• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.4 Ekstraksi

2.4.1 Cara Panas

2.4.1.5 Dekoktasi

Dekoktasi adalah proses infus pada waktu yang lebih lama (≥ 30 menit) dan temperatur sampai titik didih air (Ditjen POM, 2000).

21 2.4.2 Cara Dingin

2.4.2.1 Maserasi

Maserasi adalah proses pengekstrakan simplisia dengan menggunakan pelarut dengan beberapa kali pengocokan atau pengadukan pada temperatur ruangan (kamar). Secara teknologi termasuk ekstraksi dengan prinsip metode pencapaian konsentrasi pada keseimbangan. Maserasi kinetik berarti dilakukan pengadukan yang kontinu (terus-menerus) (Ditjen POM, 2000).

Prinsip kerja dari maserasi adalah proses melarutnya zat aktif berdasarkan sifat kelarutannya dalam suatu pelarut (like dissolved like). Ekstraksi zat aktifdilakukan dengan cara merendam simplisia nabati dalam pelarut yang sesuai selama beberapa hari pada suhu kamar dan terlindung dari cahaya. Pelarut yang digunakan, akan menembus dinding sel dan kemudian masuk ke dalam sel tanaman yang penuh dengan zat aktif. Pertemuan antara zat aktif dan pelarut akan mengakibatkan terjadinya proses pelarutan dimana zat aktif akan terlarut dalam pelarut. Pelarut yang berada di dalam sel mengandung zat aktif sementara pelarut yang berada di luar sel belum terisi zat aktif, sehingga terjadi ketidakseimbangan antara konsentrasi zat aktif di dalam dengan konsentrasi zat aktif yang berada di luar sel. Perbedaan konsentrasi ini akan mengakibatkan terjadinya proses difusi, dimana larutan dengan konsentrasi tinggi akan terdesak keluar sel dan digantikan oleh pelarut dengan konsentrasi rendah. Peristiwa ini terjadi berulang-ulang sampai didapat suatu kesetimbangan konsentrasi larutan antara di dalam sel dengan konsentrasi larutan di luar sel (Marjoni, 2016).

22

Ekstraksi secara maserasi tidak terlepas dari kelebihan dan kekurangan yang dimiliki. Adapun kelebihan metode maserasi menurut Marjoni (2016): 1) Peralatan yang digunakan sangat sederhana, 2) Teknik pengerjaan relative sederhana dan mudah dilakukan, 3) Biaya operasionalnya relative rendah, 4) Dapat digunakan untuk mengekstraksi senyawa yang bersifat termolabil karena maserasi dilakukan tanpa pemanasan. Kekurangan metode maserasi menurut Marjoni (2016): 1) Kerugian utama dari metode maserasi ini adalah memerlukan banyak waktu, 2) Proses penyariannya tidak sempurna, karena zat aktif hanya mampu terekstraksi sebesar 50%, 3) Pelarut yang digunakan cukup banyak, 4) Penggunaan pelarut airakan membutuhkan bahan tambahan seperti pengawet yang diberikan pada awal ekstraksi. Penambahan pengawet dimaksudkan untuk mencegah pertumbuhan bakteri dan kapang.

2.4.2.2Perkolasi

Perkolasi adalah ekstraksi dengan pelarut yang selalu baru sampai sempurna (exhaustive extraction) yang umumnya dilakukan pada temperatur ruangan. Proses terdiri dari tahapan pengembangan bahan, tahap maserasi antara, tahap perkolasi sebenarnya (penetesan/penampungan ekstrak), terus-menerus sampai diperoleh ekstrak (perkolat) yang jumlahnya 1-5 kali bahan (Ditjen POM, 2000).

Prinsip ekstraksi dengan perkolasi adalah serbuk simplisia ditempatkan dalam suatu bejana silinder, yang bagian bawahnya diberi sekat berpori, cairan penyari dialirkan dari atas ke bawah melalui serbuk tersebut, cairan penyari akan melarutkan zat aktif dalam sel-sel simplisia yang dilalui sampel dalam keadaan jenuh. Gerakan ke bawah disebabkan oleh kekuatan gaya beratnya sendiri dan

23

tekanan penyari dari cairan di atasnya, dikurangi dengan daya kapiler yang cenderung untuk menahan gerakan ke bawah (Sudjadi, 1986).

Kelebihan dari metode perkolasi menurut Sulaiman (2011): 1) Tidak terjadi kejenuhan, 2) Pengaliran meningkatkan difusi (dengan dialiri cairan penyari sehingga zat seperti terdorong untuk keluar dari sel). Kekurangan dari metode perkolasi adalah Sulaiman (2011): 1) Cairan penyari lebih banyak, 2) Resiko cemaran mikroba untuk penyari air karena dilakukan secara terbuka.

2.5 Bakteri

Bakteri merupakan organisme uniseluler, nukleoid atau tidak memiliki membran inti, tidak berklorofil, saprofit atau parasit, pembelahan biner, termasuk protista. Ukuran sel setiap jenis bakteri bervariasi (Effenddi, 2020).

Kata bakteri berasal dari bahasa latin bacteriumadalah kelompok organisme yang tidak memiliki membran inti sel. Biasanya memiliki panjang beberapa mikrometer, memiliki sejumlah bentuk, mulai dari berbentuk bola sampai ke bentuk batang dan spiral (Effenddi, 2020).

2.5.1 Klasifikasi Bakteri

Klasifikasi bakteri Menurut Boleng (2015), berdasarkan morfologi bakteri dapat dibagi atas tiga bentuk yaitu :

1. Bentuk Basil

Basil (Bacillus) merupakan bakteri yang bentuknya menyerupai batang atau silinder.Bakteri yang mempunyai bentuk batang dinamakan sebagai bakteri basilus dan dapat dijumpai pada famili Enterobactericeae sepertiEscherichia coli dan Klebsiella pneumoniae. Bentuk basil ini dapat dibedakan atas :

24

a) Bentuk tunggal, yaitu basil yang terlepas satu sama lain dengan ujung-ujungnya yang tumpul.

b) Diplobasil, yaitu basil yang bergandengan dua-dua dengan ujung-ujungnya yang tumpul.

c) Streptobasil, yaitu basil yang bergandeng-gandengan panjang dengan ujung-ujungnya yang tumpul.

2. Bentuk spiral

Kelompok bakteri ini berbentuk melingkar. Bakteri berbentuk spiral dijumpai pada penyebab penyakit sifilis yaitu Treponema pallidum yang memiliki panjang lengan yang berbeda. Bakteri bentuk spiral ini dibedakan menjadi beberapa jenis antara lain :

a) Vibrio, yaitu bakteri yang berbentuk batang melengkung menyerupai koma, ada yang tumbuh sebagai benang-benang membelit atau berbentuk ‘s’.

b) Spiril, yaitu dari kata spirilium yang menyerupai spiral atau lilitan yang sebenarnya.

c) Spirochaeta, yaitu merupakan bakteri spiral, tetapi bakteri ini memiliki spiral yang bersifat fleksibel (mampu melenturkan dan melekukkan tubuhnya sambil bergerak)

3. Bentuk kokus

Bakteri yang memiliki bentuk bulat atau bola dinamakan kokus. Bentuk kokus ini dapat dibedakan atas :

a) Diplokokus, yaitu kokus yang bergandengan dua-dua.

b) Tetrakokus, yaitu kokus yang mengelompok berempat.

c) Stafilokokus, yaitu kokus yang mengelompok merupakan suatu untaian.

d) Streptokokus, yaitu kokus yang bergandeng-gandengan panjang seperti rantai.

25

e) Sarcina, kokus yang mengelompok serupa kubus.

Berdasarkan pewarnaan gram, maka bakteri dapat dibedakan menjadi dua bagian ( Lay, 1994) yaitu :

1. Bakteri Gram positif, yaitu bakteri yang mengikat zat warna pertama (kristal violet) akan memberikan warna ungu dan setelah dicuci dengan alkohol, warna ungu tersebut akan tetap kelihatan. kemudian ditambahkan zat warna kedua(safranin), warna ungu pada bakteri tidak berubah. contoh : Staphylococcus aureus, Staphylococcus epidermidis.

2. Bakteri Gram negatif, yaitu bakteri yang kehilangan warna dari kristal violet ketika dicuci dengan alkohol dan setelah diberi zat warna kedua (safranin), bakteri akan memberikan warna merah muda. Contoh : Salmonella species, Salmonella typhi, Salmonella dysenteriae.

2.5.2 Faktor-faktor Pertumbuhan Bakteri

Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan bakteri, yaitu : 1. Temperatur

Temperatur menentukan aktivitas enzim yang terlibat dalam aktivitas kimia.

Pada temperatur yang sangat tinggi akan terjadi denaturasi protein yang tidak dapat balik (irreversible), sedangkan pada temperatur yang sangat rendah aktivitas enzim akan berhenti (Radji, 2009).

2. pH

pH adalah derajat keasaman yang optimum terhadap suatu larutan. Pada umumnya derajat keasaman optimum bakteri tumbuh subur pada pH 6,5-7,5 (Radji, 2009).

3. Tekanan osmosis

26

Osmosis merupakan perpindahan air melewati membran semipermeabel karena ketidakseimbangan material terlarut dalam media. Dalam larutan hipotonik air akan masuk ke dalam sel mikroorganisme, sedangkan dalam larutan hipertonik air akan keluar dari dalam sel mikroorganisme sehingga membran plasma mengkerut dari dinding sel (plasmolisis), serta menyebabkan sel secara metabolik tidak aktif (Pratiwi, 2008).

4. Oksigen

Berdasarkan kebutuhan oksigen, dikenal mikroorganisme yang bersifat aerob dan anaerob. Mikroorganisme aerob memerlukan oksigen untuk bernapas, sedangkan mikroorganisme anaerob tidak memerlukan oksigen untuk bernapas (Pratiwi, 2008).

5. Media Perbenihan

Media perbenihan adalah media nutrisi yang disiapkan untuk menumbuhkan bakteri di dalam skala laboratorium. Media perbenihan harus mengandung sumber karbon, nitrogen, sulfur, fosfor, dan faktor pertumbuhan organik (Radji, 2009).

6. Nutrisi

Nutrisi merupakan substansi yang diperlukan untuk biosintesis dan pembentukan energi (Pratiwi, 2008).

2.5.3 Pertumbuhan Bakteri

Menurut Jawetz (2010) pertumbuhan dan perkembangan bakteri terdiri dari 4 fase yaitu:

1. Fase Penyesuaian Diri (Fase Lag)

Fase Lag merupakan periode waktu dari bakteri yang ditanam pada media perbenihan yang sesuai atau waktu yang diperlukan untuk beradaptasi terhadap lingkungan yang baru. Rentang waktu fase penyesuaian tersebut tergantung dari

27

fase pertumbuhan bakteri saat dipindahkan untuk diinokulasikan pada media perbenihan yang baru dan tergantung pula pada adanya bahan toksis atau bahan yang dapat menghambat pertumbuhan dan perkembangbiakan bakteri

2. Fase eksponensial (Exponential phase)

Fase ini merupakan fase dimana bakteri tumbuh dan membelah pada kecepatan maksimum, tergantung pada genetika bakteri, sifat media, dan kondisi pertumbuhan. Sel baru terbentuk dengan laju konstan dan massa yang bertambah secara eksponensial. Pada fase ini pertumbuhan dan pembelahan terjadi secara teratur dan seimbang (balanced growth)

3. Fase stasioner (Stationary phase)

Pertumbuhan bakteri berhenti pada fase stasioner ini dan akan terjadi keseimbangan antara jumlah sel yang membelah dengan jumlah sel yang mati.

Karena pada fase ini terjadi akumulasi produk buangan yang bersifat toksik.

4. Fase kematian (Death Phase)

Fase kematian terjadi setelah beberapa saat dalam fase stasioner, pada fase ini terjadi karena penurunan nutrisi yang dibutuhkan oleh bakteri sehingga bakteri mengalami fase kematian. Laju kematian bakteri lebih banyak dari laju pertumbuhan akhirnya pertumbuhan bakteri terhenti. Jumlah sel bakteri menurun terus sampai didapatkan jumlah sel bakteri yang konstan untuk beberapa waktu.

2.6 Streptococcus mutans

Streptococcus mutans termasuk dalam Streptococcus viridans. Merupakan jenis bakteri Gram-positif berada di mulut manusia dan terkhusus pada karies gigi.

Streptococcus mutans memiliki kemampuan memetabolisme karbohidrat terutama

28

sukrosa dan menciptakan suasana asam di rongga mulut dimana merupakan habitat utama kolonisasinya bakteri yang menyebabkan pH plak dan pH saliva mengalami penurunan dan akhirnya menyebabkan larutnya enamel gigi (Metwally, 2013).

Streptococcus mutans memiliki bentuk bulat dan tersusun seperti rantai dengan diameter 0,5-0,7 mikron, tidak bergerak dan tidak memiliki spora.

Streptococcus mutans dapat hidup pada daerah kaya sukrosa dan menghasilkan permukaan asam dengan menurunkan pH di dalam rongga mulut menjadi 5,5 atau lebih rendah yang membuat email mudah larut kemudian terjadi penumpukan bakteri dan mengganggu kerja saliva untuk membersihkan bakteri tersebut, sehingga jaringan keras gigi rusak dan menyebabkan terjadinya karies gigi (Fatmawati, 2011).

2.6.1 Klasifikasi

Klasifikasi Streptococcus mutans dalam Fatmawati (2011) yaitu : Kingdom : Monera

Divisi : Firrnicutes Kelas : Bacili

Ordo : Lactobacillales Famili : Streptococcaceae Genus : Streptococcus

Spesies : Streptococcus mutans

2.6.2 Morfologi

Streptococcus mutans merupakan bakteri kokus tunggal berbentuk bulat atau bulat telur dan tersusun dalam rantai. Rantai-rantai Streptococcus mutans tampak sebagai diplokokus dan bentuknya kadang-kadang menyerupai batang.

29

Bakteri ini juga disebut mikroorganisme kariogenik karena karakteristik dari Streptococcus mutans yang dapat memecah gula untuk dijadikan energi dan menghasilkan lingkungan asam, yang berpengaruh pada remineralisasi struktur gigi (Nuzulia, 2017).

2.6.3 Patogenesis

Salah satu bentuk kerusakan gigi adalah gigi berlubang atau karies gigi.

Gigi berlubang merupakan penyakit gigi terlokalisir yaitu terjadinya kerusakan jaringan keras gigi karena adanya interaksi dari beberapa faktor seperti Host (gigi) bakteri, substrat (diet), dan waktu. Salah satu pemicu terjadinya karies karena terabaikannya kebersihan rongga mulut sehingga terjadi penumpukkan plak. Plak adalah lapisan tipis yang melekat erat pada permukaan gigi serta mengandung kumpulan bakteri (Hasanuddin, 2020).

Salah satu penyakit yang diakibatkan oleh bakteri Streptococcus mutans yaitu karies gigi. Karies gigi merupakan suatu keadaan dimana adanya kerusakan pada struktur jaringan pembentuk gigi yang disebabkan oleh aktivitas bakteri.

Proses karies gigi diawali dengan terjadinya demineralisasi gigi oleh adanya asam laktat dan asam organik lain yang bertumpuk atau terakumulasi di dalam permukaan gigi melalui plak (Nuzulia , 2017).

Demineralisasi gigi terjadi pada jaringan gigi yang ditandai dengan kerusakan jaringan, dimulai dari permukaan gigi mulai dari email, dentin, dan meluas ke arah pulpa. Demineralisasi terjadi oleh adanya karbohidrat, mikroorganisme dan air ludah, permukaan dan bentuk gigi, serta dua bakteri yang paling umum bertanggung jawab untuk gigi berlubang adalah Streptococcus mutans (Nuzulia, 2017).

30

Koloni Streptococcus mutans dapat memfermentasi sukrosa menjadi asam.

Asam yang dihasilkan membuat pH dari gigi tersebut turun hingga angka kritis (5,2 – 5,5), maka email gigi akan larut dan terbentuklah karies gigi. Hal ini akan menyebabkan terjadinya invasi bakteri dan kerusakan jaringan pulpa serta penyebaran yang lebih meluas ke bagian jaringan periapikal dan menimbulkan rasa sakit atau nyeri (Hasanuddin, 2020).

2.7 Staphylococcus Epidermidis

Staphylococcus epidermidis adalah vakteri flora normal dipermukaan kulit tubuh manusia dan juga banyak ditemukan di sekitar kehidupan manusia.

Keberadaan bakteri flora dan sistem pertahanan tubuh manusia berada dalam keadaan keseimbangan, sehingga tidak menyebabkan penyakit pada manusia atau infeksi pada manusia (Soedarto, 2014).

Staphylococcus epidermidis merupakan koloni bakteri yang menyerang lendir dan kulit manusia (Alamsyah, 2014). Saat ini menjadi patogen oportunistik yang penting yang menjadi urutan pertama di antara agen penyebab infeksi nosokomial pada perangkat medis yang ada (Gomes, 2011).

2.7.1 Klasifikasi

Klasifikasi Staphylococcus epidermidis dalam Soedarto (2014) yaitu : Kingdom : Eubacteria

Filum : Firmicutes Kelas : Bacilli Ordo : Bacillales

Famili : Staphylococcaceae Genus : Staphylococcus

31

Spesies : Staphylococcus epidermidis 2.7.2 Morfologi

Staphylococcus epidermidis merupakan bakteri Gram positif, tidak bergerak, tidak berspora, pada media kultur padat berbentuk kokus berkelompok tidak teratur, susunannya mirip anggur, menonjol, berkilau, Staphylococcus epidermidis membentuk koloni berupa abu-abu sampai putih, memfermentasi glukosa, dapat bersifat aerob dan anaerob fakultatif. Staphylococcus epidermidis merupakan flora normal pada kulit (Irianto, 2006).

2.7.3 Patogenesis

Staphylococcus epidermidis terdapat sebagai flora normal pada kulit manusia dan pada umumnya tidak menjadi masalah bagi orang normal yang sehat.

Patogenitasnya merupakan efek gabungan dari berbagai macam metabolit yang dihasilkannya. Akan tetapi, kini organisme ini menjadi patogen oportunistik yang menyebabkan infeksi nosokomial pada persendian dan pembuluh darah (Irianto, 2006)

Staphylococcus epidermidis memproduksi toksin atau zat racun. Bakteri ini juga memproduksi semacam lendir yang memudahkannya untuk menempel dimana-mana, termasuk di permukaan alat-alat yang terbuat dari plastik atau kaca.

Lendir tersebut membuat Staphylococcus epidermidis lebih tahan terhadap fagositosis (salah satu mekanisme pembunuhan bakteri oleh sistem kekebalan tubuh) dan beberapa antibiotika tertentu (Irianto, 2006).

2.8 Antibakteri

Antibakteri adalah senyawa yang digunakan untuk mengendalikan pertumbuhan bakteri yang bersifat merugikan dengan cara membunuh

32

ataumenekan pertumbuhan atau reproduksi bakteri. Pengendalian pertumbuhanmikroorganisme bertujuan untuk mencegah penyebaran penyakit/infeksi,membasmi mikroorganisme pada inang yang terinfeksi (Ganiswara dkk., 1995).

Zat antibakteri dibagi menjadi dua kelompok, yaitu antibakteri yang dapatmenghambat pertumbuhan bakteri (bakteriostatik) dan antibakteri yang dapatmembunuh bakteri (bakteriosid) (Pelczar dkk., 1986). Suatu zat antibakteri yangideal harus memiliki sifat toksisitas selektif, artinya bahwa suatu obat berbahayaterhadap parasit tetapi tidak membahayakan tuan rumah (hopses) (Ganiswaradkk., 1995).

2.8.1 Klasifikasi Antibakteri

Ada beberapa klasifikasi antibiotik, namun yang paling sering digunakan yaitu berdasarkan mekanisme aksi, spekrum kerja dan struktur molekul (Etebu and Arikekpar, 2016) :

2.8.1.1 Berdasarkan Mekanisme Aksi

Antibiotik dalam menghambat pertumbuhan dan mematikan bakteri berdasarkan mekanisme aksi (Etebu and Arikekpar, 2016), sebagai berikut:

(1) Antibiotik menghambat sintesis peptidoglikan pada dinding sel bakteri seperti golongan β-lactam (penisilin, sefalosporin, dan carbapenem) dan golongan glikopeptida (vancomicin, bacitracin).

(2) Antibiotik yang mengacaukan sintesa molekul lipoprotein di membran sel sehingga meningkatkan permeabilitas dan zat-zat yang ada di dalam sel dapat merembas keluar, contohnya polimiksin dan daptomycin.

(3) Antibiotik yang menghambat sintesis protein dengan merusak fungsi subunit 50S ribosom seperti golongan kloramfenikol, makrolida, klindamisin, linezolid

33

dan streptogramin serta antibiotik yang bekerja dengan berikatan pada subunit 30S ribosom seperti aminoglikosida dan tetrasiklin sehingga terjadi penghambatan pertumbuhan bakteri atau bacteriostatic.

4) Antibiotik yang mempengaruhi metabolisme asam nukleat dengan menghambat polimerisasi RNA dan menghambat topoisomerase seperti Quinolon, Rifampisin.

(5) Antibiotik antimetabolik yang bekerja dengan memblok enzim dalam proses sulfonamid asam folat seperti kombinasi gulfonamide dan trimethoprim.

2.8.1.2 Berdasarkan Spektrum Kerja

Antibiotik berdasarkan luas spektrum kerjanya dibagi menjadi 2.

Antibiotik bekerja dengan cara menghambat pertumbuhan maupun membunuh bakteri. Antibiotik yang bekerja dengan membunuh banyak spesies bakteri termasuk antibiotik dengan spektrum luas atau antibiotik broad spectrum, sedangkan antibiotik yang membunuh hanya beberapa spesies bakteri disebut antibiotik spektrum sempit atau antibiotik narrow spectrum (Oliphant, 2016).

2.8.1.3 Berdasarkan Struktur Molekul

Pengelompokkan antibiotik berdasarkan struktur molekul yaitu golongan β-lactam, Makrolida, Kloramfenikol, Oxazolidinones, Tetrasiklin, Aminoglikosida, Quinolon, dan Sulfonamid.

1) β-Lactam

Antibiotik β-Lactam bekerja mengambat sintesis dinding sel dengan mengikat PBP (Penicillin-binding Protein) pada bakteri dan mengganggu ikatan silang (cross-linking) struktur peptidoglikan yang mencegah transpeptidasi terminal di dinding sel bakteri. Dengan demikian, dinding sel bakteri menjadi lemah dan terjadi sitolisis atau kematian karena tekanan osmotik. Penisilin,

34

Sefalosporin, Monobactam, dan Carbapenem adalah golongan Antibiotik β-lactam (Katzung, 2018).

2) Makrolida

Antibiotik makrolida memiliki struktur utama cincin lakton yaitu amino dan gula netral dilekatkan oleh ikatan glikosidik. Mekanisme kerja antibiotik Makrolida yaitu penghambatan pertumbuhan bakteri (bacteriostatic), tetapi dalam konsentrasi yang tinggi dapat mematikan bakteri (bacterisidal). Erythromycin merupakan obat pertama kali yang tersedia di kelompok ini, Clarithromycin dan Azithromycin merupakan turunan dari Erythromycin yang memiliki aktivitas menghambat sintesis protein dengan mengikat subunit 50S ribosomal RNA bakteri (Katzung, 2018).

3) Kloramfenikol

Mekanisme kerja kloramfenikol menghambat sintesis protein bakteri dengan mengikat secara terbalik ke subunit 50S ribosom sehingga menghambat pembentukan ikatan peptida. Kloramfenikol merupakan antibiotik broad-spectrum yang berkhasiat bakteriostatik terhadap gram positif aerob maupun anaerob dan bakteri gram negatif. Kloramfenikol dapat bersifat bakterisid terhadap H.

influenza, Neisseria meningitides, dan beberapa jenis Bacteroides. Salah satu resiko dalam penggunaan kloramfenikol adalah anemia aplastik, sehingga pada tahun 1970-an di negara Barat jarang digunakan peroral untuk terapi pada manusia. Kloramfenikol dianjurkan untuk infeksi tifus (Salmonella typhi) dan meningitis (H. influenzae) (Tjay andRahardja, 2015).

4) Oxazolidinones

Oxazolidinone menghambat sintesis protein dengan mencegah pembentukan kompleks ribosom yang menginisiasi sintesis protein. Situs

35

pengikatannya yang unik yaitu terletak di RNA ribosom 23S dari subunit 50S yang menghambat sintesis protein pada taraf dini sekali, menghasilkan tidak ada resistensi silang dengan kelas obat yang lain. Linezolid merupakan Oxazolidinone yang aktif terhadap bakteri gram positif termasuk staphulococci, streptococci, enterococci dan Mycobacterium tuberculosis (Katzung, 2018).

5) Tetrasiklin

Tetrasiklin meripakan antibiotik broad-spectrum bersifat bakteriostatik yang menghambat sintesis protein. Tetrasiklin menembus bakteri melalui difusi pasif dan proses transport aktif bergantung pada energi. Saat sudah memasuki sel, tetrasiklin mengikat subunit 30S ribosom bakteri secara reversible sehingga menghambat pertumbuhan bakteri (Katzung, 2018).

6) Aminoglikosida

Aminoglikosida merupakan antibiotik yang menghambat sintesis protein secara irreversible dengan mengikat subunit 30S ribosom. Aminoglikosida menghambat sintesis protein dengan mengganggu inisiasi kompleks dalam pembentukan peptida, kesalahan dalam translasi mRNA, dan memecah polisom menjadi monosom nonfungsional. Spektrum kerja Aminoglikosida luas meliputi gram negative di antaranya E. coli, H influenzae, Klebsiella, Enterobacter, Salmonella dan Shigella serta beberapa bakteri gram positif (Katzung, 2018).

7) Quinolon

Quinolon bekerja langsung terhadap sintesis DNA bakteri. Mekanisme kerjanya yaitu menghambat topoisomerase II (DNA gyrase) untuk mencegah transkripsi dan replikasi normal oleh DNA superkoil; dan menghambat topoisomerase IV untuk mengganggu pemisahan DNA kromosom yang direplikasi ke sel anak selama pembelahan sel. Antibiotik yang termasuk

36

Quinolon yaitu Siprofloksasin, Levofloksasin, Lomefloksasin, Floksasin, Ofloksasin, dan lain-lain (Katzung, 2018).

8) Sulfonamid

Mekanisme kerja Sulfonamid yaitu menghambat dihidropteroat sintase dan produksi folat yang dibutuhkan untuk pertumbuhan bakteri. Sulfonamida mampu menghambat bakteri gram poitif, seperti Staphylococcus sp dan bakteri gram negatif enteric seperti E coli, Klebsiella pneumonia, Salmonella, Shigella, dan Enterobacter sp. Aktivitas kurang baik terhadap anaerob. Sulfonamida oral dapat diserap lambung dan usus kecil kemudian didistribusikan secara luas ke jaringan dan cairan tubuh termasuk SSP dan serebrospinal, plasenta, dan janin (Katzung, 2018).

2.9 Metode Uji Antibakteri

Metode pengujian daya antimikroba bertujuan untuk menentukan konsentrasi suatu zat antimikroba sehingga memperoleh suatu sistem pengobatan yang efektif dan efisien. Terdapat dua metode untuk menguji daya antimikroba, yaitu dilusi dan difusi. Menurut Pratiwi (2008) metode difusi dan metode dilusi terbagi menjadi beberapa metode, yaitu:

1. Metode Difusi

Metode Difusi adalah pengukuran dan pengamatan diameter zona bening yangterbentuk di sekitar cakram, dilakukan pengukuran setelah didiamkan selama 18-24 jam dan diukur menggunakan jangka sorong (Khairani, 2009; Sari, dkk, 2013). Menurut Pratiwi (2008), metode difusi dapat dilakukan dengan cara yaitu:

a. Metode disc diffusion atau metode Kirby dan Baure, metode ini menggunakan kertas cakram yang berisi zat antimikroba dan diletakkan pada media agar yang

37

telah ditanami bakteri uji. Menentukan aktivitas agen antimikroba. Piringan yang berisi agen antimikroba diletakkan pada media agaryang telah ditanami mikroorganisme yang berdifusi pada media agar tersebut.Area jernih mengindikasikan adanya hambatan pertumbuhan mikroorganismeoleh agen antimikroba pada permukaan media agar.

b. Metode e-test digunakan untuk menentukan KHM (Kadar Hambat Minimum), yaitu konsentrasi minimal zat antimikroba dalam menghambat pertumbuhan bakteri uji. Metode ini menggunakan strip plastik yang mengandung agen antimikroba yang telah berisi zat antibakteri dan diletakkan pada media agar yang telah ditanami mikroorganisme.

c. Metode ditch-platedigunakan untuk zat antimirkoba diletakkan pada parit yang dibuat dengan cara memotong media agar dalam cawan petri pada bagian tengah secara membujur dan bakteri uji digoreskan ke arah parit yang berisi agen antimikroba.

d. Metode cup-platedigunakan untuk metode yang hampir sama dengan metode disc diffusion namun bedanya tidak menggunakan kertas. Pada media agar dibuat sumur, dan pada sumur tersebut diberi zat antimikroba.

e. Metode gradient-plate media agar dicairkan dan ditambahkan larutan uji kemudian campuran tersebut dituangkan ke dalam cawan petri dan diletakkan dalam posisi miring.Nutrisi kedua selanjutnya dituang di atasnya. Plate diinkubasi selama 24 jam untuk memungkinkan agen antimikroba berdifusi dan permukaan mediamengering.

2. Metode Dilusi

Metode dilusi digunakan untuk menentukan Kadar Hambat Minimal (KHM), yaitu konsentrasi terendah yang menghambat pertumbuhan bakteri,

38

danmenentukan Kadar Bunuh Minimal (KBM), yaitu konsentrasi rendah yang dapatmembunuh bakteri. Metode dilusi ini terbagi dua berdasarkan Pratiwi (2008), yaiitu:

a. Metode Dilusi cair/ broth dilution test, digunakan untuk mengukur KHM (Kadar Hambat Minimum) dan KBM (Kadar Bunuh Minimum). Zat antimikroba diencerkan pada medium cair yang telah ditambhakan bakteri uji. Larutan

a. Metode Dilusi cair/ broth dilution test, digunakan untuk mengukur KHM (Kadar Hambat Minimum) dan KBM (Kadar Bunuh Minimum). Zat antimikroba diencerkan pada medium cair yang telah ditambhakan bakteri uji. Larutan

Dokumen terkait