lokasi
Sub komponen ini akan menggambarkan keadaan lingkungan di Pondok Pesantren Miftahul Huda Al-Azhar, seperti apakah terhindar dari pencemaran dan tidak terletak didaerah banjir. Berdasarkan hasil wawancara dengan Informan, didapatkan informasi bahwa lokasi Pondok Pesantren Miftahul Huda Al-Azhar terhindar dari pencemaran. Hal ini terlihat dari kutipan pernyataan Informan sebagai berikut :
“Untuk lokasi terhindar dari pencemaran karena tidak ada sumber pencemaran” (Informan 1)
Hasil penelitian mengenai apakah Pondok Pesantren Miftahul Huda Al-Azhar terletak didaerah banjir atau tidak, yaitu Informan mengatakan bahwa Pesantren tersebut tidak terletak didaerah banjir, hal ini terlihat dari pernyataan Informan sebagai berikut :
“Lokasi tidak terletak didaerah banjir, karena ini adalah dataran tinggi” (Informan 2)
Berikut Distribusi informan mengenai lokasi :
Sesuai Tidak sesuai Total
Informan 4 1 5
Berdasarkan hasil wawancara dengan informan didapatkan informasi bahwa dari 4 informan menyatakan lokasi Pondok Pesantren Miftahul Huda Al-Azhar Citangkolo sesuai dengan pedoman hygiene sanitasi Pondok Pesantren Dinas Kesehatan Kota Banjar dan 1 informan menyatakan tidak sesuai.
Berikut distribusi Hasil Observasi peneliti mengenai lokasi:
Sesuai Tidak Sesuai Total
Lokasi √
Berdasarkan hasil observasi peneliti didapatkan lokasi sesuai dengan pedoman hygiene sanitasi Pondok Pesantren Dinas Kesehatan Kota Banjar.
2. Lingkungan Termasuk Halaman
Sub komponen ini akan menggambarkan lingkungan termasuk halaman yang ada, dilihat dari bersih dan indah atau tidak lingkungan Pondok Pesantren tersebut, apakah memungkinkan sebagai tempat bersarang/berkembang biak serangga dan tikus, apakah terdapat pagar yang jelas, dan terdapat tempat parkir atau tidak.
Berdasarkan hasil wawancara dengan Informan, didapatkan informasi bahwa lingkungan beserta halaman belum terlihat bersih dan indah. Hal ini terlihat dari kutipan pernyataan Informan sebagai berikut :
“Untuk lingkungan ya adanya begitu dan inginnya dua
duanya (bersih dan indah), cuma belum tercapai.” (Informan 1)
“Lingkungan bersih pada saat pagi hari, setelah di
bersihkan oleh petugas piket. Kalau siang hari kotor kembali, saat sore hari dibersihkan kembali oleh petugas piket” (Informan 2)
Gambar 4.3 Kondisi Lingkungan disiang hari (kotor) Untuk hasil penelitian mengenai apakah lingkungan yang ada memungkinkan sebagai tempat bersarang/berkembang biak serangga dan tikus, yaitu selama ini tidak didapatkan adanya banyak serangga dan tikus, yang menjadi gangguan disekitar lingkungan tersebut adalah banyaknya lalat dan kucing yang berkeliaran. Hal ini telihat dari penyataan Informan sebagai berikut :
“Untuk halaman di Pondok Pesantren Miftahul Huda
Al-Azhar belum bersih. Tetapi tidak memungkinkan sebagai tempat bersarang/berkembang biak serangga, tikus” (Informan 4)
Gambar 4.4 Kucing yang berkeliaran dilingkungan pondok Semua Informan mengatakan bahwa Pondok Pesantren Miftahul Huda Al-Azhar memiliki pagar dan ada batas yang jelas yang memisahkan kawasan pesantren dengan daerah luar dan juga terdapatnya tempat parkir di kawasan tersebut, sesuai dengan pernyataan Informan sebagai berikut :
“Pondok Pesantren Miftahul Huda Al-Azhar memiliki pagar dan ada batas yang jelas. Ya ada, Pondok Pesantren Miftahul Huda
Al-Azhar terdapat tempat parkir” (Informan 3)
“Ada gerbang, untuk pemisah terutama untuk memisahkan
santri putri dan putra ada walaupun masih terlihat. Di Pondok Pesantren Miftahul Huda Al-Azhar terdapat tempat parkir” (Informan
Gambar 4.5 Gerbang pemisah pondok santri putri dan putra
Berikut Distribusi informan mengenai lingkungan termasuk halaman :
Sesuai Tidak sesuai Total
Informan 2 3 5
Berdasarkan hasil wawancara dengan informan didapatkan informasi bahwa dari 2 informan menyatakan lingkungan termasuk halaman Pondok Pesantren Miftahul Huda Al-Azhar Citangkolo sesuai dengan pedoman hygiene sanitasi Pondok Pesantren Dinas Kesehatan Kota Banjar dan 3 informan menyatakan tidak sesuai.
