• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN

A. Negara Pasca Kolonial dan Kebangkitan Neoliberalisme

1. Dekolonialisasi dan Kuatnya Pengaruh Negara dalam

Pasca Kolonial

Rekonstruksi tatanan ekonomi-politik internasional merupakan tema dari aktivitas kegiatan utama dunia yang dilakukan pasca Perang Dunia Kedua. Kegiatan rekonstruksi tersebut secara fundamental meliputi tiga agenda besar, yaitu; pembentukan sistem Bretton Woods, perencanaan pemulihan Eropa dari kehancuran pasca perang, serta perluasan dekolonialisasi. Sehingga dengan kombinasi ketiga agenda tersebut, harapan atas terbentuknya tatanan baru atas dunia dapat terwujud.

A.S. selaku negara dengan kondisi ekonomi, politik, sosial, hingga militer yang paling sedikit terkena dampak kerusakan dari perang dunia, merupakan negara yang paling dominan dalam rangkaian usaha rekonstruksi pasca perang (Sugiono, 1999). Pendapatan Domestik Bruto A.S. yang naik hampir dua kali lipat pada tahun 1945 dibandingkan dengan tahun 1940, yakni $ 1.559 miliar dari yang sebelumnya hanya $ 832 milyar, membuat mereka leluasa untuk terlibat dalam serangkaian kegiatan internasional. A.S. terlibat rekonstruksi pasca perang

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

33

diantaranya dengan menyediakan serangkaian program bantuan keuangan dan saran kebijakan bagi Negara-negara Eropa dan pasca kolonial. Program-program tersebut bagi Negara Eropa biasa dikenal dengan “Marshall Plan”, sedangkan bagi Negara-negara Dunia Ketiga dikenal dengan program “developmentalisme”.

Salah satu usaha keras A.S. dalam proses rekonstruksi pasca perang adalah terbentuknya gerakan dekolonialisasi yang kemudian mendorong kemunculan negara-negara baru di Asia dan Afrika (lihat tabel 4.1). Walaupun kemudian, dekolonialisasi sering diidentifikasi sebagai hasil usaha Negara-negara Pasca Kolonial sendiri yang terinspirasi dari masifnya persebaran gagasan sosialisme-komunisme, akan tetapi harus diakui dekolonialisasi mendapat dukungan kuat dari A.S. Bukti dukungan kuat dari A.S. atas dekolonialisasi terlihat dari berbagai kebijakan dan politik luar negari yang dikembangkan oleh A.S. (lihat Bradley dan Lubis, 1991). Kebijakan dan politik luar negeri tersebut dilakukan dalam konteks memperluas cakupan wilayah hegemoni. Sehingga sesuai dengan tatanan ekonomi-politik internasional atau visi ekonomi dunia liberal yang lebih dahulu diterima oleh sekutu-sekutunya di Eropa Barat.

Tabel IV.1 Daftar Negara-Negara Pasca Kolonial Setelah Perang Dunia II (1945-1965).

NO TAHUN MERDEKA

NAMA NEGARA NEGARA YANG

MENGKOLONIALISASI

1 1945 Indonesia Belanda dan Jepang

2 1946 India, Pakistan Inggris

3 1948 *Burma, SriLanka, Israel ** Korea Selatan, Korea Utara

*Inggris **Jepang

4 1951 Libia Italia, sejak 1945 mandat

dari PBB

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

34

Sumber: diolah dari berbagai sumber oleh penulis.

Dekolonialisasi dan gerakan anti-kolonial oleh karenanya juga merupakan indikasi perubahan orientasi dan proyeksi model kekuasaan ekonomi-politik pada tingkat global. Pengertian ini merujuk dari situasi di mana dominasi Negara-negara Eropa atas ekonomi politik dunia semakin berkurang. Dominasi Eropa yang dimaksud adalah era bercokolnya kolonialisme atau penguasaan dan perluasan wilayah ekonomi, politik, dan sosial yang ditopang dengan kekuatan bersenjata. Dominasi kolonialisme tersebut kemudian coba digantikan oleh ide rekonstruksi tatanan dunia yang lebih liberal.

