• Tidak ada hasil yang ditemukan

Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia (Universal Declaration of

LANDASAN HUKUM HAK ASASI ATAS AIR DI INDONESIA DAN PERATURAN DI TINGKAT INTERNASIONAL

2.2.1 Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia (Universal Declaration of

Human Rights/UDHR) Resolusi Majelis Umum No. 217 A (III)

tertanggal 10 December 1948

Majelis Umum Perserikatan Bangsa - Bangsa melalui Deklarasi Univeral Hak Asasi Manusia mengakui hak asasi manusia sebagai hak yang mendasar bagi setiap orang tanpa dibatasi status sosial, gender, dan teritori suatu wilayah negara. Hak – hak mendasar yang bersangkutan menyangkut martabat manusia yang mendasar dan kesetaraan bagi setiap orang. Deklarasi Universal HAM ini sebagai suatu standar umum terkait tujuan yang ingin dicapai suatu negara dan bangsa. UDHR dijadikan sebagai standar umum bersama bagi negara –negara anggota PBB yang mana mekanisme jaminan pemenuhan dan perlindungan HAM masuk ke dalam prinsip rule of law suatu negara. Hak mendasar bagi setiap orang terkait Hak Asasi atas Air diantara mengenai hak untuk hidup (right to life) sebagaimana yang diatur di dalam Pasal 3–11 dan hak sosial, ekonomi dan budaya (Social, Economic, dan Culture Rights) sebagaimana diatur di dalam Pasal 22 – 27 UDHR 1948. UDHR 1948 menyatakan secara eksplisit mendefinisikan kebebasan yang fundamental dan hak asasi manusia yang mengikat bagi setiap negara. UDHR 1948 dianggap sebagai fondasi awal bagi Kovenan PBB seperti ICCPR dan ICESCR dan bagian dari hukum kebiasaan internasional yang dapat memberikan tekanan terhadap negara – negara anggota yang melanggar ketentuan – ketentuan yang di dalam UDHR yang bersangkutan.

Pencapaian atas aspirasi mendasar atas HAM membutuhkan proteksi rule of law negara. Melalui Deklarasi Universal HAM yang dicetuskan oleh PBB menjadikannya sebagai suatu pernyataan dan kesepakatan bersama dari setiap negara anggota untuk mencapai tujuan dari Deklarasi Universal HAM tersebut. Pencapaian tujuan tersebut membutuhkan pemahaman secara mendasar bagi setiap orang dalam realisasi penuh atas HAM yang bersangkutan dalam bentuk penghormatan dan menentukan langkah – langkah progresif baik secara nasional maupun internasional dengan tetap memperhatikan yurisdiksi suatu negara.41

41 Salman M. A. Salman and Siobhán McInerney-Lankford, The Human Rights to Water: Legal and Policy Dimensions, Law, Justice and Development Series, (World Bank, 2004), hal 101

-UNIVERSITAS INDONESIA | 50 2.2.2 Kovenan Internasional tentang Hak atas Ekonomi, Sosial, dan Budaya

(The International Covenant on Economic, Social and Cultural Rights /ICESCR)

Kovenan internasional tentang Hak atas Ekonomi, Sosial, dan Budaya yang mulai berlaku tertanggal 3 Januari 1976 memiliki pengertian bahwa hak asasi manusia diberlakukan setara dan tidak dapat dicabut dari setiap orang. Sebagai bagian dari hak dan martabat yang mendasar dan melekat menciptakan suatu kondisi terhadap setiap orang untuk dapat menikmati hak – hak mendasar di berbagai aspek seperti di bidang ekonomi, sosial, budaya serta politik. Negara sebagai pihak yang paling bertanggung jawab dalam menjamin dan melindungi terhadap hak – hak yang diatur di dalam Kovenan ICESCR.42 Terkait dengan pengaturan atas hak – hak mendasar tersebut, pengakuan terhadap hak atas ekonomi, sosial dan budaya memiliki kedudukan yang penting di dalam persoalan SDA mengingat keterkaitan dengan kehidupan masyarakat. Beberapa pasal – pasal yang mendasar yang mengatur mengenai hak – hak mendasar antara lain :

"Article 1

1. All peoples have the right of self-determination. By virtue of that right they freely determine their political status and freely pursue their

economic, social and cultural development.‖

2. All peoples may, for their own ends, freely dispose of their natural wealth and resources without prejudice to any obligations arising out of international economic co-operation, based upon the principle of mutual benefit, and international law. In no case may a people be deprived of its own means of subsistence.

