STRUKTUR PASAR MODAL INDONESIA
F. Definisi Variabel
Adapun variabel yang mempengaruhi kejadian underpricing adalah ROA, Operation cash flow (OCF), leverage, firm size, harga saham perdana, reputasi underwriter, reputasi auditor, persentase saham yang ditawarkan kepada publik, waktu IPO, dan umur perusahaan. Uraian dibawah ini menjelaskan bagaimana variabel tersebut terjadi.
1) Return On Asset
ROA digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dengan investasi yang telah ditanamkan untuk mendapatkan laba. Investor melihat seberapa besar kemampuan perusahaan dalam mendapatkan laba dari investasi yang ditanamnya apabila menginvestasikan sahamnya pada perusahaan tersebut. Su (2004) dan juga Syarifah Aini (2009) mengemukakan bahwa ROA (Return On Assets) berpengaruh negatif terhadap underpricing. Penelitian ini menunjukan tersebut bahwa ROA yang semakin tinggi dapat mengurangi tingkat kemungkinan terjadinya IPO underpricing.
2) Financial Leverage
Financial leverage merupakan perbandingan antara total hutang
dengan total aktiva, yang menunjukan berapa bagian aktiva yang digunakan untuk menjamin utang. Rasio ini pada umumnya disebut juga rasio utang (debt ratio), untuk mengukur persentase dana yang disediakan oleh kreditur.
Sebelum menyatakan kesanggupannya sebagai perantara perusahaan dengan investor, underwriter biasanya mempelajari dahulu sejarah perusahaan dan kemampuan perusahaan dalam menghasilkan return, serta estimasi terhadap investor yang memiliki kemampuan untuk investasi. Karena tugas
underwriter sebagai penjamin emisi saham mengandung resiko, yaitu
apabila saham tersebut tidak laku terjual maka underwriter tidak akan mendapatkan return. Maka underwriter juga harus memperkirakan berapa besar kerugian yang akan diperolehnya.
emisi juga memperkirakan berapa besar kemampuan perusahaan terhadap kewajiban yang dimilikinya. Tingkat kemampuan utang perusahaan (financial leverage) dihitung dengan mengetahui rasio utang terhadap asset yang dimiliki emiten.
Rasio leverage yang tinggi mencerminkan bahwa perusahaan memiliki kewajiban yang besar. Sehingga apabila pemodal menginvestasikan sahamnya akan memungkinkan investor tidak mendapatkan return dari saham yang dimilikinya.
3) Firm Size
Ukuran perusahaan (firm size) merupakan faktor yang juga mempengaruhi investor dalam mengambil keputusan pada saham yang IPO. Karena semakin besar perusahaan dan semakin dikenal oleh masyarakat, maka semakin banyak informasi yang bisa diperoleh investor dan semakin kecil pula ketidakpastian yang dimiliki oleh investor.
4) Operation Cash Flow
Operation cash flow adalah ukuran yang solid dari keuntungan
perusahaan karena merujuk ke cash aktual yang dibuat dari operasi. Operation
cash flow akan menunjukkan apakah sebuah perusahaan mengeluarkan lebih
banyak cash daripada mendapatkan cash. Operation cash flow juga merupakan gambaran sekilas tentang bagaimana bisnis inti berjalan. Oleh karena itu bagi investor arus kas positif adalah sinyal baik untuk investasi, sedangkan arus kas yang negatif perlu memiliki penjelasan lebih dan menggali lebih dalam sebelum membuat investasi diperusahaan tersebut. Menurut John A. Tracy (dalam Bodin & Samuelsson, 2010), cash inflows dan outflows adalah denyut
nadi dari setiap bisnis. Tanpa denyut nadi yang pasti dari cash flows, bisnis akan mati segera. Hal diatas menekankan pada pentingnya cash flows untuk keselamatan perusahaan. Lebih lanjut, menurut Bodin & Samuellson (2010) lebih tepat menggunakan cash flow untuk analisis tentang profitabilitas dibandingkan dengan net income karena dana aktual yang dihasilkan dapat sangat berbeda dari accounting profit. Profit yang di temukan di Income
Statement adalah accounting profit yang lebih mudah untuk dimanipulasi.
5) Issue Price (Harga Saham Perdana)
Harga saham perdana adalah harga saham yang ditawarkan perusahaan pada saat IPO. Dimovski & Brooks (2008) mengemukakan bahwa harga saham perdana (issue price) berpengaruh negatif terhadap underpricing.