5 1954 Vietnam Selatan, Vietnam Utara, Laos, Kamboja

Perancis

6 1956 *Maroko,Tunisia

** Sudan

*Perancis **Inggris

7 1957 Ghana, Malaysia Inggris

8 1958 Guinea Perancis

9 1960 *Kamerun, Senegal, Togo, Madagaskar, Benin, Niger, Burkina Faso, Pantai Gading, Chad, Afrika Tengah, Republik Kongo, Gabon, Mali, Mauritania ** Nigeria, Somalia, Zypern *** Republik Demokratik Kongo *Perancis **Inggris ***Belgia

10 1961 Sierra Leone, Kuwait, Jamaika, Tanganyika

Inggris 11 1962 *Aljazair

** Burundi, Ruanda

*** Uganda, Trinidad & Tobago

**** Samoa Barat

*Perancis **belgia ***Inggris

****Selandia, Baru mandat dari PBB.

12 1963 Kenya, Tanzibar, Singapura Inggris 14 1964 Malawi, Zambia, Malta Inggris 15 1965 Gambia, Maladewa Inggris

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

35

Pada sisi yang lain, ide-ide rekonstruksi tatanan internasional yang liberalis-kapitalis sebenarnya tidak populer di kalangan Negara-negara Pasca Kolonial. Pengalaman historis kolektif negara-negara tersebut berhadapan dengan kapitalisme dalam sejarah kolonialisme, telah mendorong proses mengidentifikasi diri sebagai bangsa yang tidak ingin terjebak lagi dalam sistem kapitalisme. Sehingga berkembanglah gagasan tentang nasionalisme, yang berbeda dengan nasionalisme yang berkembang di Eropa, sebagai perwujudan perlawanan terhadap sistem kapitalisme serta gagasan liberalisme. Maka Negara Pasca Kolonial dalam banyak hal tampak seperti alergi terhadap kapitalisme maupun gagasan tentang free fight liberalism (Arif, 2000: 83-84).

Perkembangan gagasan nasionalisme Negara-negara Pasca Kolonial pada pergulirannya menempatkan negara dalam posisi yang sentral. Negara diproyeksikan menjadi agen utama dari usaha mengikis kapitalisme dan liberalisme yang mungkin tertinggal dan tumbuh dari proses kolonialisme dimasa lalu. Negara kemudian harus mampu menjalankan tugas sebagai pengontrol penuh proses ekonomi, politik, sosial serta budaya yang berkembang di tingkatan masyarakat sehingga mampu lepas dari anasir-anasir kapitalisme dan liberalisme. Hal ini menyebabkan negara mendapat legitimasi yang kuat untuk tampil sebagai institusi yang kuat dan berpengaruh untuk memastikan proses kontrol tersebut dapat berjalan.

Nasionalisme Negara Pasca Kolonial kemudian tidak saja berkembang dalam gagasan politik saja, melainkan juga dalam ekonomi maupun dalam bidang yang lain. Maka tidak heran jika kemudian berkembang gagasan tentang

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

36

nasionalisme ekonomi. Implikasinya kemudian nasionalisme ekonomi maupun manajemen ekonomi yang sentralistis dengan demikian kental dalam tradisi Negara Pasca Kolonial termasuk di Indonesia. Usaha Indonesia sendiri dalam membangun nasionalisme ekonomi tampak jelas terlihat dalam butir-butir konstitusi. Mubyarto (2000: 19-20) seakan menegaskan hal tersebut, dengan menuliskan kembali bahwa :

....”perekonomian Indonesia disusun sebagai usaha bersama berdasar atas asas kekeluargaan”. Negara menguasai bumi, air, dan segala kekayaan alam sebagai pokok-pokok kemakmuran rakyat, dan cabang produksi yang penting serta menguasai hajat hidup orang banyak, dikuasai negara untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat. Ekonomi rakyat adalah landasan ekonomi nasional yang harus dilindungi dan dikembangkan menuju ketahanan ekonomi nasional yang andal dan tangguh.

Pasal-pasal dalam Undang-Undang Dasar 1945, khususnya pasal 33, secara jelas mengamanatkan bahwa sistem ekonomi harus merupakan sistem yang berkeadilan dan negara harus berperan dalam membangun sistem ekonomi tersebut. Pemerintahan Soekarno yang menerbitkan berbagai kebijakan populis seperti Undang-undang, perpres, hingga keputusan menteri, merupakan bentuk usaha negara dalam mendorong nasionalisme dalam bidang ekonomi. Selain itu juga dibentuk sejumlah Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dengan menasionalisasi perusahaan-perusahaan asing yang bercokol di Indonesia. Tercatat mulai dari sektor pertambangan, perkebunan, industri pengolahan, hingga sektor perbankan merupakan hasil dari nasionalisasi perusahaan-perusahaan asing.