Terjemahan Pasal 1 :

1. Setiap orang memiliki hak atas penentuan nasib atas masing-masing individu. Berdasarkan hak tersebut mereka diberikan kebebasan dalam menentukan status hak seperti di bidang politik dan kebebasan mereka dalam berkecimpung di lingkup pembangunan bidang ekonomi, sosial dan budaya.

2. Setiap bangsa di dunia yang memiliki tujuan masing - masing dapat secara bebas memanfaatkan kekayaan dan sumber daya alam mereka tanpa mengurangi kewajiban yang timbul dari kerjasama di bidang ekonomi internasional tanpa melupakan tujuan mereka sendiri. Prinsip dari ketentuan ini berbasis pada prinsip yang saling menguntungkan

102.

UNIVERSITAS INDONESIA | 51 dan rezim hukum internasional yang berlaku dan dalam hal apapun tidak satu pun pihak/orang dapat dicabut haknya atas akses sarana penghidupan yang bermanfaat baginya.

Sebagaimana penjelasan Pasal 1 Ayat (1) menekankan adanya hak yang melekat di setiap individu yang mana memiliki kebebasan dalam menentukan suatu hak yang mencakupi aspek politik, ekonomi sosial dan budaya pada kehidupan setiap orang. Pasal 1 Ayat (2) menekankan bahwa setiap bangsa memiliki tujuan dan kewajiban yang beriringan yang mana setiap individu memiliki hak akses atas sarana penghidupan dengan kedudukan setara sebagaimana yang diatur pada Kovenan ICECSR. Terkait dengan pelaksanaannya, diperlukan peran negara dalam pemenuhan hak asasi atas sosial, ekonomi, dan budaya bagi setiap orang sebagai bentuk jaminan atas tanggung jawab negara kepada rakyatnya.

Article 2

1. Each State Party to the present Covenant undertakes to take steps, individually and through international assistance and co-operation, especially economic and technical, to the maximum of its available resources, with a view to achieving progressively the full realization of the rights recognized in the present Covenant by all appropriate means, including particularly the adoption of legislative measures.

2. The States Parties to the present Covenant undertake to guarantee that the rights enunciated in the present Covenant will be exercised without discrimination of any kind as to race, colour, sex, language, religion, political or other opinion, national or social origin, property, birth or other

status.‖

Terjemahan Pasal 2 ayat (1) dan (2) menyatakan bahwa:

1. Setiap Negara peserta di dalam Kovenan mengambil langkah-langkah baik secara mandiri maupun melalui kerjasama tingkat internasional, khususnya secara ekonomi dan teknis dengan daya maksimal atas sumber daya yang tersedia, dengan maksud untuk mencapai realisasi penuh secara progresif atas hak-hak yang diakui di dalam Kovenan ini dengan segala cara yang tepat termasuk langkah-langkah secara legislatif.

2. Negara peserta pada konvenan ini berjanji dalam menjamin bahwa hak-hak yang diatur dalam Kovenan dilaksanakan tanpa adanya diskriminasi apapun seperti ras, warna kulit, jenis kelamin, bahasa, agama, politik atau pendapat lain, asal nasional atau sosial, kekayaan, kelahiran atau status lainnya.

UNIVERSITAS INDONESIA | 52 Pada dasarnya dengan kewenangan dan tanggung jawabnya, negara berkewajiban atas realisasi penuh atas pengelolaan sumber daya alam dalam memenuhi kesejahteraan bagi masyarakat. Terkait dengan kewajiban yang diemban oleh negara, masyarakat internasional dapat mendukung upaya yang dilakukan suatu pemerintahan negara. Hal itu sebagai bentuk partisipasi dan bantuan dari masyarakat internasional terhadap masyarakat tanpa menganggu yuridiksi suatu negara yang bersangkutan.

