HASIL DAN PEMBAHASAN 1. Hasil
G. Defisiensi G6PD dan Riwayat Anemia
14 8 9 2 0 2 4 6 8 10 12 14 Frekuensi Pernah terinfeksi 14 9
Tidak pernah terinfeksi 8 2 Normal Defisiensi
G6PD
Gambar 22. Aktifitas G6PD Normal dan Defisiensi Dengan Riwayat Malaria
G. Defisiensi G6PD dan Riwayat Anemia
Tabel 12. Distribusi Riwayat Anemia pada Peserta Penelitian dengan Aktifitas G6PD Normal dan Defisiensi
G6PD Riwayat Anemia
Normal Defisiensi Pernah
Akibat Infeksi
Penyakit Tertentu Tidak pernah Pernah Akibat Konsumsi
Obat Tidak pernah
5 17 0 22 2 9 1 10
Pada penderita G6PD defisiensi, 2 orang pernah mengalami anemia akibat infeksi penyakit tertentu, 9 orang tidak pernah mengalami anemia akibat infeksi peyakit, sedangkan pada peserta penelitian dengan aktifitas G6PD normal yang pernah mengalami anemia adalah 5 orang dan yang tidak pernah mengalami anemia 17 orang .
Riwayat anemia akibat konsumsi pernah dialami oleh 1 orang penderita defisiensi G6PD, sedangkan pada peserta penelitian dengan aktifitas G6PD yang normal hal ini tidak terjadi.
2. Pembahasan
Nilai aktifitas G6PD minimum dalam satuan mU/109 Ery pada 33 sampel penelitian ini adalah 86,00, aktifitas maksimum 162,00, dengan nilai aktifitas rata-rata 124,69. Aktifitas G6PD normal adalah 118-144 mU/109 Ery, pada suhu 25°C. (Lohr and Waller, 1974). Penurunan aktifitas G6PD dari nilai normal dapat terjadi akibat mutasi pada gen yang mengkode enzim ini pada struktur tertier gen G6PD yang menurunkan kestabilan enzim dan kemampuannya berikatan dengan substrat sehingga menyebabkan turunnya aktifitas enzim. (Naylor et al., 1996)
Ditemukannya nilai aktiftas G6PD < 118 mU/109 Ery pada subjek penelitian ini, dikategorikan sebagai penyandang defisiensi G6PD. Jumlah sampel dengan aktifitas G6PD defisiensi pada populasi ini adalah 11 (33,3 %), sedangkan aktifitas G6PD normal terdapat pada 22 (66,7 %) sampel. Distribusi aktifitas G6PD defisiensi dalam satuan mU/109 Ery didapatkan nilai terendah adalah 86,00 dan tertinggi adalah 115,00 dengan nilai rata-rata 102,81. Distribusi aktifitas G6PD normal didapatkan nilai terendah adalah 121,00 dan tertinggi adalah 162,00 dengan nilai rata-rata 135,63.
Defisiensi enzim glukosa 6 fosfat dehidrogenase (G6PD) adalah kelainan enzimopati bersifat herediter/diturunkan dan terkait/terangkai kromosom X yang
paling banyak ditemukan dan mengenai sekitar 7 % atau lebih dari 400 juta populasi dunia (Beutler, 1996, Frank, 2005).
Walaupun defisiensi G6PD ini bisa terjadi pada pada populasi manapun, defisiensi G6PD banyak ditemukan pada populasi di daerah endemik malaria.
Angka kejadian defisensi G6PD pada populasi penelitian ini lebih tinggi dibandingkan hasil yang dilaporkan penelitian terdahulu menemukan frekuensi penyandang G6PD defisensi pada populasi Nias adalah 25%.(Sopacoa and Kar, 2003). Penelitian di daerah endemik malaria di Flores, didapati 4,4 % penderita defisiensi dari seluruh jumlah subjek yang diperiksa (Matsuoka et al., 2003). Skreening G6PD defisiensi di Maluku Tenggara, salah satu daerah endemik malaria di Indonesia, diperoleh 4.03 % subjek penelitian menderita G6PD defisiensi (Suhartati, 2005).