Underpricing return dihitung dengan cara: harga penutupan saham pada hari
pertama listing dikurangi harga saham perdana, dan hasilnya dibagi dengan harga saham perdana.
6) Prosentase Penawaran Saham
Prosentase kepemilikan yang ditahan oleh pemilik (insiders) menunjukkan adanya private information yang dimiliki oleh pemilik/manajer (Leland & Phyle dalam Gerianta, 2002) Informasi tingkat kepemilikan saham oleh entrepreneur akan digunakan oleh investor sebagai pertanda bahwa prospek perusahaannya baik. Semakin besar tingkat kepemilikan yang ditahan atau semakin kecil persentase saham yang ditawarkan, akan memperkecil tingkat ketidakpastian di masa yang akan datang (Indrawati, 2005).
7) Time Lag (Waktu IPO)
Lui & Li ( dalam Tian & Magginson 2007) mengemukakan bahwa waktu IPO berpengaruh positif terhadap underpricing. Penelitian yang dilakukan oleh Chan et al (2004), mengemukakan bahwa time lag (penyimpangan waktu) antara offering dan listing berpengaruh positif terdadap underpricing IPO. Karena kenyataannya dana yang diikat terlalu lama dapat meningkatkan risiko investor dan oleh karenanya underpricing yang tinggi diharapkan atau dibutuhkan investor. Perusahaan dengan time lag l e b i h l am a akan m en i n gk at k a n re s i k o i n v es t o r s eh i n g g a p e ru s a ha an menetapkan harga IPO jauh dibawah nilai intrinsik (Chan et al, 2004).
8) Umur Perusahaan
Umur perusahaan menunjukkan kemampuan perusahaan dapat bertahan hidup dan banyaknya informasi yang bisa diserap oleh publik. Semakin panjang umur perusahaan semakin banyak informasi yang bisa diserap masyarakat (Daljono dalam Suyatmin & Sujadi, 2006).
Umur perusahaan mencerminkan kondisi perusahaan yang tetap bertahan dan menjadi bukti bahwa perusahaan mampu bersaing dan dapat mengambil kesempatan bisnis yang ada dalam perekonomian (Christy et al. dalam Sulistio, 2005).
9) Reputasi Underwriter
Penjamin emisi atau sering disebut sebagai underwriter yang berfungsi menawarkan saham di pasar sekunder kepada investor. Apabila underwriter yang digunakan oleh perusahaan memiliki reputasi yang baik, maka hal ini akan berpengaruh terhadap informasi yang akan diberikan oleh underwriter kepada investor.
Dalam proses IPO underwriter bertanggung jawab atas terjualnya saham. Apabila ada saham yang masih tersisa, maka underwriter bertanggung jawab untuk membelinya. Bagi underwriter yang yang memiliki reputasi tinggi, mereka akan berani memberikan harga yang tinggi pula sebagai konsekuensi dari kualitas penjaminannya (Daljono, 2000). Ini berarti jumlah nilai yang dijamin menunjukkan kemampuan penjamin emisi untuk menanggung kerugian jika ternyata saham yang dijamin tidak laku terjual. Oleh karena besarnya nilai yang dijamin menunjukkan reputasi penjamin emisi, maka penjamin emisi yang reputasinya rendah, tentu hanya dapat menjamin dalam jumlah kecil. Lain halnya dengan penjamin emisi yang memiliki reputasi tinggi, tentu ia akan berani melakukan penjaminan dalam jumlah yang besar. 1 0 ) Reputasi Auditor
Untuk menyediakan jasa yang diperlukan dalam proses jual beli saham diperlukan image atau nama baik yang dimiliki perusahan mengenai informasi usahanya. Informasi tersebut dapat berupa laporan keuangan yang menggambarkan tingkat return yang diperoleh tiap periodenya, dan manajemen perusahaan yang menunjukan kinerja karyawannya. Dalam hal ini pentingnya informasi tersebut berkaitan dengan kemapanan perusahaan yang IPO. Pengorbanan emiten untuk memakai auditor yang berkualitas akan diinterprestasikan oleh investor, bahwa emiten mempunyai informasi yang tidak menyesatkan mengenai prospeknya di masa mendatang (Daljono, 2000).