Perkembangannya negara yang menjadi mesin pendorong utama dari kegiatan berbangsa dan bernegara, termasuk dalam kegiatan ekonomi, seakan-akan juga mendapat legitimasi dari perkembangan gagasan negara kuat.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

37

Terminologi negara kuat merujuk dari perkembangan negara yang menjadi pelaku aktif dari kegiatan-kegiatan di dalam masyarakat, termasuk dalam kegiatan ekonomi. Hal ini bertentangan dengan berbagai teori liberal yang mengandaikan negara hanya berperan sebagai ”penjaga malam” atau menangani masalah keamanan dan ketertiban dalam masyarakat. Krisis Malaise 1930-an dan upaya penanganannya melihat bahwa negara diperlukan untuk berperan aktif dalam kegiatan masyarakat termasuk ekonomi. Keynes dan kalangan Keynesian, dan tentunya kalangan Marxis, telah membawa kembali keraguan terhadap hipotesis ”tangan tak terlihat”. Kalangan tersebut mempertanyakan kembali kebenaran fakta tentang ekonomi kapitalis yang akan selalu mampu memanfaatkan seluruh sumber daya dan memenuhi kebutuhan yang ada. Intervensi negara dalam mekanisme pasar menjadi formulasi yang dibutuhkan dalam mengatasi depresi ekonomi melalui kebijaksanaan fiskal. Sehingga wacana intervensi negara dalam ekonomi kemudian menjadi mengemuka dan menjadi referensi utama dalam banyak negara.

Teori dan pendekatan Keynesian memulai pemikiranya dari kritik terhadap konsep pasar yang meregulasi dirinya sendiri yang banyak digunakan oleh para pemikir klasik maupun neoklasik sebelumnya (Caporaso dan Levine, 2008: 236). Pasar yang meregulasi diri sendiri adalah andaian tentang sistem pasar akan mempertemukan orang yang memiliki permintaan dengan orang yang memiliki pasokan. Andaian ini dengan demikian juga memproyeksiksan kebutuhan semua orang akan terpenuhi sesuai dengan produksi dan sumber daya yang ada. Pertanyaan yang mungkin yang diajukan oleh kalangan Keynesian kemudian

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

38

adalah, jika pasar dengan sendirinya mampu mempertemukan para pembeli dan penjual, para produsen dan konsumen, mengapa pada banyak kasus seringkali terjadi para produsen gagal menjual semua hasil produksi yang mampu mereka hasilkan?

Pendekatan Keynesian memfokuskan pembahasanya pada kegagalan atau ketidakstabilan proses reproduksi dan pertumbuhan dalam sistem perekonomian kapitalisme serta bagaimana mengatasinya. Keynes melihat bahwa perekonomian kapitalis yang hanya mengandalkan diri pada konsep pasar yang meregulasi diri sendiri akan berakibat pada munculnya ketimpangan. Hal ini terjadi karena tindakan-tindakan tidak terkoordinasi swasta yang didorong oleh spekulasi serta perubahan-perubahan pikiran. Pemikiran ini seakan-akan hendak menegasikan pandangan dasar mazhab neoklasik bahwa manusia dalam perilaku sehari-hari dituntun oleh rasionalitas. Sehingga ketimpangan permintaan dan penawaran hingga meluasnya pengangguran merupakan persoalan endemik, dan bukan sifat tidak sempurna jangka pendek ekonomi kapitalis individualistik seperti yang diyakini para ekonom neoklasik (Sugiono 1999: 97). Oleh karenanya intervensi negara diperlukan untuk menjamin adanya stabilitas dari proses produksi dan adanya penyerapan tenaga kerja secara memadai. Intervensi tersebut bekerja melalui kebijakan belanja publik atau kebijakan fiskal yakni upaya mengintervensi ekonomi lewat pendapatan dan pengeluaran atau belanja negara. Menurut Caporaso dan Levine (2008: 287) negara mempunyai tiga instrumen dalam kebijakan fiskal, yakni;

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

39

1. Pengeluaran pemerintah. Pemerintah menggunakan pendapatanaya untuk membeli barang dari sektor swasta, menyerap tenaga kerja, memberikan pendapatan bagi konsumen dan terhadap lembaga tanpa memperhitungkan apa kegiatan ekonomi yang dilakukan individu dan lembaga ini serta tanpa memperhitungkan apakah individu ini dapat memberikan barang dan jasa lain sebagai imbalanya.