Article 4

―The States Parties to the present Covenant recognize that, in the enjoyment of those rights provided by the State in conformity with the present Covenant, the State may subject such rights only to such limitations as are determined by law only in so far as this may be compatible with the nature of these rights and solely for the purpose of promoting the general welfare

in a democratic society.‖

Terjemahan Pasal 4 :

“Negara-negara peserta Kovenan mengakui bahwa, dalam menikmati hak

-hak yang diberikan oleh negara sesuai dengan ketentuan di kovenan, Negara sebagai subjek dengan batas-batas yang ditentukan oleh hukum hanya sejauh hal tersebut mungkin dan sesuai dengan sifat hak-hak yang diatur dan semata-mata bertujuan dalam mempromosikan kesejahteraan umum di suatu masyarakat demokratis. Negara yang berwenang dan bertanggung jawab terhadap pemenuhan hak asasi itu, yang berlandaskan pada aturan –aturan yang berlaku dalam rangka kesejahteraan bagi masyarakat.”

Terkait dengan ketentuan pasal 4 bahwa negara sebagai pihak utama dalam mengedepankan hak – hak yang diatur oleh Kovenan ICESCR dalam memenuhi kesejahteraan masyarakat.

Article 6

(2) The steps to be taken by a State Party to the present Covenant to achieve thefull realization of this right shall include technical and vocational guidance and training programmes, policies and techniques to achieve steady economic, social and cultural development and full and productive employment under conditions safeguarding fundamental political and economic freedoms to the individual.‖

Terjemahan Pasal 6 :

“(2) Langkah-langkah yang akan diambil oleh Negara peserta di dalam Kovenan untuk mencapai realisasi penuh hak-hak yang diatur mencakup atas bimbingan teknis, kejuruan dan pelatihan program, kebijakan dan teknik dalam mencapai perkembangan ekonomi, sosial dan budaya yang

UNIVERSITAS INDONESIA | 53 kokoh dan pekerjaan yang penuh dan produktif di bawah kondisi yang menjamin adanya kebebasan politik dan ekonomi yang mendasar bagi tiap individu.”

Dalam pelaksanaannya, penting untuk melakukan sinkronisasi secara faktor teknis dan non teknis antara proses perencanaan dengan pemberdayaan di lapangan. Baik antara pemerintah, pemangku kepentingan dan masyarakat bersama – sama memberikan kontribusi dalam mengembangkan aspek ekonomi, sosial dan budaya. Dalam permasalahan SDA, baik aspek ekonomi, sosial dan budaya merupakan aspek – aspek yang saling mempengaruhi kehidupan masyarakat karena keterkaitannya. Maka dari itu aspek –aspek tersebut perlu masuk sebagai bagian dari perencanaan dan pemberdayaan masyarakat di lapangan.

Article 11

The States Parties to the present Covenant recognize the right of everyone to an adequate standard of living for himself and his family, including adequate food, clothing and housing, and to the continuous improvement of living conditions. The States Parties will take appropriate steps to ensure the realization of this right, recognizing to this effect the essential importance of international cooperation based on free consent.

Terjemahan Pasal 11

“1. Negara Pihak pada Kovenan ini mengakui hak setiap orang atas standar kehidupan yang layak bagi dirinya dan keluarganya, termasuk masalah pangan, sandang dan perumahan, dan atas perbaikan kondisi hidup yang berkelanjutan. Negara-negara Pihak akan mengambil langkah-langkah yang tepat dalam menjamin perwujudan hak ini, dengan mengakui pentingnya penting kerjasama internasional berdasarkan konsesus bebas.”

Berdasarkan Pasal 11 ini pemerintah diwajibkan untuk mengambil tindakan lebih lanjut dalam pemenuhan hak mendasar bagi setiap individu. Hal itu terkait dengan standar kehidupan sebagai faktor yang penting dalam mencapai as kehidupan yang berkelanjutan (sustainable life). Selain itu, aspek kerjasama internasional antar negara sebagai salah satu elemen yang penting dalam mewujudkan pemenuhan atas hak tersebut sebagai bentuk daya dukung pemerintah suatu negara dalam mencapai tujuan bagi memakmurkan dan mensejahterakan rakyatnya. Dari sisi praktiknya bahwa pemerintah Indonesia menerima kerja sama dengan pihak luar atas nama masyarakat internasional dalam hal pengembangan dan perbaikan terhadap tata kelola SDA di Indonesia.

UNIVERSITAS INDONESIA | 54 Hal itu sebagai wujud atas pemenuhan hak asasi atas air bagi setiap masyarakat di Indonesia.

Dokumen terkait