• Tidak ada hasil yang ditemukan

UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK ETANOL BIJI PEPAYA (Carica papaya L. ) TERHADAP Streptococcus mutans dan Staphylococcus epidermidis SKRIPSI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK ETANOL BIJI PEPAYA (Carica papaya L. ) TERHADAP Streptococcus mutans dan Staphylococcus epidermidis SKRIPSI"

Copied!
112
0
0

Teks penuh

(1)

UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK ETANOL BIJI PEPAYA (Carica papaya L. ) TERHADAP Streptococcus mutans

dan Staphylococcus epidermidis

SKRIPSI

OLEH :

ERA REJEKI SIMATUPANG NIM 181501162

PROGRAM STUDI SARJANA FARMASI FAKULTAS FARMASI

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

2022

(2)

ii

UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK ETANOL BIJI PEPAYA (Carica papaya L.) TERHADAP Streptococcus mutans

dan Staphylococcus epidermidis

SKRIPSI

Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Farmasi pada Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara

OLEH:

ERA REJEKI SIMATUPANG 181501162

PROGRAM STUDI SARJANA FARMASI FAKULTAS FARMASI

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

2022

(3)

iii

(4)

iv

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena limpahan rahmat, kasih, dan karuniaNya, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Uji Aktivitas Antibakteri Ekstrak Etanol Biji Pepaya (Carica papaya L.) Terhadap Streptococcus mutans dan Staphylococcus epidermidis”.

Skripsi ini diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Farmasi pada Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara.

Karies gigi merupakan kerusakan gigi yang progresif dari email dan dentin yang dimulai dari bekerjanya mikroorganisme pada permukaan gigi disebabkan oleh bakteri Streptococcus mutans. Selain karies gigi, infeksi nosokomial merupakan infeksi yang terjadi dilingkungan rumah sakit yang disebabkan oleh bakteri Staphylococcus epidermidis. Tanaman pepaya yang mengandung alkaloid, flavonoid, glikosida, saponin, steroid/triterpenoid, dan tanin yang diekstraksi dengan menggunakan pelarut etanol dapat berpotensi sebagai agen antibakteri.

Hendaknya hasil penelitian ini dapat menjadi pengembangan untuk penemuan antibakteri dan memberikan harapan baru untuk penelitian selanjutnya.

Dalam menyelesaikan skripsi ini tidak lepas dari dukungan, dorongan serta bantuan dari berbagai pihak, dengan segala kerendahan hati penulis mengucapkan terima kasih kepada Ibu Khairunnisa, S.Si., M.Pharm., Ph.D., Apt., selaku dekan Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara dan Ibu Dr. Sumaiyah, S.Si., M.Si., Apt., selaku ketua program studi sarjana farmasi Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara, yang telah memberikan fasilitas sehingga penulis dapat menyelesaikan pendidikan. Saya ucapkan terima kasih kepada Ibu Dewi Pertiwi, S.Farm., M.Si., Apt., yang telah meluangkan waktu dan tenaga dalam

(5)

v

membimbing penulis dengan penuh kesabaran, memberikan petunjuk, dan arahan selama penelitian hingga selesainya skripsi ini. Ucapan terima kasih juga penulis sampaikan kepada Bapak Popi Patilaya S.Si., M.Sc.,Apt., selaku ketua penguji dan Bapak Dr. Drs. Panal Sitorus, M.Si., Apt., selaku anggota penguji yang telah memberikan saran dan arahan kepada penulis dalam menyempurnakan penulisan skripsi ini. Saya ucapkan juga terima kasih kepada Ibu T. Ismanelly Hanum, S.Si., M.Si., Apt., selaku dosen penasehat akademik yang selalu memberikan bimbingan, perhatian dan motivasi kepada penulis selama masa perkulihan dan juga kepada Bapak Mahatir Muhammad S. Farm., M. Si., Apt., selaku dosen fakultas farmasi yang selalu ada di laboratorium biologi farmasi memberi arahan, bantuan, motivasi dan nasehat selama penelitian hingga selesai, serta kepada Bapak dan Ibu staf pengajar Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara yang telah mendidik selama perkuliahan.

Penulis juga mempersembahkan rasa terima kasih dan penghargaan yang tiada terhingga kepada yang terkasih, Bapak saya Edison Simatupang, S.E., Ibu saya Dra. Lingse Sibarani, S.Pd., Abang kandung saya dr. Elvando T.M.

Simatupang, Kakak Kandung saya dr. Elcia M.D. Simatupang dan Lewi Fetri Simatupang, S.K.M, Adek Kandung saya Edgar Victoria Simatupang, Kakak ipar saya dr. Dinda L. Saragi, Abang ipar saya Romual Situmorang, S.Sn. dan IPTU.

Wamilik Mabel, S.Tr.K.,M.H., keponakan saya Dea Vedira Simatupang dan seluruh keluarga yang telah memberikan cinta, kasih sayang, doa dan semangat yang tidak ternilai. Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada sahabat kecil saya Imelda M. Sitompul, S.Ked., sahabat perkuliahan saya Elly Nita M.P Silalahi, Tania Angela, Lusi H. Simanjuntak, Eliyani Br Parangin-angin, Kak Kristi Pakpahan, S.Farm. yang selalu menemani dan mendoakan disaat suka dan

(6)

vi

duka. Serta kepada Abang Parlin Sianturi yang membantu mengumpulkan sampel biji pepaya saya. Dan teman seperdopingan, Kelas C stambuk 2018, Keluarga Asuh, Imatensi 2018 dan teman seangkatan farmasi stambuk 2018 untuk kebersamaan dan dorongan semangat yang telah banyak membantu hingga selesainya penulisan skripsi ini.

Penulis menyadari sepenuhnya bahwa penulisan skripsi ini masih belum sempurna, oleh karena itu penulis mengharapkan saran dan kritik yang membangun demi kesempurnaan skripsi ini. Akhir kata penulis berharap agar skripsi ini dapat bermanfaat bagi ilmu pengetahuan khususnya di bidang farmasi.

Medan, Maret 2022 Penulis

Era Rejeki Simatupang NIM. 181501162

(7)

vii

(8)

viii

UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK ETANOL BIJI PEPAYA (Carica papaya L.) TERHADAP Streptococcus mutans DAN Staphylococcus

epidermidis

ABSTRAK

Latar Belakang: Pepaya merupakan salah satu tanaman yang banyak digunakan secara tradisional untuk mengatasi berbagai penyakit. Salah satu pemanfaatan pepaya adalah sebagai antibakteri. Tanaman pepaya memiliki kandungan metabolit sekunder seperti alkaloid, flavonoid, glikosida, saponin, tanin dan triterpenoid/steroid.

Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakterisasi simplisia, kandungan senyawa kimia dan aktivitas antibakteri pada ekstrak etanol biji pepaya (Carica papaya L.) terhadap Streptococcus mutans dan Staphylococcus epidermidis.

Metode:Pada penelitian ini meliputi karakterisasi simplisia biji pepaya, uji skrining fitokimia, ekstraksi dengan metode maserasi menggunakan etanol 96%

dan pengujian aktivitas antibakteri dengan metode difusi agar menggunakan pencadang kertas dengan berbagai konsentrasi.

Hasil:Terdapat karakterisasi simplisia yaitu kadar air 7,25%, kadar sari larut air 22,56%, kadar sari larut etanol 25,03%, kadar abu total 7,03%, dan kadar abu tidak larut asam 0,49%. Golongan senyawa kimia yang terdapat pada simplisia dan ekstrak etanol biji pepaya adalah alkaloid, flavonoid, glikosida, saponin, tanin dan triterpenoid/ steroid. Hasil uji aktivitas antibakteri terhadap bakteri streptococcus mutans dengan konsentrasi 1 mg/ml (8,73 mm) dan memiliki konsentrasi efektif pada konsentrasi 400 mg/ml (14,13 mm) sedangkan terhadap bakteri staphylococcus epidermidis dengan konsentrasi 1 mg/ml (8,80 mm) dan memiliki konsentrasi efektif pada konsentrasi 400 mg/ml (14,26 mm).

Kesimpulan: Ekstrak etanol biji pepaya (Carica papaya L.) memiliki aktivitas antibakteri terhadap bakteri streptococcus mutans dan Staphylococcus epidermidis.

Kata Kunci: Biji pepaya, Carica papaya L., Antibakteri, Streptococcus mutans,

Staphylococcus epidermidis

(9)

ix

PAPAYA (Carica papayaL.) SEED ETHANOL EXTRACT ANTI- BACTERIAL ACTIVITY TEST AGAINST Streptococcus mutans AND

Staphylococcus epidermidis

ABSTRACT

Background: Papaya is a plant that is widely used traditionally to treat various diseases. One of the uses of papaya is as an antibacterial. Papaya plants contain secondary metabolites such as alkaloids, flavonoids, glycosides, saponins, tannins and triterpenoids/steroids.

Objective: This study aimed to determine the characterization of dried sample, chemical compounds and antibacterial activity of the ethanol extract of papaya seeds (Carica papaya L.) against Streptococcus mutans and Staphylococcus epidermidis.

Methods: This research includes dried sample characterization of papaya seeds, phytochemical screening test, extraction by maceration method using 96%

ethanol, and antibacterial activity testing by agar diffusion method using paper backers with various concentrations.

Results: There were dried sample characterizations, namely 7.25% water content, 22.56% water-soluble extract content, 25.03% ethanol-soluble extract content, 7.03% total ash content, and 0.49% acid insoluble ash content. The chemical compounds found in dried samples and ethanol extract of papaya seeds are alkaloids, flavonoids, glycosides, saponins, tannins and triterpenoids/steroids. The results of the antibacterial activity test against Streptococcus mutans bacteria with a concentration of 1 mg/ml (8.73 mm) and have an effective concentration of 400 mg/ml (14.13 mm), while against Staphylococcus epidermidis with a concentration of 1 mg/ml (8, 80 mm) and has an effective concentration of 400 mg/ml (14.26 mm).