2. Pinjaman pemerintah. Salah satu sumber pendapatan negara yang digunakan untuk melakukan pengeluran pemerintah adalah dengan meminjam dari sektor swasta. Pemerintah dapat mengeluarkan surat hutang negara (goverment bond) yang dapat dibeli oleh individu atau perusahaan.

3. Pajak. Negara juga dapat mendanai kegiatan-kegiatanya tanpa harus meminjam yaitu dengan cara mencetak uang atau lewat pajak.

Kajian yang mengulas tentang dasar teori dan inti pemikiran keynesian, tentunya sudah teramat banyak, oleh karenanya penulis tidak hendak panjang lebar mengulas teori tersebut. Kiranya yang hendak diungkap disini bahwa teori Keynesian mendukung serta melegitimasi adanya peran negara atau intervensi negara dalam proses ekonomi. Sehingga tradisi negara kuat dalam negara pasca kolonial secara tidak langsung sesuai dengan perspektif Keynesian yang juga mendominasi gagasan politik dan ekonomi pasca perang dunia dunia. Maka secara langsung maupun tidak langsung juga teori Keynesian, terutama juga dikarenakan usaha A.S. mengintrodusirnya sebagai satu kesatuan dengan program bantuan atau Marshall Plan di Eropa dan developmentalisme di Negara Pasca

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

40

Kolonial, turut membingkai proses rekonstruksi pasca perang. Dinamika tersebut sesuai dengan pandangan Sugiono (1999: 94) bahwa;

....dominasi manajemen makroekonomi Keynesian dalam politik produktivitas dan kompleks negara-masyarakat di Amerika Serikat menyebabkan munculnya wacana pembangunan wacana statis, yaitu diterimanya legitimasi dan keharusan peran signifikan negara dalam pembangunan ekonomi bersama tatanan dunia liberal yang, secara paradoks, menekankan pentingnya peran pasar dan, dengan demikian, membatasi peran negara.

2. Intervensi Negara dan Wacana Pembangunan Negara Pasca Kolonial

Seperti sudah dibahas sebelumnya, proses rekonstruksi tatanan dunia pasca perang yang diorientasikan menurut garis liberal atau liberalisme internasional ternyata berjalan bersamaan justru dengan peran signifikan negara. Kombinasi antara liberalisme internasional dengan intervensionisme Keynesian ini seringkali juga diistilahkan dengan embedded liberalism atau ”liberalisme yang tertanam”. Harvey (2009: 20) membahasakan embedded liberalism sebagai mekanisme-mekanisme pasar dan aktivitas-aktivitas enterpreneur dan korporasi dilingkupi oleh suatu jejaring rintangan sosial dan politik dan oleh lingkungan regulasi yang kadang kala membatasi namun kadangkala mendorong kemajuan strategi ekonomi dan industri. Sehingga sepanjang tahun 1950-an hingga 1960-an

embedded liberalism ini kemudian telah mendorong terciptanya tingkat

pertumbuhan yang tinggi di negara-negara maju. Pernyataan Galbraith yang dengan berani telah mengumumkan bahwa kelangkaan yang telah coba ditelusuri dan diusahakan solusinya oleh para ahli ekonomi telah berakhir, bahkan negara-negara maju telah mencapai tahap ”berkelebihan” atau affluent society. Sebagai

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

41

contoh, di A.S., setelah Perang Dunia tingkat pendapatan keluarga mencapai US$ 5.820 bahkan meningkat pada tahun 1962 hingga mencapai US$ 7.640 bandingkan misalnya ketika terjadi masa depresesi tahun 1929 sebesar US$ 4.460 atau tahun 1935-1936 yang hanya sebesar US$ 3.940 (Rahardjo, 1983: 10). Meningkatnya pendapatan keluarga yang juga berarti peningkatan pendapatan negara lewat pajak kemudian memungkinkan juga bagi negara untuk untuk meningkatkan layanan publik dan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Di Inggris, misalnya, antara tahun 1945 sampai dengan pertengahan 1970-an, proporsi GDP yang dibelanjakan untuk peningkatan kesejahteraan umum meningkat dari hanya 5% menjadi sekitar 20%. Pengeluaran Nasional Health Service meningkat dari £500 juta pada tahun 1951 menjadi £5.596 juta pada tahun 1975 (Heertz, 2003: 17)