Berikut distribusi Hasil Observasi peneliti mengenai lingkungan termasuk halaman:
Sesuai Tidak Sesuai Total Lingkungan
termasuk halaman
√
Berdasarkan hasil observasi peneliti mengenai lingkungan termasuk halaman tidak sesuai dengan pedoman hygiene sanitasi Pondok Pesantren Dinas Kesehatan Kota Banjar.
B. Persyaratan Kesehatan Bangunan
Komponen persyaratan kesehatan bangunan ini akan menjelaskan bagaimana keadaan kesehatan bangunan yang ada di instansi terkait, dapat dilihat dari segi lantai, dinding, atap dan talang, langit-langit, tangga, pintu, jendela, pencahayaan, kondisi ruang, kamar tidur, dan ventilasi.
3. Lantai
Sub komponen ini akan menggambarkan keadaan lantai di Pondok Pesantren Miftahul Huda Al-Azhar, apakah bersih, apakah bahan kuat, kedap air, permukaan rata, lantai licin atau tidak, dan apakah dapat menjadi genangan air atau tidak. Berdasarkan hasil wawancara dengan Informan, didapatkan informasi bahwa lantai Pondok Pesantren Miftahul Huda Al-Azhar bersih. Hal ini terlihat dari kutipan pernyataan Informan sebagai berikut :
“Ya, lantai yang ada di Miftahul Huda Al-Azhar bersih, karena setiap pagi dan sore dibersihkan.” (Informan 3)
Lantai yang ada di Pondok Pesantren Miftahul Huda Al-Azhar memiliki bahan yang kuat, kedap air, dan permukaan rata. Data ini didapatkan berdasarkan hasil wawancara dengan salah satu Informan, sebagai berikut :
“Lantai terbuat dari bahan yang kuat, tidak ada yang retak
karena sudah direhab, kedap air dan permukaannya rata” (Informan 4)
Namun, berbeda dengan apa yang dikatakan Informan lainnya, sebagai berikut :
“Banyak lantai yang cepat rusak, terutama didaerah depan.
Karena tanah ini dulunya balong, sehingga mudah rusak dan kurang kedap air. Beberapa kamar ada yang lantainya naik, ada pula yang
turun. Kalau rusak diganti beberapa bulan sekali.” (Informan 2)
Gambar 4.6 Permukaan lantai yang retak, tidak rata dan terdapat genangan air
Semua Informan mengatakan bahwa lantai tidak licin, hanya di area kamar mandi saja yang licin. Seperti yang dikatakan oleh Informan, sebagai berikut :
“Lantai Pondok Pesantren Miftahul Huda Al-Azhar tidak
licin.” (Informan 3)
“Kalau yang di kamar mandi licin, kalau yang ditempat lain
tidak” (Informan 2)
Berikut Distribusi informan mengenai lantai :
Sesuai Tidak sesuai Total
Berdasarkan hasil wawancara dengan informan didapatkan informasi bahwa dari 3 informan menyatakan lantai Pondok Pesantren Miftahul Huda Al-Azhar Citangkolo sesuai dengan pedoman hygiene sanitasi Pondok Pesantren Dinas Kesehatan Kota Banjar dan 2 informan menyatakan tidak sesuai.
Berikut distribusi Hasil Observasi peneliti mengenai lantai:
Sesuai Tidak Sesuai Total
Lantai 3 5 8
Berdasarkan hasil observasi peneliti didapatkan 5 kamar memiliki lantai tidak sesuai dengan pedoman hygiene sanitasi Pondok Pesantren Dinas Kesehatan Kota Banjar dan 3 kamar memiliki lantai sesuai dengan pedoman hygiene sanitasi Pondok Pesantren Dinas Kesehatan Kota Banjar.
4. Dinding
Sub komponen ini akan menggambarkan kondisi dinding pada tempat yan diteliti. Pada sub komponen ini bertujuan untuk mengetahui tentang kebersihan dinding dan kualitas dinding di tempat yang diteliti serta pemilihan warna saat mengecat dinding tersebut.
Berdasarkan hasil wawancara dengan Informan didapati bahwa dinding-dinding di wilayah pesantren sebagian besar tidak kedap air dan dinding-dinding di pesantern tersebut kotor, pernyataan ini di buktikan perkataan Informan sebagai berikut :
“Kalau yang dekat kamar mandi dindingnya rembes.