Tingginya angka kejadian G6PD defisensi pada populasi Nias di kota Medan ini, dimungkinkan karena Nias merupakan salah satu daerah endemik malaria di Indonesia serta seleksi populasi dilakukan pada suku Nias asli, 3 keturunan ke atas.
Pada peserta penelitian ini konsentrasi Hb minimum dalam satuan G/dl
didapatkan adalah 12,40, dengan nilai maksimum Hb 19,60, nilai rata-rata 15,42 dan standart deviasi 1,48. Dari penelitian ini juga didapatkan nilai RBC dalam satuan count/ml*109 dengan nilai minimum 4,10, nilai maksimum 6,50 dan nilai rata-rata 5,13. Uji korelasi aktifitas G6PD dengan Hb didapatkan tidak ada korelasi aktifitas G6PD dan Hb. Hasil uji korelasi aktifitas G6PD dengan nilai RBC juga ditemukan tidak terdapat korelasi kedua variabel tersebut. Hal ini didukung oleh
penelitian lain yang juga mendapatkan tidak ada korelasi antara aktifitas G6PD dengan konsentasi Hb dan juga aktifitas G6PD dengan nilai RBC (Muller, 2003). Hasil yang berbeda pada penelitian lain, mendapatkan adanya korelasi yang kuat antara aktifitas G6PD dengan konsentrasi Hb (Jalloh et al., 2004 )
Untuk menghindarkan kesalahan tidak terdiagnosa G6PD defisiensi pada subjek penelitian ini, maka salah satu kriteria eksklusi pada penelitian adalah subjek penelitian sedang mengalami hemolisis eritrosit. Tidak adanya episode hemolitik yang menyebabkan penurunan nilai Hb pada subjek penelitian ini menyebabkan tidak ditemukannya korelasi antara aktifitas G6PD dengan konsentrasi Hb.
Uji korelasi aktifitas G6PD dan umur secara statistik didapat bahwa tidak ada korelasi antara aktifitas G6PD dengan umur pada penelitian ini.
Hal yang sama juga didapatkan pada dua penelitian terdahulu (Erbagci and Yilmac, 2002, Muller, 2003)
Penurunan aktifitas G6PD yang menyebabkan defisiensi dari enzim diketahui akibat terjadinya mutasi pada gen yang menyandi enzim ini. Mutasi yang terjadi menyebabkan perubahan sifat kinetika dari enzim, karena pertukaran asam amino terjadi pada asam amino yang membentuk struktur tertier, sehingga terjadi penurunan aktifitas katalitik, penurunan stabilitas dan perubahan aktifitas untuk mengikat substrat. (Mohanty et al., 2004).
Pada penelitian ini , diperoleh sebanyak 23 orang (69,7 %) yang pernah menetap di daerah endemik malaria dalam waktu lebih dari 3 bulan tersebut,
pernah menderita malaria, 10 orang (30,3 %) tidak pernah menderita malaria.Dari 23 orang yang pernah menderita malaria terdapat 14 orang (42,4 %) mempunyai aktifitas G6PD normal dan 9 (27,3 %) orang G6PD defisiensi.
Pada 10 orang subjek penelitian yang tidak pernah menderita malaria, didapat 8 orang (24,3 %) aktifitas G6PD normal dan 2 orang (6 %) aktifitas G6PD defisiensi. Hasil uji secara satistik pada populasi penelitian ini didapatkan tidak ada hubungan antara defisiensi G6PD dengan infeksi malaria. Hasil ini sama dengan dengan hasil penelitian yang di dapat sebelumnya oleh peneliti lain ( Jalloh et al, 2004). Pada penelitian ini, tidak dilakukan pengelompokkan tingkat defisiensi yang diderita subjek penelitian apakah defisiensi yang diderita ringan, sedang atau berat serta tidak dilakukan pemeriksaan gen dari protein enzim untuk penentuan dari varian G6PD (WHO,1989). Kemungkinan jika subjek penelitian mengalami defisiensi G6PD yang ringan, kemampuan untuk bertahan dari infeksi malaria tidak optimal sehingga menjawab mengapa tidak ditemukan adanya hubungan defisiensi G6PD dengan infeksi malaria pada penelitian ini (Tishkoff et al, 2001). Varian dari G6PD juga berperan dalam menentukan hubungan defisiensi G6PD dengan infeksi malaria.