Conclusion: The ethanol extract of papaya seeds (Carica papaya L.) has antibacterial activity against Streptococcus mutans and Staphylococcus epidermidis bacteria.

Keywords: Papaya seeds, Carica papaya L., Antibacterial, Streptococcus mutans, Staphylococcus epidermidis

(10)

x DAFTAR ISI

HALAMAN SAMPUL ... i

HALAMAN JUDUL ... ii

HALAMAN PENGESAHAN ... iii

KATA PENGANTAR ... iv

HALAMAN PERNYATAAN ORISINALITAS ... vii

ABSTRAK ... viii

ABSTRACT ... ix

DAFTAR ISI ... x

DAFTAR TABEL ... xiii

DAFTAR GAMBAR ... xiv

DAFTAR LAMPIRAN ... xv

BAB I PENDAHULUAN ... 1

1.1Latar Belakang ... 1

1.2Rumusan Masalah ... 5

1.3Hipotesis ... 5

1.4Tujuan Penelitian ... 5

1.5Manfaat Penelitian ... 6

1.6Kerangka Pemikiran ... 6

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 7

2.1 Uraian Tumbuhan... 7

2.1.1Sejarah Tumbuhan ... 7

2.1.2Morfologi ... 8

2.1.3 Sistematika ... 10

2.1.4Nama Daerah dan Nama Asing ... 11

2.1.5Manfaat ... 12

2.1.6Kandungan Kimia ... 12

2.2Simplisia ... 13

2.3Ekstrak ... 17

2.4Ekstraksi ... 17

2.4.1Cara Panas ... 18

2.4.1.1Soxhletasi ... 18

2.4.1.2Infundasi ... 19

2.4.1.3Refluks ... 19

2.4.1.4Digesti ... 20

2.4.1.5Dekoktasi ... 20

2.4.2Cara Dingin ... 21

2.4.2.1Maserasi ... 21

2.4.2.2Perkolasi ... 22

2.5Bakteri ... 23

2.5.1Klasifikasi Bakteri ... 23

2.5.2Faktor-faktor Pertumbuhan Bakteri ... 25

2.5.3Pertumbuhan Bakteri ... 26

2.6Streptococcus mutans ... 27

2.6.1Klasifikasi ... 28

2.6.2Morfologi ... 28

2.6.3Patogenesis ... 29

(11)

xi

2.7Staphylococcus Epidermidis ... 30

2.7.1Klasifikasi ... 30

2.7.2Morfologi ... 31

2.7.3Patogenesis ... 31

2.8Antibakteri... 31

2.8.1Klasifikasi Antibakteri ... 32

2.8.1.1Berdasarkan Mekanisme Aksi... 32

2.8.1.2Berdasarkan Spektrum Kerja ... 33

2.8.1.3 Berdasarkan Struktur Molekul ... 33

2.9Metode Uji Antibakteri ... 36

BAB III METODE PENELITIAN... 40

3.1Alat ... 40

3.2Bahan... 41

3.3Pengumpulan dan Pengolahan Sampel ... 41

3.3.1Pengumpulan Sampel ... 41

3.3.2Identifikasi Simplisia ... 41

3.3.3Pembuatan Simplisia ... 41

3.3.4Pembuatan Ekstrak Etanol Biji Pepaya ... 42

3.4Pemeriksaan Karakterisasi Simplisia ... 42

3.4.1Pemeriksaan Makroskopik ... 42

3.4.2Pemeriksaan Mikroskopik ... 43

3.4.3Penetapan Kadar Air Simplisia ... 43

3.4.4Penetapan Kadar Sari Larut Air ... 43

3.4.5Penetapan Kadar Sari Larut dalam Etanol ... 44

3.4.6Penetapan Kadar Abu Total ... 44

3.4.7Penetapan Kadar Abu Tidak Larut dalam Asam... 44

3.5Skrining Fitokimia ... 45

3.5.1Pemeriksaan Alkaloid ... 45

3.5.2Pemeriksaan Flavonoid ... 45

3.5.3Pemeriksaan Glikosida ... 46

3.5.4Pemeriksaan Saponin ... 46

3.5.5Pemeriksaan Steroid/Triterpen ... 46

3.5.6Pemeriksaan Tanin ... 46

3.6Pembuatan Larutan Pereaksi ... 47

3.6.1Pereaksi Asam Klorida 2 N ... 47

3.6.2Pereaksi Asam Sulfat 2 N ... 47

3.6.3Pereaksi Besi (III) Klorida 1% ... 47

3.6.4Pereaksi Bouchardat ... 47

3.6.5Pereaksi Dragendorff ... 47

3.6.6Pereaksi Kloralhidrat ... 48

3.6.7Pereaksi Liebermann-Burchard ... 48

3.6.8Pereaksi Mayer ... 48

3.6.9Pereaksi Molisch ... 48

3.6.10Pereaksi Natrium Hidroksida 2 N ... 48

3.6.11Pereaksi Timbal (II) Asetat 0,4 N ... 48

3.7Sterilisasi Alat ... 48

3.8 Pembuatan Media ... 49

3.8.1Media Nutrient Agar (NA) ... 49

3.8.2Media Nutrient Broth (NB) ... 49

(12)

xii

3.8.3Media Mueller Hinton Agar (MHA) ... 49

3.9Pembiakan Bakteri ... 50

3.9.1Pembuatan Agar Miring ... 50

3.9.2Pembuatan Stok Kultur Bakteri Uji ... 50

3.9.2.1Streptococcus mutans ... 50

3.9.2.2Staphylococcus epidermidis ... 50

3.10Pembuatan Suspensi Bakteri Uji ... 51

3.10.1Streptococcus mutans ... 51

3.10.2Staphylococcus epidermidis ... 51

3.11Larutan Uji Ekstrak Etanol Biji Pepaya dengan Beberapa Konsentrasi ... 51

3.12Pengujian Aktivitas Antibakteri Ekstrak Etanol Biji Pepaya Terhadap Bakteri Uji...52

3.12.1Streptococcus mutans ... 52

3.12.2Staphylococcus epidermidis ... 52

3.13Penyiapan Larutan Uji Antibiotik ... 53

3.14Analisis Statistika ... 53

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ... 54

4.1Identifikasi Tumbuhan ... 54

4.2Hasil Simplisia dan Ekstrak Biji Pepaya ... 54

4.3 Hasil Karakterisasi Simplisia Biji Pepaya... 54

4.3.1 Makroskopik ... 54

4.3.2 Mikroskopik ... 55

4.4Hasil Karakterisasi Kadar Air, Kadar Sari Larut Dalam Air , Kadar Sari Larut Dalam Etanol, Kadar Abu Total, Kadar Abu Tidak Larut Asam Simplisia Biji Pepaya ... 55

4.5Hasil Golongan Senyawa Kimia Simplisia dan Ekstrak Etanol Biji Pepaya ... 58

4.6Hasil Uji Aktivitas Antibakteri Ekstrak Etanol Biji Pepaya ... 60

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 65

5.1Kesimpulan ... 65

5.2Saran ... 65

DAFTAR PUSTAKA ... 66

LAMPIRAN ...70

(13)

xiii

DAFTAR TABEL

4.1 Hasil kadar air, kadar sari larut dalam air, kadar sari larut dalam etanol, kadar abu total, kadar abu tidak larut asam simplisia biji pepaya... 55 4.2 Hasil golongan senyawa kimia simplisia dan ekstrak etanol biji pepaya ... 58 4.3 Hasil uji aktivitas antibakteri ekstrak etanol terhadap bakteri Streptococcus mutans dan Staphylococcus epidermidis ... 60

(14)

xiv

DAFTAR GAMBAR

1.1 Kerangka pikir penelitian ... 6

2.1 Pohon Pepaya ... 10

2.2 Buah Pepaya ... 10

2.3 Biji Pepaya ... 10

(15)

xv

DAFTAR LAMPIRAN

1.Hasil Identifikasi Biji Pepaya... 71

2.Gambar Tumbuhan Pepaya, Biji Pepaya dan Serbuk Simplisia Biji Pepaya ... 72

3.Hasil pemeriksaan Makroskopik dan Mikroskopik Simplisia Biji Pepaya ... 73

4.Bagan pembuatan simplisia, karakterisasi simplisia dan skrining fitokimia .... 76

5.Bagan pembuatan ekstrak etanol biji pepaya ... 77

6.Bagan Pengujian Aktivitas Antibakteri Ekstrak ... 78

7.Bagan Pengujian Aktivitas Antibakteri Kontrol Positif ... 79

8.Perhitungan Rendemen Simplisia dan Ekstrak ... 80

9.Perhitungan Penetapan Karakterisasi Simplisia Biji Pepaya ... 81

10.Perhitungan Penetapan Karakterisasi Ekstrak Etanol Biji Pepaya ... 84

11.Perhitungan Pengenceran Larutan Uji Ekstrak Etanol Biji Pepaya Terhadap Streptococcus mutans dan Staphylococcus epidermidis dengan Pelarut DMSO .. 85

12.Perhitungan Pembuatan Larutan Uji Antibiotik dengan Pelarut DMSO ... 86

13.Hasil Pengukuran Diameter Daya Hambat Uji Aktivitas Antibakteri Ekstrak Etanol Biji Pepaya Terhadap Streptococcus mutans, Staphylococcus epidermidis dan Kontrol Positif Amoksisilin Trihydrate ... 87

14.Hasil Pengukuran Diameter Daya Hambat Uji Aktivitas Antibakteri Ekstrak Etanol Biji Pepaya Terhadap Streptococcus mutans ... 88

15.Hasil Pengukuran Diameter Daya Hambat Uji Aktivitas Antibakteri Ekstrak Etanol Biji Pepaya Terhadap Staphylococcus epidermidis ... 89

16. Hasil Uji Kontrol Positif Terhadap Streptococcus mutans ... 90

17. Hasil Uji Kontrol Positif Terhadap Staphylococcus epidermidis ... 91

18. Bahan-bahan yang digunakan dalam penelitian ... 92

19.Alat-alat yang digunakan dalam penelitian ... 93

20.Hasil Uji Statistik Analisis Data Daya Antibakteri yang Diberikan Oleh Berbagai Konsentrasi Ekstrak Etanol Biji Pepaya (Carica papaya L.) terhadap Streptococcus mutans dan Staphylococcus epidermidis ... 95

(16)

1 BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Antibiotik merupakan molekul yang membunuh atau menghentikan pertumbuhan mikroorganisme. Saat ini, banyak pemakaian antibiotik dikonsumsi masyarakat secara bebas dengan membeli antibiotik tanpa sesuai resep dokter. Hal ini yang mengakibatkan terjadinya resisten antibiotik. Resisten antibiotik terjadi ketika bakteri berubah dari waktu ke waktu dan tidak lagi merespon obat-obatan yang membuat infeksi lebih sulit untuk diobati dan meningkatkan risiko penyebaran penyakit, penyakit parah dan kematian. Akibat resistensi obat antibiotik dan obat antimikroba lainnya menjadi tidak efektif dan infeksi menjadi semakin sulit atau tidak mungkin untuk diobati (Gallagher, 2018).

Menurut Izah dkk., 2018 , penggunaan antibiotik yang berlebihan menimbulkan pada meningkatnya jumlah infeksi yang menjadi resisten terhadap agen-agen bakteri. Menyebabkan kegagalan pengobatan dan peningkatan biaya perawatan kesehatan dan bahan kasus yang parah terhadap morbiditas dan mortalitas (Izah, dkk., 2018).

Penyakit infeksi di Indonesia termasuk dalam sepuluh penyakit terbanyak.

Menurut Centers for Disease Control and Prevention, setiap tahun di Amerika Serikat terdapat dua juta orang terinfeksi oleh bakteri yang telah resisten terhadap antibiotik dan setidaknya 23.000 orang meninggal setiap tahun akibat langsung dari resistensi ini. Pada tahun 2013 kurang lebih terjadi 700.000 kematian di seluruh dunia akibat resistensi antibiotik. Pada tahun 2050 diperkirakan terjadi

(17)

2

10juta kematian akibat resistensi antimikroba dengan 4,7 juta diantaranya merupakan penduduk Asia (Dirga, 2021)

Salah satu infeksi yang sering terjadi yaitu karies gigi pada rongga mulut.

Karies merupakan kerusakan gigi yang progresif dari email dan dentin yang dimulai dari bekerjanya mikroorganisme pada permukaan gigi. Agen utama terjadinya karies adalah bakteri Streptococcus mutans yang menyebabkan terjadinya demineralisasi gigi akibat produk yang dihasilkan. Prevalensi karies gigi pada negara maju terus menurun, sedangkan di negara-negara berkembang seperti Indonesia kecenderungan meningkat. Data menunjukan sekitar 80%

penduduk Indonesia memiliki gigi rusak yang disebabkan berbagai faktor, namun yang paling banyak ditemui adalah karies atau gigi berlubang. Pada hampir setiap mulut orang Indonesia akan ditemukan dua hingga tiga gigi berlubang (Handayany, 2018).

Selain karies gigi, infeksi nosokomial juga menjadi salah satu masalah kesehatan yang serius di berbagai negara, baik di negara berkembang maupun di negara maju. Infeksi nosokomial menyebabkan morbidity dan mortality yang semakin meningkat di rumah sakit. Infeksi nosokomial adalah infeksi yang tidak ada atau berinkubasi sebelum pasien dirawat di rumah sakit, tetapi terjadi dalam 72 jam setelah masuk rumah sakit yang disebabkan oleh bakteri staphylococcus epidermidis (Fildzah, 2017).

Provinsi DI Yogyakarta pada tahun 2006 memiliki angka kejadian infeksi nosokomial sebesar 0,8% dari seluruh kejadian infeksi nosokomial di Indonesia.

Penelitian dilakukan pada gagang pintu ruang rawat inap kelas III RSUD Dr. H.

Abdul Moeloek urutan jumlah bakteri terbanyak adalah Staphylococcus epidermidis 53,06% , kemudian diikuti Staphylococcus aureus 36,73%,

(18)

3

Staphylococcus saprophyticus 20,4% dan spesies Staphylococcus sp jenis lainnya.

Hal ini disebabkan keberadaan Staphylococcus epidermidis di tangan merupakan flora normal pada tubuh manusia (Dirga,2021). Namun, apabila daya tahan tubuh seseorang lemah maka flora normal yang ada pada tubuh kita akan menjadi patogen sehingga menimbulkan penyakit (Jawetz dkk, 2005).

Bakteri Staphylococcus epidermidis termasuk ke dalam kelompok bakteri koagulase negatif. Pengendalian terhadap bakteri yang memiliki pola resisten terhadap berbagai obat antimikroba terutama pada antibiotik penisilin. Sangat perlu pengembangan alternatif obat yang mampu melisiskan bakteri tersebut (Darojah, 2019).

Indonesia dipenuhi dengan keberagaman tumbuhan. Tumbuhan yang ada di Indonesia bukan hanya sebagai paru – paru dunia melainkan bisa juga sebagai obat seperti antibiotik. Tumbuhan yang sebagai antibiotik ini bisa mengurangi angka resistensi antibiotik. Banyak bahan alami dari tumbuhan yang bisa dibuat sebagai obat antibiotik, salah satunya adalah pepaya. Pepaya (Carica papaya L.) adalah pohon buah yang terkenal dan mudah tumbuh dalam bagian tropis dan subtropis di dunia. Sehingga buah pepaya sering disebut buah rakyat, dengan harga yang murah. Biji pepaya merupakan bagian dari buah pepaya yang terdapat didalam buah pepaya yang tidak dimakan. Pada umumnya, biji pepaya hanya dibuang, di tanam atau dimanfaatkan sebagai bibit untuk dibudidayakan. Banyak manfaat pepaya yang digunakan karena memiliki kandungan yang tinggi vitamin A, B dan C, dan mengandung protein. Secara tradisional biji pepaya (Carica papaya L.) dapat dimanfaatkan sebagai obat penyakit kulit, rongga mulut, dan sebagai sumber untuk mendapatkan minyak dengan kandungan asam-asam lemak tertentu (Martiasih, 2014).

(19)

4

Pada penelitian yang dilakukan oleh E.I Okoye (2011), telah dilakukan uji aktivitas antibakteri dan antijamur dari ekstrak etanol dan ekstrak air biji pepaya(Carica papaya L.). Tanaman pepaya memiliki beberapa bagian yang mana pada bagian dari biji pepaya(Carica papaya L.) memiliki zat aktif sebagai antimikroba. Diperoleh hasil bahwa biji pepaya (Carica papaya L.) memiliki aktivitas antibakteri terhadap Staphylococcus aureus, Pseudomonas aeruginosa, Salmonella typhi, Escherichia coli dan antijamur terhadap Aspergillus niger, Penicillium notatum, Fusarium solani, Candida albican. Dilakukan penetapan parameter mutu simplisia meliputi penetapan kadar sari larut air, kadar sari larut etanol, kadar air, kadar abu total dan abu tidak larut asam, dan susut pengeringan (Syarifah, 2015). Hasil uji fitokimia pada peneliti terdahulu, bahwa analisis kualitatif dari ekstrak etanol biji pepaya (Carica papaya L.) mengkonfirmasikan adanya metabolit sekunder seperti alkaloid, flavonoid, glikosida, saponin, steroid/triterpenoid dan tanin yang dapat menghambat pertumbuhan antimikroba (Mulyono, 2013).

Berdasarkan masalah yang diuraikan diatas, sehingga perlu dilakukan penelitian lanjutan mengenai karakterisasi simplisia, pemeriksaan kandungan golongan senyawa metabolit sekunder dan uji aktivitas antibakteri ekstrak biji pepaya (Carica papaya L.) terhadap bakteri Streptococcus mutans danStaphylococcus epidermidis agar dapat mendukung khasiat dari tanaman biji pepaya(Carica papaya L.) secara ilmiah.

(20)

5 1.2 Rumusan Masalah

Perumusan masalah pada penelitian ini adalah:

a. Apakah karakteristik simplisia biji pepaya (Carica papaya L.) memenuhi persyaratan Materia Medika Indonesia?

b. Apa saja golongan senyawa kimia yang terdapat pada serbuk simplisia dan ekstrak etanol biji pepaya (Carica papaya L.)?

c. Apakah ekstrak etanol biji pepaya (Carica papaya L.) memiliki aktivitas antibakteri terhadap bakteri streptococcus mutans dan staphylococcus epidermidis?

1.3 Hipotesis

Hipotesis pada penelitian ini adalah:

a. Karakteristik simplisia biji pepaya (Carica papaya L.) memenuhi persyaratan Materia Medika Indonesia.

b. Serbuk simplisia dan ekstrak etanol biji pepaya(Carica papaya L.) mengandung golongan senyawa kimia alkaloid, flavonoid, glikosida, saponin, steroid/triterpenoid, dan tanin.

c. Ekstrak etanol biji pepaya memiliki aktivitas antibakteri terhadap bakteri Streptococcus mutans dan Staphylococcus epidermidis.

1.4 Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk :

a. Untuk mengetahui karakteristik simplisia biji pepaya (Carica papaya L.) yang sesuai dengan Materia Medika Indonesia.

(21)

6

b. Untuk mengetahui golongan senyawa kimia yang terdapat pada serbuk simplisia dan ekstrak etanol biji pepaya (Carica papaya L.).

c. Untuk mengetahui ekstrak etanol biji pepaya (Carica papaya L.) memiliki aktivitas antibakteri terhadap Streptococcus mutans dan Staphylococcus epidermidis.

1.5 Manfaat Penelitian

Manfaat dari penelitian ini adalah untuk:

a. Menambah ilmu pengetahuan bagi peneliti tentang aktivitas antibakteri ekstrak etanol biji pepaya (Carica papaya L.) terhadap bakteri Streptococcus mutans danStaphylococcus epidermidis.

b. Menambah informasi bagi masyarakat tentang aktivitas antibakteri dari tumbuh-tumbuhan terutama dari biji pepaya (Carica papaya L.)

c. Sebagai sumber informasi bagi peneliti selanjutnya yang akan melakukan penelitian tentang antibakteri pada bakteri karies gigi dan infeksi kulit.

1.6 Kerangka Pemikiran

Kerangka pikir peneliti dapat dilihat pada gambar 1.1.

Variabel Bebas Variabel Terikat Parameter

Gambar 1.1 Kerangka pikir penelitian

Diameter Daerah Hambat (mm) Ekstrak Etanol Biji

Pepaya (Carica papaya L.) dengan konsentrasi 400; 200;

100; 50; 25; 10; 1;

mg/ml

Aktivitas Antibakteri Terhadap Streptococcus mutans

dan Staphylococcus epidermidis

(22)

7 BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Uraian Tumbuhan 2.1.1 Sejarah Tumbuhan

Pepaya merupakan tanaman tropis yang berasal dari kawasan tropis Amerika, diperkirakan berasal dari kawasan sebelah selatan Meksiko. Tanaman yang memiliki buah kaya gizi, terutama provitamin A, ini termasuk ke dalam genus Carica yang berasal dari keluarga Caricaceae. Tanaman buah ini baru masuk ke Indonesia sejak abad 19 dan banyak dibudidayakan (Kurnia, 2018).

Pepaya menjadi buah yang sangat mudah ditemukan dan sering dijual dipasaran. Awalnya, buah ini berasal dari Meksiko, lalu terus berkembang hingga banyak dibudidayakan di Indonesia. Tanaman pepaya tergolong tanaman adaktif serta mampu tumbuh di dataran rendah dan dataran tinggi. Tidak jarang buah ini dapat ditemui sebagai tanaman di kebun atau di pekarangan sebagai tanaman rumah (Kurnia, 2018).

Tanaman buah pepaya sangat dikenal oleh bangsa Indonesia sejak lama sekali. Masyarakat Indonesia memanen buahnya untuk dikonsumsi dagingnya setelah matang dan juga daunnya yang sering dijadikan lalapan. Selain sebagai makanan, pepaya juga dikenal bangsa Indonesia sebagai tumbuhan herbal karena beberapa bagian darinya banyak digunakan sebagai alternatif pengobatan, misalnya, buah, biji, daun, bunga dan getah (Kurnia, 2018).

Titik awal penyebaran pepaya hingga sampai di Indonesia dimulai dari kawasan bagian selatan Meksiko dan Nikaragua. Awalnya dibawa oleh para pedagang Spanyol hingga menyebar ke negara-negara seperti Hawai, Australia,

(23)

8

Afrika Selatan, Florida, dan India. Di indonesia, tanamanan pepaya menyebar luas di pulau Jawa sebagai tanaman hias. Pada saat itu, masyarakat tidak begitu mengenal manfaat dan khasiat pepaya, sehingga selain sebagai tanaman hias, pepaya juga ditanam di perkebunan untuk pelengkap kebutuhan sendiri. Seiring berjalan waktu, masyarakat mulai melek akan manfaat pepaya sehingga pengembangan secara komersial dilakukan. Kini pepaya banyak dibudidayakan hampir di seluruh provinsi di Indonesia untuk keperluan, terutama untuk dipanen buahnya (Kurnia, 2018).

2.1.2 Morfologi

Batang pohon pepaya tunggal dan menjulang tinggi hingga 10 m, tampak berparut pada seluruh permukaannya dimana daun dan buahnya tumbuh.Batang tanaman berbentuk bulat lurus, di bagian tengahnya berongga, dan tidak berkayu.

Ruas-ruas batang merupakan tempat melekatnya tangkai daun yang panjang, berbentuk bulat, dan berlubang. Daun pepaya bertulang menjari dengan warna permukaan atas hijau-tua, sedangkan warna permukaan bagian bawah hijau-muda.

Buah pepaya yang masih mentah berwarna hijau gelap dan pada saat masak berubah warna menjadi kuning. Tekstur buah yang sudah matang empuk, berwarna merah, dan rasanya manis segar karena mengandung air. Sedangkan buah yang masih mentah biasanya keras dan banyak digunakan sebagai bahan masakan, seperti sayur betik (masakan asli daerah Rembang), sambal godok pepaya (Malang), serta aneka olahan makanan lainnya seperti manisan pepaya atau rujak (Kurnia, 2018).

Pepaya memiliki batang bersifat basah (herbaceus), tidak berkayu, lurus, berbuku-buku, silindris, berongga, berwarna putih kehijauan, serta mengandung banyak getah dan berair, tinggi tanaman 5-10 m dengan diameter 3-10 cm.

(24)

9

Batangnya tunggal dan tidak memiliki percabangan. Pepaya berakar tunggang dan berakar cabang yang tumbuh mendatar ke semua arah di kedalaman hingga 50 cm lebih dan menyebar sekitar 60-150 cm dari pusat batang tanaman. Pepaya juga memiliki perakaran yang kuat, tidak mengayu, dan berwarna putih kekuningan (Hamzah, 2014).

Daun pepaya tersusun spiral menutupi ujung batang. Daunnya termasuk tunggal, bulat, ujung runcing, pangkal bertoreh dan memiliki bagian tepi bergerigi. Diameter daun berkisaran 20-75 cm. Daun pepaya ditopang oleh tangkai daun yang berongga dengan panjang sekitar 25-100 cm. Daun permukaan atas berwarna hijau tua, sedangkan permukaan bawah berwarna hijau muda.

Pepaya memiliki kehidupan seksual yang tidak teratur. Berdasarkan sifat morfologinya, pepaya memiliki tiga macam bunga sekaligus, yaitu bunga jantan (staminate), bunga betina (pistillate), dan bunga sempurna (hermaphrodite). Buah pepaya termasuk buah buni sejati yang dimana artinya buah berbentuk dari bakal buah saja. Bentuknya bulat atau bulat memanjang (Hamzah, 2014).

Dalam rongga buah, terdapat biji berukuran kecil yang berjumlah banyak.

Bentuknya bulat atau bulat panjang dan berkeping dua. Permukaan biji keriput dengan bagian luar terbungkus selaput berlendir (pulp). Lendir tersebut berguna untuk mencegah biji dari kekeringan. Biji yang masih muda berwarna putih, sedangkan biji tua berwarna hitam. Rata-rata 20 butir biji kering memiliki berat 1 gram (Hamzah, 2014).

(25)

10

Gambar 2.1 Pohon Pepaya(Sumber gambar: Dokumentasi pribadi 2021)

Gambar 2.2 Buah Pepaya(Sumber gambar : Dokumentasi Pribadi 2021)

Gambar 2.3 Biji Pepaya(Sumber gambar : Dokumentasi Pribadi, 2021 )

2.1.3 Sistematika

Sistematika Pepaya menurut Amir Hamzah (2014) sebagai berikut : Kingdom : Plantae

Divisi : Spermatophyta Sub Divisi : Magnoliophyta Kelas : Dicotyledoneae

(26)

11 Ordo : Caricales

Famili : Caricaceae Genus : Carica

Spesies : Carica papaya L

2.1.4 Nama Daerah dan Nama Asing

Pepaya memiliki beragam nama di setiap daerah. Di Inggris pepaya dikenal dengan nama papaw atau pawpaw. Sama halnya dengan di kawasan Afrika. Di Amerika pepaya dikenal dengan nama papaya, hampir sama dengan sebutan di Indonesia, yaitu pepaya. Akan tetapi, kata pepaya itu sendiri merupakan derivasi dari bahasa Belanda, yaitu papaja. Namun terpengaruh bahasa Arawak, yaitu nama salah satu anggota masyarakat dari Amerika Selatan, hingga akhirnya berubah menjadi pepaya. Beda halnya di Indonesia, di setiap provinsi memiliki nama tersendiri untuk menyebut buah pepaya berdasarkan bahasa daerah masing-masing. Misalnya, dalam bahasa Jawa pepaya dikenal dengan nama kates, yang sering digunakan oleh masyarakat dari provinsi jawa Tengah, Jawa Timur, dan Madura. Sedangkan masyarakat Jawa Barat, khususnya suku Sunda menyebutkan dengan nama gedang, sama halnya dengan masyarakat Bali.

Menurut Kurnia (2018), ada pula nama-nama lainnya untuk menamai pepaya, seperti asawa (Irian Jaya), betis (Palembang), kuat (Timor), panancane (Minangkabau), pante (Aceh), punti kayu (Lampung), tapaya(ternate) dan tela(Batak).

Di Malaysia pepaya sering disebut dengan betik, katelah dan kepaya. Di Filipina, pepaya dikenal dengan nama kapaya dan lapaya. Sementara itu, di negara-negara di Asia lainnya mengenal pepaya dengan beberapa nama yang

(27)

12

berbeda, seperti du du (Vietnam), mala kaw (Thailand), dan fan mu gua (Cina) (Hamzah, 2014).

2.1.5 Manfaat

Pepaya termasuk ke dalam kelompok tanaman herbal karena khasiatnya yang ampuh mengobati aneka gangguan kesehatan. Misalnya untuk pengobatan berbagai luka pada kulit. Daging pepaya dapat difermentasi menjadi salep untuk mengobati luka iris, luka bakar, ruam-ruam, hingga sengatan serangga. Hal tersebut karena kandungan papain pada pepaya (Kurnia, 2018).

Buah pepaya mentah yang masih hijau sering digunakan sebagai alat kontrasepsi di beberapa negara, seperti India, Bangladesh, Pakistan, Sri Lanka, Papua Nugini, Peru, dan beberapa negara lainnya. Hal tersebut karena buah pepaya yang masih mengkal memiliki efek menggugurkan kandungan. Namun, pada saat masak, pepaya sangat baik dikonsumsi oleh wanita hamil (Kurnia, 2018).

2.1.6 Kandungan Kimia

Daun pepaya memiliki banyak kandungan alkaloid. Kandungan ini yang membuat daun pepaya terasa pahit sekali, namun khasiatnya cukup tinggi, yaitu untuk mengobati penyakit malaria, sakit panas, kejang perut, beri-beri, menurunkan demam, menurunkan tekanan darah, dan dapat membunuh amuba.

Daun pepaya dapat meningkatkan nafsu makan dan melancarkan pencernaan karena kandungan alkaloid karpain memiliki kemampuan untuk mendorong pengeluaran empedu pencerna lemak (Kurnia, 2018).

Biji pepaya (Carica papaya L.) memiliki kandungan alkaloid sebagai aktivitas antibakteri. Salah satu alkaloid yang terdapat di dalam biji pepaya adalah karpain. Karpain merupakan alkaloid bercincin laktonat dengan 7 kelompok rantai

(28)

13

metilen sehingga ampuh untuk menghambat kinerja beberapa mikroorganisme.

Karpain dapat mencerna protein mikroorganisme dan mengubahnya menjadi senyawa turunan bernama pepton. Selain itu juga terdapat kandungan flavonoid.

Senyawa flavonoid dari beberapa bahan alam dilaporkan memiliki aktivitas antibakteri. Mekanisme kerja flavonoid diduga mendenaturasi protein sel bakteri dan merusak membran sel (Mulyono, 2013).

2.2 Simplisia

Simplisia adalah bahan alam yang telah dikeringkan yang digunakan untuk pengobatan dan belum mengalami pengolahan. Pengeringan dapat dilakukan dengan diangin-angin, dilemari pengering, atau menggunakan oven, kecuali dinyatakan lain suhu pengering dengan suhu oven tidak lebih dari 500 (Depkes RI, 2017). Menurut Ditjen POM (2000), simplisia adalah alamiah yang digunakan sebagai obat yang belum mengalami pengolahan apapun juga kecuali dikatakan lain, berupa bahan yang telah dikeringkan.

Simplisia dapat digolongkan menjadi dua jenis, berdasarkan bahan bakunya, yaitu:

1. Simplisia nabati

Simplisia nabati adalah simplisia yang dibuat dari tanaman, baik berupa keseluruhan bagian organ ataupun eksudat tanaman. Eksudat ialah bagian isi sel yang keluar secara spontan atau sengaja dikeluarkan dari selnya dengan teknik tertentu, atau zat nabati yang diekstrak dari tanaman. Contoh bagian organ tanaman yang dapat dimanfaatkan untuk membuat simplisia ialah herba (Seluruh bagian tanaman), akar, umbi, rimpang, batang, daun, bunga, buah, biji, pati, getah, damar, minyak, dan kulit kayu (Widaryanto, 2018).

(29)

14 2. Simplisia hewani

Simplisia hewani ialah simplisia yang bahan dasarnya dari hewan. Simplisia jenis ini dapat berupa hewan utuh atau zat yang dihasilkan oleh hewan dan belum berwujud senyawa kimia murni, seperti madu (Mel depuratum) dan minyak ikan (Oleum iecoris asselli) (Widaryanto, 2018).

Waktu pemanenan yang tepat akan menghasilkan simplisia yang mengandung bahan berkhasiat yang optimal. Kandungan kimia dalam tumbuhan tidak sama sepanjang waktu. Kandungan kimia akan mencapai kadar optimum pada waktu tertentu. Di bawah ini akan diuraikan kapan waktu yang tepat untuk memanen bagian tumbuhan. Menurut Widaryanto (2018), ketentuan saat pemanenan tumbuhan atau bagian tumbuhan adalah sebagai berikut:

a. Biji (semen) dipanen pada saat buah sudah tua atau buah mengering, misalnya biji kedawung.

b. Buah (fructus) dikumpulkan pada saat buah sudah masak atau sudah tua tetapi belum masa, misalnya lada (misalnya pada pemanenan lada, apabila dilakukan pada saat buah sudah tua tetapi belum masak akan dihasilkan lada hitam (Piperis nigri Fructus), tetapi apabia sudah masak akan dihasilkan lada putih (Piperis albi Fructus).

c. Daun (Folia) dikumpulkan pada saat tumbuhan menjelang berbunga atau sedang berbunga tetapi belum berbuah.

d. Bunga (flores/flos) dipanen pada saat masih kuncup (misalnya cengkeh atau melati) atau tepat mekar (misalnya bunga mawar, bunga srigading)

e. Kulit batang (cortex) diambil dari tanaman atau tumbuhan yang telah tua atau umum yang tepat, sebaiknya pada musim kemarau sehingga kulit kayu mudah dikelupas.

(30)

15

f. Umbi lapis (bulbus) dipanen pada waktu umbi mencapai besar optimum yaitu pada waktu bagian atas tanaman sudah mulai mengering (misalnya bawnag putih dan bawang merah).

g. Rimpang (rhizomad) dipanen pada waktu pertumbuhan maksimal dan bagian di atas tanah sudah mulai mengering, yaitu pada permulaan musim kemaru.

Pengolahan bahan baku alami menjadi simplisia dilakukan dengan serangkaian proses meliputi proses penyortiran pertama (sortasi basah), pencucian, perajangan (pemotongan), pengeringan, penyortiran kedua (sortasi keirng), pengemasan dan penyimpanan. Proses pengeringan merupakan proses inti dari proses pembuatan simplisia karena simplisia merupakan bahan alami yang dikeringkan (Agassi, 2015).

Menurut Melinda (2014), Proses pembuatan simplisia sebagai berikut:

1. Sortasi basah

Sortasi basah adalah pemilihan hasil panen ketika tanaman masih segar. Sortasi basah dilakukan untukmemisahkan kotoran-kotoran atau bahan-bahan asing sepertitanah, kerikil, rumput, batang, daun, akar yang telah rusak sertapengotoran lainnya harus dibuang. Tanah yang mengandungbermacam-macam mikroba dalam jumlah yang tinggi. Olehkarena itu pembersihan simplisia dan tanah yang terikut dapatmengurangi jumlah mikroba awal.

2. Pencucian

Pencucian dilakukan untuk menghilangkan tanah dan pengotorlainnya yang melekat pada bahan simplisia. Pencuciandilakukan dengan air bersih, misalnya air dan mata air, airsumur dan PDAM, karena air untuk mencuci sangatmempengaruhi jenis dan jumlah mikroba awal simplisia.Misalnya jika air

(31)

16

yang digunakan untuk pencucian kotor, makajumlah mikroba pada permukaan bahan simplisia dapatbertambah dan air yang terdapat pada permukaan bahan tersebutdapat mempercepat pertumbuhan mikroba. Bahan simplisia yang mengandung zat mudah larut dalam airyang mengalir, pencucian hendaknya dilakukan dalam waktu yang sesingkat mungkin.

3. Perajangan

Beberapa jenis simplisia perlu mengalami perajangan untukmemperoleh proses pengeringan, pengepakan dan penggilingan.Semakin tipis bahan yang akan dikeringkan maka semakin cepatpenguapan air, sehingga mempercepat waktu pengeringan. Akantetapi irisan yang terlalu tipis juga menyebabkan berkurangnyaatau hilangnya zat berkhasiat yang mudah menguap, sehinggamempengaruhi komposisi, bau, rasa yang diinginkan. Perajangan dapat dilakukan dengan pisau, dengan alatmesin perajangan khusus sehingga diperoleh irisan tipis ataupotongan dengan ukuran yang dikehendaki.

4. Pengeringan

Proses pengeringan sudah dapat menghentikan proses enzimatikdalam sel bila kadar airnya dapat mencapai kurang dan 10%.Hal-hal yang perlu diperhatikan dari proses pengeringan adalahsuhu pengeringan, lembaban udara, waktu pengeringan dan luaspermukaan bahan. Suhu yang terbaik pada pengeringan adalahtidak melebihi 500, tetapi bahan aktif yang tidak tahanpemanasan atau mudah menguap harus dikeringkan pada suhuserendah mungkin, misalnya 30o sampai 45o.

5. Sortasi kering

Sortasi kering adalah pemilihan bahan setelah mengalami prosespengeringan.

Pemilihan dilakukan terhadap bahan-bahan yangterlalu gosong atau bahan yang rusak. Sortasisetelah pengeringan merupakan tahap akhir pembuatan simplisia.

(32)

17

Tujuan sortasi untuk memisahkan benda-benda asingseperti bagian-bagian tanaman yang tidak diinginkan ataupengotoran-pengotoran lainnya yang masih ada dan tertinggalpada simplisia kering.

6. Penyimpanan

Setelah tahap pengeringan dan sortasi kering selesai makasimplisia perlu ditempatkan dalam suatu wadah tersendiri agartidak saling bercampur antara simplisia satu dengan lainnya. Untuk persyaratan wadah yang akandigunakan sebagai pembungkus simplisia adalah harus inert,artinya tidak bereaksi dengan bahan lain, tidak beracun, mampumelindungi bahan simplisia dari cemaran mikroba, kotoran,serangga, penguapan bahan aktif serta dari pengaruh cahaya, oksigen dan uap air.

2.3 Ekstrak

Ekstrak adalah sediaan kering, kental, atau cair dibuat dengan menyari simplisia nabati menurut cara yang cocok, di luar pengaruh cahaya matahari langsung (Depkes RI, 2017). Ekstrak adalah sediaan pekat yang diperoleh dengan mengekstraksi zat aktif dari simplisia nabati atau simplisia hewani menggunakan pelarut yang sesuai, kemudian semua atau hampir semua pelarut diuapkan dan massa atau serbuk yang tersisa diperlakukan sedemikian hingga memenuhi baku yang telah ditetapkan (Ditjen POM RI, 2020).

2.4 Ekstraksi

Ekstraksi merupakan kegiatan penarikan kandungan kimia yang dapat larut sehingga terpisah dari bahan yang tidak dapat larut dengan pelarut cair (Ditjen POM, 2000). Biasanya metode ekstraksi dipilih berdasarkan beberapa faktor

(33)

18

seperti sifat dari bahan mentah obat dan daya penyesuaian dengan tiap macam metode ekstraksi dan kepentingan dalam memperoleh ekstrak yang sempurna atau mendekati sempurna dari obat. Sifat dari bahan mentah obat merupakan faktor utama yang harus dipertimbangkan dalam memilih metode ekstraksi (Ansel, 1989). Menurut Ditjen POM (2000), metode ekstraksi dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu cara dingin dan cara panas.

2.4.1 Cara Panas 2.4.1.1Soxhletasi

Soxhletasi adalah ekstraksi menggunakan pelarut yang selalu baru yang umumnya dilakukan dengan alat khusus (soxhlet) sehingga terjadi ekstraksi kontinu dengan jumlah pelarut relatif konstan dengan adanya pendingin balik (Ditjen POM, 2000).

Prinsip ekstraksi ini pada dasarnya ekstraksi secara berkesinambungan.

Cairan penyari dipanaskan sampai mendidih. Uap penyari akan naik melalui pipa samping, kemudian diembunkan lagi oleh pendingin tegak. Cairan penyari turun untuk menyari zat aktif dalam simplisia. Selanjutnya bila cairan penyari mencapai sifon, maka seluruh cairan akan turun ke labu alas bulat dan terjadi proses sirkulasi. Demikian seterusnya sampai zat aktif yang terdapat dalam simplisia tersari seluruhnya yang ditandai jernihnya cairan yang lewat pada tabung sifon.

Metode sokhletasi memiliki kelebihan dan kekurangan pada proses ekstraksi. Adapun kelebihannya menurut Harbone (1987) adalah: 1) Dapat digunakan untuk sampel dengan tekstur yang lunak dan tidak tahan terhadap pemanasan secara langsung, 2) Digunakan pelarut yang lebih sedikit, 3) Pemanasannya dapat diatur. Kekurangannya menurut Harbone (1987) adalah: 1) Karena pelarut didaur ulang, ekstrak yang terkumpul pada wadah disebelah bawah

(34)

19

terus-menerus dipanaskan sehingga dapat menyebabkan reaksi peruraian oleh panas, 2) Jumlah total senyawa-senyawa yang diekstraksi akan melampaui kelarutannya dalam pelarut tertentu sehingga dapat mengendap dalam wadah dan membutuhkan volume pelarut yang lebih banyak untuk melarutkannya, 3) Bila dilakukan dalam skala besar, mungkin tidak cocok untuk menggunakan pelarut dengan titik didih yang terlalu tinggi.

2.4.1.2 Infundasi

Infundasi adalah ekstraksi dengan pelarut air pada temperatur penangas (bejana infus tercelup dalam penangas air mendidih, temperatur terukur 96-98oC) selama waktu tertentu (15-20 menit) (Ditjen POM, 2000).

Keuntungan dari penggunaan metode infundasi adalah unit alat yang dipakai sangat sederhana sehingga biaya operasional yang diperlukan relatif rendah.

Sedangkan kerugian dari metode ini adalah zat-zat yang tertarik kemungkinan sebagian akan mengendap kembali apabila kelarutannya sudah mendingin (lewat jenuh), hilangnya zat-zat atsiri, dan tidak cocok untuk mengekstraksi senyawa/

simplisia yang tidak tahan panas, disamping itu simplisia yang mengandung zat- zat albumin tentunya zat ini akan menggumpal dan menyukarkan penarikan zat- zat berkhasiat tersebut (Ansel, 1989).

2.4.1.3 Refluks

Refluks adalah ekstraksi dengan pelarut pada temperatur titik didihnya, selama waktu tertentu dan jumlah pelarut terbatas yang relatif konstan dengan adanya pendingin balik. Umumnya dilakukan pengulangan proses pada residu pertama 3-5 kali sehingga dapat termasuk proses ekstraksi sempurna (Ditjen POM, 2000).

(35)

20

Prinsip dari metode refluks adalah pelarut volatile yang digunakan akan menguap pada suhu tinggi, namun akan didinginkan dengan kondensor sehingga pelarut yang tadinya dalam bentuk uap akan mengembun pada kondensor dan turun lagi ke dalam wadah reaksi sehingga pelarut akan tetap ada selama reaksi berlangsung, sedangkan aliran gas nitrogen diberikan agar tidak ada uap air atau gas oksigen yang masuk terutama pada senyawa organologam untuk sintesis senyawa karena sifatnya reaktif (Sudjadi, 1986).

Penarikan komponen kimia yang dilakukan dengan cara sampel dimasukkan ke dalam labu alas bulat bersama-sama dengan cairan penyari lalu dipanaskan, uap cairan penyari terkondensasi pada kondensor bola menjadi molekul-molekul cairan penyari yang akan turun kembalu menuju labu alas bulat, akan menyari kembali sampel yang berada pada labu alas bulay. Demikian seterusnya berlangsung secara berkesinambungan sampai penyarian sempurna, penggantian pelarut dilakukan sebanyak 3 kali setiap 3-4 jam. Filtrat yang diperoleh dikumpulkan dan dipekatkan. Keuntungan dari metode ini adalah digunakan untuk mengekstraksi sampel-sampel yangmempunyai tekstur kasar dan tahan pemanasan langsung. Kerugian dari metode Refluks adalah membutuhkan volume total pelarut yang besar dan sejumlah manipulasi dari operator (Sudjadi, 1986).

2.4.1.4 Digesti

Digesti adalah maserasi kinetik (dengan pengadukan kontinu) pada temperatur yang lebih tinggi dari temperatur ruangan (kamar), yaitu secara umum dilakukan pada temperatur 40-50oC (Ditjen POM, 2000).

2.4.1.5Dekoktasi

Dekoktasi adalah proses infus pada waktu yang lebih lama (≥ 30 menit) dan temperatur sampai titik didih air (Ditjen POM, 2000).

(36)

21 2.4.2 Cara Dingin

2.4.2.1 Maserasi

Maserasi adalah proses pengekstrakan simplisia dengan menggunakan pelarut dengan beberapa kali pengocokan atau pengadukan pada temperatur ruangan (kamar). Secara teknologi termasuk ekstraksi dengan prinsip metode pencapaian konsentrasi pada keseimbangan. Maserasi kinetik berarti dilakukan pengadukan yang kontinu (terus-menerus) (Ditjen POM, 2000).

Prinsip kerja dari maserasi adalah proses melarutnya zat aktif berdasarkan sifat kelarutannya dalam suatu pelarut (like dissolved like). Ekstraksi zat aktifdilakukan dengan cara merendam simplisia nabati dalam pelarut yang sesuai selama beberapa hari pada suhu kamar dan terlindung dari cahaya. Pelarut yang digunakan, akan menembus dinding sel dan kemudian masuk ke dalam sel tanaman yang penuh dengan zat aktif. Pertemuan antara zat aktif dan pelarut akan mengakibatkan terjadinya proses pelarutan dimana zat aktif akan terlarut dalam pelarut. Pelarut yang berada di dalam sel mengandung zat aktif sementara pelarut yang berada di luar sel belum terisi zat aktif, sehingga terjadi ketidakseimbangan antara konsentrasi zat aktif di dalam dengan konsentrasi zat aktif yang berada di luar sel. Perbedaan konsentrasi ini akan mengakibatkan terjadinya proses difusi, dimana larutan dengan konsentrasi tinggi akan terdesak keluar sel dan digantikan oleh pelarut dengan konsentrasi rendah. Peristiwa ini terjadi berulang-ulang sampai didapat suatu kesetimbangan konsentrasi larutan antara di dalam sel dengan konsentrasi larutan di luar sel (Marjoni, 2016).

(37)

22

Ekstraksi secara maserasi tidak terlepas dari kelebihan dan kekurangan yang dimiliki. Adapun kelebihan metode maserasi menurut Marjoni (2016): 1) Peralatan yang digunakan sangat sederhana, 2) Teknik pengerjaan relative sederhana dan mudah dilakukan, 3) Biaya operasionalnya relative rendah, 4) Dapat digunakan untuk mengekstraksi senyawa yang bersifat termolabil karena maserasi dilakukan tanpa pemanasan. Kekurangan metode maserasi menurut Marjoni (2016): 1) Kerugian utama dari metode maserasi ini adalah memerlukan banyak waktu, 2) Proses penyariannya tidak sempurna, karena zat aktif hanya mampu terekstraksi sebesar 50%, 3) Pelarut yang digunakan cukup banyak, 4) Penggunaan pelarut airakan membutuhkan bahan tambahan seperti pengawet yang diberikan pada awal ekstraksi. Penambahan pengawet dimaksudkan untuk mencegah pertumbuhan bakteri dan kapang.

2.4.2.2Perkolasi

Perkolasi adalah ekstraksi dengan pelarut yang selalu baru sampai sempurna (exhaustive extraction) yang umumnya dilakukan pada temperatur ruangan. Proses terdiri dari tahapan pengembangan bahan, tahap maserasi antara, tahap perkolasi sebenarnya (penetesan/penampungan ekstrak), terus-menerus sampai diperoleh ekstrak (perkolat) yang jumlahnya 1-5 kali bahan (Ditjen POM, 2000).

Prinsip ekstraksi dengan perkolasi adalah serbuk simplisia ditempatkan dalam suatu bejana silinder, yang bagian bawahnya diberi sekat berpori, cairan penyari dialirkan dari atas ke bawah melalui serbuk tersebut, cairan penyari akan melarutkan zat aktif dalam sel-sel simplisia yang dilalui sampel dalam keadaan jenuh. Gerakan ke bawah disebabkan oleh kekuatan gaya beratnya sendiri dan

(38)

23

tekanan penyari dari cairan di atasnya, dikurangi dengan daya kapiler yang cenderung untuk menahan gerakan ke bawah (Sudjadi, 1986).

Kelebihan dari metode perkolasi menurut Sulaiman (2011): 1) Tidak terjadi kejenuhan, 2) Pengaliran meningkatkan difusi (dengan dialiri cairan penyari sehingga zat seperti terdorong untuk keluar dari sel). Kekurangan dari metode perkolasi adalah Sulaiman (2011): 1) Cairan penyari lebih banyak, 2) Resiko cemaran mikroba untuk penyari air karena dilakukan secara terbuka.

2.5 Bakteri

Bakteri merupakan organisme uniseluler, nukleoid atau tidak memiliki membran inti, tidak berklorofil, saprofit atau parasit, pembelahan biner, termasuk protista. Ukuran sel setiap jenis bakteri bervariasi (Effenddi, 2020).

Kata bakteri berasal dari bahasa latin bacteriumadalah kelompok organisme yang tidak memiliki membran inti sel. Biasanya memiliki panjang beberapa mikrometer, memiliki sejumlah bentuk, mulai dari berbentuk bola sampai ke bentuk batang dan spiral (Effenddi, 2020).

2.5.1 Klasifikasi Bakteri

Klasifikasi bakteri Menurut Boleng (2015), berdasarkan morfologi bakteri dapat dibagi atas tiga bentuk yaitu :

1. Bentuk Basil

Basil (Bacillus) merupakan bakteri yang bentuknya menyerupai batang atau silinder.Bakteri yang mempunyai bentuk batang dinamakan sebagai bakteri basilus dan dapat dijumpai pada famili Enterobactericeae sepertiEscherichia coli dan Klebsiella pneumoniae. Bentuk basil ini dapat dibedakan atas :

(39)

24

a) Bentuk tunggal, yaitu basil yang terlepas satu sama lain dengan ujung- ujungnya yang tumpul.

b) Diplobasil, yaitu basil yang bergandengan dua-dua dengan ujung-ujungnya yang tumpul.

c) Streptobasil, yaitu basil yang bergandeng-gandengan panjang dengan ujung- ujungnya yang tumpul.

2. Bentuk spiral

Kelompok bakteri ini berbentuk melingkar. Bakteri berbentuk spiral dijumpai pada penyebab penyakit sifilis yaitu Treponema pallidum yang memiliki panjang lengan yang berbeda. Bakteri bentuk spiral ini dibedakan menjadi beberapa jenis antara lain :

a) Vibrio, yaitu bakteri yang berbentuk batang melengkung menyerupai koma, ada yang tumbuh sebagai benang-benang membelit atau berbentuk ‘s’.

b) Spiril, yaitu dari kata spirilium yang menyerupai spiral atau lilitan yang sebenarnya.

c) Spirochaeta, yaitu merupakan bakteri spiral, tetapi bakteri ini memiliki spiral yang bersifat fleksibel (mampu melenturkan dan melekukkan tubuhnya sambil bergerak)

3. Bentuk kokus

Bakteri yang memiliki bentuk bulat atau bola dinamakan kokus. Bentuk kokus ini dapat dibedakan atas :

a) Diplokokus, yaitu kokus yang bergandengan dua-dua.

b) Tetrakokus, yaitu kokus yang mengelompok berempat.

c) Stafilokokus, yaitu kokus yang mengelompok merupakan suatu untaian.

d) Streptokokus, yaitu kokus yang bergandeng-gandengan panjang seperti rantai.

(40)

25

e) Sarcina, kokus yang mengelompok serupa kubus.

Berdasarkan pewarnaan gram, maka bakteri dapat dibedakan menjadi dua bagian ( Lay, 1994) yaitu :

1. Bakteri Gram positif, yaitu bakteri yang mengikat zat warna pertama (kristal violet) akan memberikan warna ungu dan setelah dicuci dengan alkohol, warna ungu tersebut akan tetap kelihatan. kemudian ditambahkan zat warna kedua(safranin), warna ungu pada bakteri tidak berubah. contoh : Staphylococcus aureus, Staphylococcus epidermidis.

2. Bakteri Gram negatif, yaitu bakteri yang kehilangan warna dari kristal violet ketika dicuci dengan alkohol dan setelah diberi zat warna kedua (safranin), bakteri akan memberikan warna merah muda. Contoh : Salmonella species, Salmonella typhi, Salmonella dysenteriae.

2.5.2 Faktor-faktor Pertumbuhan Bakteri

Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan bakteri, yaitu : 1. Temperatur

Temperatur menentukan aktivitas enzim yang terlibat dalam aktivitas kimia.

Pada temperatur yang sangat tinggi akan terjadi denaturasi protein yang tidak dapat balik (irreversible), sedangkan pada temperatur yang sangat rendah aktivitas enzim akan berhenti (Radji, 2009).

2. pH

pH adalah derajat keasaman yang optimum terhadap suatu larutan. Pada umumnya derajat keasaman optimum bakteri tumbuh subur pada pH 6,5-7,5 (Radji, 2009).

3. Tekanan osmosis

(41)

26

Osmosis merupakan perpindahan air melewati membran semipermeabel karena ketidakseimbangan material terlarut dalam media. Dalam larutan hipotonik air akan masuk ke dalam sel mikroorganisme, sedangkan dalam larutan hipertonik air akan keluar dari dalam sel mikroorganisme sehingga membran plasma mengkerut dari dinding sel (plasmolisis), serta menyebabkan sel secara metabolik tidak aktif (Pratiwi, 2008).

4. Oksigen

Berdasarkan kebutuhan oksigen, dikenal mikroorganisme yang bersifat aerob dan anaerob. Mikroorganisme aerob memerlukan oksigen untuk bernapas, sedangkan mikroorganisme anaerob tidak memerlukan oksigen untuk bernapas (Pratiwi, 2008).

5. Media Perbenihan

Media perbenihan adalah media nutrisi yang disiapkan untuk menumbuhkan bakteri di dalam skala laboratorium. Media perbenihan harus mengandung sumber karbon, nitrogen, sulfur, fosfor, dan faktor pertumbuhan organik (Radji, 2009).

6. Nutrisi

Nutrisi merupakan substansi yang diperlukan untuk biosintesis dan pembentukan energi (Pratiwi, 2008).

2.5.3 Pertumbuhan Bakteri

Menurut Jawetz (2010) pertumbuhan dan perkembangan bakteri terdiri dari 4 fase yaitu:

1. Fase Penyesuaian Diri (Fase Lag)

Fase Lag merupakan periode waktu dari bakteri yang ditanam pada media perbenihan yang sesuai atau waktu yang diperlukan untuk beradaptasi terhadap lingkungan yang baru. Rentang waktu fase penyesuaian tersebut tergantung dari

(42)

27

fase pertumbuhan bakteri saat dipindahkan untuk diinokulasikan pada media perbenihan yang baru dan tergantung pula pada adanya bahan toksis atau bahan yang dapat menghambat pertumbuhan dan perkembangbiakan bakteri

2. Fase eksponensial (Exponential phase)

Fase ini merupakan fase dimana bakteri tumbuh dan membelah pada kecepatan maksimum, tergantung pada genetika bakteri, sifat media, dan kondisi pertumbuhan. Sel baru terbentuk dengan laju konstan dan massa yang bertambah secara eksponensial. Pada fase ini pertumbuhan dan pembelahan terjadi secara teratur dan seimbang (balanced growth)

3. Fase stasioner (Stationary phase)

Pertumbuhan bakteri berhenti pada fase stasioner ini dan akan terjadi keseimbangan antara jumlah sel yang membelah dengan jumlah sel yang mati.

Karena pada fase ini terjadi akumulasi produk buangan yang bersifat toksik.

4. Fase kematian (Death Phase)

Fase kematian terjadi setelah beberapa saat dalam fase stasioner, pada fase ini terjadi karena penurunan nutrisi yang dibutuhkan oleh bakteri sehingga bakteri mengalami fase kematian. Laju kematian bakteri lebih banyak dari laju pertumbuhan akhirnya pertumbuhan bakteri terhenti. Jumlah sel bakteri menurun terus sampai didapatkan jumlah sel bakteri yang konstan untuk beberapa waktu.

2.6 Streptococcus mutans

Streptococcus mutans termasuk dalam Streptococcus viridans. Merupakan jenis bakteri Gram-positif berada di mulut manusia dan terkhusus pada karies gigi.

Streptococcus mutans memiliki kemampuan memetabolisme karbohidrat terutama

(43)

28

sukrosa dan menciptakan suasana asam di rongga mulut dimana merupakan habitat utama kolonisasinya bakteri yang menyebabkan pH plak dan pH saliva mengalami penurunan dan akhirnya menyebabkan larutnya enamel gigi (Metwally, 2013).

Streptococcus mutans memiliki bentuk bulat dan tersusun seperti rantai dengan diameter 0,5-0,7 mikron, tidak bergerak dan tidak memiliki spora.

Streptococcus mutans dapat hidup pada daerah kaya sukrosa dan menghasilkan permukaan asam dengan menurunkan pH di dalam rongga mulut menjadi 5,5 atau lebih rendah yang membuat email mudah larut kemudian terjadi penumpukan bakteri dan mengganggu kerja saliva untuk membersihkan bakteri tersebut, sehingga jaringan keras gigi rusak dan menyebabkan terjadinya karies gigi (Fatmawati, 2011).

2.6.1 Klasifikasi

Klasifikasi Streptococcus mutans dalam Fatmawati (2011) yaitu : Kingdom : Monera

Divisi : Firrnicutes Kelas : Bacili

Ordo : Lactobacillales Famili : Streptococcaceae Genus : Streptococcus

Spesies : Streptococcus mutans

2.6.2 Morfologi

Streptococcus mutans merupakan bakteri kokus tunggal berbentuk bulat atau bulat telur dan tersusun dalam rantai. Rantai-rantai Streptococcus mutans tampak sebagai diplokokus dan bentuknya kadang-kadang menyerupai batang.

(44)

29

Bakteri ini juga disebut mikroorganisme kariogenik karena karakteristik dari Streptococcus mutans yang dapat memecah gula untuk dijadikan energi dan menghasilkan lingkungan asam, yang berpengaruh pada remineralisasi struktur gigi (Nuzulia, 2017).

2.6.3 Patogenesis

Salah satu bentuk kerusakan gigi adalah gigi berlubang atau karies gigi.

Gigi berlubang merupakan penyakit gigi terlokalisir yaitu terjadinya kerusakan jaringan keras gigi karena adanya interaksi dari beberapa faktor seperti Host (gigi) bakteri, substrat (diet), dan waktu. Salah satu pemicu terjadinya karies karena terabaikannya kebersihan rongga mulut sehingga terjadi penumpukkan plak. Plak adalah lapisan tipis yang melekat erat pada permukaan gigi serta mengandung kumpulan bakteri (Hasanuddin, 2020).

Salah satu penyakit yang diakibatkan oleh bakteri Streptococcus mutans yaitu karies gigi. Karies gigi merupakan suatu keadaan dimana adanya kerusakan pada struktur jaringan pembentuk gigi yang disebabkan oleh aktivitas bakteri.

Proses karies gigi diawali dengan terjadinya demineralisasi gigi oleh adanya asam laktat dan asam organik lain yang bertumpuk atau terakumulasi di dalam permukaan gigi melalui plak (Nuzulia , 2017).

Demineralisasi gigi terjadi pada jaringan gigi yang ditandai dengan kerusakan jaringan, dimulai dari permukaan gigi mulai dari email, dentin, dan meluas ke arah pulpa. Demineralisasi terjadi oleh adanya karbohidrat, mikroorganisme dan air ludah, permukaan dan bentuk gigi, serta dua bakteri yang paling umum bertanggung jawab untuk gigi berlubang adalah Streptococcus mutans (Nuzulia, 2017).

(45)

30

Koloni Streptococcus mutans dapat memfermentasi sukrosa menjadi asam.

Asam yang dihasilkan membuat pH dari gigi tersebut turun hingga angka kritis (5,2 – 5,5), maka email gigi akan larut dan terbentuklah karies gigi. Hal ini akan menyebabkan terjadinya invasi bakteri dan kerusakan jaringan pulpa serta penyebaran yang lebih meluas ke bagian jaringan periapikal dan menimbulkan rasa sakit atau nyeri (Hasanuddin, 2020).

2.7 Staphylococcus Epidermidis

Staphylococcus epidermidis adalah vakteri flora normal dipermukaan kulit tubuh manusia dan juga banyak ditemukan di sekitar kehidupan manusia.

Keberadaan bakteri flora dan sistem pertahanan tubuh manusia berada dalam keadaan keseimbangan, sehingga tidak menyebabkan penyakit pada manusia atau infeksi pada manusia (Soedarto, 2014).

Staphylococcus epidermidis merupakan koloni bakteri yang menyerang lendir dan kulit manusia (Alamsyah, 2014). Saat ini menjadi patogen oportunistik yang penting yang menjadi urutan pertama di antara agen penyebab infeksi nosokomial pada perangkat medis yang ada (Gomes, 2011).

2.7.1 Klasifikasi

Klasifikasi Staphylococcus epidermidis dalam Soedarto (2014) yaitu : Kingdom : Eubacteria

Filum : Firmicutes Kelas : Bacilli Ordo : Bacillales

Famili : Staphylococcaceae Genus : Staphylococcus

(46)

31

Spesies : Staphylococcus epidermidis 2.7.2 Morfologi

Staphylococcus epidermidis merupakan bakteri Gram positif, tidak bergerak, tidak berspora, pada media kultur padat berbentuk kokus berkelompok tidak teratur, susunannya mirip anggur, menonjol, berkilau, Staphylococcus epidermidis membentuk koloni berupa abu-abu sampai putih, memfermentasi glukosa, dapat bersifat aerob dan anaerob fakultatif. Staphylococcus epidermidis merupakan flora normal pada kulit (Irianto, 2006).

2.7.3 Patogenesis

Staphylococcus epidermidis terdapat sebagai flora normal pada kulit manusia dan pada umumnya tidak menjadi masalah bagi orang normal yang sehat.

Patogenitasnya merupakan efek gabungan dari berbagai macam metabolit yang dihasilkannya. Akan tetapi, kini organisme ini menjadi patogen oportunistik yang menyebabkan infeksi nosokomial pada persendian dan pembuluh darah (Irianto, 2006)

Staphylococcus epidermidis memproduksi toksin atau zat racun. Bakteri ini juga memproduksi semacam lendir yang memudahkannya untuk menempel dimana-mana, termasuk di permukaan alat-alat yang terbuat dari plastik atau kaca.

Lendir tersebut membuat Staphylococcus epidermidis lebih tahan terhadap fagositosis (salah satu mekanisme pembunuhan bakteri oleh sistem kekebalan tubuh) dan beberapa antibiotika tertentu (Irianto, 2006).

2.8 Antibakteri

Antibakteri adalah senyawa yang digunakan untuk mengendalikan pertumbuhan bakteri yang bersifat merugikan dengan cara membunuh

(47)

32

ataumenekan pertumbuhan atau reproduksi bakteri. Pengendalian pertumbuhanmikroorganisme bertujuan untuk mencegah penyebaran penyakit/infeksi,membasmi mikroorganisme pada inang yang terinfeksi (Ganiswara dkk., 1995).

Zat antibakteri dibagi menjadi dua kelompok, yaitu antibakteri yang dapatmenghambat pertumbuhan bakteri (bakteriostatik) dan antibakteri yang dapatmembunuh bakteri (bakteriosid) (Pelczar dkk., 1986). Suatu zat antibakteri yangideal harus memiliki sifat toksisitas selektif, artinya bahwa suatu obat berbahayaterhadap parasit tetapi tidak membahayakan tuan rumah (hopses) (Ganiswaradkk., 1995).

2.8.1 Klasifikasi Antibakteri

Ada beberapa klasifikasi antibiotik, namun yang paling sering digunakan yaitu berdasarkan mekanisme aksi, spekrum kerja dan struktur molekul (Etebu and Arikekpar, 2016) :

2.8.1.1 Berdasarkan Mekanisme Aksi

Antibiotik dalam menghambat pertumbuhan dan mematikan bakteri berdasarkan mekanisme aksi (Etebu and Arikekpar, 2016), sebagai berikut:

(1) Antibiotik menghambat sintesis peptidoglikan pada dinding sel bakteri seperti golongan β-lactam (penisilin, sefalosporin, dan carbapenem) dan golongan glikopeptida (vancomicin, bacitracin).

(2) Antibiotik yang mengacaukan sintesa molekul lipoprotein di membran sel sehingga meningkatkan permeabilitas dan zat-zat yang ada di dalam sel dapat merembas keluar, contohnya polimiksin dan daptomycin.

(3) Antibiotik yang menghambat sintesis protein dengan merusak fungsi subunit 50S ribosom seperti golongan kloramfenikol, makrolida, klindamisin, linezolid

Referensi

Dokumen terkait

A., 1992, Mikrobiologi Untuk Profesi Kesehatan, diterjemahkan oleh Bagian Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, 239-242, Jakarta, Penerbit Salemba

Penelitian dilakukan dengan metode eksperimental parametrik dengan tahapan meliputi pengumpulan sampel, pembuatan simplisia, skrining senyawa kimia, pembuatan ekstrak n -heksana

Tujuan penelitian untuk mengetahui aktivitas antibakteri kombinasi ekstrak etanol biji dan batang pepaya terhadap Shigella dysenteriae dan Streptococcus pyogenes dan senyawa

Penelitian Prayudhani (2013) menunjukkan bahwa ekstrak etanol daun dan kulit batang sawo kecik (Manilkara kauki L. Dubard) pada konsentrasi 55% merupakan kombinasi yang

Maserasi digunakan untuk penyarian simplisia yang mengandung zat aktif yang mudah larut dalam cairan penyari, tidak mengandung zat yang mudah mengembang dalam cairan

Metode penelitian meliputi pengumpulan sampel, pembuatan simplisia, pembuatan ekstrak etanol dari simplisia secara maserasi, pemeriksaan karakteristik simplisia, uji golongan

Daya antibakteri terhadap Streptococcus mutans dilihat dari zona hambatan yang terbentuk di sekitar pertumbuhan koloni Streptococcus mutans pada media

Ternyata simplisia bunga pepaya mengandung senyawa golongan flavonoida, tanin, steroida-riterpenoida serta ekstrak etanol bunga pepaya jantan memiliki efek antimutagenik dilihat