Masa euphoria pertumbuhan yang tinggi tahun 1950-an hingga 1960-an pada akhirnya juga membawa implikasi bagi semakin maraknya “perhatian” terhadap negara-negara pasca kolonial. Dipelopori oleh A.S. beragam bantuan “ditawarkan” kepada Negara-negara Pasca Kolonial, mulai dari bantuan keuangan, hingga bantuan perencanaan kebijakan. Beberapa argumen mencoba menganalisis dan menginterpretasi tentang latar belakang kegiatan tersebut. Dalam argumen kalangan Marxis misalnya, struktur akumulasi fordisme menjadikan negara-negara baru merdeka semakin penting kedudukannya dalam proses akumulasi kapitalis pada tingkat global. Argumen lain menyatakan bahwa bantuan tersebut merupakan bagian dari benteng untuk membendung meluasnya gerakan komunisme di Negara-negara Pasca Kolonial. Ada juga yang menilai

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

42

bahwa kegiatan tersebut merupakan usaha untuk menguniversalkan ide-ide liberal, terutama dari A.S., demi menopang tatanan internasional pasca perang.

Teori pembangunan (developmentalism) merupakan salah satu bantuan yang dikembangkan serta banyak diadopsi oleh negara-negara baru merdeka. Teori pembangunan merupakan beragam pemikiran, yang dikembangkan oleh para teoritisi sosial hingga para perencana kebijakan dari negara maju yang berusaha mengatasi “keterbelakangan” pada Negara-negara Pasca Kolonial (Hettne, 1985: 10). Beragam pemikiran tersebut menjanjikan adanya transformasi masyarakat pasca kolonial yang identik dengan “keterbelakangan” menuju masyarakat industrial seperti layaknya pada Negara-negara Kapitalis Maju. Janji transformasi masyarakat menuju kesejahteraannya, yang diasumsikan berlangsung secara mudah, kemudian membuat banyak negara-negara tersebut berupaya untuk menerapkannya.

Sugiono (1999: 100) dalam tesisnya menyatakan bahwa teori Keynesian juga menjadi dasar dikembangkannya teori pembangunan di Negara-negara Pasca Kolonial. Kondisi perekonomian Negara-negara Pasca Kolonial yang berbeda dengan negara-negara maju tidak memungkinkan diterapkannya teori - teori neoklasik yang menggunakan model kompetitif statistik secara langsung. Sehingga coba diadaptasikan teori Keynesian, dalam bentuk ilmu pembangunan, pada Negara-negara Pasca Kolonial untuk mengatasi persoalan tersebut. Manajemen makro ekonomi ala Keynesian yang mendukung adanya intervensi negara secara aktif melalui mekanisme belanja defisit untuk mengatasi defisiensi permintaan agregat, dianggap tepat untuk diterapkan bagi kondisi ekonomi di

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

43

Negara Pasca Kolonial. Dengan demikian ilmu pembangunan dikembangkan dalam rangka menjembatani adanya jurang pemisah antara teori pertumbuhan dalam tradisi neoklasik dengan kondisi ekonomi pada Negara-negara Pasca Kolonial.

Ilmu pembangunan, yang dikembangkan dengan perspektif Keynesian, dengan sendirinya juga menekankan pentingnya peran negara dalam proses pembangunan ekonomi negara-negara tersebut. Model tahap perkembangan Rostow misalnya memberi arti penting bagi intervensi dari negara terhadap proses pembangunan (Hanief, 2001: 33). Model pembangunan ini menjadikan negara berperan sebagai agent of development. Sehingga negara menentukan tahap perkembangan ekonomi mulai dari pembentukan modal, proses industrialisasi, bahkan hingga penentuan waktu yang diperlukan dalam tahap-tahap perkembangan tersebut. Alexander Greschenkron (Sugiono, 1999: 110) melihat bahwa adanya faktor-faktor seperti kurangnya kelas pengusaha dan modal investasi maupun ketrampilan yang diperlukan membuat peran negara untuk merencanakan, mendanai dan mengelola industrialisasi menjadi esensial dalam pembangunan.

Indonesia dalam usahanya untuk mengadopsi ilmu pembangunan berusaha meniru model pembangunan Rostow tersebut. Hal ini terlihat dari munculnya program REPELITA (Rencana Pembangunan Lima Tahun) di masa Pemerintah Orde Baru. Negara menjadi begitu dominan dalam proses industrialisasi. Proses perencanaan pembangunan, pembentukan modal, penciptaan kelas pengusaha,

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

44

hingga tahap-tahap pembentukan diambil alih oleh negara dan disesuaikan dengan teori-teori Rostow.