Penderita defisiensi G6PD resistensi terhadap infeksi malaria yang disebabkan oleh Plasmodium falsiparum (Ruwende, et al, 1995). Pada penelitian ini tidak diketahui jenis plasmodium yang menyebabkan infeksi malaria pada subjek penelitian.Diketahui juga bahwa plasmodium malaria saat ini dapat bermutasi menghasilkan NADPH sendiri untuk kelangsungan hidupnya.
Walaupun riwayat anemia pada subjek penelitian bisa terjadi tanpa berhubungan dengan kelainan G6PD defisiensi-nya, episode anemia hemolitik pada G6PD defisiensi dapat dicetuskan oleh stres oksidatif yang timbul akibat infeksi tertentu ataupun mengkomsumsi makanan dan obat-obatan tertentu.
Pada penelitian pada populasi di daerah Turki, didapatkan adanya riwayat episode anemia hemolitik pada penderita G6PD defisensi (Keskin et al., 2000 ).
Penyakit hepatitis, malaria dan infeksi bakteri diketahui merupakan penyebab anemia pada penderita G6PD defisensi (Sarkar et al., 1993).
Riwayat krisis anemia hemolitik berdasarkan catatan medis yang dapat diterima pada penderita G6PD defisensi juga pernah dilaporkan dari penelitian terdahulu akibat demam tiphoid dan dan demam yang tidak diketahui sebabnya (Gupte et al, 2005).
Infeksi merupakan pencetus episode anemia hemolitik terbanyak pada penderita defisiensi G6PD. Respon inflamasi infeksi menghasilkan pembentukan radikal bebas yang berdifusi ke dalam sel darah merah menyebabkan kerusakan oksidatif (Champe and Harvey, 1994, Frank, 2005). Diperkirakan nitrit oksida mungkin ikut berperan dalam proses ini (Beutler, 1994).
Golongan obat-obatan yang dapat menimbulkan keadaan anemia hemolisis akut ini adalah obat antibiotik, antimalaria dan antipiretik tertentu. Obat-obatan ini menyebabkan kerusakan oksidatif pada sel darah merah (Frank, 2005). Primaquin, salah satu obat antimalaria yang diketahui memperlihatkan gejala-gejala hebat dalam beberapa hari pada sejumlah individu yang mengkomsumsinya. Gejala yang
timbul berupa urin menjadi hitam, timbul ikterus dan jumlah hemoglobin mengalami penurunan yang tajam. Pada sejumlah kasus dapat terjadi penghancuran sel darah merah secara besar besaran yang menyebabkan kematian. (Berg et al, 2002).
Pada sejumlah individu dengan defisiensi G6PD, dapat terjadi episode anemia hemolitik setelah memakan kacang fava.
Kerusakan oksidatif pada sel darah merah diduga terjadi melalui senyawa yang dikandungnya yaitu hidroksipirimidin glukosida: vicin, convicin ataupun isouramil. (Frank, 2005). Glukosida-glukosida ini bersifat sebagai pro oksidan setelah dihidrolisis oleh enzim beta glukosidase pada ikatan beta-O-glikosidiknya.
Dari hasil anamnesa, 6 orang (18,2 %) keluarga dari subjek penelitian pernah menderita anemia akibat infeksi penyakit tertentu, yaitu 2 orang (33.3 %)
mendapat anemia karena penyakit kuning, 4 orang (66,7 %) karena demam yang tidak diketahui sebabnya.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN